Jumat, 20 Januari 2017

Pembiusan Rusa Totol (Axis axis)


Rusa totol (Axis-axis) di Penangkaran Rusa Provinsi Bengkulu.
Photo : Erni Suyanti Musabine
Pembiusan rusa totol agak sedikit berbeda dengan pembiusan satwa liar jenis lainnya, karena resiko yang ditimbulkan akibat pembiusan lebih besar, seringkali terjadi efek samping yang buruk selama pembiusan dan handling. Diperlukan persiapan yang matang sebelum melakukannya, yakni persiapan obat-obatan, tidak hanya obat bius saja tetapi juga antidote dan obat-obatan emergency (untuk penanganan kondisi darurat).  Juga diperlukan peralatan medis yang memadai, seperti peralatan pembiusan, penangkapan, pemeriksaan medis serta penanganan efek samping yang merugikan selama pembiusan. Selain itu juga dibutuhkan persiapan tim yang solid, karena keberhasilan pembiusan tidak hanya tergantung cara penanganan satwa oleh dokter hewan saja tetapi juga tergantung anggota tim lainnya yang membantu handling saat penangkapan, mereka harus memahami cara penangkapan yang tidak membuat satwa makin stress. Chemical restraint saja tidak cukup untuk penangkapan rusa totol, perlu juga dikombinasikan dengan physical restraint, yakni dengan bantuan jaring (net) dan tali.

Salah satu rusa totol di penangkaran rusa Bengkulu
Photo : Erni Suyanti Musabine
Ini adalah rusa totol ke-32 s/d ke-36 yang kami bius untuk tujuan relokasi antar penangkaran dan pemeriksaan medis. Dalam pembiusan kali ini kami mencoba kombinasi dosis pembiusan yang baru, yang belum pernah kami gunakan. Sebelumnya saya sering menggunakan kombinasi antara Xylazine dan Ketamine dalam pembiusan rusa totol, dan efek samping yang merugikan akibat pembiusan sangat banyak, seperti hyperthermia, bloat, seizure, torticollis, shock, dan lain-lain, sehingga perlu kesigapan dalam penanganan efek buruk yang terjadi untuk menghindari kematian. Dosis yang saya gunakan sesuai dengan referensi di Handbook of Wildlife Chemical Immobilization ". Selain itu saya juga pernah menggunakan alternative drugs, yakni Tiletamine-Zolazepam untuk pembiusan rusa totol dengan efek samping yang lebih sedikit.  

Saat ini saya mencoba menggunakan pembiusan rusa totol dengan menggunakan kombinasi Tiletamine-Zolazepam plus Xylazine dengan dosis bervariasi untuk mencari tahu efek samping dari masing-masing dosis yang diberikan. Selama ini saya belum pernah menggunakan recommended drugs karena tidak memiliki persediaan obat bius tersebut, yakni kombinasi antara Ketamine + Medetomidine, sehingga selalu obat alternative yang saya gunakan.

Pembiusan rusa totol
Sehari sebelum pembiusan rusa totol saya berdiskusi dengan kolega dokter hewan di kebun binatang Eropa yang memiliki pengalaman dalam pembiusan rusa totol, hanya sekedar ingin tahu obat bius apa yang biasa digunakan dan efek sampingnya. Saya hanya ingin membandingkan mana yang lebih baik untuk digunakan dengan efek samping merugikan yang paling sedikit. Bagi saya referensi terbaik tentang penggunaan obat-obatan dan dosisnya adalah dari pengalaman banyak orang di lapangan, saya tidak mau terpaku dalam buku, dan untuk mengambil referensi dari buku pun saya masih mencari tahu dulu siapa pengarangnya dan bagaimana pengalamannya dalam pembiusan satwa liar selama ini.

Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan kombinasi obat Tiletamine-Zolazepam plus Xylazine untuk pembiusan rusa totol dengan dosis yang bervariasi sesuai dengan keperluan. Dosis pembiusan yang digunakan untuk keperluan pemeriksaan medis berbeda dengan yang digunakan hanya untuk penangkapan saja. Berbagai variasi dosis saya coba gunakan untuk mengetahui perbedaan efek samping yang ditimbulkan. Adapun hasil pembiusan yang sudah kami lakukan seperti dalam tabel dibawah ini :

Obat Bius Alternatif
Tujuan
Efek Pembiusan
Efek Samping Merugikan
2,5mg/kg
Tiletamine-Zolazepam
2,5mg/kg Xylazine
Pemeriksaan Medis & Pengobatan
Surgical anaesthesia
Bloat
Depresi nafas
Hyperthermia
1mg/kg
Tiletamine-Zolazepam
2mg/kg Xylazine
Penangkapan/ relokasi
Heavy sedation
Hypertermia
Bloat
1mg/kg Tiletamine-Zolazepam
1,5mg/kg Xylazine
Penangkapan/ relokasi
Heavy sedation
Hyperthermia
Bloat
1mg/kg
Tiletamine-Zolazepam
1mg/kg Xylazine
Penangkapan/ relokasi
Light or mild sedation
Hyperthermia
2,6mg/kg Tiletamine-Zolazepam

Penangkapan/ relokasi
Awake animal
-

Monitoring vital signs selama pembiusan rusa totol
Efek merugikan akibat pembiusan tidak hanya itu saja, beberapa rusa yang telah dibius juga menunjukkan penurunan tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah serta vomit. Dan efek samping selama pembiusan di daerah tropis tentu juga berbeda dengan di Eropa atau negara barat lainnya meski menggunakan pilihan obat yang sama dan dosis yang sama. Mereka biasa menghadapi kasus Hypoxemia dan Hypothermia dalam setiap pembiusan rusa totol, dan tidak mendapatkan kasus bloat dan hyperthermia, tentu suhu lingkungan sangat berpengaruh pada saat pembiusan.

Berbagai faktor berpengaruh dalam ringan beratnya efek pembiusan. Rusa totol merupakan satwa yang hidupnya berkelompok besar, pembiusan rusa totol dalam kelompok di dalam kandang yang sangat luas juga sangat berpengaruh terhadap hasil pembiusan. Rusa yang telah berhasil dibius dengan blowdart biasanya selalu dintimidasi oleh rusa-rusa lainnya bahkan hingga terluka, dan membuat rusa tidak tertidur karena terus berlari dikejar-kejar oleh rusa lainnya dan dibangunkan, sehingga efek obat bius berangsur-angsur hilang bila berlangsung dalam waktu beberapa jam tanpa bisa didekati. Pembiusan rusa yang tidak bisa dipisahkan dari kelompoknya atau dalam kelompok besar akan menjadi tantangan tersendiri bagi dokter hewan, dibandingkan membius rusa tanpa kelompok dalam kandang kecil tentu akan jauh lebih mudah.

Physical restraint setelah pembiusan untuk penangkapan rusa totol
Photo : Erni Suyanti Musabine
Rusa totol juga satwa yang sangat sensitive dengan lingkungan sekitarnya. Pergerakan kami di sekitarnya juga bisa menimbulkan rasa curiga dan stress pada rusa, sehingga dalam pembiusan hanya diperbolehkan sedikit mungkin orang yang mendekat ke kandangnya untuk menghindari satwa stress sebelum pembiusan. Stress pada satwa sebelum dibius sangat berpengaruh besar terhadap kesuksesan pembiusan, bahkan bisa gagal. Rusa totol yang dibius juga tidak tidur sempurna pada dosis tertentu, sehingga dalam penangkapannya pun musti berhati-hati untuk menghindari rusa terkejut, bangun dan berlari/ melompat lagi, atau perlu juga menghindari kelompok rusa lainnya berlari karena menghindari petugas physical restraint (penangkap dengan jaring), karena kelompok rusa yang lari menghindari orang juga memicu rusa totol yang telah dibius untuk bangun kembali dan ikut berlari menghindar karena merasa terancam.

Jadi keberhasilan suatu pembiusan satwa liar sangat tergantung dari persiapan petugas, kemampuan untuk memprediksi efek samping merugikan yang akan terjadi dan mampu mengatasinya, kekompakan tim yang memiliki kemampuan dalam handling satwa untuk memperkecil stress dan penggunaan obat-obatan pilihan dan dosis yang tepat sesuai dengan ketepatan perkiraan berat badan, selain itu kondisi lingkungan sekitarnya juga sangat berpengaruh.

Senin, 02 Januari 2017

Mengunjungi Pulau Kotok, Kepulauan Seribu di Liburan Tahun Baru 2017


Kepulauan Seribu adalah gugusan pulau - pulau di wilayah administratif Provinsi DKI Jakarta, sudah lama saya berkeinginan mengunjungi Kepulauan Seribu, namun baru punya kesempatan di akhir tahun 2016. Saat sedang berdiskusi melalui media sosial dengan teman-teman, akhirnya memutuskan liburan akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 kami akan mengunjungi Kepulauan Seribu. Salah seorang teman dari IAR (International Animal Rescue) yang mengurus keperluan dan berkomunikasi dengan teman lainnya di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat JAAN yang bekerja untuk konservasi elang di salah satu pulau yang ada di Kepulauan Seribu untuk persiapan kami mengunjungi tempat tersebut di akhir tahun. Kali ini Pulau Kotok yang akan menjadi tempat tujuan kami berlibur bersama teman dan keluarga serta sebagai ajang reuni bersama teman - teman yang dulunya merupakan aktivis konservasi satwa liar yang kini sudah bekerja di berbagai lembaga/ institusi yang berbeda-beda.

Pulau Kotok, Kepulauan Seribu

Pulau Kotok luasnya 20,75 hektar, merupakan pulau tak berpenghuni atau tidak ada pemukiman penduduk disana. Kotok barat digunakan untuk wisatawan, terdapat penginapan/ resort yang masih berfungsi, sedangkan Kotok timur dikelola oleh Lembaga Swadaya Masyarakat JAAN (Jakarta Animal Aid Network) untuk lokasi konservasi satwa, terdapat sanctuary dan fasilitas rehabilitasi elang laut perut putih dan elang bondol di sana, selain itu juga ada areal restorasi terumbu karang. 

Jumat, 30 Desember 2016
Saya berangkat dari Kota Bengkulu malam hari menggunakan pesawat terakhir, yakni Lion Air pukul 18.20 WIB., karena saya masih harus masuk kerja hingga sore hari, sehingga memilih penerbangan terakhir adalah yang paling tepat. Kondisi saya waktu itu memang sedang sakit Hyponatremia, sehingga fisik sangat lemah dan belum sanggup berdiri terlalu lama. Saat sedang menunggu dalam antrian untuk check-in pun saya sudah berkeringat dingin, membuat saya khawatir karena ini salah satu tanda-tanda bahwa saya bisa kehilangan kesadaran dan ambruk bila tidak cepat duduk atau berbaring, karena saya pernah mengalami kejadian seperti itu sebelumnya. Akhirnya saya meminta fasilitas kursi roda untuk diri - sendiri setelah cek kesehatan di klinik yang ada di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu. Saya mendapat fasilitas pertama masuk kedalam pesawat sebelum penumpang lainnya. Selama penerbangan tidak mengalami kendala apapun, sampai keluar dari pesawat menuju terminal kedatangan di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. 

Sabtu, 31 Desember 2016
Kami bersembilan, pagi - pagi pukul 04.30 WIB sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju Pelabuhan Muara Angke, Jakarta. Sampai lokasi air laut pasang sehingga beberapa bagian tergenang air. Kami pun untuk memasuki pelabuhan harus melewati lautan manusia yang juga mengantri, melewati tanggul sempit dan panjang dipinggir sungai. Semua orang punya tujuan sama yakni ingin berlibur menghabiskan waktu pergantian tahun ke Kepulauan Seribu. Sulitnya menuju dermaga, menunggu untuk mendapatkan tiket kapal laut serta penumpang perahu yang berdesak-desakan sudah membuat kami semua merasa putus asa dan tidak nyaman untuk pergi berlibur. 

Kapal laut yang kami naiki adalah kapal penumpang yang menampung ratusan orang dengan dua lantai. Lantai bawah terdapat kursi untuk penumpang namun jumlahnya sangat terbatas, sedangkan lantai atas sangat sempit dan kami harus berjalan membungkuk karena beratap rendah, tidak ada kursi disini, penumpang hanya duduk di tikar atau lantai kapal. Kebetulan saya dan teman-teman duduk diatas tumpukan pelampung di pojok kapal bagian depan. Saya sempat berpikir bila terjadi kecelakan kapal apakah semua penumpang bisa mendapatkan pelampung dengan mudah dan jumlahnya yang tidak mencukupi, karena kami melihat jumlah pelampung yang ada di dekat kami tersebut tak sebanding dengan jumlah penumpang, bahkan ada yang duduk di depan maupun di bagian belakang bagian kapal yang tentu bukan merupakan tempat untuk penumpang. Pada saat kapal belum berangkat saya juga merasa khawatir karena petugas Dinas Perhubungan sudah memperingatkan melalui pengeras suara bahwa kapal sudah overload penumpang, tapi masih juga menunggu dan menerima penumpang, dan saat itu kami ada di kapal tersebut.

Pulau Kotok - Sanctuary dan Rehabilitasi Elang

Berangkat dari Dermaga Muara Angke pagi, dan pukul 11.20 WIB baru sampai ke Pulau Pramuka. Kami hanya transit di Pulau Pramuka, dan masih melanjutkan perjalanan menuju Pulau Panggang menggunakan kapal yang sama. Sesampainya di Pulau Panggang, kami turun dari kapal dan masih harus melanjutkan perjalanan dengan menyewa perahu nelayan ukuran kecil untuk menuju Pulau Kotok, yakni lokasi yang kami rencanakan untuk berlibur. Sambil menunggu mendapat perahu nelayan kami makan siang dan belanja logistik di Pulau Panggang, salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang padat penduduk dan penuh bangunan pemukiman nelayan. Sekitar pukul dua siang kami baru sampai di Pulau Kotok. Saat perahu kami merapat di dermaga Pulau Kotok, terlihat dari kejauhan gonggongan anjing yang keluar dari pulau, dan salah satu staff JAAN keluar menyambut kedatangan kami dan membantu menurunkan barang-barang kami dari perahu. Keponakanku begitu turun dari perahu bertanya, "Aunty, ada suara anak kucing ?" Dia memang sangat menyukai hewan yang satu itu. "Itu bukan kucing sayang, itu suara elang bondol". Baru kali inilah mereka mengenal elang bondol dan suaranya. Kami pun berkenalan dan menemui staff JAAN lainnya, salah satu dari mereka sudah kami kenal dengan baik dan cukup lama, bahkan saya mengenalnya sudah belasan tahun yang lalu saat kami sama-sama bekerja di Pusat Penyelamatan Satwa di Jawa. Kebetulan setahun yang lalu saat liburan tahun baru sebelumnya kami juga bertemu di sebuah pulau di dalam Taman Nasional Ujung Kulon saat proses pelepasliaran monyet ekor panjang yang diselamatkan dari topeng monyet.

Salah satu anjing penghuni Pulau Kotok
Kami pun juga berkenalan dan cepat akrap dengan hewan - hewan penghuni Pulau Kotok, saat kami datang mereka sudah menyambut kedatangan kami, yakni Pepy seekor anjing berwarna putih yang ramah, berjalan pincang karena mengalami dislokasi pada persendian kaki depan. Jacky adalah seekor anjing berwarna coklat, badannya berotot karena dia merupakan perenang yang tangguh, sanggup berenang mengelilingi Pulau Kotok. Chika adalah seekor anjing berwarna hitam, agak pemalu untuk dekat dengan kami. Selain itu masih ada seekor anjing bernama Tesi, dia juga enggan dekat - dekat dengan kami dan tampak liar tak seperti lainnya, seekor kucing cantik berwarna putih bernama Putri, salah satu kaki depannya diamputasi, seekor kucing lainnya berwarna belang - belang, dialah yang paling akrap dengan kami, karena sering mengikuti kami di dermaga atau tempat lainnya, sepertinya dia juga sedang sakit, terlihat sering batuk dan mual, nafasnya pun bersuara. Dan masih ada lagi beberapa kucing lainnya.

Selanjutnya kami menuju penginapan yang sudah disediakan oleh mereka, lokasinya berada di pinggir pantai, biasanya penginapan tersebut dipakai oleh volunteer dan para peneliti. Terdapat dua kamar dengan masing-masing 3 tempat tidur, dilengkapi dengan kamar mandi dengan air payau, tersedia dapur dan teras untuk ruang tamu. Penginapan ini seperti cottage. Lingkungan sekitar sepi, yang terdengar hanya suara burung elang dan ombak laut, tidak ada penghuni lainnya disekitar tempat itu, sedangkan teman-teman JAAN tinggal di penginapan dalam hutan yang tidak berada di dekat pantai.

Pantai Timur Pulau Kotok
Selesai meletakkan ransel dan barang logistik di penginapan, saya mengajak anak-anak kecil ke pantai yang ada di depan kami, dan menanyakan kepada mereka apakah mereka ingin berenang dan bermain pasir di pantai tersebut, tanpa ragu mereka langsung menjawab, "Iya". Berjam-jam mereka asyik dan kegirangan bermain di pantai. Sore harinya kami menelusuri pulau untuk melihat pantai lainnya, terlihat banyak bangunan penginapan / resort yang telah rusak dan tak terpakai, dari luar tampak menyeramkan. Antara satu dan lainnya terhubung oleh jalan setapak dengan sekitarnya hutan.

Malam itu kami mempersiapkan BBQ fish, hasil mencari ikan di sekitar pulau lainnya. Menyambut tahun baru 2017 dengan bakar-bakar ikan untuk makan malam. Dan sisa malam kami manfaatkan untuk nongkrong bareng dengan teman-teman JAAN di dermaga. Suara dan gemerlap kembang api dari pulau - pulau lainnya tampak dari kejauhan.


Minggu, 1 Januari 2017
Sunrise di Pulau Kotok
Mengawali tahun 2017 berjalan menyusuri pantai untuk memotret sunrise. Pagi itu saya melihat seseorang sedang melakukan monitoring elang bondol di kandang rehabilitasi. Elang tersebut akan segera dilepasliarkan ke alam. Waktu monitoring dua jam sekali, satu ekor burung idealnya dimonitoring oleh dua orang. Sebelumnya saya hanya bisa mengira-ngira fungsi tempat yang tertutup dan ada lubang kecil mengarah ke kandang elang bondol, dan pagi itu saya baru mendapat jawabannya setelah melihat langsung seorang petugas sedang duduk di dalamnya dan melakukan monitoring perilaku elang. Saya juga memanfaatkan waktu untuk melihat konstruksi kandang elang dan mendokumentasikannya. Harus ada sesuatu yang bermanfaat yang saya dapatkan dari liburan ini, yakni belajar mengenai rehabilitasi elang laut dan elang bondol termasuk desain kandang.


Snorkeling di Pulau Kotok - Kepulauan Seribu
Mengajak anak-anak untuk melihat ikan - ikan karang warna - warni di pinggir pantai yang terlihat jelas dari atas dermaga, seperti akuarium alami dengan ukuran tanpa batas. Pagi hingga siang hari kami memanfaatkan waktu masing - masing untuk bersenang-senang, anak - anak kecil sibuk sendiri bermain dan berenang di pantai yang jernih dan berpasir putih, orang - orang dewasa menyibukkan diri untuk memancing dan memotret, sedangkan saya snorkeling untuk melihat keindahan pemandangan dibawah permukaan laut. Tampak beraneka ragam spesies ikan karang warna - warni, terlihat juga bintang laut berwarna biru di dasar laut seperti yang kulihat dulu di Pulau Panaitan. Ada lokasi restorasi terumbu karang. Saya juga menemukan ikan badut (clown fish) atau lebih dikenal dengan sebuta ikan nemo.

Kami menghentikan berenang dan snorkeling karena mulai ada badai dan angin kencang di pantai. Siang itu kami manfaatkan untuk bersantai di pinggir pantai, memasang hammock, membaca buku, membawa makanan ringan dan minuman. Keponakan saya duduk di dalam hammock, entah apa yang dilakukan, kalau tidak menulis catatan perjalanan mungkin sedang melukis, sesekali pandangannya jauh kedepan melihat pantai dan kemudian kembali menghadap kertas dan pensil yang dipegangnya. Saat itu mereka juga melihat ikan pari sedang berada di pinggir pantai. Sayang sekali saya tidak bisa melihatnya.

Menjelang sore kami manfaatkan untuk keliling pulau melihat keindahan pantai sisi lainnya dari Pulau Kotok dengan penunjuk jalan seorang teman dari JAAN. Jalan setapak yang kami lewati cukup bersih, terawat dan rapi. Sepanjang perjalanan saya banyak bertanya tentang satwa liar penghuni pulau tersebut, ternyata tidak hanya burung yang mendominasi sebagai penghuni Pulau Kotok tetapi juga berbagai jenis ular. Tapi pada kesempatan tersebut kami belum pernah bertemu dengan ular sekalipun, namun lebih sering menjumpai burung liar maupun burung elang hasil pelepasliaran JAAN disana. Ada keunikan yang kulihat disana, pada saat berjalan-jalan untuk memotret saya melihat elang laut perut putih bisa terbang beriringan dengan burung gagak, seperti mereka satu kelompok saja dan tidak mempermasalahkan bahwa mereka adalah spesies yang berbeda.

Pantai Barat Pulau Kotok
Pagi harinya saya perhatikan banyak pengunjung di pantai barat Pulau Kotok yang sedang berfoto di salah satu dermaga di pantai tersebut, saya mengamatinya dari kejauhan dengan menggunakan zoom camera, namun saat kami datang ke tempat itu, yang kami temui disekitar resort tampak sepi, hanya canda tawa kami yang memecah kesunyian di tempat tersebut. Beberapa resort sepertinya masih berfungsi dan terawat, namun tampak sepi tak berpenghuni.

Pantainya sangat bening, untuk melihat ikan warna - warni tak perlu snorkeling disana karena dapat terlihat jelas dari atas dermaga, meskipun banyak terumbu karang yang telah rusak. Di pantai ini saya melihat ikan pari sedang berenang masuk ke dalam rumput di dasar pantai. Kami cukup lama menikmati pemandangan disana.

Salah satu resort di pantai barat Pulau Kotok - Kepulauan Seribu
Kami terus berjalan menelusuri jalan setapak di hutan untuk melihat dermaga lainnya, sambil menunggu sunset. Sebelum hari gelap kami cepat-cepat kembali ke penginapan, karena tak satupun dari kami yang membawa headlamp.

Hari itu kami juga telah mendengar berita adanya kecelakaan kapal yang membawa penumpang dari Muara Angke menuju Pulau Tidung, kapal terbakar dan banyak korban jiwa. Malam itu kami juga melihat beritanya di salah satu TV swasta yang diputar disana. Berharap saat perjalanan kembali pulang kami selamat sampai tujuan, tentu mengerikan mendengar berita kecelakan kapal laut disaat kami pun harus menggunakan transportasi tersebut saat kembali pulang.

Burung pantai di Pulau Kotok - Kepulauan Seribu. Photo by Erni Suyanti Musabine

Senin, 2 Januari 2017
Pagi itu kami berencana pulang pukul 05.30 WIB, namun perahu sewaan tak kunjung menjemput. Kami memanfaatkan waktu untuk memancing di sekitar dermaga guna mencarikan pakan untuk burung elang dan memotret burung pantai sambil menunggu perahu datang. Akhirnya sekitar pukul tujuh pagi perahu nelayan yang kami sewa datang menjemput. Kami berpamitan dengan staff JAAN untuk kembali pulang.

Kami menyewa perahu untuk mengantarkan kami ke Pulau Pramuka, yang merupakan ibukota Kabupaten/ Kotamadya Kepulauan Seribu. Kami berpindah ke kapal disana untuk melanjutkan perjalanan menuju Muara Angke. Pukul 12.29 WIB kami tiba di dermaga Muara Angke, air laut sedang pasang, tampak genangan air dimana-mana, bahkan jalan yang kami lewati sudah mirip dengan sungai.  Malam itu juga saya kembali ke Bengkulu menggunakan penerbangan terakhir dari Jakarta ke Bengkulu, pukul 21.30 WIB saya baru mendarat di Kota Bengkulu.

Sanctuary dan Rehabilitasi Elang JAAN di Pulau Kotok

Liburan akhir dan awal tahun kali ini sangat mengesankan, tidak hanya bisa bersantai sejenak menikmati keindahan pantai Pulau Kotok dan keheningan hutan pantai, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga tentang proses rehabilitasi elang laut, selain itu juga memberi pelajaran bagi anak-anak tentang konservasi satwa liar, karena belajar tidak hanya dari bangku sekolah formal, alam dan lingkungan yang ada di sekitar kita juga merupakan pelajaran yang sangat berharga. Belajar konservasi satwa sejak usia dini akan membuat anak-anak lebih peduli dengan alam dan isinya terutama satwa liar terancam punah yang perlu perhatian serius untuk diselamatkan.

Jumat, 07 Oktober 2016

Peredaran Burung : Konflik Kepentingan antara Upaya Konservasi dan Bisnis


Pycnonotus sp di TWA Seblat. Photo : Erni Suyanti Musabine


BURUNG merupakan satwa liar yang paling mudah dijumpai di sekitar kita, namun satwa liar golongan ini juga paling banyak diburu untuk keperluan bisnis perdagangan satwa liar guna memenuhi permintaan sebagai hewan peliharaan/ koleksi di berbagai daerah, juga sering digunakan untuk kompetisi burung berkicau. Memang mereka hidup di habitat yang bervariasi, tidak hanya di lingkungan sekitar rumah, tapi juga di hutan pantai, dataran rendah sampai tinggi. Tidak hanya di jumpai di pemukiman, namun juga di ladang, perkebunan dan areal yang berhutan. Sebagian besar jenis burung yang ditangkap memang belum dilindungi oleh Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, namun penangkapannya telah ditetapkan kuotanya untuk beberapa spesies burung. Di Bengkulu untuk burung berkicau jenis tertentu batas maksimal yang boleh ditangkap hanya 20 ekor saja.

TWA Seblat. Photo: Erni Suyanti Musabine
Bisnis burung berkicau makin hari makin marak, diikuti oleh permintaan yang besar sehingga mendorong tingginya kasus perburuan liar dan perdagangan baik yang legal maupun illegal. Ratusan burung liar per minggu dikirimkan secara illegal dari Provinsi Bengkulu ke penampung kedua di Lampung, kemudian baru  diseberangkan ke Pulau Jawa untuk memenuhi permintaan pasar disana. Perbulan burung yang ditangkap untuk perdagangan tersebut bisa mencapai satu juta bahkan lebih. Mereka menggunakan mobil pribadi tertutup untuk menghindari petugas. Peredaran burung berkicau yang legal (melalui perijinan) dibawa menggunakan maskapai penerbangan.

Peredaran satwa liar terutama burung bisa dilakukan secara legal / diberi ijin oleh management authority setempat bila berasal dari penangkaran atau juga tidak melebihi kuota yang telah ditetapkan untuk penangkapan dari alam. Namun orang yang bekerja dalam bisnis jual beli burung, penangkaran tidak dapat memberikan keuntungan cepat bagi mereka, kenapa ? Karena burung hasil penangkaran yang diperjualbelikan harus jelas penandaan individunya dan jalur keturunannya, serta yang pasti harus memiliki surat ijin penangkaran terlebih dulu yang dikeluarkan oleh BKSDA setempat.

Akhirnya saat ini ada modus baru mengenai peredaran burung yang legal, yakni sebagai souvenir. Peredaran burung berkicau diberi kemudahan untuk diberi ijin dibawa antar daerah di Indonesia hanya dengan persyaratan maksimal 2 ekor (2 pasang) per orang dengan tujuan sebagai souvenir. Saya sendiri baru tahu mengapa satwa liar bisa digolongkan sebagai souvenir, apakah ini untuk memberi peluang bagi para pemburu burung dan pedagang burung hasil tangkapan dari alam dengan cara legal ? Karena asal - usul burung tersebut tidak pernah dipermasalahkan/ diperiksa.

Pycnonotus aurigaster. Photo : Erni Suyanti Musabine
Melihat hampir tiap hari orang dari berbagai daerah berdatangan untuk mengurus surat ijin peredaran burung berkicau, mendorong saya ingin tahu berapa banyak SATDS-DN (Surat Ijin Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri) diterbitkan dalam satu bulan untuk peredaran burung berkicau. Ternyata jumlahnya cukup mengagetkanku, yakni antara 20 hingga 40 surat ijin angkut per bulan. Bila setiap proses pengiriman burung adalah satu pasang per surat ijin maka burung berkicau yang dikeluarkan dari Bengkulu adalah sekitar 40 - 80 ekor per bulan. Ini artinya dalam satu tahun ada sekitar 480 - 960 ekor burung yang diedarkan dari Bengkulu keluar daerah. Dari jumlah tersebut sebagian besar burung berkicau berasal dari Bengkulu, hanya sebagain kecil saja merupakan burung eksotik. Bila burung-burung tersebut berasal dari perdagangan di pasar burung dan dari penampungan kemungkinkan besar merupakan tangkapan dari alam. Sedangkan kuota tangkap untuk burung berkicau jenis tertentu hanya 20 ekor.

Sebagai praktisi konservasi tentu hal ini mengkhawatirkan karena di alam burung memiliki fungsi ekologi, sebagai penyebar biji-bijian sehingga ada penyebaran tumbuhan yang bervariasi, punya peran dalam mengontrol ulat dan serangga lainnya agar populasinya tidak berlebihan, membantu penyerbukan dan banyak fungsi penting lainnya dalam ekosistem. Kontrol populasi tetap harus dilakukan, yakni kuota tangkap yang sudah ditetapkan itu penting artinya dan penting untuk dijadikan acuan bagi pelayanan jasa pada masyarakat yang berbisnis burung berkicau, agar burung liar yang belum dilindungi UU tersebut tidak mengalami penurunan populasi yang drastis karena perburuan yang terjadi terus-menerus untuk memenuhi permintaan konsumen. Pemanfaatan Sumber Daya Alam terutama satwa liar yang berlebihan tentu akan berdampak jangka panjang bila tidak disertai kontrol yang ketat dalam eksploitasinya. Berharap para petugas terkait tidak hanya melakukan pelayanan yang baik tentang perijinan peredaran satwa liar pada masyarakat  yang membutuhkan, dan meningkatan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari perijinan yang dikeluarkan, namun juga sebagai kontrol peredaran satwa burung terutama yang berasal dari perburuan liar dengan mengacu pada kuota tangkap yang telah ditetapkan. 

Sabtu, 01 Oktober 2016

Idealisme vs Kepentingan : Ancaman terhadap Upaya Konservasi Insitu


Sejak Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI mendorong pejabat dibawahnya melakukan penertiban peredaran satwa liar baik dari perdagangan maupun pemeliharaan illegal di masyarakat, sejak saat itulah para pejabat di tingkat provinsi (Unit Pelaksana Teknis KLHK) memberikan edaran ke masyarakat dan institusi terkait untuk mendukung upaya penertiban satwa langka yang ada di masyarakat. Namun tidak diimbangi dengan persiapan posko penampungan satwa tersebut dengan fasilitas yang layak bagi pemeliharaan sementara satwa liar sesuai dengan jenisnya masing-masing dan ketersediaan dana pakan serta perawatan didasarkan prinsip-prinsip animal welfare. Awal tahun 2016 dimulailah aksi tersebut di Provinsi Bengkulu, banyak satwa liar yang berhasil disita dari perdagangan gelap maupun dari penyerahan sukarela oleh masyarakat seperti kukang, siamang, burung elang, julang, beruang madu, trenggiling, buaya muara, kucing hutan dan lain-lain.

Beberapa satwa liar yang direscue tersebut berhasil dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Taman Wisata Alam Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara seperti kucing hutan, dan beberapa ekor siamang di Taman Buru Semidang Bukit Kabu, Kabupaten Seluma serta empat ekor kukang sumatera dilepasliarkan kembali di Taman Wisata Alam Bukit Kaba, Kabupaten Rejang Lebong. Sebelum dilepasliarkan, satwa tersebut melalui proses panjang pemeriksaan medis untuk mengetahui apakah satwa tersebut dalam kondisi sehat ataukah tidak, dirawat sementara di Kantor Resort Kota Bengkulu dan ada yang dititipkan sementara ke Pusat Penyelamatan Satwa yang ada di Sumatera Selatan.

Namun sebagai dokter hewan kebijakan ini menjadi tantangan tersendiri, karena kami antar petugas memiliki pola pikir yang berbeda dalam penanganan satwa liar. Sebelumnya saya pernah bekerja di Pusat Penyelamatan Satwa, di Stasiun Karantina untuk satwa liar serta menjadi konsultan medis di Pusat Rehabilitasi Satwa Liar tentu mengharapkan satwa liar yang direscue dari perdagangan illegal dan kepemilikan illegal harus mendapat pemeriksaan medis yang ketat sesuai dengan masing-masing jenis satwa dan kebutuhannya. Selain itu mereka harus melalui masa karantina dan diisolasi dari satwa lainnya dan manusia, kemudian dari hasil penilaian tersebut baru menjalani proses rehabilitasi dan pelepasliaran kembali. Tentu itu butuh proses bertahap dan butuh dana yang tidak sedikit, apalagi biaya pemeriksaan medis tidak murah. Ditambah lagi tidak ada fasilitas kandang yang layak disesuaikan dengan masing-masing jenis satwa serta sanitasi yang bagus untuk mencegah penularan penyakit hewan ke manusia juga menjadi permasalahan tersendiri. Inilah sebagai gambaran kebijakan yang terlalu dipaksakan tanpa memikirkan resiko yang akan dihadapi untuk mendukung / menyukseskan kebijakan lainnya yakni penegakkan hukum.

Beberapa petugas ingin mencari jalan pintas dalam menyelesaikan permasalahan penumpukan satwa liar hasil sitaan dan penyerahan masyarakat yang ada di kota Bengkulu dengan langsung melepasliarkan satwa-satwa tersebut tanpa melalui proses pemeriksaan medis seperti burung elang. Tanpa mempertimbangkan permasalahan berikutnya bila ternyata elang tersebut menderita penyakit menular atau sebagai pembawa penyakit yang bisa menularkan ke spesies burung lainnya atau bahkan membahayakan kesehatan manusia. Satwa liar bila sudah dilepasliarkan di hutan akan susah untuk kontrol penyakit berbeda dengan yang berada di lembaga konservasi eksitu atau peliharaan masyarakat. Bagi dokter hewan, kegiatan ini menjadi terasa aneh bila ternyata juga mendapat dukungan dari para pejabat terkait.

Siamang JEN saat proses rehabilitasi untuk dilepasliarkan kembali di kawasan 
Konservasi TB Semidang Bukit Kabu, Kabupaten Seluma, 
Bengkulu, Tanggal 30 Agustus 2016 
Tantangan kami dalam upaya pelestarian satwa liar di habitat tidak hanya sampai disitu, selain tidak adanya dukungan dana untuk kegiatan-kegiatan medis yang berhubungan dengan pemeriksaan sampel ke laboratorium juga dana untuk pembelian obat-obatan dan peralatan medis yang dibutuhkan serta untuk pengadaan pakan satwa.  Namun yang paling membuat kami putus asa adalah, saat ini kami sedang melakukan proses rehabilitasi siamang di sebuah kawasan konservasi di Bengkulu. Setelah beberapa bulan menjalani forest school (sekolah hutan) beberapa siamang berhasil dilepasliarkan kembali ke hutan tanpa ada kendala, dan hanya tinggal satu ekor saja yang masih terus belajar, namun sudah tidak tergantung lagi dengan manusia, sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan makanan alami. Sebuah kemajuan yang tinggal selangkah lagi untuk bisa direlease kembali ke hutan, tapi akhirnya harus berakhir hidupnya berada di LK selamanya yang berada diluar habitat bahkan di luar pulau, hanya karena sebuah LK / kebun binatang menginginkan jenis satwa tersebut, masa depannya direnggut dengan paksa setelah diambil dari hutan dan diserahkan ke kebun-binatang.

Tumpang tindih kepentingan dalam pemanfaatan satwa liar saat ini menjadi permasalahan serius yang mengancam upaya konservasi satwa liar di insitu, seperti permintaan satwa liar sebagai koleksi lembaga konservasi eksitu baik itu kebun binatang, taman satwa dan lain-lain seringkali ditujukan ke KLHK, dan itu mendorong Unit Pelaksana Teknis untuk memenuhi permintaan tersebut sesuai dengan jenis satwa yang diinginkan. Dalam rekomendasi medis dan conservation biologist sudah jelas bahwa satwa liar yang sehat tidak beresiko dalam transfer penyakit menular baik kepada satwa sejenis, satwa jenis lainnya maupun manusia, dan tidak cacat fisik permanen atau secara fisik masih bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan habitat baru, serta berperilaku normal maka layak untuk dilepasliarkan kembali. Namun bila kemungkinan besar tidak akan bertahan hidup pasca release karena kondisi tertentu maka ditranslokasi ke lembaga konservasi eksitu untuk keperluan breeding dan lain-lain. Dan rekomendasi yang terakhir adalah euthanasi untuk kasus-kasus spesific dengan tujuan mencegah penularan penyakit berbahaya bagi kesehatan hewan dan manusia serta untuk mengurangi penderitaan satwa.

Siamang JEN saat sedang berada di kandang angkut
sebelum ditranslokasi ke Pulau Lombok
Tanggal 29 September 2016
Terkadang rekomendasi tersebut menjadi tidak berarti manakala lembaga konservasi eksitu (LK) sangat menginginkan satwa tersebut menjadi koleksinya, dan para pejabat di management authority setempat bersedia memenuhi permintaan dari LK tersebut, maka pemindahan/ translokasi satwa bisa terjadi. Itu dilakukan secara legal karena memenuhi persyaratan perijinan, administrasi birokrasi yang dibutuhkan. Tapi bagi kami para praktisi konservasi satwa liar memandang hal itu sebagai ancaman upaya konservasi insitu. Secara Illegal seperti perburuan liar dan wildlife trafficking ataupun secara legal dengan semua persyaratan administrasi birokrasi translokasi satwa ke LK terpenuhi, efek samping yang ditimbulkan adalah sama saja menurut kami, bahwa satwa tersebut tidak memiliki kesempatan lagi untuk kembali ke habitatnya dan menjalankan fungsinya dalam ekosistem hutan.

Siamang bernama Jen, pandangannya yang kosong menatap masa depan yang berubah dengan sekejap saat berada dalam kandang angkut menunggu translokasi ke Nusa Tenggara Barat untuk menjadi koleksi sebuah kebun binatang. "Maaafkan aku, Jen tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya, maafkan aku tidak bisa melepas kepergianmu karena untuk menatap matamu yang sangat sedih itu membuatku berkaca-kaca. Sungguh, aku lebih suka melihatmu di hutan dengan ekspresi bahagia".

Dalam Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan  jelas disebutkan bahwa pemerintah wajib memfasilitasi medik konservasi, forensik veteriner dan medik reproduksi. Berharap kedepan keputusan yang berhubungan dengan nasib satwa liar dan ekosistemnya semakin bijak dalam mendukung upaya konservasi insitu, tidak hanya memikirkan kepentingan perseorangan dan sekelompok orang. Sudah saatnya jeritan satwa liar juga didengar dan diperhatikan, pada dasarnya mereka juga seperti manusia menginginkan kebahagian, hidup normal di tempat yang semestinya. Jangan pernah renggut masa depan satwa liar hanya untuk kepentingan manusia. Tempat tinggal mereka di hutan bukan di dalam kandang seumur hidupnya.

Senin, 20 Juni 2016

Edema Ventralis pada Gajah Sumatera


Setiap mahout memiliki cara yang berbeda dalam merawat gajahnya. Ada yang menggembalakannya jauh ke dalam hutan secara berkelompok sesuai dengan perilaku alaminya sebagai mahkluk sosial, biasanya ini dilakukan pada gajah-gajah betina di PLG Seblat. Hutan seluas tujuh ribuan hektar tentu masih bisa menyediakan pakan alami, dan ada sungai-sungai di dalam hutan dengan air bening mengalir didalamnya yang menyediakan air minum untuk mereka. Dan mereka bisa memilih sendiri kemana mereka ingin makan dan minum karena mereka bebas berjalan-jalan di hutan itu. Tujuannya adalah agar gajah-gajah tersebut mendapat cukup makanan alami baik variasi maupun kuantitasnya serta dapat mengeskpresikan perilaku alaminya dengan hidup bersosial. Namun ada juga yang lebih menyukai merawat gajahnya dengan cara soliter (sendiri-sendiri), baik gajah jantan maupun betina dengan cara dilepasliarkan ataupun diikat dengan rantai panjang agar bisa menjangkau tempat pakan yang luas. Cara ini sebenarnya lebih cocok untuk gajah jantan karena perilaku alaminya gajah jantan dewasa pada akhirnya akan memisahkan diri dari kelompok dan hidup soliter, dan untuk gajah jantan remaja membentuk kelompok kecil tersendiri dengan sesama pejantan remaja lainnya. Selain untuk alasan keamanan karena gajah jantan banyak diincar oleh pemburu liar guna diambil gadingnya dengan cara membunuh gajah-gajah itu.

Terkadang perawatan satwa tanpa memperhatikan behavior (perilaku alami) dan kondisi fisiologinya kerap kali menimbulkan gangguan kesehatan bila hal itu berlangsung secara terus-menerus. Sebenarnya hal ini menegaskan bahwa ada keterkaitan erat antara perawatan satwa dengan memperhatikan aspek-aspek animal welfare (kesejahteraan hewan). 

Seekor gajah bernama Dino sering diikat di pinggir sungai yang panas atau di pinggir hutan yang tidak banyak terdapat pohon rindang untuk berteduh, lokasinya terbuka dan hanya mengandalkan pakan tambahan berupa pelepah kelapa sawit dan king grass tanpa tersedia variasi makanan alami di sekitarnya, serta minum yang terbatas. Negara tropis yang dekat garis khatulistiwa tentu suhu lingkungan sangat panas di siang hari. Sedangkan gajah adalah binatang liar yang memiliki beberapa kelenjar keringat namun tidak dapat difungsikan untuk mengatur suhu tubuh mereka. Kulit gajah yang keriput membantu menjaga kelembaban sehingga gajah agar tetap sejuk dalam jangka waktu lama walaupun terkena terik matahari dan mengeluarkan panas melalui kulitnya yang keriput.

Edema di ventral abdominal pada Gajah Dino yang mulai mengecil 
setelah terapi selama 2 minggu
Perawatan gajah Dino dengan cara seperti itu berlangsung dalam waktu lama sehingga muncul gejala klinis edema ventralis.  Perawat gajah (mahout) menyebutnya gondok atau gondokan, mungkin karena seringkali muncul dibawah leher dan di submandibular (diantara tulang rahang bawah), meskipun penyebabnya bukan kekurangan Yodium sehingga menyebabkan pembengkakan kelenjar tiroid. Gondokan disini yang dimaksud adalah edema ventralis, pada gajah sering terjadi di bawah leher dan di submandibular serta di ventral abdominal (di bawah perut).

Edema di genitalia externa (alat kelamin luar) 
Penyebab edema diantaranya malnutrisi (kekurangan gizi), malabsorbsi usus terhadap protein, penyakit tiroid, penyakit paru kronis, penyakit ginjal, penyakit hati, gagal jantung dan luka bakar. Penyebab lainnya yang sering terjadi karena gajah tidak bisa bergerak dalam jangka waktu lama, biasanya terjadi pada gajah-gajah dalam transportasi hingga belasan jam berdiri dalam truk atau berhari-hari tanpa memberi kesempatan untuk berubah posisi, edema terjadi pada kaki bagian bawah. Bila terjadi pada semua kaki dan bila tidak disertai tanda-tanda peradangan maka merupakan akibat dari proses sistemik. Paling sering disebabkan oleh cairan yang berlebihan di dalam tubuh sehingga cairan keluar dari pembuluh darah dan berkumpul di kaki yang merupakan bagian terendah dari tubuh. Cairan tersebut dapat berkumpul di kaki karena faktor gravitasi, selain itu berkumpulnya cairan pada kaki juga sebagai akibat pelebaran pembuluh darah, keluarnya cairan dari pembuluh darah dan adanya penyumbatan sehingga cairan tidak dapat naik.


Edema. Edema may be seen in the submandibular or ventral abdominal areas. Poor food quality may be a cause and hypoproteinemia may be associated. Ventral edema is also seen in cows that have recently given birth. Increasing the protein in the diet may help 
Ventral Edema
Ventral edema (“dropsy” or “rot”) may involve the ventral abdominal wall, the submandibular area, or the tissues surrounding the external genitalia. A single, specific, underlying etiology has not been identified. Ventral edema has been associated with parasites, kidney failure, tuberculosis, chronic diarrhea, salmonellosis, retained placenta, and a wasting syndrome of unknown etiology. Chronic and severe infection by Fasciola jacksoni invariably. Hypoproteinemia may be present, especially with severe parasitic infections. It is not always associated, however, and is probably not the sole underlying mechanism. Ventral edema occurs commonly among captive elephants in North America as the only clinical sign and has been variously treated with diet change, antibiotics, and diuretics. The majority of cases are non–life threatening, and resolve without treatment, with signs rarely persisting more then 3 months. Ventral edema may be a nonspecific response to a variety of physiological stressors. Further research is needed.

Reference : "Biology, Medicine, and Surgery of Elephants" 
by Murray E. Fowler and Susan K. Mikota

Selain itu cuaca panas juga dapat sebagai penyebab edema. Hal ini diduga karena terjadi Hypovolemik shock yang terjadi akibat shock karena dehidrasi karena kurang cukup minum dalam jangka waktu lama sehingga memicu terjadinya edema. Namun hal ini masih perlu dibuktikan/ diteliti dan masih dalam perdebatan. Karena gajah - gajah seringkali mengalami edema ventralis bila sering kepanasan terus-menerus tanpa bisa berteduh ataupun mendinginkan tubuh dengan semprotan air ataupun lumpur serta tidak dapat menjangkau air minum sepanjang waktu. Dalam kasus ini kondisi nutrisi baik serta hasil pemeriksaan feces tidak ada indikasi infestasi endoparasit serta tidak menunjukkan adanya hypoalbuminemia dari hasil pemeriksaan darah, serta tidak ada indikasi penyakit lainnya, namun setiap kali berada di tempat panas berhari-hari muncul gejala klinis edema ventralis. Perlakuan yang diberikan sederhana yakni merubah lokasi penggembalaan, ditempatkan dalam hutan yang teduh dan biasanya dalam waktu 3 hari s/d 3 minggu akan kembali normal dan tidak terjadi edema ventralis kembali. Lamanya pemulihan tergantung ringan beratnya edema yang terjadi, atau tergantung banyaknya edema yang terjadi, yakni di satu lokasi atau di banyak lokasi. 

Gajah Bona mengalami edema di ventral abdominal dan di kepala bagian bawah
karena malnutrisi, Photo tanggal 20 Januari 2012
Mekanisme terjadinya edema ventralis pada gajah seringkali karena penurunan tekanan osmotik intravaskuler. Hal ini bisa dilihat dari hasil pemeriksaan serology menunjukkan adanya hypoproteinemia terutama albumin. Kondisi ini dapat mengurangi tekanan osmotik koloid intravaskuler yang mengakibatkan terjadinya peningkatan filtrasi cairan dan penurunan absorbsi yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya edema. Hypoalbuminemia sebagai akibat dari malnutrisi (kekurangan gizi) atau malabsorbsi terhadap protein, bisa karena pakan kurang dalam jangka waktu lama.  Kehilangan albumin dalam plasma dapat terjadi juga karena penyakit gastrointestinal dengan kehilangan darah yang parah seperti infeksi yang disebabkan parasit (penyakit parasiter) terutama cacing. Edema ventralis pada gajah sering terjadi pada tubuh gajah bagian ventral yakni bawah leher, di submandibular dan ventral abdominal (di bawah perut).

Edema ventralis di Submandibular
Setelah mengumpulkan informasi dari berbagai orang (mahout) untuk mengetahui riwayat perawatan gajah Dino dan hasil pemeriksaan sampel feces, serta gejala klinis yang terlihat maka tindakan yang dilakukan adalah memindahkan gajah Dino untuk digembalakan di hutan dengan kondisi lingkungan sekitar yang teduh (tidak panas), perlu cukup minum dan variasi nutrisi, serta pemberian obat cacing sesuai dengan jenis telur cacing yang telah teridentifikasi dalam pemeriksaan mikroskopis meskipun infestasi cacing hanya sedikit (+). Tidak tersedia obat cacing yang efektif untuk pemberantasan Trematoda, yang ada di klinik hanya Albendazole tablet. Akhirnya saya mendapatkan sumbangan obat cacing Oxyclozanide pasta dari kolega dokter hewan yang sangat efektif untuk pengobatan pharamphistomiasis  yakni tropical disease pada gajah, dan efektif untuk pengeluaran cacing dewasa melalui feces, yang diberikan selama tiga hari berturut-turut secara per oral. Namun diduga penyebab edema ventralis bukan karena peyakit parasiter tetapi lebih cenderung karena terpapar cuaca panas dan nutrisi yang buruk, karena sebelum pemberian obat cacing, edema ventralis sudah mengecil hanya dengan memindahkan gajah ke tempat teduh dan memberikan makanan yang lebih bervariasi. 

Dalam waktu tiga minggu dengan perlakuan khusus dalam perawatan harian maka gajah bisa sembuh kembali. Edema ventralis pada tubuh gajah bagian bawah (ventral) sudah tidak terlihat lagi. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah melakukan pencegahan agar hal itu tidak terjadi lagi. Dan ini perlu kerjasama yang baik dengan perawat gajah.

Minggu, 19 Juni 2016

Traumatic Ulcer pada Rongga Mulut Gajah


Seekor gajah bernama Gara tampak lemah, kehilangan nafsu makan dan minum selama beberapa hari, saat berjalan tampak kedua kaki depan beradu/ bersentuhan seperti enggan mengangkat kakinya pertanda bahwa gajah tersebut kehilangan tenaga, juga tampak tremor (gemetar) serta sempoyongan. Gejala klinis yang paling mencolok adalah hypersalivasi yakni sekresi air liur berlebihan dan terus- menerus. Banyak faktor penyebab yang membuat produksi air liur berlebihan, diantaranya pankreatitis, penyakit hati, gastroesophageal reflux, keracunan bahan kimia tertentu, fraktur atau dislokasi pada rahang dan juga ulcer dan infeksi pada rongga mulut dan lain - lain.  

Sebelumnya sudah pernah menangani dua ekor satwa liar yakni gajah sumatera bernama Ninda dan harimau sumatera bernama Giring yang memiliki gejala klinis yang sama yakni hypersalivasi. Keduanya memiliki penyebab yang sama yakni ulcer pada rongga mulut, baik pada lidah maupun gusi. Penyebab ulcerasi di rongga mulut bermacam-macam, bisa karena traumatik, agen penyakit seperti bakteri, virus dan jamur serta penyakit sistemik.

Ulcer pada Lidah Gajah di PLG Seblat, Bengkulu. Photo : Erni Suyanti
Pemeriksaan awal pada gajah yang dilakukan adalah mengintsruksi gajah untuk membuka mulutnya dan memeriksa rongga mulut. Ditemukan ada beberapa luka pada lidah dari mulai bagian depan sampai tengah lidah, kondisi gusi dan gigi baik tidak ada masalah. Kemungkinan hypersalivasi disebabkan oleh luka tersebut, sehingga menurunkan nafsu makan dan minum selama beberapa hari dan akhirnya kehilangan tenaga dan lemas. 

Dalam pengobatan gajah satu hal yang tidak kalah penting adalah pelatihan gajah untuk penanganan medis agar gajah terbiasa dan tidak terkejut saat diperiksa dan diobati pada bagian-bagian tertentu di seluruh tubuhnya. Ada 33 jenis pelatihan gajah untuk keperluan penanganan medis yang dilakukan dengan tujuan berbeda dihubungkan dengan kasus-kasus sakit/ penyakit yang sering dialami oleh gajah-gajah disini. Sebagai contohnya terbiasa membuka mulut untuk diperiksa, mengangkat kaki untuk diperiksa kuku dan telapak kakinya, terbiasa disentuh matanya untuk mempermudah pemberian obat salep atau tetes mata, terbiasa dipegang bagian telinga untuk koleksi sampel darah, terbiasa di rectal untuk berbagai keperluan dan lain-lain tanpa mereka merasa takut dan melukai petugas, Hal ini untuk mendukung agar gajah-gajah yang sakit bisa diperiksa kondisinya dan diobati dengan aman tanpa membahayakan petugas baik mahout maupun dokter hewan. Di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, kami tidak mendukung adanya pelatihan gajah untuk animal show, namun yang wajib dilakukan adalah pelatihan gajah untuk keperluan penanganan medis, yakni dengan cara membiasakan menyentuh seluruh bagian-bagian tubuh dari satwa gajah setiap hari dengan memperkenalkan/ memperdengarkan instruksi kata-kata yang konsisten. Gajah adalah binatang yang sangat pintar dan punya daya ingat sangat kuat, bila sesuatu kata dan perlakuan dilakukan berulang-ulang secara konsisten pada akhirnya mereka akan memahaminya dan mengingatnya dengan baik, sebaik mereka mengingat dimana lokasi pakan alami dan mineral di hutan ini.

Ulcer pada Lidah Gajah di PLG Seblat, Bengkulu. Photo : Erni Suyanti
Untuk pengobatan gajah Gara saya tidak memerlukan physical restraint dengan diikat di rung atau pohon agar gajah tidak lari atau menolak pengobatan, menurut saya dimanapun bisa dilakukan untuk kasus ini. Bersama mahout dan mahasiswa Kedokteran Hewan yang sedang magang di PLG Seblat kami mengobati gajah Gara, dalam ruang obat saya hanya menemukan obat kumur antiseptik Povidone iodine yang bisa digunakan, kemudian kami membersihkan ulcer dengan antiseptik tersebut menggunakan kapas yang terbungkus kassa yang ditetesi cairan antiseptik untuk pembersihan semua luka sampai bersih. PLG Seblat terletak di daerah terpencil sehingga kecamatan terdekat pun tidak tersedia apotek yang menjual jenis obat-obatan selengkap di Kota Bengkulu. Sehingga pilihan saya adalah Albothyl obat tetes yang sangat umum dan saya yakin pasti tersedia di apotek terdekat. Akhirnya saya mendapatkan sumbangan Albothyl dari Polisi Kehutanan. Saya minta mahout yang memberikan pengobatan Albothyl karena lokasi gajah cukup jauh di dalam hutan dan setelah pengobatan pertama kami ke hutan untuk memeriksa kondisinya kembali dan kesulitan mencari gajah Gara yang telah berjalan-jalan jauh bahkan sampai perbatasan kawasan hutan TWA Seblat dan HPK untuk mencari makanan alami. Saya masih memonitor kondisinya selama tiga minggu, untuk mengetahui apakah ulcer pada rongga mulut benar-benar telah sembuh, jika tidak maka harus dilanjutkan dengan pemeriksaan khusus seperti koleksi sampel untuk pemeriksaan mikrobiologi, serology dan bahkan biopsi jika dibutuhkan. Beberapa hari kemudian saya mendapat informasi dari mahout gajah Gara bahwa kondisi gajah sudah membaik, luka sudah mengering dan sembuh kembali dan nafsu makan dan minum normal kembali, bahkan gajah tersebut sudah aktif berjalan-jalan di dalam hutan dengan normal, serta tidak mengalami hypersalivasi kembali. 

Pada saat gajah tersebut sakit saya melaporkannya ke pimpinan yang di Kota Bengkulu dan diteruskan ke pejabat otoritas di Jakarta. Saat itu instruksinya baik secara tertulis dan melalui pesan phone cell bahwa dinstruksikan semua gajah yang sakit untuk dibawa ke Rumah Sakit Gajah agar dapat diobati. Pada saat itu saya memang sedang menangani 4 (empat) ekor gajah sumatera yang sedang sakit dengan berbagai sebab. Saya lebih suka berfikir dan bekerja secara logis, praktis dan efisien dalam penanganan permasalahan kesehatan satwa, meski pada akhirnya saya tidak melaksanakan instruksi tersebut toh saya yakin gajah bisa disembuhkan dengan perawatan sendiri meskipun tanpa memiliki banyak fasilitas obat-obatan yang dibutuhkan. Pada kenyataannya membuktikan bahwa gajah - gajah itu akhirnya bisa disembuhkan. Karena kami tidak ingin menghambur-hamburkan anggaran negara dan banyak dana hanya untuk transportasi gajah guna tujuan pengobatan ke provinsi lain dan masih harus mengembalikan lagi ke Bengkulu, tentu itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, seandainya boleh memilih lebih baik dana sebanyak itu bisa kami pakai untuk pembelian obat-obatan, peralatan medis agar memadai serta untuk biaya pemeriksaan laboratorium bila kami membutuhkannya.