Senin, 26 Agustus 2013

Menjadi Relawan Dokter Hewan di Australia Zoo Wildlife Hospital


CATATAN PERJALANAN  

Perjalanan dari Western Australia ke Queensland

Pagi itu pukul 06.00 waktu Perth saya telah dijemput oleh taxi di apartement saya yang berada di Charles ST, tak jauh dari lokasi Kebun Binatang Perth.  Hari itu saya akan menuju airport dan selanjutnya melakukan penerbangan menuju ke Brisbane, Queensland, yakni negara bagian lainnya di benua Australia yang terletak di ujung timur.  Hmmm.....sepertinya hari itu saya akan melintasi benua Australia dari ujung barat ke ujung timur dengan menggunakan penerbangan Qantas. Dan saya pun tidak perlu membayar ongkos taxi, karena semua sudah ditanggung biayanya oleh Perth Zoo, hanya tinggal tanda-tangan di bill kemudian sopir taxi akan melakukan tagihan ke Perth Zoo atas jasa taxi yang saya pakai.  Penerbangan saya pun dari Perth menuju Brisbane juga telah disediakan oleh Australia Zoo, sehingga saya tinggal berangkat saja tanpa mengeluarkan biaya apapun :)

Siang itu saya sampai juga di Brisbane, airport tidak terlalu ramai.  Saat saya sedang menunggu bagasi, tiba-tiba seorang wanita kulit putih menyapa saya, "Are you, Yanti ?" Spontan saya menoleh padanya, "Yes, I am." Dari seragam yang dipakainya saya langsung mengenali bahwa dia bekerja di Australia Zoo dan saya langsung tahu bahwa dialah yang menjemput saya di Brisbane, Dr. Amber Gillett yakni dokter hewan dari Australia Zoo Wildlife Hospital. Mungkin dia juga langsung bisa mengenali saya karena saya berwajah Asia diantara para orang kulit putih yang ada di sekitarku, dan kebetulan saya juga menggunakan identitas dengan memakai T-Shirt 'Tiger Protection and Conservation Unit - Kerinci Seblat National Park' dengan logo TNKS dan FFI.  Karena TPCU merupakan salah satu project konservasi harimau di Sumatera yang disupport oleh Australia Zoo.

Sebelum menuju ke Australia Zoo yang berada di Beerwah, Amber mengajak saya mampir ke klinik dokter di Brisbane, saat dia sedang berobat, saya menunggu di cafe di lokasi tersebut sekalian membeli roti untuk makan siang.  Setelah lama menunggu akhirnya dia muncul juga, dan kami melanjutkan perjalanan menuju Beerwah.  Di tengah perjalanan kami harus berhenti karena ada badai, diluar kaca jendela mobil tampak salju turun, padahal saat itu sudah menjelang musim panas, dan yang membahayakan lagi hujan balok es ukuran kecil-kecil seperti kerikil berjatuhan, menurut Amber kadang itu bisa menyebabkan kaca mobil pecah. Sambil menunggu badai reda, saya sibuk memotretnya, bagi saya itu adalah obyek yang menarik untuk difoto :) 

Hari sudah malam saat kami sampai di lokasi Australia Zoo, kami berhenti di depan areal Karantina Harimau dimana seoarang kawan lainnya berada, Giles Clark telah menunggu.  Kemudian dia muncul menyapa kami.  Saya sudah mengenal dia sebelumnya, saat bertemu di sebuah workshop di Jambi, Sumatera.  Dan dialah yang memfasilitasi saya untuk bisa menjadi volunteer di Australia Zoo Wildlife Hospital atas rekomendasi seorang teman yakni Debbie Martyr yang bekerja di Fauna and Flora International untuk konservasi Harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat.  


Tempat Tinggal
Setelah berbincang-bincang sebentar, akhirnya kami berdua meninggalkannya dan menuju tempat tinggal Amber.  Sebelumnya Giles memang memberitahu saya via email bahwa saya akan tinggal bersama Amber dan juga dua staff Australia Zoo lainnya, yakni Julie Tasker yang bekerja sebagai front office di Wildlife Hospital dan Pete bekerja sebagai kangaroo keeper, selama saya berada di Beerwah. Rumah yang akan saya tinggali seperti perumahan, tertata rapi dan lumayan jauh dari pintu masuk  kebun binatang Australia, meskipun arealnya bersebelahan.  Dan trasnportasi satu-satunya yang bisa diandalkan memang harus memiliki kendaraan sendiri, karena untuk keluar jalan raya terlalu jauh.  Saya pun untuk menuju Wildlife Hospital setiap hari menumpang mobil Amber, dan bila dia sedang libur, saya ganti menumpang mobil Julie.  Tidak hanya saya, tapi masih ada seorang dokter hewan yang juga mahasiswa di Murdoch University - Western Australia yang kebetulan sedang melakukan research di Wildlife Hospital juga menumpang mobil yang sama, dia akan menunggu di pinggir jalan saat kami berangkat.


Sweety,  yang menemaniku 
tidur setiap malam
Dia selalu tidur
diatas selimutku seperti ini
Sesampainya di rumah Amber, saya langsung ditunjukkan kamar yang akan saya tempati. Kamar itu baru saja dipakai ibunya yang sebelumnya mengunjunginya, kata Amber. Dan saya juga ditunjukkan sebuah lemari es ukuran kecil, didalamnya penuh dengan botol minuman dari berbagai merk. Queensland merupakan salah satu negara bagian di Australia yang memproduksi minuman beralkohol yang rasanya enak dan cukup terkenal. Saya dipersilahkan untuk mengambilnya bila saya mau. "Thank alot, I don't drink alcohol", jawabku. Dan Amber pun menjelaskan agar saya tidak kaget bila malam-malam kucingnya masuk kamarku dan ingin tidur bersamaku, karena dia suka tidur di kamar itu :)  Memang benar, malam itu tiba-tiba si Sweety, kucingnya Amber datang mengunjungiku dan tiba-tiba sudah mengambil posisi tidur diatas selimut tebalku tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu....hehe :) Kucing kampung yang manis dan lucu, saya biarkan dia menemaniku tidur setiap malam, pagi hari baru kucing itu meninggalkan kamar saya untuk bermain dengan Sugu kucing ras berbulu lebat dan panjang milik Julie dan malamnya akan kembali ke kamar saya lagi, begitu seterusnya setiap hari :)

Makanan
Di rumah itu, kami semua masak sendiri, tinggal beli bahan makanan di supermarket dan dimasak sendiri, di dapur telah tersedia kompor listrik, refrigerator untuk menyimpan bahan makanan, microwave-oven, dll.  Kebetulan saya juga sedang tidak berpuasa, saat itu bulan ramadhan, sehingga memang harus belanja dan memasak sendiri.  Karena bahan makanan yang tersedia di supermarket dan yang sesuai dengan selera lidahku terbatas, saya hanya membeli beras yang sudah dipacking dalam plastik kecil sekitar 1 kg (produk Thailand), indomie (produk Indonesia), telur, sayuran, mentega dan bumbu instan. Di hari pertama saya tidak memasak untuk bekal bekerja,  memilih membeli french fries (kentang goreng) seharga AUD 20 (20 Australian Dollar) untuk makan siang saya di wildlife hospital, karena porsinya terlalu banyak saya tidak sanggup untuk menghabiskannya.  Kebiasaan disana, kami biasa berbagi makanan, bila tidak habis kawan lainnya yang akan membantu menghabiskan makanan kita. Akhirnya seorang Vet Nurse menawarkan diri untuk menghabiskan makanan saya.  Di tempat ini makan siang saya lebih bervariasi dibandingkan saat saya tinggal di Perth-Western Australia, setiap makan siang hanya makan 6 buah nugget dan sebungkus kecil french fries yang saya beli dari cafe di dalam zoo dengan harga miring yakni AUD 7, itu harga  khusus untuk staff dan volunteer di zoo tersebut.  Bila dijual untuk umum seharga AUD 10, hanya kadang-kadang saja saya makan di restoran Malaysia disekitar zoo dengan menu dan cita rasa masakannya tidak jauh beda dengan Indonesia tetapi tentunya harganya pun cukup mahal sekitar AUD 20-25 per porsi (kurs rupiah per dollar Australia pada saat itu berkisar antara Rp. 8000 - Rp. 9000).  Dan terkadang ditraktir kawan animal keeper dengan membelikan sepotong roti untuk makan siang :)

Di hari kedua dan selanjutnya saya selalu masak sendiri, begitu juga untuk makan siang saya sudah menyiapkannya dari rumah (membawa bekal dari rumah), seperti nasi goreng, omelet telur, mie goreng, dll yang praktis memasaknya dan cocok dengan lidah saya, setiap pagi memasak untuk sarapan sekalian untuk bekal makan siang, malam harinya baru masak lagi.  Seringkali untuk makan malam saya mendapatkan makanan dari kawan-kawan serumah bila kebetulan mereka membeli makanan dari luar dalam porsi banyak sehingga masih ada sisa untuk dibagi-bagi ke kawan serumah lainnya, atau kadang mendapat undangan makan malam dari beberapa teman.  Berbeda dengan di daerah sendiri, bila mendapat undangan makan malam bersama tidak berarti kita akan makan gratis, tetapi semua tetap bayar sendiri-sendiri hanya makannya secara bersama-sama dengan banyak teman.  Tapi karena saya orang asing, terkadang mereka menawarkan diri untuk membayar makanan dan minuman saya :)

Suatu hari, saya mendapat makanan dari Julie, karena dia akan pulang ke Brisbane maka makanannya diberikan pada saya.  Disana makanan cepat dingin.  Malam itu saya ingin memanaskan makanan sebelum makan malam, dan karena saya lupa, makanannya pun hangus dan asap dimana-mana memenuhi ruangan. Spontan kawan-kawan saya keluar dari kamarnya dan menanyakan, "What's going on, Yanti ?" Saya jadi merasa bersalah dan meminta maaf 'Ooh....I've made trouble', akhirnya Pete membantu saya membersihkan dapur.


Relawan Dokter Hewan di Wildlife Hospital

Ruang Rawat Inap Koala
Ruang Rawat Inap Koala
dilengkapi dengan biosecurity
Di hari pertama, saya langsung diperkenalkan dengan beberapa dokter hewan dan vet nurse seperti Peta Moore, Vicky, Joe dan lainnya yang bekerja disana serta para volunteer baik perawat satwa maupun vet students juga manajer rumah sakit tersebut.  Di tempat ini pula saya dipertemukan dengan kawan saya Bonny Cumming yang saat itu masih berstatus mahasiswa kedokteran hewan dari Queensland University. Hari itu saya langsung bekerja, mendampingi salah satu vet nurse untuk berkeliling melakukan pengecekan dan melakukan pengobatan satwa yang berada di dalam kandang rawat inap, satwa terbanyak adalah koala, ada yang diare dan banyak yang mengalami patah tulang dan ada juga yang mengalamai kebutaan.  Kami keliling areal rumah sakit, dan sempat terjebak oleh hujan badai sehingga tidak bisa kembali ke rumah sakit dan bertahan untuk berteduh di kandang rawat inap koala yang berada diluar bangunan utama rumah sakit.


Volunteer sedang bekerja di ruang rawat inap koala

Kandang koala terdapat dalam satu bangunan yang disekat-sekat dengan dinding kawat, setiap kandang dilengkapi dengan enrichment didalamnya dan makanan alami koala diletakkan seperti pohon hidup.  Setiap pintu masuk ruangan dilengkapi dengan biosecurity baik untuk mencuci kaki maupun tangan, masing-masing diletakkan di depan pintu yang kami lewati.  Kami mengecek satu persatu pasien, dan itu rutinitas setiap hari.  Tidak hanya koala, tetapi ada juga burung, penyu, kanguru dan satwa-satwa native Australia di kandang lainnya yang terpisah.  

Australia Zoo Wildlife Hospital

Kesan saya pertama memasuki rumah sakit itu, ramai dan sangat sibuk serta terkesan sempit karena banyak sekali peralatan medis yang memenuhi ruangan, mulai dari front office, lemari obat, laboratorium, peralatan radiologi, meja periksa dan meja bedah, peralatan anaesthesia, yang semuanya itu terletak dalam satu ruangan besar, kemudian ada nursery dan ruang rawat inap untuk beberapa satwa seperti koala, kanguru, burung dan ular yang memerlukan inkubator dan fluid therapy, juga di ruangan lainnya terdapat peralatan sterilisasi dan toilet.  Selain itu masih ada lokasi lagi ruangan kerja dokter dan vet nurse serta perpustakaan.  Bisa dibayangkan ramainya seperti apa. Setiap hari banyak sekali pasien yang datang hasil rescue yang dilakukan oleh masyarakat maupun tim Australia Zoo Rescue Unit dan ratusan yang rawat inap dan memerlukan kontrol serta pengobatan setiap hari.  Setiap pasien satwa liar hasil rescue yang baru datang masing-masing diberi nama, dan ada pasien baru yang diberi nama Yanti seperti namaku....hehe!  Sebelumnya saya telah menonton aksi mereka di televisi Indonesia yang membuat saya kagum dengan aksi-aksi yang mereka lakukan, dan akhirnya saya pun mendapat kesempatan untuk terlibat langsung bekerja dengan mereka melakukan rescue satwa liar di Queensland, benar-benar tak pernah terbayangkan sebelumnya.  

Bersama  Koala bernama Tony yang mengalami fracture


Kami hanya punya waktu istirahat siang hari disaat makan siang, itu sekaligus waktu untuk istirahat sejenak dan ngobrol santai dengan kawan.  Diluar waktu itu dari pagi sampai sore bahkan malam terus-menerus melakukan pemeriksaan pasien yang baru datang dan therapy satwa liar.  Bahkan terkadang juga ada panggilan untuk menangani satwa-satwa yang berada di enclosure Australia zoo. Bekerja di rumah sakit itu benar-benar merasakan capek yang luar biasa, semuanya bekerja keras dari tenaga fisik sampai pikiran.

Pemandangan sekitar yang membuat saya terpesona, hampir setiap hari saya melihat masyarakat datang ke rumah sakit mulai dari anak-anak sampai orang dewasa bahkan para lansia, dari yang berpenampilan menarik sampai yang berwajah preman, dengan wajah cemas mereka datang ke rumah sakit sambil membawa satwa liar yang mereka temukan di jalan raya atau di tempat manapun dan perlu mendapatkan pertolongan segera, mulai dari burung, kadal, possum, kanguru, koala, ular, dll. Mereka ingin menyelamatkan satwa itu, yang terkena badai, tertabrak mobil, digigit anjing, dan berbagai penyebab lainnya.  Kesadaran masyarakat cukup tinggi terhadap perlindungan satwa liar disana.  Bila menjumpai satwa yang sakit dan korban kecelakaan mereka tidak akan berdiam diri dan tidak peduli, tetapi mengambilnya untuk dibawa ke rumah sakit satwa liar atau dengan cara menelpon rumah sakit satwa liar ataupun tim rescue untuk menyelamatkannya.  Hampir setiap hari saya selalu mengamati pemandangan seperti itu.  Dan mereka terkadang tidak begitu saja pulang setelah mengantarkan satwa liar ke rumah sakit, tetapi juga sabar menunggu saat dokter hewan memeriksanya, mengobatinya bahkan melakukan bedah, dan menunggu penjelasan dari dokter hewan tentang kondisi satwa yang mereka bawa apakah bisa disembuhkan ataukah harus dieuthanasia untuk mengurangi penderitaannya karena terlalu parah.  Kesadaran terhadap konservasi satwa liar telah diajarkan oleh para orangtua sejak usia dini, karena tidak sedikit anak-anak kecil yang datang membawa satwa liar ke rumah sakit yang didampingi orangtuanya.  Sambil memperhatikan, saya pun sambil berkhayal seandainya di negaraku masyarakatnya juga punya kesadaran seperti itu terhadap satwa liar disekitarnya.  Namun faktanya hanya sebagian kecil saja mereka yang benar-benar peduli satwa liar dibandingkan yang tidak peduli.


Dr. Stacey bersama Vet Student
Dr. John sedang melakukan
bedah orthopedic pada burung
Selain Dr. Amber, disana juga ada Dr. Stacey, biasanya dia yang menangani pasien aves juga reptil, orangnya sangat ramah dan menyenangkan serta punya selera humor tinggi saat bekerja, yang membuat kami selalu tertawa dibuatnya. Saya beberapa kali mengikutinya dalam menangani pasien.  Selain itu juga ada Dr. John Hanger, merupakan salah satu dokter hewan senior disana.  Saya jarang ngobrol dengannya tetapi sering mengikutinya melakukan bedah orthopedic pada koala dan burung, juga pernah ikut dia melakukan rescue kanguru yang cidera di halaman sebuah hotel berbintang di Queensland bersama dua orang volunteer yakni vet students dari Queensland University.  Bila rescue satwa liar diperlukan upaya pembiusan (anaesthesia) maka yang turun ke lokasi untuk melakukan termbak bius adalah dokter hewan, dan bila rescue satwa liar dilakukan tanpa pembiusan biasanya tim Australia Zoo Rescue Unit yang turun ke lokasi.  Sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia, bahwa pembiusan satwa liar bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan tanpa supervisi dokter hewan, jadi bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku, sehingga tak mengherankan bila pada kegiatan penangkapan gajah liar, rescue harimau, translokasi satwa liar dengan pembiusan banyak terjadi kematian pasca pembiusan dan penangkapan karena over dosis obat bius, vital signs yang tak termonitor dengan baik, terjadi komplikasi karena efek samping obat bius yang kurang dipahami oleh orang-orang non medis sehingga tidak mendapatkan penanganan cepat, infeksi sekunder yang pada akhirnya juga menyebabkan kematian karena peralatan pembiusan yang tidak steril, serta akibat lainnya yang merugikan.  

Koleksi sampel darah gajah
Selain itu saya juga mengikuti Amber dalam melakukan pengobatan dan koleksi sampel pada gajah asia dan penyu yang ada di enclosure Australia Zoo, jadi punya waktu sedikit untuk berjalan-jalan di zoo dan tidak jenuh karena hanya berada di areal rumah sakit saja yang memang terpisah dari areal zoo, tapi terletak berdampingan. Gajah disana menjalani pemeriksaan hormon secara rutin, seperti halnya kebun binatang lainnya di negara barat, dan ini belum pernah dilakukan secara rutin pada gajah-gajah jinak yang ada di Pusat Latihan Gajah di Sumatera.  Lagi-lagi fasilitas pemeriksaan yang dibutuhkan memang belum tersedia dan tentunya membutuhkan anggaran untuk biaya pemeriksaan yang tidak selalu tersedia di management authority masing-masing. 


Aloe vera untuk obat luka infeksi
Di willdife hospital inipun saya menjumpai herbal medicine untuk mengobati satwa liar.  Saat koala bernama Tony mengalami infeksi pada luka bekas tusukan pen di lengannya yang patah tulang, setelah perawat membersihkan lukanya, Dr. John kemudian mengobati luka itu dengan aloe vera, yakni bagian dalam dari daun tersebut yang telah dihaluskan, sambil dia berkata pada saya, "Ini di negara kamu banyak."  Selama saya disana, yang menangani bedah ortophedic selalu Dr. John, ntah pada burung ataupun koala, dan saya sering ikut bersamanya bila sedang melakukan pembedahan.


Pemandangan menggelikan yang terlihat sehari-hari di rumah sakit, yakni bila ada dokter hewan yang akan melakukan pemeriksaan radiologi, cukup teriak "X-Ray', yang lainnya akan serentak menyingkir keluar ruangan semua meninggalkan kegiatan yang sedang dilakukan atau bersembunyi untuk menghindari terkena radiasi. Dan setiap saat kami pun harus siap-siap diusir bila ada yang akan melakukan X-Ray, karena tidak tersedia ruang khusus yang tertutup untuk pemeriksaan radiologi dan terpisah dari ruangan lainnya di rumah sakit itu.

Bila sedang tidak banyak pasien, kami punya waktu untuk duduk dan istirahat sejenak, saya lebih suka menggunakan waktu itu untuk melihat buku-buku yang tertata rapi di dekat kandang-kandang rawat inap untuk saya baca dan catat bila ada yang penting.  Saat di Perth zoo, saya bisa langsung foto copy sendiri karena di Exotic Office-nya tersedia mesin foto copy yang bebas untuk digunakan, tapi di wildlife hospital  itu tidak tersedia, jadi musti rajin membaca dan mencatat.
Terkadang disaat senggang dan ingin bersantai, saya memilih untuk keluar ruangan karena di dalam rumah sakit suhunya sangat dingin dan membuatku menggigil dan tulang-tulang terasa linu. Dan bila ruangan rumah sakit tidak dibuat dingin, mereka yang ganti tidak bisa bekerja karena kepanasan, kata mereka.
Saya lebih memilih duduk-duduk di teras dengan udara luar yang lebih hangat, biasanya ditemani oleh burung parot yang pandai bicara yang dilepaskan di halaman depan rumah sakit dan suka menirukan kami bicara, juga sering ditemani seorang dokter hewan yang merupakan mahasiswa S2 dari Murdoch University yang sedang research penyakit koala di rumah sakit itu.  Tapi biasanya kami lebih memilih berbicara tentang hal-hal yang sifatnya pribadi, dan bukan tentang medis dan pekerjaan.  Ternyata dia juga pernah berkunjung ke Lampung, Sumatera untuk research parasit pada badak sumatera.


Bedah tulang
Saya membayangkan bila seandainya di Bengkulu memiliki wildlife clinic seperti itu, semua peralatan medis yang dibutuhkan tersedia, alangkah semua menjadi lebih mudah dalam menangani satwa liar.  Pasien yang datang langsung ditangani dengan cepat, ada dokter hewan yang dibantu oleh vet nurse dan volunteer dari vet student. Bila diagnosa dari hasil anamnesa, pemeriksaan umum dan gejala klinis masih kurang jelas dan diperlukan penegakan diagnosa dengan pemeriksaan laboratorium, bisa langsung dilakukan pemeriksaan karena fasilitas untuk itu pun sudah tersedia dan bisa langsung dilihat hasilnya saat itu juga, kemudian baru diputuskan, therapy apa yang akan dilakukan dan bahkan apa perlu tindakan euthanasia untuk mengurangi penderitaannya bagi yang kemungkinannya kecil untuk bisa diselamatkan. Melihat pemamandangan seperti itu setiap hari, muncul rasa cemburu, seandainya kami di Indonesia memiliki peralatan seperti itu, banyak yang bisa dilakukan oleh dokter hewan Indonesia yang bekerja untuk satwa liar di habitatnya. 

Seorang praktisi dokter hewan pasti mempunyai keinginan yang sama, yakni memiliki fasilitas yang menunjang pekerjaannya untuk kepentingan pengobatan.  Mungkin tak banyak orang tahu bahwa terkadang kami sebagai dokter hewan bisa menjadi emosional bila menghadapi situasi yang dilematis, di satu sisi kami bisa berbuat sesuatu untuk mengobati satwa sesegera mungkin tetapi disisi lainnya kami terhambat karena tidak mempunyai peralatan yang memadai di lapangan sehingga satwa tidak bisa diselamatkan.  Biasanya hal-hal seperti itu yang membuat kami merasa sangat bersalah yang mendalam karena tidak bisa berbuat banyak.



"Yes, maybe I'm crazy"



Rescue harimau Putri Buana
dari jerat pemburu di Bengkulu
Membuatku teringat lagi, kenapa saya bisa sampai berada di tempat ini, di Australia Zoo Wildlife Hospital.  Sekitar 6 bulan sebelumnya, saya diminta untuk rescue harimau terjerat di sebuah perkebunan karet dan kakao PT. Mercu Buana yang berlokasi di Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara.  Itu adalah pengalaman saya untuk pertama kalinya menangani harimau sumatera, dan sekarang sudah 11 ekor harimau sumatera yang telah saya tangani, belum termasuk macan dahan dan kucing jenis lainnya.  Saat itu saya hanya memiliki obat bius, yakni Xylazine 2% dan  Ketamine 10% saja. Peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk rescue satwa liar saya tidak punya dan institusi tempat saya bekerja pun tidak punya, seperti blowpipe, blow syringe, blow needle, obat-obatan emergency seperti antidote, diazepam, doxapram, epinephrine, antibiotic, meloxicam, dan lain-lain. Dan tidak memungkinkan lagi untuk mencari  kekurangan peralatan dan obat-obatan dalam setiap rescue harimau secara mendadak, karena akan mengakibatkan harimau hilang diambil pemburu sebelum tim rescue sampai ke lokasi.  Dalam perjalanan saya meminta kawan-kawan saya untuk membantu membuat imitasi blowsyringe, needle dan blow pipe dari pipa paralon, dan yang kami dapatkan dari toko pun tidak sesuai dengan ukuran yang kami butuhkan. Masyarakat, polisi, tentara, karyawan perusahaan mendesak saya untuk cepat melakukan pembiusan karena jerat sling tampak seperti hampir putus, tanpa mereka peduli apakah peralatan bius saya sudah siap dipakai apa belum. Mereka melupakan satu hal, bahwa yang kami hadapi di depan mata itu adalah seekor harimau liar yang tidak bisa didekati bahkan dipegang begitu saja dan sangat agresif karena terluka. Mereka terus mendesak saya untuk cepat melakukan pembiusan sebelum jerat putus.  Semua orang yang ada dibelakang saya sudah berada di atas pohon karet untuk menyelamatkan diri, tinggalah saya ditemani oleh seorang tentara dari koramil Ketahun dan polisi kehutanan berada dibawah dan diguyur hujan deras.  Kami menyumpit bergantian, tetapi lagi-lagi tidak berhasil karena pipa paralon yang dipakai diameternya terlalu lebar dan blowsyringe bocor.  Lagi-lagi mereka yang menonton kami dan berada di tempat aman hanya bisa berteriak agar saya cepat melakukan pembiusan.  Lalu, saya meminta tentara tersebut untuk melindungi saya dari belakang, saya mengatakan, "saya akan suntik bius harimau itu pakai tangan saja".  Mereka tampak heran dengan ucapan saya. Beberapa orang saya minta untuk berada di depan harimau untuk mengalihkan perhatian agar fokus kepada mereka, kemudian saya bersama seorang tentara mengendap-endap dari belakang harimau tersebut, dengan gerakan cepat saya berhasil menyuntikan obat bius ke bagian pantatnya, dan langsung menyelamatkan diri sesaat setelah harimau tersebut menoleh ke arahku untuk siap menyerang. Akhirnya harimau yang kami beri nama Putri Buana itupun berhasil diselamatkan dari jerat pemburu.  Tapi dibalik itu, saya mendapat kritikan keras dari banyak orang, "Yanti, you're crazy."  Sebenarnya, bukan masalah saya telah bertindak gila atau tidak, tapi karena kondisi fasilitas medis yang tidak memadai, kondisi sekitar saya yang terus mendesak tanpa peduli apakah peralatan yang saya miliki tersedia apa tidak, menurut saya itu bukan tindakan gila, tapi tindakan nekat karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik untuk dilakukan.  Tindakan ceroboh yang saya lakukan itulah, akhirnya membawa saya mendapatkan beasiswa dan kesempatan untuk belajar rescue dan penanganan satwa liar di Australia Zoo Wildlife Hospital.


Jalan-Jalan ke Australia Zoo

Ruang Karantina


Kedua dokter hewan  sama-sama penyuka big cat yang sedang bermain
dengan pasiennya, harimau sumatera (Saya bersama Dr. Amber Gillett) 

Saya juga mendapat kesempatan untuk masuk kedalam enclosure di Australia Zoo, terutama di enclosure big cat, disana ada Cheetah dan Harimau Sumatera.  Sore itu, sehabis pulang dari rumah sakit saya diberi tahu oleh Amber bahwa Giles meminta kami untuk datang ke karantina harimau malam itu juga.  Tentu saya sangat antusias untuk pergi kesana, sehabis mandi kami langsung ke karantina, Giles ingin menunjukkan harimau yang dirawatnya pada saya.  Begitu memasuki ruangan karantina, kulihat ada tiga ekor anak harimau di dalam areal yang telah disekat oleh pagar pendek. Disitulah tempat anak-anak harimau tersebut bermain-main, karena juga dijumpai adanya mainan harimau di dalam kandang itu. Dia mengijinkan saya untuk masuk kedalam kandang dan bermain dengan harimau-harimau itu, akhirnya kami bertiga pun masuk kedalam kandang, tentu sangat menyenangkan, setiap melihat kaki, tangan dan tubuh kami bergerak, harimau itu akan lari menerkam, mencakar dan menggigit kaki, tangan, punggung dan leher.  Well...sepertinya mereka ingin mengajak kami bermain dengan cara harimau, tapi tak mengapa meski banyak luka cakaran dan gigitan yang terasa perih, tapi bisa bermain dengan harimau-harimau itu jauh lebih menyenangkan :)  Tak lupa saya juga melihat medical record tentang harimau itu yang ada di whiteboard dan diskusi dengan Amber dan Giles tentang perawatannya, siapa tahu suatu saat saya juga mendapati kasus merescue anak harimau dari perburuan atau konflik dengan manusia maupun anak harimau yang sakit.


Big Cat
Big Cat Office
Saya juga mendapat kesempatan untuk berjalan-jalan ke enclosure big cat dan big cat office.  Melihat-lihat sekeliling dan memotret detail fasilitas kandang didampingi oleh Giles, ikut memberi pengobatan harimau yang sakit dan pemberian pakannya serta melihat sekilas suasana tiger show seperti melihat kepiawaian harimau dalam berenang dan menangkap makanannya. Tidak hanya harimau tapi juga diajak ke enclosure cheetah, namun sayangnya cheetah disana sepertinya tidak bersikap ramah pada saya, dia terus berjalan mondar-mandir seperti mencurigai kedatangan saya.  Seorang animal keepernya berkata,"mungkin dia tidak terbiasa melihat orang asia", jadi dia curiga dan tak henti-hentinya mengamati saya dari kejauhan.  Akhirnya saya disarankan untuk tidak mendekat, dan saya lebih memilih meninggalkan tempat itu dan menunggu animal keeper di big cat office, saya mengisi waktu luang untuk memotret pemandangan sekitar yang menarik.  Dilain waktu, saya juga diberi kesempatan untuk ikut berjalan-jalan dengan cheetah  mengelilingi kebun binatang bersama animal keeper, biasanya jalan yang akan dilewati disterilkan dari pengunjung dan hanya kami saja yang lewat bersama cheetah. Kemudian menyaksikan animal keeper memberi penjelasan edukatif kepada pengunjung tentang cheetah yang dia tangani tentang behavior, habitat, dll.  Ada jadwal tertentu pengunjung bisa mendengarkan penjelasan dari animal keeper, dan biasanya saat seperti ini banyak ditunggu-tunggu oleh pengunjung karena mereka tertarik untuk mendapatkan informasi tentang satwa liar tersebut.


Sehari keliling Australia Zoo 

Koala
Wombat
Saya mendapat kesempatan untuk diperkenalkan dengan satwa liar koleksi Australia Zoo. Ada tiga orang guide yang telah dipersiapkan oleh Australia zoo untuk menemani saya jalan-jalan berkeliling kebun binatang. Di kesempatan pertama seorang wanita muda energik yang menemani saya berkeliling dari satu enclosure ke enclosure lainnya sambil memperkenalkan saya kepada animal keeper yang menangani satwa yang dikunjungi. Dan diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan satwa yang kami kunjungi di enclosure. Mulai dari wombat, kangaroo, koala, berbagai macam burung, primata bahkan saya bisa mendapatkan penjelasan langsung dari guide saya tersebut dan keepernya tentang masing-masing satwa yang dirawatnya.  Ada beberapa satwa liar native Australia yang belum pernah saya lihat sebelumnya seperti Wombat, bahkan saya bisa melihat perbedaan jenis Wombat satu dengan lainnya dari ciri-ciri fisik seperti yang ditunjukkan oleh animal keeper.  Satwa itu lebih mirip seperti marmut tapi besar dan gemuk, dan meskipun berkaki pendek tetapi mampu berlari dengan kecepatan 40km/jam.  Satwa ini termasuk satwa dilindungi di Australia. Selesai berkeliling, Giles menemui saya di information centre dan kemudian saya disarankan untuk melihat juga crocosium show setelah itu baru menemuinya lagi di areal big cat, dan akhirnya saya pun masuk dan mencari tempat yang strategis untuk menonton disana, saya tidak asing lagi dengan keeper yang sedang bermain-main dengan buaya di depan saya.  Adegan-adegan yang kulihat saat itu mengingatkanku kembali dengan Steve Irwin 'Crocodile Hunter'. Setelah acara pertunjukkan itu selesai, akhirnya saya kembali ke lokasi harimau untuk menemui Giles.

Gajah Asia
Ada tiga ekor gajah asia disini
Bimbo, Shabu and Siam

Hari itu saya disarankan untuk melihat fasilitas di enclosure gajah, karena mereka tahu saya bekerja dengan gajah sumatera, untuk kali ini saya berjalan tanpa guide.  Sebelumnya saya membaca pengumuman disana yang menginformasikan tentang jadwal aktivitas harian gajah di Australia zoo.  Ada tiga ekor gajah betina koleksi Australia zoo yang berasal dari Cambodia. Sepertinya ada acara 'feeding time' hari itu, pengunjung sudah banyak berkumpul di depan enclosure untuk menyaksikan gajah makan dan bahkan diberi kesempatan untuk memberi makan tetapi tidak gratis, harus membayar lagi. Saya berpikir bahwa ini cocok sebagai salah satu cara fund rising di kebun binatang, lalu saya memotret acara itu untuk saya share pada kawan-kawan yang bekerja di kebun binatang di Indonesia.  Seorang animal keeper yang bersama gajah melihat saya ada disana dan menyapaku, "Hi, Yanti !"  Saya diminta untuk menunggu sampai acara selesai, akhirnya saya baru tahu setelah acara dengan pengunjung selesai, saya diperkenalkan dengan animal keeper gajah lainnya, dan diajak berjalan-jalan di dalam enclosure dan ditunjukkan mereka juga menanam rumput untuk pakan gajah, dan bercerita tentang aktivitas harian gajah disana. Sebelum meninggalkan tempat itu saya juga diperkenalkan satu per satu dengan gajah-gajah mereka yang semuanya betina dengan seorang keeper gajah senior disana bahkan saya diajak photo bersama.

Harimau Sumatera

Dari lokasi gajah saya kembali menuju ke lokasi harimau. Di perjalanan bertemu dengan Pete, teman satu rumah, yang menurut saya gayanya mirip pemeran Harry Potter dengan kacamata bulat di wajahnya :) Di big cat office saya melihat gudang penyimpanan daging untuk makanan kucing besar, di hutan harimau sumatera makan rusa sambar, disini makan daging kanguru.  Dan meilhat pembuatan souvenir 'telapak kaki harimau' dan akhirnya saya pun dapat bonus foot print-nya harimau bernama Kant sebagai kenang-kenangan yang masih saya simpan sampai sekarang. Seorang animal keeper mengajak saya menuju halaman dimana sudah ada dua ekor anakan harimau yang sedang bermain-main, tampak sangat agresif.  Kemudian saya ditawari untuk berfoto dengan salah satu harimau tersebut.  Dia duduk begitu santai saat berfoto dengan saya tanpa animal keeper disampingnya, berbeda saat saya pertama kali melihatnya yang begitu agresif.


Bekerja bersama Australia Zoo Rescue Unit



Mobil  untuk Rescue
Hari itu saya berangkat ke wildlife hospital bersama Julie, karena Amber sedang libur.  Pagi itu saya dijemput oleh kawan baru saya, Kate Winter tapi dia biasa dipanggil Kado, yakni staff Australia Zoo Rescue Unit.  Kemudian kami meninggalkan hospital menuju base-nya rescue unit.  Ada beberapa anggota rescue unit lainnya, saya pun diperkenalkan satu per satu, dan lainnya sedang berada di lapangan.  Kami makan siang terlebih dulu dengan bekal masing-masing, baru beraksi.  Saya pernah menonton aksi mereka di televisi di Indonesia, dan sekarang saya punya kesempatan bergabung dengan mereka untuk penyelamatan satwa liar.  Setiap hari mereka bekerja dari pagi kadang hingga malam untuk rescue satwa liar.  Masyarakat akan menghubungi mereka bila melihat ada satwa liar yang perlu diselamatkan atau bila ada satwa liar berbahaya yang masuk halaman atau rumah mereka.  Penerima telepon tidak hanya tim rescue unit secara langsung  tetapi juga wildlife hospital yang kemudian menyampaikannya kepada tim rescue.  Dalam mobil rescue unit juga tertulis besar-besar telepon yang bisa dihubungi bila ingin melaporkan adanya satwa liar yang perlu pertolongan agar masyarakat luas bisa membacanya.  Ooh...seandainya di Sumatera ada tim rescue seperti ini yang bisa leluasa bergerak kemana-mana seperti ini tanpa dibatasi wilayah dan otoritas.


Ular berbisa yang terdapat di dalam tumpukan kayu perapian
Saya sedang bersama Kado hari itu, tiba-tiba telepon berdering dan menyampaikan ada ular berbisa yang berada di dalam kayu perapian di teras rumah warga.  Setelah alamat penelpon dicatat, kami segera menuju lokasi secepatnya. Kado yang menyetir mobil dan saya yang membaca peta untuk menemukan alamat penelpon. Rumah tersebut jauh dari keramaian dan jauh dari jalan raya, disekitarnya hutan.  Di ujung jalan tanah kami menemukan sebuah rumah.  Pemilik rumah seorang wanita tua menyambut kami berdua dan menunjukkan lokasi ular tersebut, dia menunjuk tumpukan kayu perapian yang ada di teras rumah. Kado menghubungi anggota tim rescue lainnya untuk menuju ke lokasi, tak lama kemudian beberapa orang datang dan salah satu anggota tim rescue mengambil ular tersebut dengan mudahnya.  Tak lupa saya mengambil photo dan video saat mereka beraksi.  Karena kondisi ular tersebut sehat maka kami merelokasinya dan segera melepasliarkannya kembali ke dalam hutan.  



Tak lama kemudian kami mendapat telepon lagi dari masyarakat bahwa ada ular yang masuk kedalam rumah warga di tempat yang berbeda.  Jarak satu lokasi ke lokasi lainnya berjauhan, kami segera meluncur kesana. Seorang wanita pemilik rumah menyambut kami dan menunjukkan lokasi ular tersebut berada. Tim rescue langsung masuk ke dalam rumah dan mengambilnya dan memasukkan ke dalam kantong untuk dilepasliarkan kembali.  Cepat sekali mereka bekerja.  Tak lupa pula saya mendokumentasikan aksi mereka.  

Kemudian kami masih harus melakukan rescue ular yang berada dibawah kolong mobil di tempat yang berbeda.  Pemilik mobil itu ketakutan. Sesampainya di lokasi kami memeriksa kolong mobil dan areal disekitarnya, tapi tak menemukan ular yang dicari.  Kemungkinan ular itu telah pergi.




Queensland

Kami menuju ke pantai, untuk mencari satwa liar yang harus diselamatkan sesuai dengan laporan warga.  Dalam perjalanan ada sms masuk ke hand phone saya dari kawan-kawan kerja di Pusat Konservasi Gajah Seblat untuk mengucapakan selamat hari raya Idul Fitri.  Diakhir bulan ramadhan itu saya memang sedang tidak berpuasa, saya pun tak teringat lagi bahwa hari itu adalah hari raya idul fitri bagi umat islam yang ada di seluruh dunia.  Saya menceritakan itu kepada kawan-kawan saya, tim rescue, kemudian mereka langsung mengucapkan, "Happy Id, Yanti".  Selama tinggal di Beerwah, saya tidak pernah melihat masjid juga orang muslim, tidak seperti saat masih tinggal di Perth masih bisa sering bertemu dengan orang Indonesia dan Malaysia dan orang-orang berjilbab, sehingga suasana ramadhan dan lebaran pun pastinya masih bisa terasa disana.  Sesampainya di pantai, kami memeriksa sekitar batu coral dipinggir pantai tetapi tidak menemukan apapun.  Akhirnya kami pun bersantai sejenak di pantai untuk mengambil photo.  Kawan-kawan menunjukkan pada saya tampak dari kejauhan ikan paus sedang menyemburkan air ke atas, namun saya tidak bisa melihatnya dengan jelas.  Indah sekali tempat itu, lumayan kami bisa menikmati pemandangan indah itu sejenak.



Volunteer sedang merawat bayi kangaroo
Ada satu ular lagi yang harus direscue, masuk kedalam rumah warga.  Kami langsung menuju ke lokasi, rumah itu berada di dalam kota.  Tampak anjingnya ingin menyerang ular itu.  Kemudian kami segera menyelamatkannya dan membawanya ke widlife hospital untuk mendapatkan perawatan sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Saya sudah membayangkan hari itu akan melakukan rescue koala ternyata seharian itu kami malah merescue ular dari pagi hingga sore hari.  Capek namun menyenangkan.  

Saat sampai di depan wildlife hospital saya menjumpai sepasang suami istri yang mungkin usianya sekitar 70-80 tahun, sudah tampak sangat tua namun masih tetap energik dan terlihat bersemangat, mereka berseragam T-Shirt bertuliskan 'Wildlife Warrior' turun dari mobil sambil menggendong koala yang diselamatkannya. Saya bertanya pada kawan tim rescue, "Siapa mereka ?"  Ternyata mereka adalah volunteer Australia Zoo yang menjadi relawan tim rescue, pekerjaannya sehari-hari melakukan rescue satwa liar kemudian membawanya ke widllife hospital untuk mendapatkan perawatan.  Sungguh mulia hati mereka, di usianya yang telah lanjut pun mereka tidak memilih istirahat di rumah tetapi malah aktif membantu tim rescue untuk menyelamatkan satwa liar.  Selain mereka juga masih ada orang-orang lanjut usia yang menjadi relawan di rumah sakit, pekerjaan yang mereka lakukan sangat beragam, ada yang sehari-hari mensterilisasi peralatan bedah dan handuk untuk alas meja periksa dan alas kandang rawat inap satwa liar, merawat bayi, merawat satwa liar yang ada di ruang rawat inap, membersihkan kandang dan memberi makan, membersihkan ruangan rumah sakit serta pekerjaan lainnya.  Mereka semua relawan.  Indah sekali melihat pemandangan sehari-hari seperti itu, hubungan yang harmonis antara manusia dan satwa liar.  Selain itu Australia zoo wildlife hospital juga merupakan tempat magang bagi mahasiswa kedokteran hewan dari banyak negara, tidak hanya dari Australia saja tetapi juga negara-negara diluar Australia.  Saat saya berada disana, saya menjumpai vet students yang magang berasal dari Queensland dan United State.




Di hari lainnya saya masih bergabung dengan Australia Zoo Rescue Unit, hari itu kami akan diberi training bagaimana cara mengoperasionalkan perahu mesin. Ada satu boat yang diletakkan di samping ruangan rescue tim, oleh salah satu dari mereka kami diberi penjelasan mengenai  fungsi dari bagian-bagian perahu tersebut dan bagaimana cara penggunaannya, setelah selesai simulasi kering tersebut kami langsung keluar menuju sebuah bangunan yang menurut saya adalah bengkel perahu, disana kami mengambil sebuah perahu kemudian ditarik dengan mobil rescue unit dan dibawa ke pantai.  Saatnya praktek mengendarai perahu. Kami mendapat training bagaimana cara menurunkan perahu dari darat untuk dibawa ke dermaga, kemudian cara mengendarainya dan mengembalikan ke darat dan disambungkan dengan mobil rescue.  Kami berempat menaiki perahu mesin tersebut, disela-sela pelatihan saya sempatkan mengambil video dan photo untuk dokumentasi, sekaligus memotret burung pelikan yang bergerombol di pulau yang tidak jauh dari lokasi kami training.   Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan anggota tim rescue bila harus bertugas menyelamatkan satwa liar di laut sehingga punya skill juga untuk bisa mengoperasionalkan perahu mesin. Tiba-tiba ada sebuah perahu yang mesinnya mogok di laut tak jauh dari pantai, teman saya menawarkan ke pria itu untuk menolongnya, menarik perahunya dengan perahu kami untuk dibawa ke pantai.  Dia menyetujui tawaran kawan kami, akhirnya dalam pelatihan tersebut Tim rescue satwa liar Australia Zoo pun langsung praktek untuk menyelamatkan orang di laut yang perahu mesinnya mogok.  Untuk praktek pertama, rescue manusia dan bukan satwa liar :)

Waktuku menjadi volunteer dokter hewan di Australia Zoo Wildlife hospital akan segera berakhir dan saya pun harus kembali ke Indonesia.  Dihari-hari terakhir saya sudah mulai packing barang-barang saya yang hanya berupa 1 buah travel bag dan 1 buah daypack kecil. Kawan-kawan yang bekerja di wildlife hospital mengajak saya makan malam bersama di sebuah restoran, dan akhirnya sampai juga setelah mencari-cari alamat restoran yang telah disepakati untuk bertemu, memasuki restoran saya berubah cemas karena baru menyadari bila dompet saya ketinggalan di rumah.  Bila ada undangan untuk dinner bersama biasanya harus bayar makanannya sendiri-sendiri. Amber mengajakku untuk memesan makanan dan kawan lainnya memintaku untuk memesan minumanku sendiri dan akhirnya membuatku untuk berterus terang pada mereka bahwa saya tidak membawa uang :)  Kesalahan fatal yang saya lakukan di malam terakhir itu, ketinggalan dompet karena terburu-buru.



Pengobatan Penyu
Hari itu adalah hari terakhir saya berada di willdife hospital, seperti biasa pagi itu saya masih bekerja dan berangkat bersama Amber dengan membawa barang-barang saya sekaligus, karena saya berencana berangkat ke airport dari wildlife hospital.  Pagi itu saya masih mengikuti Amber dan seorang perawat menuju enclosure gajah untuk koleksi sampel darah guna pemeriksaan hormonal. Sekembalinya dari lokasi gajah, kami melanjutkan pengobatan penyu di enclosure Australia Zoo.  Begitu kembali ke wildlife hospital , manajer rumah sakit menyodorkan beberapa lembar kertas, saya diminta mengisinya sebelum meninggalkan wildlife hospital.  Sisa waktu saya pakai berkeliling untuk berpamitan dengan banyak orang yang saya kenal.  Bahkan saya masih punya waktu membeli souvenir untuk dibawa pulang. Saya menghubungi Giles dengan handphone untuk mengabarkan bahwa saya akan pulang pukul 10.00 waktu setempat, saya khawatir tidak bisa berpamitan dengannya secara langsung karena lokasi bekerja yang berjauhan. Giles akhirnya menyempatkan diri untuk menemuiku di wildlife hospital, dialah orang yang banyak membantu saya dan yang mendukung saya agar bisa menjadi volunteer di Australia Zoo Willdife Hospital atas biaya transportasi dan akomodasi dari Australia Zoo atas rekomendasi dari seorang teman yang bekerja di Fauna and Flora International untuk proyek Tiger Protection and Conservation Unit di Kerinci Seblat National Park. Kemudian Dr. John yang tidak banyak bicara dengan saya sebelumnya pun menemuiku untuk mengucapkan terimakasih dan kata-kata perpisahan membuat saya sangat terharu.  Sebelum itu acara pamitan dengan kawan-kawan berjalan lancar tanpa melibatkan emosi, lama-lama saat saya memeluk mereka satu persatu untuk mengucapkan selamat tinggal tak terasa air mata pun jatuh, apalagi saat saya berpelukan dengan Amber yang sejak pertama kali datang sampai selesai banyak membantu saya, dan saya pun benar-benar menangis sedih sekaligus juga bahagia karena telah dipertemukan dengan orang-orang sebaik mereka. Seorang staff Australia Zoo mengantarkan saya dari Beerwah menuju airport di Brisbane.  Perjalanan yang lumayan jauh menjadi tak terasa karena kami keasyikan ngobrol sepanjang perjalanan siang itu.  Dengan Singapore Airlines saya berangkat dari Brisbane menuju Jakarta dengan transit satu malam di Singapore.

Jumat, 23 Agustus 2013

Global Edu Camp, tempat berlibur yang menarik untuk dikunjungi

Global Educamp berlokasi di lereng Gunung Salak, tepatnya berada di Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.  Dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam dari pusat kota Bogor. Merupakan tempat yang ideal untuk bermain, belajar dan berpetualang di alam desa. Banyak program kegiatan yang ditawarkan disana baik untuk anak-anak maupun orang dewasa, diantaranya Rekreasi Edukasi, Adventure Edukasi,  Edukids Program, Program Pelatihan dan Event Program., termasuk program kegiatan bagi orang yang punya minat khusus seperti photography. Selain itu dijumpai pemandangan sekitar camp site yang menawan seperti Air Terjun Curug Sawer serta teras siring yang sejauh mata memandang tampak hijau.


Curug Sawer tampak dari Cafe Gegunungan



Photo Karya Riza Marlon yang menarik perhatianku
Seorang teman yang juga pemerhati konservasi satwa liar mengajak saya untuk berjalan-jalan ke Bogor, sehingga saya bisa mengisi waktu luang selama beberapa hari sambil menunggu penerbangan ke Bengkulu.  Pagi itu kami berangkat ke Bogor dengan menggunakan bus antar kota dari Jakarta menuju Bogor.  Sesampainya disana, kami langsung mengunjungi seorang teman yang merupakan salah satu photographer hidupan liar di Indonesia, dia adalah kawan dari teman perjalanan saya, kebetulan saya sendiri memang belum mengenalnya dengan baik, meskipun sebelumnya pernah bertemu di acara salah satu NGO Internasional yang bergerak dibidang konservasi satwa liar yang berada di Bogor.  Namanya pun tak asing lagi bagi saya, karena karya-karya photonya yang menarik.  Akhirnya sampai juga kami di rumah Riza Marlon seorang wildlife photographer, rumah berhalaman sejuk dengan banyak tanaman serta memiliki desain interior yang unik dan bernuansa natural serta tampak banyak photo satwa liar hasil karyanya menghiasi dinding.  Pemilik rumah menyambut kami dengan ramah.  Obrolan kami berlanjut dengan hal-hal yang berhubungan dengan photography, tumpukan buku-buku tentang hasil karya photography, salah satunya adalah buku hasil karyanya disuguhkan pada saya untuk dinikmati, sekaligus untuk menginspirasi  dan memotivasi agar saya rajin membuat dokumentasi saat bekerja dan kelak mungkin bisa dijadikan buku seperti karyanya. Seorang teman dari Sumatran Tiger Conservation Forum atau lebih dikenal dengan Forum HarimauKita (FHK) berjanji akan datang dan menemui saya ke rumah itu.  Tak lama kemudian yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kebetulan kami semua membawa camera.  Berada di rumah seorang wildlife photographer alangkah sayangnya bila dilewatkan dan tidak dimanfaatkan untuk berdiskusi tentang photography dan belajar cara memotret yang benar.  Sore itu, kami mendadak belajar photography dengan obyek yang telah disediakan, terutama belajar cara penggunaan fasilitas yang tersedia dalam camera disesuaikan dengan kebutuhan. Bekerja dengan satwa liar memang penting untuk belajar photography yang benar, karena photo yang menarik sangat menunjang keperluan untuk publikasi kegiatan konservasi satwa liar yang dilakukan.

Malam itu, saya mengunjungi kantor FHK dengan dijemput teman dari FHK, disana saya bertemu juga dengan beberapa anggota FHK lainnya dan salah satu dari mereka adalah teman saya dalam menangani Tiger-Human Conflict di Provinsi Bengkulu dari Wildlife Conservation Society.  Kemudian, kami berempat bertemu lagi di kantor Suaka Elang.  Karena ada beberapa teman anggota FHK dari Sumatera Barat yakni dari Fauna and Flora International dan dari Universitas Andalas yang sedang mengikuti acara di Bogor, maka saya bersama seorang teman dari FHK Bogor menemui mereka di hotel tempat mereka berkegiatan.  Malam hampir larut, akhirnya kami kembali ke kantor FHK sambil menunggu dua orang teman lainnya yang sudah kukenal sebelumnya yang akan datang malam itu dari luar kota sebelum akhirnya saya kembali lagi ke rumah Riza Marlon.

Cafe Gugunungan tampak dari depan
Cafe Gugunungan tempat kami menginap
Esok harinya kami berencana akan mengunjungi seorang teman di Global Educamp yang berlokasi di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.  Tapi sebelum berangkat kami bertiga masih berdiskusi lagi tentang photography dan saya pun menunjukkan koleksi dokumentasi  saya tentang harimau sumatera di Bengkulu.  Saya mendapat banyak masukan tentang wildlife photography yang tentunya akan sangat berguna di kemudian hari untuk mendukung pekerjaan saya dalam menangani satwa liar.  Seandainya kami masing-masing punya banyak waktu, pasti saya masih ingin banyak berdiskusi dengannya yang sudah kurang lebih 30 tahun berkecimpung di dunia photography.  Akhirnya kami pun berpamitan dan berangkat kembali untuk menemui seorang teman yang mengelola Global Educamp.  Setelah keluar kota Bogor terasa udara sangat sejuk, kubuka jendela dan merasakan sejuknya hembusan angin yang menerpa wajahku, dan melihat sekeliling yang tampak hijau.  Tak lama kemudian kami sampai di lokasi Global Educamp, disambut oleh seorang wanita yang akhirnya saya ketahui sebagai pengelola disana, kami memanggilnya mbak Unik, dan juga diperkenalkan dengan beberapa orang lainnya yang sedang ada di kantor Global Educamp.  Desain interior bangunan kantornya sangat menawan dan terbuat dari bahan alami, sangat sesuai dengan lingkungan disekitarnya yang rindang dan hijau  dengan pepohonan.  Setelah istirahat sejenak, kami ditawari untuk menuju cafe Gugunungan yang terletak agak jauh dari kantor dan melewati ladang persawahan yang menghijau dengan naik turun menelusuri jalan setapak.  Di tengah perjalanan kami berhenti sejenak menyaksikan pengeringan kolam ikan dan menyelamatkan bibit-bibit ikan yang akan dipindahkan ke kolam lainnya. Siang itu kami bertiga menuju cafe Gugunungan yang akan kami jadikan tempat untuk menginap, untuk menuju kesana melewati persawahan dan jalannya menanjak, namun sesampainya diatas akan terpesona dengan pemandangan sekitarnya yang indah, tampak teras siring dipenuhi dengan tanaman padi yang hijau, serta air terjun yang mempesona tampak dari atas serta perbukitan. Tidak hanya itu, bangunan yang kami tempati inipun didesain se-alami mungkin agar menyatu dengan sekitarnya, sangat nyaman dan sepi, tiangnya terbuat dari kayu pinus dan bambu, semua serba natural, dan di dalam ruangan ada aliran sungai.  Benar-benar nyaman dibuatnya, sunyi dan hanya terdengar suara air mengalir dan suara aneka jenis binatang disekitar bangunan tersebut.  Selain itu juga tersedia toilet, dapur dan ruangan untuk bersantai dan makan.  Balkon menghadap air terjun dan ladang yang hijau membentang seperti tangga.  Pertama kali menginjakkan kaki ke tempat itu dan saya pun langsung menyukainya.  Pengelola disitu, mbak Unik kami memanggilnya, orangnya sangat ramah dan yang akan menemani kami menginap disana beserta seorang keponakannya.

Hari ini kami bertiga mendapatkan makan siang yang istimewa, menu makanan yang sangat saya sukai, ada sayur asem (rasa masakan sunda), sambal, ikan goreng, tahu goreng dan lalapan, makan siang bersama di balkon dengan pemandagan air terjun.  Makanan lezat dengan sambil melihat pemandangan yang indah merupakan kombinasi yang menarik, makan siang kami terasa lebih nikmat.

Tak sabar untuk segera turun ke air terjun, salah satu pemandangan yang menarik perhatianku sejak pertama datang dan ingin segera hunting photo tentunya, ingin memotret serangga dan bunga liar serta pemandangan sekitar.  Bermain di lokasi air terjun sampai menjelang sore hari kemudian kami kembali ke atas, ke tempat kami menginap. Hari telah gelap, sekitar bangunan tampak gelap dan sunyi yang terdengar hanya suara katak bersaut-sautan dan suara air sungai yang mengalir di dalam ruangan, udara terasa dingin karena tempatnya memang setengah terbuka.  Kami berempat makan malam bersama, kemudian kami disibukan dengan urusan masing-masing, saya memilih untuk melihat photo hasil memotret hari itu sambil mendengarkan musik dari laptop, dan sambil ngobrol dan bercanda dengan kawan-kawan lainnya. Malam semakin larut, Anjar keponakan mbak Unik tidur lebih dulu karena besok harus sekolah pagi, kemudian mbak Unik menyusul setelah menganyam benang berjam-jam untuk membuatkan gelang tangan untukku.

Curug Sawer - Global Educamp - Bogor

Dan kami malam itu tidak berencana langsung menyusul mereka untuk tidur, tapi masih ingin hunting photo lagi, targetnya adalah katak, namun sayangnya kami tidak menjumpainya, akhirnya berubah pikiran untuk memotret serangga.  Pukul 00.00 WIB kami mulai berkeliling di sekitar lokasi di sawah dan semak-semak untuk mencari serangga dengan bantuan headlamp, kemudian memotretnya sampai sekitar pukul 01.15 WIB.  Pulang dari memotret serangga, kami belum langsung istirahat tetapi masih ingin melihat-lihat hasil motret malam itu dan menyalinnya ke laptop.  Ini untuk pertama kalinya saya belajar memotret malam hari, dan ternyata tidak semudah yang saya bayangkan.

Hasil memotret insekta di malam hari di sekitar campsite Global Educamp


menelusuri sungai di sekitar camp site
Sungai Unieque
Udara sangat dingin, sejak sore kabut sudah turun sampai esok paginya.  Pagi itu kami bertiga ingin berjalan-jalan menelusuri sungai sambil memotret tentunya, sambil menunggu sinar matahari terbit menyinari areal sekitar air terjun.  Perjalanan kami dimulai dari lokasi sekitar air terjun, melewati pematang sawah dan aliran sungai, setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, kami sampai disebuah sungai dengan air terjun kecil dan seperti kolam renang yang bening dan sejuk karena pohon disekitarnya.  Saya pun penasaran ingin menuju kesana, dan ternyata tempat itu memang benar-benar indah. Tempat itupun belum banyak didatangi orang. Apalagi masyarakat lokal mempunyai kepercayaan untuk menghindari datang ke tempat-tempat seperti itu karena menurut mereka angker dan ada penunggunya. Bagi kami justru tempat seperti itu yang menarik untuk dikunjungi, selain sunyi, pemandagannya juga indah. Karena waktu yang terbatas akhirnya menyadarkan kami untuk tidak berlama-lama di sungai yang lebih mirip dengan kolam renang itu, kami harus segera kembali karena siang itu kami harus meninggalkan Bogor untuk kembali pulang.

Bagi anda yang ingin tahu lebih banyak tentang tempat ini dan mengunjunginya, bisa mendapatkan informasi di link ini www.globaleducamp.wordpress.com dan www.globaleducamp.co.id .  Atau bisa menghubungi via email ke marketing@globaleducamp.co.id 

Kamis, 01 Agustus 2013

I want to be free.........


Saya menerima seekor kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) atau lebih biasa disebut dengan kucing hutan hasil rescue polisi kehutanan, dalam kondisi luka lebar di punggung dan masih berdarah.  Kemudian dilakukan upaya pengobatan di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, yakni pembersihan luka dan operasi penjahitan luka.  Semua berjalan dengan baik dan akhirnya sembuh kembali setelah perawatan pasca operasi selama kurang lebih 12 hari.  Dan tumbuh rambut kembali seperti sedia kala setelah kurang lebih 25 hari setelah operasi.  



Perilaku masih normal dan liar kala itu, namun seiringnya waktu karena sering berinteraksi dengan manusia dan terus -menerus diletakkan di kandang yang sempit, kurang lebih berukuran 40cm x 40 cm, lama-kelamaan perilakunya mengalami perubahan, menjadi terbiasa melihat manusia.  Selain itu mulai tampak stress karena dikurung dalam kandang sempit terus-menerus dalam jangka waktu lama.  Tidak adanya perencanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya terhadap satwa liar hasil rescue ataupun penyitaan membuat nasib satwa liar menjadi tidak jelas kedepannya, dan seolah-oalh terkesan tidak dipedulikan dan melupakan bahwa ada makhluk lain yang perlu perhatian serius.

Taman Wisata Alam Seblat (Pusat Konservasi Gajah Seblat)
Kemudian kami mengusulkan agar kucing tersebut segera dilepasliarkan di hutan yang masih bagus kondisinya, dan disepakati bahwa kawasan Taman Wisata Alam Seblat yang merupakan lokasi camp Pusat Konservasi Gajah Seblat merupakan pilihan yang ideal untuk rumah baru kucing liar tersebut, karena hutannya masih terjaga dibandingkan kawasan lainnya yang ada di Provinsi Bengkulu dan disana juga ada unit patroli gajah (Conservation Response Unit) yang melakukan patroli pengamanan kawasan tersebut secara rutin.   Segala persiapan telah dilakukan dan kucing tersebut siap diangkut dengan mobil patroli menuju PKG Seblat, namun tiba-tiba ada perubahan keputusan dari pengambil kebijakan, bahwa kucing tersebut dibatalkan untuk dilepasliarkan, menurutnya bahwa berada di kandang tersebut jauh lebih baik daripada di alam liar.  Kami tidak bisa memahami atas keputusan ini, yang pasti bila seseorang menganggap bahwa satwa liar lebih baik berada dalam kurungan seumur hidupnya berarti mereka termasuk orang-orang yang tidak peduli dengan satwa liar atau mereka mencintai satwa liar dengan cara yang kurang tepat.  Bagaimanapun setiap makhluk hidup ingin hidup bebas menjalankan fungsinya di alam dan bisa mengekspresikan perilaku alaminya dan tidak ingin terpenjara seumur hidupnya dalam kandang yang sempit sambil menunggu belas kasihan manusia untuk memberi makan padanya.

Prionailurus bengalensis
Setelah 10 bulan berlalu, saya memeriksanya kembali, dan ternyata kucing tersebut masih berada dalam kandang yang sama, sempit dan kotor dan diberi makanan yang kurang bervariasi.  Duduk diam dipojok kandang, tak terdengar lagi suaranya yang beringas seperti dulu bila ada orang yang mendekati kandangnya. Dia telah mengalami stress dalam jangka waktu yang cukup lama.  Bulunya pun telah kusam. Pertanda stress yang dialaminya telah mempengaruhi kesehatannya.  Di tempat ini ada seratus orang lebih yang bekerja untuk konservasi satwa liar dan habitatnya.  Dari sekian banyak orang tersebut adakah yang tersentuh hatinya dan mau peduli untuk membuat hidup kucing itu jauh lebih baik ???  Ataukah hanya sibuk dengan proyek-proyek  yang ada dan melupakan bahwa ada makhluk hidup lain yang sehari-hari berada di dekat mereka yang memerlukan bantuan manusia untuk bisa terlepas dari penjara itu, penjara kebijakan dan jeruji kawat yang sempit dan kotor.

Terlampau sedih setiap kali melihatnya.  Birokrasi yang dibuat rumit tidak membuat kehidupan satwa liar ini manjadi lebih baik. Satwa liar tidak mengenal birokrasi, yang dia inginkan dalam hidupnya hanyalah makan minum yang cukup, tempat tinggal yang layak sesuai dengan pola hidupnya serta bisa mengekspresikan perilaku alaminya.  Dan kami ingin kucing tersebut punya masa depan yang lebih baik dan tentunya tidak di kandang sempit itu.  Apapun resikonya, berharap dia akan punya kehidupan yang lebih baik nantinya (berpikir sambil merencanakan sesuatu yang tak terduga)

" Siapapun yang melakukannya bahwa menyiksa satwa termasuk salah satu kejahatan terhadap satwa liar "

Kejahatan yang Tak Pernah Terungkap


Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
Pratama, mati dibunuh pemburu
dan gadingnya hilang
Hari itu di tahun 2007, saya sedang mengobati gajah jinak di camp Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara. Gajah yang diberi nama Pratama kondisinya memang kurang sehat, tampak kurus dan nafsu makan kurang.  Pratama artinya yang pertama, karena gajah tersebut memang tangkapan pertama dan penghuni pertama saat PLG Seblat didirikan, yakni sekitar tahun 90an.  Menurut informasi dari mahout (pawang gajah), sejak pertama ditangkap kondisi tubuh gajah Pratama memang sudah kurus seperti itu dan makannya lambat serta pilih-pilih makanan, tidak seperti gajah lainnya.  Saat itu dia tampak lesu, sehingga therapy yang dilakukan juga untuk menambah nafsu makannya, selain dilakukan beberapa pemeriksaan medis termasuk pemeriksaan laboratorium guna mengetahui agen penyebabnya. 

Kemudian selama dua hari saya meninggalkannya pergi ke kota Bengkulu untuk mengambil obat-obatan yang telah saya pesan sebelumnya untuk mengobati gajah Pratama.  Saat itu perjalanan di dalam kota saya memilih naik angkutan umum.  Sekembalinya saya mengambil obat-obatan, sebuah short message masuk ke handphone saya dari koordinator PLG Seblat waktu itu dan mengabarkan bahwa gajah Pratama ditemukan mati pagi itu di dalam hutan.  Seketika itu juga saya tidak bisa menahan lagi air mata yang jatuh, tiba-tiba saya menangis dan tak peduli lagi bahwa saya sedang berada di tempat umum.  Rasanya begitu sedih dan sempat membuatku mengeluh pada diri-sendiri, "kenapa saya tidak diberi kesempatan untuk mengobatinya, kenapa Pratama mati pada saat saya meninggalkannya dan sedang mengambil obat untuknya, kenapa secepat ini", dan segudang pertanyaan lainnya yang memenuhi otakku.  Tak lama kemudian ada short message lagi ke handphone saya, tulisan itu mengatakan bahwa "gading dan gigi Pratama hilang." Seketika itu juga perasaanku jadi berubah marah, karena dari pesan yang kuterima itu menandakan bahwa Pratama mati bukan karena sakit tetapi karena dibunuh......dibunuh oleh pemburu.  Selain rasa marah, juga ada dorongan yang kuat dalam hati kecilku, "saya ingin tahu siapa pembunuhnya.  Pembunuh gajah kami, saya benar-benar ingin tahu siapa pembunuh itu.  Dia harus ditemukan."

Hari itu akhirnya saya berangkat ke camp PLG Seblat yang ditempuh selama 4-5 jam dengan perjalanan darat dari Kota Bengkulu.  Esok paginya kami berjalan menuju ke hutan dimana Pratama ditemukan mati oleh mahout-nya (pawang gajah) untuk melakukan otopsi.  Sesampainya di lokasi terlihat ada seekor gajah yang rebah dibalik semak-semak, bila dilihat dari belakang tidak tampak kalau gajah tersebut mati dibunuh, begitu melihat dari depan akan terlihat bagian kepala dari atas mata sampai mulut hancur bekas luka senjata tajam dan masih mengeluarkan darah segar.  Tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan kesedihan di hati kami melihat itu semua.  Hanya satu yang ada dibenak saya waktu itu, "sungguh biadab pelakunya, pelakunya harus diganjar hukuman setimpal".  Kami tidak hanya melakukan otopsi tetapi juga memeriksa lingkungan sekitarnya, ditemukan ada tas plastik sepertinya bekas bungkus makanan yang diberikan ke gajah tersebut (kemungkinan bungkus makanan yang dicampur dengan racun), ada bekas muntahan di sekitar bangkai, juga ditemukan beberapa jejak kaki kemungkinan kaki-kaki pemburu yang membunuhnya.  Mereka mengarah ke Sungai Seblat.

Sepulang dari melakukan otopsi, saya melihat-lihat lagi album photo saya, ada koleksi photo gajah Pratama yang saya ambil terakhir sebelum dia mati dibunuh.  Membuat saya sangat sedih mengingatnya. Gading Pratama yang panjang dan besar, dan paling bagus diantara gading gajah jantan PLG Seblat lainnya membuatnya menjadi incaran pemburu dan hidupnya pun berakhir dengan kematian karena dibunuh hanya untuk mengambil sepasang gading miliknya dan giginya.  Nyawa seekor gajah tidak ada nilainya dibandingkan dengan sepasang gading. Gading yang akan dijadikan souvenir untuk pipa rokok, perhiasan, tongkat, atau sekedar menjadi pajangan di rumah-rumah orang berduit dan bahkan ada yang menjadikannya sebagai souvenir untuk bekal mutasi ataupun promosi jabatan para aparat kepada atasannya dan lain-lain.

Setelah 6 tahun berlalu sejak kejadian itupun tak pernah terdengar adanya upaya untuk mengungkap kejadian pembunuhan gajah tersebut.  Kasus kejahatan itupun sirna begitu saja dan meninggalkan teka-teki yang tak terjawab, siapakah pembunuhnya dan siapakah yang terlibat dalam aksi tersebut.  Namun, bagi kami yang bekerja dengan gajah-gajah itu, kejadian itu tak mungkin terlupakan, dan masih membekas jelas di pikiran kami masing-masing.  Dan ternyata sebelum kasus itu terjadi di tahun-tahun sebelumnya telah beberapa kali terjadi pembunuhan gajah jantan untuk diambil gadingnya di PLG Seblat yang dilakukan oleh pemburu.  Dan pelakunya pun tidak diungkap sampai akhirnya pun tak pernah terungkap.


Paula dan Gia, mati tertembak
Di tahun 2009 telah terjadi pembunuhan gajah di empat provinsi yakni Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Riau dan di lima lokasi secara serentak yang dilakukan oleh pemburu, dan semuanya adalah gajah jinak. Semua yang dibunuh adalah gajah jantan untuk diambil gadingnya, kecuali di Bengkulu, keduanya adalah gajah betina.  Dua ekor gajah jinak yang dibunuh adalah gajah patroli kawasan yang sedang berpatroli bersama tim Conservation Response Unit untuk mengamankan kawasan habitat gajah liar dari aktivitas illegal. Namun naas, kedua gajah tersebut yakni Paula dan Gia setelah patroli dibiarkan disekitar tenda tim patroli untuk mencari makan bersama dua ekor gajah lainnya yakni Devi dan Nelson di dalam kawasan hutan TWA Seblat.  Malam itu terdengar suara tembakan di dalam kawasan, setelah diperiksa ternyata gajah bernama Paula dan Gia telah roboh dengan luka tembak tepat di kepala dan tembus ke otak.  Kedua gajah tersebut mati seketika.  Sedangkan gajah Nelson dan Devi selamat dari sasaran peluru. Setelah dilakukan otopsi (bedah bangkai) ditemukan serpihan peluru di dalam otak yang sudah hancur seperti bubur.  Barang bukti berupa peluru dikirim ke laboratorium forensik di Palembang untuk identifikasi jenis senjatanya.  Seperti dugaan semula bahwa jenis senjata dari peluru itu adalah milik aparat.  Setelah kejadian itu semua aparat yang bertugas di perkebunan kelapa sawit di sekitar kawasan TWA Seblat ditarik mundur oleh institusinya, dan sejak itu pula adanya ancaman melalui sms dari orang-orang yang tidak dikenal kepada tim patroli hutan.  Kami pun sudah bisa menduga dan bisa mengidentifikasi siapa sesungguhnya pelakunya, karena aparat yang ditugaskan di perusahaan perkebunan sawit bisa diidentifikasi dengan mudah apalagi yang keluar masuk hutan secara illegal. Namun sayangnya, untuk pemeriksaan lanjutan tidak bisa dilaksanakan dengan alasan tidak adanya dana untuk pemeriksaan itu menurut institusi tersebut, sehingga muncul dugaan apakah karena ini satu institusi dengan pelaku akhirnya untuk upaya penyelidikan lebih lanjut pun harus berakhir sampai disitu.  Suatu hari saya dipanggil pimpinan, yang berusaha meredam amarahku karena kasus ini tidak tuntas dengan mengatakan, "kita masih membutuhkan institusi itu untuk bekerjasama menangani kejahatan dibidang kehutanan lainnya, kalau kita menuntut kasus ini sampai tuntas hubungan antar institusi akan tidak baik."  Dan diharapkan saya bisa memaklumi itu, tapi kenyataannya rasa sakit hati dan kecewa yang mendalam yang muncul.  Mereka tidak pernah merasakan apa yang kami rasakan, kami setiap hari dekat dan bekerja dengan gajah-gajah itu, sudah terjalin ikatan emosional dengan mereka karena interaksi setiap hari dengan gajah-gajah terlebih lagi hubungan emosional antara mahout dan gajahnya, kehilangan mereka seperti kehilangan anggota keluarga kami. Dan saat itu kami harus menerima bila kasus itu tidak ditindaklanjuti.  Sakit rasanya mendengarnya.  Paula adalah gajah remaja yang pintar, dia sedang dalam program pelatihan pemeriksaan medis. Gia juga gajah yang baik.  Kami harus kehilangan mereka karena tingkah aparat yang masuk kawasan konservasi secara illegal dan menyalahgunakan senjata untuk membunuh satwa liar dilindungi. Dan sampai akhirnya untuk kesekian kalinya kami pun harus memaklumi perbuatannya untuk tidak ditindak secara hukum.

Wild Elephant
Pada tahun 2007, seekor gajah liar anakan ditemukan di dalam sungai kecil di areal perkebunan sawit milik perusahaan di Jambi.  Gajah ditemukan masih dalam kondisi hidup namun sudah tidak bertenaga lagi. Sesaat setelah mendapat informasi saya berangkat ke Jambi malam itu untuk membantu tim patroli yang sedang berada di lokasi untuk merescue gajah tersebut.  Sampai di kota Jambi pagi hari dan mendapat khabar bahwa gajah tersebut telah mati, satu jam kemudian kami berangkat menuju lokasi bersama polisi kehutanan, wartawan, dan kasat reskrim dari polres setempat serta kawan-kawan tim patroli dari LSM setempat. Karena jalan sangat buruk, berlumpur dalam, kami terjebak dalam lumpur dan mobil tidak bisa melanjutkan perjalanan. Setelah seharian dalam perjalanan, hari sudah gelap akhirnya kami memutuskan untuk menginap di jalan tersebut. Tidak ada rumah penduduk di sekitar sana dan tidak ada tempat yang nyaman untuk tidur di lokasi itu, saya memilih tidur di bak mobil bagian belakang yang terbuka daripada tidur di jalan yang berlumpur.  Karena hawa dingin akhirnya saya mencari lokasi lain untuk pindah tidur, dan menemukan sebuah gubug seperti post kampling di pinggir jalan.  Tempat yang nyaman untuk beristirahat dibandingkan di bak belakang mobil ataupun di atas tanah. Pagi-pagi sekali kami melanjutkan perjalanan dan berganti mobil hardtop agar bisa mencapai lokasi gajah.  Sore harinya kami baru sampai di lokasi dan langsung melakukan otopsi (bedah bangkai) sampai malam hari, setelah selesai langsung kembali lagi ke kota Jambi.  Hasil dari pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa gajah tersebut mati karena keracunan.  Dan menurut informasi yang saya dapatkan bahwa kasus tersebut tidak ditindak lanjuti untuk penyelidikan lebih lanjut.  Dan perusahaan telah memberi jaminan kepada aparat agar kasus tidak dilanjutkan.  Informasi yang mengecewakan buat saya dan teman-teman saya yang telah membantu untuk melakukan pemeriksaan nekropsi guna mengungkap penyebab kematian gajah itu.  Rasanya kerja yang telah dilakukan, jauhnya dan sulitnya perjalanan menuju lokasi tidak sebanding dengan niat untuk serius melakukan penegakan hukum.  Damai bersyarat antara aparat dan perusahaan yang lebih dipilih mereka dan menganggap kejahatan itu tak pernah ada.

Wild Elephant
Pada tahun 2011, ditemukan bangkai 7 ekor gajah liar di lokasi perkebunan sawit perusahaan yang statusnya masih kawasan Hutan Produksi Terbatas yang belum dialihfungsikan menjadi HGU dan juga ditemukan di dalam hutan konservasi TWA Seblat serta di hutan sekitarnya.  Saat itu saya menduga jumlah bangkai gajah liar yang mati lebih dari 10 ekor tetapi yang berhasil ditemukan dan dilakukan pemeriksaan nekropsi hanya 7 ekor, karena bau bangkai yang lain yang tercium di lokasi berbeda belum ditemukan.  Dari hasil pemeriksaan laboratorium diketahui bahwa gajah tersebut keracunan.  Gajah-gajah tersebut sepertinya mati diracun selain itu juga ditemukan adanya bekas gergaji dan bekas senjata tajam di tulang tengkorak.  Diduga ada unsur kejahatan dibalik kematian gajah-gajah tersebut.  Namun, seperti biasa tindakan yang dilakukan hanya sebatas pemeriksaan forensik tanpa ada penyelidikan lebih lanjut, sehingga wajar bila kejadian seperti ini selalu berulang karena tidak ada efek jera bagi pelaku.

Orangutan Sumatra (Pongo abelii)
Leuser - 3 November 2006
Leuser, dalam perawatan medis
Pada saat saya bersama tim sedang melakukan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Manggatal, yakni sebuah lokasi di dalam hutan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh Provinsi Jambi untuk melakukan pelepasliaran orangutan bernama Tesi, ditengah perjalanan seorang teknisi menyusul dan mengabarkan bahwa ada seekor orangutan ditemukan di sebuah desa dengan luka di kepala.  Membuat saya membatalkan niat untuk ikut pelepasliaran orangutan Tesi dan kembali ke Stasiun Re-Introduksi Orangutan di Sungai Pengian untuk mempersiapkan obat-obatan dan segera berangkat menuju lokasi yang dimaksud.  Bersama seorang polisi kehutanan, seorang keeper orangutan dan seorang driver kami menuju lokasi di Desa Mangupeh.  Suasananya sangat ramai, banyak masayarakat yang sedang berkumpul disana bahkan juga ada aparat desa dan kecamatan setempat.  Namun saya dan seorang keeper tidak peduli dengan kondisi sekitar, kami langsung memeriksa lokasi untuk menemukan orangutan tersebut yang ternyata diletakkan di belakang rumah dalam kandang papan berukuran 1m x 1m x 1m. Setelah diidentifikasi oleh keeper ternyata orangutan tersebut adalah Leuser. Driver kami standby di mobil dan mempersiapkan kandang angkut, sedangkan seorang polisi kehutanan melakukan negosiasi untuk mengambil orangutan tersebut.  Sedangkan kami berdua sibuk dibelakang rumah untuk memeriksa orangutan, ditemukan terdapat luka bacokan senjata tajam di kedua tangannya, beberapa luka memar di bagian tangan dan ada bekas luka tembakan di pelipis, jari dan bagian tubuh lainnya. Luka pada tangannya masih ada yang mengeluarkan darah segar dan ada yang telah busuk dan bernanah. Suhu badannya sangat tinggi (hyperthermia). Setelah selesai memberi pengobatan, membersihkan luka dan membalutnya, kemudian saya memberi informasi hasil temuan dari pemeriksaan tersebut kepada polisi kehutanan yang berada di dalam ruangan.  Saat semua orang sedang sibuk bernegosiasi di dalam ruangan, kami berencana membawa lari kabur orangutan tersebut secepat mungkin, karena masyarakat melarang orangutan dibawa pergi sebelum kami menggantinya dengan sejumlah uang sesuai dengan permintaan mereka. Akhirnya kami pun berhasil kabur dengan mengelabuhi mereka semua dan langsung menuju ke kota Jambi untuk memberi perawatan medis yang memadai.  Sesampai di kota Jambi saya berusaha memberinya buah-buahan tetapi Leuser tidak memberi respon, baru saya menyadari bahwa Leuser mengalami kebutaan. Sedih sekali rasanya waktu itu dan membuat saya seketika itu menangis di depannya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Leuser ?", pikirku. Dari hasil pemeriksaan radiologi (X-Ray) diketahui ada 62 peluru di sekujur tubuhnya dari kepala sampai kaki, dan ditemukan masing-masing ada 2 peluru bersarang di belakang matanya, inilah yang menyebabkan dia buta. Saya juga sempat bolak-balik konsultasi ke dokter spesialis mata dengan harapan salah satu matanya bisa diselamatkan dengan cara operasi. Padahal sebelumnya Leuser adalah orangutan yang sangat pintar dan liar, sekarang dia harus mengalami kebutaan dan tak berdaya seperti ini. Kemudian dilakukan operasi penjahitan luka dan pengeluaran peluru, berangsur-angsur kondisi Leuser semakin membaik.  Tapi hukum harus tetap dijalankan. Membuat saya juga harus hilir mudik Bengkulu-Jambi untuk membantu penyelidikan polisi setempat dan juga hadir di persidangan sebagai saksi ahli dan juga bertemu dengan para pelaku yang jumlahnya 6 orang, salah satunya siswa STM (SMK). Akhirnya mereka divonis 6 bulan penjara, dan yang memperberat hukumannya bahwa akibat perbuatan mereka menyebabkan cacat fisik seumur hidup bagi orangutan dengan bisa dibuktikan bahwa peluru yang terdapat dimata dapat menyebabkan orangutan buta, sehingga orangutan tersebut tidak bisa menjalankan fungsinya lagi di alam seperti semula. Tidak hanya itu, kamipun harus sosialisasi terlebih dulu tentang Undang-Undang yang berhubungan dengan perlindungan satwa liar di Indonesia kepada aparat penegak hukum. Dan inilah kasus pertama kalinya kejahatan terhadap satwa liar yang ditindaklanjuti sampai putusan pengadilan di Provinsi Jambi menurut mereka.


Macan Dahan (Neofelis diardi)
Neo, Macan Dahan
terjerat pemburu di bagian perut
Saya memberi nama seekor macan dahan yang saya rawat pada tahun 2007 'Neo', nama itu saya ambil dari nama latinnya Neofelis diardi.  Macan dahan berjenis kelamin jantan itu hasil penyitaan dari mobil aparat di Provinsi Bengkulu.  Ada bekas luka jerat di sekeliling perutnya.  Rencananya macan dahan itu sebagai hadiah buat sang penguasa di Provinsi Bengkulu.  Aksi penyitaan satwa liar dilindungi tersebut berjalan sangat alot, di perjalanan mobil aparat tersebut sudah dicurigai oleh polisi kehutanan sehingga dilakukan pengintaian di jalan, dan untuk mengehentikan mobil tersebut sampai terjadi aksi kejar-kejaran.  Akhirnya polisi kehutanan harus mengambil paksa satwa tersebut di markas aparat.  Dalam kondisi terluka parah, macan dahan itupun sempat sulit untuk disita. Setelah berhasil akhirnya mendapat perawatan medis di BKSDA Bengkulu dan Kantor Resort Balai Besar TNKS Seblat selama kurang lebih satu bulan.  Setelah sembuh dilakukan pelepasliaran kembali di hutan penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat.  Namun kasus perburuan (penjeratan) yang melibatkan aparat tersebut tak pernah tersentuh hukum, dan dilupakan begitu saja tanpa ada tindak lanjutnya sesuai dengan hukum yang berlaku.


Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
Putri Buana, kaki membusuk
karena jerat pemburu 
Seekor harimau sumatera yang kami beri nama Putri Buana, berjenis kelamin betina usia dewasa terjerat kurang lebih 4 hari di perkebunan karet dan kakao sebuah perusahaan.  Kakinya telah membusuk karena jerat dan harus diamputasi.  Ingin sekali rasanya membawa pemburu itu dan menunjukkan kondisi harimau yang dia jerat begitu mengenaskan, agar dia tahu atas perbuatan keji yang dia lakukan. Tapi yang kami khawatirkan, setelah itu kami akan memukulinya karena marah atas perbuatan yang dia lakukan terhadap harimau itu. Ini adalah harimau pertama yang saya tangani untuk dilepaskan dari jerat pemburu tanpa menggunakan peralatan medis yang memadai, hanya bermodalkan obat bius dan keberanian menyuntiknya secara langsung dengan menghadapi resiko buruk yang terjadi bila harimau memberontak dan menerkam.  Dan kami punya ikatan emosional dengan harimau ini setelah merawatnya selama 29 hari.  Namun pada akhirnya harimau inipun tidak bisa diselamatkan karena kondisinya memburuk. Sebelumnya telah direkomendasikan untuk dieuthanasia, tetapi dua jam sebelum pelaksanaan euthanasia, harimau tersebut mati dengan sendirinya. Membuat kami semua menangisi kepergiannya seperti tak rela dia pergi untuk selamanya.  Tanpa sadar saya pun menangis dan memeluknya erat-erat sesaat setelah dia menghembuskan nafasnya yang terakhir dan tak percaya bahwa dia telah mati dan berusaha membangunkannya kembali.

Meskipun barang bukti ditemukan dalam kondisi hidup, jerat yang dipakai diidentifikasi tim Perlindungan Harimau Sumatra sebagai jerat khusus  harimau dan bukan jenis jerat untuk satwa liar lainnya seperti babi dan lain-lain seperti yang di ungkapkan oleh pemburunya dan aparat setempat.  Juga adanya umpan darah dan daging babi menuju jerat yang diduga difungsikan untuk memancing harimau datang menuju jerat. Pemburunya jelas orangnya.  Namun, penegakan hukum untuk kejahatan yang dilakukannya tak pernah ada, bahkan aparat penegak hukum pun menyangkal bahwa pemburu tersebut bermaksud untuk memburu harimau.  Akhirnya bisa ditebak, kasus inipun menguap begitu saja.  Beberapa tahun kemudian kami pun mendengar bahwa aparat penegak hukum tersebut juga terlibat kasus kejahatan pada harimau di daerahnya.

Saat itu saya menerima kiriman bangkai seekor anakan harimau sumatera. Ditemukan mati di daerah bagian selatan dari Provinsi Bengkulu yang menurut informasi hanyut di sungai.  Saya sudah tidak ingat lagi tahun berapa kejadian itu, dikarenakan banyaknya kejadian kematian harimau dan macan dahan yang berasal dari daerah Bengkulu bagian selatan.  Dibantu dengan seorang mahasiswa kedokteran hewan yang magang, kami melakukan bedah bangkai (pemeriksaan nekropsi) untuk mengetahui penyebab kematiannya.  Anak harimau tersebut sudah kehilangan kedua alis mata, kulit dibagian dahi, kumis, dan seluruh kuku telah dicabut.  Dan ada jahitan dengan senar pancing pada luka sayatan tersebut.  Namun sayangnya, pemeriksaan forensik tersebut hanya formalitas saja, karena petugas setempat menyampaikan bahwa harimau tersebut mati dengan sendirinya berbeda dengan hasil forensik yang telah dilakukan yang menunjukkan adanya unsur kejahatan dibalik kematian harimau tersebut.  Bahkan saya pun bisa membuktikan dengan pemeriksaan forensik apakah harimau tersebut dibunuh terlebih dahulu baru dihanyutkan ke sungai atau harimau tersebut mati karena hanyut di sungai.  Namun, hasil forensik yang telah dilakukan tidak pernah dijadikan dasar untuk melakukan penyidikan lebih lanjut, sehingga penegakan hukum untuk kasus ini pun tak pernah ada dan pelakunya pun tak pernah terungkap.  Lagi-lagi membuat saya sangat kecewa, seperti sia-sia pemeriksaan yang dilakukan karena tidak ada tindak-lanjutnya.

Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu merupakan salah satu kabupaten yang seringkali terjadi human-tiger conflicts. Frekuensi terjadinya konflik urutan kedua setelah kabupaten Seluma di Bengkulu.  Seringkali terdengar harimau turun ke jalan raya di siang hari bahkan bisa dipotret langsung oleh pengguna jalan. Hari itu seorang kepala desa yang desanya menjadi tempat berkeliaran harimau mendatangi kantor BKSDA Bengkulu. Kebetulan saya juga bertemu dengan kepala desa tersebut dan mendengarkan informasi tentang harimau yang selama ini berkeliaran di desanya. Saya juga mendapatkan video hasil rekaman masyarakat yang menunjukkan saat harimau tersebut jalan-jalan di jalan lintas di desa tersebut. Tidak lama setelah itu tiba-tiba saya mendengar berita buruk bahwa harimau itu telah ditembak mati.  Berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa harimau tersebut ditembak mati oleh aparat di Polsek setempat dan harimau dibawa dengan mobil dinasnya. Kemudian SPORC dan Polisi Kehutanan menuju kesana untuk mencari barang bukti dan ternyata ditemukan.  Dan hukuman bagi seorang aparat penegak hukum menyalahgunakan senjata untuk membunuh harimau sumatera tidak setimpal dengan akibat dari perbuatannya yang menghilangkan nyawa seekor satwa liar yang masuk kategori critical endangered species dan melarikan/ menyembunyikan barang bukti, dan hanya mendapatkan sanksi dipindah tugaskan.  Menyedihkan sekali kenyataan yang terjadi.  Undang-Undang no 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya dirasa mandul karena tidak diaplikasikan.

Rajo, Mata Kirinya Buta
karena Tertembak
Pada tahun 2012, ditemukan seekor harimau terjerat oleh pemburu di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.  Tidak hanya itu, disekitar lokasi juga ditemukan 5 buah tombak.  Tidak hanya luka jerat yang membuat kaki harimau membusuk, tetapi ada 9 luka tusukan tombak di sekujur tubuhnya serta ditemukan banyak peluru di kepalanya dan membuat mata harimau buta karena luka tembak.  Harimau yang saya beri nama Rajo itu akhirnya hanya bertahan selama seminggu dalam perawatan medis di rumah sakit satwa liar karena lukanya yang cukup serius dan membuat kondisinya memburuk (kritis).  Bahkan beberapa dokter hewan menyarankan untuk dieuthanasia saja, namun kami masih ingin mengupayakan untuk pengobatan semaksimal mungkin.  Dengan kondisinya yang sangat buruk itu, bahkan saya menduga dia tidak akan bertahan saat dibius dan dilepaskan dari jerat pemburu, atau mungkin tidak akan bertahan saat perjalanan menuju kota Bengkulu atau saat perjalanan menuju rumah sakit satwa liar.  Dan ternyata Rajo pun masih bertahan. Bahkan kami pun sempat mengalami penolakan dari semua penerbangan karena tidak mau mengangkut harimau yang kritis karena tidak mau beresiko,  akhirnya setelah dua hari bernegosiasi mereka pun mengijinkan harimau Rajo diterbangkan untuk dirujuk ke rumah sakit satwa liar di Jawa untuk perawatan lebih lanjut guna menyelamatkannya.  Namun upaya terakhir pun tidak bisa menyelamatkannya, lagi-lagi membuat saya sangat bersedih harus kehilangan dia.  Dan yang membuat saya bersedih lagi karena pelaku tidak terkena jerat hukum apapun atas perbuatannya.  Upaya yang telah kami lakukan untuk menyelamatkannya tidak sebanding dengan hukuman yang seharusnya diberikan pada pelaku kejahatan tersebut. Mereka bebas tanpa sanksi apapun. Untuk kesekian kalinya, kejahatan inipun tak pernah terungkap.

Dara, dijerat Pemburu
Pada tahun 2012, sebulan setelah kejadian harimau terjerat di Kabupaten Lebong, saya mendapat informasi kembali ditemukan seekor harimau terjerat di dalam kawasan Hutan Produksi Air Rami, berjenis kelamin betina, usia dewasa.  Ini adalah satu-satunya lokasi tersulit yang dicapai untuk melepas jerat harimau dibanding kasus-kasus serupa yang terjadi sebelumnya.  Untuk mencapai lokasi harimau terjerat, kami naik mobil seharian melintas areal perkebunan sawit perusahaan untuk menuju perbatasan hutan.  Kemudian dilanjutnya jalan kaki selama dua hari, dengan menyeberangi sungai besar di bagian hulu dan turun naik bukit terjal.  Dan kamipun masih harus tinggal di dalam hutan selama kurang lebih seminggu untuk melakukan amputasi kaki harimau dan melakukan perawatan medis sambil menunggu bantuan kandang angkut datang.  Harimau yang saya beri nama Dara itu akhirnya harus kehilangan kedua kaki depannya karena jerat dan telah membusuk sehingga harus diamputasi.  Namun tak pernah ada upaya untuk mencari pelaku/ pemburunya.  Pelakunya adalah para pemburu profesional khusus harimau, karena banyak juga ditemukan jerat yang masih aktif di sekitar lokasi kejadian dan jerat-jerat yang telah dirusak oleh tim patroli.  Tapi, untuk menjerat hukum pelaku perburuan itu tidak mudah, kalaupun dijerat hukum, vonis hukumannya pun tidak setimpal dengan perbuatannya yang telah membuat harimau cacat seumur hidup dan tidak bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya, sehingga tidak bisa lagi menjalankan fungsinya di alam.  Dan yang terjadinya biasanya para pelaku tetap bebas berkeliaran dan berusaha untuk menjalankan aksi berikutnya, menjerat harimau kembali.

Dari sekitar 20 kasus yang pernah saya lakukan pemeriksaan forensik dan bisa membuktikan bahwa kematian satwa liar dilindungi tersebut akibat wildlife crimes, dan dari semua kasus tersebut hanya satu yang ditindak-lanjuti secara hukum, namun vonis hukumannya pun tidak setimpal dengan akibat yang telah ditimbulkan dari kejahatan yang dilakukan yakni membuat cacat seumur hidup satwa liar tersebut (buta) dan pelaku hanya diganjar hukuman selama 6 bulan penjara.  Sangat jauh dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, yang menyatakan bahwa :

Pasal 21

(2) Setiap orang dilarang untuk :
a. Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, 
mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;

b. Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, 
dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan mati;

c. Mengeluarkan satwa yang dilindungi 
dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

d. Memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, 
atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat 
dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat 
di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

e. Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyiman 
atau memiliki telur atau sarang satwa liar yang dilindungi.


Pasal 40

(2) Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)