Sabtu, 18 Januari 2014

Keracunan Zinc Phosphide



Zinc Phosphide merupakan senyawa anorganik yang digunakan dalam produk pestisida sebagai rodenticide. Zinc Phosphide memiliki berbagai macam kegunaan komersial, tidak hanya sebagai rodenticide atau lebih dikenal sebagai racun tikus, tetapi juga sebagai pelindung tanaman pangan dan rumput serta digunakan sebagai insektisida. Berupa bubuk (powder) berwarna abu-abu hitam dengan bau mirip dengan bawang putih. Dijual secara komersial dalam bentuk pelet umpan, butiran, debu dan serbuk. 


Kenapa Satwa Liar Bisa Keracunan bila Menelan Zinc Phosphide ?
Toksisitas Zinc Phosphide karena memproduksi gas fosfin setelah bereaksi dengan air dan asam lambung di saluran cerna. Kemudian dapat memasuki aliran darah dan mempengaruhi kerja paru-paru, hati, ginjal, jantung dan sistem saraf pusat.

Efek samping pada satwa predator, Zinc Phosphide juga sangat beracun bagi mammalia non-target ketika ditelan langsung. Keracunan satwa liar pemakan hewan lainnya bukan disebabkan satwa predator tersebut memakan daging hewan yang mati keracunan, karena senyawa tersebut tidak menumpuk di otot hewan yang mati karena racun tersebut (spesies sasaran) tetapi keracunan sebagai akibat memakan saluran cerna hewan yang mati karena keracunan Zinc Phosphide.

Clinical Signs (Tanda-Tanda Klinis) Keracunan  Zinc Phosphide pada Satwa
Satwa yang menelan Zinc Phosphide kemungkinan akan menunjukkan gejala klinis dalam waktu 1-4 jam. Gejala awal yang terlihat adalah kehilangan nafsu makan, aktivitas menurun dan tampak depresi, diikuti muntah dan terlihat gejala-gejala mau muntah. Muntahan bisa bercampur darah. Gejala akut tampak satwa merasa kesakitan, nyeri perut, gelisah/ cemas, menggigil. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi (Ataxia), lemah, sesak nafas/ sesak di dada, meronta-ronta, tremor otot dan kejang-kejang, bahkan tidak sadarkan diri. Bila mengenai mata bisa menyebabkan fotopobia.  Bila keracunan melalui inhalasi (dengan cara menghirup racun) akan tampak gejala-gejala muntah, diare, sianosis (mukosa membiru), denyut nadi cepat, demam dan shock.

Munculnya gejala klinis menjadi lebih lambat baru tampak setelah 12 jam bila satwa dalam kondisi perut kosong. Pelepasan fosfin menjadi lebih cepat pada satwa yang baru makan dan melepaskan asam lambung pada saluran cernanya dan dipengaruhi juga oleh kelembaban. 

Pemeriksaan Toxicology pada Satwa Liar yang Keracunan Zinc Phosphide
Residu fosfin terdeteksi di otak, ginjal, jantung, hati.  Sedangkan Phosphorus dan residu aluminium terdeteksi di dalam darah.  Sehingga dalam pemeriksaan post mortem pada satwa yang mati diduga karena keracunan Zinc Phosphide, specimen tersebut musti diambil disamping pengambilan specimen saluran pencernaan dan isi lambung guna pemeriksaan toxicology. 

Field Cases
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)

Harimau Sumatera yang Ditemukan Mati 
karena Keracunan Zinc Phosphate
Pada tahun 2013 saya bersama Tiger Protection and Conservation Unit - Kerinci Seblat National Park telah melakukan nekropsi seekor anak harimau liar pada tanggal 11 April 2013. Anak harimau tersebut berjenis kelamin jantan dan diperkirakan berumur sekitar 4 bulan, ditemukan di Desa Tiangko Panjang, Kecamatan Sungai Manao, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Lokasinya di sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang ditemukan mati karena keracunan Zinc Phosphide.  

Gejala klinis yang tampak menurut keterangan warga adalah harimau sumatera tersebut berjalan sempoyongan di ladang mereka, tidak berperilaku agresif dan bisa didekati, sebelum akhirnya ditemukan mati.


Perubahan Makroskopis Paru (Lung) Harimau Sumatera
karena Keracunan Zinc Phosphate
Perubahan makroskopis yang terlihat dari pemeriksaan Post Mortem (Necropsy) adalah tubuh harimau tampak kurus, ditemukan eksudat dan keluar darah dari rongga hidung, terdapat eksudat berwarna hijau gelap di rongga mulut seperti muntahan, rongga telinga kiri ada bekas perdarahan, terdapat akumulasi cairan bercampur darah pada rongga dada dan rongga perut, permukaan limpa terdapat nodul-nodul putih berisi gas. Organ -organ penting seperti hati, paru, ginjal, jantung warna dan konsistensinya tidak normal, berubah warna menjadi hijau dan coklat kehitaman serta merah kehitaman, konsistensinya lunak/ lembek dan krepitasi bila dipalpasi permukaannya, begitu juga yang terlihat pada lymphoglandula mesenterica, pada selaput jantung terdapat akumulasi cairan. Otak menjadi lunak dan hampir hancur, berwarna kemerahan dan ada pendarahan. Seluruh saluran pencernaan terlihat abnormal mulai dari oesophagus sampai dengan anus, mucosanya dilapisi eksudat warna kuning kecoklatan dan coklat kehitaman disertai dengan pendarahan, juga ditemukan eksudat warna putih susu pada usus halus.  Saluran cerna dipenuhi feces (kotoran) warna hitam dengan konsistensi lembek. Pankreas berwarna coklat dengan konsistensi sangat lunak.  Musculus (otot) tampak berwarna merah gelap sampai kehitaman.

Dari hasil pemeriksaan toxicology di Balai Besar Penelitian Penyakit Veteriner diketahui bahwa harimau sumatera tersebut mati karena keracunan Zinc Phosphate (Zn3P2).


Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)

Pemeriksaan Post Mortem Gajah Sumatera 
(Elephas maximus sumatranus)
Photo : Pusat Konservasi Gajah Seblat
Pada tanggal 8 November 2013 saya bersama Polisi Kehutanan Resort KSDA Seblat dan mahout Pusat Konservasi Gajah Seblat telah melakukan bedah bangkai (necropsy) pada seekor gajah sumatera bernama Yanti, berjenis kelamin betina dan berumur sekitar 29 tahun, yang ditemukan mati di kawasan konservasi Taman Wisata Alam Seblat, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara. 

Gejala klinis yang tampak adalah adanya pendarahan di lubang-lubang alami, yakni di rongga mulut, mata, telinga, vulva dan anus, juga terlihat perut membesar karena kembung dan mengejan. Rongga mulut dipenuhi oleh muntahan dan gumpalan darah. 

Dalam kondisi perut gajah penuh dengan makanan karena pakan tambahan yang diberikan pun habis termakan, menyebabkan efek racun menjadi lebih cepat karena pelepasan fosfin. Pelepasan fosfin karena senyawa Zinc Phosphite bereaksi dengan asam lambung.  Produksi asam lambung tinggi saat satwa makan/ lambung terisi makanan karena asam lambung berfungsi untuk membantu mencerna makanan. 

Setelah dilakukan bedah bangkai terlihat adanya timbunan gas dan cairan yang berlebihan dan bercampur darah di rongga dada dan rongga perut.  Warna permukaan limpa abu-abu kehitaman, pada hati berwarna hitam dan bidang sayatan kedua organ tersebut berwarna hitam. Ginjal dan otak, warna dan konsistensinya terlihat normal. Seluruh saluran pencernaan terlihat abnormal, mucosa saluran cerna secara keseluruhan tampak melepuh, terdapat timbunan gas yang berlebihan dan pendarahan. Permukaan isi lambung berwarna abu-abu gelap yang melapisi kotoran, dan mucosa lambung berwarna hitam. Lymphoglandula mesenterica berwarna merah kehitaman.

Hasil pemeriksaan toxicology di Balai Besar Penelitian Penyakit Veteriner diketahui bahwa kematian gajah sumatera bernama Yanti tersebut disebabkan oleh keracunan Zinc Phosphide.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar