Senin, 20 Juni 2016

Edema Ventralis pada Gajah Sumatera


Setiap mahout memiliki cara yang berbeda dalam merawat gajahnya. Ada yang menggembalakannya jauh ke dalam hutan secara berkelompok sesuai dengan perilaku alaminya sebagai mahkluk sosial, biasanya ini dilakukan pada gajah-gajah betina di PLG Seblat. Hutan seluas tujuh ribuan hektar tentu masih bisa menyediakan pakan alami, dan ada sungai-sungai di dalam hutan dengan air bening mengalir didalamnya yang menyediakan air minum untuk mereka. Dan mereka bisa memilih sendiri kemana mereka ingin makan dan minum karena mereka bebas berjalan-jalan di hutan itu. Tujuannya adalah agar gajah-gajah tersebut mendapat cukup makanan alami baik variasi maupun kuantitasnya serta dapat mengeskpresikan perilaku alaminya dengan hidup bersosial. Namun ada juga yang lebih menyukai merawat gajahnya dengan cara soliter (sendiri-sendiri), baik gajah jantan maupun betina dengan cara dilepasliarkan ataupun diikat dengan rantai panjang agar bisa menjangkau tempat pakan yang luas. Cara ini sebenarnya lebih cocok untuk gajah jantan karena perilaku alaminya gajah jantan dewasa pada akhirnya akan memisahkan diri dari kelompok dan hidup soliter, dan untuk gajah jantan remaja membentuk kelompok kecil tersendiri dengan sesama pejantan remaja lainnya. Selain untuk alasan keamanan karena gajah jantan banyak diincar oleh pemburu liar guna diambil gadingnya dengan cara membunuh gajah-gajah itu.

Terkadang perawatan satwa tanpa memperhatikan behavior (perilaku alami) dan kondisi fisiologinya kerap kali menimbulkan gangguan kesehatan bila hal itu berlangsung secara terus-menerus. Sebenarnya hal ini menegaskan bahwa ada keterkaitan erat antara perawatan satwa dengan memperhatikan aspek-aspek animal welfare (kesejahteraan hewan). 

Seekor gajah bernama Dino sering diikat di pinggir sungai yang panas atau di pinggir hutan yang tidak banyak terdapat pohon rindang untuk berteduh, lokasinya terbuka dan hanya mengandalkan pakan tambahan berupa pelepah kelapa sawit dan king grass tanpa tersedia variasi makanan alami di sekitarnya, serta minum yang terbatas. Negara tropis yang dekat garis khatulistiwa tentu suhu lingkungan sangat panas di siang hari. Sedangkan gajah adalah binatang liar yang memiliki beberapa kelenjar keringat namun tidak dapat difungsikan untuk mengatur suhu tubuh mereka. Kulit gajah yang keriput membantu menjaga kelembaban sehingga gajah agar tetap sejuk dalam jangka waktu lama walaupun terkena terik matahari dan mengeluarkan panas melalui kulitnya yang keriput.

Edema di ventral abdominal pada Gajah Dino yang mulai mengecil 
setelah terapi selama 2 minggu
Perawatan gajah Dino dengan cara seperti itu berlangsung dalam waktu lama sehingga muncul gejala klinis edema ventralis.  Perawat gajah (mahout) menyebutnya gondok atau gondokan, mungkin karena seringkali muncul dibawah leher dan di submandibular (diantara tulang rahang bawah), meskipun penyebabnya bukan kekurangan Yodium sehingga menyebabkan pembengkakan kelenjar tiroid. Gondokan disini yang dimaksud adalah edema ventralis, pada gajah sering terjadi di bawah leher dan di submandibular serta di ventral abdominal (di bawah perut).

Edema di genitalia externa (alat kelamin luar) 
Penyebab edema diantaranya malnutrisi (kekurangan gizi), malabsorbsi usus terhadap protein, penyakit tiroid, penyakit paru kronis, penyakit ginjal, penyakit hati, gagal jantung dan luka bakar. Penyebab lainnya yang sering terjadi karena gajah tidak bisa bergerak dalam jangka waktu lama, biasanya terjadi pada gajah-gajah dalam transportasi hingga belasan jam berdiri dalam truk atau berhari-hari tanpa memberi kesempatan untuk berubah posisi, edema terjadi pada kaki bagian bawah. Bila terjadi pada semua kaki dan bila tidak disertai tanda-tanda peradangan maka merupakan akibat dari proses sistemik. Paling sering disebabkan oleh cairan yang berlebihan di dalam tubuh sehingga cairan keluar dari pembuluh darah dan berkumpul di kaki yang merupakan bagian terendah dari tubuh. Cairan tersebut dapat berkumpul di kaki karena faktor gravitasi, selain itu berkumpulnya cairan pada kaki juga sebagai akibat pelebaran pembuluh darah, keluarnya cairan dari pembuluh darah dan adanya penyumbatan sehingga cairan tidak dapat naik.


Edema. Edema may be seen in the submandibular or ventral abdominal areas. Poor food quality may be a cause and hypoproteinemia may be associated. Ventral edema is also seen in cows that have recently given birth. Increasing the protein in the diet may help 
Ventral Edema
Ventral edema (“dropsy” or “rot”) may involve the ventral abdominal wall, the submandibular area, or the tissues surrounding the external genitalia. A single, specific, underlying etiology has not been identified. Ventral edema has been associated with parasites, kidney failure, tuberculosis, chronic diarrhea, salmonellosis, retained placenta, and a wasting syndrome of unknown etiology. Chronic and severe infection by Fasciola jacksoni invariably. Hypoproteinemia may be present, especially with severe parasitic infections. It is not always associated, however, and is probably not the sole underlying mechanism. Ventral edema occurs commonly among captive elephants in North America as the only clinical sign and has been variously treated with diet change, antibiotics, and diuretics. The majority of cases are non–life threatening, and resolve without treatment, with signs rarely persisting more then 3 months. Ventral edema may be a nonspecific response to a variety of physiological stressors. Further research is needed.

Reference : "Biology, Medicine, and Surgery of Elephants" 
by Murray E. Fowler and Susan K. Mikota

Selain itu cuaca panas juga dapat sebagai penyebab edema. Hal ini diduga karena terjadi Hypovolemik shock yang terjadi akibat shock karena dehidrasi karena kurang cukup minum dalam jangka waktu lama sehingga memicu terjadinya edema. Namun hal ini masih perlu dibuktikan/ diteliti dan masih dalam perdebatan. Karena gajah - gajah seringkali mengalami edema ventralis bila sering kepanasan terus-menerus tanpa bisa berteduh ataupun mendinginkan tubuh dengan semprotan air ataupun lumpur serta tidak dapat menjangkau air minum sepanjang waktu. Dalam kasus ini kondisi nutrisi baik serta hasil pemeriksaan feces tidak ada indikasi infestasi endoparasit serta tidak menunjukkan adanya hypoalbuminemia dari hasil pemeriksaan darah, serta tidak ada indikasi penyakit lainnya, namun setiap kali berada di tempat panas berhari-hari muncul gejala klinis edema ventralis. Perlakuan yang diberikan sederhana yakni merubah lokasi penggembalaan, ditempatkan dalam hutan yang teduh dan biasanya dalam waktu 3 hari s/d 3 minggu akan kembali normal dan tidak terjadi edema ventralis kembali. Lamanya pemulihan tergantung ringan beratnya edema yang terjadi, atau tergantung banyaknya edema yang terjadi, yakni di satu lokasi atau di banyak lokasi. 

Gajah Bona mengalami edema di ventral abdominal dan di kepala bagian bawah
karena malnutrisi, Photo tanggal 20 Januari 2012
Mekanisme terjadinya edema ventralis pada gajah seringkali karena penurunan tekanan osmotik intravaskuler. Hal ini bisa dilihat dari hasil pemeriksaan serology menunjukkan adanya hypoproteinemia terutama albumin. Kondisi ini dapat mengurangi tekanan osmotik koloid intravaskuler yang mengakibatkan terjadinya peningkatan filtrasi cairan dan penurunan absorbsi yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya edema. Hypoalbuminemia sebagai akibat dari malnutrisi (kekurangan gizi) atau malabsorbsi terhadap protein, bisa karena pakan kurang dalam jangka waktu lama.  Kehilangan albumin dalam plasma dapat terjadi juga karena penyakit gastrointestinal dengan kehilangan darah yang parah seperti infeksi yang disebabkan parasit (penyakit parasiter) terutama cacing. Edema ventralis pada gajah sering terjadi pada tubuh gajah bagian ventral yakni bawah leher, di submandibular dan ventral abdominal (di bawah perut).

Edema ventralis di Submandibular
Setelah mengumpulkan informasi dari berbagai orang (mahout) untuk mengetahui riwayat perawatan gajah Dino dan hasil pemeriksaan sampel feces, serta gejala klinis yang terlihat maka tindakan yang dilakukan adalah memindahkan gajah Dino untuk digembalakan di hutan dengan kondisi lingkungan sekitar yang teduh (tidak panas), perlu cukup minum dan variasi nutrisi, serta pemberian obat cacing sesuai dengan jenis telur cacing yang telah teridentifikasi dalam pemeriksaan mikroskopis meskipun infestasi cacing hanya sedikit (+). Tidak tersedia obat cacing yang efektif untuk pemberantasan Trematoda, yang ada di klinik hanya Albendazole tablet. Akhirnya saya mendapatkan sumbangan obat cacing Oxyclozanide pasta dari kolega dokter hewan yang sangat efektif untuk pengobatan pharamphistomiasis  yakni tropical disease pada gajah, dan efektif untuk pengeluaran cacing dewasa melalui feces, yang diberikan selama tiga hari berturut-turut secara per oral. Namun diduga penyebab edema ventralis bukan karena peyakit parasiter tetapi lebih cenderung karena terpapar cuaca panas dan nutrisi yang buruk, karena sebelum pemberian obat cacing, edema ventralis sudah mengecil hanya dengan memindahkan gajah ke tempat teduh dan memberikan makanan yang lebih bervariasi. 

Dalam waktu tiga minggu dengan perlakuan khusus dalam perawatan harian maka gajah bisa sembuh kembali. Edema ventralis pada tubuh gajah bagian bawah (ventral) sudah tidak terlihat lagi. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah melakukan pencegahan agar hal itu tidak terjadi lagi. Dan ini perlu kerjasama yang baik dengan perawat gajah.

Minggu, 19 Juni 2016

Traumatic Ulcer pada Rongga Mulut Gajah


Seekor gajah bernama Gara tampak lemah, kehilangan nafsu makan dan minum selama beberapa hari, saat berjalan tampak kedua kaki depan beradu/ bersentuhan seperti enggan mengangkat kakinya pertanda bahwa gajah tersebut kehilangan tenaga, juga tampak tremor (gemetar) serta sempoyongan. Gejala klinis yang paling mencolok adalah hypersalivasi yakni sekresi air liur berlebihan dan terus- menerus. Banyak faktor penyebab yang membuat produksi air liur berlebihan, diantaranya pankreatitis, penyakit hati, gastroesophageal reflux, keracunan bahan kimia tertentu, fraktur atau dislokasi pada rahang dan juga ulcer dan infeksi pada rongga mulut dan lain - lain.  

Sebelumnya sudah pernah menangani dua ekor satwa liar yakni gajah sumatera bernama Ninda dan harimau sumatera bernama Giring yang memiliki gejala klinis yang sama yakni hypersalivasi. Keduanya memiliki penyebab yang sama yakni ulcer pada rongga mulut, baik pada lidah maupun gusi. Penyebab ulcerasi di rongga mulut bermacam-macam, bisa karena traumatik, agen penyakit seperti bakteri, virus dan jamur serta penyakit sistemik.

Ulcer pada Lidah Gajah di PLG Seblat, Bengkulu. Photo : Erni Suyanti
Pemeriksaan awal pada gajah yang dilakukan adalah mengintsruksi gajah untuk membuka mulutnya dan memeriksa rongga mulut. Ditemukan ada beberapa luka pada lidah dari mulai bagian depan sampai tengah lidah, kondisi gusi dan gigi baik tidak ada masalah. Kemungkinan hypersalivasi disebabkan oleh luka tersebut, sehingga menurunkan nafsu makan dan minum selama beberapa hari dan akhirnya kehilangan tenaga dan lemas. 

Dalam pengobatan gajah satu hal yang tidak kalah penting adalah pelatihan gajah untuk penanganan medis agar gajah terbiasa dan tidak terkejut saat diperiksa dan diobati pada bagian-bagian tertentu di seluruh tubuhnya. Ada 33 jenis pelatihan gajah untuk keperluan penanganan medis yang dilakukan dengan tujuan berbeda dihubungkan dengan kasus-kasus sakit/ penyakit yang sering dialami oleh gajah-gajah disini. Sebagai contohnya terbiasa membuka mulut untuk diperiksa, mengangkat kaki untuk diperiksa kuku dan telapak kakinya, terbiasa disentuh matanya untuk mempermudah pemberian obat salep atau tetes mata, terbiasa dipegang bagian telinga untuk koleksi sampel darah, terbiasa di rectal untuk berbagai keperluan dan lain-lain tanpa mereka merasa takut dan melukai petugas, Hal ini untuk mendukung agar gajah-gajah yang sakit bisa diperiksa kondisinya dan diobati dengan aman tanpa membahayakan petugas baik mahout maupun dokter hewan. Di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, kami tidak mendukung adanya pelatihan gajah untuk animal show, namun yang wajib dilakukan adalah pelatihan gajah untuk keperluan penanganan medis, yakni dengan cara membiasakan menyentuh seluruh bagian-bagian tubuh dari satwa gajah setiap hari dengan memperkenalkan/ memperdengarkan instruksi kata-kata yang konsisten. Gajah adalah binatang yang sangat pintar dan punya daya ingat sangat kuat, bila sesuatu kata dan perlakuan dilakukan berulang-ulang secara konsisten pada akhirnya mereka akan memahaminya dan mengingatnya dengan baik, sebaik mereka mengingat dimana lokasi pakan alami dan mineral di hutan ini.

Ulcer pada Lidah Gajah di PLG Seblat, Bengkulu. Photo : Erni Suyanti
Untuk pengobatan gajah Gara saya tidak memerlukan physical restraint dengan diikat di rung atau pohon agar gajah tidak lari atau menolak pengobatan, menurut saya dimanapun bisa dilakukan untuk kasus ini. Bersama mahout dan mahasiswa Kedokteran Hewan yang sedang magang di PLG Seblat kami mengobati gajah Gara, dalam ruang obat saya hanya menemukan obat kumur antiseptik Povidone iodine yang bisa digunakan, kemudian kami membersihkan ulcer dengan antiseptik tersebut menggunakan kapas yang terbungkus kassa yang ditetesi cairan antiseptik untuk pembersihan semua luka sampai bersih. PLG Seblat terletak di daerah terpencil sehingga kecamatan terdekat pun tidak tersedia apotek yang menjual jenis obat-obatan selengkap di Kota Bengkulu. Sehingga pilihan saya adalah Albothyl obat tetes yang sangat umum dan saya yakin pasti tersedia di apotek terdekat. Akhirnya saya mendapatkan sumbangan Albothyl dari Polisi Kehutanan. Saya minta mahout yang memberikan pengobatan Albothyl karena lokasi gajah cukup jauh di dalam hutan dan setelah pengobatan pertama kami ke hutan untuk memeriksa kondisinya kembali dan kesulitan mencari gajah Gara yang telah berjalan-jalan jauh bahkan sampai perbatasan kawasan hutan TWA Seblat dan HPK untuk mencari makanan alami. Saya masih memonitor kondisinya selama tiga minggu, untuk mengetahui apakah ulcer pada rongga mulut benar-benar telah sembuh, jika tidak maka harus dilanjutkan dengan pemeriksaan khusus seperti koleksi sampel untuk pemeriksaan mikrobiologi, serology dan bahkan biopsi jika dibutuhkan. Beberapa hari kemudian saya mendapat informasi dari mahout gajah Gara bahwa kondisi gajah sudah membaik, luka sudah mengering dan sembuh kembali dan nafsu makan dan minum normal kembali, bahkan gajah tersebut sudah aktif berjalan-jalan di dalam hutan dengan normal, serta tidak mengalami hypersalivasi kembali. 

Pada saat gajah tersebut sakit saya melaporkannya ke pimpinan yang di Kota Bengkulu dan diteruskan ke pejabat otoritas di Jakarta. Saat itu instruksinya baik secara tertulis dan melalui pesan phone cell bahwa dinstruksikan semua gajah yang sakit untuk dibawa ke Rumah Sakit Gajah agar dapat diobati. Pada saat itu saya memang sedang menangani 4 (empat) ekor gajah sumatera yang sedang sakit dengan berbagai sebab. Saya lebih suka berfikir dan bekerja secara logis, praktis dan efisien dalam penanganan permasalahan kesehatan satwa, meski pada akhirnya saya tidak melaksanakan instruksi tersebut toh saya yakin gajah bisa disembuhkan dengan perawatan sendiri meskipun tanpa memiliki banyak fasilitas obat-obatan yang dibutuhkan. Pada kenyataannya membuktikan bahwa gajah - gajah itu akhirnya bisa disembuhkan. Karena kami tidak ingin menghambur-hamburkan anggaran negara dan banyak dana hanya untuk transportasi gajah guna tujuan pengobatan ke provinsi lain dan masih harus mengembalikan lagi ke Bengkulu, tentu itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, seandainya boleh memilih lebih baik dana sebanyak itu bisa kami pakai untuk pembelian obat-obatan, peralatan medis agar memadai serta untuk biaya pemeriksaan laboratorium bila kami membutuhkannya.

Kamis, 16 Juni 2016

Jabatan disesuaikan dengan latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap kinerja dan hasil kerja


Jadi ingat lagi tahun 2012 lalu, saat aku dikembalikan bertugas untuk menangani satwa di Pusat Latihan Gajah Seblat di Bengkulu Utara. Pada saat itu sedang ada masalah serius, yakni seekor bayi gajah sumatera mengalami malnutrisi dan hampir mati. Akhirnya ada instruksi dari pejabat di Jakarta bahwa apapun yang terjadi gajah itu tidak boleh mati.

Saya bekerja di Pusat Latihan Gajah Seblat sudah sejak tahun 2004, dimulai dari menjadi tenaga kontrak sebagai dokter hewan yang digaji 300 ribu per bulan, masih jauh lebih tinggi gaji orang lulusan SMA di kantor tersebut, itupun hanya 50% yang saya terima dan sisanya hilang entah kemana sebagai dalih untuk tips petugas yang mengeluarkan dana. Saya tidak mempermasalahkannya, toh selama ini biasa bekerja sebagai sukarelawan. Saya bersedia juga atas dasar merasa prihatin dengan kondisi gajah-gajah disana tanpa ada dokter hewan. Sampai akhirnya pada tahun 2009 saya memutuskan bersedia menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) meski pada awalnya ragu dengan pekerjaan itu dan ingin bekerja kembali di Non-Government Organization seperti tawaran yang selalu datang silih berganti selama saya bekerja di Bengkulu. Kala itu saya tidak yakin akan sanggup menjadi seorang PNS, entah mengapa saya berpikiran seperti itu, bagi saya itu beban berat apabila tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik untuk mengabdi pada negara, padahal gaji kami berasal dari pajak rakyat. Atau mungkin saya sudah bisa mengukur  dan menilai diri saya sendiri, sebagai seorang yang selalu berpikir kritis dan ingin bisa bekerja totalitas untuk kepentingan satwa liar sesuai dengan latar belakangku sebelumnya yang pernah sebagai aktivis dan relawan untuk konservasi satwa liar di Indonesia, serta cara berpikirku yang sederhana, efektif dan efisien serta cenderung praktis dan logis tanpa mau berbelit-belit, sejak dari awal itu kutakutkan akan menjadi kendala nantinya terutama bila berhubungan dengan kepentingan oranglain, berhubungan dengan birokrasi dan semacamnya. "Apakah saya bisa ?" Pertanyaan yang terus terulang di kepalaku tanpa tahu jawabannya.

Bekerja sebagai pegawai pemerintah kami seringkali dihadapkan dengan pimpinan baru yang datang dan pergi silih berganti dalam jangka waktu yang tidak lama, bisa kurang dari satu tahun atau paling lama lebih dari dua tahun. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda, pola pikir yang berbeda sehingga kebijakan yang dihasilkan pun berbeda. 

Saya masih ingat betul, saat itu bulan Agustus tahun 2011, saya dipanggil oleh salah seorang pejabat yang mengatakan bahwa mulai saat itu saya tidak perlu lagi menangani hal-hal yang berhubungan dengan medis bahkan termasuk laporannya. Saya kurang tahu apa masalahnya, dan saya mencoba untuk menerka-nerka, apa mungkin mereka keberatan dengan isi laporan saya yang apa adanya tanpa rekayasa, ya itulah diriku dan itulah tuntutan profesiku, semua memang harus dilaporkan apa adanya. Atau tidak menyukaiku secara pribadi, atau tidak menyukai pekerjaanku. Entahlah........
Yang jelas enam bulan setelah itu seekor bayi gajah kondisinya kritis, seperti tulang berbungkus kulit yang lebih mirip plastik hitam dan berjalan sempoyongan. Saat aku mengunjunginya untuk pemasangan microchip bersama Tim dari KKH-Kemenhut, TSI dan Australia Zoo saya mendapatinya dalam kondisi memprihatinkan. Saya pun bertanya-tanya siapa orang yang diberi tanggung jawab untuk kesehatan gajah disana setelah saya diberi instruksi untuk tidak menanganinya.

Bersama kolega dokter hewan dari Australia Zoo Wildlife Hospital
dan Gajah Bona sebelum Terapi
Kondisi kritis pada gajah dan instruksi dari Jakarta yang mendorong ada kebijakan baru untuk mengembalikan saya kesana sebagai dokter hewan. "Kenapa nasib satwa dipermainkan dan dikorbankan hanya untuk keinginan manusia ?"  Tentu tidak mudah mengembalikan kondisi gajah seperti itu untuk sehat kembali kalau tidak ada keajaiban, menurutku. Apalagi tanpa ada dukungan dana baik dari pihak-pihak terkait maupun dari pihak lain (mitra) yang bekerja untuk konservasi gajah. Posisiku yang membuatku bisa membuat terobosan guna menyelamatkannya, karena saya dikembalikan ke tempat tersebut tidak hanya sebagai dokter hewan tetapi juga sebagai Koordinator Pengelolaan PLG Seblat, bahkan juga Koordinator Tim Patroli CRU di TWA Seblat. Kami semua yang dilapangan, ya mahout, supplier pakan gajah saling membantu dan bekerja sama untuk penyelamatan bayi gajah itu yang perlu mendapatkan pengawasan dan perawatan selama 24 jam. Hanya perlu waktu tiga bulan untuk membuatnya gemuk dan sehat kembali, entah berapa ratus juta yang telah habis untuk itu, semua didapatkan dari penggalangan dana para relawan dan bantuan seorang teman baik saya yang juga berpforesi dokter hewan di Australia. Kami dulu pernah bekerja bersama di widllife hospital dan saya bercerita kesulitan saya padanya saat dia datang mengunjungiku ke Sumatera, akhirnya sejak itu dia membantuku. Dan hasilnya bayi gajah kami sehat kembali.

Banyak sekali rintangan yang musti dihadapi selama menjadi Koordinator PLG Seblat. Hampir setiap dua minggu sekali selalu ada tantangan baru, yang lama belum terselesaikan akan datang masalah yang baru dan begitu seterusnya. Terkadang saya sadar, "apa mungkin agar saya tidak bisa fokus bekerja disaat tanggung jawab saya semakin banyak dan semakin luas ?" Saya tidak peduli, ingat lagi dengan nasehat teman bahwa dimanapun kita bekerja pasti ada yang suka dan tidak suka, tergantung kita menyikapinya. Yang penting tidak putus asa dan menyerah begitu saja, agar satwa-satwa itu tidak menjadi obyek semata untuk dikorbankan demi kepentingan segelintir orang yang tidak peduli dengan nasibnya. Berat memang, karena yang saya hadapi bukan orang-orang yang biasa-biasa saja, mereka punya power dan mereka banyak. Saya merasa sendirian saat itu, dan saya dipaksa untuk menghadapinya sendirian dengan smart, penuh strategi dan tanpa konflik. 

Gajah Bona di PLG Seblat, Bengkulu setelah Terapi
Masalah terberat yang kuhadapi saat itu adalah adanya keputusan untuk memindahkan gajah-gajah dari PLG Seblat ke kebun binatang di Bali termasuk diantaranya bayi gajah kami yang telah kami selamatkan dengan susah payah tanpa bantuan mereka, orang-orang yang seharusnya peduli dan membantu. Masalah lainnya kukesampingkan. "Bagaimana perasaan anda bila anda dalam posisi saya ?  Dan yang anda hadapi bukan orang-orang yang biasa-biasa saja". Seekor bayi gajah yang sudah diperjuangkan dengan susah payah agar tetap bertahan hidup akan diberikan kepada kebun binatang hanya untuk hiburan dan dipisahkan dengan induknya. Sedangkan dalam pemikiran saya selama ini bahwa rumah terbaik bagi satwa liar adalah di habitatnya, di hutan, bukan di kebun binatang atau sejenisnya. Sebagus-bagusnya tempat yang disediakan manusia untuk satwa liar tetap tidak sebaik Tuhan telah memberikan tempat yang layak untuk mereka, yakni di hutan. Dan menjadi tidak masuk akal lagi saat alasan pemindahan itu adalah perawatannya telah membebani anggaran negara.  "Helloooo......!!!" Serasa membuatku tak percaya. Tentu saya orang pertama yang protes bila perawatannya dikatakan membebani anggaran negara, karena saya tahu persis uang yang kami dapatkan untuk merawatnya dari penggalangan dana. Karena menyangkut nasib satwa liar sayapun tidak setuju dengan rencana itu, dan saya mendapatkan dukungan dari banyak pihak, para aktivis lingkungan di Bengkulu, Gubernur Bengkulu, tokoh masyarakat, akademisi, awak media dan lain-lain.  Akhirnya gajah itu pun tidak jadi dipindahkan. Namun dampaknya memang membuat saya tidak ingin lagi menjadi pegawai negeri. Ternyata mereka lebih mementingkan kepentingan pengusaha untuk usaha hiburannya dengan mengeksploitasi satwa daripada untuk kepentingan satwa liar. Bayi gajah kami malnutrisi karena terpisah dari induknya sehingga tidak punya nafsu makan lagi, dan setelah perbaikan gizi dan diberi induk baru dan sudah dekat akan dipaksa untuk dipisahkan kembali. Apapun yang terjadi saya tetap dengan pendirian saya, menolak gajah itu dipindahkan dan tak peduli lagi dengan konsekuensinya, bagi saya nasib satwa liar lebih prioritas. Saya yang keras kepala ini tetap tak peduli saat dimarahi oleh para pejabat baik yang di Jakarta maupun di Bengkulu, dan saya tetap dalam pendirian saya. Akhirya gajah tidak jadi dipindahkan, namun sayalah yang dipindahkan untuk tidak menangani medis lagi dan dikeluarkan dari lingkungan PLG Seblat. Hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan satwa diserahkan ke pihak lain untuk menanganinya. Dan saya serasa di penjara bekerja di dalam ruangan yang mengurusi hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan profesi saya sama sekali. Sejak itu saya fokuskan bekerja untuk membantu satwa liar dimanapun berada baik yang di Bengkulu atau pun di luar Provinsi Bengkulu, dan saya semakin fokus bekerja untuk harimau sumatera. Saya dianggap tidak ada dan saya tidak peduli lagi, bahkan terbesit dalam hati untuk keluar dari pegawai negeri, mungkin bukan tempatku disini, mereka tidak membutuhkan orang-orang sepertiku. 

Baru saja pindah tugas di tempat yang baru dan tidak berinteraksi dengan gajah lagi, tiba-tiba dua ekor gajah kami sudah dipindahkan ke kebun binatang di Yogyakarta untuk kepentingan wisata/ hiburan, disaat kantor kami ingin mengembangkan ekowisata di PLG Seblat. Saya tidak percaya itu, karena kenyataan yang berbicara. Dan anehnya tak satu pun orang yang bilang tidak setuju akan ide itu, semua mendukung. "Hmmm.......ada apa ini", pikirku.  Aku seorang perempuan dan sendirian saat mengatakan menolak pemindahan gajah ke kebun binatang, sedangkan mereka semua laki-laki dan banyak jumlahnya dan tak ada satupun yang berani menolak. Menolak hanya dibelakang tidak ada gunanya. Bekerja memang tidak boleh sekedar bekerja, tapi harus punya prinsip, dengan itu orang punya keberanian.

Yang membuatku heran mengapa tidak ada yang berpikir tentang nasib gajah itu selanjutnya ? Selama di PLG Seblat mereka hidup di hutan, di tempat yang luas, bisa mendapatkan pakan alami saat jalan-jalan di hutan, bebas minum di sungai-sungai dalam hutan, sedangkan di tempat baru sehari-hari mendapat perlakuan dirantai pendek, tidak tersedia pakan sepanjang hari, tidak ada hutan dan pakan alami, jauh dari teman-temannya, dan hanya menunggu jadwal untuk menjadi tunggangan pengunjung kebun binatang, dan itu yang akan jadi rutinitas hariannya. Dan aku pun sudah melihat kondisinya di tempat barunya.

Sejak saya tidak lagi menjadi koordinator pengelolaan disana dan tidak dipercaya pihak-pihak tertentu untuk menangani kesehatan gajah, sudah lima ekor gajah mati dan beberapa karena malnutrisi. Saya hanya bisa sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa karena ada penghalang diantara kami. Sebelumnya saya pun sudah memberikan peringatan, bahwa gajah akan mati bila tidak dilakukan perbaikan pengelolaan. Akhirnya pun terbukti. Dan masih ada empat ekor gajah lagi dengan kondisi mengkhawatirkan dan perlu mendapatkan perawatan khusus.

Gajah Ucok di PLG Seblat sedang mengalami gangguan kesehatan
Disaat kondisi gajah-gajah memburuk, disaat itu pula saya dikembalikan lagi kesana untuk memperbaiki kondisinya. Sudah satu bulan ini saya kembali ke PLG Seblat, dan menangani empat ekor gajah yang bermasalah kesehatannya. Dan setelah dua minggu pengobatan dan memberikan perlakuan khusus dalam perawatannya kondisi mereka berangsur-angsur membaik. Sepertinya saya baru dibutuhkan saat kondisi darurat seperti itu, dan disingkirkan saat dianggap menghalangi kepentingan sekelompok orang. Hidup memang unik, kadang punya niat baik untuk membantu satwa pun belum tentu disambut baik. Dan satu yang pasti bahwa penempatan jabatan seeorang memang harus sesuai dengan profesinya dan latar belakang pendidikannya untuk mendukung kinerja yang lebih baik. Pemberian jabatan pada orang yang kurang sesuai akan berpengaruh dan memperburuk kondisi. Dan itu yang selama ini terjadi, saya hanya mempelajarinya dari lingkungan sekitar dimana saya berada.

Senin, 13 Juni 2016

Mengisi waktu menjelajahi hutan konservasi TWA Seblat


Ada empat ekor gajah di Pusat Konservasi Gajah Seblat yang menjadi fokus saya untuk disembuhkan, dan sekarang kondisi mereka sudah tidak perlu dikhawatirkan, berangsur-angsur satu persatu sudah membaik setelah pengobatan dan perlakuan khusus, sehingga tak banyak aktivitas yang bisa kulakukan kecuali bekerja menyelesaikan laporan dan membuat beberapa rencana kerja, dan semua dikerjakan di depan komputer yang hanya bisa dilakukan saat listrik dari genset dan solar panel dinyalakan. Tentu membuatku bosan dan tak banyak bergerak, hanya duduk diam di dalam ruangan. Hari itu para mahout (perawat gajah) akan memancing di sungai-sungai dalam hutan untuk mengisi waktu di bulan puasa Ramadhan, mereka berjumlah 9 orang. Saya pikir perlu sedikit berolahraga sehingga saya berniat untuk ikut mereka. Saya segera berganti baju lapangan, sepatuku yang masih basah karena baru dicuci tak perlu lagi menunggu kering untuk bisa dipakai, toh nantinya saya juga akan berjalan-jalan di dalam rawa dan sungai. Saya tidak akan ikut memancing, saya hanya ingin berjalan-jalan ke dalam hutan, mungkin akan menemukan obyek bagus untuk bisa dipotret, karena saya memang menyukai photography.  

TWA Seblat terlihat dari pinggir hutan

Taman Wisata Alam Seblat, Minggu, 12 Juni 2016, waktu menunjukkan pukul 07.45 WIB, tujuh orang mahout telah berangkat masuk ke hutan dan sudah tak terlihat. Saya berjalan kaki menyusul dibelakang mereka, dan ternyata masih ada dua orang lagi yang menyusul kami. Dalam perjalanan terlihat seekor induk siamang bersama anaknya sedang bergelayutan di atas kepala kami, dan akupun gagal memotretnya karena pergerakan mereka sangat cepat. Kami berjalan beriring-iringan di dalam hutan, sambil mencari jalan setapak menuju sungai, namun jalan yang diharapkan tidak ditemukan mungkin sudah terlalu lama tidak pernah dilewati sehingga tertutup lagi oleh semak belukar. Beberapa tahun yang lalu saya pernah melewati jalan itu sendirian di sore hari, jalan setapak masih bisa terlihat jelas, namun kali ini sama sekali tak terlihat ataukah kami yang salah jalan. Yang jelas akhirnya kami berjalan tak tentu arah dan terpisah satu sama lain, ada yang kembali ke arah camp lagi dan saya bersama mahout lainnya bisa menemukan sungai meski terlebih dulu harus naik turun tebing beberapa kali dan melewati rawa berlumpur, bahkan sepatuku nyaris tertinggal terbenam lumpur saat mengangkat kaki.

Pacet yang mengigit dan menghisap darah di kakiku
Sesampainya di Sungai Senaba, satu persatu sudah mencari lokasi sendiri-sendiri untuk memancing, kecuali saya yang memilih berjalan sendiri mencari obyek yang menarik untuk difoto, sesekali saya juga memotret mereka yang sedang memancing ikan dari kejauhan. Kadang saya berjalan menyusuri sungai, kadang juga melewati hutan yang lembab dan basah. Bisa dibayangkan entah berapa puluh pacet yang menempel di tubuhku dan mengisap darahku, sudah tak kupedulikan lagi. Resiko melewati daerah yang lembab di dalam hutan akan bertemu banyak pacet. Berjalan sendirian juga beresiko salah arah, dan tanpa terasa saya terus berjalan menjauhi sungai, kemudian menyadarkanku bila diteruskan pasti akan tersesat dan akan kesulitan menemukan jalan untuk keluar hutan, karena memang tidak ada jalan setapak yang terlihat jelas. Saya kembali mencari sungai untuk bisa menemukan kawan-kawan lainnya.

Dalam perjalanan saya menemukan sekitar lima bekas lokasi orang bermalam di hutan. Mereka membuat tenda di pinggir sungai, di sepanjang jalan yang saya lewati. Tidak terlihat ada bekas illegal logging di sekitar sana, kemungkinan penduduk lokal / penduduk asli yang mencari kabau dan ikan, karena dijumpai banyak bekas kulit kabau (biji-bijian hutan yang bisa dikonsumsi) di sekitar lokasi serta bekas membuat salai ikan / ikan asap. Saat itu saya juga mendengar suara kijang yang terus berbunyi dari kejauhan. Saya juga menemukan feces rusa sambar yang masih segar serta jejak kakinya di sekitar sungai. Menurut perkiraan saya rusa sambar tersebut berukuran sebesar sapi lokal dilihat dari ukuran feces dan jejak kaki yang ditinggalkannya. 

Ikan sungai hasil memancing
Hari sudah siang, waktu sudah menunjukkan pukul 1 lebih, kami memutuskan untuk kembali ke camp sambil membawa ikan hasil memancing. Ada perbedaan pendapat diantara kami kemana arah jalan pulang. Perjalanan kembali ke camp terasa sangat jauh karena kami sambil menebak-nebak mencari mana arah yang benar. Tanpa ada GPS, hanya mengandalkan arah matahari dan ingatan. Beberapa lokasi ada yang diingat ada yang tidak. Berbeda dengan mencari alamat di dalam kota, tinggal menyebutkan nama jalan, nomor yang dituju atau tanda-tanda lain disekitarnya maka lokasi yang dicari bisa ditemukan. Namun bila mencari lokasi di dalam hutan bila tanpa menggunakan GPS atau titik koordinat, hanya bisa mengandalkan ingatan seperti, "diatas sana nanti ketemu jalan setapak" atau "disini dulu aku mendengar suara harimau" atau "disitu nanti ada rawa yang banyak pandannya".......

Perjalanan pulang pun ternyata tidak lancar, karena kami masih juga berputar-putar tak tentu arah. Meski saya sendiri masih bisa ingat bahwa jalan setapak yang kami lalui dulunya sering kulewati juga bersama gajah-gajah bila perjalanan pulang dari Senaba Alang-Alang menuju Senaba Suharto, dan saya pun masih ingat bahwa punggungan bukit tersebut termasuk salah satu  jalan setapak favoritku karena sejuk dengan kiri kanan jurang dengan pohon-pohon tertata rapi secara alami. Tempat-tempat di hutan ini terutama yang pernah kami pakai untuk berkemah serta jalan-jalan setapak yang pernah kami lalui sudah ada namanya masing-masing, dan nama-nama itu hanya kami yang tahu karena yang menciptakan nama itu. Di jalan setapak itu kami menemukan jejak seekor gajah, dan kami semua bisa langsung menduga pasti itu jejak kaki gajah Nelson, hanya yang jadi masalah kearah mana kami harus menuju camp. Beberapa mahout menuju arah yang salah dan menjauhi camp, sedangkan kami hanya bisa menerka-nerka arah yang benar berdasarkan melihat arah matahari. Kamipun mengikuti jejak kaki gajah tersebut akhirnya sampai juga ke jalan bekas logging yang mengarah ke camp gajah Seblat. Perjalanan kembali pulang itu terasa sangat jauh, bahkan untuk mengangkat kaki saja terasa berat, belum lagi harus berjalan melewati resam (pohon pakis), hal yang paling tidak saya sukai bila berjalan di hutan harus menembus rimbunan resam yang kadang membuat kaki kami tersangkut. Pukul 14.30 WIB, saya dan teman-teman mahout baru sampai di camp gajah. Dan inilah hasil photo yang saya dapatkan selama perjalahan :

Tropical rainforest of Sumatra













































Selasa, 07 Juni 2016

Beruang madu JONY dan Harimau sumatera GIRING - Strategi Translokasi Satwa yang Berbeda


Strategi dalam persiapan dan proses akan berpengaruh terhadap hasil yang diinginkan. Begitulah, saat kita berpikir tentang memperbaiki nasib satwa liar untuk menentukan masa depannya. Tanpa diimbangi strategi yang baik dan hanya berambisi ingin mewujudkan keinginan dengan menghalalkan segala cara akan sangat berpengaruh terhadap proses dan hasilnya.


Masih ingat Beruang madu bernama Jony ?

Beruang madu JONY di kantor BKSDA Bengkulu
Jony adalah seekor beruang madu, berjenis kelamin jantan yang dievakuasi dari pemeliharaan masyarakat secara illegal di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Beruang madu (Helarctos malayanus) adalah salah satu satwa liar terancam punah yang dilindungi Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya sehingga dilarang dipelihara oleh masyarakat. Jony merupakan beruang madu tangkapan dari alam. Sudah 4 (empat) tahun Jony dirawat di kantor BKSDA Bengkulu dalam kandang perangkap (box trap) ukuran 1m x 2m x 1m tanpa ada keputusan yang jelas tentang masa depannya dari para pengambil kebijakan. Meskipun makanan cukup terjamin dan diberi enrichment namun perawatan dalam kandang sempit seperti itu bukanlah tempat yang layak bagi seekor beruang dewasa.

Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yakni Centre for Orangutan Protection (COP) melihat kondisi tersebut merasa tergerak hati untuk membantu agar nasib beruang jauh lebih baik. Mereka mulai mengumpulkan informasi detail dan dokumentasi tentang beruang tersebut, melakukan komunikasi rutin dengan pihak-pihak terkait dalam hal ini BKSDA Bengkulu dan pihak ketiga yang memungkinkan untuk dijadikan tempat rehabilitasi beruang madu di Sumatera. Tujuan yang ingin dicapai adalah agar beruang tersebut bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya, dan bila hal itupun tidak memungkinkan maka beruang madu akan berada di sanctuary beruang yang berada di habitatnya di Sumatera dengan kondisi yang lebih layak.

Translokasi Beruang madu JONY dilakukan oleh Tim
gabungan dari COP, BKSDA Bengkulu, Kelaweit
Usaha yang dilakukan tidak cukup hanya sampai disitu, mereka juga melakukan fund-raising (penggalangan dana) guna membantu proses translokasi sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai, karena pihak ketiga tidak memiliki dana untuk membangun fasilitas tambahan untuk rehabilitasi beruang tersebut, tetapi mereka menyediakan hutan sebagai tempat rehabilitasi. Penggalangan dana dilakukan untuk membantu BKSDA Bengkulu dalam translokasi beruang dari Provinsi Bengkulu ke Provinsi Sumatera Barat, dan membantu pembangunan fasilitas untuk rehabilitasi beruang madu di lokasi tujuan. Perencanaan yang matang sangat berpengaruh terhadap proses pelaksanaan kegiatan, yang terdiri dari beberapa tahap, yakni tahap pertama mengumpulkan data tentang kondisi beruang saat berada di BKSDA Bengkulu yang akan menjadi alasan kuat kenapa beruang perlu ditranslokasi, hal ini COP melakukan komunikasi rutin dengan BKSDA Bengkulu; tahap kedua mengirimkan surat pemberitahuan bahwa COP siap membantu beruang madu di BKSDA Bengkulu untuk ditranslokasi guna pelepasliaran kembali ke habitatnya kepada Ditjen PHKA, Sekditjen PHKA, Direktur KKH serta BKSDA Bengkulu; setelah surat mendapat dukungan maka tahap ketiga COP aktif komunikasi dengan pihak ketiga sebagai calon tempat rehabilitasi, karena pihak ketiga tersebut baru dapat membantu untuk rehabilitasi beruang dengan syarat dibangunkan fasilitas, maka tahap keempat COP menghubungi pihak donor yang akan melakukan fund-raising guna mengumpulkan dana untuk membiayai translokasi dan pembangunan fasilitas rehabilitasi beuang. 

Sebelumnya telah ada tulisan juga yang membahas tentang beruang tersebut di media sosial yang dibuat oleh orang asing yang isinya hanya menekan pemerintah agar memberikan fasilitas yang layak, namun kenapa tidak direspon oleh pihak-pihak terkait karena strategi yang dilakukan kurang tepat. Hanya menekan saja tanpa ada komunikasi yang baik dengan pihak-pihak terkait akhirnya pun tidak ada hasilnya.

Beruang madu JONY tiba di lokasi rehabilitasi di Solok, Sumatera Barat
Tahap selanjutnya memprediksi waktu persiapan dan kegiatan, yakni berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk penggalangan dana, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas rehabilitasi dan setelah itu bisa menentukan kapan beruang harus ditranslokasi. Setelah semua dilakukan, COP melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk proses translokasi beruang yakni dengan BKSDA Bengkulu, pihak ketiga sebagai tempat rehabilitasi dan BKSDA Sumatera Barat sebagai otoritas setempat. Akhirnya translokasi beruang pun bisa dilakukan dengan baik tanpa kendala pada tanggal 15 Desember 2013 dengan melibatkan tim Ape Warrior dari Centre for Orangutan Protection (COP), tim BKSDA Bengkulu, tim BKSDA Sumatera Barat dan Tim Kalaweit. Dan semua pihak merasa happy dengan apa yang dilakukan tersebut demi masa depan beruang yang lebih baik, dan yang terpenting beruang bisa dikembalikan ke hutan sebagai rumah terbaik untuk satwa liar.


Dan bagaimana kisah dibalik translokasi Harimau sumatera bernama Giring ?

Harimau sumatera bernama Giring, yang sebelumnya saya beri nama Dang karena homerange-nya di kawasan konservasi Taman Buru Semidang Bukit Kabu, dan 'Dang' adalah nama panggilan khas Bengkulu untuk anak pertama. Ah...sudahlah, saat ini saya tidak ingin membahas nama harimau yang kami berikan tapi ingin membahas soal translokasi harimau.

TWA Seblat lokasi perawatan sementara harimau Giring
Harimau Giring ditranslokasi pada tanggal 5 - 6 Juni 2016, dari kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara ke Taman Safari Indonesia (TSI) di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Kenapa itu bisa terjadi ? Tahukah anda tentang Lembaga Swadaya Masyarakat Scorpion di Indonesia ? Saya sendiri setelah berkecimpung sebagai relawan untuk konservasi satwa liar di Indonesia sejak masih mahasiswa dan mengawali karir dengan bekerja untuk konservasi berbagai jenis satwa liar terancam punah sejak tahun 2002 belum pernah mendengar organisasi ini yang ternyata juga bekerja untuk konservasi satwa liar. Mungkin ini organisasi baru, atau mungkin saya saja yang kuper (kurang pergaulan) dan baru mengetahuinya meski di dunia konservasi sebenarnya kami memiliki link yang kuat antar lembaga yang bergerak di bidang yang sama, biasanya saling mengenali dan kadang bekerjasama satu sama lain di seluruh pelosok Indonesia, bahkan yang ada di negara lain sekalipun. Heran juga, mengapa saya tidak mengenalinya. 

Menuju lokasi perawatan harimau Giring di hutan TWA Seblat
Tahun 2015 saya baru tahu bila di Indonesia ada organisasi tersebut, dan mereka menunjukkan diri bahwa sangat peduli terhadap konservasi satwa liar. Itu pun tahunya bukan karena kami pernah berkomunikasi atau bekerjasama, tapi karena secara tidak sengaja, saat itu saya baru saja melakukan pemeriksaan dua ekor harimau sumatera, yang satu harus dioperasi karena ada pembengkakan di tubuh bagian belakang dan yang satu lagi pemeriksaan kesehatan ulang karena sebelumnya menderita luka infeksi pada rongga mulut dan dermatitis serta diperlukan pengambilan sampel darah untuk kontrol penyakit protozoa darah yang merupakan bawaan dari liar. Kebetulan ada Tim Peneliti Harimau Sumatera dari WWF dan Virginia Tech serta ada Dokter Hewan baru dari Universitas Airlangga yang ingin belajar pembiusan dan penanganan kucing besar maka waktunya saya buat bersamaan, disaat kami perlu memeriksa dan mengobati harimau, maka mereka bisa melihat dan belajar, sehingga harimau tidak diberi perlakukan dua kali untuk tujuan berbeda. Ini juga salah satu cara untuk meminimalkan stress karena handling untuk pengobatan. Bagaimana pun itu adalah harimau liar yang tidak biasa kontak dengan manusia, perlakuan yang diberikan pun harus menyesuaikan behaviornya.

Kandang perawatan harimau Giring selama di TWA Seblat
Beberapa hari kemudian saya mendapat email dari seseorang yakni warga negara asing yang membawa nama Scorpion, dan dalam satu hari saya bisa menerima email beberapa kali darinya yang isinya tentu menguji kesabaranku. Tidak perlu saya sebutkan disini isinya seperti apa. Email tersebut tidak hanya dikirimkan kepada saya tetapi juga dishare ke banyak lembaga di seluruh dunia, yang tentunya isi email tersebut adalah pendapat pribadi mengenai perlakuan terhadap harimau yang kami rawat hanya berdasarkan dugaan, karena mereka tidak mengetahui fakta yang sebenarnya, baik kondisi maupun permasalahannya. Hanya men-justifikasi berdasarkan dugaan dan menginterpretasikan berdasarkan asumsi pribadi tanpa cross check dengan pihak-pihak terkait yang berkompeten dan yang terlibat dalam perawatan satwa. Suatu hari KLHK mendapat surat dari Born Free USA, yang mengkritik tentang perawatan harimau Giring, karena mereka mendapat informasi dari orang yang sering mengirimiku email, mengintimidasiku dan membuat berita tanpa dasar. Born free pun ikut menekan kami. Saya pribadi tidak mau menanggapinya bukan karena diintimidasi setiap hari, tetapi karena berita yang disebarluaskan tersebut tidak berdasar, dan mereka tidak mencari tahu permasalahan yang sebenarnya. Kami sering bekerjasama dengan banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik yang ada di dalam maupun di luar negeri untuk memperbaiki kondisi satwa liar seperti beruang madu, siamang, kukang, gajah, harimau dan satwa liar lainnya di Provinsi Bengkulu dan berhasil sesuai tujuan semula, tetapi dengan cara yang baik dan beretika, bukan dengan cara tuduhan tanpa cross check untuk merealisasikan ambisius sekelompok orang yang menghalalkan segala cara agar dilihat publik telah peduli dengan satwa liar.  

Sebenarnya kami tidak ingin membanding-bandingkan cara kerja lembaga yang satu dengan lainnya dalam membantu translokasi satwa liar, namun saya pikir perlu juga diungkap agar kita mengetahui perbedaan hasilnya dari berbagai strategi yang digunakan. Sebagai contoh untuk mewujudkan translokasi beruang madu dan siamang maka strategi yang dipakai oleh LSM COP seperti yang telah saya sebutkan diatas, begitu juga strategi yang dipakai oleh organisasi Internasional yang membantu translokasi gajah sumatera, mereka (Asian Elephant Support) melakukan tahapan-tahapan seperti yang dilakukan oleh COP, dan akhirnya gajah berhasil dipindahkan ke lokasi/ hutan yang diinginkan ke Provinsi Bengkulu, begitu juga dengan kukang korban perdagangan illegal yang telah ditranslokasi ke Provinsi Bengkulu dan kini telah menikmati kebebasannya di alam liar dengan bantuan Animals Indonesia di kawasan konservasi TWA Bukit Kaba.

Tahun 2016 ada dua berita direlease oleh media online yang ada di Indonesia, lagi-lagi tentang harimau Giring. Disana disebutkan tanggal berapa melakukan investigasi ke lokasi berdasarkan pengakuan narasumber di berita tersebut. Membaca itu hanya membuatku tersenyum, karena pada kenyataannya tidak pernah ada orang dari lembaga tersebut (Scorpion) yang penah datang ke lokasi, melihat langsung lokasi perawatan harimau, mengetahui bagaimana perawatan harimau Giring, bahkan ukuran kandangnya pun tidak tahu, dan tidak pernah bertanya sekalipun tentang hal-hal detail yang berhubungan dengan harimau Giring kepada pihak-pihak terkait dan perawat satwa harimau. 

Dan yang paling aneh adalah mereka menyebutkan waktu investigasi di media disaat saya dan mahasiswa saya dari Fakultas Kedokteran Hewan atau pun tim saya sedang berada di lokasi/ di hutan tempat Giring dirawat sehingga kami tahu benar adakah orang yang datang kesana atau tidak atau siapa saja yang ada di hutan untuk melihat harimau Giring, kenyataannya tidak ada. Banyak pertanyaan menggelitik di benak saya saat itu, seperti :
  • Bagaimana bisa sebuah media me-release berita tanpa dasar yang akurat ? (Saya kebetulan mengenal banyak media lokal, nasional maupun internasional yang sering liputan tentang satwa liar di Bengkulu, tapi mereka semua melalui prosedur yang benar, dengan perijinan yang legal untuk memasuki kawasan konservasi dan menggunakan data yang akurat serta berkomunikasi dengan para narasumber yang bisa dipertanggungjawabkan)
  • Bagaimana bisa seseorang dari sebuah lembaga bisa menjadi narasumber meski pada kenyataannya tidak pernah tahu menahu soal apa yang disampaikan ?
  • Bagaimana seseorang bisa menjadi narasumber sedangkan dia sendiri tidak paham dengan apa yang dikatakan dan tidak pernah bersentuhan langsung dengan obyek ?
  • Bagaimana bisa tulisan yang tidak akurat itu dijadikan rekomendasi beberapa pihak untuk menyurati KLHK guna menentukan nasib harimau agar lebih baik sedangkan kondisi yang sebenarnya mereka tidak tahu dan rencana-rencana kami untuk harimau itu kedepan mereka juga tidak tahu ?     
  • Bagaimana bisa tujuan yang ingin dicapai terwujud bila strategi yang digunakan hanya menyerang, menekan, mengintimidasi pihak lain tapi tanpa mau berbuat dan mendukung secara langsung ? (kami menyebutnya ''Talk only no action" hanya agar dilihat publik seolah-olah peduli dengan satwa liar). Dan masih banyak hal lain yang sebenarnya ingin kupertanyakan.

Orang-orang yang telah membantu harimau kami secara langsung sejak evakuasi hingga perawatan baik yang individu maupun lembaga saja tidak pernah sibuk mempublikasikan diri-sendiri dan bicara kesana kemari untuk menunjukkan bahwa sudah berkonstribusi terhadap harimau sumatera seperti LSM Animals Indonesia, sekelompok Mahasiswa Universitas Udayana Bali, Yayasan Arsari, teman-teman dari ASTI, beberapa orang anggota Forum HarimauKita, PHS (Tiger Protection and Conservation Unit), serta teman dari GIZ dan lain-lain, karena mereka membantu dengan tulus untuk satwa liar tanpa ambisi dan tanpa ada kepentingan apapun. Nah, ini sebuah lembaga yang tiba-tiba muncul lalu sibuk membuat publikasi dirinya di media atau melalui media sosial dan mengirim email kesana kemari untuk memperlihatkan bahwa dia sangat peduli dan telah berkonstribusi untuk membantu memperjuangkan nasib harimau agar lebih baik namun tulisannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tapi tindakannya hanya sebatas itu, sangat berbeda dengan pihak lain bila sudah bersedia membantu maka akan membantu dengan sungguh-sungguh dari mulai perencanaan sampai tindakan dan sampai tujuan itu tercapai, apa yang tidak tersedia disediakan, apa yang menjadi kendala dicarikan solusi dengan menjalin komunikasi yang baik, semua demi kepentingan satwa liar yang akan dibantu.

Sehingga dalam menanggapi tekanan yang terus - menerus dari sebuah lembaga swadaya masyarakat yang cara kerjanya seperti itu untuk peduli dengan satwa, ya respon yang dilakukan beberapa pihak pun berbeda sesuai cara pandang masing-masing. Cara pandang kami sebagai dokter hewan bahwa merawat harimau yang perilakunya masih liar harus di habitat dengan lingkungan sekitarnya hutan agar tidak jauh berbeda dengan kondisi tempat hidup harimau itu sebelumnya, hal ini juga untuk meminimalkan stress, dibandingkan harus dirawat yang lingkungan sekitarnya bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia. Untuk itu kenapa rekomendasi medis sejak awal pasca evakuasi bulan Februari 2015 dalam laporan tertulisnya pada pengambil kebijakan adalah ditranslokasi ke TWA Seblat, sebuah kawasan konservasi yang memiliki fasilitas perawatan harimau dengan kondisi hutan masih bagus, namun tetap pelaksanaannya tergantung pengambil keputusan dan ternyata baru disetujui dan diperintahkan untuk ditranslokasi ke TWA Seblat tanggal 28 Oktober 2015, cukup lama hanya untuk menunggu sebuah keputusan penting tidak hanya bagi kami perawatnya tetapi juga bagi kebaikan harimau. Dan saat itu kami tidak menyetujui dipindahkan ke kebun binatang dengan alasan seperti diatas, lingkungan terbaik bagi harimau liar adalah di hutan bukan di lembaga konservasi eksitu, dan untuk apa dipindahkan kesana hanya bersifat sementara lalu baru dipindahkan ke lokasi rehabilitasi yang berada di provinsi yang berbeda. Dalam hal ini cara pandang kami sebagai dokter hewan dengan para conservasionist lainnya agak sedikit berbeda, transportasi yang berulang-ulang antar provinsi untuk harimau liar tentu akan menimbulkan stress berulang kali, bila dokter hewan diberi otoritas maka rekomendasi kami adalah dari TWA Seblat dipindahkan ke lokasi release, toh selama perawatan di TWA Seblat perilaku normalnya masih bisa dipertahankan. Harimau dirawat dengan diisolasi untuk menghindari terlalu sering kontak langsung dengan manusia dengan tujuan agar tidak terjadi perubahan perilaku, serta memang harus diisolasi karena penyakit zoonosis yang dibawanya dari alam liar. Perawatan di TWA Seblat dan kebun binatang juga tidak jauh berbeda, hanya lokasinya yang berbeda yakni satu di hutan satunya di kota, ketersediaan pakan alami juga bisa dipenuhi sesuai dengan kebutuhannya, ada kontrol kesehatan rutin, ada strerilisasi kandang rutin serta pencegahan dan pengobatan penyakit parasiter rutin, kandang pun dilengkapi dengan enrichment untuk mengekspresikan perilaku alaminya, serta memiliki tim perawat satwa yang tetap, karena perubahan orang juga akan berpengaruh terhadap harimau liar karena bila harus berhadapan dengan orang-orang baru yang terus berganti akan mempengaruhi perilakunya.

Cara pandang birokrat akan berbeda karena pada dasarnya mereka tidak ingin diberitakan buruk, dengan atau pun tanpa tahu kondisi yang sebenarnya keputusan yang dikeluarkan pun atas kepentingan untuk menghentikan tekanan pihak-pihak yang katanya peduli. Meski pada kenyataannya mereka tidak pernah terlibat langsung membantu satwa harimau yang katanya diperjuangkan, tidak pernah tahu apa permasalahannya dan tidak terlibat dalam mencarikan solusi, dan tidak pernah mau tahu bagaimana proses translokasinya karena mereka hanya mau tahu bahwa keinginan ambisiusnya tercapai tanpa mau peduli dengan permasalahnnya. 

Monitoring vital signs selama perjalanan/ translokasi
Tanggal 5 Juni 2016
Sedangkan cara pandang pengambil keputusan yang mendapat tekanan dari atasannya adalah bagaimana cara harimau itu segera dipindahkan untuk meredam tuntutan, tanpa perencanaan yang jelas dan tanpa tujuan yang jelas, yang terpenting sudah keluar dari lokasi sebelumnya untuk membuktikan bahwa harimau telah ditranslokasi sesuai keinginan pihak-pihak tertentu. Menentukan nasib seekor harimau sumatera dengan cara serba mendadak dan tanpa dana. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. LSM yang mendesak pun tidak pernah muncul untuk mendukung, misalnya mencarikan solusi soal pendanaan translokasi, atau misalnya mencarikan dana untuk membangun fasilitas rehabilitasi di habitat aslinya agar harimau tidak terus-menerus dipindahkan keluar Provinsi Bengkulu disaat populasi harimau liar di Bengkulu pun semakin terus berkurang, atau berbuat apapun yang lebih nyata untuk kepentingan harimau. Mereka tidak pernah muncul untuk itu, kemampuannya hanya sebatas berkoar-koar di media, dan berharap harimau bisa pindah dengan sendirinya seperti main sulap dengan mantra yang diucapkan di media dan disebarluaskan ke banyak pihak. Dan apa hasilnya ? Akhirnya harimau berada di lokasi pihak-pihak yang peduli mengulurkan dana untuk membantu translokasi, disaat lokasi tempat rehabilitasi yang diinginkan pun menolak untuk membantu, dan LSM yang dengan ambisius menginginkan translokasi harimau Giring pun tidak pernah mengulurkan bantuan dalam bentuk apapun. Hal-hal seperti ini yang membuatku bisa menilai kinerja seseorang atau sebuah lembaga, dari sejauh mana keterlibatan mereka dalam upaya ini, tidak ada komunikasi yang baik dengan berbagai pihak, tidak ada solusi untuk pencarian dana guna translokasi dan bisa kita lihat bagaimana hasil akhirnya bila bekerja hanya bermodal berkoar-koar saja dengan koordinasi seperlunya serta lepas tangan untuk prosesnya. Dan paling parah adalah, kalau bisa saya ibaratkan seperti peribahasa "lempar batu sembunyi tangan", ya seperti itulah kenyataannya. 

Koleksi sampel darah harimau Giring tanggal 2 April 2015
Dalam Undang-Undang dokter hewan memang memiliki otoritas medis, namun di dunia nyata itu tidak pernah ada. Otoritas tetap berada di pimpinan tertinggi dengan jabatan tertinggi. Jadi, masalah kesehatan harimau itu bukan hal yang cocok untuk dijadikan dasar translokasi, karena harimau telah mendapatkan perawatan medis dan pengobatan. Bila hanya sekedar kontrol kesehatan bisa menggunakan sampel darah yang bisa dikirimkan ke laboratorium untuk diketahui hasilnya dan tak perlu lagi membawa harimaunya sekaligus kesana-kemari. Apakah untuk mendeteksi suatu penyakit dengan pemeriksaan laboratorium kita perlu membawa satwanya, tidak kan ? Alangkah repotnya bila itu dilakukan dan tentu akan mengeluarkan banyak biaya, biaya pengangkutan satwa dan biaya pemeriksaan laboratorium dan biaya pakan selama perjalanan. Cukup sampel apa yang diperlukan untuk deteksi penyakit, hasilnya sudah bisa diketahui. Mungkin cara pandang dokter hewan dengan conservasionist serta para birokrat agak sedikit berbeda dalam hal ini maka keputusan yang diambil pun berbeda.

"Satwa liar itu mahkluk hidup, yang hidupnya pun tidak mau dipermainkan seperti halnya manusia. Seyogyanya kita sebagai manusia yang diberi moral dan akal yang baik memperlakukan mereka tidak sebagai obyek semata, setiap tindakan harus direncanakan dengan baik, untuk hasil yang lebih baik bila menyangkut memperjuangkan nasibnya. Jangan mengatasnamakan satwa liar hanya untuk dilihat kita peduli, tapi sungguh-sungguh berbuatlah untuk mereka dengan tulus tanpa menghalalkan segala cara dan tanpa ada kepentingan apapun, berbuatlah sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada dan saling mendukung untuk tujuan yang sama. Dan hargailah orang-orang yang bekerja untuk satwa liar karena anda tidak akan pernah tahu apa yang telah dilakukannya, dikorbankannya dan diperjuangkannya demi satwa-satwa yang diselamatkannya dan dirawatnya"

Bloat pada Gajah Ucok


Gajah Ucok yang mengalami bloat, di PLG Seblat
Tanggal 29 Mei 2016, ada pergantian mahout (perawat) gajah Ucok. Saat itu gajah sudah terlihat sering mengejan, kesulitan buang kotoran, tampak lesu dan nafsu makan turun, namun belum dilaporkan ke dokter hewan oleh mahout kedua meskipun gejala klinis itu telah berlangsung selama dua hari.  

Lendir yang keluar dari anus saat gajah mengejan
Tanggal 31 Mei 2016, hari sudah menjelang gelap, tanpa sengaja saya mendapat informasi saat sedang ngobrol dengan mahout gajah lainnya yang kebetulan melihat kondisi gajah Ucok sore itu. Dia menjelaskan bahwa Ucok sore hari sudah posisi tidur rebah lateral, makanan yang diberikan untuk malam hari berupa tebu dan pelepah sawit masih utuh tak termakan, malah sekelompok monyet ekor panjang sibuk mencurinya. Saya tentu terkejut mendengar itu, karena hari itu saya telah bertemu dengan mahoutnya namun tidak pernah cerita sedikitpun tentang kondisi gajah Ucok saat dia berpamitan pulang pada kami sore itu. Mungkin karena bila dia melaporkan gajahnya sakit, kami akan mencegahnya pulang.  Seekor gajah yang tidur rebah lateral di sore hari menurutku itu diluar kebiasaan, dan saya menduga gajah tersebut punya masalah serius dengan kesehatannya apalagi makanannya pun tak disentuh, seharusnya gajah seperti Ucok sedang aktif makan diwaktu sore hari hingga malam. Mahasiswa Kedokteran Hewan yang sedang belajar di PLG Seblat juga menyampaikan pada saya bahwa mereka pernah melihat gajah Ucok mengejan saat akan buang kotoran. Kebetulan sebelumnya mereka telah mendapatkan pelajaran tentang cara mengetahui tanda-tanda seekor gajah itu dalam kondisi sehat ataupun tidak sehat, dan salah satu gejala klinis yang menunjukkan gajah itu sakit adalah terlihat mengejan/ kesulitan saat akan defekasi atau juga urinasi. Tanpa menunggu lama saya mengajak mahout itu menuju tempat Ucok untuk memeriksanya. Biasanya gajah Ucok agresif didatangi orang apalagi di sore hari seperti itu, namun kali ini dia tampak lemas dan tidak mau berjalan. Meskipun begitu, kami tetap berhati-hati saat mendekat. Makanan terlihat masih utuh. Saya memeriksa sekeliling tidak ditemukan bekas feces (kotoran) dikeluarkan. Dan saya memeriksa tubuhnya, sepertinya mengalami kembung (bloat). Saya mendapat informasi tambahan bahwa gajah itu sudah beberapa hari tidak bisa buang kotoran, sering mengejan dan yang keluar hanya lendir dilapisi darah.


Table 7.4. Signs of an Unhealthy Elephant
  • Listless, decreased movement, unusual behavior, exercise intolerance
  • Dull or sunken eyes, increased tear flow, thick discharge
  • Mucous membranes pale, muddy, bright red, or dry
  • Discharge from the trunk, coughing, abnormal respiratory sounds
  • Dry skin, loss of elasticity, wounds
  • Weight loss, sunken abdomen, prominent ribs (see body condition index)
  • Deceased appetite, anorexia
  • Change in urine or feces (amount, color); straining
  • Lameness
  • Obvious pain
  • Any unusual swelling or protrusion
Reference : "Biology, Medicine and Surgery of Elephants" by Murray E. Fowler and Susan K. Mikota


Saya meminta mahout untuk memindahkan gajah itu mendekati klinik agar bisa dimonitoring setiap waktu, karena bloat termasuk berbahaya dan bisa menyebabkan kematian mendadak bila tidak ditangani. Dan saya meminta mahasiswa kedokteran hewan untuk memindahkan makanannya mendekati gajah. Setelah lebih dari setahun saya dipindahkan ke Kantor Seksi Konservasi Wilayah I dengan pekerjaan baru yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kegiatan medis dan satwa, serta baru satu minggu ini saya ditugaskan kembali sebagai dokter hewan untuk menangani gajah-gajah di PLG Seblat setelah begitu banyak masalah kesehatan gajah terjadi. Saya memasuki ruang obat dan berusaha menemukan sisa obat-obatan yang bisa digunakan untuk pengobatan, sekian lama tidak bekerja lagi di tempat itu membuatku tidak begitu mengenali lagi persediaan obat-obatan apa yang tersedia, namun akhirnya hanya mendapatkan Antibloat, Antibiotik Long Acting, Flunixin meglumine dan Biodin / Biosolamine.

Terapi Gajah Ucok di PLG Seblat
Malam itu kami melakukan pengobatan, yakni melakukan rectal untuk mengeluarkan dan membersihkan kotoran, kami mencari orang diantara kami yang tangannya paling panjang. Tidak adanya peralatan kami memanfaatkan slang air minum untuk harimau yang dipotong, kami juga memasukkan air hangat dengan pelicin untuk membantu pengeluaran feces apabila ada feces yang sulit keluar. Agar ujung slang tidak melukai saluran cerna maka pada saat rectal ujungnya ditutup dengan genggaman telapak tangan. Kemudian memasukkan Antibloat per rectal karena untuk per oral tidak memungkinkan karena gajah sama sekali tidak mau makan dan minum. Dilanjutkan dengan penyuntikan Antibiotik LA, analgesik dan anti kolik, serta biodin. Gajah mulai bisa kentut dan mulai mau makan rumput (king grass) yang disediakan. Meskipun masih terlihat kembung.

Esok harinya dilakukan penyuntikan ulang analgesik karena gajah mulai tidak mau makan dan minum lagi. Dalam kondisi seperti itu tidak ada mahout gajah Ucok yang stand by di camp gajah di hutan, sehingga salah satu mahout akhirnya harus kembali dan menginap di camp bersama kami, dan membantu monitoring gajah Ucok siang dan malam. Saya meminta mahout untuk membawa gajah berjalan-jalan melewati jalan menanjak untuk merangsang kentut. Karena gajah tidak mau minum maka saya juga meminta mahout saat menyeberangi sungai Seblat melewati sungai yang agak dalam agar mulut terendam dan diharapkan air sungai akan masuk kedalam mulut dan meminumnya. Saya amati beberapa kali gajah merejan dan kesulitan untuk buang kotoran, meski saat directal tidak ditemukan adanya feces yang mengeras. Saluran pencernaan gajah bagian bawah yang terlalu dalam kemungkinan tangan tidak dapat menjangkaunya saat rectal. Setiap kali merejan yang keluar dari anus adalah lendir dilapisi darah. Hasil pemeriksaan sampel feces tidak ditemukan telur cacing, kemungkinan disebabkan oleh infeksi bakteri atau penyebab lainnya, untuk itu penyuntikan antibiotik diperlukan. Setelah penyuntikan analgesik gajah Ucok mau makan kembali namun tidak banyak, meskipun pakan yang diberikan cukup banyak dan bervariasi. Bagi saya, melihat hal itu berarti kondisi gajah belum membaik. Pengobatan yang diulang hanya pemberian antibiotik dan analgesik saja.

Tanggal 5 Juni 2016, Gajah Ucok belum bisa buang kotoran, bagi saya kondisinya masih mengkhawatirkan. Kami ingin melakukan rectal sekali lagi. Hari itu secara mendadak saya mendapat tugas ke Kota Bengkulu disaat kondisi gajah Ucok belum membaik, hanya untuk membantu Polisi Kehutanan melakukan penyitaan beruang madu, siamang dan burung elang dari kepemilikan illegal di masyarakat. Saya menolak untuk meninggalkan gajah tersebut dan pergi untuk membantu mereka, tetapi mereka tidak mau tahu dan saya harus ada saat mereka melakukan evakuasi satwa-satwa tersebut. Meskipun saya sedikit menggerutu kenapa orang tidak pernah tahu mana yang prioritas harus dilakukan dan mana yang masih bisa ditunda, tapi akhirnya dengan berat hati saya pergi juga. Saya berpikir untuk membuat pilihan cara yang tepat agar gajah Ucok bisa buang kotoran dan mengurangi kembung sehubungan dengan keterbatasan peralatan dan obat-obatan, saya berusaha mencari sesuatu di dapur camp kami kira-kira apa yang bisa dimanfaatkan untuk pengobatan. Tidak ada arang kayu yang bisa digunakan. Bila harimau mengalami kesulitan defekasi biasanya saya mengalirkan air hangat dan sabun untuk dimasukkan ke anusnya dan kemudian menyedotnya kembali dengan slang plastik dan syringe, sehingga feces bisa dikeluarkan dengan mudah dengan jari. Tapi sepertinya akan sulit bila dilakukan untuk gajah, karena akan kesulitan menyedot kembali cairan yang telah dimasukan sehubungan dengan anatomi saluran pencernaan gajah yang besar dan dalam. Akhirnya saya meminta mahout untuk menggunakan minyak goreng yang masih baru untuk dimasukkan ke anus. Dan pada saat saya sudah dalam perjalanan menuju Kota Bengkulu, saya mendapat informasi bahwa gajah telah buang kotoran dengan ukuran jauh lebih besar dari normal dengan konsistensi padat/ keras, khabar itu membuat saya merasa agak lega saat meninggalkannya. Gajah pun sudah mulai mau makan dan minum.

Tanggal 6 Juni 2016, pagi itu saya pergi ke kantor BKSDA Bengkulu dengan membawa tiga daypack, yang satu khusus peralatan rescue satwa liar dan obat-obatan, satunya lagi berisi barang-barang penting seperti laptop, kamera dan lain-lain, dan satunya lagi berisi peralatan pribadi. Setelah selesai membantu tugas Polisi Kehutanan dalam evakuasi satwa liar saya berencana langsung berangkat kembali ke PLG Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara, yang berjarak sekitar 140an km dari Kota Bengkulu dengan waktu tempuh 5 - 6 jam.

Gajah Ucok selama pengobatan bloat di PLG Seblat

Pada saat kembali saya melihat gajah Ucok sudah normal kembali tidak hanya nafsu makan dan minumnya namun juga aktivitas dan perilakunya. Sudah bisa defekasi dan urinasi secara normal. Namun saya masih harus memberikan antibiotik sekali lagi untuk dosis yang terakhir.

Terkadang saya merasa heran saat para pejabat baik yang di daerah maupun di Jakarta diberi laporan mengenai gajah-gajah yang sakit, dan tanggapannya dengan memberikan instruksi bahwa sebaiknya gajah-gajah yang sakit tersebut dikirim saja ke Rumah Sakit Gajah yang ada diluar Provinsi Bengkulu, atau nanti didatangkan saja dokter hewan - dokter hewan dari sana untuk mengobati gajah-gajah tersebut. Itu yang tertulis dalam selembar kertas yang ditujukan kepada saya. Dalam hati saya hanya tersenyum saja, "Apakah mereka para pejabat itu pernah berpikir berapa biaya transportasi PP (pergi pulang) untuk mengangkut gajah-gajah tersebut hanya karena menginginkan untuk diobati ke Rumah Sakit Gajah ? Siapa yang akan menanggung biaya tersebut ? Mengapa tidak berpikir yang logis, efektif dan efisien dalam hal ini ?" Membawa gajah-gajah ke rumah sakit tentu sangat tidak efektif, dan membawa gajah tidak seperti membawa satwa liar yang ukuran tubuhnya lebih kecil dan tidak rumit dalam transportasi. Kasus bloat (kembung) disertai kolik bila baru diobati setelah di rumah sakit gajah yang ada di provinsi lain mungkin gajah itu bisa sekarat bahkan kehilangan nyawa saat dalam perjalanan. Daripada menghabiskan dana puluhan juta rupiah untuk membawa gajah-gajah itu ke Rumah Sakit Gajah, alangkah lebih bijaksana bila dana tersebut untuk mendukung pembelian obat-obatan yang memadai serta peralatan yang kami butuhkan agar gajah bisa diobati di lokasi. Mengobati gajah tidak perlu dilakukan di bangunan yang megah, hanya cukup membutuhkan tali dan pohon atau rung untuk physical restraint, dan yang tidak kalah penting didukung dengan peralatan medis dan obat-obatan yang memadai, toh dokter hewan dan para mahout sudah tersedia dan bisa melakukannya sendiri. Bila tidak ada dukungan tersebut maka bila ada gajah-gajah yang sakit tidak banyak yang bisa dilakukan.