Tampilkan postingan dengan label BKSDA Bengkulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BKSDA Bengkulu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juni 2014

Chemical immobilization and medical check up on Leopard cat (Prionailurus bengalensis)


Kucing kuwuk atau Leopard cat (Prionailurus bengalensis) dulu dalam bahasa latin disebut Felis bengalensis adalah salah satu satwa liar Indonesia yang dilindungi oleh UU nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya karena keberadaannya terancam punah. Telah banyak diburu dan diperjualbelikan secara illegal di pasar gelap sebagai pet animal.  Pada tanggal 29 Oktober 2012 Balai KSDA Bengkulu telah merescue seekor leopard cat dari dalam toilet di sebuah Pondok Pesantren di Bengkulu. Punggung kucing tersebut mengalami luka serius selebar 5 cm. Setelah menjalani operasi penjahitan luka dan perawatan pasca operasi dengan pengobatan antiseptik, antibiotik, anti inflamatory, analgesik, fluid therapy dan anti parasit dari tanggal 29 Oktober 2012 sampai dengan tanggal 5 November 2012, serta dibantu dengan pemakaian elizabeth colar akhirnya kucing tersebut telah sembuh kembali dengan baik.

Kandang lama untuk Leopard cat (Prionailurus bengalensis)
Setelah perawatan medis secara intensif, luka bekas operasi sudah menutup dan mengering tanpa infeksi, dan rambut telah tumbuh kembali menutup luka. Kucing terlihat sehat dan tidak kusam. Guna mencegah terjadinya perubahan perilaku karena terlalu lama dikandangkan maka direkomendasikan untuk segera dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya yang aman dan ada ketersediaan pakan alaminya. Namun apa yang terjadi, saat akan direlease kembali ke hutan Pusat Konservasi Gajah Seblat di wilayah Bengkulu Utara, tiba-tiba ada perintah untuk dikembalikan ke kandangnya kembali dan tidak diijinkan untuk dilepaslirakan kembali. Karena alasan itu akhirnya kucing tersebut tetap berada dalam kandang sempit dan kotor serta panas selama setahun lebih, yakni dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014.

Setiap waktu saat melihatnya, berangsur-angsur rambutnya terlihat kusam dan rambut terlihat rontok di beberapa bagian punggungnya,  tampak tidak sehat dan stress, perilakunya pun berubah, selalu diam di pojok kandang, panting karena kepanasan dan kehausan, salah satu penyebabnya adalah kandang sempit yang dipenuhi dengan bekas kotoran dan sisa pakan, beratap seng dengan cuaca panas serta air minum tidak disediakan sepanjang hari. Selalu membuat sedih bila melihat kondisinya, dan tak satupun orang yang tergerak hatinya untuk membantu memperbaiki keadaan. Banyak yang merasa prihatin namun tak berbuat. Ingin sekali melepasnya kembali ke hutan guna mengurangi penderitaannya namun apadaya tidak tersedia fasilitas transportasi dan tim relawan untuk itu dan tentu itu akan dianggap kegiatan yang melanggar perintah pengambil kebijakan.

Kandang baru untuk Leopard cat bernama Rong Rong

Beberapa bulan terakhir aku mengecek sekeliling kantor Balai KSDA, berharap ada sesuatu yang bisa ditemukan dan dimanfaatkan untuk mengganti kandangnya yang sempit dan panas sementara waktu sebelum dilepasliarkan kembali. Sebelumnya aku mengajak mahasiswa Kedokteran Hewan UGM untuk membantu pelepasliaran leopard cat tersebut, namun karena kucing dalam kondisi tidak sehat maka rencana itu dibatalkan dan perlu perawatan medis terlebih dulu untuk diobati sebelum direlease kembali. Rencana dirubah untuk pemindahan kandang yang lebih layak. Kebetulan saat ini ada empat buah kandang harimau yang baru datang terbuat dari jeruji besi dan belum terpakai serta ada dua buah kandang transportasi untuk rusa, kandang tertutup berdinding triplek tebal dan sedikit ventilasi udara. Aku memilih kandang harimau yang lebih besar dengan ukuran 2m x 1m x 1m, menurutku ini yang lebih layak sebagai tempat perawatan medis sementara untuk leopard cat sebelum dilepasliarkan kembali. Tinggal memberi environmental enrichment didalamnya. memberi atap yang menutup sepertiga kandang dan jaring/ waring untuk menutup dinding kandang. Memberi tempat minum dan tempat makanan yang mudah diambil dan dibersihkan. Di dalam kandang juga ditumbuhi rumput liar, akan terlihat lebih alami dan bisa dimanfaatkan kucing untuk tidur di hari yang panas serta dimakan untuk menghilangkan rasa mual.

Kesempatan pemindahan kandang bagi leopard cat tersebut dimanfaatkan juga untuk pemeriksaan kesehatan. Karena pemindahan kandang kami lakukan dengan cara pembiusan (chemical restraint) yang dikombinasi dengan physical restraint dengan menggunakan jaring. Sehingga selama terbius kami bisa melakukan pemeriksaan medis. Pemeriksaan medis yang dilakukan diantaranya sebagai berikut :

No
Medical Activities
Comments
1
Estimasi Body weight dan physical restraint 
Estimasi berat badan sekitar 2 kg. 
Restraint dengan menggunakan jaring
2
Persiapan obat bius dan emergencies drugs

Pembiusan (handinject/ handsyringe)
Menggunakan alternative drug Ketamine HCl 50mg/ml dengan Immobilizing dose : 22mg/kg BB IM dan Maintenance dose : 11mg/kg BB IM (Handbook of Wildlife Chemical Immobilization, Terry J. Kreeger, MS, DVM, PhD, 1996)
3
Pengamatan fase-fase pembiusan

4
Menutup mata dan telinga selama pembiusan

5
Monitoring vital signs
Monitoring frekuensi pernafasan per menit, frekuensi detak jantung per menit dan temperature tubuh selama pembiusan setiap 5 menit sekali
6
Sexing
Berjenis kelamin jantan
7
Physical examination
mata, mucosa, kulit & rambut, extremitas, rongga mulut, dll
8
Pengobatan
Antibiotik, anti inflamasi, anti parasit, fluid therapy, antiseptik, rectal untuk memasukan cairan, dll. 
9
Pemberian salep mata

10
Koleksi sampel
Sampel darah (serum) dan scrapping kulit
11
Pemasangan microchip
Di punggung bagian caudal dari scapula
12
Scanning microchip
Microchip code : 000647A2FD
13
Body measurement
Data yang dikoleksi adalah panjang tubuh, panjang ekor, panjang kepala dari pangkal telinga sampai hidung, tinggi badan, keliling leher, keliling  dada, keliling perut, keliling kepala, jarak antar mata, jarak antar telinga, panjang dan lebar telapak kaki depan dan belakang, panjang taring.
14
Recording
Mencatat semua hasil pemeriksaan, pembiusan dan pengobatan, mulai obat bius disuntikan sampai satwa sadar kembali
15
Pemindahan kandang
Ukuran kandang 2m x 1m x 1m lebih layak bagi seekor leopard cat dibanding kandang yang sempit tanpa enrichment. Pemindahan dilakukan setelah kucing dalam kondisi sadar kembali. 



Vet students come from Gajah Mada University got training about  chemical Immobilaztion
in Leoprad cat at BKSDA Bengkulu. 
Adi melakukan pencatatan data fisiologi (vital signs),  Raka Bayu melakukan penanganan hypertermia dan monitoring tempertaure tubuh per 5 menit, Ade melakukan monitoring denyut jantung dan nafas per menit, 
Dinda mempersiapkan fluid therapy dan Widiah membantu menjaga posisi kepala 
dan menjaga jalan nafas agar tidak terhambat.

Kegiatan pembiusan leopard cat ini juga sekaligus untuk training bagi calon dokter hewan dari Universitas Gajah Mada yang sedang magang di BKSDA Bengkulu tentang Wildlife Physical Restraint and Chemical Immobilization dan Medical Examination untuk satwa liar, terutama jenis kucing-kucingan. Dan memberi gambaran kepada mereka seperti itulah yang biasa kami lakukan untuk pemeriksaan harimau sumatera korban perburuan dan konflik dengan manusia, meskipun tidak semua kegiatan medis yang dilakukan untuk harimau bisa kami praktekan semua disitu, masih ada beberapa pemeriksaan medis yang tidak bisa kami lakukan. Namun, paling tidak mereka bisa memahami prinsip-prinsip dasar anesthesia pada satwa liar. Dan yang perlu terus ditekankan bahwa pembiusan satwa liar itu tidak mudah, perlu persiapan yang matang baik obat-obatan pilihan yang tepat disesuaikan dengan species satwa dan jumlahnya memadai, peralatan yang sesuai serta kerjasama tim yang baik, serta diperlukan strategi dalam menghadapi satwa liar target selain itu yang seringkali terlupakan perlu monitoring vital signs terus menerus pada satwa liar setelah pembiusan sampai sadar kembali. Kenapa, karena nyawa taruhannya, keselamatan tim juga keselamatan satwanya, terutama apabila yang kita hadapi adalah satwa liar jenis kucing besar atau satwa liar buas lainnya.

Persiapan pembiusan. Pemilihan obat bius yang tepat,
penghitungan dosis sesuai species satwa, persiapan alat,
persiapan emergencies drugs. 
Pembiusan bukan sekedar untuk mempermudah handling/ pekerjaan dalam menghadapi satwa liar yang buas, dan bukan sekedar mempermudah petugas untuk memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya dengan aman bagi manusia. Namun dalam setiap pembiusan satwa liar, kita sudah harus memahami resiko pembiusan, efek samping yang buruk dari setiap obat bius yang kita gunakan juga kondisi lingkungan sekitarnya yang juga berpengaruh terhadap kondisi satwa selama terbius. Untuk satwa liar dalam kandang lebih baik melakukan pembiusan pagi atau sore hari disaat cuaca tidak panas karena akan mengurangi resiko hyperthermia. Hypertermia yang tidak tertangani bisa menyebabkan kerusakan otak dan kematian.


Sedangkan untuk satwa liar di habitat kita tidak bisa berkompromi dengan waktu, karena perlu kecepatan dalam setiap tindakan rescue, jadi yang diperlukan adalah persiapan antisipasi tindakan apa yang musti dilakukan bila terjadi hypertermia atau efek samping yang buruk lainnya seperti hypotermia, depresi nafas/ gagal nafas, henti jantung, shock, dan lain-lain. Sebelum pembiusan hal itu sudah harus dipahami oleh dokter hewan dan anggota tim sehingga bisa bertindak cepat untuk menormalkan kembali bila itu terjadi.


Vet student Raka Bayu
sedang monitoring temperature tubuh Leopard cat
Pembiusan leopard cat berjalan lancar meskipun kondisi satwa sebelum dibius kurang sehat, hanya terjadi hypertermia selama 13 menit, yakni suhu tubuh mencapai 40°C - 40.2°C pada awal pembiusan. Hal ini kemungkinan disebabkan kucing aggressive dan over exercise sebelum dibius saat physical restraint dan detak jantung yang kencang (tachycardia). Namun kami sebelumnya sudah mempersiapkan air dingin untuk mengompresnya serta dilakukan flushing cairan melalui rectal dengan menggunakan slang kecil yang dilakukan oleh Vet Student, Raka Bayu. Inilah cara yang sangat efektif untuk menurunkan suhu yang hypertermia. Kami telah mencoba cara ini beberapa kali pada rusa dan harimau. Akhirnya suhu tubuh kucing normal kembali berkisar antara 37.7°C - 38.5°C sampai kucing sadar kembali. Sedangkan respirasi (frekuensi nafas) normal selama terbius.





Vet student Raka Bayu sedang melakukan flushing cairan per rectal untuk penanganan hypertermia. 


Vet student Adinda Medina and me are searching V. Femoralis for Fluid therapy and Blood sample collecting

Selain itu juga dilakukan pengambilan data Body measurement yang dilakukan oleh Wahyu staff PEH BKSDA Bengkulu. Pemberian salep mata, karena selama pembiusan mata akan terbuka lebar dan tidak bisa berkedip, untuk itu guna mencegah terjadinya infeksi mata maka mata ditutup dengan kain dan diberi salep mata. Juga dilakukan pemasangan microchip dan scanning microchip yang dilakukan oleh Vet student Ade Fitria Alfiani. Fluid therapy dan koleksi sampel darah dilakukan oleh Vet student Adinda Medina bersama saya sendiri sebagai dokter hewan yang memberikan pelatihan teknis pada mereka. 


Vet Student Ade Fitria Alfiani melakukan pemasangan microchip untuk penandanaan individu dan scanning microchip

Setelah satwa mulai sadar dari pembiusan dilakukan persiapan kandang baru yang lebih layak bagi kucing tersebut. Pemindahan/ transportasi dan pelepasan satwa liar direkomendasikan setelah satwa dalam kondisi sadar dari pengaruh obat bius dan sudah bisa mereposisi sendiri tubuhnya, bila tidak maka akan menyulitkan kita melakukan monitoring kondisinya terutama vital signs. Kondisi fisiologi yang tidak terkontrol selama pembiusan bisa berakibat buruk bagi satwa liar bahkan kematian.

Persiapan kandang untuk perawatan sementara leopard cat dilakukan oleh Wahyu staff PEH dan Pipiet staff Penyuluh BKSDA Bengkulu. Selama dalam kandang perawatan ini kucing akan mendapatkan pengobatan sampai kondisinya sehat kembali dan siap dilepasliarkan ke habitatnya.

Memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita untuk memberi tempat tinggal yang lebih welfare pada satwa liar bukanlah hal yang menyalahi aturan menurutku meskipun hal itu tidak selalu mendapat dukungan. Justru kebijakan/ keputusan untuk meletakkan satwa liar dalam kandang sempit yang sangat tidak layak tanpa ada kejelasan untuk tujuan apa selama bertahun-tahun itu yang patut dipertanyakan. Dan seharusnya kita malu bila bekerja di lembaga yang seharusnya melindungi satwa liar namun tidak peduli kondisi satwa liar yang sehari-hari ada di sekitar kita. Padahal sekecil apapun bisa kita lakukan. Dan tidak ada hukum apapun yang memperbolehkan kita menyiksa hewan atau satwa liar. Satwa liar yang dikurung dalam kandang hidupnya tergantung pada manusia, dan sebagai manusia seharusnya kita yang lebih bijak memperlakukannya. 

Jumat, 26 April 2013

Harimau sumatera yang malang, Tesa....hanya 62 hari bertahan dalam perawatan

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) bernama TESA hanya mampu bertahan selama 62 hari saat menjalani perawatan medis di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu.  Akhirnya mati setelah mengalami kondisi kritis dan kesulitan bernafas selama dua hari.

Harimau sumatera 'Tesa' sesaat setelah sadar dari pembiusan
Tanggal 22 Pebruari 2013

Rescue (penyelamatan) harimau sumatera bernama Tesa
Hari itu tanggal 21 Pebruari 2013, saya sedang berada di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat di Bengkulu Utara untuk pengobatan gajah bernama Aswita dan Bona yang sedang sakit saat itu, kemudian mendapat informasi bahwa telah diselamatan seekor harimau sumatera dari konflik dengan manusia di Desa Talang Sebaris, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Bengkulu.  Hari itu saya langsung kembali menuju ke kota Bengkulu dengan menggunakan angkutan umum dengan menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam untuk bisa sampai ke kota Bengkulu.  Dari camp PKG Seblat saya masih harus menyeberangi Sungai Seblat dengan perahu dayung atau bisa juga menyeberang dengan bantuan gajah jinak, kemudian dilanjutkan dengan ojek motor selama kurang lebih satu jam melewati jalan buruk untuk mencapai jalan lintas antar  provinsi Bengkulu-Sumatera Barat/ Jambi, dari jalan lintas bisa menggunakan mobil travel menuju kota Bengkulu yang ditempuh selama 4 jam.  Kondisi jalan yang harus dilewati pun tidak cukup bagus, karena masih ditemukan beberapa tempat jalan rusak akibat mobil-mobil besar yang melintas dengan muatan melebihi batas beban jalan seperti truk batubara dan lainnya.

Harimau sumatera tersebut yang kemudian diberi nama Tesa, telah berhasil diselamatkan oleh tim rescue dari Seksi KSDA Wilayah II dengan menggunakan box trap dengan umpan seekor kambing, pada hari itu juga harimau tertangkap, selanjutnya dipindahkan ke kantor BKSDA Bengkulu untuk pemeriksaan dan mendapatkan perawatan medis. 


Pemeriksaan awal harimau Tesa
Harimau (Tesa) mengalami paresis pada kedua kaki belakang
Tanggal 22 Pebruari 2013 
Sore hari baru tiba di kota Bengkulu dan saya langsung melihat kondisi harimau tersebut, karena sebelumnya  tim rescue menginformasikan bahwa harimau dalam kondisi sakit, terluka, tidak bisa berjalan normal dan terjerat di leher.  Harimau diletakkan dalam kandang perawatan, yakni box trap yang dialihfungsikan untuk kandang perawatan dengan ukuran sekitar 2mx1mx1m tanpa ada kandang jepit dan lokasi kandang diisolasi agar tidak banyak orang yang melihat kecuali petugas pemberi pakan dan tenaga medis.  Karena satwa liar seperti harimau sumatera bila dipertontonkan ke banyak orang akan memicu stress dan perilakunya menjadi tidak normal. Perawatan harimau liar yang tepat adalah harus diisolasi untuk meminimalkan kontak langsung dengan manusia yang bisa menimbulkan stress pada satwa liar. Tampak tubuh bagian pinggul sampai ujung kedua kaki belakang tampak kusam dan rambut rontok serta terdapat luka gores kemungkinan karena kedua kaki tersebut saat berjalan diseret sehingga terluka.  Juga terdapat luka melingkar pada leher dengan masih terdapat jerat di leher yang belum lepas, luka tersebut kemungkinan terjadi saat harimau mencoba untuk melepaskan jerat sehingga membuat leher bagian atas terdapat luka yang dalam dan sudah terjadi myasis (berulat).  Harimau sangat lemah, saya pun masih bisa memasukkan tangan kedalam kandang untuk mengukur suhu tubuh guna mengetahui apakah harimau tersebut dalam kondisi demam atau tidak.  Serta melakukan palpasi pada tulang vertebrae dari ekor sampai dengan punggung untuk mengetahui apakah ada cidera tulang belakang atau tidak.  Harimau tampak tidak agresif sehingga saya lebih leluasa untuk melakukan pemeriksaan  fisik tanpa pembiusan.  Tapi harus tetap waspada sambil memeriksa dan terus mengamati gerakannya, bagaimanapun dia adalah tetap hewan buas :)

Pengobatan yang dilakukan pada sore itu adalah membersihkan luka terbuka yang terdapat pada leher dan kaki serta ekornya.  Dan harimau diberi minum terlebih dulu dan supplement sebelum dipuasakan untuk persiapan operasi esok harinya.

Luka pada leher karena jerat dan luka pada kaki belakang 
karena diseret saat berjalan, tanggal 21 Pebruari 2013
Saya selanjutnya menggali informasi dari tim rescue tentang kondisi harimau Tesa sebelum direscue.  Menurut informasi masyarakat setempat, bahwa harimau Tesa telah berkeliaran di Desa Talang Sebaris selama dua minggu, dan sudah dalam kondisi lumpuh pada kedua kaki belakangnya menurut warga yang pernah melihat secara langsung.  Berjalan hanya menggunakan kedua kaki depan dan menyeret tubuh bagian belakang dengan pinggul sebagai tumpuan. Harimau tersebut memangsa ternak ayam dan bebek mereka juga anjing kampung disana.  Harimau terkena jerat di leher, jerat tersebut  berupa tali nylon yang digunakan warga untuk menjerat babi hutan. Menurut pengakuan warga, harimau Tesa juga pernah jatuh kedalam jurang karena jalannya yang tidak normal itu dan akhirnya sanggup merangkak naik kembali dan berkeliaran di Desa Talang Sebaris untuk mencari makan.  


Pengobatan Harimau Tesa
Wildlife Rescue Unit - BKSDA Bengkulu
Operasi Harimau Tesa
Esok harinya, tanggal 22 Pebruari 2013 mulai pagi saya dan wildlife rescue unit BKSDA Begkulu  mempersiapkan segala perlengkapan untuk keperluan pembiusan, operasi penjahitan luka dan pengobatan harimau.  Karena peralatan dan obat serta anggota tim masih belum lengkap sehingga operasi ditunda siang harinya setelah shalat jumat. Setiap melakukan pembiusan setidaknya saya membutuhkan empat orang untuk membantu, yakni orang yang bertugas sebagai recorder untuk mencatat physiological data / vital signs selama pembiusan juga melakukan pencatatan tentang anesthesi dan pengobatan apa saja yang dilakukan serta kelainan apa saja yang ditemukan saat pemeriksaan.  Recorder ini juga sangat membantu untuk mengingatkan dokter hewan bila terjadi adverse side dari anesthesi seperti hypothermi/ hyperthermi, henti nafas, pulsus lemah/ hilang dan lain-lain sesuai dengan data yang didapat, sehingga bisa segera dilakukan perbaikan kondisi satwa oleh dokter hewan.  Selain itu juga dibutuhkan orang untuk pengukuran suhu tubuh, frekuensi pernafasan (respirasi) dan denyut jantung ataupun pulsus per 5-10 menit sekali.  Karena keterbatasan peralatan medis sehingga semua itu dilakukan secara manual. Juga memerlukan orang untuk melakukan dokumentasi dari setiap kegiatan yang dilakukan juga mendokumentasikan setiap hal yang ditemukan dalam pemeriksaan medis untuk bahan laporan tertulis, dan satu orang lagi sebagai runner yang sewaktu-waktu dibutuhkan oleh dokter hewan untuk membantu banyak hal sesuai kebutuhan. 

Dalam setiap penanganan harimau sumatera baik saat rescue dari jerat pemburu liar atau konflik dengan manusia, saat pengobatan maupun saat pemeriksaan nekropsi, dari anggota tim yang terlibat hanya saya sendiri yang berlatar belakang kedokteran hewan, sedangkan lainnya adalah mengkaryakan polisi kehutanan (Polhut), PEH (Pengendali Ekosistem Hutan), Penyuluh, Humas, Mahout (pawang gajah) dan lainnya sebagai Vet Nurses, namun mereka sedikit demi sedikit sudah terlatih secara langsung dilapangan dan tahu apa yang musti dikerjakan karena sering membantu saya dalam penanganan satwa liar.

Operasi penjahitan luka karena jerat leher
BKSDA Bengkulu, 22 Pebruari 2013
Pengobatan yang dilakukan setelah melepaskan jerat di leher harimau adalah pembersihan luka akibat jerat dan myasis, dan saya menemukan lebih dari 50 larva lalat (orang awam menyebutnya ulat) dalam otot (daging) yang terdapat didalam luka, kemudian dibuat luka baru sebelum penjahitan untuk penutupan luka, dilakukan juga pengobatan luka pada kedua kaki belakang.  Melakukan palpasi pada tulang vertebrae mulai dari leher sampai pangkal ekor, juga memeriksa seluruh persendian pada kaki terutama kaki belakang.  Dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap (hematologi) dan serologi juga sampel lainnya seperti rambut, urine, ektoparasit, serta pemeriksaan lainnya.  Selain itu juga pemberian fluid therapy karena harimau mengalami dehidrasi serta pemberian supplement, antibiotik, anti inflamasi, analgesik juga antiparasit injection.  Disamping pemeriksaan medis dan pengobatan juga dilakukan pengambilan data body measurement dan mendokumentasi corak loreng pada tubuh harimau untuk identifikasi individu.

Setelah harimau mulai sadar, kami kembalikan lagi ke dalam kandang perawatan.  Masih  dilakukan pemberan infuse/ fluid therapy, kemudian penyuntikan antidote agar harimau segera sadar kembali.  Proses sadar kembali dari efek pembiusan merupakan saat-saat yang kritis dan perlu dimonitoring terus kondisinya dan tidak boleh ditinggalkan, karena pada saat-saat seperti itu juga rawan terjadinya kematian.

Pada awalnya saya menduga bahwa pembiusan akan berefek buruk terhadap kondisinya karena sebelumnya harimau tersebut sangat lemah. Ternyata hasil pencatatan data vital signs selama terbius kondisinya sangat bagus dan tidak terjadi komplikasi selama terbius.  Semua berjalan baik, mulai dari saat proses pembiusan, selama terbius sampai saat penyadaran kembali.


Perawatan pasca operasi
Pengobatan luka, 20 April 2013 
Perawatan pasca operasi memang lebih sulit dibandingkan melakukan operasi itu sendiri, karena posisi luka di leher dan dikaki sehingga harimau bisa menggaruk lukanya dengan kaki depan yang kadangkala  menyebabkan luka menjadi terbuka kembali dan infeksi.  Setelah monitoring beberapa hari, ada beberapa jahitan yang terbuka/ jebol karena digaruk dengan kaki depannya tetapi tidak terjadi infeksi, karena luka tersebut dua kali sehari selalu dibersihkan dan disemprot antibiotik lokal pada bekas jahitan.  Akhirnya luka pada leher menutup dan tumbuh rambut kembali, seperti halnya luka di bagian kedua kaki belakang menjadi kering dan tumbuh rambut kembali sehingga tidak tampak kusam lagi.  Bahkan harimau terlihat sering berusaha untuk berdiri tetapi tidak sanggup dan akhirnya hanya berdiri bertumpu pada tulang pinggul. 


Pemberian obat per oral
Nafsu makan harimau cukup bagus sehingga tidak ada masalah dalam pemberian makanan, dan akhirnya pemberian obat (antibiotik, analgesik, supplement, anti inflamasi) secara per oral pun menjadi lancar, hanya terkadang harimau merasa bosan dengan makanan yang kurang bervariasi, sehingga perawat satwa perlu memberikan makanan yang berbeda pada saat harimau sudah mulai bosan dengan makanan yang sejenis dalam waktu lama.  Selain itu juga diperikan pengobatan antibiotik long acting injeksi. 

Sejak hari ketiga berada di BKSDA Bengkulu, tepatnya sehari setelah operasi untuk pengobatan, kondisi harimau semakin membaik, nafsu makan bagus, tidak tampak lemah dan lesu lagi sehingga tidak bisa lagi didekati bahkan dipegang karena dia sudah mulai menerkam dan berusaha mencakar setiap orang yang datang untuk merawatnya dan setiap ada pergerakan orang di dekat kandangnya. Ini terlihat normal seperti harimau-harimau sebelumnya yang pernah kami rawat.

Pada tanggal 19 April 2013, saya mendapatkan laporan dari perawat satwa bahwa harimau Tesa nafsu makannya turun, daging ayam yang diberikan tidak dihabiskan.  Saya meminta perawat satwa untuk mengganti dengan daging sapi, kemungkinan nafsu makannya turun karena sakit atau karena bosan terhadap daging ayam yang diberikan terus-menerus setiap hari. Ternyata semua daging sapi yang diberikan dimakan habis olehnya.  Esok harinya tanggal 20 April 2013, saya menemaninya makan sekalian membantu untuk membersihkan kandang dan mengobati luka decubitus yang telah sembuh menjadi luka kembali, dan terdapat luka baru dipunggung akibat bergesekan dengan jeruji kandang saat pindah posisi.  Saat itu perawat satwa membawa makanan berupa daging ayam, dan Tesa hanya makan beberapa potong saja, tidak semua dimakannya, sehingga saya memintanya untuk mengganti dengan daging lainnya. Semua makanan yang diberikan kepada harimau selalu dalam kondisi segar baru disembelih.  Seperti halnya harimau-harimau sebelumnya, bahkan bila diberi daging yang telah disimpan dalam kulkas (refrigerator) harimau tidak mau makan, untuk itu setiap pemberian pakan pada harimau, kami selalu membeli daging yang masih segar. 

Sebelum memasuki kandangnya, saya memperhatikan dari lubang pintu, harimau Tesa bersuara seperti sapi sehingga menarik perhatianku, beberapa kali dia bersuara seperti sapi.  Akhirnya berhenti bersuara saat dia mengetahui kehadiranku dan bangun menatap kearah pintu yang masih tertutup dengan penuh curiga.  Satwa liar yang satu ini memang sangat sensitif, meskipun saya datang mengendap-endap tanpa bersuara dan memperhatikannya dibalik pintu melalui lubang kecil di pintu, tetapi harimau tahu bahwa dibalik pintu ada orang yang memperhatikannya, mungkin dia tahu dari bau manusia yang sudah dia kenali.  Hari itu harimau masih tampak agresif dan terlihat selalu waspada sambil menghadap dan menyesuaikan dengan posisi orang yang ada di dekatnya, apalagi melihat saya yang sering bergerak di sekitar kandang untuk mengobatinya, membuat dia sangat terganggu dan marah.

Perilakunya mulai tampak tidak normal sejak tanggal 23 April 2013 siang itu harimau tersebut masih terlihat seperti biasa, namun sore harinya sekitar pukul 17.00 WIB saat perawat satwa akan memberi makan, harimau tidur dan tidak merubah posisinya, saat ada orang datang dan tidak tampak agresif. Kemudian pukul 19.00 - 20.00 WIB, saya datang kembali untuk melihat kondisinya sebelum memutuskan untuk pergi ke Pusat Konservasi Gajah Seblat besok paginya tanggal 24 April 2013 guna melakukan vaksinasi dan pemeriksaan gajah rutin serta pemberian obat cacing rutin pada semua gajah disana.  

Nafas harimau terlihat berat, lambat dan dalam, sepertinya ada gangguan dalam pernafasannya dan sesekali batuk seperti mau vomit (muntah).  Saya palpasi perutnya tampak kembung, sehingga malam itu saya melakukan pengobatan kembung terlebih dulu dan saya juga therapy supportive.  Malam itu saya meminta petugas penjaga kantor untuk memeriksanya setiap saat, dan saya meninggalkan kunci kandang untuknya.  Lokasi kandang harimau memang selalu terkunci untuk menghindari orang-orang keluar masuk lokasi tersebut, dan hanya saya dan petugas pemberi pakan dan yang membersihkan kandangnya yang membawa kuncinya.  Petugas penjaga kantor juga memberi penerangan di lokasi kandang agar kondisi harimau mudah dipantau dari luar kandang.  Saya juga berpesan untuk dihubungi sewaktu-waktu bila terlihat kondisi harimau semakin kritis.  Saya kembali pulang dan standby di rumah untuk mendapatkan informasi tentang kondisi harimau atau bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada harimau malam itu.  Saya melewati malam dengan penuh kecemasan, dan sudah berpikir apakah harimau Tesa masih bisa bertahan malam itu.  Paginya saya mendapat telepon bahwa Tesa kondisinya masih sulit bernafas dan sering membantingkan kepalanya ke jeruji kandang.  Seorang teman kantor menjemput saya pagi itu untuk segera ke kantor BKSDA Bengkulu, dengan membawa peralatan medis milik saya sendiri yang lebih lengkap.  Harimau tampak sering kejang, dan membantingkan kepala ke jeruji kandang, mungkin karena adanya rasa sakit yang luar biasa.  Dia hanya sanggup mengangkat kepala, dan menggerakan kaki belakang dan ekor, sedangkan posisi tubuh lainnya tetap seperti hari sebelumnya tanpa ada perubahan. Setelah memberikan obat-obatan injeksi untuk meredakan gejala klinis yang muncul kemudian mencoba memberi makanan hati sapi agar mudah dikunyah dengan cara disuapi, nafsu makan bagus dan sering mengangkat kepalanya untuk minta makanan lagi tapi sepertinya tidak sanggup mengunyah, makanan tersebut dikeluarkan lagi dari mulutnya.  Akhirnya pemberian makanan dicoba diganti dengan pemberian karbonhydrat dalam bentuk cairan yang bisa diberikan melalui infuse.  

BKSDA Bengkulu, tanggal 24 April 2013
Saya sudah merasa bahwa Harimau Tesa akan pergi bahkan sejak malam itu, karena kondisinya sangat lemah, sehingga untuk memegangnya pun bisa dilakukan, namun dia masih bisa angkat kepala, tidak hanya nafas bahkan denyut jantungnya juga sudah abnormal sangat pelan dan tidak teratur.  Meskipun begitu, apapun masih tetap diupayakan untuk memperbaiki kondisinya meskipun kemungkinannya sangat kecil.  Akhirnya tepat pukul 12.33 WIB harimau Tesa dinyatakan mati.  Kami semua yang selama ini merawatnya ada didekatnya dan menemaninya saat menjelang dia akan pergi.  Meskipun tak semua orang memperdulikannya disini, bahkan acuh dan tidak mau tahu, tetapi paling tidak Tesa akan merasakan bahwa masih ada orang-orang yang sudi memperhatikannya selama ini, dan berada disampingnya disaat dia akan menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Harimau sumatera yang malang, kondisinya membuat dia harus ditangkap, dan kondisinya juga yang membuat dia kehilangan nyawa.  Kematian Tesa meninggalkan misteri yang harus dicari jawabannya.  Untuk itu dilakukan pemeriksaan nekropsi (bedah bangkai) untuk mengetahui penyebab kematiannya dan pemeriksaan laboratorium baik histopatologi, bakteriologi dan virologi untuk penegakan diagnosa. Juga untuk mengetahui penyebab kedua kaki belakangnya yang mengalami paresis sehingga tidak bisa dipakai untuk berjalan secara normal, mengingat tidak ditemukan adanya cidera pada tulang belakang (spinal cord injury).  Ditemukan juga pneumonia purulenta karena hampir merata di seluruh permukaan paru-parunya terdapat benjolan/ nodule berisi pus (nanah) dan eksudat warna kehijauan.  Mungkin ini penyebab harimau mengalami kesulitan bernafas. Dan tidak ditemukan adanya endoparasit pada paru yang kadang juga menyebabkan adanya bentukan nodule pada paru yang berisi parasit.  Organ lainnya tampak normal kecuali saluran pencernaan.

Selama ini hanya bisa menduga-duga tentang apa yang dideritanya, tanpa adanya pemeriksaan lain yang mendukung, tanpa adanya peralatan medis yang memadai, dan terbatasnya dana untuk pemeriksaan tentunya bila diperiksa di tempat lain, oleh karena itu tidak banyak yang bisa diperbuat, dan tidak banyak hal yang bisa dideteksi secara dini, sehingga berpengaruhi terhadap therapy yang akan dilakukan. Memiliki peralatan medis yang memadai sudah menjadi kebutuhan mutlak mengingat konflik harimau di Sumatera khususnya di Provinsi Bengkulu makin lama makin meningkat akibat aktifitas manusia yang sudah mulai mempersempit  habitat-habitat harimau sumatera, dan tidak semua harimau yang direscue selalu dalam kondisi sehat tentunya, mengingat untuk meminjam peralatan dari tempat lain pun belum tentu bisa didapatkan dengan mudah, meskipun tujuannya mulia yakni untuk mendukung konservasi harimau sumatera yang sudah masuk kategori critically endangered species di negara ini menurut red list dari International Union for Conservation of Nature (IUCN).   Hanya dengan menunggu harimau sumatera mati dengan sendirinya tanpa bisa berbuat banyak karena keterbatasan fasilitas untuk penanganan, atau juga terlalu lama menunggu upaya untuk rujukan  ke tempat lain yang memiliki fasilitas yang lebih memadai, semua itu sungguh membuat perasaan tersiksa bagi perawatnya, karena tidak banyak yang bisa diperbuat secara maksimal dan akhirnya pun tidak bisa segera diambil keputusan yang tepat tanpa dasar yang kuat, apakah harimau tersebut harus dieuthanasia, ditranslokasi ke tempat lain untuk pengobatan lebih lanjut ataukah ada kemungkinan bisa pulih kembali dan mampu untuk dilepasliarkan kembali ???  Hal ini dipengaruhi karena selama ini dalam penanganan satwa liar terlebih satwa yang terancam punah, otoritas veteriner belum berlaku karena semua diputuskan oleh penentu kebijakan termasuk hal-hal yang berhubungan dengan medik konservasi, sangat berbeda dengan di negara lain dan tidak sesuai dengan yang tercantum dalam UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Bab VII tentang Otoritas Veteriner.  

Senin, 29 Oktober 2012

Surgery on a Leopard Cat 'Felix'

(operasi kucing hutan (kucing kuwuk) dengan peralatan medis dan obat-obatan yang sangat terbatas, tanpa ada meja operasi, ruang operasi yang steril, drape, baju bedah, perlengkapan sterilisasi, juga antidote, tetapi keterbatasan tak boleh menghambat pekerjaan, semua tetap harus dilakukan demi menyelamatkan seekor kucing hutan)

Leopard Cat / Prionailurus bengalensis / Kucing Kuwuk
at BKSDA Bengkulu 
Hari ini saya mendapat 'emergency call' dari seorang staff BKSDA Bengkulu yang menginformasikan bahwa segera melakukan rescue seekor kucing hutan (Prionailurus bengalensis) yang terluka di Bengkulu.  Karena kondisi saya yang masih kurang sehat akhirnya saya tidak sanggup untuk mengikuti tim rescue untuk mengevakuasinya, perjalanan jauh akan membuat saya semakin kelelahan dalam kondisi seperti itu.  Saya lebih memilih untuk mempersiapkan obat-obatan dan peralatan bedah dan menunggu di kantor BKSDA Bengkulu. 

Sebelum melakukan pengobatan masih banyak koordinasi yang harus saya lakukan dengan beberapa staff BKSDA Bengkulu.  Dua orang anggota Wildlife Rescue Unit yang akan membantu saya dalam handling dan pengobatan kucing tersebut, dan satu orang staff membantu untuk pengambilan dokumentasi untuk pelaporan hasil kegiatan.

Status present kucing hutan yang telah dievakuasi sebagai berikut :
Signalement
Jenis Satwa : kucing hutan (Prionailurus bengalensis)
Nama Satwa : Felix
Jenis Kelamin : Jantan
Umur : Dewasa

Anamnesa
Seekor Kucing hutan (Prionailurus bengalensis) terluka pada bagian punggung selebar 5 cm dan rambut disekitarnya rontok.  Kucing ditemukan di sebuah pondok pesantren di Bengkulu.

Pemeriksaan Umum
Luka sudah terjadi beberapa hari, tidak myasis dan tidak bernanah (kemungkinan karena kucing tersebut terus-menerus menjilati lukanya). Dan rambut disekitar luka rontok kemungkinan disebabkan karena itu.  Estimasi berat badan 2 kg.  Behavior normal (masih liar).

Kucing hutan ditemukan dengan luka di punggung
Gejala Klinis
Vulnus (luka) berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 5cm di atas scapula dan luka masih berdarah, dan dehidrasi.  

Diagnosa Klinik
Traumatis

Therapy
Luka setelah dibersihkan dan siap
dijahit untuk ditutup kembali
  • Kucing dipuasakan terlebih dahulu sebelum dilakukan pembiusan.  Pembiusan dilakukan sore hari menunggu cuaca tidak panas dan cukup waktu untuk puasa. 
  • Persiapan obat-obatan dan peralatan bedah serta tempat untuk pengobatan, mengingat BKSDA Bengkulu tidak memiliki ruang pengobatan/ klinik hewan.
  • Anesthesia (pembiusan), dengan dosis sebagai berikut :

Dose
Drug Used
Amo-unt (ml)
Route
Time Given
Success of Delivery
Effect (Stage)
Time of Effect
Immobili-zing Dose
Ketamine HCl 10%
0,3
Handsy-ringe/
Intra Muscular
14.55
Com-plete
Mild Seda-tion
15.01
Xylazine 10%
0,1
Ketamine HCl 10%
0,1
Handsy-ringe/
Intra Muscular
15.07
Com-plete
Heavy Seda-tion
Ketamine HCl 10%
0,1
Handsy-ringe/
Intra Muscular
15.25
Com-plete
Light anesthe-sia
15.45
Xylazine 10%
0,1


Hasil Monitoring Physiological Data (Vital Signs) per 5-10 menit sebagai berikut :

Time Taken (WIB)
Body Temperature
(C)
Respiration Rate (x/min)
Heart Rate/ Pulse (x/min)
15.45
39,5
30
-
15.55
38,7
27
-
16.08
38,6
33
-
16.15
37,8
-
-
16.24
37,4
-
-
16.41
35,1
36
-
17.00
36,7
39
-

Penjahitan luka
  • Pembersihan dan penjahitan luka.
  • Fluid therapy
  • Pemasangan Elizabeth colar
  • Perawatan pasca operasi.




No
Drug Used
Dose / Amount (mg/ml)
Route
1
Antiseptic Povidone iodine 10%
-
topical
2
Antibiotic Penstrep
0,4 ml
IM + topical
3
Gusanex spray
-
topical
4
Meloxicam 5mg/ml (Anti-inflamatory)
0,1 – 0,2 ml
SC

Prognosa
Fausta
Physical Restraint

Mengenal lebih jauh tentang kucing hutan (Felis bengalensis)
Kucing hutan atau nama ilmiahnya Prionailurus bengalensis berukuran sama seperti kucing rumah, warna rambut yang khas yakni kuning kecoklatan dengan belang-belang hitam di bagian kepala hingga tengkuk, dan pada bagian tubuh bertotol-totol hitam, bagian ventral putih dengan totol-totol coklat tua.

Reproduksi
Masa reproduksi kucing hutan adalah sepanjang tahun dengan masa kebuntingan sekitar 70 hari.  Setiap kelahiran dihasilkan 2-4 ekor anak.  Sampai umur 10 hari anak kucing hutan belum bisa membuka mata, tetapi begitu dapat melihat anak kucing hutan sudah bisa mencari mangsanya sendiri.  Kucing jantan membantu betina dalam mengasuh anaknya.  Masa dewasa kelamin anak kucing hutan saat mencapai umur sekitar 13 bulan.

Taxonomi kucing Hutan :
Kerajaan
:
Animalia
Filum
:
Chordata
Kelas
:
Mamalia
Ordo
:
Carnivora
Famili
:
Felidae
Genus
:
Felis
Spesies
:
Prionailurus  bengalensis

Prionailurus bengalensis
Habitat dan behavior kucing hutan :
Kucing hutan hidup di hutan sekitar perkampungan.  Kucing hutan membuat sarang di goa-goa kecil atau lubang-lubang bebatuan untuk tidur di siang hari.  Malam hari baru keluar mencari mangsa. Mangsanya berupa hewan-hewan kecil seperti burung, tikus, ular, kadal, kelelawar, kancil, dll. Ketangkasannya memanjat pohon dan berenang sangat membantu untuk berburu mangsa.  Wilayah penyebarannya meliputi  Rusia hingga Cina, India dan asia Tenggara.  Di Indonesia habitat kucing hutan berada di wilayah Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan. 

Status perlindungan :
Kucing hutan termasuk sawa liar dilindungi yakni oleh Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.