Sabtu, 19 Oktober 2013

Jalan - Jalan ke Deception Pass Bridge di U.S. State of Washington


Catatan Perjalanan

Deception Pass Bridge - Washington, U.S.A.  Photo : Erni Suyanti Musabine

Seorang teman yang tinggal di Marysville, Washington pernah bercerita tentang sebuah jembatan yang menghubungkan dua pulau dengan pemandangan indah di sekitarnya. Dan dia ingin mengajak saya kesana bila ada waktu.  Dua hari lagi saya harus kembali ke Indonesia, dan di hari-hari terakhir saya bekerja kebetulan tidak ada jadwal pemeriksaan kesehatan satwa di animal hospital, akhirnya saya meminta ijin untuk keluar dari zoo apartment  dua hari lebih awal dari jadwal sebelumnya untuk tinggal di kota lain, yakni menginap di rumah teman di kota Marysville, lokasinya lumayan jauh dari Seattle.  Teman saya juga seorang dokter hewan alumni dari universitas yang sama dengan saya, yakni Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur.  Dia telah lama tinggal di Washington karena menikah dengan seorang warga negara Amerika Serikat dan tinggal di Marysville, Washington.


Seattle, Jumat 18 Oktober 2013


Pagi sampai siang hari saya menghabiskan waktu di perpustakan animal hospital, Woodland Park Zoo untuk mencari referensi tentang penyakit satwa liar buat persiapan jurnal ilmiah saya juga referensi yang berhubungan dengan kasus-kasus penyakit satwa liar yang pernah saya tangani di Sumatra .  Selain itu saya juga sibuk mengecek email dan membalas email diwaktu yang bersamaan.  Saya hanya punya waktu sampai siang hari, karena teman saya akan menjemput saya siang itu. Saya pun sudah mengemas semua barang-barang saya, karena saya akan kembali pulang ke Indonesia dari rumah teman saya di Marysville.

Sekitar pukul 2 siang teman saya sudah datang menjemput, animal hospital tampak kosong, tidak ada dokter hewan yang praktik hari itu, dan hanya satu vet tech yang masih berada di hospital.  Saya berpamitan dengannya sekaligus menyerahkan kunci animal hospital dan apartment padanya. Sebelum pergi ke Marysville saya mengajak teman saya untuk singgah ke 'Waroeng Jajanan' di Edmonds, yakni sebuah minimarket dan restaurant milik orang Indonesia yang menjual makanan jadi khas Indonesia dan bahan makanan yang diimport dari Indonesia.  Disana kami bertemu dengan orang-orang yang telah saya kenal dengan baik sebelumnya, yakni pemilik Waroeng Jajanan dan pengunjung asal Malaysia.  Dan ada beberapa orang Indonesia lainnya yang menyapaku dan belum saya kenal sebelumnya.  Besok malamnya akan ada acara 'nongkrong bareng' di tempat itu, sudah tersedia peralatan musik disana, dan saya pun diundang untuk datang dan sekaligus bercerita kepada pengunjung yang sebagian besar orang Indonesia untuk menyampaikan upaya konservasi satwa liar di Indonesia.  Namun, jarak yang jauh dari Edmonds akan menjadi kendala, karena saya menginap jauh di luar kota Seattle, yakni di Marysville.


Indonesian Store at Edmonds
Indonesian Restaurant - Waroeng Jajanan
Saya mulai hafal dengan jalan di kota Seattle karena seringkali melewatinya, sehingga untuk mencapai lokasi Waroeng Jajanan dengan mudah bisa ditemukan.  Siang itu kami berdua singgah sebentar di restoran milik Jonathan Kresnadi, yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Yoyon, mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Washington sering memanggilnya Koko Yoyon. Orangnya sangat ramah dan ringan tangan, suka membantu orang asal Indonesia yang baru tinggal di Seattle.  Mereka sudah seperti keluarga saya sendiri di Washington sejak pertama kali bertemu mereka dan tinggal di rumahnya dan keluarga itu telah banyak menolong saya disaat saya menghadapi kesulitan saat pertama kali menginjakkan kaki di Seattle.  Di restoran itu hanya bertemu dengan Bu Ira, istri dari pak Yoyon dan seorang teman yang berasal dari Malaysia. Akhirnya kami makan siang disana dengan memilih menu bakso dan ayam bakar sambal terasi.  Itu hari terakhir saya di Seattle sehingga saya perlu berpamitan dengan mereka.  Sore hari Pak Yoyon baru muncul, karena beliau sedang terkena musibah dan harus berpindah rumah ke hotel untuk sementara waktu karena pipa buangan limbah di rumahnya bocor dan mengakibatkan rumah banjir, setelah berbincang-bincang sebentar sore itu kami langsung menuju Marysville, yaitu salah satu daerah di Washington yang juga merupakan lokasinya orang Indian.  Tapi tidak kutemukan perkampungan orang Indian seperti yang ada di film-film Amerika disana, semua orang disana sudah berpenampilan dan hidup modern.

Sesampainya di rumah teman, saya biasa memanggilanya mbak Nina, karena dia adalah kakak kelas saya waktu kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya, suaminya menyambut kedatangan kami dan membantu membawakan travel bag saya untuk dimasukkan kerumah.  Seorang gadis kecil yang cantik, bernama Abigail sudah tak sabar menunggu kedatangan kami, saat mobil diparkir, dia sudah mengintip di pintu depan.  Saya sangat menyukai anak-anak, sehingga mengajak ngobrol dan bermain dengan Abigail adalah hal yang menyenangkan. Suami teman saya menjelaskan setiap tempat yang ada di rumah itu, dimana toilet dan kamar mandi berada, dapur, meja makan, tempat makanan dan peralatan makan dan bahkan komputer untuk internetan bila saya ingin menggunakannya.  Lagi-lagi saya mendapat tuan rumah yang ramah dan menyenangkan.

Malam itu kami makan bersama.  Dengan cekatan si kecil Abigail menyiapkan meja makan dan menatanya.  Sungguh anak yang pintar.  Dan dia juga yang menentukan dimana kami harus duduk, "daddy sits down here, and me, and miss Yanti and ibu", sambil menunjuk kursi yang akan kami duduki sesuai instruksinya.  Makan malam dengan nasi, oseng-oseng daging, dan ayam bakar sambal terasi dan lalapan cabe tapi tidak pedas.  Saat makan malam itu Abigail meminta saya untuk memimpin doa sebelum makan, padahal agama kami berbeda, akhirnya kami pun saling berpegangan tangan dan mulailah saya membaca doa. Pengalaman yang menarik.


Abigail and her cats 'Kahlua & Tigger'
Sebelum tidur saya menunjukkan sebuah film dokumenter berbahasa Perancis dan Inggris yang telah ditayangkan di televisi Perancis tentang penanganan medis harimau Dara, gajah Bona dan Nelson serta orangutan sumatra dan burung elang pada Abigail. Kebetulan aktifitasku termasuk salah satu bagian dari film dokumenter tersebut. Saat itu saya juga diperkenalkan dengan kucingya yang bernama Kahlua dan Tigger.  Saya menginap di kamar Abigail dan tidur bersamanya.  Kami tidak sendiri, malam itu pun kami ditemani oleh Kahlua, seekor kucing yang manis.  Malam itu beberapa kali Abigail terbangun, hanya ingin memastikan apakah saya bisa tidur nyenyak apa tidak.  Sungguh tuan rumah yang penuh perhatian terhadap tamunya :)


Marysville & Deception Pass, Sabtu 19 Oktober 2013

Pagi itu, saya berkeliling di belakang rumah untuk memotret meski masih berkabut dan suhu sangat dingin, tak lupa menggunakan sepatu boot dan jacket tebal untuk menahan dingin tentunya. Teman saya mengatakan bahwa dibelakang rumahnya ada hutan kecil yang didalamnya terdapat sungai, tempat tersebut ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh pemerintah untuk melindungi ikan salmon.  Terlihat banyak pohon besar disana.  Dan terkadang juga ada rusa liar dan satwa liar lainnya.  Ingin sekali punya rumah seperti itu, ada banyak pohon besar bahkan dihuni oleh satwa liar.  Pagi itu masih berkabut, sehingga udara terasa dingin menusuk tulang dan saya tidak mau berlama-lama berada di luar rumah.



Deception Pass
Si kecil Abigail juga mengajakku bermain dengan kucing-kucingnya.  Dia selalu memintaku untuk memotret kucing-kucing itu.  Masalahnya, kucingnya selalu menghindar bila melihatku mulai memegang camera.  Setelah selesai sarapan kami semua bersiap-siap untuk pergi, mereka mengantarku berbelanja di pusat perbelanjaan di sekitar Marysville, kemudian kami melanjutkan perjalanan keluar kota menuju Deception Pass Bridge.  Kami menuju ke arah Canada untuk mencapai lokasi Deception Pass Bridge.  Di jalan-jalan tampak penunjuk arah daerah yang menggunakan nama-nama Indian.  Sepanjang jalan juga tampak ladang pertanian di kanan dan kiri jalan.  Sebelum mendekati Deception Pass Bridge, kami melewati perbukitan berbatu dan hutan pinus dengan jalan berkelok-kelok, dan akhirnya terlihat laut disebelah kiri kami.


Deception Pass.  Photo : Erni Suyanti Musabine

Jembatan penghubung antar dua pulau sudah terlihat dari kejauhan, mobil diparkir dipinggir jalan mengikuti mobil-mobil lainnya.  Saya langsung mengeluarkan camera dan mulai memotret pemandangan sekitarnya yang indah.  Udara yang dingin tidak kami pedulikan, sinar matahari yang tidak juga muncul menambah temperatur semakin dingin, namun pemandagan sekitar yang indah lebih menggodaku untuk segera keluar dari mobil dan mulai memotret. Dan kamipun mencoba melewati jembatan dengan berjalan kaki, sungguh mengerikan rasanya bila melihat kebawah dan merasakan jembatan bergetar saat mobil melewatinya.


Deception Pass Bridge - Washington

Akhirnya kami pun kembali ke mobil, teman saya ingin ke rest room (toilet), saya pun juga tidak bisa memotret lagi karena baterei camera lowbat.  Lalu kami memilih melewati jembatan tersebut dengan mengendarai mobil, saya pikir itu jauh lebih baik daripada berjalan kaki diatas jembatan yang terasa menakutkan setiap ada mobil yang juga melewatinya. Sebelum kearah pulang kami berhenti disisi lainnya dari jembatan tersebut.  Terlihat banyak pulau-pulau kecil disana.  Sejauh mata memandang tampak bukit-bukit terjal yang hijau.  Juga terlihat speed boat yang lalu lalang.

Deception Pass
Deception Pass


Sejarah Deception Pass Bridge

Deception Pass Bridge merupakan salah satu keajaiban pemandangan di Pacific Northwest, dengan panjang 453 meter dan tingginya 54 meter.  Konstruksinya dimulai pada bulan Agustus 1934 dan setelah selesai baru diresmikan pada tanggal 31 Juli 1935.  Pembangunannya menghabiskan dana sebesar $ 482.000.  Pada bulan September 1982, jembatan tersebut dinyatakan sebagai National Historic Landmark (terdaftar sebagai tempat nasional bersejarah).  Jembatan ini diletakkan diatas tebing tinggi berbatu yang curam diatas laut, yang menghubungkan antara Whidbey Island dan Fidalgo Island dengan pemandangan yang menakjubkan di sekitarnya.

Deception Pass.  Sumber : en.wikipedia.org

Pada tahun 1791 penjelajah Spanyol bernama Letnan Salvador Fidalgo memetakan perairan dan membagi Pulau Whidbey dan Pulau Fidalgo.  Penjelajah Spanyol pada abad 18 juga telah memberi banyak nama tempat-tempat disana yakni Rosario, Fidalgo dan Camano Island. Kemudian menyusul penemuan penjelajah Inggris yakni  Kapten George Vancouver yang menghabiskan waktu beberapa bulan menjelajahi daerah tersebut pada tahun 1792.  Kepala navigator Vancouver, yakni Joseph Whidbey yang berlayar ke selatan ke bagian Saratoga  berhasil menemukan dan menyanggah a Bay theory, yang pada awalnya itu dianggap sebuah teluk.  Kemudian Vancouver memberi nama saluran tersebut 'Deception Passage' dan pulau besar tersebut diberi nama Pulau Whidbey sebagai penghormatan untuk navigator kepercayaannya yakni Joseph Whidbey.  Selain itu juga telah memberi nama tempat-tempat lainnya disana yakni Puget Sound, Admiralty Inlet, Mount Rainier, dan Mount Baker.

Deception Pass Bridge.  Photo : Erni Suyanti Musabine

Di sebelah utara adalah Pulau Fidalgo, yang diambil dari nama penjelajah Spanyol. Di sebelah selatan adalah Pulau Whidbey, yang merupakan pulau terbesar kedua di 48 negara bagian Amerika Serikat.


Deception Pass Bridge.  Photo : Erni Suyanti Musabine 

Pembangunan Deception Pass Bridge dimulai dari sebuah mimpi, mimpi dari seorang pelaut Kapten George Morse dari New England, yang berlayar melewati saluran sempit dengan airnya yang bergolak yakni Deception Passage.  Akhirnya dia pun menetap di desa kecil Oak Harbour di Pulau Whidbey.  Pada tahun 1880 sambil menunjuk Whidbey Island dan Fidalgo Island, dia berkata pada anak-anaknya, "one day we will have a bridge across this pass with Pass Island as a center support".  Lima puluh tahun kemudian dengan pekerjaan yang terus-menerus dan dukungan dari banyak pihak akhirnya jembatan tersebut jadi kenyataan.  Dan akhirnya berkembang menjadi sebuah ikon setelah terealisasi.  Menyatukan tempat, orang dan taman nasional yang terkenal dan menarik pengunjung dari seluruh dunia. Tempat inipun menjadi tujuan wisata utama di negara bagian Washington, U.S.A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar