Kamis, 26 November 2015

Training : Human-Wildlife Conflicts Mitigation - Kerinci Seblat National Park


Surabaya 22 November 2015, Sepulang dari Taman Nasional Baluran saya singgah ke Surabaya terlebih dulu, Jawa Timur untuk mengunjungi keluarga, teman-teman satu organisasi di Pecinta Alam Wanala Unair dan mengunjungi Universitas Airlangga, kebetulan saya sedang ada urusan dengan bagian kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Hewan dan Rektorat Universitas Airlangga. Selain itu kesempatan yang ada juga saya pakai untuk menemui dosen di Departemen Patologi Klinik dan Anatomi untuk berdiskusi.

Sebelumnya, selama berada di Taman Nasional Baluran saya mendapat telepon dari Project Leader-nya Tiger Protection and Conservation Unit (TPCU) atau lebih dikenal dengan sebutan PHS-KS, yakni Tim Patroli dan Investigasi Harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang sering bekerja denganku dalam penanganan harimau bermasalah di Jambi dan Bengkulu. Setiap kali mendapat telepon dari mereka selalu membuatku sport jantung karena selalu berpikir, "Apa yang terjadi dengan harimau disana ? " Padahal waktu itu mereka hanya ingin mengundangku sebagai pembicara pada acara pelatihan tentang Penanganan Konflik antara Manusia dengan Satwa Liar terutama Harimau, Gajah dan Beruang, karena tiga species itu yang selama ini sering terlibat konflik dengan manusia di sekitar TNKS.  

Hari Selasa, tanggal 24 November 2015 saya sudah harus kembali ke Bengkulu, sehingga sehari sebelumnya saya mulai mengurus transportasi untuk kegiatanku beberapa hari kedepan. Membeli tiket penerbangan dari Surabaya ke Bengkulu dengan transit di Jakarta, kemudian memesan travel untuk perjalanan dari Bengkulu menuju Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Diluar urusan transportasi saya juga harus menyelesaikan materi presentasi untuk Pelatihan tentang Penanganan Konflik antara Manusia dengan Satwa Liar di TNKS dan sudah harus saya kirimkan via email kepada panitia disana. Semua itu saya kerjakan saat masih berada di Surabaya. Ya begitulah, pada kenyataannya saya memang tidak membutuhkan kantor untuk bekerja karena biasa mengerjakan pekerjaan dimana saja, dalam perjalanan, di pinggir jalan, di kafe, diatas kapal laut dan lain-lain asalkan ada instalasi listrik dan jaringan internet itu sudah cukup, untuk pekerjaan yang sifatnya bukan praktisi bisa diselesaikan dimana saja. Saya kembali ke Kota Bengkulu menggunakan penerbangan pagi dan sampai di Kota Bengkulu siang hari. beberapa jam untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor BKSDA Bengkulu sebelum pergi kembali. Hari itu saya tidur lebih cepat agar sakit tidak bertambah parah dan demam turun.

Pagi pukul 07.00 WIB mobil travel menjemputku di rumah, ternyata penumpangnya hanya saya sendiri. Hari itu saya harus menempuh perjalanan sekitar 10 - 12 jam menuju Kota Sungai Penuh, Kerinci. Kondisiku sedang kurang sehat, sejak di Surabaya saya sudah merasakan sakit demam dan batuk, sepertinya infeksi tenggorokan saya sedang kambuh. Kerinci adalah tempat yang indah, saya sangat menyukainya, udaranya sejuk, dingin, kota kecil ini dikelilingi oleh pemandangan yang indah yakni hutan dan perbukitan Taman Nasional Kerinci Seblat. Namun, perjalananku sebelumnya dari daerah taman nasional yang kering, tandus dan panas menuju ke taman nasional yang dingin, basah dan sejuk membuat badanku kondisinya makin kurang sehat karena perbedaan suhu di dua tempat yang ekstrim. Sesampainya di hotel tempatku menginap, aku melewatkan makan malam dan berencana langsung tidur agar demamku turun dan esok hari saya tidak ada masalah dengan suara dan tenggorokan yang sakit serta batuk reda, sehingga sebelum tidur saya sempatkan minum obat yang dibelikan oleh resepsionis hotel.

Training : Human - Wildlife Conflicts Mitigation

Kegiatan Pelatihan Penanganan Konflik antara Manusia dengan Satwa Liar diadakan tanggal 25 - 26 November 2015 di Kota Sungai Penuh. Materi pelatihan pada hari Rabu tanggal 25 diberikan oleh Balai Besar TNKS dan Dinas Kehutanan setempat, sedangkan hari Kamis tanggal 26 saya dari BKSDA Bengkulu diundang untuk memberikan materi pelatihan seharian dari pagi hingga sore hari. 
Saya hanya memberikan materi tentang teknis pencegahan dan penanganan konflik dengan satwa liar terutama harimau, gajah dan beruang madu yang bisa diaplikasikan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari bagi yang tinggal di daerah rawan konflik. Materi yang saya berikan yakni tentang : 
  1. Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dengan Satwa Liar; 
  2. Identifikasi Keberadaan Harimau dan Satwa Liar Lainnya; 
  3. Kiat -Kiat Mencegah dan Menghindari Konflik dengan Harimau;  
  4. Penanganan Harimau Korban Konflik dan Perburuan Liar;
  5. Pengenalan Alat Mitigasi Konflik Satwa Liar : Cara Pembuatan dan Penggunaannya;
  6. Pemutaran Video tentang Ciri - Ciri Harimau Berperilaku Abnormal yang rawan terlibat konflik dengan manusia.

Peserta Pelatihan : Kepala Desa di Kab. Kerinci
Peserta pelatihan adalah Kepala Desa dari Kabupaten Kerinci yang daerahnya merupakan rawan konflik dengan harimau, beruang madu dan gajah. Diharapkan dengan materi yang diberikan para kepala desa bisa meneruskan untuk memberi sosialisasi warga desanya masing-masing agar bisa menghindari konflik dan mencegahnya, juga diharapkan dapat menangani konflik secara mandiri tanpa berbuat anarkis pada satwa liar yang terlibat konflik. Selain itu juga bisa ikut serta membantu petugas terkait dalam hal ini BKSDA atau TNKS dalam penanganan satwa dilokasi saat ada penyelamatan satwa korban konflik dan perburuan. Dalam pedoman penanggulangan konflik satwa liar juga sudah ada alur cara penanganan bila konflik terjadi dengan korban manusia atau pun satwa atau tanpa ada korban di kedua belah pihak. Dan yang tidak kalah penting adalah alur informasi atau pelaporan, pihak-pihak terkait yang harus dihubungi harus tepat sehingga laporan bisa direspon dan ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat. Mengingat beberapa kasus penanganan satwa korban konflik atau perburuan berujung ditembak mati oleh aparat kepolisian karena tidak tahu cara penanganan satwa seperti harimau dan lainnya, dianggap satwa tersebut akan membahayakan manusia di sekitarnya. Masyarakat bila mengahadapi masalah tidak hanya yang berhubungan dengan konflik antar manusia, tetapi juga dengan satwa liar terkadang pelaporannya ke pigak kepolisian atau TNI dan bukan ke petugas terkait dalam hal ini BKSDA / Taman Nasional. Seandainya para aparat tersebut tahu behavior harimau atau satwa liar lainnya dan tahu cara penanganannya hal seperti itu seharusnya tak terjadi dan bisa dihindari. Karena tidak hanya nyawa manusia yang penting, tapi nyawa satwa liar yang sudah terancam punah itu juga penting untuk diselamatkan dan bukan dibunuh sia-sia. Dan petugas khusus yang menangani satwa liar korban konflik atau perburuan adalah BKSDA, Taman Nasional, Dinas Kehutanan, Tenaga Fungsional seperti PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) dan Polhut (Polisi Kehutanan), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dibidang konservasi satwa liar, serta Tenaga ahli/ profesional dokter hewan. Saat acara diskusi peserta sangat aktif bertanya, banyak pertanyaan yang mereka ajukan sepertinya sesuai dengan yang mereka alami di daerahnya masing-masing, diantaranya seperti, "Apakah ada sanksi bagi orang yang berburu, membunuh dan memperjualbelikan satwa liar dilindungi, dan apakah sanksinya ? ; Bagaimana cara menangani konflik dengan beruang madu yang sering datang dan merusak kebun jagung ? ; Kepada siapa harus melaporkan bila terjadi konflik satwa liar ? "   

Selesai memberi materi di acara training tersebut, saya langsung diantarkan oleh salah satu staff TNKS ke rumah seorang teman yakni Debbie Martyr yang ada di Sungai Penuh, saya ada janji dengannya untuk bertemu malam itu. Kami ngobrol sampai malam dan makan malam bersama sebelum akhirnya saya kembali ke hotel. Kondisi tubuh saya semakin memburuk, batuk dan hilang suara sehingga saya harus tidur lebih cepat. Esok paginya saya menemui kawan-kawan TNKS yang jadi panitia training dan berpamitan dan pagi itu travel menjemput dan mengantarkan saya untuk pulang kembali ke Bengkulu. Dalam perjalanan pulang saya dihubungi oleh seorang teman Hardi Baktiantoro dari Centre for Orangutan Protection dan Animals Indonesia bahwa esok hari saya diajak untuk mengunjungi lokasi pembangunan Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa Liar Sumatera (PPS) di Sumatera Selatan. Malam itu saya harus beristirahat lebih awal sesampainya di kota Bengkulu agar esok hari bisa melanjutkan perjalanan ke Sumatera selatan tanpa banyak kendala.

Senin, 23 November 2015

For the Third Time : Helping Research in the Baluran National Park


Bengkulu, 14 November 2015, Pukul 02.00 dini hari saya baru kembali pulang ke Kota Bengkulu dari perjalanan keluar kota untuk pembiusan dan translokasi rusa sambar (Cervus unicolor) ke Kota Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara. Kami bekerja dari pagi dan baru selesai pagi dini hari di hari berikutnya. Begitu sampai, satu jam saya manfaatkan untuk packing barang-barang yang akan dibawa untuk perjalanan ke Jawa Timur untuk tiga tujuan sekaligus. Pukul 03.00 WIB saya baru bisa tidur, namun pukul 04.00 WIB saya sudah harus segera bangun dan menuju airport. Waktu terasa sempit, adakalanya saya selalu merasa terburu-buru. Pagi itu pukul 4 tepat saya sudah dijemput untuk diantar ke Fatmawati Soekarno Airport di Kota Bengkulu dengan membawa 1 box obat-obatan dan peralatan medis, serta dua ransel. Hari itu saya akan melakukan perjalanan menuju ke Bandara Blimbingsari, Banyuwangi dengan transit di dua tempat yakni Bandara Soekarno Hatta di Jakarta dan Bandara Juanda di Surabaya, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat ke Taman Nasional Baluran yang terletak di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Perjalanan panjang itu saya manfaatkan untuk beristirahat dan tidur selama dalam penerbangan. Saya terbiasa memanfaatkan waktu perjalanan untuk tidur karena hanya itulah waktu yang bisa saya pakai untuk beristirahat, dan saya terbiasa tidur di mobil, kereta, pesawat maupun kapal laut, bahkan bila sudah terlanjur capek di jalan buruk pun masih bisa tertidur pulas, mengingat jam kerja yang tidak menentu dan terbiasa menangani satwa liar 24 jam ataupun lebih tanpa bisa beristirahat.

Sesampainya di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi saya telah dijemput oleh teman lama Hariyawan Agung Wahyudhi yang kini bekerja untuk proyek penelitian dengan Copenhagen Zoo berkerjasama dengan Taman Nasional Baluran. Dan saya sebelumnya telah turut membantu dalam pemberian training bagi tim research yakni tentang pembiusan dan handling satwa terutama macan tutul serta teknik pengambilan specimen untuk penelitian DNA. Dan saya datang kembali untuk membantu dalam penanganan satwa bila satwa target telah tertangkap karena kandang jebak mulai diaktifkan, kebetulan saya punya waktu luang beberapa hari saat itu untuk ikut stand by disana.

Siang itu kami langsung menuju homestay di Desa Wonorejo tempat kami biasa menginap. Pemilik homestay sudah tidak asing lagi dengan kami, dan ini adalah homestay favorit kami untuk menginap, yakni Homestay Tresno sesuai dengan nama pemiliknya, tempatnya sejuk dan bersih. 


Taman Nasional Baluran, 15 - 22 November 2015

Baluran National Park. Photo: Erni Suyanti Musabine

Taman Nasional Baluran merupakan salah satu tempat terindah yang ada di Provinsi Jawa Timur, meski kondisinya kering kerontang dan panas tak mengurangi keindahannya, selain itu mudahnya menjumpai satwa liar disana sehingga banyak orang menyebutnya sebagai Afrika-nya Indonesia. Mengunjungi tempat ini tidak pernah membuatku merasa bosan, namun malah selalu ingin kembali.

Sebelum mulai beraktivitas, saya bersama Hariyawan Agung Wahyudi yang merupakan project leader disana menemui Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Baluran karena Kepala Balai sedang tidak ada di tempat untuk menginformasikan bahwa penelitian dan pengaktifan kandang jebak untuk macan tutul akan dimulai, dan saya membantu untuk standby disana kebetulan memiliki waktu luang satu minggu untuk berada di Baluran. Surat Perintah Tugas untuk kami ternyata sudah disiapkan sebelum saya datang. Kami juga menginformasikan bahwa saya juga akan membawa volunteer dokter hewan fresh graduate yang telah mendapatkan training tentang pembiusan dan handling kucing besar di Bengkulu untuk bisa membantu di Baluran dan diharapkan juga nantinya bisa mendampingi volunteer medis lainnya yang masih berstatus mahasiswa kedokteran hewan untuk project penelitian ini. Hari itu akhirnya kami mengaktifkan kandang jebak (box trap) dan meletakkan umpan hidup, tempatnya sangat strategis karena merupakan jalur jelajah macan tutul dan macan kumbang (Panthera pardus melas), juga merupakan tempat singgahnya berbagai jenis satwa liar lainnya untuk mencari minum. Bahkan saat kami sedang disibukkan untuk mengaktifkan kandang jebak, seorang volunteer pemasangan camera trap menyaksikan para ajag (Cuon alpinus) sedang minum di tempat yang tak jauh dari kami berada. Sayang sekali pemandangan seperti itu terlewat dariku.

Air minum satwa liar
Setelah selesai mengaktifkan kandang jebak, saya bersama teman lainnya memeriksa sekitar tempat minum, terlihat berbagai jejak dan feces satwa liar ada disekitarnya, ini menandakan bahwa banyak satwa liar mencari minum disitu. Dibandingkan dengan hutan di Sumatera yang banyak dilalui sungai besar dan kecil serta adanya rawa-rawa dengan air yang melimpah meski di musim kemarau sekalipun, sungguh jauh berbeda dengan yang ada di tempat ini sungai tampak kering, gersang dengan suhu lingkungan yang panas, tentu air merupakan kebutuhan pokok yang paling dicari oleh satwa liar. Air dalam wadah tersebut dengan volume sedikit pun sangat berarti bagi semua jenis satwa liar, dimanfaatkan mulai dari binatang kecil seperti lebah, burung kecil sampai mammalia besar seperti ajag, macan tutul, banteng dan lainnya. Bahkan ketersediaan air selain sebagai sumber kehidupan juga merupakan sumber konflik antara satwa liar dan manusia di sekitar Taman Nasional Baluran, ya begitulah yang dapat saya simpulkan dari obrolan kami dengan warga desa setempat selama tinggal di homestay. Kebetulan saya sendiri juga fokus bekerja dalam penanggulangan konflik satwa liar, sehingga setiap bepergian ke tempat manapun yang merupakan habitat satwa liar itulah salah satu informasi yang ingin saya ketahui dari masyarakat sekitar.


Kerbau liar (Bubalus bubalis)
Setelah kandang jebak diaktifkan, setiap hari kami melakukan pengecekan dan melakukan piket jaga malam dengan personil bergantian untuk mengetahui sedini mungkin bila macan tutul sudah masuk perangkap. Dan bila sedang standby di homestay dan tidak mengikuti tim jaga malam di taman nasional, saya memanfaatkan waktu untuk ngobrol dengan warga, banyak informasi yang saya dapatkan, paling menarik perhatianku adalah tentang konflik satwa liar, yang semula saya tidak pernah mendengar tentang hal itu di sekitar Taman Nasional Baluran. Ketersediaan air yang terbatas di dalam Taman Nasional disaat musim kemarau karena sungai-sungai kering, dan yang tersedia adalah air sumur untuk mengisi tempat-tempat air secara manual yang diletakkan di lokasi-lokasi tertentu. Tidak tersedianya air di daerah jelajah satwa liar mendorong kerbau liar dan rusa keluar taman nasional untuk minum di sungai-sungai kecil di desa dekat batas kawasan pada malam hari. Saat perjalanan menuju ke desa satwa liar itu juga merusak tanaman di sawah seperti jagung dan lainnya. Bahkan warga yang menjadi korban konflik satwa liar mengajak saya untuk ikut mitigasi konflik disana, mereka mulai berjaga-jaga sekitar perbatasan taman nasional dan desa terdekat sekitar pukul 02.00 dini hari sampai menjelang pagi, kamipun saling berdiskusi bagaimana cara meredakan konflik tersebut. Menurut warga kerbau liar merupakan satwa yang paling berbahaya disana karena suka menyerang bila merasa terancam. Beberapa cara telah dilakukan oleh warga desa yakni dengan pengusiran dan penggiringan agar masuk kawasan kembali, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Setelah bercerita banyak tentang kerugian yang diderita akibat konflik dengan satwa liar, mereka bertanya pada saya, "kemana institusi yang tepat untuk melaporkan kejadian konflik seperti itu ?" Banyak warga masih beranggapan melaporkan kejadian konflik satwa liar itu ke kepolisian. Menurutku mereka perlu melaporkan setiap kejadian konflik dengan otoritas setempat yakni Balai Taman Nasional sehingga untuk selanjutnya bisa secara bersama-sama antara warga dengan petugas dapat mencari strategi meredakan konflik untuk mencegah kerugian ekonomi akibat tanaman palawija yang dimakan satwa serta mencegah adanya korban manusia karena serangan satwa liar, dan yang tidak kalah penting adalah agar warga juga tidak berbuat anarkis terhadap satwa yang berkonflik dengan mereka. Memang harus disadari bahwa tidak ada solusi tunggal dalam penanggulangan konflik satwa liar dengan manusia. Satwa liar juga terlalu pintar untuk mengamati strategi yang kita buat dan mereka juga selalu belajar untuk itu. Manusialah yang harus rajin berinovasi menemukan cara terbaik guna meredakan konflik dengan satwa liar.

Parasit di Feces Carnivora
Esok harinya di pagi hari tim kami yang melakukan piket jaga mendapatkan sampel feces carnivora di dekat kandang jebak. Cukup banyak dari beberapa individu. Kami bagi sampel menjadi tiga, yakni untuk pemeriksaan DNA, untuk pemeriksaan penyakit parasiter, dan sisanya kami sendirikan untuk bisa dimanfaatkan dalam berbagai hal seperti analisa pakan dan lain-lain. Kesempatan ini juga cocok untuk training cara pengambilan sampel DNA dari feces bagi para volunteer dan kami menggunakan media alkohol absolut. Sayang sekali sampel feces untuk pemeriksaan parasit tidak bisa langsung dikirim, dikhawatirkan sampel akan rusak dan tidak bisa diperiksa lagi, dan kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali. Bagi saya lebih baik menyimpan data hasil pemeriksaan daripada menyimpan sampel yang belum diperiksa. Belajar dari pengalaman pribadi.

Saya juga sempatkan untuk belajar setting camera trap kembali. Dan ikut memasang camera trap di sekitar kandang jebak.

Disela-sela waktu kegiatan, saya juga menyempatkan diri untuk melihat daerah sekitar diluar taman nasional, meski hanya melihat tanah gersang dan kering, melihat tumbuhan berdaun coklat dan bebatuan, pemandangan itu tetap menarik bagiku. Sedangkan hal paling mengasyikkan buatku setiap berada di Taman Nasional Baluran adalah bisa menyalurkan hobby photography, banyak obyek menarik yang menggoda untuk dipotret, terutama satwa liar. Tak pernah ada rasa bosan melihat mereka berkeliaran dan meski sudah berkali-kali melihatnya, perilaku mereka tetap membuat penasaran dan tetap menjadi primadona sebagai model photo di alam liar.

Ini beberapa photo satwa liar yang saya dapatkan selama berada di Taman Nasional Baluran, meski pada kesempatan kunjungan kali ini tidak banyak waktu untuk memotret satwa liar karena pada hari minggu tanggal 22 November 2015 saya sudah harus kembali ke Surabaya.






































Kamis, 19 November 2015

Cycling 24 km in the Baluran National Park


Baluran, Kamis 19 November 2015

Batas kawasan Taman Nasional Baluran. Photo oleh Erni S 
Hari itu saya tidak punya banyak aktivitas, hanya menunggu informasi dari kandang jebak macan tutul. Beberapa hari sebelumnya saat berkeliling saya memperhatikan pemandangan indah di sekitar Desa Wonorejo dan perbatasan kawasan Taman Nasional Baluran, dan melihat ada beberapa jalan yang belum pernah kulalui sebelumnya yang membuat penasaran, kiri kanan jalan berupa hutan berdaun coklat dan tampak kering. Tersirat keinginan untuk melaluinya dengan berjalan kaki atau bersepeda gunung. Kulihat pemilik homestay memiliki sebuah sepeda gunung yang bisa dipinjamkan. Saya berpikir mungkin saya bisa bersepeda kesana sambil memotret dan mencari sampel feces binatang liar yang mungkin bisa ditemukan di sekitar taman nasional mengingat seorang warga pernah mengatakan padaku bahwa kerbau liar dan rusa kerap keluar kawasan untuk mencari air minum di sungai-sungai kecil di sawah. Sedangkan jalan yang ingin kulalui adalah daerah yang sering terlibat konflik dengan satwa liar. Seorang volunteer medis yang juga temanku dari Wanala Unair yang ikut membantu penelitian macan tutul di Taman Nasional Baluran berminat untuk bergabung, menemaniku bersepeda gunung. Akhirnya kami mendapatkan tambahan sebuah sepeda lagi dari keluarga pemilik homestay.


Nggowes (bersepeda) 12 km ditempuh dalam waktu 3 jam 14 menit

Taman Nasional Baluran. Photo oleh Happy Ferdiansyah 

Pukul 12.30 WIB kami mulai mengayuh sepeda menelusuri desa Wonorejo menuju perbatasan Taman Nasional Baluran dengan Hutan Tanaman Industri. Dengan berbekal GPS, camera, kacamata hitam, dan backpack berisi air minum. Kami melewati pekarangan belakang rumah warga, melewati rumpun pohon bambu yang berujung di lokasi pemakaman (kuburan). Jalan yang kami lewati tidak datar, justru itu yang mengasyikan. 

Bersepeda gunung di Taman Nasional Baluran bukan yang pertama kali ini saya lakukan, beberapa tahun yang lalu saat ada acara seleksi sepuluh petualang terbaik Indonesia yang diadakan oleh Marlboro Adventure Team (MAT) disana dan saya terlibat didalamnya, juga pernah ikut bersepeda gunung sejauh kira-kira 25 km untuk mencoba jalur bersama kawan-kawan MAT. Namun medan yang dilalui jauh lebih berat, tidak hanya melewati jalan desa tapi juga melewati jalan setapak dalam kawasan Taman Nasional Baluran yang kering, tandus dan panas, melewati sungai-sungai kering berbatu dan berakhir di pinggir pantai Balanan yang sangat indah dan tim kami yang paling dahulu mencapai finish. Dan untuk pertama kalinya dari atas tebing saya terpana melihat keindahan pantai biru jernih, keindahannya melebihi pantai-pantai yang pernah saya lihat sebelumnya.

Amorphophalus sp. Photo oleh Erni Suyanti M
Dalam perjalanan di lahan pekarangan masyarakat kami menemukan bunga bangkai yang akan mekar sebanyak dua buah, akhirnya kami merecord titik koordinatnya dengan GPS yang kami bawa. Lokasinya di Desa Wonorejo di sekitar rumpun bambu, tak jauh dari tempat kami menginap, dan tak jauh juga dari perbatasan kawasan Taman Nasional Baluran. Selanjutnya kami memilih melalui jalan tanah yang memisahkan antara kawasan taman nasional dengan HTI, kami menelusuri jalan tersebut di siang hari yang panas dan menyengat. Bersepeda gunung di Baluran yang panas di bawah terik matahari jam 12 siang memang sangat menguras tenaga, ditambah lagi medan yang berbatu dan tanah kering. Dehidrasi membuatku cepat merasa lelah. Setelah jauh berjalan, saya hampir putus asa dan ingin berbalik arah menuju desa. Saat teman saya sedang sibuk memotret, saya parkir sepeda dan menelusuri jalan setapak dengan berjalan kaki masuk kedalam hutan, tak disangka akhirnya saya menemukan jalan poros dalam Taman Nasional Baluran, seketika itu pikiranku berubah, saya ingin bersepeda sampai savana Bekol atau bila waktu memungkinkan sampai pantai Bama. Dengan riangnya saya memberitahu teman dan mengajaknya untuk melanjutkan petualangan dengan mengayuh sepeda sejauh 12 km lagi. Sepanjang perjalanan kami banyak berhenti untuk memotret atau sekedar menikmati pemandangan yang indah sehingga sampai di Bekol sore hari yakni sekitar pukul 15.44 WIB.  Selama perjalanan yang panas saya juga membayangkan minum es yang segar di kantin di Bekol. Air minum kami hanya sebotol kecil air mineral, dalam perjalanan kami harus berhemat air, namun sebaliknya disaat dehidrasi seperti itu kami ingin banyak minum. Satu-satunya cara untuk menyemangati diri agar cepat sampai di Bekol adalah membayangkan minum es yang bisa menyegarkan tenggorokan. 

Sesampainya di Bekol saya langsung istirahat sejenak di kantin sambil menunggu teman yang belum sampai dan langsung memesan air minum dingin 2 gelas, itu hanya untuk diriku sendiri yang sudah sangat kehausan karena panas dan belum memesan untuk temanku berpetualang di hari itu. Bajuku basah karena keringat. Karena capek saya tidak punya selera makan lagi, hanya temanku yang memesan makanan. Saya membeli air mineral dalam jumlah lebih banyak untuk perjalanan kembali pulang agar tidak kehabisan air minum dan kehausan di perjalanan. selama di kantin kami juga mengobrol dengan penjual, polhut TN Baluran dan kawan-kawan outsourcing yang sedang ada disana, kebetulan mereka semua sudah kami kenal sebelumnya. Salah satu dari mereka berkomentar, kalau saya disuruh mengayuh sepeda dari Batangan ke Bekol ya nggak mau, mbak. Jauh sekali dan tentunya bikin capek, mending naik sepeda motor 

Merak (Pavo muticus). Photo oleh Erni Suyanti Musabine 

Istirahat kami tidak bertahan lama karena obyek menarik lewat di depan mata, yakni seekor merak jantan yang melenggang dan menggoda untuk dipotret, berjalan-jalan disekitar kami. Itu membuat kami seringkali mengeluarkan kamera untuk menunggunya dan mencari waktu yang tepat untuk mengambil photo. Meski itu merak jantan namun terlihat anggun dengan ekornya yang panjang. Bulan ini adalah musim kawin bagi merak, sehingga penampilan merak jantan terlihat lebih indah. Bahkan kami menyaksikan aksi berkelahi antara merak jantan dalam memperebutkan dan menarik perhatian betina. Tidak hanya merak yang kami jumpai dalam perjalanan tetapi juga binatang liar lainnya, dan paling banyak adalah melihat ayam hutan baik yang hijau maupun yang merah di sepanjang perjalanan. Tampak juga lutung berkelompok meloncat-loncat dari pohon satu ke pohon lainnya menyeberangi jalan di sore hari. 

Kami tidak jadi melanjutkan perjalanan ke pantai Bama yang kurang 3 km lagi karena waktu telah menjelang gelap. Dan untuk kembali ke savana Bekol kami masih harus menempuh perjalanan 3 km lagi. Kami pikir itu akan menyulitkan kami untuk kembali ke Batangan yang harus melalui jalan buruk dengan lampu terbatas, karena yang membawa headlamp hanya saya saja itupun sinarnya kurang terang. Kembali pulang lebih awal adalah keputusan yang terbaik. Akhirnya pukul 16.48 WIB kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Desa Wonorejo. Selama satu jam beristirahat di savana Bekol dan memotret satwa liar disana sudah cukup memuaskan.

Taman Nasional Baluran. Photo oleh Happy Ferdiansyah
Di tengah perjalanan hari sudah gelap, agak mengerikan memang naik sepeda di jalan buruk tanpa bisa melihat jalan yang dilalui karena gelap, dan kondisi jalan naik turun. Pada saat menurun sepeda kami meluncur dengan kencangnya meski tanpa dikayuh, sesekali kami harus menggunakan rem bila tidak ingin sepeda menjadi tidak terkendali saat meluncur. Tapi anehnya kami sangat menikmati kesulitan itu. Orang-orang yang hobby petualangan di alam bebas akan merasa bahagia menikmati kesulitan dalam perjalanan, berbeda dengan orang yang tidak menyukai petualangan pasti akan banyak mengeluh dengan kondisi yang ada. Ya, hobby orang-orang seperti kita yang suka melakukan petualangan di alam bebas memang aneh, setiap kesulitan yang kita hadapi akan dinikmati dan bukan dikeluhkan.

Kami keluar melalui pintu masuk pos Batangan, kami menyapa petugas jaga sebelum keluar dan melanjutkan bersepeda menuju Desa Wonorejo. Sampai di homestay sekitar pukul 19.00 WIB. Jarak 12 km lebih dalam perjalanan pulang kami tempuh selama 2 jam 52 menit, sedikit lebih cepat dari waktu berangkat. Itupun sudah sering dipakai untuk berhenti memotret burung dan primata serta terkendala kesulitan mencari jalan untuk dilalui karena hari sudah gelap. Sungguh, ini adalah pengalaman kedua bersepeda gunung di Taman Nasional Baluran yang sangat mengasyikkan, bila ada kesempatan saya masih ingin mengulang lagi dengan start lebih pagi dan jarak tempuh lebih jauh dan dengan jalur yang berbeda. Tak pernah bosan untuk mencoba hal-hal baru yang menarik, apalagi bisa menyalurkan hobby sambil berolahraga seperti itu. Ada yang tertarik ??? Ayo kita buat rencana untuk petualangan selanjutnya !!! 

Sabtu, 01 Agustus 2015

Capung di Danau Lido

Hasil memotret capung di sekitar Danau Lido saat perjalanan menuju Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Prangango, Jawa Barat.


























Senin, 01 Juni 2015

Macan Dahan : Rescue, health care and release back to the wild


Clouded leopard in the Province of Bengkulu - Sumatra
MACAN DAHAN (Neofelis diardi

Mengenal Macan dahan 
merupakan salah satu satwa predator di Indonesia yang hidup di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Aktif berburu di malam hari dengan satwa mangsa (prey) berupa monyet, ular, mammalia kecil, burung, rusa dan lain-lain. Satwa ini hidup soliter dan lebih banyak menghabiskan waktunya di atas pohon dan punya kemampuan yang baik dalam memanjat dan melompat diatas pepohonan. Deforestasi habitat macan dahan yang makin meningkat dan adanya perburuan liar maka satwa carnivora ini masuk kategori rentan kepunahan di dalam IUCN Red list.

Macan dahan dewasa memiliki berat tubuh sekitar 12 - 25 kg dan panjang dari kepala sampai ujung ekor berkisar antara 123 - 200 cm. Musim kawin terjadi sekitar bulan Desember sampai dengan Maret. Masa kehamilan membutuhkan waktu selama 85 - 109 hari. Biasanya melahirkan anak sebanyak 2 ekor, meski dapat melahirkan anak mencapai 5 ekor. Masa laktasi 10 - 12 bulan setelah disapih, anak macan dahan mulai hidup terpisah.

Gigi
Gigi Macan Dahan Sumatera
Seperti hal satwa carnivora lainnya macan dahan memiliki gigi seri kecil yang terdapat di bagian depan diantara gigi taring berfungsi untuk mencabik dan memotong makanan, sedangkan empat gigi taring berfungsi untuk merobek dan memegang mangsa atau makanan. Gigi geraham yang tajam berfungsi untuk memotong dan mengunyah makanan.

RESCUE

Pada bulan April 2007 polisi kehutanan Balai KSDA Bengkulu mendapat informasi bahwa telah terjadi perburuan macan dahan di wilayah Bengkulu bagian selatan. Seekor macan dahan tersebut sedang diangkut kendaraan menuju Kota Bengkulu. Dilakukan pengintaian di jalan lintas Lampung - Bengkulu yang menuju Kota Bengkulu, kendaraan yang diincar ditemukan namun pengemudi yang diketahui adalah seorang aparat tidak mau menghentikan kendaraannya, dan terjadilah kejar-kejaran antara mobil target dan mobil patroli BKSDA Bengkulu. Menurut informasi yang didapat bahwa seekor macan dahan tersebut akan dijadikan hadiah untuk kepala daerah. Proses penyelamatan macan dahan tidak mudah karena satwa tidak diperbolehkan diambil oleh petugas. Bahkan macan dahan dalam kondisi terluka serius yang melingkar di bagian perut karena jerat pemburu liar masih dibawa dari komplek mereka ke gedung daerah pulang pergi tanpa mempedulikan kondisi satwa perlu pertolongan segera mungkin dan tidak diserahkan kepada petugas BKSDA untuk mendapatkan perawatan medis. Setelah negoisasi yang cukup lama akhirnya polhut bisa mengevakuasi macan dahan dan untuk sementara mendapatkan pertolongan pertama di klinik Dinas Peternakan Provinsi Bengkulu sebelum akhirnya dirawat di BKSDA Bengkulu dan TNKS Resort Seblat.

Macan dahan dengan luka di perut karena jerat pemburu
Jerat yang melukai bagian perut macan dahan cukup panjang sehingga memerlukan 37 jahitan untuk menutup luka. Beberapa kasus jerat pemburu yang mengenai bagian perut pada harimau sumatera bisa menyebabkan kematian bila terlambat dilepaskan, begitu juga pada macan dahan karena semakin hewan memberontak untuk melepaskan diri maka sling akan mengikat bagian perut semakin erat. 


HEALTH CARE

Setelah dilakukan operasi penjahitan luka dilakukan perawatan pasca operasi, satwa dipindahkan dari kandang di kantor BKSDA Bengkulu menuju Resort TNKS di Seblat, hal ini dilakukan hanya untuk mempermudah perawatan medis, karena disaat yang bersamaan saya bersama tim Perlindungan Harimau Sumatera-Kerinci Seblat (PHS-KS) juga sedang merawat seekor harimau sumatera yang terkena jerat pemburu liar di perkebunan karet dan coklat PT. Mercu Buana di Bengkulu. Harimau tersebut juga sedang menjalani perawatan pasca operasi amputasi kaki depan yang telah membusuk (gangrene) karena jerat. Selain itu kami juga menemukan empat bayi leopard cat (Prionailurus bengalensis) di dalam karung plastik yang digantung diatas pohon sawit tanpa ada induknya. Sungguh biadab yang telah melakukannya.  Kami akhirnya merawat sekaligus bayi-bayi kucing hutan tersebut sebelum nantinya mereka siap dilepaskan kembali ke habitat yang aman.

Perawatan pasca operasi yang dilakukan adalah pemberian nutrisi yang cukup karena sangat membantu untuk penyembuhan luka. Selain itu juga diberikan antobiotik, analgesik dan anti inflamasi per oral, juga dilakukan kontrol parasit, yakni pencegahan dan pengobatan penyakit parasiter. Untuk pemeriksaan awal biasa dilakukan penyuntikan Ivermectin juga dilakukan pemeriksaan feces. Dan dilakukan koleksi sampel darah untuk pemeriksaan hematologi dan serologi. Pemeriksaan blood smear juga diperlukan karena beberapa temuan terdapat parasit darah pada kucing liar. Kami juga memberikan supplement dan salep antibiotik yang tahan air di bagian luka bekas jahitan agar cepat mengering dan mencegah terjadinya infeksi sekunder.

NEO, a clouded leopard that has been rescued from poaching 
in Bengkulu - Sumatra in 2007

Hal yang penting dan perlu diperhatikan saat melakukan perawatan satwa adalah membuat satwa senyaman mungkin berada di kandangnya tanpa gangguan dari lingkungan sekitarnya, jadi kandang harus diisolasi agar orang tidak bisa bebas untuk melihatnya. Satwa liar selalu merasa terganggu, terancam dan stress bila menjadi obyek tontonan, dan efek sampingnya biasanya adalah tidak mau makan atau melukai dirinya sendiri dengan membentur jeruji kandang atau menggigiti besi jeruji kandang bahkan sampai gigi taring patah, gusi terluka dan berdarah. Hal seperti ini yang paling sering ditemui.

Kandang perawatan juga musti diletakkan di tempat teduh, dengan air minum ad libitum (tersedia sepanjang hari) dan diberi daun-daunan di bagian luar agar macan dahan bisa bersembunyi saat merasa terganggu dan perlu diberi enrichment sesuai dengan species dan behaviour masing-masing satwa yang ada di dalam kandang. 

Bersama Tiger Protection and Conservation Unit persiapan release macan dahan 


Dan jauhkan macan dahan dari satwa predator lainnya yang lebih dominan. Ini adalah pengalaman saya pertama kali merawat macan dahan bersamaan dengan harimau sumatera, dan mereka perilakunya masih liar. Ini juga berlaku untuk satwa liar lainnya, jadi lebih baik kita paham tentang rantai makanan di alam. Kondisi macan dahan sebelumnya cukup baik, namun pada waktu itu tidak mau makan sama sekali dan terlihat sangat ketakutan, tentu membuat saya cemas khawatir ada masalah kesehatan padahal sudah siap dilepasliarkan kembali ke hutan. Kemudian saya mengevaluasi kembali catatan perkembangan kondisinya dan pengobatannya dari hari ke hari, seharusnya tidak ada masalah karena memang tidak ada masalah dengan hal itu. "Mungkin sebab lain", pikirku. Tidak ada orang yang bebas melihatnya dan mengganggunya. Namun saya menjadi curiga saat mencium bau harimau yang terbawa angin di areal kandang macan dahan meski tempat mereka berbeda. Mungkin ini penyebabnya karena di alam liar harimau sumatera sebagai top predator yang menduduki rantai makanan tertinggi di hutan sumatera, tentu saja satwa liar yang ada dibawahnya takut dengannya. Akhirnya sebagai solusinya, kandang macan dahan dipindahkan dan lebih jauh dari harimau, dan ini membuat macan dahan menjadi mau makan kembali dan tidak merasa terancam sepanjang waktu.


RELEASE


Setelah perawatan medis selama 29 hari akhirnya macan dahan bernama Neo siap dilepasliarkan kembali. Dilakukan pemeriksaan kesehatan seperti saat pertama kali direscue, sekaligus melepas jahitan yang telah menutup dan sembuh kembali. Pembiusan dengan menggunakan 10mg/kg Ketamine IM untuk mempermudah handling selama pemeriksaan. 

Sebelumnya Tim PHS-KS telah melakukan survey lokasi pelepasliaran yang aman. Setelah lokasi pelepasan siap dan macan dahan juga telah selesai mengikuti proses pemeriksaan medis maka siap untuk dilepasliarkan. Tim yang terlibat dalam kegiatan ini tidak hanya PHS-KS tetapi beberapa anggota tim patroli CRU PKG Seblat dan BKSDA Bengkulu juga ikut serta. 

Tanggal 19 Mei 2007
Pagi itu selesai waktu shubuh kami berangkat dari kantor Resort TNKS Seblat dengan menggunakan beberapa mobil. Macan dahan telah berada dalam kandang pelepasan dan telah diletakkan diatas mobil. Dalam setiap transportasi satwa, kondisinya musti dalam keadaan sadar tanpa terbius, kenapa ? karena kita tidak bisa melakukan monitoring vitals signs, tentu itu sangat berbahaya bila terjadi komplikasi selama terbius dan kita tidak mengetahuinya karena tidak bisa mengawasi dan memeriksanya selama perjalanan. Paling aman dalam melakukan transportasi satwa adalah satwa dalam kondisi sadar.

Jalan menuju lokasi sangat buruk, tanah merah yang licin dan tidak rata tentunya karena bekas aliran air diwaktu musim hujan membentuk cekungan memanjang di jalan, ciri khas jalan di daerah pedalaman sumatra. Sekitar jam 8 pagi kami sudah sampai di lokasi pelepasan. Saya sempat memberi minum macan dahan sebelum diturunkan dari mobil, dia tampak beringas dan mendesis sambil memamerkan taringnya yang panjang dan runcing. Mungkin itulah caranya untuk mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal kepada kami yang telah merawatnya selama 29 hari :)

Persiapan release macan dahan di hutan penyangga TNKS
Tidak ada upacara seremonial untuk melepasliarkan macan dahan, karena itu juga bukan ciri khas kami dalam memperlakukan satwa liar, dan tentu kami juga memilih lokasi yang sulit dijangkau untuk tempat baru satwa yang kami lepaskan agar aman, sehingga para pejabat pun akan malas untuk ikut serta. Tidak banyak orang yang menonton pelepasan satwa predator ini akan jauh lebih baik sehingga suasana sekitarnya juga akan tenang tanpa mengganggu macan dahan yang akan dilepaskan.
Selama proses itu saya beralih menjadi petugas dokumentasi untuk mengambil photo dan video. Kawan-kawan yang lain sibuk mengangkat kandang dari mobil menuju lokasi yang sudah ditentukan, lainnya sibuk menutup samping kanan dan kiri kandang dengan semak dan potongan ranting agar macan dahan tidak berbalik ke belakang kandang dimana kami semua berdiri disana, dan ada yang membuat jalur terbuka di depan kandang sambil diberi umpan. Saya meletakan handycamp dalam kondisi sudah siap digunakan dan diletakkan di pohon, dokumentasi diambil dari tiga sisi, samping, belakang dan depan kandang.

Pintu kandang kami buka dengan menggunakan tali yang ditarik dari jarak jauh sehingga pintu membuka keatas dan kami semua bersembunyi di belakang kandang yang telah ditutup dengan semak dan ranting pohon. Saat pintu dibuka, macan dahan belum mau keluar, setelah terdengar bunyi tembakan keatas sekali, macan dahan langsung melompat keluar dan lari menghilang di depan kandang.

Hal yang paling membahagiakan buatku bila diberi kesempatan untuk menolong satwa liar yang terluka, sakit dan menderita kemudian berhasil mengembalikan lagi ke rumahnya yang alami di hutan dalam kondisi sehat dan aman sehingga diharapkan dapat menjalankan fungsinya kembali dalam ekosistem hutan.

Kamis, 28 Mei 2015

Pembiusan dan Pemeriksaan Siamang (Symphalangus syndactylus)


Siamang gibbon / Symphalangus syndactylus
SIAMANG adalah kera berwarna hitam tak berekor yang hidup arboreal atau sebagain besar hidupnya dihabiskan diatas pohon. Aktif pada siang hari dan hidup dalam kelompok kecil. Tidur dengan posisi duduk di percabangan pohon dengan bantalan di sekitar pantatnya yang disebut ischial callosities.  Dan salah satu ciri khas siamang adalah memiliki kantung gular di bagian leher depan, sehingga saat kantung tersebut mengembang menyebabkan pita suara/  mengeluarkan suara lebih keras. Makanan alami siamang sebagian besar adalah buah-buahan yang bisa mencapai 75% dari keseluruhan pakan hariannya, sisanya berupa daun-daunan, bunga, biji-bijian, kulit kayu, serangga, telur burung bahkan burung kecil.  Mampu berkembang biak pada umur 5-7 tahun, dan dapat bertahan hidup hingga umur sekitar 35-40 tahun. Anak siamang akan disapih induknya pada umur 1 tahun, namun masih hidup bersama induk mereka sampai umur 5-7 tahun.

Tentu saya sudah tidak asing lagi dengan kera hitam yang satu ini karena sebelumnya pernah bekerja sebagai dokter hewan di Wild Animal Rescue Centre yang ada di Jawa Timur, dan satwa liar yang menjadi fokus kami untuk dirawat dan direhabilitasi adalah primata, termasuk didalamnya golongan gibbon. Bahkan di depan klinik tempat saya bekerja adalah kandang siamang yang dalam sehari selalu saya kunjungi setiap pagi dan sore hari. Belum termasuk siamang lainnya yang berada di kandang yang berbeda. Dan saat telah pindah ke Pulau Sumatra yang merupakan habitat siamang di Indonesia, saya juga sering menjumpai siamang liar di dalam hutan baik melihat langsung maupun mendengar suara long call-nya. Binatang ini memang sangat menarik, suaranya nyaring dan keras dengan membentuk irama yang unik, rambutnya yang tebal dengan model yang menarik dan rapi.

Selain itu siamang juga memiliki wajah yang imut dan tingkah laku yang lucu, sehingga banyak siamang yang diburu untuk diperdagangkan sebagai hewan peliharaan. Apalagi siamang yang masih anakan bisa sangat dekat dengan manusia. Karena hal itu juga membuat status siamang adalah satwa liar dilindungi UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya karena terancam punah.

Provinsi Bengkulu juga merupakan habitat siamang, penyebarannya merata hampir di setiap wilayah yang masih berhutan. Perburuan liar siamang juga merupakan ancaman bagi upaya pelestarian satwa liar di provinsi ini. Masih banyak dijumpai masyarakat memelihara siamang secara illegal sebagai hewan peliharaan, di Provinsi Bengkulu sendiri kini ada sekitar 10 ekor siamang yang dipeliharan oleh masyarakat. Kontak langsung dengan satwa liar seperti primata sangat beresiko terhadap penularan penyakit zoonosis yang berbahaya. Masih banyak orang yang tidak menyadari akan hal ini.

Pada bulan Mei 2015 ada dua ekor siamang yang diserahkan masyarakat kepada BKSDA Bengkulu. Ini merupakan efek samping dari instruksi menteri kehutanan yang membuka posko untuk penyerahan kakatua jambul kuning ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai tindak lanjut adanya temuan kasus penyelundupan kakatua jambul kuning di Surabaya, Jawa Timur. Di Provinsi Bengkulu pun akhirnya pihak terkait mengeluarkan surat edaran tentang instruksi kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk penyerahan burung kakatua jambul kuning dan satwa liar dilindungi lainnya dalam jangka waktu 1 bulan, bila tidak diserahkan akan dikenai sanksi pidana.

Medical Examination on Siamang gibbon after confiscation from illegal owner
Karena tidak adanya solusi bagi dua ekor siamang yang telah diserahkan itu maka kami, anggota wildlife rescue unit mengambil langkah-langkah inisiatif sendiri untuk melakukan pemeriksaan kesehatan siamang, memperbaiki kandang untuk penampungan sementara agar sedikit lebih layak, seperti mengganti atap kandang dari terpal plastik ke peneduh khusus yang bisa mereduksi panas matahari hingga 70%, melengkapi kandang dengan enrichment, menyediakan air minum sepanjang hari (ad libitum), dan memebrsihkan kandang secara rutin. Membuat rekomendasi tentang bagaimana perawatan dan nutrisi yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan alaminya, dengan membuat menu pakan harian, melarang orang lain memberi pakan kecuali petugas, juga merekomendasi untuk menunjuk secara resmi petugas khusus guna perawatan satwa dalam bentuk Surat Keputusan, semua ini dilakukan agar satwa tidak terlantar dan mendapat perawatan lebih baik. Dan yang pasti semua kegiatan yang berhubungan dengan satwa ini dilakukan secara sukarela. Bekerja volunteering tanpa berorientasi honor perlu ditanamkan juga pada masing-masing orang.


Pembiusan siamang
Sebelum dibius sehari sebelumnya siamang dipuasakan minimal 8 jam. Pembiusan dengan menggunakan dua dosis yang berbeda bagi dua ekor siamang, untuk pertama kalinya saya menggunakan dosis ini pada siamang untuk mengetahui sejauh mana efeknya dengan dosis yang lebih rendah. Immobilisasi untuk siamang betina menggunakan 4,4 mg/kg Ketamine yang memberikan efek selama 1 jam 28 menit. Immobilisasi untuk siamang jantan menggunakan kombinasi dari 1 mg/kg Xylazine + 5 mg/kg Ketamine yang memberikan efek selama 1 jam 8 menit. Masing-masing ditambah setengah dosis setelah 15 menit dan 20 menit kemudian karena belum tidur sempurna. Efek samping dari stress dan cemas sebelum pembiusan pada siamang jantan sepertinya berpengaruh terhadap durasi terimmobilisasi, dengan melihat dosis yang digunakan seharusnya dia tidur lebih lama. Namun juga perlu diingat bahwa efek obat pada setiap individu berbeda selain faktor lainnya. 

Pemeriksaan medis
Collecting blood sample
Pemeriksaan medis yang dilakukan berupa pemeriksaan fisik dengan melihat kondisi extremitas dan persendiannya, pemeriksaan mata dan mucosa mata, pemeriksaan rongga mulut dan gigi, dan lain-lain. Kemudian dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium yang dibutuhkan dan morfometri. Selama terimmobilisasi juga dilakukan pemberian obat mata, penyuntikan anti parasit dan antibiotik long acting untuk mencegah infeksi sekunder bekas injeksi blow dart. 

Monitoring vital signs
Selama pembiusan juga dilakukan monitoring pulsus/ detak jantung, respirasi (pernafasan) dan temperatur tubuh per 5-10 menit sekali untuk mengetahui kondisi satwa selama terbius. Semua perlakukan dan hasil pemeriksaan dicatat oleh recorder. Tidak ada komplikasi selama pembiusan. Pembiusan primata jarang sekali menimbulkan komplikasi. Berbeda dengan pembiusan harimau sumatra, terkadang terjadi hypertermia, seizure, vomit dan depresi nafas. Sedangkan paling banyak komplikasi selama pembiusan adalah pada rusa, yakni seringkali terjadi bloat, hypertermia, shock, seizure, torticolis dan stress tinggi. Untuk itu dalam pembiusan satwa liar baik yang berpotensi menimbulkan komplikasi maupun tidak maka harus juga sudah menyediakan obat-obatan emergency. Suksesnya pembiusan bila bisa memprediksi apa yang akan terjadi selama pembiusan dan sudah siap dan tahu apa yang akan dilakukan untuk mengatasi itu bila terjadi. Kata-kata itu selalu saya ingat sejak saya belajar pembiusan satwa liar di waktu dulu hingga kini.

Pemeriksaan medis adalah prosedur yang harus dilakukan pada setiap satwa liar yang baru datang untuk mengetahui status kesehatannya. Kemudian kami juga membuat rekomendasi untuk dilakukan proses rehabilitasi agar selanjutnya dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Beberapa tahun yang lalu BKSDA Bengkulu telah punya pengalaman dalam melepasliarkan siamang dari penyitaan kepemilikan illegal masyarakat dan berhasil survive di alam hingga kini di kawasan Taman Wisata Alam Seblat.  Menurut saya memberi kesempatan hidup dan masa depan yang lebih baik bagi satwa liar dengan memfasilitasinya agar bisa kembali ke habitat alaminya adalah sesuatu yang mulia. Sebagai manusia kita tidak bisa dengan sepihak dan sewenang-wenang mengakhiri masa depan siamang di dalam jeruji kandang seumur hidupnya. Siamang yang telah menderita karena diburu dan dikeluarkan dari habitatnya jangan diakhiri lagi hidupnya dengan dipindahkan ke balik jeruji kebun binatang atau taman satwa, karena mereka masih punya kesempatan untuk bisa hidup bebas di alam guna menjalankan fungsinya bagi ekosistem. Dan satu hal lagi, satwa liar seperti siamang adalah korban kejahatan perburuan dan perdanganan illegal, dan bila ditranslokasi ke lembaga konservasi eksitu sebagai barang komoditas yang bernilai ekonomi, lalu praktek-praktek seperti itu apa bedanya dengan pelaku perdagangan satwa liar dilindungi ?

Selasa, 21 April 2015

Berkunjung ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh Riau


Bukit Tigapuluh National Park - Riau Sumatra

16 April 2015, Saya bersama dua orang teman pergi ke Rengat, Provinsi Riau dimana kantor Balai Taman Nasioanl Bukit Tigapuluh berada. Saya berangkat dan bertemu teman perjalanan saya di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Dengan menaiki bus pada pukul 3 sore sampai di tempat tujuan dini hari tanggal 17 April 2015. Kami dijemput dua orang staff dari Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang membawa kami ke kota Rengat, Riau, menjelang shubuh kami baru sampai di komplek perkantoran Balai TNBT. 

Siang harinya kami berjalan-jalan keliling Kota Rengat mengunjungi Danau Rajo, yakni sebuah danau yang konon khabarnya di dalamnya ada bangunan kerajaan. Replikasi bangunan kerajaan tersebut terdapat disamping danau, namun sayangnya tidak terurus dengan baik, tampak kotor dan ada beberapa bagian telah rusak.


Perjalanan menuju Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Sabtu, tanggal 18 April 2015 kami telah merencanakan untuk melakukan perjalanan ke kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh melalui Camp Granit. Kami berangkat berlima dari Rengat menggunakan mobil Kepala Balai TNBT, kemudian berganti mobil patroli Ford Ranger di kantor seksi setempat. Perjalanan sangat menyenangkan karena off road. Sesampainya di Camp Granit masih pagi sekitar pukul 10.00 WIB, rencana kami akan melihat lokasi pembinaan habitat untuk harimau sumatera dengan diantar salah satu staff TNBT yang ada di Camp Granit, karena yang bersangkutan sedang keluar camp dan dia yang tahu lokasinya maka kami harus menunggu sampai pukul 3 sore untuk bisa masuk ke hutan. Sambil menunggu kedatangannya kami berjalan-jalan ke air terjun yang ada di dalam kawasan tersebut dan beristirahat sambil menikmati pemandangan sekitar yang indah. 

Sore itu langit tampak gelap, saya khawatir akan turun hujan. Kami berempat memasuki hutan bersama tiga orang kawan laki-laki, sedangkan dua orang kawan perempuan lainnya lebih memilih menunggu di Camp Granit. Jalan setapak yang naik turun tentu tidak menarik bagi mereka. Sepanjang perjalanan masih kutemui pohon besar yang berdiameter lebih dari 50 cm. Karena memasuki daerah baru yang belum aku kenal maka aku sedikit waspada dengan sekitarnya, mengingat waktu telah menjelang sore dan lokasi yang kami datangi merupakan daerah jelajah harimau sumatra. Tidak hanya jalan setapak yang kami lalui tetapi juga menyusuri sungai kecil yang ada di dalam kawasan.

Lokasi pembinaan habitat harimau sumatera

Tampak dari kejauhan camera trap terpasang di pohon, dan guide kami yakni petugas TNBT menjelaskan padaku lokasi-lokasi harimau biasanya melintas. Areal yang akan difungsikan untuk project pembinaan habitat harimau seluas 10 hektar, project ini atas kerjasama antara Balai TNBT dan Pertamina. Terlalu banyak pertanyaan di benakku sehubungan dengan lokasi itu, termasuk spesies prey (satwa mangsa) apa saja yang ada di lokasi, dan strategi apa yang akan dilakukan untuk memperbanyak satwa mangsa harimau disana, serta jumlah individu harimau termasuk estimasi sexing di kawasan tersebut. Sayangnya pertanyaanku tidak bisa terjawab di lokasi dan aku harus bertanya lagi pada orang yang tepat. Hari sudah mulai gelap, kami harus segera keluar dari hutan tersebut. 


Kami dalam masalah

Setelah membersihkan diri kami langsung kembali menuju Kota Rengat sore itu. Di tengah perjalanan hujan turun, yang semula hanya gerimis berubah menjadi hujan lebat dengan bunyi petir bergemuruh. Jalan yang berupa tanah merah menjadi sangat licin, dan tampak banyak lubang seperti parit bekas aliran air di pinggir dan tengah jalan yang dalamnya setinggi roda mobil. Pengemudi mobil sibuk menghindari lubang-lubang bekas aliran air itu agar tidak terperosok, di hari gelap pandangan menjadi kabur karena hujan deras yang sekali-kali mendapatkan penerangan cahaya dari kilatan petir. Tidak ada rumah, kiri kanan semak belukar. Canda tawa kami terhenti saat roda mobil tergelincir saat melewati jalan menurun dan roda sebelah kanan masuk ke lubang memanjang di pinggir jalan, mencoba keluar dari lubang selalu gagal bahkan roda belakang dan gardan tersangkut. Makanan dan minuman yang kami bawa pun hampir habis. Satu-satunya yang melegakan adalah ada signal meski tidak maksimal di lokasi tersebut sehingga kami bisa mengabarkan ke kantor TNBT di Rengat tentang apa yang terjadi. Dan akan dikirimkan mobil untuk menjemput kami dari kantor seksi terdekat. Di dalam guyuran hujan deras ada motor trail yang sedang melewati kami akhirnya dia yang membantu kami untuk memberikan informasi ke atas ke Camp Granit dan ke bawah ke petugas yang akan merescue kami malam itu dengan mobil Pajero Sport yang kami bawa sebelumnya. 

Hujan deras membuat mobil Pajero Sport yang akan menjemput kami juga terperosok karena jalan tanah sangat licin, bagian belakang mobil tersangkut di tebing batu sedangkan bagian depan nyaris masuk ke lubang jalan yang dalam. Mobil tidak bisa dimundurkan dan dimajukan lagi sehingga melintang di tengah jalan. Alternatif kedua adalah dengan meminta bantuan mobil dari mitra yakni FZS yang saat itu sedang berkegiatan di Camp Granit. Saat mobil keluar dari Camp Granit untuk menuju ke lokasi kami berada tiba-tiba ada pohon besar tumbang karena hujan deras yang menghalangi jalan sehingga mobil tidak bisa lewat. 

Dalam kondisi seperti itu, kami sama sekali tidak panik malah mengisi waktu untuk menghibur diri dengan bercerita lucu dan mengundang tawa, bernyanyi dan main game, dan masih bisa menikmati suasana meski dalam masalah besar karena tidak bisa kembali ke Kota Rengat dengan lancar, jangankan kembali ke Kota, untuk kembali ke desa terdekat juga mengalami kendala, karena kondisi hujan deras dan dingin, sedangkan salah satu dari kami penderita asma. Kami akhirnya berdiskusi tentang jalan keluar berikutnya yang memutuskan bahwa kami harus berjalan kaki didalam gelap, dibawah guyuran hujan dan berharap ini tidak membuat asma salah satu dari kami kambuh, itu akan menjadi masalah baru tentunya. Baju kami basah kuyup diguyur hujan deras, perjalanan kami diterangi oleh kilatan halilintar, setelah berjalan jauh akhirnya kami bertemu dengan mobil yang akan menjemput kami meskipun akhirnya juga ikut terperosok.

Ternyata di lokasi tersebut tidak hanya ada petugas dari kantor seksi yang menjemput kami, tetapi juga ada Kepala Balai TNBT yang menjemput kami dari Kota Rengat. Kami dijemput dengan sepeda motor, disaat mereka masih disibukkan mengeluarkan mobil dari lokasi terperosok, saya bersama dua orang teman perempuan pergi dan berteduh di rumah warga setempat.

Sepertinya setiap kali melakukan perjalanan ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh aku selalu mendapat masalah, tidak hanya saat melalui Provinsi Riau namun juga saat menuju kesana melalui Provinsi Jambi. Semua masalah berhubungan dengan mobil dan jalan yang sangat buruk dan tidak layak untuk dilalui. Ini bukan masalah yang pertama kali menimpaku dalam perjalanan ke TNBT, bahkan beberapa tahun sebelumnya saat saya masih membantu orangutan di Stasiun Re-Introduksi Orangutan di Jambi, mobil yang menjemputku terperosok masuk kedalam sungai besar sehingga aku harus keluar dengan berjalan kaki dari jam 12 siang sampai jam 10 malam. Tidak hanya itu saja, kadang mobil rusak dan kami pun harus bermalam di pinggir jalan dimana kiri kanan adalah semak belukar atau hutan yang baru dibuka untuk perkebunan.

Menjelang pagi salah satu mobil bisa keluar dan menjemput kami ke rumah warga, dan selanjutnya kami kembali ke Kota Rengat. Seharian tidak tidur karena trouble di perjalanan tidak juga membuatku mengantuk. Saya hanya istirahat sebentar di rumah Kepala Balai dan sore harinya melanjutkan perjalanan ke Sumatera Barat melalui Pekanbaru. Akhirnya hari itu pun melewati malam tanpa tidur sampai ke Kota Solok, Sumatera Barat. Rencana pulang kembali ke Kota Bengkulu terpaksa musti kutunda sehari untuk beristirahat sejenak setelah dua hari tanpa istirahat.