Rabu, 16 April 2014

Training bagi Elephant Conservation & Conflict Mitigation Unit - FZS di Pusat Latihan Gajah Seblat



Pagi itu, Jumat tanggal 11 April 2014 saya dihubungi oleh bagian humas Balai KSDA Bengkulu bahwa ada tamu yakni ECCMU (Elephant Conservation & Conflict Mitigation Unit dari LSM Frankfurt Zoological Society (FZS) Jambi yang akan mengunjungi Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat untuk kegiatan training, dan satu perwakilan mereka sudah berada di kantor BKSDA Bengkulu. Saya diminta untuk mendampinginya. Bila berhubungan dengan LSM ataupun tamu asing pasti sayalah yang mendapatkan tugas untuk mendampinginya karena rata-rata mereka telah mengenali saya sebelumnya.

Perwakilan dari FZS tersebut sedang mengurus simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi) guna kunjungan ke PLG Seblat yang berada di dalam kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Seblat. Surat permohonan simaksi tersebut sudah diajukan sejak tanggal 28 Maret 2014, namun setelah sekian lama tidak pernah mendapat balasan. Akhirnya mereka berniat untuk berkunjung langsung ke BKSDA Bengkulu guna menanyakan jawaban dari surat mereka dan untuk melanjutkan pengurusan simaksi tentunya. 

Saya sendiri sebenarnya sudah trauma bila membantu pengurusan simaksi tamu yang akan berkunjung ke PLG Seblat. Karena tamu-tamu yang datang pernah diminta persyaratan tambahan yang tidak masuk akal dan tidak ada dalam aturan yang berlaku agar simaksi bisa dikeluarkan. Menurut saya lembaga pemerintah sebagai pelayan masyarakat seharusnya bersikap memberi pelayan prima kepada publik dan bukan membebani dengan permasalahan internal yang memaksa pemohon simaksi untuk ikut menanggungnya, yang mana persyaratan tersebut di dalam aturan yang berlaku pun tidak ada. Dan merespon surat permohonan dengan cepat dan informatif adalah tugas pelayan masyarakat. Selain itu seharusnya tidak membuat orang menunggu dalam jangka waktu lama dan bahkan tidak mendapat jawaban sama sekali terhadap surat permohonan resmi yang dikirimkan. Sistem birokrasi dan administrasi dalam pelayanan publik yang tidak efisien dan tebang pilih seharusnya sudah tidak menjadi budaya. Oleh karena itu dalam setahun terakhir saya memilih untuk tidak membantu teman-teman baik dari Indonesia maupun dari negara lain dalam pengurusan simaksi dan menyarankan mereka untuk mengurus sendiri ke pihak yang berwenang. Itu juga yang menyebabkan selama ini pengunjung PLG Seblat menurun drastis dari tahun - tahun sebelumnya dengan tujuan apapun, baik ecotourism, volunteer, edukasi, research dan lain-lain. Bahkan karena pengurusan simaksi itu juga para mahasiswa lokal membatalkan kunjungan perjalanan lapangan untuk tujuan pendidikan ke PLG Seblat dan mengalihkan kunjungan ke tempat lain. Upaya yang telah kami rintis dari awal untuk pengembangan PLG Seblat sebagai tujuan utama wisata alam di Provinsi Bengkulu, sebagai pusat pendidikan konservasi dan penelitian serta tujuan volunteer untuk kegiatan konservasi satwa liar dan berbagai upaya pengembangan untuk tujuan bermanfaat lainnya seolah-olah pupus karena tidak diimbangi dengan efisiensi birokrasi yang bersih dan jelas sesuai aturan yang ada di masa sekarang.

Namun karena pihak ECCMU-FZS mengajukan permintaan agar saya saja yang mendampingi mereka di lapangan, akhirnya sayapun terlibat lagi dalam urusan birokrasi yang rumit ini. Dan saya tidak bisa mengelak karena saya mengenal lembaga tersebut sudah lama dan saya juga pernah bekerja disana sebagai dokter hewan konsultan bagi FZS selama beberapa tahun disamping saya bekerja di BKSDA Bengkulu. Hal yang saya takutkan terjadi, informasi yang tidak pernah jelas dan pasti bagi pemohon simaksi membuat pengurusan simaksi tidak lancar. Padahal perkembangan teknologi media komunikasi makin lama makin cepat dan efisien, namun teknologi yang ada itupun tak pernah dimanfaatkan bagi pelayanan publik hanya sekedar merespon atau memberi informasi yang jelas kepada masyarakat/ individu/ lembaga yang membutuhkan. Padahal mereka semua pengguna smart phone dan lagipula ada layanan internet gratis sebagai sarana prasarana kantor. Jadi semua itu ada untuk apa ???

Setelah pengurusan simaksi yang baru selesai hingga malam, akhirnya esok harinya Sabtu tanggal 12 April 2014 saya bersama rombongan ECCMU sebanyak 7 orang berangkat menuju PLG Seblat. Pagi itu kami berbelanja logistik terlebih dahulu di kota Bengkulu, dan setelah sampai Kecamatan Putri Hijau yang jauhnya sekitar 17 km dari camp gajah, kami berbelanja sayuran dan kebutuhan yang belum terbeli. Mengingat camp gajah tempat kami menginap nantinya berada di dalam kawasan hutan dan terisolasi oleh Sungai Seblat sehingga logistik harus dipersiapkan sebelum menuju lokasi. Kami juga makan siang terlebih dahulu di daerah tersebut.




Kami di PLG Seblat sudah terbiasa mengurus tamu yang berkunjung dari yang jumlahnya satu orang sampai dengan tujuh puluhan orang, baik wisatawan asing dan domestik, volunteer asing maupun domestik, peneliti asing ataupun WNI, siswa sekolah dan mahasiswa, peserta workshop atau pelatihan dan lain-lain. Namun baru kali ini kami merasa tidak mengelola pengunjung dengan baik karena semua serba mendadak dan kurang informasi. Biasanya setiap ada pengunjung, kami telah mempersiapkan tukang memasak yang diambil dari masyarakat sekitar agar pada saat tamu sudah datang makanan telah tersedia dan pengunjung pun tidak perlu berbelanja sendiri, mempersiapkan tempat penginapan, membagi tugas untuk porter dan menyeberangi sungai dengan aman serta pembagian tugas untuk membantu kegiatan agar berjalan dengan lancar. Sehingga kali ini semua baru dipersiapkan saat perjalanan dan setelah tiba di lokasi. Kami di PLG Seblat punya prinsip bahwa pengunjung dengan tujuan baik selayaknya dilayani dengan baik dan tidak boleh mengecewakan sehingga saat pulang mereka punya kesan yang baik pada PLG Seblat dan membuat mereka ingin datang kembali. Itu juga yang membuat tamu asing maupun domestik yang pernah datang ke PLG Seblat ingin kembali lagi.

Satupun dari kami tidak ada yang pernah belajar khusus atau mendapat training tentang pengelolaan ekowisata, guiding pengunjung, mengurus tamu dan hal-hal lain yang berkaitan dengan itu, namun kami banyak belajar dari pengalaman selama bertahun-tahun mengurus tamu mulai dari airport sampai ke PLG Seblat dan kembali ke airport lagi, serta masukan yang didapat dari hasil bertukar pikiran dengan para pengunjung. Justru yang mendapatkan pelatihan khusus tentang itu dan pernah studi banding adalah kawan-kawan yang bertugas di Balai KSDA Bengkulu, namun sejauh ini mereka belum pernah mempraktekan ilmunya dalam menghadapi dan mengelola pengunjung kawasan konservasi seperti TWA Seblat.



Adapun tujuan pengunjung kali ini adalah memilih PLG Seblat sebagai lokasi pelatihan tim ECCMU-FZS. Kenapa PLG Seblat dipilih untuk tempat pelatihan mereka ? Karena bukan sekali ini mereka mengadakan pelatihan di PLG Seblat, sebelumnya tim Wildlife Response Unit (WPU) - FZS juga mengadakan pelatihan investigasi di PLG Seblat pada tahun 2008. Staff lembaga tersebut juga pernah melakukan penelitian tentang DNA gajah di PLG Seblat. Dengan mengadakan pelatihan di lokasi dimana merupakan habitat gajah liar dan juga merawat gajah jinak diharapkan peserta pelatihan bisa berinteraksi langsung dengan gajah-gajah tersebut guna menumbuhkan hubungan emosional dan ketertarikan dengan gajah. Seperti pepatah 'tak kenal maka tak sayang'. Dengan berinteraksi sehari-hari dengan gajah jinak diharapkan peserta pelatihan tidak hanya mengetahui perilaku alami gajah tetapi juga lebih menyukai spesies satwa liar yang satu ini, karena pekerjaan mereka sehari-hari juga berhubungan langsung dengan konservasi gajah dan gajah liar yang terlibat konflik dengan manusia (masyarakat).

Selain itu mereka juga pelatihan tentang praktek telemetry untuk monitoring gajah dan pengolahan data telemetry. Dan mengikuti aktivitas harian mahout PLG Seblat dalam perawatan gajah jinak guna observasi perilaku alami gajah. Kebetulan di hari pertama pelatihan, saya juga mendapat jadwal untuk menjelaskan tentang anatomi fisiologi gajah, behavior dan komunikasi dan hubungan sosial antar gajah. Seperti biasa, saya lebih suka memberi penjelasan di alam terbuka dan tidak di dalam ruangan, dengan gajah ada di depan kami, agar peserta juga bisa mengamatinya secara langsung sambil mendengarkan penjelasan.


Selama empat hari pelatihan ECCMU berjalan dengan lancar tanpa ada kendala selama di PLG Seblat. Pada hari Selasa tanggal 15 April 2014 kami kembali ke kota Bengkulu setelah makan siang. Tak lupa kami dari tim PLG Seblat dan ECCMU berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Kami selalu berharap bisa melayani tamu yang datang ke PLG Seblat lebih baik lagi dari waktu ke waktu dan mereka kembali pulang dengan kesan yang baik pula. Semoga keinginan ini juga didukung oleh birokrasi yang tidak rumit dan jelas sesuai aturan yang ada dalam pengurusan perijinan kunjungan ke PLG Seblat, karena BKSDA adalah pintu gerbangnya menuju ke PLG Seblat.  Bila dari awal pengunjung sudah punya kesan yang tidak baik maka akan berpengaruh pada perjalanan berikutnya. Bukankan reformasi birokrasi tujuannya untuk memberikan pelayanan prima pada publik ?! 

Senin, 07 April 2014

Akhirnya kaki depan seekor harimau sumatera bernama Elsa harus diamputasi



Seekor Harimau sumatera terjerat pemburu di Kabupaten Kaur, 
Bengkulu. Kamis, tanggal 3 April 2014
Saya bersama tim recsue baik dari BKSDA Bengkulu atau Tiger Protection and Conservation Unit - Kerinci Seblat atau Conservation Response Unit - PKG Seblat, telah menyelamatkan harimau sumatera yang terjerat tali sling pemburu liar sejak tahun 2007, dari semua harimau yang diselamatkan pada akhirnya harus kehilangan kakinya karena telah nekrosis (mengalami kematian jaringan). Begitu juga seekor harimau sumatera yang kami beri nama Elsa yang telah diselamatkan dari jerat pemburu pada tanggal 3 April 2014 di sekitar HGU perkebunan sawit PT. Dinamika Selaras Jaya Divisi 1 yang berlokasi di Desa Beriang Tinggi, Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Harimau yang ditemukan dalam kondisi terjerat pada tanggal 2 April 2014 oleh tim Tata Batas HGU dari Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. Kemudian tim rescue BKSDA Bengkulu diturunkan ke lokasi untuk menyelamatkan harimau tersebut.

Menyelamatkan harimau yang terjerat tali sling pemburu liar bukanlah hal yang mudah, kami bekerja seperti berlomba kecepatan dengan para pemburu. Bila kami telat datang maka pemburu liar yang lebih dulu membunuh dan membawa lari bangkainya. Seperti yang pernah kami alami di Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Untuk mencapai lokasi harimau terjerat yang berada di dalam kawasan hutan, kami harus berjalan kaki dari desa terdekat dari pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB tanpa istirahat, dengan melewati perbukitan dan belasan kali menyeberangi sungai besar bagian hulu. Tiba di lokasi tali sling telah terputus dan harimau sudah tidak ditemukan lagi. Tali sling yang diputus oleh harimau itu sendiri ataupun diputus oleh manusia sangat berbeda kondisinya. Begitu juga saat kami akan melepaskan harimau yang terjerat sling pemburu liar di dalam kawasan Hutan Produksi Air Rami di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Untuk mencapai lokasi kami berjalan kaki selama dua hari, melewati perbukitan dan sungai Tembulun bagian hulu. Pada saat kami berjalan masuk hutan, kami juga mendapat informasi bahwa pemburu harimau juga memasuki hutan yang sama. Seperti pepatah, "siapa cepat, siapa dapat". Untuk itu kami beradu cepat siapa yang akan mencapai lokasi terlebih dulu untuk mendapatkan harimau tersebut. Akhirnya kamipun masih bisa menyelamatkan harimau itu sebelum pemburu membunuhnya dan mengulitinya.

Namun dari setiap upaya penyelamatan harimau terjerat yang membuat saya sangat bersedih dan emosional adalah kondisi kaki yang terjerat selalu rusak karena tali sling. Tali sling yang mengikat ketat di kaki harimau membuat peredaran darah terhambat dan lama-kelamaan jaringannya mati dan akhirnya membusuk. Harimau yang spontan berontak karena terjerat juga memperparah kondisi, kaki yang terjerat menjadi mengelupas karena berusaha melepaskan diri dari sling dan seringkali terlihat luka terbuka dan hanya tinggal tulang jari menonjol keluar yang terikat tali sling.

Kaki depan kanan harimau sumatera telah membusuk 
karena jerat pemburu. Jumat, tanggal 4 April 2014
Begitu juga seekor harimau sumatera yang kami lepaskan dari jerat pemburu pada hari Kamis, tanggal 3 April 2014, kondisi kaki depan sebelah kanan telah membusuk begitu juga dengan telapak kakinya. Baunya pun menyengat seperti bau bangkai saat pertama kami temukan. Akhirnya sayapun harus membuat keputusan yang sangat berat, saya harus mengamputasi kakinya sesegera mungkin sebelum mengakibatkan infeksi sekunder yang lebih serius dan membahayakan nyawa harimau.

Banyak orang yang menyayangkan saya mengamputasi kaki harimau tersebut, karena mereka tidak tahu kondisi yang sebenarnya, dan mereka juga tidak paham bahaya yang akan terjadi bila kaki tersebut tidak segera diamputasi. Jaringan bila sudah nekrosis itu tidak bisa diselamatkan. Memang, kaki depan fungsinya sangat vital bagi harimau terutama dalam mencari mangsa untuk bertahan hidup. Namun, bila kaki telah nekrosis dan membusuk bila tidak cepat diamputasi, harimau pun juga tidak akan bertahan hidup karena bisa kehilangan nyawanya karena infeksi yang menyebabkan kerusakan lebih serius.


Jumat, 4 April 2014

Dari hasil pemeriksaan kondisi harimau sangat baik, sehingga hanya diperlukan waktu agar harimau bisa beristirahat dengan tenang setelah stress karena penangkapan dan transportasi. Namun upaya ini pun tidak berjalan dengan baik, pada saat harimau sedang istirahat masih juga ada orang-orang dengan berbagai kepentingan ingin melihatnya di kandang perawatan yang tentu saja sangat mengganggu dan membuat harimau berontak karena melihat kehadiran banyak orang. Menurut saya harimau perlu kondisi tenang  dan tidak boleh diganggu dengan kehadiran siapapun dan untuk keperluan apapun, karena akan menjalani operasi amputasi esok harinya. Namun tak semua orang mau memahami sesuai dengan yang saya harapkan.

Setelah selesai melakukan koordinasi dengan tim rescue, maka hari itu administrasi dan birokrasi dipersiapkan, yakni pembuatan Surat Perintah Tugas (SPT) untuk operasi amputasi kaki harimau bernama Elsa di BKSDA Bengkulu.


Sabtu, 5 April 2014

Persiapan operasi amputasi di BKSDA Bengkulu
Sabtu, tanggal 5 April 2014
Bekerja untuk satwa liar memang tidak mengenal hari libur. Karena kami bekerja sesuai dengan kondisi satwa dan bukan menyesuaikan dengan kalender. Akhir pekan itu akan menjadi hari yang sibuk bagi kami. Pagi itu pukul 08.00 WIB kami merencanakan akan memulai pekerjaan untuk melakukan pembiusan harimau untuk menghindari terjadinya hyperthermia bila dilakukan di siang hari yang panas. Namun terkadang rencana tidak sesuai dengan yang diharapkan, tiba-tiba pagi itu kondisi kesehatan saya memburuk, sebelumnya saya memang kurang sehat. Saya kehilangan tenaga dan merasa lemas. Saya menginformasikan kepada tim saya agar kegiatan ditunda satu jam karena saya perlu waktu untuk tidur sebentar sebelum bekerja. Pukul 09.00 WIB saya baru berangkat ke kantor BKSDA dengan kondisi masih lemah. Saya tidak bisa menunda lagi untuk operasi amputasi kaki harimau karena kondisinya sudah membusuk, karena bila diundur waktunya kondisinya akan semakin memburuk. Namun saya sendiri merasa khawatir tidak mampu melakukan operasi yang tentu membutuhkan waktu lama karena kondisi kesehatan saya sendiri yang menurun. Maka sebelum melakukan operasi harimau, sesampainya di kantor saya periksa dan berobat dulu ke rumah sakit Rafflesia yang berada di depan kantor BKSDA dengan diantar seorang teman. Saya disarankan untuk ke UGD (Unit Gawat Darurat).  Sudah dua kali saya masuk UGD di rumah sakit ini, yang pertama karena pingsan yang disebabkan tekanan darah terlalu rendah. Selesai periksa dan berobat akhirnya saya kembali ke kantor dan mulai bekerja. Saya tidak sanggup bekerja dengan berdiri lama akhirnya saya lebih memilih bekerja sambil duduk.

Operasi amputasi kaki depan kanan seekor harimau sumatera 
di Balai KSDA Bengkulu Sabtu, tanggal 5 April 2014
Harimau sumatera bernama Elsa menjalani puasa sebelum dilakukan pembiusan untuk operasi amputasi. Selama pembiusan tidak ada komplikasi, yang biasanya seringkali terjadi pada harimau yang diimmobilisasi dengan menggunakan obat anaesthesia Ketamine 10% dikombinasikan dengan sedativa Xylazine 10%. Kondisi frekuensi nafas, pulsus dan detak jantung, temperatur tubuh dan lain-lain selama terimmobilisasi cukup baik dan dimonitor secara rutin oleh teman-teman yang membantu saya, sehingga operasi amputasi bisa berjalan dengan lancar. Dalam setiap menjalankan penanganan medis pada satwa liar hanya saya yang punya latar belakang kedokteran hewan, teman-teman yang membantu saya semua staff BKSDA Bengkulu memiliki latar belakang jabatan yang beragam, ada polisi kehutanan (Polhut), PEH (Pengendali Ekosistem Hutan), Penyuluh Kehutanan, Humas dan lain-lain.  Saya tidak memiliki Vet Nurse atau Vet Tech atau paramedis (perawat). Mereka itu yang memiliki multi talent, disaat saya sedang membutuhkan asisten, mereka semua bisa menjadi Vet Nurses. Di BKSDA Bengkulu kami memiliki tim rescue satwa liar yang anggota timnya beragam latar belakang jabatan. Kebetulan mereka seringkali mendampingi saya dalam menangani satwa liar tidak hanya harimau tetapi juga rusa dan lain-lain, sehingga mereka terlatih dengan sendirinya.  Dalam setiap menangani satwa liar, saya sudah tidak perlu repot karena mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan sehingga saya bisa fokus dengan pengobatan. Seperti halnya dalam pembiusan harimau sumatera untuk operasi amputasi kaki, satu orang sudah mencukur rambut di kaki harimau dan membersihkan luka dengan antiseptic sebelum saya mengamputasinya, satu orang lagi mencukur rambut harimau di ekor atau paha untuk pemasangan infuse (terapi cairan), dan mereka juga melakukan monitoring pernafasan, pulsus dan suhu tubuh secara rutin tanpa diminta, dan ada juga yang bagian recording. Tanpa diinstruksi mereka juga melakukan koleksi sampel dan morfometri (body measurement), dan satu orang membantu saya untuk mengambilkan peralatan bedah yang saya butuhkan, ada juga yang bertugas membersihkan darah dengan tampon dan masih banyak lagi lainnya. Mereka juga sudah tahu tentang kondisi kritis saat pembiusan, bila hasil pemeriksaan mereka ada nilai yang tidak normal mereka langsung memberitahu saya untuk tindakan emergency. Memiliki teman kerja yang sudah terlatih dan terbiasa menangani satwa liar akan mempermudah pekerjaan, sehingga saya tinggal fokus pada operasi amputasi kaki depan harimau. Empat jari telah saya potong dan menyisakan jempol kaki depan karena kondisinya masih bagus dan jaringannya tidak nekrosis.

Setelah selesai operasi amputasi, tanggal 5 April 2014
Operasi amputasi kaki depan harimau berjalan selama 2 jam, karena harus membersihkan jaringan-jaringan yang telah nekrosis serta adanya pembuluh darah besar disela-sela jari yang mempersulit amputasi. Selain itu juga diberikan pengobatan antibiotik long acting, anti inflamasi, pain killer dan lain-lain. Pengambilan sampel rambut untuk pemeriksaan DNA, sampel darah untuk pemeriksaan hematologi dan serologi, sampel ektoparasit. Selama harimau masih terbius, sampel bisa dikoleksi dengan mudah karena bila sadar kembali kami tidak bisa melakukannya lagi.

Selama bertahun-tahun kami belum memiliki kandang perawatan harimau yang layak, yang dilengkapi dengan kandang jepit, serta tidak memiliki fasilitas untuk ruang bedah. Kami biasa melakukan operasi harimau dimana saja tanpa ada ruangan yang steril. Memang, sepertinya penanganan satwa liar belum menjadi prioritas, karena usulan-usulan tentang pemenuhan sarana prasana medis untuk itu tidak pernah ditanggapi meski kami selalu belajar dari pengalaman bahwa kasus seperti ini sudah berulang kali terjadi. Namun, untuk bisa berbuat untuk satwa liar tidak harus menunggu memiliki fasilitas yang memadai, karena tidak pernah tahu sampai kapan akan dipenuhi. Dengan fasilitas ataupun tanpa fasilitas kami harus tetap bisa bekerja.

Jumat, 04 April 2014

Penyelamatan Harimau Sumatera yang Terperangkap Jerat Pemburu di Kabupaten Kaur, Bengkulu


Catatan Perjalanan

Rabu, 2 April 2014

Sudah tiga hari kondisi saya lemah karena Hypotensi (tekanan darah rendah).  Kondisi seperti ini seringkali membuat saya khawatir untuk bepergian atau perjalanan jauh, karena tekanan darah yang terlalu rendah bisa membuat saya tiba-tiba terjatuh dan pingsan. Untuk kembali pulang ke Bengkulu saya memilih penerbangan pagi pukul 7.20 WIB.  Setelah check in di bandara Soekarno Hatta, tubuh saya terasa sangat lemah dan tak bertenaga serta telah berkeringat dingin, pucat dan gemetaran, saya berpikir untuk membatalkan perjalanan ke Bengkulu dan kembali pulang. Dalam keragu-raguan tersebut akhirnya saya tetap melanjutkan perjalanan dan berhasil sampai kedalam pesawat tanpa menghadapai masalah. Setelah landing di bandara Fatmawati Bengkulu, kembali muncul kekhawatiran apakah saya sanggup berjalan sampai pintu kedatangan. Setelah minta bantuan jasa porter dan sopir taxi akhirnya saya bisa pulang kembali ke rumah tanpa hambatan. Hari itu saya berniat untuk kembali istirahat tanpa memikirkan pekerjaan apapun sampai kondisi sehat kembali. Belum sempat beristirahat tiba-tiba handphone saya berdering, seseorang di BKSDA Bengkulu menghubungi saya dan mengabarkan bahwa ada harimau terjerat dan perlu cepat dievakuasi. Setelah itu beberapa teman kerja dan beberapa pejabat di BKSDA Bengkulu menghubungi saya untuk memberi informasi yang sama. Batal beristirahat, saya langsung menyiapkan peralatan dan obat-obatan untuk rescue harimau dan menunggu dijemput karena saya tidak sanggup pergi sendiri ke kantor BKSDA karena tubuh masih terasa lemah. 

Seekor Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terjerat pemburu 
di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Kamis, 3 April 2014.  
Photo : Erni Suyanti Musabine
Menunggu tim rescue berkumpul, akhirnya kami baru berangkat pukul 3 sore dari Bengkulu menuju lokasi kejadian. Saya berangkat bersama dua orang polisi kehutanan dan dua orang PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) dengan membawa dua buah kendaraan. Dua orang polisi kehutanan lainnya telah berada di lokasi untuk mengamankan harimau agar tidak hilang diambil pemburu. 

Sekitar pukul 10 malam kami baru sampai di perbatasan antara Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur. Sepanjang jalan diiringi hujan deras. Malam itu kami memutuskan untuk menumpang menginap di mess karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya yang berada di Sulau. Malam itu tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan karena hujan deras, kondisi jalan buruk, tanah merah berlumpur yang tepinya bukit dan jurang ciri khas jalan di pedalaman Sumatera.

Saya mencoba mencari informasi dari karyawan dan salah satu pimpinan perusahaan perkebunan sawit PT. Dinamika Selaras Jaya yang ada di mess tersebut untuk mengetahui kronologis harimau yang terjerat di sekitar lokasi mereka. Sebelumnya dalam perjalanan saya sudah mendapat informasi awal bahwa ada harimau lain yang menunggu harimau terjerat tersebut. Membuat saya sepanjang perjalanan berpikir keras bagaimana cara yang aman membius harimau terjerat bila ada harimau lain didekatnya. Lagi-lagi saya mendapatkan informasi terbaru yang mengejutkan bahwa kayu pengikat jerat harimau telah patah dan harimau telah berjalan-jalan dan berpindah tempat. Saya demam lagi dan batuk malam itu sehingga tidur lebih dulu sedangkan lainnya masih berbincang-bincang di teras rumah. Karena perempuan sendiri saya mendapat fasilitas untuk tidur di dalam kamar sedangkan lainnya tidur di ruang tamu. Saat memejamkan mata saya pun masih memikirkan bagaimana cara yang aman untuk membius harimau yang jeratnya sudah terlepas dari kayu pancang dan harimau lainnya ada di dekatnya, sedangkan saya tidak membawa senapan bius, yang kami bawa hanyalah sumpit bius.


Kamis, 3 April 2014

Pagi itu setelah selesai memeriksa peralatan dan obat-obatan serta membuat daftar dosis obat-obatan yang akan digunakan untuk rescue harimau, kami segera berangkat menuju mess karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya Divisi 1 yang ada di lokasi perkebunan sawit dan lokasinya terdekat dari lokasi harimau terjerat. Disana ada tim Tata Batas HGU dari Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu yang menemukan harimau terjerat tersebut serta polisi kehutanan Seksi Wilayah II KSDA Bengkulu yang ditugaskan untuk mengamankan lokasi harimau sebelum kami datang. Sejauh mata memandang terlihat perkebunan sawit masyarakat dan perusahaan, juga masih terlihat daerah yang masih berhutan. Menurut keterangan mereka bahwa masih sering terlihat juga harimau berkeliaran di areal HGU perusahaan sawit tersebut.  Saya sibuk mengamati sekitar di sepanjang perjalanan, tampak perbukitan terjal yang telah gundul dan telah diganti dengan tanaman sawit yang baru tanam. Juga tampak jurang yang dalam disisi lainnya dari jalan yang kami lalui yang berliku-liku dan naik turun. Akhirnya sekitar pukul 9 pagi kami sampai di mess karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya yang termasuk wilayah administratif Desa Beriang Tinggi, Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Saya pun berusaha mencari informasi dari orang-orang yang menemukan harimau terjerat itu serta mencari perkembangan informasi terkini tentang kondisi harimau. Dan saya mendapat informasi bahwa harimau sudah berpindah tempat dan masuk ke semak belukar dan tak terlihat lagi, sambil melihat photo dan video yang mereka rekam di handphone tentang kondisi sekitar harimau terjerat. Lokasinya telah berubah dengan sehari sebelumnya yang masih terjerat di pinggir jalan. Lagi-lagi membuat saya berpikir untuk kesekian kalinya bagaimana mencari harimau tersebut dengan aman dan bisa membiusnya bila dia berada di belukar yang lebat dan tak terlihat. Sejak harimau sudah berjalan-jalan karena kayu pengikat jeratnya patah, mereka belum berani memeriksa kondisi harimau, mereka memilih menunggu kami datang.

Tim rescue harimau dari BKSDA Bengkulu yang diturunkan ke lokasi hanya 5 orang termasuk saya sendiri, dua orang polhut dan dua orang PEH, dan ditambah dua orang polisi kehutanan (polhut) dari resort setempat untuk survey dan mengamankan lokasi harimau terjerat. PT. Dinamika Selaras Jaya juga menurunkan dua orang Brimob yang bekerja di perusahaan tersebut serta beberapa karyawannya untuk membantu rescue harimau. Selain itu tim Tata Batas Dinas Kehutanan juga turut serta ke lokasi, juga wartawan setempat. Dengan banyaknya orang yang ingin ikut serta dalam rescue harimau bagi saya pribadi ini justru bisa menimbulkan permasalahan baru saat rescue, maka saya mengajak mereka untuk briefing terlebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi kejadian, mengingat kami sebagai tim rescue tidak hanya punya tanggung jawab menjaga keselamatan harimau tetapi juga menjaga keselamatan tim. Saya sendiri yang memimpin briefing dan menentukan tugas masing-masing orang. Saya ambil alih koordinasi daripada saya nantinya kesulitan saat melakukan rescue karena banyaknya orang yang ikut serta. Saya tentukan bahwa yang bisa mendekat ke lokasi harimau hanyalah 5 orang, yakni saya sendiri sebagai petugas yang akan melakukan pembiusan dan seorang anggota tim rescue BKSDA yang membantu saya dan membantu dokumentasi kegiatan, seorang polisi kehutanan yang bersenjata yang akan bertugas mengamankan kami bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan dua orang karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya sebagai sopir John Deere dan penunjuk lokasi harimau terakhir kali ditemukan. Sedangkan lainnya tidak diperbolehkan ikut ke lokasi selama proses pembiusan dan harus menunggu di tempat yang telah ditentukan, yang tak terlihat dari lokasi harimau dan baru bisa mendekat setelah saya menyatakan bahwa harimau telah benar-benar terbius dan aman untuk didekati. Sedangkan petugas bersenjata lainnya baik dari polisi kehutanan maupun Brimob diminta untuk mengamankan orang-orang yang ikut serta dalam rescue ini bila harimau lainnya masih di sekitar lokasi kejadian. Saya membutuhkan alat berat John Deere, tidak hanya sebagai alat untuk mengangkut kandang angkut tetapi juga bisa kami pakai untuk mengamankan diri, sebagai pelindung bila harimau meloncat ke arah kami saat akan melakukan pembiusan, mengingat tidak ada pohon besar untuk bersembunyi menurut keterangan orang-orang yang tahu kondisi lokasi kejadian.

Kami pun berangkat, ada yang naik John Deere dan ada yang mengendarai trail. Mendekati lokasi semua orang dilarang bicara dan berisik, suasana harus tetap tenang. Bahkan saya meminta orang-orang untuk mematikan HP. Sambil John Deere berjalan pelan, kami berlima memeriksa kiri kanan jalan yang kami lalui, semak belukar terlalu lebat sehingga kesulitan mencari keberadaan harimau. Dipinggir jalan akhirnya kami menemukan kayu bekas pengikat jerat yang telah patah dan tergeletak di pinggir jalan di tepi hutan, namun tak terlihat ada kawat sling disana, berarti sling masih terikat di kaki harimau tersebut dan dibawa berjalan-jalan. Kami meminta John Deere mendekati kayu tersebut dan berhenti di tempat itu, namun sepertinya sopirnya ketakutan dan bilang, "Bu, Bapak yang bersenjata tadi ada dimana ?" "Tenang aja, pak. Dia ada dibelakang kita", saya berusaha untuk menenangkannya. Kami mencium bau harimau di sekitar sana namun harimaunya tak terlihat. Penunjuk jalan kami akhirnya melihatnya dan bilang, "Itu bangkainya, dia sudah mati", sambil menunjuk semak-semak di sebelah kanan kami. Membuat saya dan polhut turun mendekat dan mengamati dibalik semak belukar, kami melihat loreng harimau pada tubuh bagian belakang dan ekornya, kepalanya tak terlihat, dia tidak bergerak serta tercium bau bangkai yang membusuk, juga terlihat sudah banyak lalat disana. Kami masih berpikir, harimau itu sudah mati atau sedang tidur karena diam dan tak ada bagian tubuhnya yang bergerak ?! Tiba-tiba merasa lega setelah melihat ekornya bergerak, tak lama kemudian diikuti suara raungan keras dan loncatan ke arah kami, membuat kami langsung spontan menghindar dan naik keatas John Deere, diikuti loncatan-loncatan harimau berikutnya karena melihat kehadiran kami. Dari situ kami mengetahui kemampuan dia menyerang sejauh mana, sepertinya jerat di kakinya tersangkut, karena bila tidak maka loncatannya akan mencapai lokasi kami berada. Beberapa kali meloncat ke arah kami membuat jerat sling di kakinya jangkauannya semakin pendek karena membelit disana sini. Itu waktu yang tepat untuk melakukan sumpit bius. Setelah mengamati kondisinya dan melakukan estimasi berat badan, saya segera menyiapkan obat bius di atas John Deere dan turun lagi guna melakukan pembiusan dengan seorang teman. Setiap akan melakukan pembiusan saya juga mempersiapkan bius cadangan yang akan digunakan bila pembiusan pertama tidak tepat sasaran. Lokasi yang rimbun dengan belukar dan harimau yang waspada dan terus melihat kearah kami jelas mempersulit pembiusan. Mencari alternatif untuk bisa melakukan pembiusan dari sisi belakang harimau tetapi sulit untuk dilakukan karena belakang harimau adalah jurang yang dalam dan tidak bisa dilewati, pembiusan hanya bisa dilakukan dari depan atau samping kiri harimau, namun terhalang belukar. Akhirnya memakai strategi lama, yakni satu orang dijadikan umpan untuk menarik perhatian harimau dan membuat harimau berpindah posisi yang bisa terlihat dengan jelas, dan akhirnya baru berhasil disumpit bius. Karena blowsyringe yang saya miliki hanya berkapasitas 3ml maka sumpit bius dilakukan dua kali. Sulit untuk bisa melihat apakah obat bius masuk dengan sempurna apa tidak. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit harimau sudah tidak meraung-raung lagi, dan mulai tenang, untuk mengamati pupil matanya saya menggunakan zoom camera saya, karena memang tidak membawa binocular/ teropong, terlihat harimau sudah mulai mengantuk dan menjatuhkan kepalanya.

Tiba-tiba orang-orang dari tim lainnya yang saya minta untuk menunggu malah datang ke lokasi untuk memotret harimau tersebut, tentu itu mengganggu pekerjaan saya karena saat harimau belum terbius sempurna mereka datang, akhirnya saya meminta polhut untuk mengarahkan mereka agar menjauh dan tidak berisik, namun masih ada juga yang bandel dan tidak mau diatur, hanya karena ingin memotret harimau dari dekat tapi tidak mau mengikuti prosedur. Ya begitulah tantangan bekerja di lapangan dengan menghadapi banyak orang. Suara berisik dan banyak orang di sekitarnya bisa membuat harimau stress dan sulit tertidur/ terbius. Untuk itu butuh suara tenang disekitarnya selama proses pembiusan dan saat membangunkannya kembali.

Rescue harimau sumatera dari jerat pemburu di Kaur, Bengkulu
Setelah memastikan bahwa harimau telah terbius akhirnya saya mendekati harimau, menutup telinga dan matanya, kepalanya masih bergerak saat itu. Saya periksa syringe bius satu persatu, ternyata hanya satu syringe yang masuk sempurna lainnya obat tidak masuk. Pada saat itu orang-orang mendekati harimau dan saya berteriak, "jangan mendekat dulu, obat bius belum masuk semua". Spontan orang-orang pada menjauh kembali. Dosis sisanya saya suntikan handinject. Setelah polhut memutus tali sling kemudian harimau diangkat dan diletakkan di tempat yang teduh untuk diberikan pengobatan sementara, yakni pembersihan luka bekas jerat, pemberian antiseptik dan salep antibiotik, terapi cairan, pengobatan berupa injeksi antibiotik, antiinflamasi dan analgesik serta pemberian anti parasit karena ektoparasitnya banyak sekali. Selain itu juga dilakukan monitoring vital sign, yakni monitoring temperatur tubuh, detak jantung dan pulsus serta frekuensi nafas per 5-10 menit secara rutin. Selain itu juga dilakukan morfometri dan pemeriksaan fisik. Baru setelah akan bangun kembali baru kami masukkan kedalam kandang angkut.


Setiap evakuasi harimau, saya lebih memilih memegang bagian kepala, karena bila orang lain yang mengangkatnya, saat harimau mengangkat kepalanya menjelang sadar kembali kadang membuat orang takut dan menjatuhkannya. Tidak hanya itu, dengan memegang bagian kepala saya juga bisa mengawasi bila ada orang-orang usil yang ingin mencabut kumis harimau. Seperti saat itu, ada orang yang ikut memegang bagian kepala tiba-tiba mencabut kumis harimau, tentu membuat saya marah dan membentaknya.

Setelah dimasukkan ke dalam kandang angkut yang ditutup dengan daun-daunan, kondisi harimau sudah harus stabil baik detak jantung, pernafasan maupun suhu tubuh. Dan setelah sadar kembali dan bisa pindah posisi baru direkomendasikan untuk ditranslokasi. Karena pengangkutan harimau dalam kondisi belum sadar dari pembiusan akan sangat berbahaya karena akan sulit dikontrol kondisinya dan bila terjadi efek samping yang buruk dari pembiusan akan sulit diketahui dengan cepat sehingga tidak bisa mendapatan penanganan yang cepat pula untuk menormalkan kembali.


Kandang angkut yang telah berisi harimau diangkut lagi oleh John Deere, kemudian kandang angkut dipindahkan ke dalam mobil BKSDA Bengkulu. Siang itu sangat panas, sehingga sepanjang perjalanan harimau diberi minum dan disemprot air. Saat perjalanan keluar dari lokasi harimau terjerat saya memilih duduk di papan kayu yang berada di depan John Deere ternyata mengasyikan berada di depan sendiri saat melalui jalan buruk naik turun.

Saat harimau akan dibawa ke BKSDA Bengkulu, diperjalanan sudah menunggu banyak orang. Pertama kali yang kami jumpai adalah Camat dan Kapolsek Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur beserta rombongannya. Yang lebih mengejutkan lagi, mendekati jalan raya telah berderet orang bersepeda motor, truk dan beberapa mobil berhenti dan menunggu hanya ingin melihat dan memomtret harimau yang telah kami evakuasi. Harimau sejak dulu selalu menarik perhatian orang untuk dilihat. Untuk itu dalam pengangkutan harimau sebaiknya kandang ditutup agar harimau tidak stress bila melihat banyak orang. Stress membuat harimau terluka karena menabrak kandang.

Tiba di kantor BKSDA Bengkulu sekitar pukul 22.30 malam. Harimau langsung dipindahkan ke dalam kandang perawatan yang telah dipersiapkan dan diletakkan di tempat yang terisolasi. Tempat ideal untuk perawatan harimau liar harus terisolasi untuk mengurangi kontak antara manusia dengan harimau yang memicu stress dan luka traumatis.  Harimau liar sering meloncat dan menabrak jeruji kandang bila melihat orang yang mendekati kandangnya.

Menunggu kondisi harimau tenang kembali setelah stress karena penangkapan dan transportasi untuk penanganan lebih lanjut. Selanjutnya akan dilakukan operasi amputasi empat jari pada kaki depan sebelah kanan yang terkena jerat pemburu, karena kondisinya sudah tidak ada vascularisasi dan sudah nekrosis (mengalami kematian jaringan) dan membusuk akibat jerat sling. Bila tidak cepat dilakukan amputasi dikhawatirkan terjadi infeksi sekunder yang lebih serius dan bisa membahayakan nyawa harimau itu sendiri.

Jumat, 28 Maret 2014

Specimen Collection for Laboratory Diagnosis Workshop



Senin, tanggal 24 Maret 2014

Selesai meeting untuk koordinasi dengan kolega dokter hewan yang tergabung dalam Sumatran Tiger Health Forum, yakni diwakili oleh Dr. John Lewis dari International Zoo Veterinarian Group sebagai supervisor dan dokter hewan Taman Safari Indonesia serta saya sendiri di Safari Lodge, Taman Safari Indonesia Cisarua yang membahas tentang rencana kegiatan training untuk mendukung Sumatran Tiger Diseases Surveillance, sore itu dari Cisarua saya segera menuju ke kota Bogor untuk mengikuti meeting lainnya yakni workshop untuk capacity building dokter hewan yang diadakan oleh pemerintah Amerika Serikat dan Kementerian Pertanian yang difasilitasi oleh Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI). Tanggal 24 Maret kami semua peserta workshop sudah harus check in di Hotel Santika Bogor dimana lokasi workshop diadakan. Malam itu saya sampai di Hotel Santika yang satu areal dengan Botani Square Bogor. Saat check in dikejutkan dengan nama teman sekamar saya yang telah ditentukan oleh panitia adalah laki-laki, mungkin karena namanya mirip perempuan sehingga satu kamar dengan saya. Kemudian saya menelpon salah satu panitia dari PB PDHI untuk menanyakan kemungkinan dari kami ada yang bisa dipindahkan ke kamar lainnya. Saat menelpon saya tidak tahu bahwa yang menjawab telepon saya adalah Drh. Ratni, orang yang ada disamping saya....hehe :) Baru malam itu juga saya tahu bahwa yang mengadakan acara ini adalah Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) bersama Kementerian Pertanian RI dan U.S Government yang diwakili oleh USDA dan American Embassy.

Specimen Collection for Laboratory Diagnosis Workshop, 
Santika Hotel - Bogor - West Java, 25 - 27 Maret 2014 
Membuat saya agak salah tingkah setelah mengetahui bahwa panitianya adalah PB PDHI, karena saya diam-diam sedang menghindari bertemu dengan Drh. Wiwiek yang menjabat Ketua Umum PB PDHI, karena saya belum melaporkan hasil perjalanan saya mengikuti konferensi ilmiah tahunan AAZV (American Association of Zoo Veterinarian) setelah pulang dari United States. Karena sebelumnya beliau pernah menanyakan saya apakah sudah pulang ke Indonesia atau belum. Saat sedang menunggu di depan lift untuk menuju kamar saya di lantai tujuh, begitu lift terbuka yang ada dihadapan saya adalah Drh. Wiwiek dan spontan beliau langsung memanggil saya dan mengajak saya berbincang-bincang sejenak dan memperkenalkan saya dengan Dr. Darunee dari Thailand yang bekerja di USDA, salah satu pemateri dalam workshop yang akan saya ikuti. Hehehe.....berusaha menghindari malah bertemu :)

Malam itu saya hanya meletakkan travel bag saya di dalam kamar hotel kemudian keluar lagi ke cafe Telapak dengan seorang teman yakni Drh. Zulvi Arsan yang juga merupakan Ketua Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Aquatik dan Eksotik Indonesia. Kebetulan kami bertemu secara tidak sengaja di lobby hotel karena beliau sedang membantu PB PDHI mempersiapkan acara workshop, mumpung bertemu maka kami merencanakan untuk ngobrol bareng malam itu dan berusaha menghubungi kolega lainnya mungkin bisa ikut bergabung dengan kami. Banyak hal yang kami diskusikan saat itu. Malam itu saya juga bolak-balik mengecek hand phone untuk melihat message dan telepon masuk dari kolega dokter hewan lainnya karena kami juga berencana untuk menjenguk seorang kolega Drh. Retno Sudarwati, yakni dokter hewan Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua yang sedang sakit di rumahnya. Seharusnya hari itu saya rapat koordinasi dengan beliau tentang rencana mengadakan training tentang sample collection guna persiapan Sumatran Tiger Diseases Surveillance bagi petugas lapangan yang bekerja secara langsung untuk harimau liar di Sumatera  di Safari Lodge TSI, kebetulan beliau ditunjuk sebagai Ketua Sumatran Tiger Health Forum dan saya ditunjuk sebagai wakil beliau untuk Field Coordinator di Sumatera. Karena beliau sakit maka tidak bisa menghadiri meeting dan saya ingin menjenguknya dan sekaligus menyampaikan hasil meeting hari itu secara informal. Pada akhirnya pun saya hanya bisa berkomunikasi lewat telepon karena saya sendiri mulai malam itu jatuh sakit.

Selesai berdiskusi dengan Drh. Zulvi Arsan, saya langsung kembali ke Hotel Santika untuk beristirahat karena kondisi tubuh saya sudah menunjukkan gejala kurang sehat dan besok harus mengikuti acara workshop beberapa hari disana.


Selasa, tanggal 25 Maret 2014


Bersama pemateri workshop : Dr. Surapong Wongkrasemjit, 
Dr. Sontana dan Dr. Darunee Tuntasuvan 
Pagi itu kondisi kesehatan saya memang kurang baik, namun melihat materi workshop yang akan disampaikan menarik dan saya pun saat ini sangat membutuhkan pengetahuan tersebut membuat saya menjadi bersemangat mengikuti acara ini.  Peserta workshop didominasi oleh dokter hewan dari Kementerian Pertanian dan Puskeswan, hanya beberapa dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta dua orang dokter hewan dari Kementerian Kehutanan, salah satunya saya sendiri. Pemateri kami berasal dari Thailand, yakni Dr. Darunee Tuntasuvan, Dr. Surapong Wongkrasemjit dan Dr. Sontana. Adapun materi yang diberikan dalam workshop sebagai berikut :


1
Introduction and preparation for specimen collection
2
History taking & clean verses infected zones
3
Sample from live animal, carcass and environment
4
Sample collection, packing and transport
5
Basic laboratory tests (pathogen)
6
Basic laboratory tests (chemical agent)
7
Avian necropsy
8
Mammal necropsy
9
Gross pathology to enhance diagnosis
10
Demonstration : Necropsy
11
Demonstration : Specimen collection & discussion


Sebelum workshop dimulai semua peserta harus mengikuti pre-test dan begitu juga setelah workshop selesai diadakan post-test. Namun sayangnya yang dibahas dalam workshop ini lebih banyak tentang animal domestic terutama hewan ternak, dan pertanyaan saya yang berhubungan dengan field cases pada satwa liar belum banyak terjawab dan belum dapat dijelaskan semuanya akhirnya Dr. Darunee memberikan saya alamat email dan akan memperkenalkan saya dengan kolega dokter hewan yang bekerja di satwa liar di Thailand untuk diskusi lebih lanjut.

Alumnus Faculty of Veterinary Medicine, Airlangga University
Workshop ini berlangsung sampai dengan hari Kamis, tanggal 27 Maret 2014.  Dan kami peserta workshop baru check out dari Hotel Santika pada hari Jumat tanggal 28 Maret 2014. Karena peserta workshop adalah semua berprofesi sebagai dokter hewan maka workshop ini juga sekaligus sebagai ajang reuni karena kami bisa bertemu dengan teman-teman satu alumni dari universitas masing-masing.

Selasa sore selesai acara workshop hari itu, saya bersama dua orang kolega berjalan-jalan ke Botani Square untuk membeli obat-obatan agar kondisi saya menjadi lebih baik, dan makan malam bersama diluar hotel karena pada malam hari kami memang tidak mendapat jatah makan malam. Namun pada malam-malam berikutnya saya tidak keluar hotel untuk makan malam karena badan saya demam dan hilang tenaga. Saya lebih memilih makan malam di dalam kamar dengan memesan makanan dari hotel.


Rabu, tanggal 26 Maret 2014

Kondisi kesehatan saya makin memburuk, mungkin salah satu penyebabnya karena kecapekan. Pada saat makan siang saya satu meja dengan para pemateri workshop, saya banyak berdiskusi dengan Dr. Sontana dan Dr. Darunee Tuntasuvan. Diskusi informal diluar acara lebih efektif karena punya banyak kesempatan untuk bertukar pikiran, berbeda saat berdiskusi di dalam acara workshop yang mana waktu tanya jawab sangat dibatasi. Selain itu disaat coffee break saya juga banyak berdiskusi dengan perwakilan dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian terutama tentang dugaan adanya transmisi penyakit dari hewan-hewan domestik pada satwa liar. Saya pun sepertinya harus banyak belajar lagi tentang ilmu epidemiology, yang dulu waktu masih kuliah termasuk mata kuliah yang tidak saya sukai dan sekarang saya malah membutuhkannya dan harus mempelajarinya lagi, bahkan menurut saran beliau, saya diminta bergabung dengan asosiasinya dokter hewan yang berkaitan dengan itu. Di setiap workshop selalu saja ada orang-orang tertentu yang menjadi target saya untuk mendapatkan emailnya guna komunikasi lebih lanjut sebagai tempat saya bertanya, berdiskusi, berkonsultasi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan aktivitas profesi diluar workshop. Tidak hanya acara workshop yang penting bagi saya, tapi juga mengidentifikasi dan mengenal orang-orang yang expert dibidangnya yang berhubungan dengan profesi saya juga tidak kalah penting.


Kamis, tanggal 27 Maret 2014


Praktek Nekropsi di FKH - IPB
Kegiatan workshop tidak hanya dilaksanakan di Hotel Santika, Bogor tetapi juga di kampus Institute Pertanian Bogor (IPB). Di hari terakhir itu kegiatan kami praktek nekropsi dan menonton film dokumenter tentang cara nekropsi, koleksi sampel dan pemeriksaan laboratorium. Drh. Ratni, Drh. Zulvi serta saya sendiri sebagai operatornya secara bergantian. Begitu juga dengan dokumentasi kegiatan, kami bertiga secara bergantian sebagai petugas dokumentasi untuk PB PDHI dari hari pertama kegiatan sampai selesai.

Sejak Kamis sore sudah tidak ada acara lagi di hotel, sehingga saya berniat untuk bertemu dengan teman-teman anggota Sumatran Tiger Conservation Forum di kantor HarimauKita, kebetulan seorang teman dari Zoological Society of London yang bekerja di wilayah Sumatera Selatan juga sedang berada di Bogor, akhirnya kami semua bertemu di kantor HarimauKita. Malam itu saya berangkat ke kantor HarimauKita dengan dijemput seorang teman ke Hotel Santika. Berkumpul dengan teman-teman yang satu idealisme dan sama-sama bekerja untuk perlindungan harimau sumatera terkadang membuat lupa waktu, sekitar pukul 01.30 WIB saya baru kembali ke hotel. Baru esok harinya saya bersiap-siap untuk kembali pulang.

Training seperti ini sangat bermanfaat bagi praktisi dokter hewan untuk menunjang kinerjanya. Koleksi specimen dan pemeriksaan laboratorium merupakan hal penting sebagai upaya penegakan diagnosa guna mengetahui penyebab sakit atau kematian hewan atau satwa liar.

Senin, 24 Maret 2014

Meeting Koordinasi Sumatran Tiger Health Forum


Senin, tanggal 24 Maret 2014 pukul 3.50 AM alarm saya berbunyi, pertanda saya harus cepat bangun dan mandi karena sebentar lagi taxi akan menjemput saya di rumah. Pagi itu ada pertemuan dengan Dr. John Lewis dari International Zoo Veterinarian Group dan dokter hewan dari Taman Safari Indonesia di Safari Lodge, Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua pukul 9.00 AM. Pukul 5.00 AM taxi baru datang menjemput saya untuk mengantar saya ke terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Setengah jam kemudian saya telah sampai di terminal tersebut. Dan tiga puluh menit lamanya saya menunggu namun tak satupun bus jurusan Bogor yang parkir di depanku, ternyata saya salah tempat untuk menunggu. Seseorang yang menunjukan lokasi Bus jurusan ke Bogor ternyata menunjukan lokasi yang salah. Kemudian saya berpindah tempat dan bertanya kepada petugas di pos jaga, tak lama kemudian saya sudah menaiki bus yang saya cari.

Melanjutkan tidur sejenak dalam perjalanan karena saya masih mengantuk, tak lama kemudian saya telah sampai Terminal Baranang Siang di kota Bogor sekitar pukul 7.10 AM. Biasanya tak secepat itu, mungkin karena saya pergi pagi sekali sehingga terhindar dari macet. Kemacetan hanya terjadi dari arah Bogor menuju Jakarta, sedangkan dari arah Jakarta menuju Bogor bebas hambatan.

Sebelumnya berniat untuk menghubungi dokter hewan Taman Safari yang tinggal di kota Bogor untuk berangkat bersamaan menuju Safari Lodge, namun saya batalkan, sepertinya saya lebih tertarik untuk menaiki angkutan umum karena rasa ingin tahu angkutan apa saja yang bisa digunakan untuk menuju kesana. Ternyata saya perlu berganti angkutan kota sebanyak tiga kali untuk mencapai lokasi. Angkutan kota pertama saya hanya membayar Rp. 2500 menuju Ciawi, kemudian berganti dengan angkutan yang menuju ke Cisarua dengan hanya membayar sebesar Rp. 8000, dan untuk menuju Taman Safari Indonesia saya hanya membayar sebesar Rp. 5000,-

Sesampainya di Safari Lodge jam tangan saya menunjukkan pukul 8.05 AM. Hmm....akhirnya saya tidak terlambat karena meeting baru dimulai pukul 9.00 AM. Saya memilih menunggu para kolega di ruang tunggu di lobby hotel Safari Lodge. Tak lama kemudian Dr. John Lewis datang menghampiriku, sambil menunggu lainnya kami minum kopi dan berdiskusi sebelum meeting dimulai. Selain itu saya juga mendapat oleh-oleh sebuah microskop berukuran mini yang bisa saya pakai untuk bekerja di lapangan. Sebelumnya saya memang menginginkan benda itu sudah sejak setahun yang lalu dan saya pun berniat ingin membelinya karena saya sangat membutuhkannya. Tanpa diduga dia ingin membelikan itu untuk saya :) Dan ternyata dia emang sungguh-sungguh membawakan itu dari negaranya untuk saya. Seorang kolega yang melihat benda itu mengira bahwa yang kubawa itu adalah alat untuk memasak kopi....hahaha, mungkin karena bentuknya yang tidak terlalu mirip dengan microskop :)

Berbicara soal kopi ada cerita lucu pagi itu, Dr. John meminta bantuan saya untuk menyampaikan kepada petugas reservation untuk membantu mengeprintkan boarding pass-nya karena dia memang tidak bisa berbahasa Indonesia.  Setelah boarding pass tersebut diprint kemudian saya serahkan kepadanya. Ternyata dia membutuhkan lebih dari satu lembar. Kemudian dia mencoba ingin meminta tolong sendiri kepada reservation dan bilang, "I need two copies". Dan reservation menjawab, "with sugar or no sugar ?". Dan kolega saya pun kebingungan mendengar jawaban petugas tersebut. Akhirnya saya membantunya untuk menjelaskan bahwa John membutuhkan dua lembar print out dan bukan memesan kopi, dan saya juga menjelaskan kepada John bahwa copy dan kopi mempunyai kesamaan dalam pengucapan namun punya arti yang berbeda, yang satu artinya salinan dan satunya minuman coffee  :)

Mendekati pukul 9.00 AM kolega dokter hewan dari Taman Safari datang dan kamipun memulai meeting untuk berkoordinasi hari itu karena saya sendiri hanya bisa menyanggupi satu hari saja karena di hari itu pun saya masih harus mengikuti pertemuan dokter hewan di lain tempat. Beberapa hal penting dibahas untuk persiapan mengadakan training bagi dokter hewan dan petugas lapangan untuk persiapan rencana sumatran tiger diseases surveillance. Meeting hari itu tidak hanya dihadiri oleh dokter hewan yakni saya sendiri, seorang dokter hewan dari International Zoo Veterinarian Group dan tiga orang dokter hewan dari TSI namun juga dihadiri oleh direktur Taman Safari.

Meeting hari itu sudah selesai menjelang makan siang, dan sisa waktu kami gunakan untuk berdiskusi dan konsultasi tentang wildlife anaesthesia untuk berbagai jenis satwa liar. Sore itu sekitar pukul 5 PM saya langsung menuju kota Bogor untuk mengikuti workshop yang diadakan oleh Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia tentang Sample Collection and Laboratory Diagnosis. Peserta yang mengikuti workshop ini didominasi oleh staff Kementerian Pertanian, dan hanya saya dan seorang kolega dokter hewan berasal dari Kementerian Kehutanan.

Sabtu, 08 Maret 2014

Training 'Human-Tiger Conflict Mitigation' untuk Private Sector di Provinsi Jambi



'Human-Tiger Conflict Mitigation' Training at Private Sector - Jambi 
with Sumatran Tiger Conservation Forum

Sumatran Tiger Conservation Forum atau lebih dikenal dengan sebutan Forum HarimauKita (FHK) merupakan suatu forum peneliti dan pemerhati harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Pada bulan Maret 2014 berkegiatan mengunjungi private sector di Sumatera yang bersinggungan dengan habitat harimau sumatera di wilayah konsesinya, guna memberikan pelatihan bagi staff perusahaan sektor kehutanan tersebut tentang mitigasi konflik manusia dengan harimau.


Human-Tiger Conflict at Bengkulu
Habitat harimau sumatera yang tersisa sekarang ini sebagian besar berada diluar kawasan konservasi. Pembangunan dibidang ekonomi menyebabkan adanya tumpang tindih kepentingan atas suatu kawasan hutan, tidak hanya sebagai tempat hidup bagi satwa liar tetapi juga telah dimanfaatkan untuk keperluan perkebunan, pertambangan, pemukiman seperti untuk pemekaran desa dan lokasi transmigrasi, pembangunan jalan dan lain-lain.

Hal ini telah memicu intensitas human-tiger conflict makin lama makin meningkat dari waktu ke waktu karena berbagai sebab tersebut. Konflik antara manusia dengan harimau tidak hanya menyebabkan kerugian materi saja tetapi bahkan bisa menyebabkan korban jiwa, baik manusia yang menjadi korban atau terbunuhnya harimau yang terlibat konflik.

Berdasarkan laporan forum HarimauKita dalam kurun waktu 1998-2011 kurang lebih telah terjadi human-tiger conflicts sebanyak 563 kali dan telah menyebabkan 57 orang meninggal dunia dan 46 ekor harimau sumatera terbunuh. (Sumber : Laporan lapang Wildlife Conservation Society; Leuser International Foundation; Fauna and Flora International; Zoological Society of London; World Wildlife Fund; PHKA-Kementerian Kehutanan).

Salah satu cara Mitigasi Konflik Manusia dengan Harimau
Photo : Erni Suyanti Musabine
Meskipun pemerintah telah mengeluarkan pedoman penanggulangan konflik antara manusia dengan satwa liar, termasuk harimau sumatera didalamnya melalui P.48/Menhut-II/2008, namun implementasinya di lapangan belum maksimal untuk itu mendorong dilakukannya pelatihan dan sosialisasi tentang penerapan dari pedoman yang telah dibuat. Dan adanya kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan hutan yang dialihfungsikan untuk kepentingan lainnya seperti perkebunan Hutan Tanaman Industri (HTI) maka diperlukan adanya keterlibatan private sector (perusahaan-perusahaan pemegang konsesi) untuk terlibat langsung dalam upaya konservasi harimau sumatera di wilayah konsesinya. Dan karena latar belakang tersebut Forum HarimauKita memberikan pelatihan tentang human-tiger conflict mitigation bagi staff perusahaan dengan tujuan meningkatkan kapasitas staff perusahaan dibidang kehutanan dalam mitigasi konflik antara manusia dengan harimau dan satwa liar lainnya serta untuk meminimalkan terjadinya konflik antara manusia dengan harimau di wilayahnya.  

Kegiatan ini diadakan berdasarkan hasil annual meeting Forum HarimauKita di Padang pada bulan Oktober tahun 2013, kebetulan saya sendiri tidak bisa mengikuti acara tersebut karena pada waktu yang bersamaan sedang bekerja menjadi relawan dokter hewan di salah satu rumah sakit satwa liar di Seattle, Washington, U.S.A. Salah satu hasil rapat tahunan tersebut bahwa akan diadakan pelatihan tentang human-tiger conflict mitigation bagi private sector yang ada di Provinsi Riau dan Provinsi Jambi. Kebetulan saya beserta 5 orang anggota Forum HarimauKita lainnya yakni Hariyo T. Wibisono (Beebach) dari Fauna and Flora International; Drh. Kholis dari Fauna and Flora International; Nurhazman Nurdin dari Taman Nasional Berbak; Adnun Salampessy dari APP; Hariyawan Agung Wahyudi dari FHK mendapat amanah untuk menjadi pemateri dalam training tersebut.

Sebelum kegiatan dimulai kami berdiskusi melalui email karena masing-masing pemateri yang terlibat berada di provinsi yang berlainan, untuk menentukan waktu disesuaikan dengan kesibukan masing-masing. Dari hasil kesepakatan kami akan melakukan training di Provinsi Riau terlebih dahulu yakni di awal bulan Maret dan kemudian menyusul di Provinsi Jambi di akhir bulan Maret. Karena saya sendiri di bulan Maret juga memiliki jadwal lainnya yakni akan mengikuti workshop tentang Specimen Collection - Laboratory Diagnosis yang diadakan oleh Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Kebetulan oleh Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) - PHKA Kementerian Kehutanan saya ditugaskan untuk mengikuti acara tersebut. Selain itu juga masih memiliki jadwal lain yakni meeting dengan kolega dokter hewan dari Wildlife Vets International UK dan Taman Safari Indonesia untuk mempersiapkan training bagi dokter hewan dan petugas lapangan untuk rencana kegiatan 'Sumatran Tiger Diseases Surveillance'. Belum lagi kesibukan teman-teman pemateri lainnya yang masing-masing punya peran penting di institusinya, dan kami semua pun harus menyesuaikan jadwal masing-masing untuk mencari waktu yang tepat agar sama-sama bisa meluangkan waktu guna mendukung kegiatan forum HarimauKita tersebut.

Kabut asap yang melanda Provinsi Riau karena kebakaran hutan dan lahan telah mengganggu penerbangan dari dan menuju Pekanbaru, Riau. Hal ini juga yang menyebabkan jadwal pelatihan di Riau untuk sementara dibatalkan dan dialihkan ke Jambi. 

Minggu, tanggal 2 Maret 2014 saya berangkat ke Bogor, Jawa Barat. Saya singgah sebentar untuk menemui teman-teman yang bekerja di International Animal Rescue (IAR) di Ciapus, Bogor. Memanfaatkan waktu saat mengunjungi kota lain untuk bertemu teman-teman yang sama-sama bekerja untuk konservasi satwa liar Indonesia merupakan hal yang membahagiakan karena kami bisa berdiskusi banyak hal. Disana saya juga bertemu dengan staff IAR lainnya dan seorang volunteer dokter hewan dari Bangalore, India yang telah mendirikan lembaga animal rescue untuk pet animal di negaranya. Hmmm...sungguh menginspirasi.


Hari itu saya benar-benar merasakan berada di kota hujan Bogor, karena sore itu sepanjang perjalanan menjadi basah kuyup diguyur hujan deras bersama seorang teman yang mengantarkan saya dari Ciapus menuju kantor Forum HarimauKita di kota Bogor. 


Senin, tanggal 3 Maret 2014 saya bersama Hariyawan A. Wahyudi berangkat dari kantor Forum HarimauKita di Bogor.  Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, kami bertemu dengan teman-teman lainya yakni dua orang dari perusahaan APP dan Sinarmas Forestry dan dua orang lainnya anggota Forum HarimauKita yakni Adnun Salampessy dan Pak Beebach, kemudian kami bersama-sama melanjutkan perjalanan menuju ke Jambi. 

Pelatihan Mitigasi Konflik Manusia dengan Harimau di Lanskape Hutan Produksi bagi private sector ini akan diadakan pada tanggal 3 - 7 Maret 2014 di Sungai Tapah, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Diikuti oleh 10 orang staff PT. WKS, 10 orang staff PT. RHM, 2 orang staff BKSDA Jambi dan 2 orang staff BKSDA Sumatera Selatan. Bagi saya sendiri ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti kegiatan guna memberikan training bagi staff perusahaan dalam hal human-tiger conflict mitigation. Biasanya saya memberikan materi pelatihan bagi polisi kehutanan baik yang berasal dari Taman Nasional, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) maupun Dinas Kehutanan, unit-unit patroli hutan yang dibentuk oleh Lembaga Swadaya Masyarakat dan animal rescue team yang dibentuk oleh management authority ataupun Non-Government Organization.


Hutan koridor  di areal konsesi perusahaan HTI - Jambi
HarimauKita termasuk salah satu forum yang paling aktif dari sekian banyaknya forum di bidang konservasi yang saya ikuti. Dan adanya ide memberikan pelatihan bagi private sector dan melibatkan mereka secara aktif dalam upaya perlindungan harimau sumatera merupakan ide yang brilliant menurut saya. Mengingat di wilayah konsesi perusahaan perkebunan atau HTI juga merupakan wilayah rawan konflik manusia dengan harimau karena disekitar perkebunan juga merupakan habitat harimau sumatera dan mereka juga menyisakan hutan sebagai koridor yang merupakan habitat harimau saat ini yang mereka sebut dengan hutan konservasi. Seperti yang telah saya lihat saat menuju ke tempat pelatihan di Sungai Tapah, Tanjung Jabung Barat, Jambi. Memasuki wilayah perkebunan sejauh mata memandang yang terlihat adalah pohon akasia sebagai bahan baku kertas. Namun mendekati tempat pelatihan saya masih melihat hutan alami yang disisakan, dan itulah yang mereka sebut dengan hutan konservasi, hutan tersebut juga merupakan koridor satwa liar ke kawasan lindung. Didalamnya masih dihuni oleh gajah dan harimau juga satwa liar lainnya. Sepanjang waktu pelatihan angan-angan saya melayang ke berbagai daerah di Indonesia yang seringkali terjadi human-wildlife conflict, pembantaian orangutan oleh perusahaan perkebunan sawit di Kalimantan, peracunan gajah di lokasi perkebunan yang merupakan jalur jelajahnya dan lain-lain. Seandainya perusahaan-perusahan tersebut didorong untuk menyisakan hutan sebagai koridor satwa liar, dan diberikan sosialisasi 'P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia dengan Satwa Liar' serta memberi kesempatan untuk pelatihan staffnya tentang human-wildlife conflict mitigation dan mendorong perusahaan punya mekanisme yang jelas di internalnya dalam merespon terjadinya konflik satwa liar tentu akan meminimalkan korban akibat konflik baik korban jiwa yakni satwa liar itu sendiri dan manusia ataupun kerugian secara materiil.

Yang perlu direnungkan adalah bila pemerintah sudah terlanjur memberi ijin perusahaan untuk ekploitasi hutan yang merupakan habitat satwa liar untuk kepentingan perkebunan, pertambangan dan lain-lain, menurut pengalaman saya pribadi bahwa upaya dengan segala cara untuk menghentikan atau mencabut kembali kebijakan itu tentu tidak bisa dilakukan dengan mudah bahkan bisa dikatakan tidak akan pernah bisa, karena yang dihadapi bukan orang perorang tetapi banyak lembaga atau institusi yang mendukung kebijakan itu terjadi dari tingkat daerah (dari tingkat desa, kabupaten, provinsi) sampai pusat. Jadi melibatkan private sector dalam perlindungan satwa liar merupakan alternatif dan jalan tengah yang efektif dalam menyikapi kebijakan tumpang tindih kepentingan antara perlindungan satwa liar dan pembangunan di bidang ekonomi. Semua itu tujuan utamanya sama yakni meminimalkan terjadinya konflik antara manusia dengan satwa liar serta melakukan tindakan mitigasi konflik dengan mencegah terjadinya korban jiwa baik bagi manusianya sendiri maupun harimau dan mencegah kerugian materiil yang cukup besar dengan membuat mekanisme penanggulangan konflik yang jelas dan terarah sesuai aturan hukum yang berlaku. Dan yang penting adalah sosialisasi tentang sejauh mana tindakan yang boleh dilakukan oleh masyarakat sipil dan karyawan perusahaan dan mana yang tidak boleh dilakukan dan hanya boleh dilakukan oleh petugas terkait dalam setiap mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar.



Materi 'Penanganan Pertama Harimau Korban Konflik'
Photo : HarimauKita
Selasa, 4 Maret 2014 acara pelatihan Mitigasi Konflik antara Manusia dengan Harimau di Lanskape Hutan Produksi tersebut dibuka oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi. Kegiatan training berlangsung sampai dengan tanggal 6 Maret 2014. Materi yang diberikan berupa oral presentation dan praktek, antara lain  Ekologi dan Status Konservasi Harimau yang disampaikan oleh Hariyo T. Wibisono (Beebach) dari Fauna and Flora International; Identifikasi Tiger Sign dan Satwa Liar lainnya disampaikan oleh Adnun Salampessy dari APP; Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia dan Harimau, Penjelasan Permenhut P.48/Menhut-II/2008 dan turunannya disampaikan oleh Nurazman Nurdin dari Taman Nasional Berbak/WCCRT; Mitigasi Konflik Harimau dan Kiat-Kiat Menghindari Konflik dengan Harimau saat Bekerja di HTI disampaikan oleh Drh. Munawar Kholis dari Fauna and Flora International; Penanganan Pertama Harimau Korban Konflik yang disampaikan oleh saya sendiri.  Semua pemateri berasal dari lembaga/ institusi yang beragam dan mereka semua merupakan anggota Sumatran Tiger Conservation Forum (Forum HarimauKita). Dalam kesempatan ini juga dibagikan buku tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia dengan Harimau sebagai panduan bagi pekerja dan petugas di lapangan. 


Presentasi Peserta tentang Alur Penanganan Konflik
Manusia - Harimau di Perusahaan HTI
Photo : Erni Suyanti Musabine
Di hari terakhir pelatihan, kami ikut mendengarkan hasil diskusi dan presentasi peserta tentang mekanisme pelaporan dan kerja yang telah dibuat di perusahaan masing-masing tentang upaya penanggulangan konflik manusia dan satwa liar. Kembali saya membayangkan bila setiap perusahaan yang berdampingan langsung dan bahkan tumpang tindih dengan habitat harimau sumatera atau satwa liar lainnya dan merupakan daerah rawan konflik satwa liar, bila masing-masing mempunyai mekanisme kerja yang jelas dalam upaya human-wildlife conflict mitigation dan berperan aktif didalamnya maka ini akan sangat membantu petugas terkait dalam upaya penanggulangan konflik dan perlindungan satwa liar. Berharap kegiatan seperti ini akan bermanfaat bagi semua pihak dan bagi konservasi satwa liar itu sendiri tentunya. Dan P.48/Menhut-II/2008 menjadi aturan/ pedoman yang tidak hanya diatas kertas belaka tapi bisa diimplementasikan dengan tepat oleh setiap pihak yang terlibat dalam konflik manusia vs satwa liar. Hari Kamis, tanggal 6 Maret 2014 sore itu kegiatan Pelatihan telah usai dilaksanakan. Tanggal 7 Maret 2014 pagi, kami kembali pulang ke daerah masing-masing.