Minggu, 30 Juni 2013

attending Centre for Orangutan Protection School Batch #3


COP School Batch #3
Pagi itu tanggal 26 Juni 2013 saya berangkat dari Bengkulu menuju Yogyakarta untuk menghadiri undangan dari Centre for Orangutan Protection sebagai pemateri dalam acara COP School Batch #3 bersama beberapa teman yang selama ini bekerja untuk konservasi orangutan di Indonesia.  Mereka adalah beberapa staff dan pendiri COP diantaranya Hardi Baktiantoro dan Wahyuni dari Centre for Orangutan Protection, selain itu juga didatangkan pemateri dari lembaga lain yakni Panut Hadisiswoyo dari Orangutan Information Centre (OIC), Dr. Ir. Jamartin Sihite dari Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan beberapa dokter hewan orangutan, yakni Drh. Imam Arifin dari COP dan Dr. Nigel Hicks dari UK. Kebetulan di acara ini saya mendapat bagian untuk memberi materi tentang Human-Wildlife Conflict, merupakan bidang yang memang telah saya geluti selama 6 tahun terakhir di Sumatra.

Pongo abelii
Kebetulan spesialisasi saya dulunya adalah sebagai dokter hewan satwa liar jenis primata termasuk didalamnya adalah orangutan disaat masih bekerja di Wild Animal Rescue Centre beberapa tahun yang lalu. Orangutan merupakan satwa liar yang paling saya sukai sejak dahulu sampai sekarang karena keunikannya yang mirip dengan manusia dan karena merupakan satwa liar yang populasi liarnya hanya terdapat di hutan Sumatra dan Kalimantan (Borneo).  Akhirnya membuat saya bermimpi untuk bisa menjadi dokter hewan orangutan di habitatnya.  Pada akhirnya saya pun mendapatkan kesempatan menjadi konsultan medis di Stasiun Rehabilitasi Orangutan Sumatra, yang merupakan project dari Frankfurt Zoological Society - Sumatran Orangutan Conservation Programme selama tiga tahun. Namun, perjalanan hidup dan permasalahan di dunia konservasi yang ada di sekitar saya, akhirnya mengalihkan perhatian saya kepada species terancam punah lainnya yakni gajah dan harimau sumatera yang sudah masuk golongan critical endangered species menurut IUCN.  Dengan terbatasnya dokter hewan yang bersedia bekerja di lapangan untuk konservasi satwa liar tersebut membuat saya beralih keinginan untuk menekuni bidang itu, dan meskipun saya sekarang bermimpi untuk punya spesialisasi menjadi dokter hewan harimau sumatra di habitatnya, namun dilain pihak harapan itu tanpa meredupkan keinginan saya untuk tetap bisa membantu konservasi orangutan di Indonesia dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan yang ada.

Sesampainya di Yogyakarta, saya dijemput oleh dua orang staff Centre for Orangutan Protection, dan kebetulan salah satu dari mereka adalah kawan lama saya sebagai aktivis di organisasi konservasi satwa liar Indonesia diwaktu lampau.  Selain menjemput saya, diwaktu yang bersamaan sekaligus juga menjemput seorang peserta COP School dari UK yang datang pada saat itu juga.  Sore itu kemudian kami menuju ke camp Ape Warrior di daerah Sleman, Yogyakarta untuk berkumpul dengan peserta COP School lainnya, staff COP dan para relawan/ orangutan friends. Camp tampak sangat ramai, teman-teman pemerhati konservasi orangutan dari berbagai daerah sedang berkumpul disana.

bersama COP, OIC dan BOSF
Malam itu saya bertemu dengan direktur Orangutan Information Centre, yang namanya sudah lama saya kenal, bersama dengan direktur Centre for Orangutan Protection, kami bertiga makan malam bersama dengan menu khas Yogyakarta.  Seorang kawan dari media Mongabay juga menghubungi saya untuk bertemu, namun sayangnya malam itu kami tidak bisa bertemu berempat, padahal itu adalah waktu yang tepat untuk ngobrol bersama terutama tentang konservasi orangutan dan permasalahannya di Indonesia secara informal.  Kebiasaan yang selalu dilakukan bila bertemu dengan orang-orang yang bekerja di bidang konservasi satwa liar, kesempatan yang langka seperti itu pasti dimanfaatkan untuk ngobrol bersama tentang issue-issue konservasi dan rencana-rencana kedepan.

Esok harinya kami menuju ke Ledok Sambi di Desa Sambi, Provinsi Yogyakarta, merupakan lokasi untuk camping selama diselenggarakan acara COP School Batch #3.  Desa tersebut pemandangannya cukup menarik, kami harus melewati sungai berbatu diatas jembatan bambu yang dibuat secara sederhana, dan berada disekitar ladang padi masyarakat.  Berada di lereng Gunung Merapi dan tak jauh dari Taman Nasional Gunung Merapi.  Di tempat tersebut juga ada fasilitas outbound.  Suasananya damai dan sejuk.



Kebetulan saya mendapat jadwal untuk memberi materi di hari ketiga, sehingga saya tidak punya banyak kegiatan di hari pertama dan kedua.  Waktu luang saya manfaatkan untuk berkeliling sendirian di sekitar lokasi camping dan mencari obyek menarik untuk photography dengan menelusuri sungai selain mengikuti beberapa materi yang menarik di kelas.  Akhirnya saya tertarik untuk memotret bunga-bunga liar disana.


Rumah Mbah Maridjan
Di hari kedua, saya bersama Panut Hadisiswoyo  dari OIC mengisi waktu luang dengan berjalan-jalan ke bekas letusan Gunung Merapi dengan guide seorang relawan COP, Angga Kurniawan.  Kami merental motor trail seharga Rp. 50.000,- per motor untuk berkeliling.  Disana juga ada penyewaan jip, tetapi kami lebih memilih merental trail untuk berkeliling lokasi bekas letusan Gunung Merapi.  Tak lupa kami juga mengunjungi bekas rumah mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.  Peminat wisata ini ternyata cukup ramai.  Bencana alam tidak semata-mata mendatangkan kesedihan tetapi dibalik kejadian itu juga mendatangkan rejeki bagi masyarakat disana.


Candi Sewu
Sepulang dari lokasi Merapi erruption, kami kemudian menuju Candi Prambanan dan candi-candi lainnya di Klaten, Jawa Tengah. Karena waktu kunjungan sudah sore sehingga kami tidak punya kesempatan untuk bisa berkunjung ke Candi Prambanan, kami hanya bisa mengunjungi Candi Kalasan kemudian ke Candi Sewu yang berdampingan dengan Candi Prambanan. Setelah puas berkeliling dan memotret dari satu candi ke candi lainnya, akhirnya kami mencari makanan untuk oleh-oleh khas Yogyakarta.  Kembali ke lokasi camping COP School sudah malam, saat akan menuju sungai kami bertemu dengan seekor ular, cara berjalannya bukan merayap tetapi meloncat, aneh sekali untuk pertama kalinya saya melihat yang seperti itu.



Di hari ketiga, pagi itu jadwal saya memberi materi tentang Human-Wildlife Conflict bagi peserta COP School selama satu jam.  Saya tidak hanya memberi materi tentang orangutan tetapi juga tentang konflik harimau dan gajah di Sumatra dengan segala permasalahannya dan cara penanggulangannya.  Selesai memberi materi, beberapa peserta dari mahasiswa kedokteran hewan minta waktu tambahan di kesempatan lainnya untuk diberi materi tentang medical treatment.  Namun saya tidak bisa menyediakan waktu untuk itu karena padatnya acara dan kondisi saya yang sedang kurang sehat sehingga saya memilih untuk beristirahat sehari tanpa beraktifitas dan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.  Saya pun kehilangan kesempatan untuk mengikuti acara yang menarik di hari itu.

Malam harinya kami membuat api unggun dan melakukan beberapa permainan menarik, sebelum akhirnya memberi kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan tersebut. Di hari terakhir, yakni tanggal 30 Juni kegiatan hanya dilakukan setengah hari, dan saya lebih banyak berkumpul dengan para relawan COP sebelum akhirnya kami kembali ke camp Ape Warrior di Sleman, Yogyakarta.




Acara COP School Batch #3 cukup menarik dan variatif, dengan cara penyampaian yang menarik pula, melalui presentasi, demonstrasi (praktek) dan pemutaran film serta diselingi dengan permainan-permainan kreatif.  Setiap hari acara dimulai pukul 06.30 WIB sampai dengan pukul 21.30 WIB.

Training pembuatan blowdart syringe
Sesampainya di camp Ape Warrior untuk memenuhi permintaan kawan-kawan peserta COP School, akhirnya saya bersama dokter hewan COP pun masih harus memberi training tambahan tentang chemical and physical restraint of wildlife, juga cara pembuatan blowdart dan sekaligus praktek penggunaan blow pipe  di camp Ape Warrior untuk keperluan animal rescue.  Ternyata yang tertarik untuk mengikuti acara informal ini tidak hanya staff COP, para relawan dan peserta COP School tetapi juga Dr. Nigel Hicks yang merupakan salah satu pemateri di  kegiatan COP School Batch #3.
Kegiatan seperti ini sangat menarik sebagai wadah bagi pemerhati konservasi orangutan di Indonesia dari berbagai daerah/ negara.  Dan menunjukkan bahwa untuk berbuat sesuatu bagi konservasi satwa liar di Indonesia bisa dari latar belakang apa saja dan terbuka bagi siapa saja.  Dan banyak jalan untuk bisa berperan secara langsung dan tidak langsung untuk mendukung itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar