Selasa, 29 April 2014

Liburan yang menyenangkan di akhir pekan ini



Catatan Perjalanan

Berawal dari janjian nongkrong bareng dengan kawan-kawan saat makan siang di pinggir pantai dengan menu khusus gulai kepala ikan, yakni bersama kawan dari local NGO yakni Yayasan Genesis Bengkulu serta jurnalis dari Kantor Berita Antara, tiba-tiba mendadak muncul keinginan untuk jalan-jalan ke Desa Sungai Ipuh, Kecamatan Selagan Raya, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu di akhir pekan. Esok hari sudah akhir pekan. Tujuan utama adalah ingin mengunjungi sekolah MTs Syuhada yang memberikan fasilitas pendidikan gratis bagi anak-anak di desa tersebut. Hari gini masih ada sekolah gratis ?! Bagiku ini adalah menarik dan sekaligus membanggakan. Selama ini banyak digembar-gemborkan tentang sekolah gratis namun masih tetap membayar juga. Tapi ini malah ada yang benar-benar tidak dipungut biaya dan adanya di sebuah desa terpencil atas inisiatif salah satu warganya. Aku benar-benar tertarik untuk ikut mengunjungi dan berkenalan dengan pahlawan pendidikan tersebut.

Aku memang tidak suka memanfaatkan liburan dengan menghabiskan waktu untuk nongkrong di mall, dan hanya melihat-lihat barang-barang yang dipajang disana atau orang yang lalu-lalang, karena aku memang tidak suka keramaian. Aku hanya pergi ke tempat-tempat tersebut bila ada tujuan yang jelas seperti berbelanja, nonton bioskop atau sekedar makan dan itupun tidak sering kulakukan. Dan lebih menyukai suasana tenang dan alami seperti bepergian ke daerah pedalaman untuk melihat kehidupan sehari-hari masyarakat disana atau ke hutan habitat satwa liar dan tempat-tempat alami lainnya yang memiliki pemandangan indah serta menyukai kegiatan petualangan ke alam bebas. Itu justru lebih menyenangkan dan bisa kunikmati.


Jumat, 25 April 2014
Jumat malam sehabis maghrib kami berdua, yakni saya bersama seorang teman, Marini Sipayung yang bekerja sebagai jurnalis di Kantor Berita Antara melakukan travelling ke Kecamatan Selagan Raya, Kabupaten Mukomuko dengan menaiki mobil travel yang telah kami pesan sebelumnya. Hanya dengan membayar Rp. 120.000 per orang sudah membawa kami sampai ke desa yang dituju, yakni Desa Sungai Ipuh. Jarak tempuh malam itu sekitar delapan jam. Kami berhenti di Seblat, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara untuk makan malam, dan masih berhenti lagi untuk mengisi BBM di SPBU di Penarik, Kabupaten Mukomuko sebelum melakukan perjalanan kembali menuju desa terpencil itu.

Malam itu waktu menunjukkan pukul 01.24 dini hari, saat kami berhenti di SPBU Penarik, pemandangan sekitar yang terlihat adalah puluhan jirigen besar kemungkinan kapasitasnya sekitar 20 - 25 liter per jirigen diletakkan mengelilingi SPBU, bahkan mobil yang akan mengisi bensin atau solar harus mengantri. Bagiku itu pemandangan yang sangat menarik sekaligus memprihatinkan, karena yang kulihat malam itu adalah sebuah kecurangan yang sudah menjadi budaya dan dibiarkan. Solar atau bensin yang ada dalam jirigen tersebut akan dijual kembali di sepanjang jalan dengan harga per liternya lebih tinggi dari harga jual Pertamina dan bahkan dengan kuantitas dan kualitas yang kurang dari seharusnya. Para pengemudi yang membeli bahan bakar minyak (BBM) dari tempat tersebut biasanya karena terpaksa atau tempat tinggalnya jauh dari SPBU, seperti di daerah terpencil. Terpaksa karena persedian solar atau bensin yang cepat habis karena diborong oleh pemilik jirigen-jirigen tersebut, yang seringkali membuat BBM menjadi barang langka dan menyebabkan antrian panjang hanya untuk mendapatkan bahan bakar minyak di SPBU. Menurut teman-teman saya dari luar Provinsi Bengkulu bahwa antrian panjang yang terjadi di SPBU hanya ditemui di Provinsi Bengkulu, dan tidak ditemui di Provinsi lainnya. Jadi muncul pertanyaan di benakku, "ada apa dengan Bengkulu, kenapa itu bisa terus terjadi sampai hari ini ?"  Bagiku apa yang kulihat malam itu adalah obyek yang menarik untuk diphoto, namun aku ragu, bila saya memotretnya takut orang-orang itu curiga dan berbuat sesuatu yang tidak kami inginkan, hanya gara-gara saya memotret aktivitas illegal seperti itu. Kenapa saya menyebutnya aktivitas illegal, karena perilaku tersebut sangat merugikan kepentingan umum pengguna BBM.

Setelah mengisi BBM, mobil travel yang kami naiki mulai memasuki jalan poros menuju kecamatan Selagan Raya. Ada yang aneh menurutku dengan sopirnya, sepanjang jalan dia sangat faseh berbahasa Batak dengan para penumpang yang hampir keseluruhan orang Batak, kecuali saya tentunya. Namun saat memasuki desa terpencil yang kami tuju, dia berubah aksen bicara menjadi sangat faseh berbahasa Jawa dengan orang disampingnya yang sepertinya berasal dari keturunan Jawa. Membuatku penasaran dan beberapa kali melihatnya dan memastikan apakah orang yang ada di depan saya itu adalah sopir travel yang sebelumnya atau sudah ganti, karena sangat faseh berbahasa daerah Batak dan Jawa, bagiku itu aneh karena saya belum pernah menemui orang yang seperti itu sebelumnya :)

Dalam kegelapan malam itu yang kulihat di sebelah kiri dan kanan jalan yang kulalui ada hutan dan kebun sawit yang didominasi oleh belukar. Sudah biasa bila melakukan perjalanan ke daerah terpencil di Sumatera adakalanya jarang melihat pondok atau rumah warga. Pemukiman penduduk biasanya terkonsentrasi di suatu tempat saja, sedangkan untuk menuju kesana banyak melewati perkebunan atau hutan belukar.

Di Desa Sungai Ipuh, Kecamatan Selagan Raya, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu kami memiliki seorang teman yang asli berasal dari sana dan tinggal di desa itu, namanya Barlian, dia bekerja di local NGO yakni Genesis Bengkulu yang bergerak dibidang konservasi biodiversity dan habitatnya dan masuk jaringan AKAR (AKAR Network) yang memiliki project kegiatan berbasis konservasi di sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Di desa tersebut kami tinggal di rumah keluarganya yang tak jauh dari rumahnya. Sampai di Desa Sungai Ipuh sekitar jam setengah tiga pagi. Teman perjalanan saya sudah seringkali mengunjungi desa itu dan menginap di sana sejak tahun 2007, dan bagi saya sendiri ini adalah untuk pertama kalinya saya mengunjungi daerah tersebut. Desa Sungai Ipuh seperti kampung tua, bangunan rumah didominasi rumah panggung yang terbuat dari kayu, ciri khas rumah adat di Bengkulu. Bahasa daerah disana pun berbeda dengan bahasa daerah yang digunakan masyarakat Mukomuko pada umumnya, malah punya kemiripan dengan bahasa Kerinci, Jambi. Pemukiman di desa ini mengingatkanku pada Desa Suka Merindu yang berlokasi tak jauh dari Pusat Konservasi Gajah Seblat yang dihuni oleh Suku Pekal.


Sabtu, 26 April 2014

Sekolah gratis MTs Syuhada di Kec. Selagan Raya, Mukomuko
Agenda kami hari itu adalah mengunjungi sekolah MTs Syuhada, yang beberapa waktu lalu photonya diposting teman di Facebook dan dimuat oleh Kompas yang membuat terharu. Ternyata mendengarkan langsung dari pendirinya dan para pengajar disana lebih mengharukan lagi sekaligus bangga menemukan kenyataan bahwa di sebuah desa terpencil ada orang yang punya semangat tinggi untuk memajukan pendidikan disana bahkan benar-benar mewujudkannya dan para siswa tidak dipungut biaya untuk bisa bersekolah disana. Kami kesana sekaligus untuk mengantarkan teman dari Kantor Berita Antara yang ingin melakukan liputan disana. Saya pun akhirnya kena todong untuk mengajar pendidikan konservasi yang diikuti oleh seluruh siswa sekolah dan para pengajar termasuk kepala yayasan dan kepala sekolahnya.

Jalan desa yang belum beraspal, masih tanah dan batu koral dan kondisinya naik turun membuatku sempat terjatuh dari motor dan hampir tertimpa motor saat melewati jalan buruk menanjak menuju sekolah tersebut. Meskipun jarang sekali mengendarai motor selama tinggal di Bengkulu tapi saya bisa mengendarai motor tapi bukan di jalan buruk seperti itu...hahaha ! Pada dasarnya saya menyukai petualangan dan hal-hal ekstrim untuk dicoba akhirnya dengan senang hati saya menyetujui saat diminta untuk mengendarai motor sendiri hari itu. Dan hasilnya dapat kenang-kenangan kaki kiri saya bengkak dan memar karena dipakai untuk menyangga motor yang akan terjatuh :)


Minggu, 27 April 2014

Pagi itu kami berencana pergi ke ladang yang lokasinya lumayan jauh dari desa tersebut. Kami packing dengan membawa keperluan untuk mandi di Sungai Selagan, yakni celana pendek, handuk, peralatan mandi dan baju ganti. Camera wajib dibawa karena pasti banyak obyek photo yang menarik disana. Tak lupa kami juga membawa bekal makanan. Saya menanyakan kondisi jalan kepada teman saya yang rumahnya di desa itu untuk memastikan bahwa saya bisa membawa motor sendiri atau perlu bantuan orang lain. Menurut penjelasannya bahwa jalannya jauh lebih buruk. Ya saya bisa membayangkan seperti halnya jalan-jalan kebun/ ladang di pelosok Sumatera tentu tidak ada yang kondisinya bagus karena saya sering blusukan ke tempat-tempat seperti itu sebelumnya. Akhirnya aku punya permintaan untuk dicarikan orang untuk memboncengku. Kami akan membawa dua motor, karena kami bertiga, maka perlu satu orang lagi yang mengendarai motor bersamaku. Semula saya beranggapan bahwa yang akan memboncengku adalah orang dewasa, namun pagi itu yang ada di depanku adalah seorang anak kecil yang baru kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Dia membawa motor besarnya, yakni motor modifikasi hingga bentuk fisiknya menyerupai trail. Aku melihat kakinya pun tidak bisa mencapai tanah saat dia duduk di motor, dan tidak ada tempat pijakan kaki bagi yang dibonceng. Jalan buruk akan menyiksa bila kita tidak bisa duduk dengan nyaman. Disarankan dia berganti motor yang lain yang lebih kecil dan ada tempat pijakan kaki bagi yang dibonceng, namun dia tetap memilih memakai motornya sendiri. Akhirnya saya berpikir bahwa orang akan lebih terbiasa atau menguasai motornya sendiri yang dipakai sehari-hari dibandingkan harus memakai motor orang lain. Dan untuk keselamatan saya membutuhkan orang yang menguasai motornya disaat kami akan melewati jalan-jalan buruk.

Aku baru mengenal anak kecil itu pagi itu, namanya Fernando atau lebih sering dipanggil dengan sebutan Nando, maka sepanjang jalan aku banyak bertanya tentang sekolahnya, motor kesayangannya, hobbynya dan lain-lain. Namun kami sudah mengenal ibunya sehari sebelumnya, saat menceriterakan kenakalan anak itu yang tidak mengikuti kegiatan belajar di sekolah tapi sukanya malah main bola saja. Menurut pengamatanku sekilas bahwa anak tersebut sangat rajin, punya inisiatif dan punya banyak kelebihan, mungkin itu yang belum tersalurkan.


Perjalanan menuju ke ladang

video

Jangan pernah beranggapan bahwa jalan-jalan di daerah pelosok Sumatera sebagus jalan-jalan di Pulau Jawa. Bahkan dulu waktu saya masih sekolah dan melakukan perjalanan ke beberapa taman nasional di Jawa Timur bisa ditemui jalan beraspal pun sudah masuk ke dalam taman nasional yang digunakan untuk akses menuju ke taman nasional. Namun tidak di Sumatera, justru pembukaan jalan melalui kawasan konservasi seperti taman nasional akan merusak ekosistem yang ada di dalamnya juga mendorong terjadinya banyak aktivitas illegal di bidang kehutanan, ini artinya memberi akses dengan mudah bagi perambah masuk kawasan juga pelaku illegal logging, perburuan satwa liar, survey pertambangan illegal dan lain-lain. Dengan memberikan ijin bagi pembuatan jalan yang melalui zona inti taman nasional itu sama artinya orang tersebut mendukung perusakan ekositem di taman nasional itu sendiri. Dan bila taman nasional rusak dan menyebabkan bencana alam atau juga konflik satwa liar dengan manusia yang tidak pernah ada akhirnya maka yang menanggung derita dan terkena dampaknya secara nyata tentunya adalah masyarakat sekitarnya dan bukan pengambil kebijakan yang mengijinkan itu terjadi baik yang ada di tingkat pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat.

Jalan yang kami lalui menuju ladang adalah jalan kebun, dan jalan tersebut ternyata juga berujung dengan jalan yang sekarang sedang diusulkan oleh pemerintah daerah untuk pembuatan jalan melalui kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sebagai dalih untuk jalur evakuasi bencana dari Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu menuju Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Padahal jalan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut sudah ada yang selama ini dipakai sebagai jalan lintas antar provinsi Bengkulu - Jambi dan kondisinya jauh lebih baik, lebih datar daripada jalan ke ladang ini yang naik turun dan ekstrim untuk dilalui. Bagi para pemerhati konservasi, proyek jalan ini adalah sarat dengan kepentingan dan termasuk proyek abal-abal dan proyek akal busuk yang tujuannya tidak sesuai dengan manfaatnya kedepan. Seolah-olah mereka hanya ingin membuat akses yang mudah untuk bisa mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di dalam Taman Nasional yang belum terjamah, seperti kayu dan lain-lain.


Setelah melalui pemukiman penduduk, kami melalui jalan kebun berupa jalan coral dan dikombinasi dengan jalan tanah merah berlumpur yang licin, kondisinya naik turun dengan tanjakan dan turunan yang ekstrim, bahkan kami juga masuk kedalam sungai dan sempat terjebak dalam lumpur sehingga aku pun ikut mendorong motor agar terlepas dari jebakan lumpur yang dalam. Nando, anak kecil yang membonceng saya sangat piawai dalam mengendarai motor meskipun kakinya tidak bisa menyentuh tanah saat diatas motor, terutama saat menuruni jalan buruk yang turunannya sangat curam begitu juga saat menaiki tanjakan. Dia juga lihai dalam menjaga keseimbangan, saya memperhatikannya dari belakang bagaimana cara dia menjaga keseimbangan motor saat melewati jalan licin yang membuat roda motor terpeleset kesana kemari dan melewati jalan berbatu lepas/ yang tidak tertanam sehingga membuat roda motor tergelincir, Bila jalan yang dilalui buruk dan licin kakinya sibuk menendang tanah ke samping kiri dan kanan guna mendorong motor agar tetap seimbang, agar berdiri tegak kembali bila motor telah miring dan hampir jatuh. Dan saat saya minta berhenti karena mau mengambil dokumentasi, dia tidak akan langsung berhenti tetapi masih mencari gundukan tanah agar kakinya bisa memijak tanah dan menghentikan motornya di tempat itu....hahaha! Benar-benar kemampuannya melebihi usianya.



Setiap kali melewati turunan dan tanjakan ekstrim atau menerjang lubang-lubang lumpur di jalanan yang membuat kami pun seperti meloncat di atas motor, saya berteriak kegirangan dan anak kecil di depanku itu hanya tertawa saja, namun kadang-kadang ikut juga berteriak bersamaku. Melewati jalan buruk itu ternyata menyenangkan meski memacu adrenalin dan harus siap-siap terjatuh dari motor setiap saat. Karena yang mengendarai motornya cukup terampil maka saat berangkat dan pulang tidak pernah ada kendala di jalan. Kami tidak pernah terjatuh sekalipun, meski melewati jalan buruk.

Siang itu, kami sampai juga di ladang padi yang berada di pinggir jalan. Bila menelusuri jalan tersebut bisa berujung ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang tak jauh dari tempat itu. Kami memarkir motor dekat pondok petani disana dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, dua kali menyeberangi sungai besar. Air sungai sangat jernih dan dasar sungai berupa batu-batuan terlihat jelas, sesekali kakiku terpeleset karena batu licin. Kami bertemu dengan empat orang anak-anak yang sedang mencari ikan di sungai, ternyata anak-anak itu adalah siswa sekolah gratis di MTs Syuhada, kawan saya mengenalinya dengan baik. Waktu berkunjung ke sekolah tersebut aku memang tidak memperhatikan wajah murid disana satu per satu, sehingga tidak bisa mengenalinya. Kami juga melihat pipa PDAM di sekitar sungai tersebut, ini artinya penduduk sekitar memanfaatkan sumber air disana untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Saat menyeberangi Sungai Selagan yang dalamnya sepinggang di arus utamanya, di pinggir sungai saya melihat capung warna hijau metalik, " ini capung yang selama ini aku cari ", pikirku. Saya biasa menjumpainya di sungai-sungai di dalam hutan yang masih alami di kawasan konservasi Pusat Konservasi Gajah Seblat saat mengikuti patroli hutan. Kami biasa mendirikan tenda berdekatan dengan sungai, dan di sungai-sungai tersebut saya sering menjumpai capung jenis ini. Saat itupun saya langsung berniat ingin memotretnya.

Ladang Kacang Tanah
Dari pinggir sungai terlihat ada dua pondok di ladang itu, akhirnya kamipun menuju kesana. Di ladang tersebut didominasi oleh tanaman kacang tanah yang tumbuh subur di bekas areal sedimentasi dari Sungai Selagan, yang ditanam disela-sela karet. Juga terlihat berbagai macam tanaman sayuran dan buah-buahan seperti terong, ubi jalar, pepaya, kecipir, kacang hijau, jagung dan lain-lain. Di bawah pondok panggung itu saya juga melihat kulit kayu manis, sepertinya baru dipanen. Saya menyukai baunya yang khas. Terlihat juga beberapa ekor anjing penjaga kebun. Musuh utama tanaman di ladang atau kebun di Sumatera adalah babi hutan, makanya para petani sering memelihara anjing untuk membantu menjaga kebunnya dan mengusir babi hutan. Di sekitar ladang tersebut tampak perbukitan terjal dan masih berhutan, bahkan siang itu kami masih mendengar suara siamang bersautan-sautan dan suara simpai. Saya sangat mengenali suara binatang liar itu, karena suara mereka juga merupakan alarm saya di pagi hari setiap tinggal di camp gajah yang berada dalam kawasan hutan Taman Wisata Alam Seblat.

Membersihkan kulit kayu manis yang baru dipanen
Seorang teman memetik pepaya masak dan kami pun memakannya bertiga, tanpa dikupas dan dicuci terlebih dahulu. Si kecil Nando berlari ke pondok untuk mengambil alat mencari ikan, yakni kaca mata selam dan pemanah ikan, lalu dia pun menuju sungai untuk mencari ikan. Anak kecil satu itu memang tidak bisa diam, ada saja inisiatifnya untuk mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Tak lama kemudian kami menuju kebun ubi untuk mancari ubi jalar dan direbus. Siang itupun kami memakan ubi sambil mengikis kulit kayu manis yang baru dipanen dan sebelum dijemur. Nando mengajari kami bagaimana caranya membersihkan kulit kayu manis tersebut. Sebelumnya, saat saya baru sampai di pondok itu saya melihat di teras pondok ada dua buah batang kayu dan alat yang menyerupai alat untuk perawatan kaki gajah (elephant footcare), saat itu saya hanya bertanya dalam hati, " barang-barang itu digunakan untuk apa ya ? " Keingintahuan saya tentang hal-hal baru memang tinggi namun saya juga tidak berusaha untuk bertanya. Saat Nando datang dan membawa beberapa kulit kayu manis yang baru dipanen ke atas pondok dan memulai bekerja membersihkannya dengan menggunakan barang-barang itu, mulailah aku tahu manfaat sesungguhnya dari batang kayu dan alat tersebut. Ternyata untuk mengikis kulit kayu manis sebelum dijemur....hehe! Akhirnya kami berdua pun membantu Nando untuk membersihkan kulit kayu manis tersebut sambil ngemil ubi rebus.

Hidup di daerah pelosok memang sangat sederhana, sederhana dalam hidup dan sederhana dalam berpikir dan tentu membuat orang-orang terlihat awet muda dari usia yang sebenarnya. Karena mereka berkegiatan secara fisik yang berarti melakukan olahraga rutin setiap hari saat bekerja, dan makanan yang dikonsumsi pun jauh lebih sehat tanpa bahan pengawet, sayuran dan buah-buahan organik, ikan pun didapat masih segar dari sungai yang masih alami. Lingkungan sekitar yang tenang dan nyaman tanpa harus mendengar hiruk pikuk berita-berita di berbagai belahan daerah tentang kekerasan, sepak terjang orang-orang berpolitik yang tidak sehat, membudayanya korupsi, dan kekacauan lainnya yang tentu saja bisa mendorong kekecewaan kita terhadap pemerintah, wakil rakyat, partai politik juga penegak hukum dan orang-orang yang ada sangkut pautnya dengan kejadian-kejadian tersebut. Tinggal di tempat seperti itu kita hanya bisa mendengarkan suara alam, burung-burung berkicau, suara monyet dari hutan sekitar dan suara aliran air dan melihat pemandangan sekitar yang hijau tanpa ada akses media komunikasi seperti televisi dan jaringan internet untuk melihat kejadian kekacauan di negeri ini yang memuakan atau dijejali dengan acara-acara televisi yang tidak mendidik dan hanya memicu kecemburuan sosial dengan adanya iklan-iklan pemilik modal dengan rumah mewah/ apartemen mewah dan segala fasilitasnya, pembangunan kota besar yang terus berjalan sedangkan pada kenyataannya di waktu yang bersamaan pembangunan di daerah terpencil di luar Pulau Jawa yang tidak tersentuh. Hal ini yang selalu membuatku terharu dan tersentuh setiap kali travelling ke daerah-daerah pelosok yang jauh dari jangkauan pembangunan. Sampai hari ini pun saya masih beranggapan bahwa pembangunan itu sebenarnya memang tidak adil dan tidak merata, tidak seperti yang telah diamanatkan dalam aturan hukum tertinggi di negara ini.

Seorang ibu yang telah berusia lanjut penghuni pondok tersebut terlihat sibuk memanen sayuran terong dan kecipir dari hasil kebunnya dan mencari sayuran pakis dari hutan belukar di sekitarnya. Beliau memasaknya untuk makan siang. Sungguh lezat sekali masakannya, dan makan siang kami hari itu terasa sangat nikmat. Kami makan siang setelah selesai mandi dan berenang di Sungai Selagan.

Dragon Fly 'Neurobasis sp' at Selagan River, Mukomuko. 
Photo by Erni Suyanti Musabine

Siang itu kami bertiga dengan seorang penghuni pondok pergi ke sungai untuk berenang. Saya teringat capung warna hijau metalik yang sering hinggap di akar-akar pohon di pinggir sungai, saya masih ingin memotretnya, karena tidak di setiap tempat yang saya kunjungi saya bisa menjumpai capung itu. Saya melihat beberapa capung sejenis yang berterbangan disana, tidak hanya hinggap di akar pohon, di atas batu bahkan sesekali hinggap di punggung dan jari kami saat mandi di sungai. Untuk bisa mendekatinya harus masuk kedalam sungai yang tingginya sebatas pinggang, sambil menenteng camera. Karena saya akan motret capung itu dari dekat dengan fasilitas photo makro. Saya harus berdiri di dalam sungai dan berdiam lama untuk menunggu capung hinggap kembali ke tempat semula yang ada di depanku. Akhirnya sayapun bisa mendapat puluhan photo untuk satu obyek saja. Dan saya masih menemukan beberapa jenis capung lainnya yang ada di pinggir sungai tersebut. Disaat saya sedang sibuk memotret capung, kawan-kawan lainnya mandi dan berenang sedangkan Nando sibuk mencari udang sungai dengan menyelam.


Saat sedang bermain di Sungai Selagan dari kejauhan tampak dua rakitan kayu sepertinya hasil illegal logging, mereka tampak ragu akan melewati tempat kami. Aku dan kawanku pun akhirnya berhasil memotretnya dari belakang. Aku khawatir kayu-kayu itu berasal dari Taman Nasional Kerinci Seblat, karena batas kawasan taman nasional itu memang tidak jauh dari lokasi kami berada. Keceriaan kami bermain dengan air sungai harus cepat dihentikan saat melihat awan gelap sudah mulai bergerak di bagian hulu sungai. Kami pun cepat keluar dari sungai dan menuju pondok untuk bersiap-siap pulang.




Sungai Selagan, Mukomuko, Bengkulu
Setelah makan siang dan melihat awan sudah gelap di bagian hulu mengharuskan kami untuk buru-buru menyeberangi sungai besar itu sebelum terlambat. Awan gelap itu menandakan bahwa akan turun hujan di bagian hulu sungai dan itu salah satu yang menyebabkan debit air sungai bisa meningkat secara tiba-tiba. Bila menyeberangi sungai saat terjadi hujan deras di hulu sungai, itu sangat berbahaya tentunya karena bisa mendatangkan air bah/ banjir secara tiba-tiba, atau bahkan kami tidak akan bisa menyeberangi sungai karena banjir. Kecelakaan bahkan korban jiwa yang terjadi di sungai seringkali orang tidak menyadari tanda-tanda alam bahwa akan terjadi hujan deras di bagian hulu yang bisa mendatangkan air bah secara tiba-tiba dan bisa terseret banjir.


Kembali pulang
Menjelang sore itu kami berempat kembali ke desa dengan mengendarai motor masing-masing. Di tengah perjalanan turun hujan lebat, namun kami tetap ingin melanjutkan perjalanan meskipun basah kuyup. Jalan berubah menjadi licin dan seringkali roda sepeda motor terpeleset saat menanjak ataupun melewati turunan yang curam. Hujan lebat mengiringi perjalanan kami sampai ke desa. Saat melewati jalan kebun yang buruk, terasa nyaman karena Nando bisa mengendarai motornya dengan baik, namun setelah memasuki jalan desa yang sudah beraspal dan banyak lubangnya bahkan ada yang terputus malah terasa sakit semua, karena pengemudi motor didepanku melaju kencang tanpa peduli roda melewati lubang-lubang aspal yang dalam tanpa mau memilih jalan yang lebih baik untuk dilewati. Alasannya hanya karena ingin mengejar waktu untuk bisa bermain sepakbola. Saat perjalanan pulang itu kami telah selamat kembali ke desa tanpa mengalami kendala meski melewati jalan buruk yang licin sekalipun. Selesai membersihkan badan akhirnya kami tertidur karena kelelahan. Tiba-tiba dibangunkan saat travel telah datang menjemput kami untuk kembali ke kota Bengkulu sore itu. Hujan pun masih mengiringi perjalanan kami sampai kota Bengkulu.

Liburan yang mengesankan di akhir pekan. Hari-hariku selalu penuh dengan kejutan dan selalu memiliki pengalaman perjalanan yang luar biasa, seperti halnya yang kurasakan saat liburan kali ini. Suatu saat aku ingin kembali kesana lagi dan menginap di pondok di tengah ladang, melupakan rutinitas harian dan menjauhkan diri dari hiruk pikuk kehidupan kota, pasti akan menyenangkan dan menentramkan hati.

Sabtu, 19 April 2014

Menjenguk Harimau sumatera 'ELSA' di akhir pekan


Aku memang lebih suka melihatnya disaat sepi, disaat orang-orang di kantor ini sedang tidak ada agar tidak menarik perhatian banyak orang yang ingin melihatnya, karena dia butuh ketenangan dan memang untuk membatasi dia bergaul dengan manusia. Karena dia bukan manusia tetapi seekor harimau liar dan juga bukan harimau jinak atau yang ada di lembaga konservasi eksitu seperti kebun binatang, taman satwa dan lain-lain yang dipertontonkan pada banyak orang sehingga terbiasa melihat kehadiran orang disekitarnya. Dia sedang menderita sakit fisik dan jangan sampai menderita juga jiwanya karena stress jadi obyek tontonan, baik bagi para pejabat atau pegawai dan keluarganya maupun khalayak umum.


Dalam setiap perawatan medis harimau sumatera yang masih liar, kami selalu mengisolasinya untuk membatasi kontak langsung dengan manusia, sehingga hanya petugas pemberi pakan yang sekaligus bertugas membersihkan kandangnya dari kotoran serta petugas yang mengobatinya yang punya akses untuk masuk tempat perawatan. Dan itu pun dibatasi waktunya, semua kegiatan tersebut dilakukan pada waktu yang bersamaan, yakni pada saat pemberian pakan. Diluar waktu tersebut harimau akan tenang tanpa gangguan manusia di sekitarnya.

Di malam hari harimau terlihat lebih aktif bergerak dan beberapa kali mengeluarkan suara seperti berkomunikasi, karena suara yang keluar bukanlah raungan kemungkinan suara itu punya arti berbeda. Aku pun belum bisa menerjemahkannya. Orang yang tinggal di sekitar lokasi perawatan harimau mengatakan bahwa suaranya mirip bayi menangis di malam hari (hehehe.....aneh-aneh aja ya, mentang-mentang dekat kuburan). Namun yang aku dengar sendiri di waktu yang berbeda malah lebih mirip dengan suara sapi. Saat aku intip dari lubang di pintu, suara tersebut dikeluarkan saat harimau sedang istirahat. Sepertinya mempelajari suara harimau sumatera akan sangat menarik apalagi bisa menerjemahkannya. Suatu saat aku harus merekamnya satu per satu dari suara yang berbeda-beda itu. Sudah ada seorang ilmuwan yang bisa menerjemahkan 33 bahasa gajah, sedangkan pada harimau liar sudah ada belum ya ??? Mungkin aku bisa memulainya untuk mencari tahu terjemahannya....hehehe :)

Harimau sumatera bernama Elsa sedang dalam perawatan post surgery

Setiap kali membuka pintu kandangnya, dia akan selalu tersenyum manis dengan menunjukan gigi taringnya padaku seperti ini dengan posisi siap menerkam, dan bila kakiku melangkah mendekatinya maka dia akan langsung meraung sambil menerkam. Setelah sekian menit duduk bersamanya dan saling bertatapan mata, dia akan berubah ekspresinya menjadi sangat santai dan manja. Namun itu hanya dilakukan disaat dia berhadapan dengan orang-orang yang sudah sering dilihatnya dan tidak dengan orang yang asing baginya. 


Seperti inilah dia kalau sudah merasa percaya bahwa kami bukan orang yang akan menyakitinya/ membahayakannya. Dia akan tidur dengan santai dan memejamkan mata meskipun ada kami didekatnya. Dengan orang yang tidak dikenal dengan baik, dia akan selalu waspada dengan ekspresi marah dan posisi tubuh siap menerkam serta sering meraung.

Harimau sumatera liar akan siap menerkam bila dia merasa terjepit dan tidak ada jalan untuk melarikan diri, perilaku itu adalah normal karena untuk mempertahankan diri. Itu sebabnya kenapa saat upaya penyelamatan satwa jenis kucing besar dalam kondisi terjepit dan terkepung, dia akan berusaha menerkam orang yang menurutnya membahayakan dirinya guna mempertahankan diri, karena dia tidak punya pilihan lain dan tidak ada jalan lain untuk menghindari intimidasi manusia. Dan itu sering terlihat juga pada harimau yang sedang dirawat dalam kandang sempit, karena jelas-jelas tidak ada jalan untuk melarikan diri. Saat melihat kehadiran orang maka akan meloncat dan menerkam dan dia akan berbenturan keras dengan jeruji kandang yang seringkali membuatnya terluka. Itu sebabnya mengapa harimau liar tidak boleh dijadikan obyek untuk dipertontonkan pada banyak orang, dan harus diisolasi untuk mengurangi kontak langsung dengan manusia. Selain itu juga bisa menyebabkan stress, harimau liar yang stress karena lingkungan sekitarnya ramai bisa menjadi agresif dengan menggigit-gigit jeruji kandang yang seringkali membuat gusi rusak dan gigi taringnya patah.  Stress yang terjadi berulang kali dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan perubahan perilaku. Berdasarkan pengalaman kami, harimau dewasa lebih sensitif dalam merespon kondisi lingkungan sekitarnya dibanding yang anak-anak dan pra dewasa. Dan karena itu juga mengapa kandang angkut harus ditutup agar harimau tidak bisa melihat orang ramai disekitarnya.

Hari ini, selain menjenguk harimau Elsa, aku juga memeriksa kondisinya, kondisi luka post operasi, kondisi fisik, nafsu makan dan minum serta memeriksa feces (kotorannya). Sejauh ini semua dalam kondisi baik, tidak ada infeksi pada bekas amputasi dan nafsu makan baik. Pengobatan post operasi akan tetap dilanjutkan serta akan dilakukan deworming (pencegahan penyakit helminthiasis/ cacing). Berharap kondisinya akan cepat normal kembali.

Kamis, 17 April 2014

Elephant ROBY is the first time in musth and Elephant DEVI is in estrous period


Senin, tanggal 14 April 2014

Hujan di pagi itu menghalangi rencana aktivitas kami dengan gajah-gajah. Namun disaat sedang berteduh ada pemandangan menarik di depan kami, yakni gajah Roby yang terus mendekati gajah Devi untuk dikawini. Selain itu, menurut informasi dari mahout bahwa gajah Roby mulai menampakan gejala pembengkakan pada kelenjar temporal, yang terletak diantara mata dan telinga. Usia gajah Roby telah menginjak 19 tahun, dan ini berarti untuk pertama kalinya dia mengalami musth. Belum menunjukkan gejala-gejala musth lainnya, seperti perilaku agresif yang membahayakan, urine dribling serta keluarnya cairan/ adanya ekskresi dari kelenjar temporal, namun yang sering terlihat hanya ereksi penis yang juga termasuk salah satu tanda-tanda gajah musth. Periode awal (pra musth) dan akhir musth (pasca musth) terkadang sulit dideteksi, justru ini yang membahayakan, karena seringkali membuat orang tidak menyadari bahwa gajahnya dalam kondisi musth. Pada periode ini memang belum terlihat jelas gejala-gejala musth terutama ekskresi dari kelenjar temporal. Musth tidak berkaitan dengan status reproduksi dan musth bukan kondisi birahi pada gajah jantan.

Gajah Devi juga berusia 19 tahun. Dan sedang menunjukkan gejala-gejala dalam periode estrus. Bila ada jantan berada disekitarnya maka akan berusaha mengawininya. Inilah beberapa photo yang diambil saat gajah Roby sedang mendekati gajah Devi untuk dikawini.





























Insects at the Seblat Elephant Conservation Center, Bengkulu


Mengisi waktu luang untuk menyalurkan hobby photography.  Beberapa hasil photo tentang serangga di Pusat Konservasi Gajah Seblat, Bengkulu pada tanggal 14 April 2014. Memotret serangga merupakan kegiatan yang cukup menarik dan punya tantangan tersendiri bagi saya, selain merupakan obyek photo yang unik, pola warnanya indah, ukurannya juga sangat kecil dan tidak pernah bisa diam, terus bergerak kesana kemari. Ini adalah hasil memotret hanya di satu lokasi disekitar tempat saya duduk di padang rumput.























Rabu, 16 April 2014

Training bagi Elephant Conservation & Conflict Mitigation Unit - FZS di Pusat Latihan Gajah Seblat



Pagi itu, Jumat tanggal 11 April 2014 saya dihubungi oleh bagian humas Balai KSDA Bengkulu bahwa ada tamu yakni ECCMU (Elephant Conservation & Conflict Mitigation Unit dari LSM Frankfurt Zoological Society (FZS) Jambi yang akan mengunjungi Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat untuk kegiatan training, dan satu perwakilan mereka sudah berada di kantor BKSDA Bengkulu. Saya diminta untuk mendampinginya. Bila berhubungan dengan LSM ataupun tamu asing pasti sayalah yang mendapatkan tugas untuk mendampinginya karena rata-rata mereka telah mengenali saya sebelumnya.

Perwakilan dari FZS tersebut sedang mengurus simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi) guna kunjungan ke PLG Seblat yang berada di dalam kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Seblat. Surat permohonan simaksi tersebut sudah diajukan sejak tanggal 28 Maret 2014, namun setelah sekian lama tidak pernah mendapat balasan. Akhirnya mereka berniat untuk berkunjung langsung ke BKSDA Bengkulu guna menanyakan jawaban dari surat mereka dan untuk melanjutkan pengurusan simaksi tentunya. 

Saya sendiri sebenarnya sudah trauma bila membantu pengurusan simaksi tamu yang akan berkunjung ke PLG Seblat. Karena tamu-tamu yang datang pernah diminta persyaratan tambahan yang tidak masuk akal dan tidak ada dalam aturan yang berlaku agar simaksi bisa dikeluarkan. Menurut saya lembaga pemerintah sebagai pelayan masyarakat seharusnya bersikap memberi pelayan prima kepada publik dan bukan membebani dengan permasalahan internal yang memaksa pemohon simaksi untuk ikut menanggungnya, yang mana persyaratan tersebut di dalam aturan yang berlaku pun tidak ada. Dan merespon surat permohonan dengan cepat dan informatif adalah tugas pelayan masyarakat. Selain itu seharusnya tidak membuat orang menunggu dalam jangka waktu lama dan bahkan tidak mendapat jawaban sama sekali terhadap surat permohonan resmi yang dikirimkan. Sistem birokrasi dan administrasi dalam pelayanan publik yang tidak efisien dan tebang pilih seharusnya sudah tidak menjadi budaya. Oleh karena itu dalam setahun terakhir saya memilih untuk tidak membantu teman-teman baik dari Indonesia maupun dari negara lain dalam pengurusan simaksi dan menyarankan mereka untuk mengurus sendiri ke pihak yang berwenang. Itu juga yang menyebabkan selama ini pengunjung PLG Seblat menurun drastis dari tahun - tahun sebelumnya dengan tujuan apapun, baik ecotourism, volunteer, edukasi, research dan lain-lain. Bahkan karena pengurusan simaksi itu juga para mahasiswa lokal membatalkan kunjungan perjalanan lapangan untuk tujuan pendidikan ke PLG Seblat dan mengalihkan kunjungan ke tempat lain. Upaya yang telah kami rintis dari awal untuk pengembangan PLG Seblat sebagai tujuan utama wisata alam di Provinsi Bengkulu, sebagai pusat pendidikan konservasi dan penelitian serta tujuan volunteer untuk kegiatan konservasi satwa liar dan berbagai upaya pengembangan untuk tujuan bermanfaat lainnya seolah-olah pupus karena tidak diimbangi dengan efisiensi birokrasi yang bersih dan jelas sesuai aturan yang ada di masa sekarang.

Namun karena pihak ECCMU-FZS mengajukan permintaan agar saya saja yang mendampingi mereka di lapangan, akhirnya sayapun terlibat lagi dalam urusan birokrasi yang rumit ini. Dan saya tidak bisa mengelak karena saya mengenal lembaga tersebut sudah lama dan saya juga pernah bekerja disana sebagai dokter hewan konsultan bagi FZS selama beberapa tahun disamping saya bekerja di BKSDA Bengkulu. Hal yang saya takutkan terjadi, informasi yang tidak pernah jelas dan pasti bagi pemohon simaksi membuat pengurusan simaksi tidak lancar. Padahal perkembangan teknologi media komunikasi makin lama makin cepat dan efisien, namun teknologi yang ada itupun tak pernah dimanfaatkan bagi pelayanan publik hanya sekedar merespon atau memberi informasi yang jelas kepada masyarakat/ individu/ lembaga yang membutuhkan. Padahal mereka semua pengguna smart phone dan lagipula ada layanan internet gratis sebagai sarana prasarana kantor. Jadi semua itu ada untuk apa ???

Setelah pengurusan simaksi yang baru selesai hingga malam, akhirnya esok harinya Sabtu tanggal 12 April 2014 saya bersama rombongan ECCMU sebanyak 7 orang berangkat menuju PLG Seblat. Pagi itu kami berbelanja logistik terlebih dahulu di kota Bengkulu, dan setelah sampai Kecamatan Putri Hijau yang jauhnya sekitar 17 km dari camp gajah, kami berbelanja sayuran dan kebutuhan yang belum terbeli. Mengingat camp gajah tempat kami menginap nantinya berada di dalam kawasan hutan dan terisolasi oleh Sungai Seblat sehingga logistik harus dipersiapkan sebelum menuju lokasi. Kami juga makan siang terlebih dahulu di daerah tersebut.




Kami di PLG Seblat sudah terbiasa mengurus tamu yang berkunjung dari yang jumlahnya satu orang sampai dengan tujuh puluhan orang, baik wisatawan asing dan domestik, volunteer asing maupun domestik, peneliti asing ataupun WNI, siswa sekolah dan mahasiswa, peserta workshop atau pelatihan dan lain-lain. Namun baru kali ini kami merasa tidak mengelola pengunjung dengan baik karena semua serba mendadak dan kurang informasi. Biasanya setiap ada pengunjung, kami telah mempersiapkan tukang memasak yang diambil dari masyarakat sekitar agar pada saat tamu sudah datang makanan telah tersedia dan pengunjung pun tidak perlu berbelanja sendiri, mempersiapkan tempat penginapan, membagi tugas untuk porter dan menyeberangi sungai dengan aman serta pembagian tugas untuk membantu kegiatan agar berjalan dengan lancar. Sehingga kali ini semua baru dipersiapkan saat perjalanan dan setelah tiba di lokasi. Kami di PLG Seblat punya prinsip bahwa pengunjung dengan tujuan baik selayaknya dilayani dengan baik dan tidak boleh mengecewakan sehingga saat pulang mereka punya kesan yang baik pada PLG Seblat dan membuat mereka ingin datang kembali. Itu juga yang membuat tamu asing maupun domestik yang pernah datang ke PLG Seblat ingin kembali lagi.

Satupun dari kami tidak ada yang pernah belajar khusus atau mendapat training tentang pengelolaan ekowisata, guiding pengunjung, mengurus tamu dan hal-hal lain yang berkaitan dengan itu, namun kami banyak belajar dari pengalaman selama bertahun-tahun mengurus tamu mulai dari airport sampai ke PLG Seblat dan kembali ke airport lagi, serta masukan yang didapat dari hasil bertukar pikiran dengan para pengunjung. Justru yang mendapatkan pelatihan khusus tentang itu dan pernah studi banding adalah kawan-kawan yang bertugas di Balai KSDA Bengkulu, namun sejauh ini mereka belum pernah mempraktekan ilmunya dalam menghadapi dan mengelola pengunjung kawasan konservasi seperti TWA Seblat.



Adapun tujuan pengunjung kali ini adalah memilih PLG Seblat sebagai lokasi pelatihan tim ECCMU-FZS. Kenapa PLG Seblat dipilih untuk tempat pelatihan mereka ? Karena bukan sekali ini mereka mengadakan pelatihan di PLG Seblat, sebelumnya tim Wildlife Response Unit (WPU) - FZS juga mengadakan pelatihan investigasi di PLG Seblat pada tahun 2008. Staff lembaga tersebut juga pernah melakukan penelitian tentang DNA gajah di PLG Seblat. Dengan mengadakan pelatihan di lokasi dimana merupakan habitat gajah liar dan juga merawat gajah jinak diharapkan peserta pelatihan bisa berinteraksi langsung dengan gajah-gajah tersebut guna menumbuhkan hubungan emosional dan ketertarikan dengan gajah. Seperti pepatah 'tak kenal maka tak sayang'. Dengan berinteraksi sehari-hari dengan gajah jinak diharapkan peserta pelatihan tidak hanya mengetahui perilaku alami gajah tetapi juga lebih menyukai spesies satwa liar yang satu ini, karena pekerjaan mereka sehari-hari juga berhubungan langsung dengan konservasi gajah dan gajah liar yang terlibat konflik dengan manusia (masyarakat).

Selain itu mereka juga pelatihan tentang praktek telemetry untuk monitoring gajah dan pengolahan data telemetry. Dan mengikuti aktivitas harian mahout PLG Seblat dalam perawatan gajah jinak guna observasi perilaku alami gajah. Kebetulan di hari pertama pelatihan, saya juga mendapat jadwal untuk menjelaskan tentang anatomi fisiologi gajah, behavior dan komunikasi dan hubungan sosial antar gajah. Seperti biasa, saya lebih suka memberi penjelasan di alam terbuka dan tidak di dalam ruangan, dengan gajah ada di depan kami, agar peserta juga bisa mengamatinya secara langsung sambil mendengarkan penjelasan.


Selama empat hari pelatihan ECCMU berjalan dengan lancar tanpa ada kendala selama di PLG Seblat. Pada hari Selasa tanggal 15 April 2014 kami kembali ke kota Bengkulu setelah makan siang. Tak lupa kami dari tim PLG Seblat dan ECCMU berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Kami selalu berharap bisa melayani tamu yang datang ke PLG Seblat lebih baik lagi dari waktu ke waktu dan mereka kembali pulang dengan kesan yang baik pula. Semoga keinginan ini juga didukung oleh birokrasi yang tidak rumit dan jelas sesuai aturan yang ada dalam pengurusan perijinan kunjungan ke PLG Seblat, karena BKSDA adalah pintu gerbangnya menuju ke PLG Seblat.  Bila dari awal pengunjung sudah punya kesan yang tidak baik maka akan berpengaruh pada perjalanan berikutnya. Bukankan reformasi birokrasi tujuannya untuk memberikan pelayanan prima pada publik ?! 

Senin, 07 April 2014

Akhirnya kaki depan seekor harimau sumatera bernama Elsa harus diamputasi



Seekor Harimau sumatera terjerat pemburu di Kabupaten Kaur, 
Bengkulu. Kamis, tanggal 3 April 2014
Saya bersama tim recsue baik dari BKSDA Bengkulu atau Tiger Protection and Conservation Unit - Kerinci Seblat atau Conservation Response Unit - PKG Seblat, telah menyelamatkan harimau sumatera yang terjerat tali sling pemburu liar sejak tahun 2007, dari semua harimau yang diselamatkan pada akhirnya harus kehilangan kakinya karena telah nekrosis (mengalami kematian jaringan). Begitu juga seekor harimau sumatera yang kami beri nama Elsa yang telah diselamatkan dari jerat pemburu pada tanggal 3 April 2014 di sekitar HGU perkebunan sawit PT. Dinamika Selaras Jaya Divisi 1 yang berlokasi di Desa Beriang Tinggi, Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Harimau yang ditemukan dalam kondisi terjerat pada tanggal 2 April 2014 oleh tim Tata Batas HGU dari Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. Kemudian tim rescue BKSDA Bengkulu diturunkan ke lokasi untuk menyelamatkan harimau tersebut.

Menyelamatkan harimau yang terjerat tali sling pemburu liar bukanlah hal yang mudah, kami bekerja seperti berlomba kecepatan dengan para pemburu. Bila kami telat datang maka pemburu liar yang lebih dulu membunuh dan membawa lari bangkainya. Seperti yang pernah kami alami di Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Untuk mencapai lokasi harimau terjerat yang berada di dalam kawasan hutan, kami harus berjalan kaki dari desa terdekat dari pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB tanpa istirahat, dengan melewati perbukitan dan belasan kali menyeberangi sungai besar bagian hulu. Tiba di lokasi tali sling telah terputus dan harimau sudah tidak ditemukan lagi. Tali sling yang diputus oleh harimau itu sendiri ataupun diputus oleh manusia sangat berbeda kondisinya. Begitu juga saat kami akan melepaskan harimau yang terjerat sling pemburu liar di dalam kawasan Hutan Produksi Air Rami di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Untuk mencapai lokasi kami berjalan kaki selama dua hari, melewati perbukitan dan sungai Tembulun bagian hulu. Pada saat kami berjalan masuk hutan, kami juga mendapat informasi bahwa pemburu harimau juga memasuki hutan yang sama. Seperti pepatah, "siapa cepat, siapa dapat". Untuk itu kami beradu cepat siapa yang akan mencapai lokasi terlebih dulu untuk mendapatkan harimau tersebut. Akhirnya kamipun masih bisa menyelamatkan harimau itu sebelum pemburu membunuhnya dan mengulitinya.

Namun dari setiap upaya penyelamatan harimau terjerat yang membuat saya sangat bersedih dan emosional adalah kondisi kaki yang terjerat selalu rusak karena tali sling. Tali sling yang mengikat ketat di kaki harimau membuat peredaran darah terhambat dan lama-kelamaan jaringannya mati dan akhirnya membusuk. Harimau yang spontan berontak karena terjerat juga memperparah kondisi, kaki yang terjerat menjadi mengelupas karena berusaha melepaskan diri dari sling dan seringkali terlihat luka terbuka dan hanya tinggal tulang jari menonjol keluar yang terikat tali sling.

Kaki depan kanan harimau sumatera telah membusuk 
karena jerat pemburu. Jumat, tanggal 4 April 2014
Begitu juga seekor harimau sumatera yang kami lepaskan dari jerat pemburu pada hari Kamis, tanggal 3 April 2014, kondisi kaki depan sebelah kanan telah membusuk begitu juga dengan telapak kakinya. Baunya pun menyengat seperti bau bangkai saat pertama kami temukan. Akhirnya sayapun harus membuat keputusan yang sangat berat, saya harus mengamputasi kakinya sesegera mungkin sebelum mengakibatkan infeksi sekunder yang lebih serius dan membahayakan nyawa harimau.

Banyak orang yang menyayangkan saya mengamputasi kaki harimau tersebut, karena mereka tidak tahu kondisi yang sebenarnya, dan mereka juga tidak paham bahaya yang akan terjadi bila kaki tersebut tidak segera diamputasi. Jaringan bila sudah nekrosis itu tidak bisa diselamatkan. Memang, kaki depan fungsinya sangat vital bagi harimau terutama dalam mencari mangsa untuk bertahan hidup. Namun, bila kaki telah nekrosis dan membusuk bila tidak cepat diamputasi, harimau pun juga tidak akan bertahan hidup karena bisa kehilangan nyawanya karena infeksi yang menyebabkan kerusakan lebih serius.


Jumat, 4 April 2014

Dari hasil pemeriksaan kondisi harimau sangat baik, sehingga hanya diperlukan waktu agar harimau bisa beristirahat dengan tenang setelah stress karena penangkapan dan transportasi. Namun upaya ini pun tidak berjalan dengan baik, pada saat harimau sedang istirahat masih juga ada orang-orang dengan berbagai kepentingan ingin melihatnya di kandang perawatan yang tentu saja sangat mengganggu dan membuat harimau berontak karena melihat kehadiran banyak orang. Menurut saya harimau perlu kondisi tenang  dan tidak boleh diganggu dengan kehadiran siapapun dan untuk keperluan apapun, karena akan menjalani operasi amputasi esok harinya. Namun tak semua orang mau memahami sesuai dengan yang saya harapkan.

Setelah selesai melakukan koordinasi dengan tim rescue, maka hari itu administrasi dan birokrasi dipersiapkan, yakni pembuatan Surat Perintah Tugas (SPT) untuk operasi amputasi kaki harimau bernama Elsa di BKSDA Bengkulu.


Sabtu, 5 April 2014

Persiapan operasi amputasi di BKSDA Bengkulu
Sabtu, tanggal 5 April 2014
Bekerja untuk satwa liar memang tidak mengenal hari libur. Karena kami bekerja sesuai dengan kondisi satwa dan bukan menyesuaikan dengan kalender. Akhir pekan itu akan menjadi hari yang sibuk bagi kami. Pagi itu pukul 08.00 WIB kami merencanakan akan memulai pekerjaan untuk melakukan pembiusan harimau untuk menghindari terjadinya hyperthermia bila dilakukan di siang hari yang panas. Namun terkadang rencana tidak sesuai dengan yang diharapkan, tiba-tiba pagi itu kondisi kesehatan saya memburuk, sebelumnya saya memang kurang sehat. Saya kehilangan tenaga dan merasa lemas. Saya menginformasikan kepada tim saya agar kegiatan ditunda satu jam karena saya perlu waktu untuk tidur sebentar sebelum bekerja. Pukul 09.00 WIB saya baru berangkat ke kantor BKSDA dengan kondisi masih lemah. Saya tidak bisa menunda lagi untuk operasi amputasi kaki harimau karena kondisinya sudah membusuk, karena bila diundur waktunya kondisinya akan semakin memburuk. Namun saya sendiri merasa khawatir tidak mampu melakukan operasi yang tentu membutuhkan waktu lama karena kondisi kesehatan saya sendiri yang menurun. Maka sebelum melakukan operasi harimau, sesampainya di kantor saya periksa dan berobat dulu ke rumah sakit Rafflesia yang berada di depan kantor BKSDA dengan diantar seorang teman. Saya disarankan untuk ke UGD (Unit Gawat Darurat).  Sudah dua kali saya masuk UGD di rumah sakit ini, yang pertama karena pingsan yang disebabkan tekanan darah terlalu rendah. Selesai periksa dan berobat akhirnya saya kembali ke kantor dan mulai bekerja. Saya tidak sanggup bekerja dengan berdiri lama akhirnya saya lebih memilih bekerja sambil duduk.

Operasi amputasi kaki depan kanan seekor harimau sumatera 
di Balai KSDA Bengkulu Sabtu, tanggal 5 April 2014
Harimau sumatera bernama Elsa menjalani puasa sebelum dilakukan pembiusan untuk operasi amputasi. Selama pembiusan tidak ada komplikasi, yang biasanya seringkali terjadi pada harimau yang diimmobilisasi dengan menggunakan obat anaesthesia Ketamine 10% dikombinasikan dengan sedativa Xylazine 10%. Kondisi frekuensi nafas, pulsus dan detak jantung, temperatur tubuh dan lain-lain selama terimmobilisasi cukup baik dan dimonitor secara rutin oleh teman-teman yang membantu saya, sehingga operasi amputasi bisa berjalan dengan lancar. Dalam setiap menjalankan penanganan medis pada satwa liar hanya saya yang punya latar belakang kedokteran hewan, teman-teman yang membantu saya semua staff BKSDA Bengkulu memiliki latar belakang jabatan yang beragam, ada polisi kehutanan (Polhut), PEH (Pengendali Ekosistem Hutan), Penyuluh Kehutanan, Humas dan lain-lain.  Saya tidak memiliki Vet Nurse atau Vet Tech atau paramedis (perawat). Mereka itu yang memiliki multi talent, disaat saya sedang membutuhkan asisten, mereka semua bisa menjadi Vet Nurses. Di BKSDA Bengkulu kami memiliki tim rescue satwa liar yang anggota timnya beragam latar belakang jabatan. Kebetulan mereka seringkali mendampingi saya dalam menangani satwa liar tidak hanya harimau tetapi juga rusa dan lain-lain, sehingga mereka terlatih dengan sendirinya.  Dalam setiap menangani satwa liar, saya sudah tidak perlu repot karena mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan sehingga saya bisa fokus dengan pengobatan. Seperti halnya dalam pembiusan harimau sumatera untuk operasi amputasi kaki, satu orang sudah mencukur rambut di kaki harimau dan membersihkan luka dengan antiseptic sebelum saya mengamputasinya, satu orang lagi mencukur rambut harimau di ekor atau paha untuk pemasangan infuse (terapi cairan), dan mereka juga melakukan monitoring pernafasan, pulsus dan suhu tubuh secara rutin tanpa diminta, dan ada juga yang bagian recording. Tanpa diinstruksi mereka juga melakukan koleksi sampel dan morfometri (body measurement), dan satu orang membantu saya untuk mengambilkan peralatan bedah yang saya butuhkan, ada juga yang bertugas membersihkan darah dengan tampon dan masih banyak lagi lainnya. Mereka juga sudah tahu tentang kondisi kritis saat pembiusan, bila hasil pemeriksaan mereka ada nilai yang tidak normal mereka langsung memberitahu saya untuk tindakan emergency. Memiliki teman kerja yang sudah terlatih dan terbiasa menangani satwa liar akan mempermudah pekerjaan, sehingga saya tinggal fokus pada operasi amputasi kaki depan harimau. Empat jari telah saya potong dan menyisakan jempol kaki depan karena kondisinya masih bagus dan jaringannya tidak nekrosis.

Setelah selesai operasi amputasi, tanggal 5 April 2014
Operasi amputasi kaki depan harimau berjalan selama 2 jam, karena harus membersihkan jaringan-jaringan yang telah nekrosis serta adanya pembuluh darah besar disela-sela jari yang mempersulit amputasi. Selain itu juga diberikan pengobatan antibiotik long acting, anti inflamasi, pain killer dan lain-lain. Pengambilan sampel rambut untuk pemeriksaan DNA, sampel darah untuk pemeriksaan hematologi dan serologi, sampel ektoparasit. Selama harimau masih terbius, sampel bisa dikoleksi dengan mudah karena bila sadar kembali kami tidak bisa melakukannya lagi.

Selama bertahun-tahun kami belum memiliki kandang perawatan harimau yang layak, yang dilengkapi dengan kandang jepit, serta tidak memiliki fasilitas untuk ruang bedah. Kami biasa melakukan operasi harimau dimana saja tanpa ada ruangan yang steril. Memang, sepertinya penanganan satwa liar belum menjadi prioritas, karena usulan-usulan tentang pemenuhan sarana prasana medis untuk itu tidak pernah ditanggapi meski kami selalu belajar dari pengalaman bahwa kasus seperti ini sudah berulang kali terjadi. Namun, untuk bisa berbuat untuk satwa liar tidak harus menunggu memiliki fasilitas yang memadai, karena tidak pernah tahu sampai kapan akan dipenuhi. Dengan fasilitas ataupun tanpa fasilitas kami harus tetap bisa bekerja.

Jumat, 04 April 2014

Penyelamatan Harimau Sumatera yang Terperangkap Jerat Pemburu di Kabupaten Kaur, Bengkulu


Catatan Perjalanan

Rabu, 2 April 2014

Sudah tiga hari kondisi saya lemah karena Hypotensi (tekanan darah rendah).  Kondisi seperti ini seringkali membuat saya khawatir untuk bepergian atau perjalanan jauh, karena tekanan darah yang terlalu rendah bisa membuat saya tiba-tiba terjatuh dan pingsan. Untuk kembali pulang ke Bengkulu saya memilih penerbangan pagi pukul 7.20 WIB.  Setelah check in di bandara Soekarno Hatta, tubuh saya terasa sangat lemah dan tak bertenaga serta telah berkeringat dingin, pucat dan gemetaran, saya berpikir untuk membatalkan perjalanan ke Bengkulu dan kembali pulang. Dalam keragu-raguan tersebut akhirnya saya tetap melanjutkan perjalanan dan berhasil sampai kedalam pesawat tanpa menghadapai masalah. Setelah landing di bandara Fatmawati Bengkulu, kembali muncul kekhawatiran apakah saya sanggup berjalan sampai pintu kedatangan. Setelah minta bantuan jasa porter dan sopir taxi akhirnya saya bisa pulang kembali ke rumah tanpa hambatan. Hari itu saya berniat untuk kembali istirahat tanpa memikirkan pekerjaan apapun sampai kondisi sehat kembali. Belum sempat beristirahat tiba-tiba handphone saya berdering, seseorang di BKSDA Bengkulu menghubungi saya dan mengabarkan bahwa ada harimau terjerat dan perlu cepat dievakuasi. Setelah itu beberapa teman kerja dan beberapa pejabat di BKSDA Bengkulu menghubungi saya untuk memberi informasi yang sama. Batal beristirahat, saya langsung menyiapkan peralatan dan obat-obatan untuk rescue harimau dan menunggu dijemput karena saya tidak sanggup pergi sendiri ke kantor BKSDA karena tubuh masih terasa lemah. 

Seekor Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terjerat pemburu 
di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Kamis, 3 April 2014.  
Photo : Erni Suyanti Musabine
Menunggu tim rescue berkumpul, akhirnya kami baru berangkat pukul 3 sore dari Bengkulu menuju lokasi kejadian. Saya berangkat bersama dua orang polisi kehutanan dan dua orang PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) dengan membawa dua buah kendaraan. Dua orang polisi kehutanan lainnya telah berada di lokasi untuk mengamankan harimau agar tidak hilang diambil pemburu. 

Sekitar pukul 10 malam kami baru sampai di perbatasan antara Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur. Sepanjang jalan diiringi hujan deras. Malam itu kami memutuskan untuk menumpang menginap di mess karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya yang berada di Sulau. Malam itu tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan karena hujan deras, kondisi jalan buruk, tanah merah berlumpur yang tepinya bukit dan jurang ciri khas jalan di pedalaman Sumatera.

Saya mencoba mencari informasi dari karyawan dan salah satu pimpinan perusahaan perkebunan sawit PT. Dinamika Selaras Jaya yang ada di mess tersebut untuk mengetahui kronologis harimau yang terjerat di sekitar lokasi mereka. Sebelumnya dalam perjalanan saya sudah mendapat informasi awal bahwa ada harimau lain yang menunggu harimau terjerat tersebut. Membuat saya sepanjang perjalanan berpikir keras bagaimana cara yang aman membius harimau terjerat bila ada harimau lain didekatnya. Lagi-lagi saya mendapatkan informasi terbaru yang mengejutkan bahwa kayu pengikat jerat harimau telah patah dan harimau telah berjalan-jalan dan berpindah tempat. Saya demam lagi dan batuk malam itu sehingga tidur lebih dulu sedangkan lainnya masih berbincang-bincang di teras rumah. Karena perempuan sendiri saya mendapat fasilitas untuk tidur di dalam kamar sedangkan lainnya tidur di ruang tamu. Saat memejamkan mata saya pun masih memikirkan bagaimana cara yang aman untuk membius harimau yang jeratnya sudah terlepas dari kayu pancang dan harimau lainnya ada di dekatnya, sedangkan saya tidak membawa senapan bius, yang kami bawa hanyalah sumpit bius.


Kamis, 3 April 2014

Pagi itu setelah selesai memeriksa peralatan dan obat-obatan serta membuat daftar dosis obat-obatan yang akan digunakan untuk rescue harimau, kami segera berangkat menuju mess karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya Divisi 1 yang ada di lokasi perkebunan sawit dan lokasinya terdekat dari lokasi harimau terjerat. Disana ada tim Tata Batas HGU dari Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu yang menemukan harimau terjerat tersebut serta polisi kehutanan Seksi Wilayah II KSDA Bengkulu yang ditugaskan untuk mengamankan lokasi harimau sebelum kami datang. Sejauh mata memandang terlihat perkebunan sawit masyarakat dan perusahaan, juga masih terlihat daerah yang masih berhutan. Menurut keterangan mereka bahwa masih sering terlihat juga harimau berkeliaran di areal HGU perusahaan sawit tersebut.  Saya sibuk mengamati sekitar di sepanjang perjalanan, tampak perbukitan terjal yang telah gundul dan telah diganti dengan tanaman sawit yang baru tanam. Juga tampak jurang yang dalam disisi lainnya dari jalan yang kami lalui yang berliku-liku dan naik turun. Akhirnya sekitar pukul 9 pagi kami sampai di mess karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya yang termasuk wilayah administratif Desa Beriang Tinggi, Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Saya pun berusaha mencari informasi dari orang-orang yang menemukan harimau terjerat itu serta mencari perkembangan informasi terkini tentang kondisi harimau. Dan saya mendapat informasi bahwa harimau sudah berpindah tempat dan masuk ke semak belukar dan tak terlihat lagi, sambil melihat photo dan video yang mereka rekam di handphone tentang kondisi sekitar harimau terjerat. Lokasinya telah berubah dengan sehari sebelumnya yang masih terjerat di pinggir jalan. Lagi-lagi membuat saya berpikir untuk kesekian kalinya bagaimana mencari harimau tersebut dengan aman dan bisa membiusnya bila dia berada di belukar yang lebat dan tak terlihat. Sejak harimau sudah berjalan-jalan karena kayu pengikat jeratnya patah, mereka belum berani memeriksa kondisi harimau, mereka memilih menunggu kami datang.

Tim rescue harimau dari BKSDA Bengkulu yang diturunkan ke lokasi hanya 5 orang termasuk saya sendiri, dua orang polhut dan dua orang PEH, dan ditambah dua orang polisi kehutanan (polhut) dari resort setempat untuk survey dan mengamankan lokasi harimau terjerat. PT. Dinamika Selaras Jaya juga menurunkan dua orang Brimob yang bekerja di perusahaan tersebut serta beberapa karyawannya untuk membantu rescue harimau. Selain itu tim Tata Batas Dinas Kehutanan juga turut serta ke lokasi, juga wartawan setempat. Dengan banyaknya orang yang ingin ikut serta dalam rescue harimau bagi saya pribadi ini justru bisa menimbulkan permasalahan baru saat rescue, maka saya mengajak mereka untuk briefing terlebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi kejadian, mengingat kami sebagai tim rescue tidak hanya punya tanggung jawab menjaga keselamatan harimau tetapi juga menjaga keselamatan tim. Saya sendiri yang memimpin briefing dan menentukan tugas masing-masing orang. Saya ambil alih koordinasi daripada saya nantinya kesulitan saat melakukan rescue karena banyaknya orang yang ikut serta. Saya tentukan bahwa yang bisa mendekat ke lokasi harimau hanyalah 5 orang, yakni saya sendiri sebagai petugas yang akan melakukan pembiusan dan seorang anggota tim rescue BKSDA yang membantu saya dan membantu dokumentasi kegiatan, seorang polisi kehutanan yang bersenjata yang akan bertugas mengamankan kami bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan dua orang karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya sebagai sopir John Deere dan penunjuk lokasi harimau terakhir kali ditemukan. Sedangkan lainnya tidak diperbolehkan ikut ke lokasi selama proses pembiusan dan harus menunggu di tempat yang telah ditentukan, yang tak terlihat dari lokasi harimau dan baru bisa mendekat setelah saya menyatakan bahwa harimau telah benar-benar terbius dan aman untuk didekati. Sedangkan petugas bersenjata lainnya baik dari polisi kehutanan maupun Brimob diminta untuk mengamankan orang-orang yang ikut serta dalam rescue ini bila harimau lainnya masih di sekitar lokasi kejadian. Saya membutuhkan alat berat John Deere, tidak hanya sebagai alat untuk mengangkut kandang angkut tetapi juga bisa kami pakai untuk mengamankan diri, sebagai pelindung bila harimau meloncat ke arah kami saat akan melakukan pembiusan, mengingat tidak ada pohon besar untuk bersembunyi menurut keterangan orang-orang yang tahu kondisi lokasi kejadian.

Kami pun berangkat, ada yang naik John Deere dan ada yang mengendarai trail. Mendekati lokasi semua orang dilarang bicara dan berisik, suasana harus tetap tenang. Bahkan saya meminta orang-orang untuk mematikan HP. Sambil John Deere berjalan pelan, kami berlima memeriksa kiri kanan jalan yang kami lalui, semak belukar terlalu lebat sehingga kesulitan mencari keberadaan harimau. Dipinggir jalan akhirnya kami menemukan kayu bekas pengikat jerat yang telah patah dan tergeletak di pinggir jalan di tepi hutan, namun tak terlihat ada kawat sling disana, berarti sling masih terikat di kaki harimau tersebut dan dibawa berjalan-jalan. Kami meminta John Deere mendekati kayu tersebut dan berhenti di tempat itu, namun sepertinya sopirnya ketakutan dan bilang, "Bu, Bapak yang bersenjata tadi ada dimana ?" "Tenang aja, pak. Dia ada dibelakang kita", saya berusaha untuk menenangkannya. Kami mencium bau harimau di sekitar sana namun harimaunya tak terlihat. Penunjuk jalan kami akhirnya melihatnya dan bilang, "Itu bangkainya, dia sudah mati", sambil menunjuk semak-semak di sebelah kanan kami. Membuat saya dan polhut turun mendekat dan mengamati dibalik semak belukar, kami melihat loreng harimau pada tubuh bagian belakang dan ekornya, kepalanya tak terlihat, dia tidak bergerak serta tercium bau bangkai yang membusuk, juga terlihat sudah banyak lalat disana. Kami masih berpikir, harimau itu sudah mati atau sedang tidur karena diam dan tak ada bagian tubuhnya yang bergerak ?! Tiba-tiba merasa lega setelah melihat ekornya bergerak, tak lama kemudian diikuti suara raungan keras dan loncatan ke arah kami, membuat kami langsung spontan menghindar dan naik keatas John Deere, diikuti loncatan-loncatan harimau berikutnya karena melihat kehadiran kami. Dari situ kami mengetahui kemampuan dia menyerang sejauh mana, sepertinya jerat di kakinya tersangkut, karena bila tidak maka loncatannya akan mencapai lokasi kami berada. Beberapa kali meloncat ke arah kami membuat jerat sling di kakinya jangkauannya semakin pendek karena membelit disana sini. Itu waktu yang tepat untuk melakukan sumpit bius. Setelah mengamati kondisinya dan melakukan estimasi berat badan, saya segera menyiapkan obat bius di atas John Deere dan turun lagi guna melakukan pembiusan dengan seorang teman. Setiap akan melakukan pembiusan saya juga mempersiapkan bius cadangan yang akan digunakan bila pembiusan pertama tidak tepat sasaran. Lokasi yang rimbun dengan belukar dan harimau yang waspada dan terus melihat kearah kami jelas mempersulit pembiusan. Mencari alternatif untuk bisa melakukan pembiusan dari sisi belakang harimau tetapi sulit untuk dilakukan karena belakang harimau adalah jurang yang dalam dan tidak bisa dilewati, pembiusan hanya bisa dilakukan dari depan atau samping kiri harimau, namun terhalang belukar. Akhirnya memakai strategi lama, yakni satu orang dijadikan umpan untuk menarik perhatian harimau dan membuat harimau berpindah posisi yang bisa terlihat dengan jelas, dan akhirnya baru berhasil disumpit bius. Karena blowsyringe yang saya miliki hanya berkapasitas 3ml maka sumpit bius dilakukan dua kali. Sulit untuk bisa melihat apakah obat bius masuk dengan sempurna apa tidak. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit harimau sudah tidak meraung-raung lagi, dan mulai tenang, untuk mengamati pupil matanya saya menggunakan zoom camera saya, karena memang tidak membawa binocular/ teropong, terlihat harimau sudah mulai mengantuk dan menjatuhkan kepalanya.

Tiba-tiba orang-orang dari tim lainnya yang saya minta untuk menunggu malah datang ke lokasi untuk memotret harimau tersebut, tentu itu mengganggu pekerjaan saya karena saat harimau belum terbius sempurna mereka datang, akhirnya saya meminta polhut untuk mengarahkan mereka agar menjauh dan tidak berisik, namun masih ada juga yang bandel dan tidak mau diatur, hanya karena ingin memotret harimau dari dekat tapi tidak mau mengikuti prosedur. Ya begitulah tantangan bekerja di lapangan dengan menghadapi banyak orang. Suara berisik dan banyak orang di sekitarnya bisa membuat harimau stress dan sulit tertidur/ terbius. Untuk itu butuh suara tenang disekitarnya selama proses pembiusan dan saat membangunkannya kembali.

Rescue harimau sumatera dari jerat pemburu di Kaur, Bengkulu
Setelah memastikan bahwa harimau telah terbius akhirnya saya mendekati harimau, menutup telinga dan matanya, kepalanya masih bergerak saat itu. Saya periksa syringe bius satu persatu, ternyata hanya satu syringe yang masuk sempurna lainnya obat tidak masuk. Pada saat itu orang-orang mendekati harimau dan saya berteriak, "jangan mendekat dulu, obat bius belum masuk semua". Spontan orang-orang pada menjauh kembali. Dosis sisanya saya suntikan handinject. Setelah polhut memutus tali sling kemudian harimau diangkat dan diletakkan di tempat yang teduh untuk diberikan pengobatan sementara, yakni pembersihan luka bekas jerat, pemberian antiseptik dan salep antibiotik, terapi cairan, pengobatan berupa injeksi antibiotik, antiinflamasi dan analgesik serta pemberian anti parasit karena ektoparasitnya banyak sekali. Selain itu juga dilakukan monitoring vital sign, yakni monitoring temperatur tubuh, detak jantung dan pulsus serta frekuensi nafas per 5-10 menit secara rutin. Selain itu juga dilakukan morfometri dan pemeriksaan fisik. Baru setelah akan bangun kembali baru kami masukkan kedalam kandang angkut.


Setiap evakuasi harimau, saya lebih memilih memegang bagian kepala, karena bila orang lain yang mengangkatnya, saat harimau mengangkat kepalanya menjelang sadar kembali kadang membuat orang takut dan menjatuhkannya. Tidak hanya itu, dengan memegang bagian kepala saya juga bisa mengawasi bila ada orang-orang usil yang ingin mencabut kumis harimau. Seperti saat itu, ada orang yang ikut memegang bagian kepala tiba-tiba mencabut kumis harimau, tentu membuat saya marah dan membentaknya.

Setelah dimasukkan ke dalam kandang angkut yang ditutup dengan daun-daunan, kondisi harimau sudah harus stabil baik detak jantung, pernafasan maupun suhu tubuh. Dan setelah sadar kembali dan bisa pindah posisi baru direkomendasikan untuk ditranslokasi. Karena pengangkutan harimau dalam kondisi belum sadar dari pembiusan akan sangat berbahaya karena akan sulit dikontrol kondisinya dan bila terjadi efek samping yang buruk dari pembiusan akan sulit diketahui dengan cepat sehingga tidak bisa mendapatan penanganan yang cepat pula untuk menormalkan kembali.


Kandang angkut yang telah berisi harimau diangkut lagi oleh John Deere, kemudian kandang angkut dipindahkan ke dalam mobil BKSDA Bengkulu. Siang itu sangat panas, sehingga sepanjang perjalanan harimau diberi minum dan disemprot air. Saat perjalanan keluar dari lokasi harimau terjerat saya memilih duduk di papan kayu yang berada di depan John Deere ternyata mengasyikan berada di depan sendiri saat melalui jalan buruk naik turun.

Saat harimau akan dibawa ke BKSDA Bengkulu, diperjalanan sudah menunggu banyak orang. Pertama kali yang kami jumpai adalah Camat dan Kapolsek Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur beserta rombongannya. Yang lebih mengejutkan lagi, mendekati jalan raya telah berderet orang bersepeda motor, truk dan beberapa mobil berhenti dan menunggu hanya ingin melihat dan memomtret harimau yang telah kami evakuasi. Harimau sejak dulu selalu menarik perhatian orang untuk dilihat. Untuk itu dalam pengangkutan harimau sebaiknya kandang ditutup agar harimau tidak stress bila melihat banyak orang. Stress membuat harimau terluka karena menabrak kandang.

Tiba di kantor BKSDA Bengkulu sekitar pukul 22.30 malam. Harimau langsung dipindahkan ke dalam kandang perawatan yang telah dipersiapkan dan diletakkan di tempat yang terisolasi. Tempat ideal untuk perawatan harimau liar harus terisolasi untuk mengurangi kontak antara manusia dengan harimau yang memicu stress dan luka traumatis.  Harimau liar sering meloncat dan menabrak jeruji kandang bila melihat orang yang mendekati kandangnya.

Menunggu kondisi harimau tenang kembali setelah stress karena penangkapan dan transportasi untuk penanganan lebih lanjut. Selanjutnya akan dilakukan operasi amputasi empat jari pada kaki depan sebelah kanan yang terkena jerat pemburu, karena kondisinya sudah tidak ada vascularisasi dan sudah nekrosis (mengalami kematian jaringan) dan membusuk akibat jerat sling. Bila tidak cepat dilakukan amputasi dikhawatirkan terjadi infeksi sekunder yang lebih serius dan bisa membahayakan nyawa harimau itu sendiri.