Senin, 20 Juni 2016

Edema Ventralis pada Gajah Sumatera


Setiap mahout memiliki cara yang berbeda dalam merawat gajahnya. Ada yang menggembalakannya jauh ke dalam hutan secara berkelompok sesuai dengan perilaku alaminya sebagai mahkluk sosial, biasanya ini dilakukan pada gajah-gajah betina di PLG Seblat. Hutan seluas tujuh ribuan hektar tentu masih bisa menyediakan pakan alami, dan ada sungai-sungai di dalam hutan dengan air bening mengalir didalamnya yang menyediakan air minum untuk mereka. Dan mereka bisa memilih sendiri kemana mereka ingin makan dan minum karena mereka bebas berjalan-jalan di hutan itu. Tujuannya adalah agar gajah-gajah tersebut mendapat cukup makanan alami baik variasi maupun kuantitasnya serta dapat mengeskpresikan perilaku alaminya dengan hidup bersosial. Namun ada juga yang lebih menyukai merawat gajahnya dengan cara soliter (sendiri-sendiri), baik gajah jantan maupun betina dengan cara dilepasliarkan ataupun diikat dengan rantai panjang agar bisa menjangkau tempat pakan yang luas. Cara ini sebenarnya lebih cocok untuk gajah jantan karena perilaku alaminya gajah jantan dewasa pada akhirnya akan memisahkan diri dari kelompok dan hidup soliter, dan untuk gajah jantan remaja membentuk kelompok kecil tersendiri dengan sesama pejantan remaja lainnya. Selain untuk alasan keamanan karena gajah jantan banyak diincar oleh pemburu liar guna diambil gadingnya dengan cara membunuh gajah-gajah itu.

Terkadang perawatan satwa tanpa memperhatikan behavior (perilaku alami) dan kondisi fisiologinya kerap kali menimbulkan gangguan kesehatan bila hal itu berlangsung secara terus-menerus. Sebenarnya hal ini menegaskan bahwa ada keterkaitan erat antara perawatan satwa dengan memperhatikan aspek-aspek animal welfare (kesejahteraan hewan). 

Seekor gajah bernama Dino sering diikat di pinggir sungai yang panas atau di pinggir hutan yang tidak banyak terdapat pohon rindang untuk berteduh, lokasinya terbuka dan hanya mengandalkan pakan tambahan berupa pelepah kelapa sawit dan king grass tanpa tersedia variasi makanan alami di sekitarnya, serta minum yang terbatas. Negara tropis yang dekat garis khatulistiwa tentu suhu lingkungan sangat panas di siang hari. Sedangkan gajah adalah binatang liar yang memiliki beberapa kelenjar keringat namun tidak dapat difungsikan untuk mengatur suhu tubuh mereka. Kulit gajah yang keriput membantu menjaga kelembaban sehingga gajah agar tetap sejuk dalam jangka waktu lama walaupun terkena terik matahari dan mengeluarkan panas melalui kulitnya yang keriput.

Edema di ventral abdominal pada Gajah Dino yang mulai mengecil 
setelah terapi selama 2 minggu
Perawatan gajah Dino dengan cara seperti itu berlangsung dalam waktu lama sehingga muncul gejala klinis edema ventralis.  Perawat gajah (mahout) menyebutnya gondok atau gondokan, mungkin karena seringkali muncul dibawah leher dan di submandibular (diantara tulang rahang bawah), meskipun penyebabnya bukan kekurangan Yodium sehingga menyebabkan pembengkakan kelenjar tiroid. Gondokan disini yang dimaksud adalah edema ventralis, pada gajah sering terjadi di bawah leher dan di submandibular serta di ventral abdominal (di bawah perut).

Edema di genitalia externa (alat kelamin luar) 
Penyebab edema diantaranya malnutrisi (kekurangan gizi), malabsorbsi usus terhadap protein, penyakit tiroid, penyakit paru kronis, penyakit ginjal, penyakit hati, gagal jantung dan luka bakar. Penyebab lainnya yang sering terjadi karena gajah tidak bisa bergerak dalam jangka waktu lama, biasanya terjadi pada gajah-gajah dalam transportasi hingga belasan jam berdiri dalam truk atau berhari-hari tanpa memberi kesempatan untuk berubah posisi, edema terjadi pada kaki bagian bawah. Bila terjadi pada semua kaki dan bila tidak disertai tanda-tanda peradangan maka merupakan akibat dari proses sistemik. Paling sering disebabkan oleh cairan yang berlebihan di dalam tubuh sehingga cairan keluar dari pembuluh darah dan berkumpul di kaki yang merupakan bagian terendah dari tubuh. Cairan tersebut dapat berkumpul di kaki karena faktor gravitasi, selain itu berkumpulnya cairan pada kaki juga sebagai akibat pelebaran pembuluh darah, keluarnya cairan dari pembuluh darah dan adanya penyumbatan sehingga cairan tidak dapat naik.


Edema. Edema may be seen in the submandibular or ventral abdominal areas. Poor food quality may be a cause and hypoproteinemia may be associated. Ventral edema is also seen in cows that have recently given birth. Increasing the protein in the diet may help 
Ventral Edema
Ventral edema (“dropsy” or “rot”) may involve the ventral abdominal wall, the submandibular area, or the tissues surrounding the external genitalia. A single, specific, underlying etiology has not been identified. Ventral edema has been associated with parasites, kidney failure, tuberculosis, chronic diarrhea, salmonellosis, retained placenta, and a wasting syndrome of unknown etiology. Chronic and severe infection by Fasciola jacksoni invariably. Hypoproteinemia may be present, especially with severe parasitic infections. It is not always associated, however, and is probably not the sole underlying mechanism. Ventral edema occurs commonly among captive elephants in North America as the only clinical sign and has been variously treated with diet change, antibiotics, and diuretics. The majority of cases are non–life threatening, and resolve without treatment, with signs rarely persisting more then 3 months. Ventral edema may be a nonspecific response to a variety of physiological stressors. Further research is needed.

Reference : "Biology, Medicine, and Surgery of Elephants" 
by Murray E. Fowler and Susan K. Mikota

Selain itu cuaca panas juga dapat sebagai penyebab edema. Hal ini diduga karena terjadi Hypovolemik shock yang terjadi akibat shock karena dehidrasi karena kurang cukup minum dalam jangka waktu lama sehingga memicu terjadinya edema. Namun hal ini masih perlu dibuktikan/ diteliti dan masih dalam perdebatan. Karena gajah - gajah seringkali mengalami edema ventralis bila sering kepanasan terus-menerus tanpa bisa berteduh ataupun mendinginkan tubuh dengan semprotan air ataupun lumpur serta tidak dapat menjangkau air minum sepanjang waktu. Dalam kasus ini kondisi nutrisi baik serta hasil pemeriksaan feces tidak ada indikasi infestasi endoparasit serta tidak menunjukkan adanya hypoalbuminemia dari hasil pemeriksaan darah, serta tidak ada indikasi penyakit lainnya, namun setiap kali berada di tempat panas berhari-hari muncul gejala klinis edema ventralis. Perlakuan yang diberikan sederhana yakni merubah lokasi penggembalaan, ditempatkan dalam hutan yang teduh dan biasanya dalam waktu 3 hari s/d 3 minggu akan kembali normal dan tidak terjadi edema ventralis kembali. Lamanya pemulihan tergantung ringan beratnya edema yang terjadi, atau tergantung banyaknya edema yang terjadi, yakni di satu lokasi atau di banyak lokasi. 

Gajah Bona mengalami edema di ventral abdominal dan di kepala bagian bawah
karena malnutrisi, Photo tanggal 20 Januari 2012
Mekanisme terjadinya edema ventralis pada gajah seringkali karena penurunan tekanan osmotik intravaskuler. Hal ini bisa dilihat dari hasil pemeriksaan serology menunjukkan adanya hypoproteinemia terutama albumin. Kondisi ini dapat mengurangi tekanan osmotik koloid intravaskuler yang mengakibatkan terjadinya peningkatan filtrasi cairan dan penurunan absorbsi yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya edema. Hypoalbuminemia sebagai akibat dari malnutrisi (kekurangan gizi) atau malabsorbsi terhadap protein, bisa karena pakan kurang dalam jangka waktu lama.  Kehilangan albumin dalam plasma dapat terjadi juga karena penyakit gastrointestinal dengan kehilangan darah yang parah seperti infeksi yang disebabkan parasit (penyakit parasiter) terutama cacing. Edema ventralis pada gajah sering terjadi pada tubuh gajah bagian ventral yakni bawah leher, di submandibular dan ventral abdominal (di bawah perut).

Edema ventralis di Submandibular
Setelah mengumpulkan informasi dari berbagai orang (mahout) untuk mengetahui riwayat perawatan gajah Dino dan hasil pemeriksaan sampel feces, serta gejala klinis yang terlihat maka tindakan yang dilakukan adalah memindahkan gajah Dino untuk digembalakan di hutan dengan kondisi lingkungan sekitar yang teduh (tidak panas), perlu cukup minum dan variasi nutrisi, serta pemberian obat cacing sesuai dengan jenis telur cacing yang telah teridentifikasi dalam pemeriksaan mikroskopis meskipun infestasi cacing hanya sedikit (+). Tidak tersedia obat cacing yang efektif untuk pemberantasan Trematoda, yang ada di klinik hanya Albendazole tablet. Akhirnya saya mendapatkan sumbangan obat cacing Oxyclozanide pasta dari kolega dokter hewan yang sangat efektif untuk pengobatan pharamphistomiasis  yakni tropical disease pada gajah, dan efektif untuk pengeluaran cacing dewasa melalui feces, yang diberikan selama tiga hari berturut-turut secara per oral. Namun diduga penyebab edema ventralis bukan karena peyakit parasiter tetapi lebih cenderung karena terpapar cuaca panas dan nutrisi yang buruk, karena sebelum pemberian obat cacing, edema ventralis sudah mengecil hanya dengan memindahkan gajah ke tempat teduh dan memberikan makanan yang lebih bervariasi. 

Dalam waktu tiga minggu dengan perlakuan khusus dalam perawatan harian maka gajah bisa sembuh kembali. Edema ventralis pada tubuh gajah bagian bawah (ventral) sudah tidak terlihat lagi. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah melakukan pencegahan agar hal itu tidak terjadi lagi. Dan ini perlu kerjasama yang baik dengan perawat gajah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar