Senin, 06 Mei 2013

malnutrisi pada gajah sumatera (spending my time on this weekend to treat elephant)

" Malnutrition on sumatran elephant, It may result from : inadequate or unbalanced diet; problems with digestion or absorption; and certain medical conditions. Malnutrition can occur if the elephants do not eat enough food. Starvation is a form of malnutrition. "  

Gajah jinak di PKG Seblat. Photo : Erni Suyanti Musabine
Permasalahan perawatan gajah jinak yang tersulit untuk diatasi adalah bila terjadi gangguan kesehatan akibat manajemen pemeliharaan yang kurang maksimal sehingga gajah mendapatkan pasokan nutrisi yang kurang dalam jangka waktu lama sehingga pada akhirnya menyebabkan malnutrisi.  Hal ini biasanya sangat erat hubungannya dengan cara perawatan sehari-hari dan perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan yang berhubungan dengan perilaku alaminya.  Keduanya sangat berhubungan erat, salah satu tak terpenuhi akan berpengaruh terhadap kondisi lainnya.

Sepertinya dua tahun terakhir ini dan tahun berikutnya saya akan lebih sering menangani gangguan kesehatan gajah akibat kurangnya intake nutrisi dibandingkan karena agen penyakit.  Kedua penyebab tersebut sama-sama berakibat terhadap gangguan kesehatan pada gajah jinak.  Dan keduanya mempunyai cara penanganan yang sangat berbeda.  Penanganan gajah karena penyakit akan terlihat lebih mudah bila telah diketahui agen penyebabnya dan kemudian bisa diberikan pilihan obat yang tepat.  Pengobatannya pun tak perlu membutuhkan pendekatan khusus terhadap perawatnya (mahout).  Berbeda halnya dengan gangguan kesehatan gajah jinak karena malnutrisi, hal ini sangat erat hubungannya dengan cara pengelolaan, dan untuk memperbaikinya tidak hanya dibutuhkan tambahan pakan yang bergizi selama therapy tetapi juga dibutuhkan kesadaran dari perawatnya untuk merubah pola penggembalaan sehingga gajah jinak mendapat intake nutrisi yang berkecukupan.  Dan merubah pola pikir dan pola kerja seseorang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu pendekatan agar mereka mau mengikuti saran yang kita berikan.  Disamping itu juga pemenuhan kebutuhan alaminya musti diperhatikan.

Gajah Bona bersama Desi,
10 April 2011
Photo : Erni Suyanti Musabine
Dua tahun yang lalu tepatnya mulai bulan Agustus 2011, seekor
Gajah Bona mendapat pakan extra,
22 Juli 2011

bayi gajah liar yang yatim piatu hasil rescue dari perkebunan sawit PT. Alno Agro Utama mengalami malnutrisi dalam jangka waktu lama, kurang lebih sekitar 7 bulan.  Sebelum itu terjadi, nafsu makannya cukup bagus, baik berupa susu rendah lactosa maupun solid food yakni bubur yang terbuat dari beras, kacang hijau, gula merah, wijen, garam dan santan kelapa dan terkadang juga dicampur dengan pisang masak dan tajin (air rebusan beras) sesuai dengan saran dari seorang teman dokter hewan di Sumatera yang punya pengalaman dalam menangani bayi gajah Sumatera.  Sehari anak gajah tersebut mampu menghabiskan 2 periuk besar bubur, setiap pagi dan sore hari. Belum termasuk makanan padat lainnya yang diberikan seperti buah-buahan, tebu, rumput gajah, daun nangka, daun bambu, pakan alami dan lainnya.  Disaat awal kedatangnya di Pusat Konservasi Gajah Seblat pada bulan April 2011, anak gajah tersebut diberi induk angkat, sebelumnya disosialisasikan terlebih dahulu dengan beberapa gajah induk betina untuk memilih mana yang disukai.  Namun pada bulan Juli 2011, anak gajah itu dipisahkan paksa dengan induk angkatnya tanpa alasan yang jelas yang pada akhirnya membuat gajah tersebut tidak ada tempat untuk berlindung dan belajar.  Sebulan berikutnya, anak gajah itu tidak mau lagi menerima makanan tambahan yang diberikan, baik berupa susu dan bubur, nafsu makannya menurun yang berlangsung pada waktu lama . Meskipun segala upaya dilakukan waktu itu selama berbulan-bulan untuk memberi makanan tambahan berupa segala macam buah-buahan, bubur, susu, rumput gajah, pakan alami dan lain-lain sesuai dengan beberapa saran dan hasil diskusi dengan kawan-kawan dokter hewan gajah dari beberapa negara seperti Sri Lanka, India dan negara lainnya yang sudah terbiasa merawat bayi gajah liar yang yatim piatu di negaranya yang saya ajak untuk berdiskusi tentang perawatan bayi gajah disela-sela waktu menghadiri Konferensi Ilmiah Dokter Hewan Gajah Asia, namun semua saran tersebut tidak bisa diaplikasikan dengan mudah karena memang anak gajah tidak punya nafsu makan, dalam kesendirian  tanpa kelompok dan lebih memilih makan rumput di sekitar camp PKG Seblat, itupun dalam jumlah tak banyak variasinya. 

Gajah Bona bersama Aswita, TWA Seblat, 2 Maret 2012
Photo : Erni Suyanti Musabine

Tujuh bulan berikutnya, kondisinya sangat kritis.  Saya berpikir, bahwa satwa liar sebenarnya mirip dengan manusia, mereka punya perasaan sedih, bahagia, tenang, nyaman dan lain-lain.  Dan menurut saya memberikan makanan apapun yang disukai oleh gajah dan semahal apapun harganya dan sebaik apapun kandungan nutrisinya akan sia-sia bila kita tidak memenuhi kebutuhan alaminya terlebih dahulu yakni dengan membuat dia merasa bahagia, nyaman, merasa terlindungi dan berbagai perasaan lainnya yang diinginkan oleh seekor anak gajah disaat usianya belum disapih. Dan manusia tidak bisa melakukannya, tidak bisa memposisikan diri layaknya sebagai induk gajah, hanya sesama gajahlah yang bisa melakukan itu. Untuk kasus ini, pengobatan pertama yang harus dilakukan adalah memberi anak gajah itu induk baru sebagai ibu angkatnya.  Sehingga langkah awal yang musti dilakukan adalah melakukan pendekataan kepada mahout untuk mencari mahout ideal yang bersedia  merawat bayi gajah dan sekaligus merawat induk gajah yang disukai untuk diikuti oleh bayi gajah secara bersamaan. Setelah itu baru dilakukan pengobatan kedua, yakni therapy nutrisi.  Bagaimanapun dalam kondisi bahagia, nafsu makan akan normal kembali dan apapun yang kita berikan padanya pasti akan termakan dan terminum.  Semua diluar dugaan, setelah memiliki ibu angkat baru, nafsu makannya berangsur-angsur normal kembali karena ada rasa bahagia dan rasa nyaman selalu dekat induk seperti halnya perilaku alaminya, seumur hidup gajah betina akan selalu bersama kelompoknya dengan gajah-gajah betina lainnya, dan bahkan akhirnya telah banyak belajar dengan cepat dari induk barunya bagaimana mencari makan dan belajar tentang makanan gajah alami di hutan. Selama hampir tujuh bulan dalam kesendirian dan tinggal di lingkungan manusia tidak banyak yang bisa dipelajari olehnya, tidak bisa memilih makanan apa saja yang bisa dimakan dan cenderung makanan alami yang dipilih kurang bervariasi.  Juga terlihat kurang nyaman dan sering ketakutan terutama saat hujan deras dan mendengar suara air yang membuatnya sering berlari menjauh karena takut dan bahkan beberapa kali menjebol pintu ruangan untuk berlindung di dalam rumah.  Kehadiran induk gajah baru yang melindunginya sepanjang hari membuatnya berubah dan dapat memperbaiki psikologinya, lambat laun menjauhi aktivitas manusia dan lebih banyak tinggal bersama gajah lainnya meski hujan deras sekalipun, dia tetap merasa nyaman bersama gajah daripada berlindung di tempat manusia.

Mengajari Gajah Bona
Mencari Pakan Alami
Photo : Erni Suyanti Musabine
Satu pelajaran terpenting yang saya dapatkan saat itu dalam menangani satwa liar, yakni : "sepintar-pintarnya manusia, dan sebesar-besarnya rasa sayang dan kepedulian manusia terhadap gajah namun tidak ada yang bisa memperlakukan gajah itu sebaik yang dilakukan oleh sesama gajah".  Karena mereka memiliki bahasa yang sama, bisa komunikasi dengan mudah, memiliki perilaku alami yang sama sehingga dengan mudah bisa meniru apa yang dilakukan gajah dewasa dalam mencari makan daripada menirukan apa yang dilakukan manusia selama mengajarinya. Dan manusia hanya bisa memperlakukan gajah seperti dia memperlakukan makhluk lainnya dengan cara manusia bukan dengan cara gajah.  Dengan strategi pengobatan seperti itu akhirnya anak gajah tersebut bisa diselamatkan dan dipulihkan kondisinya.  Seorang teman dokter hewan satwa liar dari Paris, Perancis Dr. Norin Chai pernah berkata pada saya setelah saya menceriterakan secara singkat tentang kondisi anak gajah itu padanya via email dan saat dia berkunjung dan mengamati perilaku anak gajah itu secara langsung, "Yanti, all she need is love".  Akhirnya kata-kata itupun menjadi judul sebuah film dokumenter untuk televisi Perancis tentang pengobatan satwa liar di Indonesia termasuk pengobatan harimau sumatera dan gajah sumatera, dimana dia terlibat dalam film tersebut dan juga bersama saya sendiri pada tahun 2012.   Maksudnya, yang dibutuhkan anak gajah itu adalah cinta,  dia merindukan seorang ibu dan merindukan bisa bersosialisasi dengan gajah betina lainnya, itu obat pertama yang harus diberikan, baru kemudian perbaikan nutrisi.  Tanpa memberikan cinta terlebih dulu pengobatan lainnya tidak akan berhasil.  Kata-katanya selalu membekas dibenak saya sampai sekarang, bahwa dalam penanganan gangguan kesehatan pada satwa liar, kebutuhan alaminya harus dipenuhi untuk menunjang pengobatan lainnya agar pengobatan yang dilakukan berhasil dengan baik.  Sedangkan untuk perbaikan nutrisinya seorang teman dokter hewan dari Queensland, Australia Dr. Amber Gillets mengatakan pada saya bahwa dia bersedia untuk membantu dan berencana menghubungkan saya dengan temannya yang saat itu sedang berada di Bali untuk mengkoordinir volunteer guna pencarian bantuan.  Dia adalah teman lama saya yang saya kenal pada saat saya menjadi volunteer dokter hewan di tempat dia bekerja, di Australia Zoo Wildlife Hospital, kebetulan dia sedang berada di Sumatera dan kemudian mengunjungi saya di Bengkulu.  Setelah kami berdiskusi tentang kondisi bayi gajah tersebut dan segala permasalahan yang saya hadapi dalam upaya perbaikan kondisinya, akhirnya dia berjanji pada saya untuk membantu dengan mencarikan bantuan nutrisi guna mendukung upaya yang telah kami lakukan selama ini dan dia mengatakan, "Yanti, saya tidak ingin gajah itu mati, saya akan membantunmu". Kemudian saya berkoordinasi dengan Kepala Balai KSDA Bengkulu untuk mendapatkan dukungan dan meminta arahan apa yang seharusnya dilakukan mengingat pemberian bantuan kepada instansi pemerintah ada prosedurnya agar bantuan tidak disalahgunakan.  Setelah mendapat dukungan dari Kepala Balai KSDA Bengkulu pada masa itu akhirnya program perbaikan nutrisi bayi gajah baru bisa dimulai bulan Maret 2012.  Dan pada saat itu Kepala Balai mengeluarkan Surat Perintah Tugas khusus pada saya  untuk  perbaikan kondisi kesehatan bayi gajah dan melaporkan perkembangan kondisinya kepada Ditjen PHKA, Kementerian Kehutanan secara berkala, mengingat sebelumnya sejak bulan Agustus 2011 penanganan gajah jinak di PKG Seblat tidak diserahkan pada tenaga medis tetapi ditangani oleh tenaga fungsional lainnya.

Sebelumnya diawal tahun 2012 saya juga telah menghubungi seorang kolega yang bekerja dengan gajah untuk membantu, tetapi karena ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum bantuan bisa diberikan dan kami kesulitan memenuhi persyaratan yang diajukan sesegera mungkin maka pemberian bantuan tidak bisa diberikan secepatnya sesuai dengan yang kami perlukan.  Dalam penanganan satwa liar dalam kondisi kritis tidak bisa ditunda-tunda dan tidak bisa menunggu, harus dilakukan sesegera mungkin, oleh karena itu saya segera mencari alternatif lainnya, yakni menghubungi beberapa orang yang saya kenal dengan baik untuk bisa membantu dan berdiskusi terutama dokter hewan yang bekerja untuk gajah Asia.  Biaya perawatan bayi gajah jauh lebih besar dibandingkan gajah dewasa, sehingga untuk menambah kekurangan biaya dari operasional PKG Seblat, pada waktu awal perbaikan kondisi bayi gajah, bantuan didapatkan dari seorang teman dari Tiger Protection and Conservation Unit untuk penyediaan pakan tambahan berupa susu dan solid food selama tiga bulan.  Teman saya yang satu itu selalu siap sedia membantu saya bila sedang mengalami kesulitan dalam penanganan satwa liar dalam kondisi kritis.  Selain itu juga dibantu oleh Taman Safari Indonesia atas dukungan dari Ditjen PHKA, Kementerian Kehutanan, berupa obat-obatan dan mineral.  Kami juga mendapatkan bantuan dari PT. Agricinal yang berdekatan dengan PKG Seblat.  Sebelumnya pada tahun 2011 untuk perawatan bayi gajah sejak direscue dibantu oleh Asian Elephant Support secara rutin melalui seorang teman yakni Linda Reifschneider dan Veterinary Support for Sumatran Wildlife Conservation untuk pengadaan pakan tambahan berupa susu, bubur, buah-buahan, tebu dan pakan tambahan lainnya setiap bulan.  Kemudian pemberian bantuan untuk bayi gajah tersebut diteruskan oleh volunteers Australia berkat jasa seorang teman saya dari Australia Zoo Dr. Amber Gillets.   Sebagai dokter hewan mempunyai networking yang luas itu sangat bermanfaat dan mempermudah pekerjaan, karena persoalan medis yang dihadapi bisa dicarikan solusi secara bersama-sama dengan kolega lainnya.

Satu bulan terakhir saya mendapati kasus yang serupa, yakni seekor induk gajah yang sudah terlihat kurus sejak beberapa bulan sebelumnya.  Saya berpikir bahwa gajah itu tidak akan berumur panjang bila tidak dirubah cara pemeliharaannya, karena semakin hari terlihat semakin kurus, padahal sebelumnya dia bisa mencapai berat badan lebih dari 2,5 ton (> 2500 kg).  Sebagai dokter hewan, saya hanya bisa menawarkan beberapa opsi kepada mahout-nya (pawang gajahnya) tentang perlunya merubah cara perawatan dengan beberapa alternatif yang bisa dilakukan, yakni tidak boleh diikat dengan rantai agar gajah bebas mencari pakan alami selama di hutan dan selama therapy diberi makanan tambahan berupa rumput gajah, pisang, gabah, tebu dan dibuatkan supplemental fodder dari bahan-bahan olahan yang mengandung nutrisi tinggi. Tetapi itu diperlukan komitmen dari perawatnya bila benar-benar ingin gajahnya pulih kembali kondisinya.  Tidak ada obat-obatan kimiawi yang bisa menyembuhkan malnutrisi dan hanya bisa digunakan untuk memperbaiki kondisinya sementara, yang bisa digunakan untuk therapy  hanyalah makanan yang cukup dan bergizi untuk gajah.

Gajah Tria roboh karena malnutrisi, TWA Seblat, 5 Mei 2012
Photo : Erni Suyanti Musabine
Bila kondisi tersebut tidak cepat diperbaiki lama-kelamaan bisa menyebabkan gajah menjadi kurus, lemah dan kurang tenaga, bahkan bisa menyebabkan kematian. Pengalaman saya pada bulan Desember tahun 2005 saat saya menjadi sukarelawan dokter hewan di Pusat Konservasi Gajah Minas, Riau, saya mendapati dua ekor gajah dengan kondisi yang sama, yakni mengalami malnutri, yang pada akhirnya mati setelah kondisinya sangat parah dan tidak dirubah pola penggembalaannya dan pola makannya sehingga tidak bisa tertangani. Kondisi malnutrisi secara laboratoris bisa menunjukkan tanda-tanda kurang darah (anemia) dan hypoproteinemia.  Sebagai diagnosa deferensial adalah kasus infestasi endoparasit (cacing) dalam jumlah banyak ataupun karena parasit darah.  Namun dalam kasus infestasi parasit biasanya juga disertai dengan tingginya nilai limfosit dari hasil pemeriksaan hematologi.  Hasil pemeriksaan umum juga ditemukan adanya peningkatan temperatur tubuh bisa mencapai 40-41C pada kasus parasit darah, dan gajah mengalami kekurusan, berdasarkan penilaian body condition index (BCI) score-nya adalah 1, mucosa tampak pucat (mulut dan belalai), lemah dan kaki tremor (gemetar) saat bergerak serta seringkali roboh dan tidak bisa bangun sendiri.   Beberapa gajah juga bisa menunjukkan gejala klinis edema ventralis terutama pada bagian mandibula, leher dan perut bagian bawah, sering menggaruk-garukan badan karena gatal, kulit menjadi mudah terluka dan kering seperti dilapisi plastik.  Lama-kelamaan bila dibiarkan bisa menyebabkan kematian.

Rescue Gajah Tria - 5 Mei 2013
Video created by Erni Suyanti Musabine

Langkah-langkah yang diambil adalah pemberian obat-obatan supportive, infuse karbonhydrat dan memindahkan gajah dengan bantuan gajah jinak lainnya dari lokasi penggembalaan yang panas dan tak banyak ketersediaan pakan alami menuju ke camp PKG Seblat untuk mendapatkan terapi pakan tambahan yang bernutrisi tinggi selama beberapa hari sampai tenaganya pulih kembali, tidak lemah dan tidak sering roboh lagi.  Setelah satu hari menjalani terapi pakan, gajah tersebut sudah bisa bangun sendiri tanpa bantuan gajah jinak lainnya, dan saat kondisinya benar-benar pulih gajah tersebut dilepaskan ke hutan untuk mencari pakan alami sendiri dengan dilakukan kontrol setiap pagi dan sore hari. 

Dalam penanganan kasus seperti itu maka yang perlu dilakukan adalah segera melakukan monitoring pola makan dan penggembalaan guna mengetahui nafsu makan dan variasi makanan yang tersedia bagi gajah di lokasi penggembalaan.  Kemudian dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan hematologi, serologi dan parasitologi dari sampel feces dan blood smear (preparat ulas darah) untuk mengetahui ada tidaknya infestasi parasit pada gajah.  Dari hasil pemeriksaan laboratorium  tersebut dan hasil pemeriksaan di lapangan dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan bagaimana therapy (pengobatan) yang akan dilakukan.  Dan yang tidak kalah penting adalah perlu adanya koordinasi dan kerjasama yang baik dengan mahout (pawang gajah) yang menangani gajah tersebut dan petugas pakan gajah, karena pengobatan gajah tidak bisa dilakukan oleh dokter hewan sendiri, atau tidak bisa dilakukan oleh perseorangan tanpa melibatkan peran penting dari mahout dan petugas pakan serta diperlukan dukungan penuh dari pihak management authority, semua dari komponen tersebut harus saling mendukung untuk keberhasilan suatu upaya pengobatan gajah.  Bila salah satu pihak tersebut ada yang kurang mendukung maka perbaikan kondisi kesehatan gajah akan sulit dilakukan, sehingga diperlukan kesadaran semua pihak bahwa penyelamatan satwa liar dilindungi yang terancam punah itu sangat penting, tidak kalah pentingnya dengan kegiatan-kegiatan di bidang kehutanan lainnya.  Apalagi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) telah dimasukan dalam kategori  critically endangered species menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).  Selain itu captive wildlife management sangat berbeda dengan pengelolaan kegiatan  di bidang kehutanan lainnya.

Note :
Bekerja menangani makhluk hidup harus dengan hati, diperlukan orang yang punya  idealisme dan loyalitas kerja tinggi untuk tujuan konservasi satwa liar dan bukan hanya bekerja dengan tendensi keproyekan saja, juga perlu pengetahuan luas terutama tentang wildlife managament termasuk didalamnya tentang behavior, animal welfare dan beberapa hal yang menunjang pengelolaan, serta juga diperlukan networking yang luas dengan pihak-pihak terkait yang mendukung.

1 komentar:

  1. mbak saya tertarik ingin membahas endoparasit pada feses gajah terutama pada gajah sumatera yg merupakan gajah endemik di indonesia.
    apakah ada jurnal yg terkait dengan artikel yg mbak buat?


    BalasHapus