Tampilkan postingan dengan label Sumatran tiger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatran tiger. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Agustus 2014

Medical checkup pre-release pada Harimau sumatera di Sumatera Barat


Pada hari Sabtu tanggal 16 Agustus 2014 saya melakukan perjalanan ke Padang, Sumatera Barat setelah mewakili Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) untuk mengikuti pertemuan Konsultasi Publik berhubungan dengan program tentang "Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscapes" di Muara Bangko, Kabupaten Merangin Jambi. Pertemuan tersebut atas inisiasi beberapa Non-Government Organization (NGO) International yang bekerja di lansekap keanekaragaman hayati utama di Pulau Sumatera, juga Forum Konservasi Harimau Sumatera serta Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BB TNKS). 

Perjalanan ke Sumatera Barat atas permintaan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat untuk membantu pemeriksaan kesehatan harimau sumatera. Mengingat BKSDA Sumatera Barat tidak memiliki tenaga profesi dokter hewan (medik veteriner). Hari Minggu tanggal 17 Agustus 2014, saya beserta staff dari BKSDA Sumatera Barat mengunjungi Taman Satwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi untuk melihat harimau yang akan diperiksa, serta berkoordinasi dengan Kepala Taman Satwa tersebut beserta dokter hewan setempat. Tanggal 18 September 2014 saya dipertemukan dengan Kepala Sub Bag TU BKSDA Sumbar untuk rencana administrasi dan birokrasinya guna meminjam tenaga medis dari BKSDA Bengkulu. Selain itu kami juga berbelanja beberapa peralatan medis yang akan digunakan untuk pemeriksaan harimau sumatera. 

Medical Checkup on Sumatran Tiger in Sumatera Barat
Esok harinya, Selasa tanggal 19 Agustus 2014 adalah jadwal yang direncanakan untuk pemeriksaan harimau sumatera. Pagi itu kami bertemu dengan Kepala Balai KSDA Sumatera Barat sebelum berangkat ke lokasi, yakni ke Kota Bukittinggi. Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Peternakan serta Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) setempat untuk meminta bantuan peralatan medis yang dibutuhkan, serta mengundang dokter hewan serta paramedis setempat untuk turut bergabung dalam pemeriksaan harimau tersebut.  Selain itu kami juga berkoordinasi dengan laboratorium setempat untuk mengetahui pemeriksaan spesimen apa saja yang tersedia dan bisa dilakukan disana, kami berkoordinasi dengan Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional II Bukittinggi.

Dalam setiap kegiatan untuk pemeriksaan kesehatan harimau, saya biasanya akan mempersiapkan semua peralatan medis dan obat-obatan yang dibutuhkan, tidak hanya itu saya juga sudah mengetahui ke laboratorium mana spesimen akan dikirimkan sesuai dengan pengujian yang kita inginkan. Untuk itu koordinasi dengan banyak pihak diperlukan sebelum tindakan pembiusan satwa liar untuk pemeriksaan medis. Karena saat itu saya memang tidak membawa peralatan medis sendiri maka harus memastikan bahwa mereka bisa menyediakan peralatan medis yang dibutuhkan.


Ultrasonography examination on a wild Sumatran tiger. 

Akhirnya pada hari Selasa tanggal 20 Agustus 2014, pemeriksaan kesehatan harimau sumatera baru bisa dilakukan. Langkah-langkah yang diambil dalam pemeriksaan harimau yang akan dilepasliarkan tersebut disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan, yakni sebagai berikut :
  • Estimasi berat badan.
  • Persiapan peralatan medis dan obat-obatan, baik obat bius maupun obat-obatan emergency.
  • Pembiusan harimau sumatera dengan sebelumnya dipuasakan dari makan dan minum sekitar 8-12 jam. 
  • Monitoring vital signs selama pembiusan.
  • Recording data fisiologi dan pembiusan serta hasil pengukuran tubuh harimau.
  • Koleksi sampel diantaranya sampel rambut untuk tes DNA, sampel darah untuk pemeriksaan hematologi (darah lengkap), serologi dan bloodsmear/ preparat ulas darah. Ektoparasit dan feces serta urine tidak ada sehingga tidak dikoleksi. 
  • Body measurement.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan gigi dan pengambilan photo gigi untuk estimasi umur.
  • Pengambilan photo loreng untuk identifikasi individu. Pemasangan microchip dan tatto untuk identifikasi individu tidak dilakukan karena peralatan tidak tersedia.
  • Pemberian antibiotik long acting untuk mencegah infeksi sekunder pada luka bekas sumpit bius.
  • Pemeriksaan ultrasonography.
  • Sebelum dan setelah pembiusan juga dilakukan observasi behavior (perilaku alaminya) dari pengamatan langsung juga dari interview dengan keeper harimau.
  • Pemeriksaan laboratorium di BPPV Regional II Bukittinggi dan salah satu laboratorium swasta di kota Bukittinggi.


General checkup on a wild Sumatran tiger pre-release

Dalam kegiatan ini general checkup pre release harimau sumatera tidak hanya dilakukan oleh petugas dari BKSDA Sumatera Barat dengan dibantu oleh tenaga dokter hewan dari BKSDA Bengkulu saja, namun kami juga mengundang dan melibatkan beberapa dokter hewan dan paramedis Taman Satwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi serta dari Dinas Peternakan dan Puskeswan setempat. Pemeriksaan kesehatan harimau sumatera tersebut dilakukan mulai pukul 09.16 WIB sampai dengan pukul 12.03 WIB. Kegiatan ini juga sebagai training bagi dokter hewan setempat mengenai handling dan pemeriksaan kesehatan pada harimau sumatera.

Sabtu, 18 Januari 2014

Keracunan Zinc Phosphide



Zinc Phosphide merupakan senyawa anorganik yang digunakan dalam produk pestisida sebagai rodenticide. Zinc Phosphide memiliki berbagai macam kegunaan komersial, tidak hanya sebagai rodenticide atau lebih dikenal sebagai racun tikus, tetapi juga sebagai pelindung tanaman pangan dan rumput serta digunakan sebagai insektisida. Berupa bubuk (powder) berwarna abu-abu hitam dengan bau mirip dengan bawang putih. Dijual secara komersial dalam bentuk pelet umpan, butiran, debu dan serbuk. 


Mengapa Zinc Phosphide dapat meracuni satwa liar?
Toksisitas Zinc Phosphide karena memproduksi gas fosfin setelah bereaksi dengan air dan asam lambung di saluran cerna. Kemudian dapat memasuki aliran darah dan mempengaruhi kerja paru-paru, hati, ginjal, jantung dan sistem saraf pusat.

Efek samping pada satwa predator, Zinc Phosphide juga sangat beracun bagi mammalia non-target ketika ditelan langsung. Keracunan satwa liar pemakan hewan lainnya bukan disebabkan satwa predator tersebut memakan daging hewan yang mati keracunan, karena senyawa tersebut tidak menumpuk di otot hewan yang mati karena racun tersebut (spesies sasaran) tetapi keracunan sebagai akibat memakan saluran cerna hewan yang mati karena keracunan Zinc Phosphide.

Clinical Signs (Tanda-Tanda Klinis) Keracunan  Zinc Phosphide pada Satwa Liar
Satwa yang menelan Zinc Phosphide kemungkinan akan menunjukkan gejala klinis dalam waktu 1-4 jam. Gejala awal yang terlihat adalah kehilangan nafsu makan, aktivitas menurun dan tampak depresi, diikuti muntah dan terlihat gejala-gejala mau muntah. Muntahan bisa bercampur darah. Gejala akut tampak satwa merasa kesakitan, nyeri perut, gelisah/ cemas, menggigil. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi (Ataxia), lemah, sesak nafas/ sesak di dada, meronta-ronta, tremor otot dan kejang-kejang, bahkan tidak sadarkan diri. Bila mengenai mata bisa menyebabkan fotopobia.  Bila keracunan melalui inhalasi (dengan cara menghirup racun) akan tampak gejala-gejala muntah, diare, sianosis (mukosa membiru), denyut nadi cepat, demam dan shock.

Munculnya gejala klinis menjadi lebih lambat baru tampak setelah 12 jam bila satwa dalam kondisi perut kosong. Pelepasan fosfin menjadi lebih cepat pada satwa yang baru makan dan melepaskan asam lambung pada saluran cernanya dan dipengaruhi juga oleh kelembaban. 

Pemeriksaan Toxicology pada Satwa Liar yang Keracunan Zinc Phosphide
Residu fosfin terdeteksi di otak, ginjal, jantung, hati.  Sedangkan Phosphorus dan residu aluminium terdeteksi di dalam darah.  Sehingga dalam pemeriksaan post mortem pada satwa yang mati diduga karena keracunan Zinc Phosphide, specimen tersebut musti diambil disamping pengambilan specimen saluran pencernaan dan isi lambung guna pemeriksaan toxicology. 

Field Cases
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)

Harimau Sumatera yang Ditemukan Mati 
karena Keracunan Zinc Phosphate
Pada tahun 2013 saya bersama Tiger Protection and Conservation Unit - Kerinci Seblat National Park telah melakukan nekropsi seekor anak harimau liar pada tanggal 11 April 2013. Anak harimau tersebut berjenis kelamin jantan dan diperkirakan berumur sekitar 4 bulan, ditemukan di Desa Tiangko Panjang, Kecamatan Sungai Manao, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Lokasinya di sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang ditemukan mati karena keracunan Zinc Phosphide.  

Gejala klinis yang tampak menurut keterangan warga adalah harimau sumatera tersebut berjalan sempoyongan di ladang mereka, tidak berperilaku agresif dan bisa didekati, sebelum akhirnya ditemukan mati.


Perubahan Makroskopis Paru (Lung) Harimau Sumatera
karena Keracunan Zinc Phosphate
Perubahan makroskopis yang terlihat dari pemeriksaan Post Mortem (Necropsy) adalah tubuh harimau tampak kurus, ditemukan eksudat dan keluar darah dari rongga hidung, terdapat eksudat berwarna hijau gelap di rongga mulut seperti muntahan, rongga telinga kiri ada bekas perdarahan, terdapat akumulasi cairan bercampur darah pada rongga dada dan rongga perut, permukaan limpa terdapat nodul-nodul putih berisi gas. Organ -organ penting seperti hati, paru, ginjal, jantung warna dan konsistensinya tidak normal, berubah warna menjadi hijau dan coklat kehitaman serta merah kehitaman, konsistensinya lunak/ lembek dan krepitasi bila dipalpasi permukaannya, begitu juga yang terlihat pada lymphoglandula mesenterica, pada selaput jantung terdapat akumulasi cairan. Otak menjadi lunak dan hampir hancur, berwarna kemerahan dan ada pendarahan. Seluruh saluran pencernaan terlihat abnormal mulai dari oesophagus sampai dengan anus, mucosanya dilapisi eksudat warna kuning kecoklatan dan coklat kehitaman disertai dengan pendarahan, juga ditemukan eksudat warna putih susu pada usus halus.  Saluran cerna dipenuhi feces (kotoran) warna hitam dengan konsistensi lembek. Pankreas berwarna coklat dengan konsistensi sangat lunak.  Musculus (otot) tampak berwarna merah gelap sampai kehitaman.

Dari hasil pemeriksaan toxicology di Balai Besar Penelitian Penyakit Veteriner diketahui bahwa harimau sumatera tersebut mati karena keracunan Zinc Phosphate (Zn3P2).


Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)

Pemeriksaan Post Mortem Gajah Sumatera 
(Elephas maximus sumatranus)
Photo : Pusat Konservasi Gajah Seblat
Pada tanggal 8 November 2013 saya bersama Polisi Kehutanan Resort KSDA Seblat dan mahout Pusat Konservasi Gajah Seblat telah melakukan bedah bangkai (necropsy) pada seekor gajah sumatera bernama Yanti, berjenis kelamin betina dan berumur sekitar 29 tahun, yang ditemukan mati di kawasan konservasi Taman Wisata Alam Seblat, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara. 

Gejala klinis yang tampak adalah adanya pendarahan di lubang-lubang alami, yakni di rongga mulut, mata, telinga, vulva dan anus, juga terlihat perut membesar karena kembung dan mengejan. Rongga mulut dipenuhi oleh muntahan dan gumpalan darah. 

Dalam kondisi perut gajah penuh dengan makanan karena pakan tambahan yang diberikan pun habis termakan, menyebabkan efek racun menjadi lebih cepat karena pelepasan fosfin. Pelepasan fosfin karena senyawa Zinc Phosphite bereaksi dengan asam lambung.  Produksi asam lambung tinggi saat satwa makan/ lambung terisi makanan karena asam lambung berfungsi untuk membantu mencerna makanan. 

Setelah dilakukan bedah bangkai terlihat adanya timbunan gas dan cairan yang berlebihan dan bercampur darah di rongga dada dan rongga perut.  Warna permukaan limpa abu-abu kehitaman, pada hati berwarna hitam dan bidang sayatan kedua organ tersebut berwarna hitam. Ginjal dan otak, warna dan konsistensinya terlihat normal. Seluruh saluran pencernaan terlihat abnormal, mucosa saluran cerna secara keseluruhan tampak melepuh, terdapat timbunan gas yang berlebihan dan pendarahan. Permukaan isi lambung berwarna abu-abu gelap yang melapisi kotoran, dan mucosa lambung berwarna hitam. Lymphoglandula mesenterica berwarna merah kehitaman.

Hasil pemeriksaan toxicology di Balai Besar Penelitian Penyakit Veteriner diketahui bahwa kematian gajah sumatera bernama Yanti tersebut disebabkan oleh keracunan Zinc Phosphide.

Selasa, 10 Juli 2012

Antara News - Sumatran Tiger 'Dara'

Bengkulu. Dara, a critically endangered Sumatran tiger rescued from a hunter’s trap in Bengkulu in February, has been transferred to the Taman Safari Indonesia park in Bogor, officials said on Monday.

“According to instructions from Forestry Minister Zulkifli Hasan, Dara is to be treated at TSI, so today we are moving her to Bogor,” said Amon Zamora, the Bengkulu Natural Resources Conservation Agency (BKSDA) chief.

The female tiger, estimated to be between 4 and 5 years old, was found by officials in a logging concession in Mukomuko district in February. Her front legs were seriously injured from the metal cables in which she was ensnared.

The trap was believed to have been set up by poachers.

A team of doctors had to amputate seven of Dara’s toes, three from her right paw and four from her left, veterinarian Erni Suyanti said.

But the tiger still requires a third and more complicated surgery to straighten bones protruding from her front paws.

“For this third operation, we will cooperate with French doctors who will also help fund the procedure,” Erni said.

Amron added that hospitals in Bengkulu did not have adequate medical facilities to ensure Dara’s recovery.

TSI is Indonesia’s biggest ex-situ conservation area, located in the Puncak highlands of Bogor. Amron said Dara was transported by plane from Fatmawati Airport in Bengkulu to Jakarta, where the tiger was then transported to the park by truck.

Conflicts between humans and tigers are frequent in Bengkulu as vast swaths of forests continue to be converted to logging concessions and plantations.

In the first three months of this year, the provincial BKSDA has already recorded two tiger deaths and six incidents of tiger-human conflicts.

Bengkulu’s first tiger death this year was a male, named Rajo by conservation staff, who had been rescued from a snare trap in the Bukit Daun protected forest in Lebong district.

When conservation staff found Rajo on Jan. 8, it seemed he had been left for dead by an unknown attacker who had beaten him with a blunt instrument. Despite medical care, Rajo eventually died.

The second tiger to die was discovered in Seluma district in February, dismembered and buried in an apparent attempt to hide the crime.

In the most recent conflict, residents of Alas Bangun village in North Bengkulu district reported being plagued by sightings of a tiger that had appeared in the vicinity of their village several times over a period of a few days in March.

Antara


Rabu, 04 Juli 2012

The JakartaGlobe : Rescued Tiger Dara Moved To Taman Safari for Surgery

Bengkulu. Dara, a critically endangered Sumatran tiger rescued from a hunter’s trap in Bengkulu in February, has been transferred to the Taman Safari Indonesia park in Bogor, officials said on Monday. 

“According to instructions from Forestry Minister Zulkifli Hasan, Dara is to be treated at TSI, so today we are moving her to Bogor,” said Amon Zamora, the Bengkulu Natural Resources Conservation Agency (BKSDA) chief.

The female tiger, estimated to be between 4 and 5 years old, was found by officials in a logging concession in Mukomuko district in February. Her front legs were seriously injured from the metal cables in which she was ensnared. The trap was believed to have been set up by poachers. 

A team of doctors had to amputate seven of Dara’s toes, three from her right paw and four from her left, veterinarian Erni Suyanti said. 
But the tiger still requires a third and more complicated surgery to straighten bones protruding from her front paws. 
“For this third operation, we will cooperate with French doctors who will also help fund the procedure,” Erni said. 

Amron added that hospitals in Bengkulu did not have adequate medical facilities to ensure Dara’s recovery. 

TSI is Indonesia’s biggest ex-situ conservation area, located in the Puncak highlands of Bogor. Amron said Dara was transported by plane from Fatmawati Airport in Bengkulu to Jakarta, where the tiger was then transported to the park by truck. 

Conflicts between humans and tigers are frequent in Bengkulu as vast swaths of forests continue to be converted to logging concessions and plantations. 

In the first three months of this year, the provincial BKSDA has already recorded two tiger deaths and six incidents of tiger-human conflicts. 

Bengkulu’s first tiger death this year was a male, named Rajo by conservation staff, who had been rescued from a snare trap in the Bukit Daun protected forest in Lebong district. 

When conservation staff found Rajo on Jan. 8, it seemed he had been left for dead by an unknown attacker who had beaten him with a blunt instrument. Despite medical care, Rajo eventually died. 

The second tiger to die was discovered in Seluma district in February, dismembered and buried in an apparent attempt to hide the crime. 

In the most recent conflict, residents of Alas Bangun village in North Bengkulu district reported being plagued by sightings of a tiger that had appeared in the vicinity of their village several times over a period of a few days in March. 

(Antara)

Senin, 01 Agustus 2011

Rescue a Sumatran Tiger from the Talang Sebaris Village

Sumatran tiger 'Tarisa' that be captured at Talang Sebaris Village

Since February 15, 2011 there is a sumatran tiger seen wandering through the Talang Sebaris village, in southern region of Bengkulu. The tiger prey on cattle and has injured a villager. Finally the tiger was rescued and relocated to the city of Bengkulu to get a temporary treatment before release back again into Its habitat.

Talang Sebaris Village

Capture Sumatran tiger to mitigate conflicts between tigers and humans is not a good solution if done continuously and also moved out of the province of Bengkulu because over time the tiger's fate will be like the Sumatran rhinoceros, which eventually became extinct because of continued captured and relocated out Bengkulu.

Mitigate Human-Tiger Conflict at Talang Sebaris Village
That should be done is to protect the tiger habitat from damage and not take the tiger from its habitat to be moved to another place. If this is done continuously, so that we will lose Tiger forever in Bengkulu one day.

Sumatran tiger 'Tarisa' in trap

Harimau Sumatera Berkeliaran di Desa Bukit Indah & Desa Pasar Ketahun, Kec. Ketahun, Kab. Bengkulu Utara


Perkebunan Karet PT. Pamor Ganda - Ketahun Bengkulu
Hari Sabtu, tgl. 29 Januari 2011, harimau sumatera muncul di Desa Bukit Indah, Kec. Ketahun, Kab. Bengkulu Utara dan ditemukan seekor sapi mati kemungkinan diterkam oleh harimau tersebut. Pak Jurai, warga Desa Bukit Indah mengaku telah melihat langsung seekor harimau sumatera melintas di kebun karet di areal belakang SMAN 1 Ketahun pada hari Rabu, tanggal 2 Pebruari 2011. Seorang warga Desa Bukit Indah juga mengaku telah melihat harimau sumatera melintas dekat SMPN 2 Ketahun atau di belakang SMK Ketahun. Tiga warga desa lainnya yakni Pak Herman dkk juga telah melihat 2 ekor harimau sedang menyeberang jalan menuju kearah pantai sekitar pukul 08.00 WIB tanggal 2 Pebruari 2011 ketika mereka sedang berangkat bekerja di kebun. Pak Hardi dan Pak Supan juga telah melihat langsung seekor harimau di perkebunan karet milik perusahaan Pamor Ganda (Abling 1), harimau berjalan menuju kearah pantai. Mereka melihat harimau tersebut pada tanggal 4 Pebruari 2011 sekitar pukul 16.30 WIB. Begitu juga dengan pengakuan seorang Satpam PT. Pamor Ganda juga pernah melihat 2 ekor harimau saat melintas di jalan sekitar perkebunan karet perusahaan Pamor Ganda.

Tiger Footprint di Perkebunan Karet Masyarakat Desa Bukit Indah


Munculnya harimau di Desa Bukit Indah dan Desa Pasar Ketahun memang merupakan hal yang aneh, mengingat desa tersebut berada dekat jalan raya lintas Bengkulu-Sumatera Barat, dan lokasi desa tersebut sangat jauh dari hutan. Disekitarnya adalah pemukiman masyarakat dan perkebunan karet dan sawit milik masyarakat maupun perusahaan PT. Pamor Ganda. Timbul pertanyaan yang belum terjawab hingga kini, sebenarnya harimau tersebut selama ini berasal darimana?

Lokasi harimau melintas jalan di Desa Bukit Indah
Setelah beberapa hari mencoba untuk melacak keberadaan harimau tersebut tetapi akhirnya hanya bisa menjumpai jejaknya saja. Harimau telah pergi meninggalkan desa itu, semoga mereka pergi kembali ke tempat hidupnya semula dan bukan menghilang karena diburu manusia. Setelah tidak ada lagi informasi tentang kemunculan harimau di desa itu membuat kami cukup lega, karena akhirnya harimau terbebas dari jebakan kandang perangkap ini berarti terbebas pula dari upaya penangkapan.

Human-Tiger Conflict in the Province of Bengkulu


Seekor harimau sumatera sedang melintas di Desa Mekar Jaya

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu dari enam sub-species harimau loreng yang masih bertahan hidup saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah dan masuk dalam red data book yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar di Pulau Sumatera diperkirakan tinggal 300-400 ekor. Provinsi Bengkulu adalah salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang merupakan habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Kondisi hutan di beberapa daerah di Bengkulu juga tidak jauh berbeda dengan hutan-hutan di Provinsi lainnya, yakni luasannya terus berkurang akibat konversi lahan untuk perkebunan, pertambangan, pemukiman masyarakat baik areal transmigrasi maupun pemekaran desa juga perambahan hutan dan beberapa faktor penyebab lainnya. Berkurangnya habitat harimau sumatera di Bengkulu menyebabkan adanya konflik harimau sumatera dengan manusia, yakni yang disebabkan harimau memasuki perkebunan ataupun pemukiman masyarakat untuk mencari mangsa ataupun sebaliknya manusia yang memasuki habitat harimau dan membuat harimau semakin terdesak, selain itu perburuan harimau yang masih terus saja terjadi juga menyebabkan terjadinya konflik antar kedua belah pihak. Selama tahun 2007 s/d 2011 telah terjadi konflik harimau dengan manusia di beberapa kabupaten di Provinsi Bengkulu, yakni telah terjadi 16 kali konflik harimau di Kabupaten Seluma, 10 kali konflik harimau di Kabupaten Kaur, 9 kali konflik harimau di Kabupaten Lebong, 6 kali konflik harimau di Kabupaten Muko Muko, 6 kali konflik harimau di Kabupaten Bengkulu Utara, 1 kali konflik harimau di Kabupaten Kepahiang dan 1 kali konflik harimau di Kabupaten Bengkulu Tengah (Data BKSDA Bengkulu).

Selain perburuan, rusaknya habitat harimau merupakan ancaman terbesar terhadap populasi liar saat ini sehingga menyebabkan harimau berada dalam perkebunan dan pemukiman masyarakat, selain itu juga disebabkan semakin berkurangnya satwa mangsa karena perburuan babi dan rusa serta satwa mangsa jenis lainnya. Akhirnya satwa liar tersebut mencari mangsa di areal pemukiman masyarakat berupa hewan ternak atau hewan peliharaan masyarakat lainnya bahkan ada yang telah mengancam jiwa manusia. Hal itu yang akhirnya disebut sebagai gangguan / konflik harimau.