Minggu, 19 Juni 2016

Traumatic Ulcer pada Rongga Mulut Gajah


Seekor gajah bernama Gara tampak lemah, kehilangan nafsu makan dan minum selama beberapa hari, saat berjalan tampak kedua kaki depan beradu/ bersentuhan seperti enggan mengangkat kakinya pertanda bahwa gajah tersebut kehilangan tenaga, juga tampak tremor (gemetar) serta sempoyongan. Gejala klinis yang paling mencolok adalah hypersalivasi yakni sekresi air liur berlebihan dan terus- menerus. Banyak faktor penyebab yang membuat produksi air liur berlebihan, diantaranya pankreatitis, penyakit hati, gastroesophageal reflux, keracunan bahan kimia tertentu, fraktur atau dislokasi pada rahang dan juga ulcer dan infeksi pada rongga mulut dan lain - lain.  

Sebelumnya sudah pernah menangani dua ekor satwa liar yakni gajah sumatera bernama Ninda dan harimau sumatera bernama Giring yang memiliki gejala klinis yang sama yakni hypersalivasi. Keduanya memiliki penyebab yang sama yakni ulcer pada rongga mulut, baik pada lidah maupun gusi. Penyebab ulcerasi di rongga mulut bermacam-macam, bisa karena traumatik, agen penyakit seperti bakteri, virus dan jamur serta penyakit sistemik.

Ulcer pada Lidah Gajah di PLG Seblat, Bengkulu. Photo : Erni Suyanti
Pemeriksaan awal pada gajah yang dilakukan adalah mengintsruksi gajah untuk membuka mulutnya dan memeriksa rongga mulut. Ditemukan ada beberapa luka pada lidah dari mulai bagian depan sampai tengah lidah, kondisi gusi dan gigi baik tidak ada masalah. Kemungkinan hypersalivasi disebabkan oleh luka tersebut, sehingga menurunkan nafsu makan dan minum selama beberapa hari dan akhirnya kehilangan tenaga dan lemas. 

Dalam pengobatan gajah satu hal yang tidak kalah penting adalah pelatihan gajah untuk penanganan medis agar gajah terbiasa dan tidak terkejut saat diperiksa dan diobati pada bagian-bagian tertentu di seluruh tubuhnya. Ada 33 jenis pelatihan gajah untuk keperluan penanganan medis yang dilakukan dengan tujuan berbeda dihubungkan dengan kasus-kasus sakit/ penyakit yang sering dialami oleh gajah-gajah disini. Sebagai contohnya terbiasa membuka mulut untuk diperiksa, mengangkat kaki untuk diperiksa kuku dan telapak kakinya, terbiasa disentuh matanya untuk mempermudah pemberian obat salep atau tetes mata, terbiasa dipegang bagian telinga untuk koleksi sampel darah, terbiasa di rectal untuk berbagai keperluan dan lain-lain tanpa mereka merasa takut dan melukai petugas, Hal ini untuk mendukung agar gajah-gajah yang sakit bisa diperiksa kondisinya dan diobati dengan aman tanpa membahayakan petugas baik mahout maupun dokter hewan. Di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, kami tidak mendukung adanya pelatihan gajah untuk animal show, namun yang wajib dilakukan adalah pelatihan gajah untuk keperluan penanganan medis, yakni dengan cara membiasakan menyentuh seluruh bagian-bagian tubuh dari satwa gajah setiap hari dengan memperkenalkan/ memperdengarkan instruksi kata-kata yang konsisten. Gajah adalah binatang yang sangat pintar dan punya daya ingat sangat kuat, bila sesuatu kata dan perlakuan dilakukan berulang-ulang secara konsisten pada akhirnya mereka akan memahaminya dan mengingatnya dengan baik, sebaik mereka mengingat dimana lokasi pakan alami dan mineral di hutan ini.

Ulcer pada Lidah Gajah di PLG Seblat, Bengkulu. Photo : Erni Suyanti
Untuk pengobatan gajah Gara saya tidak memerlukan physical restraint dengan diikat di rung atau pohon agar gajah tidak lari atau menolak pengobatan, menurut saya dimanapun bisa dilakukan untuk kasus ini. Bersama mahout dan mahasiswa Kedokteran Hewan yang sedang magang di PLG Seblat kami mengobati gajah Gara, dalam ruang obat saya hanya menemukan obat kumur antiseptik Povidone iodine yang bisa digunakan, kemudian kami membersihkan ulcer dengan antiseptik tersebut menggunakan kapas yang terbungkus kassa yang ditetesi cairan antiseptik untuk pembersihan semua luka sampai bersih. PLG Seblat terletak di daerah terpencil sehingga kecamatan terdekat pun tidak tersedia apotek yang menjual jenis obat-obatan selengkap di Kota Bengkulu. Sehingga pilihan saya adalah Albothyl obat tetes yang sangat umum dan saya yakin pasti tersedia di apotek terdekat. Akhirnya saya mendapatkan sumbangan Albothyl dari Polisi Kehutanan. Saya minta mahout yang memberikan pengobatan Albothyl karena lokasi gajah cukup jauh di dalam hutan dan setelah pengobatan pertama kami ke hutan untuk memeriksa kondisinya kembali dan kesulitan mencari gajah Gara yang telah berjalan-jalan jauh bahkan sampai perbatasan kawasan hutan TWA Seblat dan HPK untuk mencari makanan alami. Saya masih memonitor kondisinya selama tiga minggu, untuk mengetahui apakah ulcer pada rongga mulut benar-benar telah sembuh, jika tidak maka harus dilanjutkan dengan pemeriksaan khusus seperti koleksi sampel untuk pemeriksaan mikrobiologi, serology dan bahkan biopsi jika dibutuhkan. Beberapa hari kemudian saya mendapat informasi dari mahout gajah Gara bahwa kondisi gajah sudah membaik, luka sudah mengering dan sembuh kembali dan nafsu makan dan minum normal kembali, bahkan gajah tersebut sudah aktif berjalan-jalan di dalam hutan dengan normal, serta tidak mengalami hypersalivasi kembali. 

Pada saat gajah tersebut sakit saya melaporkannya ke pimpinan yang di Kota Bengkulu dan diteruskan ke pejabat otoritas di Jakarta. Saat itu instruksinya baik secara tertulis dan melalui pesan phone cell bahwa dinstruksikan semua gajah yang sakit untuk dibawa ke Rumah Sakit Gajah agar dapat diobati. Pada saat itu saya memang sedang menangani 4 (empat) ekor gajah sumatera yang sedang sakit dengan berbagai sebab. Saya lebih suka berfikir dan bekerja secara logis, praktis dan efisien dalam penanganan permasalahan kesehatan satwa, meski pada akhirnya saya tidak melaksanakan instruksi tersebut toh saya yakin gajah bisa disembuhkan dengan perawatan sendiri meskipun tanpa memiliki banyak fasilitas obat-obatan yang dibutuhkan. Pada kenyataannya membuktikan bahwa gajah - gajah itu akhirnya bisa disembuhkan. Karena kami tidak ingin menghambur-hamburkan anggaran negara dan banyak dana hanya untuk transportasi gajah guna tujuan pengobatan ke provinsi lain dan masih harus mengembalikan lagi ke Bengkulu, tentu itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, seandainya boleh memilih lebih baik dana sebanyak itu bisa kami pakai untuk pembelian obat-obatan, peralatan medis agar memadai serta untuk biaya pemeriksaan laboratorium bila kami membutuhkannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar