Minggu, 30 Juni 2013

attending Centre for Orangutan Protection School Batch #3


COP School Batch #3
Pagi itu tanggal 26 Juni 2013 saya berangkat dari Bengkulu menuju Yogyakarta untuk menghadiri undangan dari Centre for Orangutan Protection sebagai pemateri dalam acara COP School Batch #3 bersama beberapa teman yang selama ini bekerja untuk konservasi orangutan di Indonesia.  Mereka adalah beberapa staff dan pendiri COP diantaranya Hardi Baktiantoro dan Wahyuni dari Centre for Orangutan Protection, selain itu juga didatangkan pemateri dari lembaga lain yakni Panut Hadisiswoyo dari Orangutan Information Centre (OIC), Dr. Ir. Jamartin Sihite dari Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan beberapa dokter hewan orangutan, yakni Drh. Imam Arifin dari COP dan Dr. Nigel Hicks dari UK. Kebetulan di acara ini saya mendapat bagian untuk memberi materi tentang Human-Wildlife Conflict, merupakan bidang yang memang telah saya geluti selama 6 tahun terakhir di Sumatra.

Pongo abelii
Kebetulan spesialisasi saya dulunya adalah sebagai dokter hewan satwa liar jenis primata termasuk didalamnya adalah orangutan disaat masih bekerja di Wild Animal Rescue Centre beberapa tahun yang lalu. Orangutan merupakan satwa liar yang paling saya sukai sejak dahulu sampai sekarang karena keunikannya yang mirip dengan manusia dan karena merupakan satwa liar yang populasi liarnya hanya terdapat di hutan Sumatra dan Kalimantan (Borneo).  Akhirnya membuat saya bermimpi untuk bisa menjadi dokter hewan orangutan di habitatnya.  Pada akhirnya saya pun mendapatkan kesempatan menjadi konsultan medis di Stasiun Rehabilitasi Orangutan Sumatra, yang merupakan project dari Frankfurt Zoological Society - Sumatran Orangutan Conservation Programme selama tiga tahun. Namun, perjalanan hidup dan permasalahan di dunia konservasi yang ada di sekitar saya, akhirnya mengalihkan perhatian saya kepada species terancam punah lainnya yakni gajah dan harimau sumatera yang sudah masuk golongan critical endangered species menurut IUCN.  Dengan terbatasnya dokter hewan yang bersedia bekerja di lapangan untuk konservasi satwa liar tersebut membuat saya beralih keinginan untuk menekuni bidang itu, dan meskipun saya sekarang bermimpi untuk punya spesialisasi menjadi dokter hewan harimau sumatra di habitatnya, namun dilain pihak harapan itu tanpa meredupkan keinginan saya untuk tetap bisa membantu konservasi orangutan di Indonesia dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan yang ada.

Sesampainya di Yogyakarta, saya dijemput oleh dua orang staff Centre for Orangutan Protection, dan kebetulan salah satu dari mereka adalah kawan lama saya sebagai aktivis di organisasi konservasi satwa liar Indonesia diwaktu lampau.  Selain menjemput saya, diwaktu yang bersamaan sekaligus juga menjemput seorang peserta COP School dari UK yang datang pada saat itu juga.  Sore itu kemudian kami menuju ke camp Ape Warrior di daerah Sleman, Yogyakarta untuk berkumpul dengan peserta COP School lainnya, staff COP dan para relawan/ orangutan friends. Camp tampak sangat ramai, teman-teman pemerhati konservasi orangutan dari berbagai daerah sedang berkumpul disana.

bersama COP, OIC dan BOSF
Malam itu saya bertemu dengan direktur Orangutan Information Centre, yang namanya sudah lama saya kenal, bersama dengan direktur Centre for Orangutan Protection, kami bertiga makan malam bersama dengan menu khas Yogyakarta.  Seorang kawan dari media Mongabay juga menghubungi saya untuk bertemu, namun sayangnya malam itu kami tidak bisa bertemu berempat, padahal itu adalah waktu yang tepat untuk ngobrol bersama terutama tentang konservasi orangutan dan permasalahannya di Indonesia secara informal.  Kebiasaan yang selalu dilakukan bila bertemu dengan orang-orang yang bekerja di bidang konservasi satwa liar, kesempatan yang langka seperti itu pasti dimanfaatkan untuk ngobrol bersama tentang issue-issue konservasi dan rencana-rencana kedepan.

Esok harinya kami menuju ke Ledok Sambi di Desa Sambi, Provinsi Yogyakarta, merupakan lokasi untuk camping selama diselenggarakan acara COP School Batch #3.  Desa tersebut pemandangannya cukup menarik, kami harus melewati sungai berbatu diatas jembatan bambu yang dibuat secara sederhana, dan berada disekitar ladang padi masyarakat.  Berada di lereng Gunung Merapi dan tak jauh dari Taman Nasional Gunung Merapi.  Di tempat tersebut juga ada fasilitas outbound.  Suasananya damai dan sejuk.



Kebetulan saya mendapat jadwal untuk memberi materi di hari ketiga, sehingga saya tidak punya banyak kegiatan di hari pertama dan kedua.  Waktu luang saya manfaatkan untuk berkeliling sendirian di sekitar lokasi camping dan mencari obyek menarik untuk photography dengan menelusuri sungai selain mengikuti beberapa materi yang menarik di kelas.  Akhirnya saya tertarik untuk memotret bunga-bunga liar disana.


Rumah Mbah Maridjan
Di hari kedua, saya bersama Panut Hadisiswoyo  dari OIC mengisi waktu luang dengan berjalan-jalan ke bekas letusan Gunung Merapi dengan guide seorang relawan COP, Angga Kurniawan.  Kami merental motor trail seharga Rp. 50.000,- per motor untuk berkeliling.  Disana juga ada penyewaan jip, tetapi kami lebih memilih merental trail untuk berkeliling lokasi bekas letusan Gunung Merapi.  Tak lupa kami juga mengunjungi bekas rumah mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.  Peminat wisata ini ternyata cukup ramai.  Bencana alam tidak semata-mata mendatangkan kesedihan tetapi dibalik kejadian itu juga mendatangkan rejeki bagi masyarakat disana.


Candi Sewu
Sepulang dari lokasi Merapi erruption, kami kemudian menuju Candi Prambanan dan candi-candi lainnya di Klaten, Jawa Tengah. Karena waktu kunjungan sudah sore sehingga kami tidak punya kesempatan untuk bisa berkunjung ke Candi Prambanan, kami hanya bisa mengunjungi Candi Kalasan kemudian ke Candi Sewu yang berdampingan dengan Candi Prambanan. Setelah puas berkeliling dan memotret dari satu candi ke candi lainnya, akhirnya kami mencari makanan untuk oleh-oleh khas Yogyakarta.  Kembali ke lokasi camping COP School sudah malam, saat akan menuju sungai kami bertemu dengan seekor ular, cara berjalannya bukan merayap tetapi meloncat, aneh sekali untuk pertama kalinya saya melihat yang seperti itu.



Di hari ketiga, pagi itu jadwal saya memberi materi tentang Human-Wildlife Conflict bagi peserta COP School selama satu jam.  Saya tidak hanya memberi materi tentang orangutan tetapi juga tentang konflik harimau dan gajah di Sumatra dengan segala permasalahannya dan cara penanggulangannya.  Selesai memberi materi, beberapa peserta dari mahasiswa kedokteran hewan minta waktu tambahan di kesempatan lainnya untuk diberi materi tentang medical treatment.  Namun saya tidak bisa menyediakan waktu untuk itu karena padatnya acara dan kondisi saya yang sedang kurang sehat sehingga saya memilih untuk beristirahat sehari tanpa beraktifitas dan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.  Saya pun kehilangan kesempatan untuk mengikuti acara yang menarik di hari itu.

Malam harinya kami membuat api unggun dan melakukan beberapa permainan menarik, sebelum akhirnya memberi kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan tersebut. Di hari terakhir, yakni tanggal 30 Juni kegiatan hanya dilakukan setengah hari, dan saya lebih banyak berkumpul dengan para relawan COP sebelum akhirnya kami kembali ke camp Ape Warrior di Sleman, Yogyakarta.




Acara COP School Batch #3 cukup menarik dan variatif, dengan cara penyampaian yang menarik pula, melalui presentasi, demonstrasi (praktek) dan pemutaran film serta diselingi dengan permainan-permainan kreatif.  Setiap hari acara dimulai pukul 06.30 WIB sampai dengan pukul 21.30 WIB.

Training pembuatan blowdart syringe
Sesampainya di camp Ape Warrior untuk memenuhi permintaan kawan-kawan peserta COP School, akhirnya saya bersama dokter hewan COP pun masih harus memberi training tambahan tentang chemical and physical restraint of wildlife, juga cara pembuatan blowdart dan sekaligus praktek penggunaan blow pipe  di camp Ape Warrior untuk keperluan animal rescue.  Ternyata yang tertarik untuk mengikuti acara informal ini tidak hanya staff COP, para relawan dan peserta COP School tetapi juga Dr. Nigel Hicks yang merupakan salah satu pemateri di  kegiatan COP School Batch #3.
Kegiatan seperti ini sangat menarik sebagai wadah bagi pemerhati konservasi orangutan di Indonesia dari berbagai daerah/ negara.  Dan menunjukkan bahwa untuk berbuat sesuatu bagi konservasi satwa liar di Indonesia bisa dari latar belakang apa saja dan terbuka bagi siapa saja.  Dan banyak jalan untuk bisa berperan secara langsung dan tidak langsung untuk mendukung itu.

Minggu, 16 Juni 2013

Working and Having Fun at the Island of Enggano

Pada tanggal 11 sampai dengan 19 November 2011 kami mengadakan perjalanan dinas ke Pulau Enggano bersama rombongan dari BKSDA Bengkulu sebanyak 10 orang.  Ini adalah perjalanan dinas para relawan (yang bekerja secara sukarela) untuk membantu mencarikan solusi bagi permasalahan masyarakat disana juga permasalahan yang menyangkut bidang kehutanan.  Sebelumnya kepala balai memang mencari tenaga sukarela di lingkup BKSDA Bengkulu yang bersedia membantu kegiatan di Pulau Enggano, akhirnya mendapatkan 10 orang dari berbagai profesi dan lintas seksi wilayah. Perjalanan ini adalah respon dari hasil survey yang telah kami lakukan sebelumnya pada bulan Pebruari s/d Maret 2011 bersama seorang polisi kehutanan dan dua orang jurnalis di Bengkulu.  Rombongan dalam perjalanan ini terdiri dari berbagai profesi, ada dokter hewan, ada PEH (Pengendali Ekosistem Hutan), Polisi Kehutanan/ Kepala Resort, Penyuluh, Humas, tenaga honor, Kepala Seksi dan Kepala Balai.


video
Mengamati Dolphin yang Mengiringi Kapal Pulo Telo



Menikmati sunrise di atas kapal Pulo Telo
Sore itu kami menaiki kapal Ferry ASDP KMP Pulo Telo yang berangkat dari Pelabuhan Kahyapu pukul 17.00 WIB.  Untuk pertama kalinya saya menaiki kapal ini, karena sebelumnya penyeberangan dari kota Bengkulu menuju Pulau Enggano menggunakan kapal ferry Raja Enggano.  Kapal ferry kali ini desain interiornya lebih menarik, ada ruang VIP, ada kafe dan karaoke serta dek/geladak paling atas terdapat tempat nongkrong dengan beberapa kursi untuk melihat pemandangan laut, dengan setengah beratap dan setengahnya terbuka, dan ini adalah ruangan favorit saya bila menaiki kapal ferry KMP Pulo Telo.  Karena dari ruangan paling atas ini saya bisa bebas memandang lautan, memotret sunset dan sunrise serta melihat lumba-lumba yang berloncatan mengiringi kapal yang sering membuatku berteriak histeris bila melihatnya serta ruangan yang menyediakan meja dan tempat duduk sehingga bisa membuka laptop dan bekerja selama perjalanan.


Full moon above of Indian Ocean
Photo : Erni Suyanti Musabine
Pemandangan malam itu sangat indah, kami bisa menikmati sinar bulan purnama di atas kapal, kebetulan cuaca cerah. Juga menonton pertandingan sepak bola bersama kawan-kawan di televisi karena pertandingan itu memang yang sedang kami tunggu-tunggu, suara heboh kami saat menonton bisa membangunkan penumpang lainnya yang sedang tidur. Karena penumpang penuh akhirnya kami tidur dilantai beralaskan matras dan sleeping bag, hanya Kepala Seksi dan Kepala Balai saja yang kami sediakan ruang VIP, karena untuk memesan ruangan ini perlu menambah ongkos lagi. Sampai di Pelabuhan Kahyapu agak telat tidak seperti biasanya, yakni lebih dari pukul 6 pagi kami baru berlabuh, karena memang masih musim badai angin barat sehingga waktu tempuh kapal lebih lambat dari kondisi normal yang biasanya hanya memerlukan waktu 12 jam perjalanan. Mendekati Pulau Enggano akan terlihat pemandangan sunrise yang indah. Kemudian dari kejauhan akan tampak tiga pulau yakni Pulau Dua, Pulau Merbau dan Pulau Enggano.  Pelabuhan akan tampak ramai setiap ada kapal datang, tampak banyak motor dan mobil penjemput/ angkutan barang.  Kebutuhan sehari-hari untuk masyarakat Enggano tergantung dengan kapal ini karena untuk barang tertentu harus didatangkan dari Bengkulu, dan hanya datang dua kali seminggu, itupun bila kondisi kapal sedang tidak rusak dan kondisi cuaca bagus.  Seperti sayuran dan bahan konsumsi lainnya, bahan bangunan, BBM dan lain-lain.  Sebenarnya tidak hanya KMP Pulo Telo saja yang melayani penyeberangan ke Pulau Enggano tetapi masih ada kapal lainnya yakni Kapal Perintis khusus untuk angkutan barang dari Pelabuhan Pulau Baii kota Bengkulu ke Pelabuhan Malakoni, Pulau Enggano pulang pergi seminggu dua kali dalam kondisi normal.  Kapal Perintis ini juga melayani pelayaran ke wilayah Bengkulu bagian Selatan dan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.


Meeting - outdoor
Sosialisasi di Kecamatan
Pagi itu di hari pertama kegiatan kami adalah keliling desa untuk melihat kebun sorgum di beberapa lokasi, sebelumnya melakukan briefing di Kantor Resort KSDA Enggano.  Salah satu rencana kegiatan yang ingin dilakukan disana adalah pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan yakni dengan mencarikan solusi guna mengatasi permasalahan utama mereka dan diharapkan selanjutnya mereka juga berpartisipasi  dalam pengamanan kawasan konservasi dan konservasi biodiversity di pulau itu bersama-sama dengan petugas terkait di Resort Enggano.  Kegiatan utama kami saat itu adalah sosialisasi kepada kepala suku, unsur tripika   di Kecamatan Pulau Enggano (Polsek, Camat, Koramil) juga Lanal, kepala desa serta pemuka masyarakat tentang rencana penanaman sorgum untuk berbagai keperluan, yakni biofuel, peternakan lebah madu selain untuk dimanfaatkan madunya juga propolisnya karena bernilai ekonomi tinggi, penggemukan ternak sapi, juga untuk mendorong munculnya home industry pembuatan tepung sorgum karena banyak manfaatnya untuk keperluan sehari-hari.


Sorgum manis
(Sorgum bicolor L.Moench) 
Hasil survey kami berempat dengan dibantu oleh penduduk lokal yang dilakukan beberapa bulan sebelumnya mendapat respon positif dari kepala balai setelah membaca laporan perjalanan kami, membuat kami bertiga (Kepala Balai, Kepala Resort dan saya sendiri) berpikir serius tentang itu, tentang tindak lanjut apa yang tepat sasaran untuk dilakukan disana.  Akhirnya muncul ide untuk membuat kebun sorgum dengan mendatangkan bibit unggul dari Maros, Sulawesi.  Sejak itu hari-hari kami bertiga sibuk untuk mempelajari sorgum dan mencari referensi tentang itu. Bidikan awal kami adalah membantu mengatasi kelangkaan BBM disana, karena batang sorgum bisa dimanfaatkan untuk biofuel.  Permasalahan utama  disana adalah BBM sangat langka dan harganya mahal tidak sama dengan di wilayah Bengkulu lainnya.  Pasokan BBM terutama premium ke Pulau Enggano sebesar 10 ribu liter per bulan dan masyarakat hanya mendapat jatah 10 liter per KK per bulan.  Meskipun kebutuhan nelayan saja selama melaut (mencari ikan) selama 10 hari memerlukan 100 liter sehingga membuat nelayan hanya bisa melaut sekali sebulan. 70% dari masyarakat Enggano mengandalkan profesi nelayan untuk membiayai kehidupan mereka sehingga mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap BBM. Belum lagi kebutuhan untuk anak sekolah yang rumahnya jauh dan harus menggunakan motor untuk pergi sekolah.  Dan masyarakat tidak bisa membeli sendiri ke kota Bengkulu untuk mencukupi kebutuhan akan premium, karena distribusi BBM ke Pulau Enggano dimonopoli oleh koperasi membuat harga premium bersubsidi yang seharusnya Rp. 4.500,- menjadi Rp. 10.000,- per liter.  Sepertinya subsidi BBM itu tidak berlaku bagi  masyarakat kecil dan masyarakat di daerah terpencil yang hidupnya pun telah susah.  Dan kegiatan bisa berjalan seperti harapan bila didukung oleh banyak pihak terutama masyarakat setempat.


Survey untuk Pembuatan Biogas
Selain itu biji sorgum bisa dikonsumsi langsung ataupun dipakai untuk pembuatan tepung sebagai bahan baku roti dan makanan lainnya.  Bunganya bisa dimanfaatkan untuk ternak lebah dan bisa diambil madu dan propolisnya punya nilai ekonomis sangat tinggi, selain itu sampah batangnya bisa dipakai untuk proses penyulingan bioetanol, dan daunnya untuk penggemukan ternak sapi. Tidak hanya sampai disitu saja, dengan penambahan jumlah ternak sapi di Pulau Enggano diharapkan akan menjadi alternatif sumber protein hewani lainnya sehingga masyarakat mengurangi kebiasaan turun-temurun berburu dan mengkonsumsi daging penyu untuk pesta pernikahan.  Kotoran ternak pun bisa dimanfaatkan untuk biogas dan limbahnya sebagai pupuk cair yang kualitasnya lebih bagus dari pupuk urea, dan kami juga akan membuat contoh biogas disana agar masyarakat lainnya mengikuti.  Mengingat di Pulau Enggano tidak ada fasilitas PLN (Perusahaan Listrik Negara), yang ada sekarang adalah bantuan solar cell itupun yang berkapasitas kecil.  Dan untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik bisa memanfaatkan kotoran sapi untuk biogas, selain itu juga bisa digunakan sebagai pengganti gas untuk memasak.  Selama ini penduduk yang memasak pakai tabung gas harus didatangkan dari Bengkulu dan itupun ada larangan dibawa bersamaan kapal penumpang, karena mungkin itu salah satu SOP untuk keselamatan pelayaran.


Our Team
Perjalanan ke Pulau Enggano
Semula kami dianggap orang gila oleh lingkungan kerja kami sendiri karena mempunyai ide muluk-muluk untuk pemberdayaan masyarakat di Pulau Enggano, tapi tak mengapa terkadang niat tulus untuk bisa membantu orang lain memang berawal dari niat dan pola pikir orang-orang yang kurang waras (gila).  Banyaknya rintangan  untuk mewujudkan impian itu sempat membuat kami patah semangat, bagaimanapun kami adalah anak-anak muda yang terkadang emosional menghadapi banyaknya cobaan dalam bekerja.  Kami tidak punya orientasi uang disana atau mengharapkan mendapatkan dana besar dari sebuah project pemerintah, tetapi yang ada hanya niat ingin membantu setulus hati saja entah bagaimana caranya nanti.  Dengan adanya dukungan dari kepala balai membuat kami bertahan dan bersemangat kembali, membuat kami menutup telinga dan menutup mata terhadap komentar orang-orang disekitar.  Terlebih setelah mendengar bahwa  rencana itu mendapat sambutan baik dari pimpinan tertinggi di Jakarta. Kemudian untuk memulai pekerjaan ini dicarilah relawan yang mau ikut bergabung untuk membantu yang diharapkan mau bekerja secara sukarela.    


Sosialisasi di Kec. Pulau Enggano
Tujuan utama perjalanan kami saat itu adalah untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang diwakili oleh unsur tripika yakni dari Polsek, Koramil dan Camat Pulau Enggano, juga dihadiri oleh kepala suku dan kepala desa serta Paabuki (koordinator Kepala Suku) tentang rencana pembuatan bioetanol dan biogas guna membantu mencarikan solusi bagi permasalahan disana dan diharapkan masyarakat juga akan tetap mendukung kegiatan yang berhubungan dengan konservasi di pulau itu.  Sosialisasi disampaikan oleh Polisi Kehutanan (kepala resort) yang bertugas di Resort KSDA Enggano dan Kepala Balai KSDA Bengkulu.  Inilah satu-satunya kepala balai yang pernah menginjakkan kaki ke Pulau Enggano.  Perjalanan yang sulit dan memakan waktu lama membuat orang juga pejabat enggan mengunjungi Pulau Enggano.  Selama ini Pulau Enggano dianggap sebagai tempat buangan orang-orang yang punya kinerja buruk dan pernah melakukan kesalahan besar, sehingga berkesan sebagai penjara bagi petugas ataupun pegawai pemerintah sehingga layak diasingkan ke pulau terpencil yang minim fasilitas.  Dan teman kami seorang polisi kehutanan ingin merubah anggapan itu dan menjadikan Enggano sebagai tempat kerja bagi orang-orang yang kreatif dan inovatif serta menyukai tantangan.  Selain itu juga dilakukan survey tentang pembuatan biogas, sebelumnya dilakukan survey ternak masyarakat dan mencari lokasi yang tepat untuk percontohan pembuatan biogas.  Kami juga melakukan survey lokasi yang tepat untuk pembuatan pabrik bioetanol.  Setelah semua kegiatan selesai kami menelusuri satu-satunya jalan poros antar desa yang ada di Pulau Enggano, yang akhirnya mengantarkan kami ke sisi ujung lainnya di Pulau Enggano yakni pantai di Desa Banjarsari.  Di kesempatan itu akhirnya kami bisa melihat semua desa-desa yang ada di Pulau Enggano serta mengunjungi Pelabuhan Malakoni untuk melihat sisa bangunan peninggalan penjajah Jepang.


Bird Watching
si Marni (Macaca nemestrina)
Akhirnya kegiatan utama sudah selesai, waktunya having fun (bersenang-senang)....... hooray !!!  Sambil menunggu kapal datang untuk bisa kembali ke Bengkulu, kami telah sepakat sore itu akan menyeberang ke Pulau Dua untuk camping, memancing, berenang di pantai dan survey lokasi snorkeling. Hanya satu orang yang akan tinggal menunggu kantor resort.  Selain membawa peralatan camping dan memancing, kami juga membawa peralatan snorkeling dan gitar.  Saat itu masih terasa adanya angin kencang karena badai angin barat. Sampai Pulau Dua kami berempat sudah tak sabar untuk turun ke pantai, uji coba snorkeling dan yang lainnya sibuk memancing dan berenang.  Sore itu saya menjalani ritual sebelum melakukan snorkeling yakni tiba-tiba seorang teman bercanda dengan memasukkan kepala saya ke dalam laut dan mengeluarkannya lagi berulang kali sampai banyak minum air laut.  Menurutku ini bukan bercanda tetapi benar-benar penyiksaan :)  Ternyata itu salah satu untuk menguji nyali apakah saya benar-benar ingin turun ke laut. Tak banyak yang bisa dilihat disana, hamparan pasir terlihat lebih mendominasi dasar laut dengan sedikit karang dan tak banyak menjumpai jenis ikan karang, hanya ikan kerapu yang sering terlihat itupun harus berenang menjauhi pantai. Sore itu saya berjalan sendirian menelusuri hutan di Pulau Dua sambil membawa kamera dan monokuler, berharap ada hewan menarik yang bisa diamati di hutan tersebut. Saya hanya menemukan burung cekakak dan kelelawar yang banyak bergelantungan di pohon dengan kepala dibawah.  Setelah puas mengambil dokumentasi akhirnya saya kembali ke camp.  Kebetulan saat kami meminjam pondok nelayan milik Paabuki, lokasinya sangat strategis karena berbatasan langsung dengan pantai dan menghadap matahari yang tenggelam.  Pondok itu rencanya untuk tempat istirahat kepala balai dan kepala seksi.  Karena kami lebih memilih tidur beralas pasir pantai dan beratap langit.  Di Pulau Dua ini juga terdapat sumur air tawar milik nelayan dan sumur peninggalan jaman dulu, sehingga kami pun tidak perlu khawatir untuk mencari tempat mandi dan mencari air bersih untuk memasak.  Selain kami ada beberapa nelayan dan keluarganya juga sedang menginap di Pulau Dua. Sepertinya mereka juga sedang memanen kelapa karena terlihat ada seekor Macaca nemestrina (beruk) disana yang biasa dipakai untuk memanen kelapa.  Kami akhirnya memanggil beruk itu si Marni (entah monyet itu punya nama atau tidak).  Hmm...kasian si Marni.


Camping at Dua Island
Sleeping on the beach
Malam itu cuaca sangat cerah, sayang untuk dilewatkan.  Kami membuat api unggun di tepi pantai, membakar ikan hasil mencari di laut, memetik gitar dan bernyanyi bersama diiringi ketipung dari galon air juga ecek-ecek yang terbuat dari botol, seperti hilang sejenak semua beban, menyenangkan sekali malam itu.  Bahkan nelayan pun ikut bergabung bersama kami.  Di pinggir pantai tampak kepala balai dan kepala seksi berdiskusi serius, mungkin karena hari itu adalah hari yang kami gunakan untuk menyampaikan segala uneg-uneg tentang permasalahan kerja yang perlu menjadi perhatian serius.  Baru hari itu saya melihat semua orang berbicara menggunakan hati dan perasaan, semua kata yang terucap penuh emosi, kesedihan, kekecewaan bercampur dengan kebahagiaan karena telah tersampaikan.  Paling tidak semua beban telah dikeluarkan, dan kini saatnya bersenang-senang.  Malam itu tampak sempurna karena cahaya bulan purnama dan tampak banyak bintang-bintang di langit yang cerah, indah sekali, rasanya malam itu tak ingin cepat berlalu.  Akhirnya saya dan beberapa teman memilih tidur di pantai dengan matras dan sleeping bag dengan mata bisa  melihat langsung bintang-bintang dilangit dan disinari oleh lampu alami yakni bulan purnama dengan diiringi nyanyian pengantar tidur suara ombak di pantai.


Snorkeling  di sekitar Pulau Dua
Fish
Photo : Erni Suyanti Musabine
Esok harinya kami punya agenda masing-masing.  Kepala Balai dan Kepala Seksi serta seorang teman terlihat sedang olahraga mengelilingi Pulau Dua.  Sedangkan saya bersama tiga orang teman laki-laki mencoba ber-snorkeling ke perairan antara Pulau Dua dan Pulau Merbau, meskipun masih terasa angin kencang karena badai, mungkin karena lokasi yang kami pilih berhadapan langsung dengan samudera hindia tanpa penghalang, bahkan pagi itu saat kami menuju ke lokasi tersebut air laut sedang pasang. Lokasi yang kami  pilih ini memang sangat ideal untuk snorkeling, tak perlu susah-susah untuk menemukan ikan nemo (Clown fish) disana, hampir tiap tempat yang kami lihat bisa menemukannya.  Hamparan coral-coral indah dan berbagai jenis ikan karang ada di sepanjang pantai tersebut.  Selain itu pasir pantainya juga putih bersih dan airnya jernih.  Membuat kami lupa waktu dan tak peduli lagi dengan terik matahari yang menyengat di siang hari. Disela-sela waktu snorkeling kami juga bermain pasir pantai sambil istirahat dan makan snack serta bercanda dengan teman-teman. Acara snorkeling hari itu diakhiri dengan berjalan-jalan menelusuri pantai Pulau Dua.  Pulau ini memang sangat ideal untuk berlibur, karena sunyi, masih alami dan indah.



Bermain pasir  pantai Pulau Dua


Mendayung perahu mendekati
kapal nelayan disana untuk mencari ikan
Dapat 3 ekor Ikan Tongkol
Makan siang di Pulau Dua juga sangat nikmat, dengan masakan ikan segar hasil pemberian nelayan.  Siang itu saya bersama tiga orang teman mendayung perahu mendekati perahu besar milik nelayan yang diparkir di tengah laut.  Aksi kami seperti bajak laut saja ya.  Begitu sampai saya langsung menyapa nelayan yang terlihat olehku sedang makan siang dan langsung menaiki dan berpindah ke perahu mereka, sambil memeriksa sekeliling.  Setelah berbicara sebentar akhirnya saya mendapatkan ikan tongkol dalam ukuran besar seperti yang saya harapkan sebelumnya.  Nelayan bilang sama saya untuk mengambil sesukanya, sebanyak yang saya mau, dan memilih sendiri ikannya tapi saya tidak ingin memilih ikan-ikan yang memenuhi lantai perahunya yang besar itu. Menurut pengakuan mereka, ikan-ikan tongkol sebanyak itu di dapat hanya dengan sambil lalu saja, maksudnya sepulang perjalanan mereka mencari ikan di Sawang Bugis (tempat yang pernah saya gunakan untuk camping beberapa bulan sebelumnya) menuju Kahyapu dan mendapatkan hasil sampingan sebanyak itu.  Saya mendengarnya dengan penuh keheranan.  Alangkah melimpahnya ikan di perairan Enggano ini.  Mereka adalah para nelayan dari kota Bengkulu yang sudah terlalu sulit mencari ikan di sekitar kota Bengkulu akhirnya mencari ikan di perairan sekitar Pulau Enggano. Mereka harus meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu bahkan lebih dari sebulan. Waktu itu saya tidak hanya minta ikan saja tetapi juga mendengarkan kisah hidup mereka dalam mencari nafkah bagi keluarganya.  Karena kebiasaan saya yang selalu tertarik untuk mendengarkan pengalaman banyak orang dari berbagai profesi.  Setelah selesai berbincang-bincang dengan semua nelayan di perahu itu, akhirnya kami pun meninggalkannya dengan membawa hanya tiga ekor ikan tongkol dengan panjang sekitar 30-40 cm, saya pikir itu sudah cukup untuk lauk makan siang kami semua.


Pantai Panjang Malakoni
Photo : Erni Suyanti Musabine
Menjelang sore hari kami menyeberang kembali ke Kahyapu dengan diantar perahu nelayan.  Dalam kondisi sedang badai dan banyak orang yang menaiki perahu, tampak perahu bocor, air laut masuk dengan derasnya dari bagian depan, tengah dan belakang.  Membuat kami sibuk mengeluarkan air kembali dari dalam perahu agar perahu tidak tenggelam.  Akhirnya kami mendarat di sela-sela mangrove dekat pos Lanal, karena perahu tidak memungkinkan memasuki muara sungai karena sedang surut. Turun dari perahu disambut lumpur setinggi lutut. Dan kami masih harus berjalan menuju kantor resort dengan membawa banyak barang. Badai angin barat membuat kapal menunda keberangkatan dari Bengkulu menuju Pulau Enggano dan membuat kami tidak bisa kembali ke kota Bengkulu sesuai dengan yang diharapkan.  Setiap hari kami hanya bisa menunggu, menunggu dan menunggu tetapi kapal belum datang juga.  Kami seperti orang yang terdampar di pulau itu dan tidak bisa kembali.  Hari itu kami memutuskan untuk mencari signal agar bisa komunikasi keluar via handphone.  Lokasi terdekat adalah Pantai Panjang Malakoni.  Dengan mobil patroli dan sepeda motor patroli kami bersama-sama menuju pantai tersebut.  Mendadak Pantai Panjang Malakoni seperti wartel, orang-orang berjajar berdiri di pinggir pantai untuk menelepon. Pemandangan yang lucu dan langka di daerah terpencil :)

BKSDA bersama warga
memadamkan kebakaran lahan
Sepulang dari menelepon seorang warga dengan cemas datang ke kantor resort untuk mengabarkan bahwa ada kebakaran lahan.  Akhirnya kami sibuk mempersiapkan peralatan dan telah diisi dengan air sungai depan resort dan dimasukkan ke mobil patroli, para pria dari tim kami kemudian menuju ke lokasi kebakaran untuk membantu masyarakat memadamkan api, hanya tinggal kami bertiga para wanita yang standby di kantor resort.  Mereka membersihkan lahan dengan cara membakar kemudian ditinggalkan begitu saja pergi melaut (mencari ikan) selama beberapa hari tanpa memastikan api telah padam apa belum, akhirnya membuat kebakaran itu terjadi dan semakin meluas.


Release Ular
Banyak kegiatan mendadak yang kami lakukan untuk mengisi waktu luang sambil berharap kapal datang segera.  Malam itu jam 12 dini hari kami mengadakan kompetisi memancing di sungai depan kantor resort, pesertanya sekitar 10 orang, hanya kepala balai saja yang tidak ikut bergabung, beliau lebih memilih untuk jadi pengamat dan hilir mudik memeriksa hasil memancing kami.  Dan kami buat aturan baru, bagi yang tidak dapat tidak akan mendapat jatah sarapan pagi.  Akhirnya kami pun berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil tanpa peduli waktu sudah larut malam dan banyak gigitan nyamuk, ada yang dapat ikan pelus, ular, belut listrik bahkan dapat tas kresek (sampah plastik).  Setelah dikumpulkan ternyata banyak sekali hasilnya, dan ular kami lepasliarkan kembali.


Burung di sekitar Pelabuhan Kahyapu


Seafood menu setiap hari
Kebun sayurku di Enggano 
Saya bersama beberapa teman untuk menghilangkan kebosanan menunggu kapal dengan menyibukkan diri berjalan-jalan sambil memotret, sebagai obyek photo adalah satwa liar yang dijumpai terutama burung. Menelusuri hutan mangrove antara kantor resort sampai ke Pelabuhan Kahyapu.  Dan beberapa orang dari kami juga berkesempatan untuk kembali ke Pulau Dua.  Saya pun ikut serta untuk snorkeling disana.  Badai angin barat sangat kuat sore itu, saat perahu kami keluar dari muara, setiap nelayan yang kami jumpai melarang kami pergi ke Pulau Dua karena sangat berbahaya, perahu kami bisa terbalik atau tenggelam karena terkena badai.  Karena skipper-nya yakni nelayan yang pernah kami ajak untuk keliling Pulau Enggano mengatakan bisa melewati badai itu, kamipun melanjutkan perjalanan meskipun pada awalnya ragu.  Ombak antara Kahyapu dan Pulau Dua biasanya sangat tenang dalam kondisi normal dan hanya butuh waktu 15 menit untuk bisa sampai ke seberang.  Tapi kali ini kami harus mencari rute memutar  menghindari menantang gelombang air laut yang tinggi.  Saya memilih duduk di depan di ujung perahu, karena bila melewati ombak tinggi akan terasa seperti naik kora-kora, dan saya sangat menyukainya, disaat orang lain ada yang cemas, saya malah tertawa gembira seperti anak kecil yang mencoba mainan baru :)  Dan kembalinya dari Pulau Dua kami mendapat makan siang yang lezat yakni kepiting saos padang. Bahkan kami pun berebut seperti anak kecil yang rebutan mainan...hehe :)  Saya penggemar seafood, selama di pulau Enggano setiap hari kami makan seafood yang masih segar dari laut, membuatku semakin betah berlama-lama disana.  Dan sayuran merupakan barang langka di pulau itu.  Untuk itu dikesempatan itu kami berkebun di sekitar kantor resort untuk menanam terong, tomat, sawi, cabe dan lain-lain, tetapi tidak bisa hidup lama karena dimakan kepiting.  Sedangkan tanaman kangkung yang telah saya tanam saat perjalanan sebelumnya kini berkembang dan tumbuh subur, yang akhirnya dijadikan kebun sayur milik bersama, setiap warga boleh mengambilnya :)


Snorkeling di sekitar CA Sungai Bahewo
Cagar Alam Sungai Bahewo
Photo : Erni Suyanti Musabine
Pagi itu disaat kami belum beranjak bangun dari tempat tidur terdengar suara truk, mobil dan sepeda motor melewati jalan.  Suara itu selalu ingin kami dengar setiap pagi, tapi di hari-hari sebelumnya tak pernah ada.  Bila terdengar suara truk, mobil dan sepeda motor melewati jalan di depan rumah Kepala Desa Kahyapu, itu pertanda ada kapal berlabuh.  Mereka menuju pelabuhan untuk mengangkut barang dan menjemput penumpang kapal.  Di hari-hari lainnya akan selalu tampak sepi.  Kami langsung tersenyum bahagia dan berpikir bahwa kami akhirnya bisa pulang kembali ke Bengkulu hari itu. Suasana pelabuhan tampak sibuk hari itu, bahkan suara jangkar dan besi-besi kapal yang berbenturan bisa terdengar dari kantor resort.  Pagi itu setelah sarapan saya dan tiga orang teman laki-laki ikut nelayan yang akan mencari ikan di sekitar Cagar Alam Sungai Bahewo yang tak jauh dari Pelabuhan Kahyapu.  Tak lupa kami membawa peralatan snorkeling.  Sebelum berangkat, saya sempat ijin terlebih dahulu kepada kepala balai dengan mengatakan akan melakukan patroli underwater....hehe :)  Saat perahu keluar dari muara masih terasa angin kencang karena badai. dan gelombang laut tampak tinggi.  Kami berencana menghabiskan waktu hari itu dengan snorkeling di perairan Cagar Alam Sungai Bahewo sebelum sore harinya kembali ke Kota Bengkulu.  Dan dua orang nelayan yang bersama kami akan mencari ikan dengan cara menyelam.  Setelah sampai di lokasi yang diinginkan, perahu ditambat dengan jangkar, satu persatu dari kami turun ke laut.  Arus yang kuat dan gelombang tinggi menyebabkan kami kesulitan untuk berenang dan snorkeling.  Seorang teman sudah kehabisan tenaga dan hampir tenggelam, akhirnya diselamatkan oleh nelayan dibawa untuk bisa berdiri diatas karang.  Saya pun juga hanyut terbawa arus meskipun sudah memakai kaki katak untuk berenang, akhirnya salah satu kaki saya diikat dengan perahu menggunakan tali panjang agar tidak jauh terbawa oleh arus laut yang kuat hari itu.  Snorkeling hari itu terasa tidak memuaskan karena kondisi cuaca yang tidak mendukung, ditambah lagi di sekitar kami juga terlihat ular laut Laticauda colubrina berenang tak jauh dari kami, bahkan seorang teman tanpa sengaja telah menginjak dua ekor ular laut di batu karang di dalam air.  Untunglah ular tersebut tidak menyerang, karena ular laut sangat berbisa dan bisa berakibat fatal bila tergigit dan terkena bisa/racunnya.  Tidak hanya ikan yang didapat dari hasil menyelam, tetapi juga siput dan kerang.  Siang itu kami berpesta di atas perahu yakni makan seafood dengan cara makan orang Enggano, dimakan mentah-mentah.  Saya pun ikut mencoba, rasanya tak begitu buruk dan tidak sampai membuatku muntah.


on the ship 'Pulo Telo' - Indian Ocean
Perjalanan kami pulang kembali ke Bengkulu sore itu sangatlah istimewa, bukan karena badai angin barat yang membuat kapal bergoyang-goyang ke kiri dan kekanan dengan cukup kuat dan kami pun tidak bisa berjalan tegak dibuatnya.  Berjalan diatas kapal seperti itu seperti jalannya orang yang sedang mabuk yang hilang keseimbangan.  Saya merasa  gembira telah melihat ada seekor lumba-lumba yang mengiringi kepergian kami, membuatku berteriak histeris dan mengundang penumpang lainnya untuk ikut melihat juga :)  Diatas kapal kami bertemu dengan Pak Camat Enggano, bila bertemu beliau kami suka bernyanyi bersama. Seolah tak peduli dengan badai, kami berdua pun duduk sambil bernyanyi-nyanyi kebetulan kami punya lagu kesukaan yang sama yakni Sio Mamae.  Lagu daerah asal Maluku itu sering kami nyanyikan bersama. Perjalananku ke Pulau Enggano saat itu sangat berkesan, hidup di pulau terpencil sangat bergantung pada kondisi cuaca.  Manusia hanya bisa berencana, tetapi tetap Tuhanlah yang menentukan.

Kamis, 13 Juni 2013

Snorkeling di Pulau Enggano



Snorkeling di Pulau Dua



Hasil survey potensi ecotourism P. Enggano
Sumber : enggano.blogspot.com
Pulau Enggano merupakan salah satu aset bagi Provinsi Bengkulu untuk ekowisata olahraga air, yakni snorkeling, diving, surfing dan fishing karena terletak di sepanjang pantai barat sumatera dan memiliki gugusan pulau di Samudera Hindia.  Potensi alam yang dimiliki sangat mendukung untuk pengembangan wisata alam yang berhubungan dengan hal itu. Selama bulan Pebruari sampai dengan Maret 2011 kami telah melakukan survey dan memetakan lokasi-lokasi yang menarik untuk wisata alam tersebut di sekeliling Pulau Enggano. 




Pantai antara Pulau Dua dan Pulau Merbau
Pada Tanggal 11 November 2011 kami mengadakan perjalanan kembali ke Pulau Enggano.  Disela-sela waktu melakukan pekerjaan disana, saya bersama kawan-kawan hampir setiap hari berwisata snorkeling yang tak jauh dari Pelabuhan Kahyapu.  Di hari pertama kami melakukan snorkeling di lepas pantai antara Pulau Dua dan Kahyapu di Pulau Enggano.  Keanekaragaman coral dan ikannya tidak banyak variasinya . Di lokasi ini tidak setiap tempat di bawah permukaan air bercoral dan juga ada gangguan dengan lalu lalang perahu karena disana merupakan daerah lintasan perahu nelayan yang mencari ikan di sekitar Pulau Dua.





Keesokan harinya kami melakukan snorkeling di antara Pulau Dua dan Pulau Merbau.  Dari kejauhan tampak air laut berwarna biru dan hijau kehitaman, pertanda disana banyak coral dan tentunya pasti juga akan ditemukan banyak ikan warna-warni dari berbagai jenis. Wah..Lokasi yang ideal untuk snorkeling pikirku. Bersama 3 (tiga) orang teman saya tak sabar untuk menuju kesana meskipun saat itu sedang badai angin tenggara, sehingga angin bertiup sangat kencang di perairan tersebut karena lokasinya langsung berhadapan dengan laut lepas (Samudera Hindia), namun cuaca sangat cerah hari itu. Dan benar, lokasi tersebut memang sangat ideal untuk snorkeling, dengan mudah kami bisa menemukan ikan badut (Clown fish) di antara coral-coral.  Ikan Badut (tapi kami lebih suka menyebutnya Ikan Nemo seperti di film dokumenter anak-anak yang seringkali saya tonton) merupakan ikan idola yang kami cari untuk ditemukan.  Bila salah satu dari kami menyelam dan menemukan itu, kami semua antusias untuk ikut melihatnya, melihat perilakunya dan melihat biota laut tempat dia bersembunyi berbentuk seperti rumput dengan batang bergoyang-goyang terkenan ombak warnanya pun beraneka ragam, ada yang berwarna krem, biru, hijau juga ungu.  Ikan tersebut akan muncul disela-sela tanaman itu. Dan bila kami memperhatikannya, ikan-ikan itupun akan diam  memperhatikan kami juga, sungguh pemandangan yang luar biasa, berbeda dengan ikan lainnya yang hanya berenang kesana kemari melintas saja di depan kami.  Selain itu telinga kami juga akan mendengar suara gemericik coral-coral yang kami anggap sebagai life music under water. Bahkan di lokasi ini untuk melihat ikan badut (clown fish) tidak perlu jauh-jauh berenang menjauhi pantai, cukup berdiri di pasir pinggir pantai di Pulau Dua dan melihat ke bawah permukaan air laut masih bisa dilihat ikan badut, tidak perlu berenang, sambil duduk ataupun tengkurap di pasir pun bisa melihatnya.

Pemandangan under water ternyata sangat menakjubkan, untuk pertama kalinya saya melihatnya di pulau ini. Biota laut seperti kehidupan yang kita jumpai di daratan, ada tanaman dan ada hewan di dalamnya bahkan ada bentukan tanah kosong berpasir tanpa ada tanaman dan tanpa coral, yakni berupa cekungan yang luas dan dikelilingi oleh batu karang warna-warni, didalam cekungan tersebut banyak ditemui ikan ukuran besar, saya menyebut itu sebuah kolam atau danau di bawah laut.  Kami berenang mengelilingi danau tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Dari kejauhan lokasi itu tampak hijau bening dan dikelilingi warna biru gelap sehingga menarik perhatian kami untuk berenang mendekatinya karena lokasinya jauh dari pantai.  Hari itu kami habiskan waktu untuk bersnorkeling, puas rasanya bermain di laut untuk menikmati pemandangan under water hingga lewat tengah hari tanpa peduli terik matahari yang menyengat dan angin kencang.


video
Perjalanan ke Cagar Alam Sungai Bahewo
Video : Erni Suyanti Musabine


Pelajaran survival di laut
makan siput laut mentah
 
Ular laut Laticauda colubrina
berenang di lokasi snorkeling
Photo : Erni Suyanti Musabine
Hari berikutnya tanggal 18 November 2011, pagi itu saya bersama dengan 3 (tiga) orang teman laki-laki dan dua orang nelayan masih sempat membawa perahu ke perariran dekat Cagar Alam Sungai Bahewo.  Nelayan tersebut ingin mencari ikan dengan cara menyelam dan memanahnya, sedangkan kami berencana menghabiskan waktu untuk snorkeling di hari terakhir sebelum pulang kembali ke kota Bengkulu sore harinya. Kapal yang akan kami naiki pun sudah parkir di pelabuhan Kahyapu.   Badai angin tenggara sangat terasa, menyebabkan ombak tinggi dan arus sangat kuat di lokasi kami snorkeling.  Sampai lokasi mesin perahu dimatikan, satu persatu dari kami mulai turun ke laut.  Menyadari bahwa saya bukan orang yang pandai berenang, dengan melihat kondisi cuaca yang kurang bersahabat maka untuk snorkeling kali ini saya memerlukan bantuan sepatu katak untuk memperlancar berenang di arus yang kuat.  Seorang kawan saya yang pandai berenang pun nyaris tenggelam saat snorkeling dan akhirnya  minta pertolongan nelayan untuk membawanya ketempat yang aman.  Berenang tanpa sepatu katak akan membuat kami kehabisan tenaga melawan arus tersebut.  Mungkin ini juga ide gila dari kami melakukan snorkeling dan berenang pada saat masih ada badai di laut.  Dengan menggunakan kaki katak pun tidak banyak menolong, tenaga banyak terkuras melawan gelombang tinggi dan arus yang kuat, akhirnya saya naik perahu kembali agar tidak jauh terbawa arus ke arah hutan mangrove di CA Sungai Bahewo. Seorang teman mempunyai ide untuk mengikat salah satu kaki saya dengan tali panjang ke perahu, untuk mencegah hanyut terlalu jauh karena arus dan angin kencang.  Akhirnya saya pun kembali turun ke laut untuk snorkeling tanpa harus cemas terbawa arus laut.  Tak disangka, ternyata tidak hanya arus kuat dan angin kencang saja yang membuat kami merasa tidak nyaman snorkeling hari itu, tetapi tak jauh dari kami juga terlihat ular laut Laticauda colubrina yang berenang bersama kami.  Bahkan seorang teman tanpa sengaja telah menginjak dua ekor ular laut di bawah permukaan air di atas batu karang.  Setelah itu saya tidak berminat lagi snorkeling di perairan sekitar Cagar Alam Sungai Bahewo.  Tempat favorit saya untuk snorkeling saat ini tetap di lepas pantai antara Pulau Dua dan Pulau Merbau.  Snorkeling di saat sedang badai banyak menguras tenaga dan membuat kami merasa lapar.  Akhirnya kami pun makan siang diatas perahu dengan cara orang Enggano yakni makan ikan, kerang dan siput mentah-mentah yang langsung didapat dari hasil menyelam di laut. Hmm.....yummy :)  


Teluk Podipo - Enggano
Photo : Erni Suyanti Musabine
Pada tanggal 17 Juni 2012, saya bersama 7 orang teman laki-laki melakukan perjalanan mengelilingi Pulau Enggano dengan perahu kecil.  Di hari pertama, kami singgah di Teluk Podipo.  Saat itu sedang ada badai di laut, yang membuat perjalanan kami agak terhambat karena harus mencari rute yang aman untuk dilewati.  Ternyata benar apa yang dikatakan orang bahwa Teluk Podipo sangatlah indah, pohon bakau tertata rapi, pasir pantai yang putih bersih serta air laut yang bening berwana biru kehijauan.  Kawan saya bilang bahwa di Teluk Podipo kami mempunyai kolam renang alami yang airnya sangat jernih.  Dan memang saat perahu kami berlabuh disana saya melihat ada pantai yang arusnya tenang dan jernih dan sangat ideal sebagai tempat bermain dan berenang.  Tak jauh dari sana air laut tampak biru kehitaman, pasti dibawahnya terdapat pemandangan under water yang indah, warna hitam menunjukkan adanya coral dibawah sana.  Tak sabar saya segera ganti baju untuk snorkeling dan mengambil peralatan snorkeling dan bersama kawan-kawan menuju lokasi tersebut untuk snorkeling.  Tidak menemukan Clown Fish di lokasi itu, hanya banyak bertemu ikan kerapu dan ikan karang jenis lainnya.  Setelah puas bermain-main dan snorkeling disana serta mengambil dokumentasi tentang pemandangan bawah laut, kami melanjutkan perjalanan kembali mengelilingi Pulau Enggano dengan perahu.

Pengamatan Ular Laut Laticauda Colubrina


Sea Snake - Laticauda colubrina
Photo : Erni Suyanti Musabine
" The venom is composed of powerful neurotoxins (affect nervous system) and sometimes myotoxins (affect skeletal muscles), with a fatal dose being about 1.5 milligrams.  Most sea snakes can produce 10-15 mg of venom "

video
Sea Snakes Watching in The Island of Enggano
Video by Erni Suyanti Musabine 

Marilah kita mengenal lebih dekat tentang ular laut jenis Laticauda colubrina

Taxonomi

Kingdom
:
Animalia
Phylum
:
Chordata
Class
:
Reptilia
Order
:
Squamata
Suborder
:
Serpentes
Family
:
Elapidae
Subfamily
:
Hydrophiidae
Genus
:
Laticauda
Species
:
Laticauda colubrina

Habitat dan Behavior
Ular laut Laticauda colubrina banyak ditemukan
di batu karang dan di bawah pohon mangrove
Photo : Erni Suyanti Musabine
Ular laut jenis Laticauda colubrina ini masuk kategori hewan yang berbahaya karena bila terkena racunnya (bisa ular) 1,5 mg saja dapat berakibat fatal, dan hanya membutuhkan waktu 1-2 menit untuk bisa membunuh mangsanya.  Sedangkan ular laut pada umumnya bisa memproduksi bisa (racun) sebanyak 10-15 mg.  Habitat ular ini di kedalaman sekitar 5-10 meter di bawah permukaan laut, dan muncul ke permukaan setiap 5 menit sekali untuk bernafas.  Habitatnya tersebar di lautan tropis terutama di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.  Bersifat amphibi  sehingga selain hidup di dalam air laut juga mampu bergerak di daratan selama sisik pada bagian ventral tubuhnya masih ada.  Memiliki taring yang berada di depan (proteroglypha).  Warnanya belang putih hitam dan bila terkena sinar matahari memancarkan warna biru dan ungu. Ekornya berbetuk pipih seperti ekor ikan lele serta kepala kecil berbentuk bulat.

Untuk pertama kalinya saya melihat ular laut saat travelling dan camping ke Pulau Tikus, Bengkulu pada  tahun 2004, kemudian untuk kedua kalinya melihat ular laut di Pulau Enggano pada bulan Desember 2004.  Dan kemudian melihatnya lagi di tahun-tahun berikutnya setiap melakukan perjalanan ke Pulau Enggano.  

Lokasi Ular Laut di Pulau Enggano
Pulau Merbau
salah satu lokasi di P. Enggano yg banyak ditemukan ular laut
Photo : Erni Suyanti Musabine
Lokasi yang seringkali ditemukan adanya ular laut di Pulau Enggano adalah di Pelabuhan Kahyapu, akan terlihat ular laut disela-sela bangunan dermaga dan kadang terlihat sedang berenang di laut sekitar dermaga.  Pemandangan yang belum berubah dari tahun ke tahun, sepertinya ular laut itu merasa nyaman berada di sekitar pelabuhan.  Selain itu juga dapat dijumpai di pantai sekitar Cagar Alam Sungai Bahewo dan di hutan mangrove sekitar Cagar Alam Kioyo I dan Kioyo II.  Dan paling banyak ditemukan di Pulau Merbau dan Pulau Karang sekitar Tanjung Labuho.  

Pengamatan Ular Laut
Ular Laut di Pulau Karang
sekitar Tanjung Labuho
Photo : Erni Suyanti Musabine
 
Ular Laut Laticauda colubrina
di Pulau Karang - Enggano
Pada tanggal 18 Juni 2012 saya bersama 8 (delapan) orang lainnya melakukan perjalanan laut mengelilingi Pulau Enggano.  Dalam kesempatan itu di hari kedua perjalanan kami menyempatakan diri untuk mengunjungi dua buah pulau kecil yang berupa batu karang dan terdapat beberapa tanaman mangrove  yang tumbuh diatasnya sebagai tempat berkumpulnya ular laut jenis Laticauda colubrina. Kami akan melakukan pengamatan ular laut serta mengambil photo dan videonya. Pagi itu kami menambatkan perahu di pulau karang pertama, tak banyak ular laut yang dijumpai, mereka terlihat melingkar diatas batu karang dan tidak berkelompok tapi sendiri-sendiri.  Warna kulitnya hampir menyerupai karang dan sedang tidak bergerak  sehingga saat berjalan kami perlu berhati-hati dan benar-benar harus memperhatikan sekitar, karena bila menginjak ular laut itu di daratan lebih berbahaya daripada di dalam air.  Terkadang disela-sela karang yang kami pijak terdapat ular laut tersebut. Dan ular tersebut tidak agresif. Setelah puas mengambil photo di pulau karang pertama kami melanjutkan perjalanan dengan perahu menuju pulau karang berikutnya.  Tampak lebih banyak tanaman mangrove yang tumbuh di pulau itu.  Di bawah pohon mangrove yang berdekatan dengan tambatan perahu kami ditemukan banyak sekali ular laut.  Dan kami juga menemukannya kelompok ular laut di bawah pohon mangrove lainnya.  Dan ada juga yang berada di atas batu karang.  Berbeda dengan yang ada di Pulau Karang pertama, di pulau itu ular laut bergerombol dalam jumlah banyak.  Sepertinya mereka sedang kawin (mating) . Dan ada yang merayap menuju ke pantai di sekitar kami berdiri.  Cukup lama kami berada di pulau itu untuk mengambil banyak dokumentasi tentang ular laut.  Sungguh menarik mengamati perilakunya.  Setelah selesai melakukan pengamatan, kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali untuk mengelilingi Pulau Enggano dengan perahu.