Rabu, 26 September 2012

Short Training : Chemical and Physical Restraint of Sumatran Tiger for TPCU and Forest Rangers at Kerinci Seblat NP


a Training for Tiger Protection and Conservation Unit
and Forest Rangers Kerinci Seblat National Park
about Chemical and Physical Restraint of
Sumatran Tiger at Bangko, Merangin, 
Province of Jambi
Pemerintah Indonesia telah menyusun rencana strategis pemulihan harimau sumatera (National Tiger recovery Program / NTRP) sebagai wujud komitmen mensukseskan Global Tiger Recovery Program (GTRP) dengan target 'double population' di tahun 2022.  Melalui Kementerian Kehutanan, pemerintah telah mengeluarkan Permenhut No. 48 tahun 2008 untuk merespon permasalahan konflik antara manusia dengan satwa liar termasuk harimau sumatera.  Namun demikian konflik antara harimau dan manusia masih saja terus terjadi seiring dengan terus berkurangnya habitat harimau sumatera karena tumpang tindih kepentingan antara manusia dengan satwa liar terhadap kawasan hutan, begitu juga dengan perburuan liar, dengan adanya fragmentasi habitat harimau akibat berbagai aktivitas illegal maupun legal dalam suatu kawasan hutan akan mempermudah akses masuk bagi pelaku perburuan liar, baik perburuan harimau maupun satwa mangsanya.  Perburuan harimau seringkali mengakibatkan harimau terbunuh dan juga cacat seumur hidup karena jerat pemburu liar.

Penanggulangan konflik antara manusia dengan satwa liar telah ada panduan yang jelas yakni dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. P.48/Menhut-II/2008 tanggal 25 Agustus 2008.  Didalam pedoman tersebut berisi antara lain prinsip-prinsip penanggulangan konflik.  Diharapkan pedoman tersebut menjadi panduan bagi semua pihak yang terkait agar dapat segera mengambil keputusan secara cepat dan tepat di lapangan yang didasari oleh penilaian berbagai faktor dan komponen yang terlibat dalam sebuah konflik.  Namun untuk panduan dalam penyelamatan satwa liar terutama harimau sumatera dari jerat pemburu liar dan berbagai bentuk aktivitas perburuan lainnya belum ada sehingga tidak semua pihak terkait terutama petugas di lapangan mengerti dan memahami tentang prosedur yang seharusnya dilakukan dalam upaya penyelamatan dan penanganan pra dan pasca rescue bagi satwa liar terutama harimau sumatera tersebut.  Mengingat tindakan penyelamatan harimau sumatera dari perburuan liar tidaklah mudah, perlu adanya ketrampilan dan pengetahuan khusus tentang itu agar harimau dapat diselamatkan dalam kondisi hidup.  Untuk itu diperlukan pelatihan khusus bagi petugas di lapangan agar memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang standar dalam upaya penyelamatan  satwa liar terutama harimau sumatera.

Pengetahuan dan ketrampilan rescue satwa liar tersebut sekarang ini mutlak diperlukan  oleh petugas mengingat kasus konflik harimau sumatera dengan manusia hampir terjadi setiap bulan di beberapa lokasi, serta kasus perburuan liar terhadap harimau sumatera masih terus terjadi dan menjadi ancaman yang serius hingga kini, dengan indikasi masih adanya perdagangan harimau sumatera dan bagian-bagiannya serta masih sering ditemukannya jerat harimau di beberapa kawasan hutan yang merupakan habitat harimau sumatera.  

Pada tahun 2007 telah dievakuasi seekor harimau sumatera dari jerat pemburu di areal HGU perkebunan karet dan kakao PT . Mercu Buana, Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, yang dilakukan oleh Tim gabungan dari BKSDA Bengkulu, Tiger Protection and Conservation Unit (TPCU) - TNKS, masyarakat, Polsek dan Koramil setempat.  Pada tahun 2008 kembali terdapat kasus harimau terjerat di Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu.  Namun sayangnya, setelah tim rescue berjalan kaki mulai dari pukul 09.00 WIB pagi hari itu sampai tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 15.00 WIB dan yang ditemukan hanya tinggal potongan jerat dan jejak harimau yang masih baru serta sisa makanan. Kemungkinan harimau berhasil melepaskan diri dari jerat pemburu sebelum tim rescue datang. Bulan desember 2012 telah diselamatkan seekor anak harimau yang sakit di perkebunan karet masyarakat di Desa Karang Tinggi, Kabupten Bengkulu Tengah, oleh Tim gabungan TPCU-TNKS, BKSDA Bengkulu dan Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. Pada bulan Mei tahun 2010 telah dievakuasi seekor harimau sumatera yang tertembak di Muara Emat, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang berhasil diselamatkan oleh Tim TPCU-TNKS. Pada bulan November 2011 juga telah diselamatkan seekor harimau sumatera dari jerat pemburu liar di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi oleh Tim TPCU-TNKS. Kemudia tahun 2012 terdapat dua kali kasus harimau terjerat perangkap yang dipasang pemburu liar, yakni pada bulan Januari terjadi di Desa Mangkurajo, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu yang berhasil dievakuasi oleh tim gabungan Wildlife rescue Unit BKSDA Bengkulu, TPCU-TNKS, Polsek dan masyarakat setempat. Bulan Pebruari ditemukan lagi seekor harimau sumatera yang terjerat pemburu liar di Hutan Produksi Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu oleh tim Patroli TPCU-TNKS. Harimau tersebut berhasil diselamatkan oleh Tim gabungan Wildlife Rescue Unit BKSDA Bengkulu, CRU-PLG Seblat dan TPCU-TNKS, dan didukung sarana-prasarana dari Taman Safari Indonesia dan PT. Alno Agro Utama group. Selain itu tahun 2012 juga telah diselamatkan seekor hariau sumatera yang terlepas dari jerat pemburu liar di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi oleh Tim Patroli TPCU-TNKS bekerjasama dengan BKSDA Jambi.  

Begitu banyaknya kasus harimau terjerat yang harus dievakuasi dan melibatkan Tim Patroli TNKS maka perlu adanya pelatihan khusus guna meningkatkan kualitas SDM petugas TNKS dalam rescue satwa liar terutama harimau sumatera. Pengetahuan dan ketrampilan dasar yang berhubungan dengan kebutuhan tersebut mutlak diperlukan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut akhirnya pada tanggal 11-13 September 2012 diadakan pelatihan bagi Tim Patroli TNKS yakni anggota Tiger Protection and Conservation Unit (TPCU) serta Polisi Kehutanan. Tiga hari adalah waktu yang singkat, sehingga materi yang diberikan benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan baik pengetahuan dan ketrampilan dasar yang wajib diketahui dan dikuasai oleh setiap peserta untuk kepentingan rescue satwa liar. Adapun  materi pelatihan sebagai berikut :


Date
Time
Presentation / Practice
Comments
Tuesday, 11/09/2012
09.00 AM
–
04.00 PM
Anaesthetic emergencies
Presentation
The introduction of anesthesia equipments  for wildlife
Presentation and Practice
Method of filling drugs into blowpipe syringe
Practice
The basics of safe anaesthesia in Tigers
Presentation
Discussion
Wednesday, 12/09/2012
09.00 AM
–
04.00 PM
Technique of using blowdart syringe
Presentation (video)
Technique of using blowdart syringe
Practice
Method of filling drugs into blowpipe syringe
Practice
Technique of using blowpipe
Practice
Evaluation and discussion
Thursday, 13/09/2012
09.00 AM
–
04.30 PM
Ballistic and Projectile Darting Systemns
Practice
Method of sterilizing of anaesthesia equipments
Practice
Animal anaesthetic and monitor vital signs
Practice
Evaluation and discussion


Berbagai Kasus Harimau Sumatera yang Dijerat oleh Pemburu Liar
yang berhasil diselamatkan oleh  Tim Rescue BKSDA Bengkulu
dan Tim Patroli TNKS-TPCU serta Tim CRU-PLG Seblat 

Mengapa pelatihan seperti ini mutlak diperlukan bagi petugas ?
Ada beberapa fakta yang terjadi dilapangan saat tim sedang melakukan rescue satwa liar, yakni :
  • Terbatasnya dokter hewan yang bisa terjun langsung ke lapangan saat dibutuhkan untuk rescue satwa liar.  Dalam setiap upaya penyelamatan satwa liar terutama dari jerat pemburu liar tidak pernah terlepas dari tindakan pembiusan pada satwa liar.
  • Petugas di lapangan diharapkan mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang seragam mengenai kondisi darurat selama pembiusan satwa liar,  dapat merencanakan dengan baik tentang pertolongan pertama yang akan dilakukan, mampu melakukan penilaian tentang kondisi satwa serta mencegah terjadinya komplikasi atau efek samping pembiusan pada satwa, dan mampu menangani kondisi darurat saat satwa terimmobilisasi.
  • Petugas diharapkan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan maupun kegagalan dalam pembiusan satwa liar, mampu mengenali fase-fase pembiusan, pengenalan peralatan dan obat-obatan yang digunakan serta cara penggunaannya.
  • Permasalahan yang seringkali terjadi di lapangan bahwa tidak semua petugas mengerti bagaimana cara mengisi obat-obatan kedalam syringe sumpit bius atau tembak bius saat akan melakukan upaya penyelamatan satwa liar.  Ini adalah pengetahuan dan ketrampilam mendasar yang harus dimiliki oleh tim rescue satwa liar.
  • Petugas rescue satwa liar juga diharapkan mempunyai ketrampilan dalam penggunaan sumpit bius atau senjata bius untuk upaya penyelamatan satwa liar.
Note :
  1. Untuk meningkatkan kualitas SDM petugas di lapangan dalam upaya penyelamatan satwa liar maka diperlukan pelatihan serupa secara berkelanjutan tidak hanya di Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat tetapi juga UPT dilingkup PHKA, Kementerian Kehutanan serta pihak-pihak terkait yang sering menangani kasus-kasus seperti itu, karena keberhasilan upaya penyelamatan satwa liar dari berbagai bentuk aktivitas perburuan liar sangat dipengaruhi oleh kualitas SDM petugas di lapangan dalam melakukan rescue dan penanganan satwa liar pra dan pasca rescue.
  2. Semua pengetahuan dasar dan ketrampilan yang diberikan selama pelatihan tersebut diharapkan dapat diimplementasikan dengan baik di lapangan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku yakni UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh tidak disalahgunakan untuk kepentingan lain yang merugikan terutama yang bertentangan dengan upaya konservasi satwa liar.
  3. Setiap tindakan pembiusan terhadap satwa liar hanya dapat dilakukan oleh DOKTER HEWAN atau pihak-pihak terkait dibawah supervisi dokter hewan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku yakni UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Jumat, 07 September 2012

Peran Profesi Dokter Hewan dalam Membantu Aparat Penegak Hukum

Sebagai dokter hewan yang bekerja untuk konservasi satwa liar, tugasnya tidak hanya melakukan program perawatan kesehatan satwa saja baik pencegahan maupun pengobatan serta penyelamatan satwa dari aktivitas perburuan liar, tetapi juga terkadang dilibatkan dalam membantu proses penegakkan hukum, seperti melakukan pemeriksaan nekropsi dan membuat visum et repertum untuk membantu pihak aparat penegak hukum guna keperluan penyidikan dan  sebagai saksi ahli dalam persidangan di pengadilan sesuai dengan bidang/ profesi yang digeluti.  

Gajah sumatera 'Dino'
Tanggal 2 September 2012
Seperti halnya dengan adanya kasus kematian seorang mahasiswa yang terbunuh oleh seekor gajah jantan  jinak bernama Dino di dalam kawasan TWA Pantai Panjang tanggal 1 September 2012 lalu.  Gajah tersebut dipelihara oleh salah satu hotel di areal wisata Pantai Panjang, Bengkulu, digunakan untuk gajah tunggangan bagi pengunjung yang berwisata di Pantai Panjang.

Saat sedang berada di Pusat Konservasi Gajah Sebelat bersama kolega melakukan program perawatan kesehatan gajah rutin serta program pelatihan seekor anak gajah, saya mendapat panggilan darurat dari BKSDA siang itu, bahwa ditugaskan untuk segera melakukan investigasi dan evaluasi terhadap adanya kasus kematian seorang mahasiswa karena diserang gajah jinak di kota Bengkulu dan melakukan pemeriksaan terhadap gajah tersebut.  Sebelum berangkat ke lokasi kejadian, kami melakukan koordinasi segera dengan management hotel selaku pemelihara gajah, dan dengan management authority yakni BKSDA untuk mencari informasi tentang kejadian tersebut sehingga diketahui tindakan apa yang sebaiknya dilakukan.  

Informasi awal yang saya dapatkan saat itu dari pihak management hotel, sebagai berikut :
"Ada tiga orang mahasiswa yang sedang outbound di areal Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang yang juga merupakan lokasi tempat pengangonan gajah bernama Dino dan Natasya. kemudian gajah Dino tersebut mengejar mereka, dua orang bisa melarikan diri dan menghindar, sedangkan satu orang terjatuh dan akhirnya diinjak gajah dan ditusuk dengan gadingnya hingga tewas."

Dan sebelum mendatangi lokasi kejadian saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka seperti dibawah ini :
  1. Dimana lokasi kejadian perkara (TKP) ?
  2. Pukul berapa kejadian tersebut terjadi ?
  3. Apakah gajah Dino sedang dalam kondisi musth ?
  4. Apakah ketiga orang tersebut mendekati areal tempat pengangonan gajah dalam jarak dekat atau gajah yang mendatangi mereka ?
  5. Apakah saat kejadian gajah tersebut sedang bersama mahout (pawang gajah) atau tidak ?
  6. Apakah saat sebelum kejadian gajah Dino dalam kondisi diikat rantai atau dalam kondisi bebas ?
  7. Apakah gajah Dino sedang bersama gajah Natasya atau diangon sendirian ?
  8. Apakah gajah Dino masih bisa diperintah/ dikendalikan oleh mahout setelah kejadian tersebut  atau tidak ?
Beberapa pertanyaan diatas untuk memberikan gambaran singkat pada saya apa yang sebenarnya terjadi sebelum kami melakukan pemeriksaan secara detail terhadap gajah itu dan pihak-pihak terkait, sehingga bisa mempersiapkan peralatan, dan mungkin obat-obatan untuk keperluan chemical restraint dan juga petugas yang sekiranya bisa membantu dalam penanganan kasus ini.


Gajah sumatera bernama Dino dan Mahoutnya
Tanggal 2 September 2012
Setelah selesai melakukan pelatihan dasar pada anak gajah Bona di PKG Sebelat, Kabupaten Bengkulu Utara, malam itu pukul 07.00 saya bersama tim yakni seorang kolega dokter hewan dari mitra PKG Seblat dan polisi kehutanan berangkat menuju kota Bengkulu.  Sampai di kota Bengkulu sekitar pukul 01.30  dini hari. Dan menginap di hotel tempat kedua gajah tersebut dipelihara.  Pukul 06.30 pagi itu, saya berkeliling hotel dan menuju ke lokasi gajah berada.  Kulihat dari jauh, gajah Dino dan Natasya sedang ditambat.  Tujuan saya saat itu adalah ingin bertemu dengan mahout (pawang gajah) disana sebelum kami mulai bekerja.  Karena mereka adalah kawan-kawan saya dan saya juga salah satu dokter hewan konsultan bagi perawatan kesehatan gajah-gajah mereka sejak 3 tahun terakhir, dan juga sudah mengenal gajah-gajah mereka.  Pagi itu saya bertemu keluarga mahout gajah Dino, dan saya mendapat informasi pertama dari mahout yang menangani kedua gajah disana pada hari terjadinya musibah itu.  Dan saya juga bertemu dan diskusi dengan mahout lainnya yang merupakan kawan baik saya sejak lama.  Kemudian kami mendekati gajah Dino namun tidak lama berada disana karena saya harus cepat-cepat menuju ke rumah dinas Kepala Balai KSDA untuk rapat koordinasi sebelum kami mulai bekerja melakukan pemeriksaan terhadap gajah tersebut dan lainnya.  Kemudian saya dan tim kembali lagi ke hotel yang pelihara gajah tersebut untuk mulai melakukan pemeriksaan.

TKP - TWA Pantai Panjang
Tanggal 2 September 2012 pukul 09.50 pagi, dimulai dengan pemeriksaan TKP (Tempat Kejadian Perkara) di Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang, didampingi oleh mahout gajah Dino, kepala Resort KSDA Kota Bengkulu, beberapa  Polhut dan PEH, dengan memeriksa tempat tambatan gajah saat pengangonan, dan lokasi korban dibunuh gajah.  Setelah mendapat informasi yang cukup dari mahout gajah Dino, kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan interview mahout yang dimulai pukul 10.26 dan pada pukul 10.42   dilanjutkan dengan pemeriksaan perilaku gajah dengan melihat sejauh mana gajah bisa menerima komando dari mahout dan menjalankannya, pemeriksaan kesehatan serta pemeriksaan peralatan yang digunakan untuk handling gajah. Pukul 11.14 dilakukan pemeriksaan terhadap pihak management.  Setiap informasi yang kami peroleh dan hasil pemeriksaan gajah dan TKP selanjutnya akan menjadi bahan rekomendasi yang akan disampaikan ke Balai KSDA dan kemudian untuk membantu keperluan penyidikan kepolisian serta evaluasi perijinan pemeliharaan gajah oleh pihak ketiga.


Terbunuhnya seseorang oleh gajah jantan yang telah dijinakkan, siapa yang patut dipersalahkan, manusia atau gajah ?
Kasus gajah jantan menyerang orang hingga tewas sudah beberapa kali terjadi di Sumatera.  Sebelum kejadian di kota Bengkulu pada tanggal 1 September 2012, yakni seorang mahasiswa yang sedang melakukan survey untuk outbound di Taman Wisata Alam Pantai Panjang tewas setelah dikejar, diinjak dan ditusuk dengan gading oleh seekor gajah jantan bernama Dino, juga pernah terjadi kematian seorang mahout yang dibunuh oleh seekor gajah jantan yang sedang dalam periode musth di Pusat Konservasi Gajah Holiday Resort, Sumatera Utara dan gajah jantan bernama Reno telah menyerang dan menginjak koordinator Pusat Konservasi Gajah Minas, Riau yang pada akhirnya meninggal dunia dua minggu kemudian setelah kejadian tersebut. Untuk memahami mengapa gajah jantan berperilaku seperti itu, mungkin kita perlu tahu mengenai  perilaku alami (behavior) gajah jantan.
Gajah sumatera bernama Dino dan Natasya
Pantai Panjang, Bengkulu - 2 September 2012
Gajah jantan dewasa di alam liar hidup secara soliter (sendiri) tanpa kelompok, hanya kadang-kadang dia akan mendekati kelompok gajah betina yang mana bila ada dari mereka yang siap untuk dikawini kemudian kembali pergi meninggalkan kelompok betina untuk menjelajah sendiri.  Dalam kehidupannya yang soliter, gajah jantan terbiasa mengambil keputusan sendiri untuk setiap apa yang dia mau lakukan tanpa adanya perintah atau tekanan dari gajah lainnya. Saat gajah jantan dijinakkan maka dia dipaksa untuk mengikuti perintah manusia meskipun itu tidak sesuai dengan perilaku alaminya yang tidak tunduk pada siapapun.  Gajah jantan dewasa adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, dia tidak tunduk pada gajah jantan lain dan juga tidak sebagai pemimpin bagi gajah jantan lainnya.  Bila orang bisa menjadi lebih dominan pada gajah jantan dewasa maka gajah tersebut akan mengikutinya, tetapi bila gajah jantan bisa menunjukkan bahwa dia lebih dominan dari manusia maka dia tidak akan bisa dikendalikan atau tidak mau diatur oleh manusia. Gajah jantan dewasa juga mengalami perubahan perilaku saat dalam periode musth, yakni kondisi dimana secara fiisk gajah jantan mengalami pembengkakan pada kelenjar temporal dan selanjutnya keluar cairan terus-menerus pada bagian tersebut, sering urinasi, tidak merespon perintah dengan baik dan cenderung agresif pada siapa saja dan apa saja yang ada didekatnya. Musth bisa terjadi sampai dengan dua bulan lamanya, kadang kurang atau lebih lama dari itu dan berbeda pada setiap individu gajah.  Kasus kematian orang diserang gajah biasanya terjadi pada periode ini, terutama disaat awal atau akhir periode musth karena tanda-tanda musth belum tampak secara jelas sehingga orang kurang mewaspadai kalau gajah sedang dalam kondisi musth.
Selain itu diluar periode musth, gajah jantan harus tetap diwaspadai karena secara alami gajah jantan dewasa hidup sendiri, dengan kehadiran manusia didekatnya dan manusia bersikap mendominasi sehingga memaksa gajah jantan untuk berperilaku diluar perilaku alaminya, dan dalam kondisi seperti itu dia juga akan punya keinginan untuk melawan bila ada kesempatan dan bila dia telah berhasil menunjukkan bahwa dia bisa menjadi dominan.
Dan ini sangat berbeda dengan perilaku alami pada gajah betina, karena gajah betina di alam liar hidup dalam kelompok dan mengenal adanya atasan dan bawahan, dan terbiasa hidup dalam kendali gajah lain yang menjadi pimpinannya dalam suatu kelompok sehingga saat berada dekat dengan manusia maka gajah betina lebih terbiasa menerima perintah dan lebih mudah dikendalikan.

Senin, 20 Agustus 2012

It is time for having fun (Dufan Ancol dan Sea World Indonesia)

Persahabatan tak mengenal perbedaan
Pertemanan tak terbatas oleh jarak dan waktu, begitu juga perbedaan tak akan menghalangi orang untuk berteman.  Dan itu juga yang saya anut sampai sekarang, bebas berteman dengan siapapun, meskipun berbeda ras, suku bangsa, bahasa, agama, status sosial dan latar belakang.  Perbedaan itu membuat hidup kita menjadi lebih berwarna. 
Mudah untuk berteman dengan banyak orang, tetapi untuk menemukan teman yang cocok dalam segala hal itu tidak mudah. Bertahun-tahun dalam perantauan di pelosok sumatra, dan baru kali inilah saya menemukan orang yang sangat cocok.  Seorang yang sedang melakukan research di pelosok Sumatra.  Bertemu secara tidak sengaja dan tak jauh dari dunia yang saya geluti sekarang yakni saat memberi pengobatan pada  satwa liar dilindungi.  Sejujurnya, setiap kali bertemu dan berbicara dengannya, saya selalu kagum dengan pola pikirnya dan semangatnya yang pantang menyerah dalam melakukan kegiatan yang tidak mudah bagi orang asing di Sumatra dan bahkan terkadang tidak sesuai dengan target yang diharapkan.  Melihat dirinya, saya seperti bercermin, seperti melihat diriku sendiri, mungkin karena kami mempunyai banyak persamaan dalam banyak hal, kesamaan dalam perilaku, semangat, pemikiran, kegemaran, dalam keterbatasan serta sama-sama mempunyai sense of humor yang tinggi, gemar saling mengusili dan nakal, tidak hanya itu, kami juga terkadang saling membantu bila dibutuhkan dan saling memberi dukungan serta bisa saling menghibur satu sama lain. 

Menghitung hari
Hari terus berganti dan waktunya akan segera tiba.  Delapan hari sebelumnya saya berpikir pertemanan kami sudah berakhir bersamaan dengan berakhirnya penelitiannya di Indonesia. Dugaan itu sirna saat temanku mengirimkan pesan pendek yang mengatakan bahwa ‘sudah lama dia tak mendengar khabar dariku.’  Tanpa sengaja ternyata kami sedang berada di kota yang sama.  Beberapa hari yang tersisa tidak akan kami sia-siakan. Beberapa rencana dibuat untuk menghabiskan waktu selama berada di ibukota ini untuk hal-hal yang menyenangkan dan menghilangkan penat.

Hooraaaay............having fun
Wisata kuliner
Saya mengajukan permintaan untuk bisa makan siang dengan pizza yang selama berada di pelosok Sumatra sulit untuk bisa mendapatkannya. Kebetulan kami sama –sama bosan dengan makanan yang mengandung nasi...nasi....dan nasi setiap hari.
Untuk kuliner kedua, saya menyetujui ajakannya untuk menikmati makanan India kesukaannya. Teman saya mengatakan bahwa itu makanan India terenak yang pernah dia makan.  Dan ini sangat menarik buatku karena ini pengalamanku pertama kali mencicipi makanan India dan sangat penasaran dengan rasanya. Dan dia pun bahagia bisa makan makanan favoritnya di hari terakhirnya di Indonesia sebelum kembali ke negaranya.  Namun sayangnya, saya tidak bisa mengingat kembali lokasi restoran tersebut dan menu-menu makanan yang direkomendasikan untuk dipesan.   

Nonton bareng.
Ide itu muncul dengan tiba-tiba.  Saat itu aku dan temanku tidak punya rencana apapun, akhirnya dia menawariku untuk nonton bareng.  Ide bagus menurutku, tanpa pikir panjang akhirnya kami mencari bioskop terdekat, tidak mengecewakan, filmnya lumayan menarik,  sehingga tidak perlu merasa bersalah padanya karena saya diberi kepercayaan untuk memilih film mana yang layak kami tonton. 


Wow......uji nyali.....yipeee :)
Tempat yang menyenangkan untuk jalan-jalan adalah daerah pedalaman, pantai yang masih alami dan hutan habitat berbagai satwa liar, tapi di Jakarta tidak ada tempat seperti itu yang bisa dikunjungi. Akhirnya kami putuskan untuk having fun di Dunia Fantasi Ancol.  Kebetulan teman saya mengatakan bahwa selama tinggal di Indonesia dia belum sempat  mengunjungi Ancol dan dia ingin sekali pergi kesana.  Untuk menyenangkan seorang teman di hari terakhirnya di Indonesia maka saya bersedia menemaninya pergi kesana.  Dengan hanya membayar Rp. 250.000,- per orang sudah bisa mencoba semua wahana permainan yang ditawarkan di Dunia Fantasi (Dufan) Ancol dan belum termasuk ticket masuk ke lokasi tersebut yang dibayarkan tersendiri. Berbagai wahana yang mendebarkan dan menegangkan ingin kami coba, ada delapan wahana petualangan yang kami pilih untuk dicoba.  Wahana pertama yang menarik perhatian kami adalah Jet Coaster, bahkan karena singkatnya waktu menikmati petualangan ini kami mencobanya lagi untuk kedua kalinya, pertama mencoba dengan mengambil posisi duduk paling depan dan kedua kalinya duduk paling belakang. Wahana lainnya yang dicoba adalah Histeria, Niagara, Arung Jeram (Rafting), dan lain-lain.  Dari semua wahana tersebut, ‘Tornado’ adalah favorit kami.  Benar-benar membuat cemas sebelum mencoba serta membuat jantung berdebar dan menegangkan saat mencoba, apalagi seperti biasa teman saya sangat usil dan suka menakut-nakuti dan mengatakan bahwa wahana yang akan kami coba itu tidak aman dengan berbagai teorinya untuk meyakinkanku dan sudah ada korban meninggal gara-gara mencoba wahana permainan tersebut, dan lucunya justru itu membuat dia tampak khawatir sendiri dan selalu memeriksa kembali pengaman yang aku pakai apakah bekerja dengan baik atau tidak....hehe!

Wahana Tornado di Dunia Fantasi Ancol, Jakarta

Namun, dari semua permainan tersebut tak satupun yang bisa membuat kami memuntahkan lagi ‘big burger’ dan ‘french fries’ yang telah kami makan meskipun tubuh kami dibolak-balik, diguncang-guncang dan isi perut dibuat naik turun. Pada saat mencoba wahana Kora Kora yang menurut kami kurang begitu menantang, malah sebaliknya makanan yang telah kumakan serasa naik ke tenggorokan, perutku mual.  Kora Kora benar-benar membuat perut kami diambang batas toleransi untuk tidak mual.  Kami harus mengakhirinya sebelum hal yang memalukan terjadi.....vomit :)
Untuk cooling down, temanku mengajakku untuk naik perahu.  Saya tidak tahu apa sesungguhnya yang menarik dengan naik perahu di danau buatan itu. Kurang menantang menurutku. Tetapi akhirnya aku tahu bahwa dia punya niat nakal dan usil saat naik perahu, yakni ingin menabrak perahu-perahu milik pengunjung lainnya dengan perahu kami....hehe!  Oh...ini ternyata yang menarik :)


Tiger Fish at Sea World Indonesia 
Sea World Indonesia
Sedangkan untuk menghabiskan sisa waktu kami hari ini, aku menawarkan untuk mengunjungi Sea World Indonesia untuk melihat beranekaragam biota laut karena kami masih punya waktu beberapa menit untuk berada di Ancol.  Di tempat ini teman saya sanggup memberikan penjelasan tentang  beberapa species biota laut yang dikoleksi disana karena memang saya tidak banyak tahu tentang dunia ikan laut dan sejenisnya. Dan ternyata biota laut yang dikoleksi disana beberapa berasal dari laut di bagian barat Sumatra yang diambil dari kedalaman 400 meter s/d 1000 meter dibawah permukaan laut.

Sampai jumpa lagi.....
Tak terasa waktu cepat beranjak gelap. Kami menyadari bahwa itu adalah detik-detik terakhir kami bisa bertemu, ngobrol dan bercanda bersama, sebelum akhirnya saatnya harus pergi.  Tanggal 20 Agustus malam ini, dia sudah harus pergi meninggalkan Indonesia.  Sebagai seorang teman, jelas aku merasa kehilangan. Perpisahan yang mengesankan.  Selamat jalan kawan, selamat bertemu kembali suatu hari nanti.  Karena untuk mengatakan selamat tinggal itu sangat sulit untuk dilakukan, entah mengapa....?!   

Selasa, 31 Juli 2012

Sectio caesaria pada Anjing Dachshund

Mengisi waktu luang di Kota Bengkulu untuk hal yang bermanfaat 

Seorang kolega dokter hewan menelpon saya pagi itu dan mengatakan bahwa ada seekor anjing Tekel yang mengalami kesulitan melahirkan  sejak tadi malam, sudah dilakukan upaya tarik paksa oleh pemilik hewan tetapi foetus dapat dikeluarkan dalam kondisi mati.  Kemudian dibawa ke dokter hewan dan telah dibantu menginduksi dengan oksitoksin untuk membantu induk berkontraksi, tetapi tetap belum bisa melahirkan foetus secara normal.

Saya bersedia dan menawarkan diri untuk membantu disela-sela waktu saya bekerja untuk satwa liar, meskipun saya belum punya banyak pengalaman dengan bedah cesar sebelumnya.  Dan saya segera melakukan persiapan untuk melakukan itu.  Adapun persiapan yang sebaiknya dilakukan sebelum melakukan operasi cesar sebagai berikut :

Pra Operasi

Persiapan Obat-Obatan dan Peralatan Medis
Sebelum melakukan operasi cesar sebaiknya mempersiapkan obat dan peralatan yang dibutuhkan selama proses operasi, menentukan obat pilihan serta dosisnya dan mempersiapkan peralatan bedah yang telah disterilisasi.  

No
Anaesthetic Emergencies
1
Atropin sulfate
2
Ketamin HCl
3
Xylazine
4
Antidote
5
Dopram-V (Doxapram)
6
Adrenaline
7
Diazepam
8
Metacam
9
Antibiotic long acting
10
Antiseptic
11
Fluid therapy

Persiapan hewan dan Pre-Medikasi  
Persiapan Bedah Cesar 
Hewan ditimbang untuk mengetahui berat badan secara actual.  Berat badan anjing Tekel tersebut adalah 5,6 kg,  serta dilakukan pemeriksaan secara umum mengenai kondisinya.
Hewan diberi pre-medikasi dengan Atropin sulfat, setelah pemberian pre-medikasi induk akan lebih mudah ditangani, dan sebaiknya dilakukan pengosongan colon dan vesica urinaria, membersihkan bagian abdomen caudal dengan antiseptik Povidone iodine 10% setelah dilakukan pencukuran bulu.  Hewan diletakkan di atas meja operasi, kemudian diberi fluid therapy (infuse dengan larutan elektrolit) sehingga efek obat lebih cepat terdistribusi.  Persiapan terakhir adalah anasthesi (Archibald. 1984).  

Anaesthetic
Obat anaesthesia yang umum digunakan pada anjing adalah Ketamin HCl, akan tetapi obat bius ini dapat menimbulkan efek yang membahayakan yakni tachicardia, hypersalivasi, dan dapat meningkatkan ketegangan otot, nyeri pada tempat penyuntikan, serta pada dosis yang berlebihan akan menyebabkan pemulihan ke kondisi semula berjalan lamban dan bahkan membahayakan (Jone et all., 1977).  Efek samping yang tidak diharapkan dari suatu pembiusan itu dapat diatasi dengan pemberian premedikasi (Hall and Clark, 1983).  sebenarnya, general anaesthesia (anaesthesi umum) jarang digunakan untuk operasi cesar karena dapat menyebabkan pembiusan pada anak anjing (puppies)


Time
Drugs and Dose
11.30 WIB
Atropin sulfate 0,3 cc
12.10 WIB
Ketamin HCl 1 cc + Xilazine 0,2 cc

Vital signs
Operasi Cesar
Penggunaan anaesthesia dalam pembedahan sering menyebabkan efek samping yang merugikan dan yang mengancam jiwa pasien.  Ada tiga faktor penting yang harus diamati selama anaesthesi yaitu : frekuensi denyut jantung, respirasi dan kesadaran, karena apabila ketiga fungsi ini mengalami gangguan berat, maka akan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (Wirdjiadmodjo, 2000).  Anaesthesi yang ideal dapat menimbulkan anaesthesi dengan cepat serta memungkinkan pemulihan dengan segera setelah penanganan (Katzung, 2002).  Dalam operasi cesar ini kami melakukan monitoring terhadap frekuensi denyut jantung serta respirasi dan temperatur tubuh per 5-10 menit untuk mengetahui kondisi hewan selama terimmobilisasi.  Dan selama proses pembedahan tidak terjadi efek samping yang merugikan bagi hewan.

Sectio Caesaria dan Distokia
Sectio caesaria atau bedah cesar adalah prosedur operasi untuk pengeluaran foetus dari induknya, melalui laparohisterectomi atau pembedahan pada perut dan uterus (rahim).  Kata Caesaria berasal dari kata-kata Latin yaitu Caeso matris utera yang artinya memotong uterus induk (Johnton, 1968).  Pembedahan ini dilakukan apabila hewan tidak dapat melahirkan secara normal atau mengalami distokia dan upaya tarik paksa dan foetotomi tidak dapat atau sulit dilakukan untuk mengeluarkan foetus.  Pada kasus ini anjing mengalami distokia karena oversize foetus.  Proses operasi cesar tersebut kami lakukan mulai pukul 12.28 WIB sampai dengan pukul 13.04 WIB.  Berjalan tanpa kendala dan semua sisa foetus yang berjumlah tiga ekor dalam uterus induk berhasil dikeluarkan dengan selamat.

Foetus dikeluarkan
Uterus (Rahim)





Operasi Cesar pada Anjing Tekel







Anjing Tekel
Anjing Tekel (Dachshund)
Anjing jenis ini adalah anjing ras yang penurut dan lucu.  Nama lain dari anjing tekel adalah anjing Dachshund, yang artinya badger dog (anjing luak).  Berasal dari Jerman. Selain itu anjing tekel juga sangat ramah dan mempunyai penciuman yang tajam.  Menurut sejarah, anjing tekel pertama kali diternakan di Jerman pada awal tahun 1600-an.  Lalu anjing tekel berkembang biak dengan pesat di Amerika Serikat pada pada tahun 1900-an, bahkan menjadi kegemaran pada perang dunia pertama.  Anjing ini juga punya keahlian menggali, pemburu yang tangguh dan berani pada lawannya meskipun berukuran mini.

Selasa, 10 Juli 2012

Antara News - Sumatran Tiger 'Dara'

Bengkulu. Dara, a critically endangered Sumatran tiger rescued from a hunter’s trap in Bengkulu in February, has been transferred to the Taman Safari Indonesia park in Bogor, officials said on Monday.

“According to instructions from Forestry Minister Zulkifli Hasan, Dara is to be treated at TSI, so today we are moving her to Bogor,” said Amon Zamora, the Bengkulu Natural Resources Conservation Agency (BKSDA) chief.

The female tiger, estimated to be between 4 and 5 years old, was found by officials in a logging concession in Mukomuko district in February. Her front legs were seriously injured from the metal cables in which she was ensnared.

The trap was believed to have been set up by poachers.

A team of doctors had to amputate seven of Dara’s toes, three from her right paw and four from her left, veterinarian Erni Suyanti said.

But the tiger still requires a third and more complicated surgery to straighten bones protruding from her front paws.

“For this third operation, we will cooperate with French doctors who will also help fund the procedure,” Erni said.

Amron added that hospitals in Bengkulu did not have adequate medical facilities to ensure Dara’s recovery.

TSI is Indonesia’s biggest ex-situ conservation area, located in the Puncak highlands of Bogor. Amron said Dara was transported by plane from Fatmawati Airport in Bengkulu to Jakarta, where the tiger was then transported to the park by truck.

Conflicts between humans and tigers are frequent in Bengkulu as vast swaths of forests continue to be converted to logging concessions and plantations.

In the first three months of this year, the provincial BKSDA has already recorded two tiger deaths and six incidents of tiger-human conflicts.

Bengkulu’s first tiger death this year was a male, named Rajo by conservation staff, who had been rescued from a snare trap in the Bukit Daun protected forest in Lebong district.

When conservation staff found Rajo on Jan. 8, it seemed he had been left for dead by an unknown attacker who had beaten him with a blunt instrument. Despite medical care, Rajo eventually died.

The second tiger to die was discovered in Seluma district in February, dismembered and buried in an apparent attempt to hide the crime.

In the most recent conflict, residents of Alas Bangun village in North Bengkulu district reported being plagued by sightings of a tiger that had appeared in the vicinity of their village several times over a period of a few days in March.

Antara


Rabu, 04 Juli 2012

The JakartaGlobe : Rescued Tiger Dara Moved To Taman Safari for Surgery

Bengkulu. Dara, a critically endangered Sumatran tiger rescued from a hunter’s trap in Bengkulu in February, has been transferred to the Taman Safari Indonesia park in Bogor, officials said on Monday. 

“According to instructions from Forestry Minister Zulkifli Hasan, Dara is to be treated at TSI, so today we are moving her to Bogor,” said Amon Zamora, the Bengkulu Natural Resources Conservation Agency (BKSDA) chief.

The female tiger, estimated to be between 4 and 5 years old, was found by officials in a logging concession in Mukomuko district in February. Her front legs were seriously injured from the metal cables in which she was ensnared. The trap was believed to have been set up by poachers. 

A team of doctors had to amputate seven of Dara’s toes, three from her right paw and four from her left, veterinarian Erni Suyanti said. 
But the tiger still requires a third and more complicated surgery to straighten bones protruding from her front paws. 
“For this third operation, we will cooperate with French doctors who will also help fund the procedure,” Erni said. 

Amron added that hospitals in Bengkulu did not have adequate medical facilities to ensure Dara’s recovery. 

TSI is Indonesia’s biggest ex-situ conservation area, located in the Puncak highlands of Bogor. Amron said Dara was transported by plane from Fatmawati Airport in Bengkulu to Jakarta, where the tiger was then transported to the park by truck. 

Conflicts between humans and tigers are frequent in Bengkulu as vast swaths of forests continue to be converted to logging concessions and plantations. 

In the first three months of this year, the provincial BKSDA has already recorded two tiger deaths and six incidents of tiger-human conflicts. 

Bengkulu’s first tiger death this year was a male, named Rajo by conservation staff, who had been rescued from a snare trap in the Bukit Daun protected forest in Lebong district. 

When conservation staff found Rajo on Jan. 8, it seemed he had been left for dead by an unknown attacker who had beaten him with a blunt instrument. Despite medical care, Rajo eventually died. 

The second tiger to die was discovered in Seluma district in February, dismembered and buried in an apparent attempt to hide the crime. 

In the most recent conflict, residents of Alas Bangun village in North Bengkulu district reported being plagued by sightings of a tiger that had appeared in the vicinity of their village several times over a period of a few days in March. 

(Antara)