Tampilkan postingan dengan label Bengkulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bengkulu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Ditemukan lagi harimau sumatera terjerat, Seluma kini jadi target pemburu harimau


Malam itu pukul 20.29 WIB, hari Rabu tanggal 13 Maret 2015 saya mendapat informasi dari Mayor Usman Kasdim Seluma melalui chatting di WhatsApp bahwa masyarakat melaporkan ada harimau terjerat di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Esok harinya, saya ditelepon oleh BKSDA Bengkulu untuk bersiap-siap berangkat rescue harimau yang terjerat di Seluma. Saya pun langsung mempersiapkan peralatan rescue dan obat bius serta obat-obatan emergency. Lokasi harimau terjerat yang disampaikan kepada saya adalah di Ulu Talo. Ini bukan pertama kalinya harimau terjerat di Ulu Talo, beberapa tahun silam saya bersama tim dari BKSDA Bengkulu dan PHS-KS juga pernah ke HPT Ulu Talo untuk merescue harimau terjerat. Medan yang buruk harus menyeberangi sungai besar lebih dari sepuluh kali dibagian hulu dengan arus deras yang membuat wartawan yang ikut kegiatan tersebut dari salah satu stasiun televisi nasional hanyut terbawa arus namun selamat, dan naik turun bukit dengan trekking selama 6 jam untuk mencapai lokasi harimau terjerat, namun sesampainya disana harimau sudah hilang, hanya tinggal tonggak kayu pengikat jerat dan tali sling yang telah terpotong, serta tak jauh dari lokasi ada saluran pencernaan hewan yang telah berbau busuk.

Dengan pernah punya pengalaman melakukan perjalanan ke Ulu Talo maka saya memilih anggota Tim Rescue yang akan berangkat bersamaku, yang jelas orang-orang yang telah terbiasa melakukan perjalanan di medan yang sulit dan curam. Informasi awal yang kudapatkan bahwa jerat tersebut adalah jerat babi yang tidak sengaja kena harimau, dan harimau terjerat di bagian leher bukan kaki. Sepanjang perjalanan saya berdiskusi dengan teman-teman satu tim yang sama-sama punya pengalaman dalam penyelamatan harimau dari jerat pemburu liar. Saya  mencoba menganalisa dan mengatakan pada mereka, "Bila jeratnya berbentuk spiral seperti jerat yang dipasang pada ladang-ladang masyarakat untuk menjerat babi, bila harimau anakan kemungkinan kecil untuk bisa lolos dan bertahan hidup bila terjeratnya sudah lama, karena bisa tergulung. Tapi bila jeratnya berupa tali nylon atau sling untuk babi maka bila harimau anakan mungkin tidak bisa lepas sendiri tapi kalau harimau dewasa pasti sudah lepas, karena sudah banyak contohnya. Dan bila terjerat di leher diharapkan masih bertahan hidup, meskipun memberontak dia kan merasa kesakitan dan tidak bisa bernafas bila lehernya tercekik jadi akan berusaha untuk tidak tercekik, berbeda bila terjerat di bagian kaki." Namun kami tidak begitu saja bisa percaya dengan informasi dari orang lain bila belum melakukan pengecekan TKP (Tempat Kejadian Perkara) secara langsung. Kadang informasi yang mereka sampaikan tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat namun berdasarkan perkiraan mereka saja.

di Koramil Ulu Talo, Seluma
Sore itu pukul 3.37 WIB kami tiba di kantor Koramil Ulu Talo, untuk mencari informasi mengenai lokasi harimau terjerat, mengingat Koramil lah yang memberikan informasi adanya harimau terjerat ke BKSDA Bengkulu dan bukan dari warga atau aparat desa setempat yang melaporkan. Mereka menyarankan kami untuk tidak ke lokasi lagipula harimaunya sudah hilang dari lokasi. Justru karena mendapat informasi seperti itu, saya bilang ke tim bahwa kami harus tetap ke lokasi kejadian untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, meskipun hari sudah sore tentu itu akan sangat beresiko berada di jalur jelajah harimau, tapi karena kami jumlahnya banyak saya pikir tidak akan ada masalah asalkan kami berjalan beriringan dan tidak terpisah atau berpencar.

Ada dua desa yang harus kami kunjungi berhubungan dengan kasus ini, kami memilih desa terdekat dengan lokasi kejadian untuk mencari informasi dimana harimau terjerat, karena tidak mudah mencari harimau yang terjerat di dalam hutan. Sore itu kami menemui Kepala Desa setempat dan diantar ke lokasi kejadian bersama beberapa warganya.

Pukul 5.52 WIB sore itu kami sudah sampai di TKP. Kami memeriksa lokasi tersebut sampai pukul 6.42 WIB. Dari sekian banyak orang hanya saya saja yang membawa headlamp padahal kami memeriksa lokasi kejadian hingga menjelang gelap. Headlamp yang mereka bawa dari Bengkulu mereka tinggalkan di dalam mobil :D

Lokasi harimau terjerat dekat dengan sungai dan jalan desa penghubung antara desa yang satu dengan lainnya, dan akhirnya saya pun mengetahui bahwa di salah satu desa tersebut ada yang mencari nafkah dengan berburu harimau. Juga terdapat jalan logging, mobil pun bisa melewatinya karena jalannya lebar, yang menghubungkan antara jalan desa dengan lokasi harimau terjerat. Dan berdasarkan informasi masyarakat bahwa orang yang mencari ikan di sungai melihat harimau terjerat di bagian kaki dalam kondisi masih hidup sejak hari Senin malam tanggal 9 Maret 2015, dan kami baru mendapatkan informasi hari Rabu malam tanggal 11 Maret 2015. Bila melihat semua kondisi TKP yang seperti itu wajar bila harimau yang terjerat sudah hilang dari lokasi. Perkiraan saya sudah diambil pemburu yang memasang jerat. Meskipun aparat desa dan warga punya pendapat lain bahwa harimau tersebut lepas sendirinya dan bukan diambil orang, karena mereka mendengar suara raungan harimau di sekitar pemukiman mereka yang jauh dari lokasi kejadian pada malam hari berturut-turut dari tanggal 9-11 Maret 2015. 

Bekas cakaran harimau
Biasanya kalau harimau lepas sendiri dari jerat biasanya tak pernah jauh berjalan dari lokasinya terjerat karena dia terluka, dan kadang masih membawa sling yang mengikat kakinya dan kadang masih menyeret kayu pancang pengikat sling yang seringkali membuat harimau tersangkut dan tidak bisa berjalan lagi. Dan bila harimau melepaskan diri dari jerat pasti tali sling di jerat-jerat lainnya masih ada, namun kami tidak menemui satu pun sling di 9 perangkap yang telah dibuat pemburu di loaksi itu, hanya tinggal kayu pancang dan lubang-lubang perangkap serta bekas umpan yang telah membusuk dan berbau menyengat bahkan tinggal tengkorak saja. Jadi saya semakin yakin bahwa harimau hilang diambil pemburu setelah pemeriksaan TKP. Ada beberapa bekas cakaran kuku pada pohon dan gigitan pada batang pohon di lokasi jerat yang berbeda dan berjauhan, kemungkinan lebih dari satu yang terkena jerat. Selain mengambil dokumentasi, saya juga mengambil sampel rambut harimau yang tertinggal di lubang perangkap.

Malam itu tim rescue BKSDA kembali pulang ke Kota Bengkulu dan melaporkan temuan tersebut kepada Polsek setempat, namun saya memilih untuk tetap tinggal di desa itu selama beberapa hari, karena saya merasa penasaran terhadap siapa-siapa saja yang terlibat dalam jaringan perburuan harimau di daerah itu, serta ingin tahu tentang harimau yang meraung di malam hari selama tiga hari berturut-turut di desa itu, serta ingin mengetahui jalur jelajah harimau disana dan kondisi habitatnya. Dan saya tertarik untuk mengetahui itu semua, dan saya harus sudah mendapatkan jawabannya sebelum kembali pulang ke Bengkulu. Bagi saya bekerja untuk satwa liar tidak harus dengan sokongan dana kegiatan dari pemerintah, namun kita masih bisa bekerja secara mandiri yang penting adalah hasilnya dapat membantu untuk mendukung penegakan hukum terhadap kejahatan pada satwa liar.

Jumat, 29 Agustus 2014

One day trip to the Tikus Island (Perjalanan sehari ke Pulau Tikus)


Sepuluh tahun yang lalu untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke Pulau Tikus saat saya melakukan travelling dari Surabaya, Jawa Timur ke Bengkulu untuk berlibur dan camping. Dan itu juga untuk pertama kalinya saya mengunjungi Provinsi Bengkulu untuk jalan-jalan, selain Pulau Tikus saya juga menyempatkan diri untuk travelling ke Pulau Enggano, naik gunung ke Bukit Kaba, mengunjungi Pusat Konservasi Gajah Seblat untuk melihat gajah di habitatnya, menelusuri sepanjang pantai di Kota Bengkulu serta panjat tebing di Tebing Kandis yang tak jauh dari Kota Bengkulu dan masih banyak lagi tempat lainnya yang saya kunjungi. Saya tidak memiliki teman dan saudara di Provinsi Bengkulu namun karena melakukan travelling ke daerah ini membuat saya lama-kelamaan memiliki banyak teman disini. Dan sekarang untuk kedua kalinya saya mengunjungi pulau kecil ini untuk snorkeling, disaat saya telah tinggal menetap dan bekerja di Bengkulu, Sumatera. Setelah sepuluh tahun berlalu banyak yang berubah di pulau ini, terutama bangunan penjaga mercusuar dan pondok nelayan telah berpindah lokasi karena terkena abrasi. 

Tikus Island, Bengkulu - Sumatra

Pulau Tikus adalah sebuah pulau kecil yang terletak di bagian barat pantai Bengkulu dan masuk wilayah administratif Kota Bengkulu. Luasnya semula adalah sekitar 2 hektar namun karena abrasi terus-menerus luasnya mengecil menjadi sekitar 0,77 hektar. Pulau ini masih bisa terlihat dari Kota Bengkulu karena jaraknya yang relatif dekat yakni sekitar 10 km dari daratan Kota Bengkulu.

How to get there ?
Untuk mengunjungi Pulau Tikus bisa dengan menyewa perahu nelayan dari Pantai Zakat, Pantai Tapak Padri atau Pantai Berkas seharga Rp. 750.000,- s/d Rp. 1.000.000,- untuk perjalanan pergi pulang dalam waktu setengah hari. Namun bila ingin menginap (camping) disana maka biaya yang harus dikeluarkan lebih mahal dari itu. Waktu tempuh dari Kota Bengkulu menuju ke Pulau Tikus kurang lebih 1 jam menggunakan perahu nelayan. Juga bisa ditempuh dengan speed boat memakan waktu selama 40 menit dari pelabuhan Pulau Baai. Sedangkan kegiatan ekowisata bahari yang bisa dilakukan bila travelling ke pulau ini adalah camping, snorkeling, diving, swimming dan fishing.

Perahu nelayan sebagai alat transportasi 
ke Pulau Tikus
Bulan Agustus 2014, saya melakukan perjalanan untuk kedua kalinya ke Pulau Tikus bersama teman-teman Pecinta Alam dari Universitas Bengkulu dengan menyewa perahu nelayan seharga Rp. 750.000,- Untuk mempermurah biaya transportasi maka bisa bepergian secara rombongan misalnya 10 orang. Hari itu rencana perahu akan berangkat pada pukul 08.00 WIB, yang akan berangkat dari Pantai Berkas, Kota Bengkulu, namun menjadi terlambat karena masih harus mencari logistik untuk bekal perjalanan. Perjalanan yang akan kami lakukan adalah one day trip, sehingga kami berangkat di pagi hari dan kembali pulang di sore hari. Untuk itu perlu membawa bekal makan siang dari Kota Bengkulu, karena di pulau tersebut tidak ada penjual makanan. 

Saat berangkat air laut sedang pasang, sehingga untuk mencapai perahu kami harus basah kuyup terendam air laut karena perahu tidak bisa merapat ke pantai. Setiap perjalanan di laut, saya selalu packing barang bawaan dilapisi dengan plastik sebelum dimasukkan dalam backpack agar barang tidak basah bila backpack terendam air laut. Sedangkan barang-barang elektronik seperti phone cell dan barang penting lainnya seperti camera dan dompet saya kemas tersendiri dalam dry bag. Satu jam kemudian kami telah sampai ke Pulau Tikus dengan melewati sebuah kapal besar yang sedang melakukan bongkar muat batubara. Tampak dari kejauhan juga ada sebuah perahu nelayan yang ukurannya lebih kecil sedang melintas di dekat Pulau Tikus untuk mencari ikan. Dari sela-sela mangrove terlihat seorang wanita tua memperhatikan kami yang sedang merapat ke daratan. Pulau ini memang berpenghuni, yakni dihuni oleh penjaga mercusuar dan nelayan yang mendirikan pondok disana sebagai tempat singgah saat mencari ikan disekitar Pulau Tikus.

Snorkeling in the Tikus Island - Bengkulu
Tak lama kemudian saya bersama seorang teman melakukan survey lokasi snorkeling terbaik yakni yang masih ada terumbu karang dengan berbagai jenis ikan dan ternyaman tanpa adanya gangguan arus yang deras. Tak lupa kami pun mengabadikan pemandangan under water dengan camera. Banyak sekali terumbu karang yang telah rusak dan mati. Kerusakan terumbu karang juga dipicu oleh adanya aktivitas bongkar muat batubara oleh kapal-kapal besar di sekitar Pulau Tikus diwaktu lalu.

Waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, namun saya masih betah berlama-lama di pantai memotret ikan-ikan yang hilir - mudik di sela-sela terumbu karang. Selain ikan hias warna - warni, saya juga menemukan ikan kerapu, ikan yang rasanya cukup enak dan mahal harganya. Namun sayangnya tidak ada ikan badut (Clown fish) di pantai ini, yakni ikan favorite saya yang selalu saya cari di setiap snorkeling. Siang itu kami beristirahat sebentar dan makan siang bersama di pinggir pantai ditemani oleh segerombolan kucing. Pulau ini dinamakan Pulau Tikus, saya mengira dulunya mungkin banyak tikus di pulau ini, tapi kenyataannya tak ada tikus yang terlihat, malah yang banyak ditemukan adalah kucing :)

Tikus Island - Bengkulu Sumatra

Di akhir perjalanan kami berpindah lokasi dengan menggunakan perahu, yakni melihat lokasi restorasi terumbu karang yang dilakukan oleh Universitas Bengkulu. Tentu lokasinya di bawah permukaan laut. Di tempat itu ada sebuah kendaraan vespa yang sengaja ditenggelamkan untuk pertumbuhan terumbu karang. Perahu sudah mendekat ke lokasi, jangkar sudah diturunkan, saatnya kami turun ke laut kembali dan berenang menuju lokasi yang dimaksud. Arus tak begitu deras dibandingkan dengan di pantai dekat Pulau Tikus. Begitu saya turun ke laut tiba-tiba tangan dan kaki saya gatal ternyata menurut nelayan itu karena ada ubur-ubur. Saya bisa melihat sebuah vespa di dasar laut dan sekitarnya ada tumpukan batok kelapa yakni salah satu media yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan terumbu karang. Di sekitar lokasi tersebut pemandangan under water sangat indah dibandingkan lokasi sebelumnya, banyak ikan dengan ukuran lebih besar dan beraneka macam warnanya di sela-sela terumbu karang. Jumlah ikan pun yang terlihat jauh lebih banyak. Di lokasi ini juga sering terlihat penyu berenang. Namun sayangnya sesampainya di lokasi ini camera waterproof kami tidak bisa digunakan lagi untuk memotret karena habis baterei.  

Sayang sekali kami tidak punya waktu lebih lama disitu karena waktu sudah menjelang sore dan kami pun harus cepat kembali sebelum terjadi badai dan hujan deras seperti hari-hari sebelumnya. Lokasi tersebut memang agak jauh dari pantai Pulau Tikus namun saya rekomendasikan sebagai tempat pilihan untuk snorkeling karena pemandangan under waternya jauh lebih indah dibandingkan di sekitar pantai Pulau Tikus. 

Snorkeling di Pulau Tikus
Pulau Tikus juga telah menjadi salah satu tujuan ekowisata bahari di Provinsi Bengkulu. Seyogyanya pemerintah daerah lebih serius melindungi Pulau Tikus dari kerusakan, tidak hanya dari ancaman abrasi namun juga ancaman kerusakan terumbu karang akibat aktivitas manusia. Mengingat terumbu karang besar fungsinya bagi ekosistem laut, merupakan habitat bagi banyak spesies laut untuk melakukan reproduksi (pemijahan), peneluran, pembesaran anak, feeding dan foraging terutama bagi spesies yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Sehingga kerusakan terumbu karang akan berefek langsung bagi nelayan karena berpengaruh terhadap sumber penghasilan dari tangkapan ikan laut. Kekayaan laut juga bermanfaat bagi sumber obat-obatan alami, pemandangan bawah laut yang menakjubkan juga sebagai sumber penghasilan dari kegiatan ekowisata bahari, serta masih banyak lagi manfaat lainnya. Bila itu semua bisa disadari oleh masyarakat maupun pemerintah sebagai otoritas yang berwenang maka Provinsi Bengkulu akan memiliki satu sumber lagi untuk bisa mendatangkan uang bagi daerahnya dengan memanfaatkan sumber kekayaan alam secara lestari, yakni ecotourism. Namun harus diimbangi dengan budaya semua pihak dan komitmen untuk tidak merusak lingkungan. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan adalah tidak membuang sampah sembarangan di pantai atau laut, menjaga terumbu karang dari kerusakan, restorasi terumbu karang yang telah rusak, menanam mangrove untuk mencegah abrasi dan lain-lain. 

Kamis, 19 Juni 2014

Farewell Party at Elephant Camp with Vet Students


Rabu, 18 Juni 2014 adalah malam terakhir bagi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Universitas Gajah Mada (UGM) melakukan kegiatan PKL di Pusat Konsevasi Gajah Seblat, Bengkulu Utara. Malam itu kami berencana membuat acara pesta outdoor di halaman depan camp, yang merupakan tempat tinggal kami selama berada di hutan habitat gajah di Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara. Dari sore hari kami telah mempersiapkan untuk acara ini, yakni memasak makanan untuk pesta perpisahan malam harinya, pesta sederhana dengan memanfaatkan bahan makanan yang tersisa di camp gajah Seblat. Saya mempersiapkan nasi dan membuat omelet mie goreng, sedangkan Hayu seorang staff PEH BKSDA Bengkulu memasak sayur dan membuat sambal telur mata sapi, sedangkan mahasiswa FKH UGM yakni Adi memasak sambal terasi dan Ade membuat perkedel sukun. Sedangkan Raka Bayu membantu mempersiapkan meja kursi dan matras di halaman depan camp, serta Dinda membuatkan kami minuman teh hangat sebagai teman ngobrol.

Malam itu langit cerah dan dipenuhi oleh bintang-bintang bersinar. Menikmati indahnya langit, sambil berbincang-bincang dan bersenda gurau. Tiba-tiba anak gajah Bona datang dan ikut bergabung dengan kami menikmati pesta perpisahan malam itu. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan selalu menarik perhatian kami dan yang pasti dia juga sangat menikmati makanan yang kami berikan untuknya.

Dan inilah beberapa photo dari acara pesta perpisahan kami malam itu bersama mahasiswa FKH UGM, mahout dan gajah Bona :

Gajah Bona tiba-tiba datang dan ingin bergabung dengan kami



Elephant BONA with Vet Students



Gajah Bona sepertinya tertarik ingin ikut berpesta :)



Bercanda dan ngobrol rame-rame, kira-kira Bona ngerti nggak ya bahasa kita ?!






Bona and Ade and Dinda



Bona and Hayu



Bona and Yanti



Bersantai di depan camp bersama Bona



Bona pun ingin menyantap makanan



Bona tersenyum bahagia mendapat makanan











Pesta yang cukup berkesan, menikmati malam, dan indahnya kilauan bintang-bintang di langit, serta atraksi kembang api di seberang Sungai Seblat. Kehadiran anak gajah Bona di malam itu membuat pesta kami makin meriah. Ternyata, " Bahagia itu sederhana. Dan hidup akan terasa indah bila kita mampu menikmatinya dan mensyukurinya dalam kondisi apapun ".

Sabtu, 19 April 2014

Menjenguk Harimau sumatera 'ELSA' di akhir pekan


Aku memang lebih suka melihatnya disaat sepi, disaat orang-orang di kantor ini sedang tidak ada agar tidak menarik perhatian banyak orang yang ingin melihatnya, karena dia butuh ketenangan dan memang untuk membatasi dia bergaul dengan manusia. Karena dia bukan manusia tetapi seekor harimau liar dan juga bukan harimau jinak atau yang ada di lembaga konservasi eksitu seperti kebun binatang, taman satwa dan lain-lain yang dipertontonkan pada banyak orang sehingga terbiasa melihat kehadiran orang disekitarnya. Dia sedang menderita sakit fisik dan jangan sampai menderita juga jiwanya karena stress jadi obyek tontonan, baik bagi para pejabat atau pegawai dan keluarganya maupun khalayak umum.


Dalam setiap perawatan medis harimau sumatera yang masih liar, kami selalu mengisolasinya untuk membatasi kontak langsung dengan manusia, sehingga hanya petugas pemberi pakan yang sekaligus bertugas membersihkan kandangnya dari kotoran serta petugas yang mengobatinya yang punya akses untuk masuk tempat perawatan. Dan itu pun dibatasi waktunya, semua kegiatan tersebut dilakukan pada waktu yang bersamaan, yakni pada saat pemberian pakan. Diluar waktu tersebut harimau akan tenang tanpa gangguan manusia di sekitarnya.

Di malam hari harimau terlihat lebih aktif bergerak dan beberapa kali mengeluarkan suara seperti berkomunikasi, karena suara yang keluar bukanlah raungan kemungkinan suara itu punya arti berbeda. Aku pun belum bisa menerjemahkannya. Orang yang tinggal di sekitar lokasi perawatan harimau mengatakan bahwa suaranya mirip bayi menangis di malam hari (hehehe.....aneh-aneh aja ya, mentang-mentang dekat kuburan). Namun yang aku dengar sendiri di waktu yang berbeda malah lebih mirip dengan suara sapi. Saat aku intip dari lubang di pintu, suara tersebut dikeluarkan saat harimau sedang istirahat. Sepertinya mempelajari suara harimau sumatera akan sangat menarik apalagi bisa menerjemahkannya. Suatu saat aku harus merekamnya satu per satu dari suara yang berbeda-beda itu. Sudah ada seorang ilmuwan yang bisa menerjemahkan 33 bahasa gajah, sedangkan pada harimau liar sudah ada belum ya ??? Mungkin aku bisa memulainya untuk mencari tahu terjemahannya....hehehe :)

Harimau sumatera bernama Elsa sedang dalam perawatan post surgery

Setiap kali membuka pintu kandangnya, dia akan selalu tersenyum manis dengan menunjukan gigi taringnya padaku seperti ini dengan posisi siap menerkam, dan bila kakiku melangkah mendekatinya maka dia akan langsung meraung sambil menerkam. Setelah sekian menit duduk bersamanya dan saling bertatapan mata, dia akan berubah ekspresinya menjadi sangat santai dan manja. Namun itu hanya dilakukan disaat dia berhadapan dengan orang-orang yang sudah sering dilihatnya dan tidak dengan orang yang asing baginya. 


Seperti inilah dia kalau sudah merasa percaya bahwa kami bukan orang yang akan menyakitinya/ membahayakannya. Dia akan tidur dengan santai dan memejamkan mata meskipun ada kami didekatnya. Dengan orang yang tidak dikenal dengan baik, dia akan selalu waspada dengan ekspresi marah dan posisi tubuh siap menerkam serta sering meraung.

Harimau sumatera liar akan siap menerkam bila dia merasa terjepit dan tidak ada jalan untuk melarikan diri, perilaku itu adalah normal karena untuk mempertahankan diri. Itu sebabnya kenapa saat upaya penyelamatan satwa jenis kucing besar dalam kondisi terjepit dan terkepung, dia akan berusaha menerkam orang yang menurutnya membahayakan dirinya guna mempertahankan diri, karena dia tidak punya pilihan lain dan tidak ada jalan lain untuk menghindari intimidasi manusia. Dan itu sering terlihat juga pada harimau yang sedang dirawat dalam kandang sempit, karena jelas-jelas tidak ada jalan untuk melarikan diri. Saat melihat kehadiran orang maka akan meloncat dan menerkam dan dia akan berbenturan keras dengan jeruji kandang yang seringkali membuatnya terluka. Itu sebabnya mengapa harimau liar tidak boleh dijadikan obyek untuk dipertontonkan pada banyak orang, dan harus diisolasi untuk mengurangi kontak langsung dengan manusia. Selain itu juga bisa menyebabkan stress, harimau liar yang stress karena lingkungan sekitarnya ramai bisa menjadi agresif dengan menggigit-gigit jeruji kandang yang seringkali membuat gusi rusak dan gigi taringnya patah.  Stress yang terjadi berulang kali dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan perubahan perilaku. Berdasarkan pengalaman kami, harimau dewasa lebih sensitif dalam merespon kondisi lingkungan sekitarnya dibanding yang anak-anak dan pra dewasa. Dan karena itu juga mengapa kandang angkut harus ditutup agar harimau tidak bisa melihat orang ramai disekitarnya.

Hari ini, selain menjenguk harimau Elsa, aku juga memeriksa kondisinya, kondisi luka post operasi, kondisi fisik, nafsu makan dan minum serta memeriksa feces (kotorannya). Sejauh ini semua dalam kondisi baik, tidak ada infeksi pada bekas amputasi dan nafsu makan baik. Pengobatan post operasi akan tetap dilanjutkan serta akan dilakukan deworming (pencegahan penyakit helminthiasis/ cacing). Berharap kondisinya akan cepat normal kembali.

Minggu, 09 Februari 2014

Bekerja sekaligus berwisata alam


Sudah bertahun-tahun saya bekerja sebagai dokter hewan di tempat ini yakni di Pusat Konservasi Gajah  (PKG) Seblat, yang berlokasi di hutan konservasi Taman Wisata Alam Seblat. Kawasan seluas lebih kurang tujuh ribuan hektar ini dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, Kementerian Kehutanan RI. Hutan tersebut merupakan habitat berbagai jenis satwa liar terancam punah seperti gajah sumatera, harimau sumatera, tapir, beruang madu, rusa sambar, kijang, napu, siamang, owa, simpai, burung rangkong, elang, kuaw dan masih banyak lagi satwa liar jenis lainnya.

Seblat Elephant Concervation Center - Bengkulu

Pertama kali menginjakkan kaki di hutan ini dan mulai bekerja, saya sempat diragukan oleh BKSDA Bengkulu begitu juga oleh beberapa mitra dari negara lain, mereka beranggapan bahwa saya tidak akan bertahan lama bekerja disana, karena akses masuk yang susah, satu-satunya wanita yang harus tinggal di hutan itu, gaji yang sangat kecil dan tidak banyak fasilitas yang akan didapatkan untuk menunjang aktivitas disana. Mungkin pendapat mereka juga berpedoman pada orang-orang sebelumnya yang hanya mampu bertahan bekerja selama satu hari saja dan tidak pernah kembali lagi setelah mengetahui kondisi yang sebenarnya dan hanya mengejar status pegawai negeri. Ini artinya mereka belum mengenali saya dengan baik, bahwa saya sangat menyukai petualangan di alam bebas, tidak peduli ada fasilitas pendukung atau tidak, bahkan tidak memikirkan berapa besar gaji yang akan diterima, yang penting asalkan saya bisa membantu dengan bekerja secara langsung untuk satwa liar di habitatnya. Kenapa akhirnya saya lebih memilih PKG Seblat yang jelas-jelas akan membuat hidup saya akan lebih banyak menderita dengan berbagai tantangan. Bekerja di lembaga pemerintah bukanlah hal yang mudah, tidak hanya akan membuat lelah fisik tapi juga pikiran yang adakalanya tidak sejalan. Makanya saya tidak pernah punya cita-cita untuk menjadi pegawai negeri sipil, cita-cita saya hanya ingin bekerja secara langsung untuk satwa liar apapun caranya. Padahal disaat yang bersamaan ada lima NGO International dan satu NGO nasional baik di Sumatera, Kalimantan dan Jawa yang menginginkan saya bekerja dengan mereka sebagai dokter hewan dengan gaji jauh lebih besar dan berbagai fasilitas yang menunjang.  Mereka menawarkan kepada saya terlebih dulu sebelum ditawarkan ke orang lain. Saya lebih memilih tempat mana yang paling membutuhkan bantuan medis, tentu yang kondisi satwanya jauh dari animal welfare, tempat yang masih butuh diperjuangkan untuk perbaikan pengelolaan satwa liarnya dan tempat dimana dokter hewan tidak suka bekerja disana. Gaji kecil dan fasilitas yang minim tentu tidak akan jadi prioritas dokter hewan untuk mau bekerja disana, dan disitulah satwa liar yang membutuhkan tenaga medis yang sebenarnya. Akhirnya saya memilih untuk tinggal di Bengkulu dan semua itu sudah saya pertimbangkan dari awal konsekuensinya. 


Crossing Seblat River by a Wooden Boat
Kepala Balai KSDA Bengkulu yang meminta saya untuk bersedia bekerja disana pernah menggambarkan kondisi disana, bahwa untuk mencapai tempat tersebut saya harus melewati jalan buruk, lalu menyeberangi Sungai Seblat dengan perahu ataupun dengan bantuan gajah disaat banjir, kemudian berjalan kaki menanjak untuk mencapai camp PKG Seblat. Beliau meminta saya untuk berpikir kembali dan memantapkan hati apakah bersedia ditempatkan di daerah terpencil tanpa banyak fasilitas sebelum menjawabnya. Saat itu saya malah berpikir sebaliknya, serta membayangkan bahwa tempat itu pasti indah dan menyenangkan, saya suka dayung perahu mungkin juga karena saya pernah menjadi atlit dayung bersama teman-teman Pecinta Alam Wanala Universitas Airlangga Surabaya waktu masih mahasiswa dulu dan kami pun pernah jadi juara dayung. Bermain di sungai dengan perahu akan menjadi hal yang mengasyikan buatku. Berjalan menanjak menaiki tebing dan menuruni tebing, serta trekking ke dalam hutan bukankah itu yang saya sukai selama ini, karena saya juga menyukai mendaki gunung dan melakukan kegiatan di hutan sejak masih sekolah. Saat mahasiswa pun kami sering mengadakan kegiatan di beberapa taman nasional yang ada di Jawa Timur. Dan itu kegiatan yang menyenangkan bekerja sebagai volunteer untuk konservasi satwa liar di habitatnya.

Bukankah ini juga telah menjadi cita-citaku sejak masih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) bahwa saya ingin bekerja di luar Pulau Jawa. Entah mengapa saat itu saya berpikir tidak ingin tinggal di Jawa kelak kalau sudah dewasa, ingin tinggal dimana saya tidak memiliki saudara dan keluarga disana, di daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, yang memiliki budaya dan bahasa berbeda dan tentunya daerah tersebut haruslah menarik bagi saya terutama keindahan alamnya. Namun saya belum tahu bagaimana caranya saya bisa keluar Pulau Jawa. Akhirnya mimpi itupun jadi kenyataan, dan Provinsi Bengkulu lah yang saya pilih setelah kurang lebih empat tahun berkeliling Sumatera dari satu provinsi ke provinsi lainnya dari Aceh sampai Lampung mengunjungi seluruh Pusat Konservasi Gajah yang ada di Sumatera dan Unit Patroli Gajah serta membantu harimau dan orangutan sumatera.

Presbytis melalophos melalophos
Pusat Konservasi Gajah Seblat sudah seperti rumah keduaku. Setiap saat saya mengunjungi tempat itu dan ingin terus kembali lagi, tidak hanya untuk bekerja, kadang juga mendampingi tamu seperti mitra, volunteer, mahasiswa penelitian, film maker dan lain-lain. Selain itu terkadang hanya ingin tinggal disana untuk melepas penat. Pemandangannya sangat bagus menurutku, camp tempat tinggal kami yang terletak diatas bukit dengan dibawah tampak aliran Sungai Seblat dan di halaman belakang berbatasan langsung dengan hutan yang kami pun bisa melihat langsung berbagai jenis satwa liar saat mereka sedang mencari makan. Setiap pagi alarm berbunyi yakni kicauan burung dan suara burung Rangkong serta suara primata bersaut-sautan seperti Simpai, Siamang dan Owa Sumatera yang menandakan hari telah pagi.  Sampai sore hari kami masih bisa mendengarkan suara-suara itu. Suara gajah, kijang, babi hutan dan rusa sambar kadangkalan juga bisa didengar dari camp tempat kami tinggal. 


Menunju lokasi itu juga bukan hal yang mudah. Saya harus naik mobil travel dari kota Bengkulu ke Desa Air Muring yakni kecamatan terdekat dari PKG Seblat, yang ditempuh sekitar 3-4 jam perjalanan melalui jalan buruk lintas pantai barat Sumatera. Jangan pernah membayangkan bahwa jalan lintas provinsi di Pulau Sumatera semulus jalan di Pulau Jawa, yang jelas banyak lubang dan bahkan terputus karena abrasi air laut, juga longsor karena hujan yang membuat antrian panjang kendaraan yang lewat dan terkadang membuat mobil terperosok. Dan kami bukan termasuk orang-orang yang terbiasa dimanjakan oleh mobil dinas dan anggaran perjalanan dinas saat melakukan kegiatan di lapangan. Bertahun-tahun lamanya sudah terbiasa mandiri, tanpa fasilitas dan anggaran kegiatan seperti bagian lainnya, dan itu bukan hambatan untuk bisa bekerja. Sengaja berangkat pagi hari agar sesampainya di desa Air Muring siang hari dan bisa langsung masuk ke PKG Seblat, karena mengejar waktu penyeberangan sungai di sore hari. Dalam perjalanan banyak hal yang terjadi, yakni mobil travel dikejutkan oleh rombongan babi hutan yang muncul dari semak-semak dan tiba-tiba menyeberang jalan raya, kemudian dikejutkan lagi dengan seekor anjing yang berlari menyeberang jalan, tidak hanya sampai disitu seekor ayam pun tiba-tiba terbang dari pinggir jalan dan menabrak kaca mobil. 

Namun sesampainya di Air Muring tidak ada satupun orang atau ojek yang bisa mengantarkan saya ke sebrang Sungai Seblat. Akhirnya sayapun harus menginap semalam di desa itu dan baru menlanjutkan perjalanan esok harinya dan mengejar waktu penyeberangan sungai di pagi hari.  Dari Desa Air Muring menuju PKG Seblat sejauh sekitar 17 km yang ditempuh dalam waktu satu jam melalui jalan koral (berbatu) dan berlubang-lubang.


Pengobatan Gajah Tria di PKG Seblat Bengkulu
Kali ini saya kembali kesana untuk pemeriksaan kesehatan gajah secara berkala. Kegiatan yang biasa dilakukan adalah penimbangan gajah, namun karena timbangan digital untuk gajah sedang rusak dan masih dibawa ke United State untuk perbaikan maka hanya dilakukan body measurement untuk estimasi berat badan gajah. Untuk keperluan ini data yang dibutuhkan adalah tinggi bahu (cm) dan lingkar (keliling) dada (cm). Kemudian dihitung dengan menggunakan rumus untuk mengetahui perkiraan berat badan gajah. Deworming, yakni pencegahan penyakit parasiter dengan pemberian anthelmintic, kali ini obat cacing yang diberikan adalah Febantel. Pemberian obat cacing dilakukan setiap tiga bulan sekali secara rutin dengan jenis obat divariasi untuk mencegah resistensi. Obat cacing yang biasa digunakan di PKG Seblat adalah Ivermectine, Albendazole, Oxyclosanide, dll semua dalam sediaan per oral. Sedangkan cacing yang sering menginvestasi gajah sumatera adalah golongan Trematoda, terkadang juga ditemukan Nematoda. Koleksi sampel feces dan pemeriksaan feces juga perlu dilakukan untuk mengetahui jenis dan banyaknya endoparasite yang menginvestasi gajah sehingga bisa dilakukan pengobatan yang tepat. Dilakukan juga penilaian body condition index, pemerikaan fisik ini untuk mengetahui apakah gajah tersebut masuk golongan obesitas, gemuk, sedang, kurus dan kekurusan (sangat kurus), sebagai evaluasi kondisi tubuh per tiga bulan. Bila ada yang bermasalah dengan kaki terutama telapak kaki dan kuku dilakukan footcare. Dan bila ada masalah dengan kesehatan maka dilakukan pengobatan. Pengambilan photo masing-masing gajah sebagai data dokumentasi kondisi gajah saat diperiksa. 


Flies Mating at Seblat ECC - Bengkulu
Kegiatan sampingan selain bekerja untuk pemeriksaan seluruh gajah adalah photography. Banyaknya obyek-obyek menarik yang dijumpai selama di hutan membuat saya ingin berjalan-jalan dan memotret. Mengambil photo primata yang setiap sore bergelantungan diatas pohon dibelakang camp untuk mencari makan, ada Macaca fascicularis dan Presbytis melalophos melalophos. Mereka hidup berkelompok dan sering bersuara ribut bila merasa terganggu dan melihat kehadiran orang disekitarnya.  Saya lebih suka memotret dari jarak jauh, yakni dari ruang makan sambil duduk menikmati teh hangat dan makanan di sore hari. Lalu lalang gajah-gajah yang menyeberangi Sungai Seblat juga menarik untuk dipotret. Untuk mengisi waktu luang saya juga sering berkeliling untuk memotret insecta dan burung, memotret binatang kecil dan burung yang lincah bergerak merupakan tantangan tersendiri. Mengkombinasikan antara adventure dan art, terkadang musti berbasah-basah di lumpur untuk mendekati mereka. Di kesempatan yang lain saya ikut bergabung dengan mahout (perawat gajah) saat menggembalakan gajah di hutan, saya juga bisa memotret aktivitas mereka dan pemandangan indah disekitarnya.

Selain itu tinggal di hutan itu juga membuat saya bisa memanfaatkan waktu untuk bereksperimen memasak. Saya menyukai kegiatan ini meskipun saya tidak pandai memasak, namun saya suka berinovasi menciptakan makanan baru sesuai dengan selera saya sendiri. Seperti halnya saat saya sedang camping di dalam hutan ini bersama tim patroli CRU, saya suka memanfaatkan bahan yang ada di sekitar saya, seperti daun puar (seperti daun lengkuas dan batangnya bagian dalam biasanya dimakan oleh orangutan). Saya sering menggunakan daun ini untuk membakar ikan hasil memancing di sungai dalam hutan. Daun ini bila dipakai untuk memasak ikan bisa menggantikan fungsi tomat, karena ada rasa kecutnya pada masakan. Penemuan baruku yang sampai sekarang masih sering kumanfaatkan untuk memasak di hutan. 

Selain itu kegiatanku di bulan ini adalah menginvetarisasi obat-obatan dan bahan-bahan medis yang baru dikirim dari BKSDA Bengkulu. Kemudian menata ulang sesuai dengan penggunaannya. Saya lebih suka mengklasifikasikan obat-obatan sesuai dengan cara pemakaiannya yakni injection, orally atau for external used. Kemudian peralatan medis dan bahan-bahan medis juga memiliki tempat tersendiri.  Selain itu juga klasifikasi sesuai dengan fungsinya, yakni peralatan nekropsi (bedah bangkai), peralatan bedah, peralatan laboratorium (untuk koleksi specimen), peralatan untuk pemeriksaan gajah berkala, peralatan rescue gajah dan lain-lain, semua diletakkan dalam tempat tersendiri sehingga saat memerlukannya bisa diambil dengan mudah. Dan khusus untuk obat-obatan guna keperluan pembiusan akan saya simpan tersendiri sehingga orang lain tidak memiliki akses dengan mudah untuk menggunakannya, selain itu setiap pemakaian obat bius atas sepengetahuan dan dibawah kontrol dokter hewan, tidak bisa hanya sebatas perintah atasan. Meskipun pada awalnya tindakan saya ini ditentang oleh beberapa orang namun saya tidak peduli, karena mereka menjadi tidak bebas lagi menggunakan obat bius untuk menangkap satwa liar dengan mengatasnamakan penanggulangan konflik dengan membanting senjata bius di depan saya dan berusaha membeli obat bius sendiri tanpa resep dokter di pasar gelap.  Alasan saya cukup jelas karena dalam aturan hukum sudah jelas, serta obat bius yang disalahgunakan oleh orang-orang non Vet telah menyebabkan kematian pada beberapa satwa liar saat pembiusan karena overdosis dan tanpa termonitoring dengan baik. 

Bekerja di tempat itu seperti berwisata alam bagiku, karena saya menyukai tempat itu dengan hutan masih asri dan satwa liar mudah dijumpai serta pemandangan sekitar yang indah. Bisa bermain dengan gajah, bisa memancing di sungai atau di rawa-rawa, atau duduk santai di teras camp membaca buku atau menikmati suara beraneka macam satwa liar di hutan yang membuat hati damai. Bila berada disana tidak seperti sedang bekerja tetapi serasa berlibur saja, jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari godaan untuk berhura-hura di mall dan tempat hiburan lainnya, berinteraksi dengan penduduk lokal yang memiliki bahasa daerah berbeda dan saya pun tidak bisa mengerti saat mereka berbicara, membuat ingin belajar banyak tentang budaya dan bahasa lokal yang banyak variasinya dan itu mengagumkan. 


with Elephant Nelson
Dan yang lebih membahagiakan lagi, kami bekerja bisa langsung berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perlindungan satwa liar secara langsung, kesempatan yang tidak dimiliki oleh banyak orang tentunya, dan bukan hanya sekedar bekerja di balik meja, di ruang workshop, membuat proyek abal-abal dan diatas kertas semata untuk menghabiskan anggaran negara dengan mengatasnamakan kegiatan konservasi. Kami bekerja juga tidak memerlukan seragam yang bersih, harum dan licin terkadang cukup dengan baju kumal, karena kinerja seseorang tidak dapat dinilai dari pembungkus badannya, pangkat dan golongannya serta jabatannya juga besarnya anggaran yang didapatkannya, tapi berdasarkan otak, kemauan serta kemampuannya untuk menunjang kinerja. 

Sabtu, 09 November 2013

Rest in Peace YANTI

Pusat Konservasi Gajah Seblat

Pusat Konservasi Gajah Seblat
Mulanya Pusat Konservasi Gajah Seblat merawat 18 ekor gajah jinak di dalam kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Seblat yang terdiri dari 4 ekor gajah jantan berusia dewasa dan 16 ekor gajah betina berusia dewasa, yang berlokasi di Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten  Bengkulu Utara.  Kemudian mendapat tambahan 1 ekor bayi gajah yatim piatu yang direscue dari perkebunan sawit perusahaan di sekitar kawasan, dan mendapat lagi sepasang gajah berusia dewasa yang direlokasi dari sebuah hotel di Kota Bengkulu setelah gajah jantan tersebut membunuh seorang mahasiswa di kota Bengkulu.  Sehingga kini jumlah total gajah jinak di Pusat Konservasi Gajah Seblat sebanyak 21 ekor.  Pada akhirnya berkurang satu ekor lagi karena ditemukan mati.


Yanti and Yanti 

Gajah Yanti
Seekor gajah betina bernama Yanti telah menghuni PKG Seblat selama 19 tahun 9 bulan.  Gajah tersebut ditangkap dari daerah Ipuh, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu pada bulan Februari 1994, saat itu gajah tersebut berusia 10 tahun.  Dahulu Departemen Kehutanan melegalkan penangkapan gajah sebagai solusi untuk meredakan Human-Elephant Conflict, pada akhirnya kebijakan tersebut malah mendukung berkurangnya populasi gajah liar di alam, dan bahkan banyak gajah liar hasil tangkapan dari seluruh wilayah di Sumatera hidupnya berujung kematian pasca penangkapan. Sekitar tahun 80an sampai dengan 90an merupakan masa-masa yang kelam bagi gajah sumatera.  Habitatnya yang semakin menyempit memaksanya berkonflik dengan manusia yang pada akhirnya ditangkap.  Sungguh tidak adil dan menyayat hati, gajah sebagai korban keserakahan manusia sehingga kehilangan tempat hidup pada akhirnya harus ditangkap sebagai pihak yang bersalah.  Itu terjadi dari Provinsi Aceh sampai Provinsi Lampung.  Sungguh mengerikan, dan saya tidak mau membicarakan sejarah kelam itu lagi disini.  Kini gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) sudah masuk kategori critically endangered species menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature), ini artinya saat ini gajah sumatera hampir punah dan mempunyai resiko sangat tinggi mengalami kepunahan di alam liar.

Kini gajah Yanti telah berusia sekitar 29 tahun, tumbuh sebagai gajah yang sehat dan gemuk serta memiliki nafsu makan yang baik bahkan beberapa saat menjelang kematiannya, makanan tambahan yang diberikan pun habis termakan, serta tidak menunjukkan gejala klinis menderita suatu penyakit. Yanti memiliki tanda khusus di belakang telinga kiri, yakni microchip dengan kode 00064D768F, bila kita melakukan scan di bagian tersebut akan muncul namanya 'Yanti' di monitor scanner. Itu salah satu cara untuk mengenali satu persatu gajah di Pusat Konservasi Gajah Seblat bila secara fisik susah dibedakan.  

Gajah Patroli
Yanti merupakan salah satu gajah andalan untuk patroli kawasan TWA Seblat dan sekitarnya.  Diawal bulan November 2013 gajah Yanti baru saja pulang dari patroli hutan bersama tim Conservation Response Unit, yang terdiri dari Polisi Kehutanan, mahout dan perwakilan masyarakat yang terpilih.  Gajah Yanti juga telah berjasa dalam penanganan kasus illegal logging di dalam maupun sekitar kawasan TWA Seblat dan baru saja terlibat dalam pengamanan dan penyitaan barang bukti illegal logging.

Ditemukan mati dalam kawasan TWA Seblat
Pada tanggal 7 November 2013 sekitar pukul 13.30 WIB, phone cell saya berdering, mahout yang sedang berada di lokasi tempat penggembalaan gajah Yanti menelepon saya dan mengabarkan bahwa ada seekor gajah ditemukan mati dan menjelaskan bahwa banyak keluar darah dari lubang-lubang alami.  Saya pun tidak mengira bahwa gajah yang mati adalah gajah PKG Seblat yang bernama Yanti, pertama kali mendengar saya mengira gajah liar.  Saya meminta mahout untuk langsung menghubungi Balai KSDA Bengkulu dan melaporkannya serta meminta mahout untuk memeriksa tubuh gajah apakah ada luka bekas tembakan, dan memeriksa lokasi sekitar apakah ada bekas muntahan untuk diamankan sebelum terkena hujan, dan apakah ada tanda-tanda bungkus makanan yang dibuang atau jejak kaki orang menuju ke lokasi tersebut. Yang ditemukan hanya bekas muntahan di mulut, disekitarnya tidak ditemukan tanda-tanda apapun, hanya tampak bekas jejak kaki gajah Yanti saja yang jalan-jalan di sekitar lokasi penggembalaan. 

Saat itu gajah Yanti berada di sebuah pulau kecil yang dikelilingi Sungai Seblat.  Lokasi tersebut memang rawan orang lalu lalang, baik orang yang mencari batu sungai untuk diperjualbelikan, maupun orang-orang yang ingin masuk kawasan HPK secara illegal untuk logging, berburu dan berbagai aktivitas illegal lainnya, yakni kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan TWA Seblat.  Dulunya kawasan tersebut adalah kawasan hutan Pusat Konservasi Gajah Seblat karena memang merupakan hutan sebagai tempat hidup tidak hanya gajah sumatera tetapi juga harimau sumatera dan beberapa satwa liar terancam punah lainnya seperti beruang, tapir, rusa sambar, siamang, owa sumatera dan lain-lain hingga kini, tetapi pada tahun 2011 telah terjadi perubahan peruntukan dan perubahan fungsi kawasan menjadi hutan yang bisa dikonversi sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia nomor SK : 643/Menhut-II/2011, guna mengakomodasi perubahan tata ruang Provinsi Bengkulu yang diusulkan oleh pemerintah daerah. Hutan seluas 700an hektar tersebut menjadi incaran beberapa perusahaan tambang batubara.

Pemeriksaan Post Mortem Gajah Yanti
Kondisi saya sendiri sedang kurang sehat, sedang sakit kepala dan diare sejak malam itu dan berbagai kendala lainnya yang menyebabkan saya baru bisa sampai lokasi kematian gajah pada tanggal 8 November 2013.  Namun sejak tanggal 7 November 2013 sudah mulai bekerja mempersiapkan administrasi untuk perlengkapan pengiriman specimen ke laboratorium yang berada di Bogor, Jawa Barat, karena prosedur pengiriman specimen dari bagian-bagian tubuh satwa liar dilindungi itu tidak sederhana, banyak prosedur yang musti dilengkapi.  Dengan bantuan staff BKSDA Bengkulu yang berada di kantor balai semua persyaratan itu bisa diurus dengan cepat.  Di waktu yang bersamaan mahout yang berada di camp gajah mempersiapkan peralatan necropsy dan media yang akan digunakan untuk koleksi specimen.  Mereka adalah tim yang saya andalkan, yang sudah berpengalaman beberapa kali mengikuti saya melakukan necropsy satwa liar sehingga bisa mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk necropsy dengan baik sebelum saya datang ke lokasi.  Saya tidak memiliki vet nurse atau vet tech tapi saya memiliki mereka yang bisa bekerja sekaligus sebagai vet nurse untuk membantu dokter hewan tidak hanya dalam pemeriksaan post mortem tetapi juga dalam setiap rescue satwa liar dan pengobatan serta physical restraint.

Sungai Seblat, batas alam antara kawasan hutan Pusat
Konservasi Gajah Seblat (TWA Seblat) dengan
perkebunan sawit masyarakat 

di seberang sungai tampak pulau dimana Gajah Yanti berada
Sebuah mobil dinas yang disediakan untuk mengantar saya ke lokasi pun sudah berangkat lebih dulu ke Seblat, dan saya pun akhirnya naik kendaraan umum (travel) setelah kondisi saya sehat kembali pagi itu. Akhirnya kami bertemu di Air Muring, yakni sebuah desa yang terletak di kecamatan terdekat sebelum memasuki kawasan PKG Seblat, sekitar 17 km dari camp Pusat Konservasi Gajah Seblat, yang biasa ditempuh selama 1 jam dengan kendaraan dengan kondisi jalan yang buruk.   Kami berempat menuju lokasi kejadian, di tengah perjalanan dari kejauhan terlihat langit di bagian hulu sungai tampak gelap dan Sungai Seblat telah banjir, ini pertanda buruk menurutku karena kami akan menyeberangi sungai tersebut. Disana sudah menunggu para mahout yang akan membantu necropsy.  Dengan dua buah mobil kami melewati perkebunan sawit masyarakat sekitar kawasan TWA Seblat dan parkir di pinggir Sungai Seblat.  Hujan rintik-rintik mulai turun, dan kami harus menyeberangi Sungai Seblat dengan berjalan kaki melewati arus sungai yang deras.  Siang itu sampai sore hari kami melakukan bedah bangkai diiringi hujan gerimis.  Pekerjaan ini harus cepat selesai untuk itu kami melakukan pembagian tugas guna menemukan organ-organ dalam yang kami perlukan untuk diperiksa, karena takut sungai akan banjir lebih besar lagi dan kami akan terjebak disana.  Akhirnya mendatangkan gajah jinak lainnya, salah satunya gajah Nelson yang merupakan gajah andalan untuk membantu menyeberangi sungai disaat banjir besar.

Necropsy Gajah Yanti
Dengan menggunakan masker, sarung tangan dan baju necropsy kami mulai melakukan tugas masing-masing untuk koleksi specimen.  Sebelumnya dilakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu dan pengambilan dokumentasi. Tidak ada bagian tubuh dari gajah Yanti yang hilang sebagai salah satu tanda adanya indikasi perburuan, seperti caling (Gajah Asia betina tidak memiliki gading tetapi hanya memiliki caling dengan ukuran lebih kecil), gigi dan kuku, semuanya masih utuh. Kemudian dilanjutkan ada yang membuka tengkorak untuk koleksi sampel otak, rongga dada untuk koleksi sampel di bagian rongga dada seperti darah dari jantung dan lain-lain serta membuka rongga perut untuk koleksi specimen seluruh saluran pencernaan beserta isinya, hati, limpa, ginjal, limphoglandula dan lain-lain.  Specimen tersebut akan dikirim ke laboratorium guna pemeriksaan histopatologi dan toxicologi, juga ada pemeriksaan tambahan lainnya yang diperlukan sesuai kebutuhan.  Ada yang bertugas membuka tengkorak, rongga dada dan rongga perut, sedangkan saya sendiri bertugas memeriksa bagian-bagian dari organ gajah tersebut dan mengambil specimen, dan ada juga yang bertugas untuk dokumentasi serta mengemas specimen.  Sore hari pekerjaan kami telah selesai. Dan tanggal 9 November 2013 dini hari kami baru sampai kembali ke kota Bengkulu untuk pengiriman specimen.

Makroskopis
Tampak adanya kerusakan serius di seluruh saluran pencernaan, pada lambung, usus sampai dengan anus.  Kerusakan serius juga tampak pada hati dan limpa.  Adanya pendarahan hampir diseluruh tubuh terutama saluran pencernaan yang berwarna merah gelap.  Dan terdapat warna abu-abu sampai dengan kehitaman pada isi saluran cerna dan mucosa saluran cerna.  Mucosa saluran cerna juga tampak melepuh seperti luka bakar. Akumulasi gas yang berlebihan pada rongga dada, rongga perut dan di seluruh saluran cerna yang membuat mucosa menegang.  Gejala klinis seperti itu sebelumnya kami jumpai pada beberapa gajah liar yang ditemukan mati karena keracunan.  

Sehingga diduga kematian gajah Yanti disebabkan keracunan yang kemungkinan diberikan melalui makanan. Namun perlu adanya penegakan diagnosa secara laboratoris untuk memastikan apakah dugaan penyebab kematian tersebut benar-benar keracunan atau tidak, juga bisa untuk mengidentifikasi jenis racun yang termakan dan konsentrasinya sehingga bisa menyebabkan kematian atau kemungkinan ada penyebab kematian lainnya. Dalam penyidikan kasus wildlife crime perlu ada bukti-bukti akurat yang menunjukkan bahwa satwa tersebut benar-benar mati karena racun dan bukan penyebab lainnya.  Maka pemeriksaan laboratorium diperlukan.  Dokter hewan hanya bisa mencari tahu penyebab kematian satwa liar dengan pemeriksaan post mortem yang dilakukan tetapi tidak bisa mengetahui siapa pelakunya karena itu tugas penyidik baik dari kepolisian ataupun PPNS.

Kenangan bersama Gajah Yanti
Yanti and Roby
Bagi saya, dia adalah gajah yang istimewa, karena diberi nama seperti nama saya 'Yanti'.  Disaat sedang mendekati gajah liar bernama Simon, saya pernah berusaha menaikinya dan dia berulangkali menjatuhkan saya dari punggungnya sebanyak tiga kali.  Ternyata memiliki nama yang sama tidak menjamin dia akan bersikap baik dengan saya....hehe!  Dan saat saya menginformasikan melalui message dari phone cell saya bahwa Yanti ditemukan mati, yang membuat orang di kantor kaget dan malah mengira saya sendiri yang meninggal :)  

Setiap ekor gajah sumatera yang berada di Pusat Konservasi Gajah Seblat sangat berarti buat kami, bahkan untuk dipindahkan dari sana ke lembaga konservasi eksitu seperti kebun binatang yang bersifat komersiil saja kami menolaknya.  Siapapun itu pelakunya yang pasti sungguh biadab.  Kasus ini membuat kami sangat terpukul dan tak bisa berkata apa-apa, hanya satu hal yang kami inginkan, "usut, tangkap, penjarakan !!!", untuk memberi efek jera pada siapa saja yang menyakiti satwa liar agar hal serupa tidak terulang lagi. Meski itupun tidak mudah karena kami menyadari bahwa bekerja untuk konservasi itu banyak musuhnya.    

Minggu, 16 Juni 2013

Working and Having Fun at the Island of Enggano

Pada tanggal 11 sampai dengan 19 November 2011 kami mengadakan perjalanan dinas ke Pulau Enggano bersama rombongan dari BKSDA Bengkulu sebanyak 10 orang.  Ini adalah perjalanan dinas para relawan (yang bekerja secara sukarela) untuk membantu mencarikan solusi bagi permasalahan masyarakat disana juga permasalahan yang menyangkut bidang kehutanan.  Sebelumnya kepala balai memang mencari tenaga sukarela di lingkup BKSDA Bengkulu yang bersedia membantu kegiatan di Pulau Enggano, akhirnya mendapatkan 10 orang dari berbagai profesi dan lintas seksi wilayah. Perjalanan ini adalah respon dari hasil survey yang telah kami lakukan sebelumnya pada bulan Pebruari s/d Maret 2011 bersama seorang polisi kehutanan dan dua orang jurnalis di Bengkulu.  Rombongan dalam perjalanan ini terdiri dari berbagai profesi, ada dokter hewan, ada PEH (Pengendali Ekosistem Hutan), Polisi Kehutanan/ Kepala Resort, Penyuluh, Humas, tenaga honor, Kepala Seksi dan Kepala Balai.


Mengamati Dolphin yang Mengiringi Kapal Pulo Telo



Menikmati sunrise di atas kapal Pulo Telo
Sore itu kami menaiki kapal Ferry ASDP KMP Pulo Telo yang berangkat dari Pelabuhan Kahyapu pukul 17.00 WIB.  Untuk pertama kalinya saya menaiki kapal ini, karena sebelumnya penyeberangan dari kota Bengkulu menuju Pulau Enggano menggunakan kapal ferry Raja Enggano.  Kapal ferry kali ini desain interiornya lebih menarik, ada ruang VIP, ada kafe dan karaoke serta dek/geladak paling atas terdapat tempat nongkrong dengan beberapa kursi untuk melihat pemandangan laut, dengan setengah beratap dan setengahnya terbuka, dan ini adalah ruangan favorit saya bila menaiki kapal ferry KMP Pulo Telo.  Karena dari ruangan paling atas ini saya bisa bebas memandang lautan, memotret sunset dan sunrise serta melihat lumba-lumba yang berloncatan mengiringi kapal yang sering membuatku berteriak histeris bila melihatnya serta ruangan yang menyediakan meja dan tempat duduk sehingga bisa membuka laptop dan bekerja selama perjalanan.


Full moon above of Indian Ocean
Photo : Erni Suyanti Musabine
Pemandangan malam itu sangat indah, kami bisa menikmati sinar bulan purnama di atas kapal, kebetulan cuaca cerah. Juga menonton pertandingan sepak bola bersama kawan-kawan di televisi karena pertandingan itu memang yang sedang kami tunggu-tunggu, suara heboh kami saat menonton bisa membangunkan penumpang lainnya yang sedang tidur. Karena penumpang penuh akhirnya kami tidur dilantai beralaskan matras dan sleeping bag, hanya Kepala Seksi dan Kepala Balai saja yang kami sediakan ruang VIP, karena untuk memesan ruangan ini perlu menambah ongkos lagi. Sampai di Pelabuhan Kahyapu agak telat tidak seperti biasanya, yakni lebih dari pukul 6 pagi kami baru berlabuh, karena memang masih musim badai angin barat sehingga waktu tempuh kapal lebih lambat dari kondisi normal yang biasanya hanya memerlukan waktu 12 jam perjalanan. Mendekati Pulau Enggano akan terlihat pemandangan sunrise yang indah. Kemudian dari kejauhan akan tampak tiga pulau yakni Pulau Dua, Pulau Merbau dan Pulau Enggano.  Pelabuhan akan tampak ramai setiap ada kapal datang, tampak banyak motor dan mobil penjemput/ angkutan barang.  Kebutuhan sehari-hari untuk masyarakat Enggano tergantung dengan kapal ini karena untuk barang tertentu harus didatangkan dari Bengkulu, dan hanya datang dua kali seminggu, itupun bila kondisi kapal sedang tidak rusak dan kondisi cuaca bagus.  Seperti sayuran dan bahan konsumsi lainnya, bahan bangunan, BBM dan lain-lain.  Sebenarnya tidak hanya KMP Pulo Telo saja yang melayani penyeberangan ke Pulau Enggano tetapi masih ada kapal lainnya yakni Kapal Perintis khusus untuk angkutan barang dari Pelabuhan Pulau Baii kota Bengkulu ke Pelabuhan Malakoni, Pulau Enggano pulang pergi seminggu dua kali dalam kondisi normal.  Kapal Perintis ini juga melayani pelayaran ke wilayah Bengkulu bagian Selatan dan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.


Meeting - outdoor
Sosialisasi di Kecamatan
Pagi itu di hari pertama kegiatan kami adalah keliling desa untuk melihat kebun sorgum di beberapa lokasi, sebelumnya melakukan briefing di Kantor Resort KSDA Enggano.  Salah satu rencana kegiatan yang ingin dilakukan disana adalah pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan yakni dengan mencarikan solusi guna mengatasi permasalahan utama mereka dan diharapkan selanjutnya mereka juga berpartisipasi  dalam pengamanan kawasan konservasi dan konservasi biodiversity di pulau itu bersama-sama dengan petugas terkait di Resort Enggano.  Kegiatan utama kami saat itu adalah sosialisasi kepada kepala suku, unsur tripika   di Kecamatan Pulau Enggano (Polsek, Camat, Koramil) juga Lanal, kepala desa serta pemuka masyarakat tentang rencana penanaman sorgum untuk berbagai keperluan, yakni biofuel, peternakan lebah madu selain untuk dimanfaatkan madunya juga propolisnya karena bernilai ekonomi tinggi, penggemukan ternak sapi, juga untuk mendorong munculnya home industry pembuatan tepung sorgum karena banyak manfaatnya untuk keperluan sehari-hari.


Sorgum manis
(Sorgum bicolor L.Moench) 
Hasil survey kami berempat dengan dibantu oleh penduduk lokal yang dilakukan beberapa bulan sebelumnya mendapat respon positif dari kepala balai setelah membaca laporan perjalanan kami, membuat kami bertiga (Kepala Balai, Kepala Resort dan saya sendiri) berpikir serius tentang itu, tentang tindak lanjut apa yang tepat sasaran untuk dilakukan disana.  Akhirnya muncul ide untuk membuat kebun sorgum dengan mendatangkan bibit unggul dari Maros, Sulawesi.  Sejak itu hari-hari kami bertiga sibuk untuk mempelajari sorgum dan mencari referensi tentang itu. Bidikan awal kami adalah membantu mengatasi kelangkaan BBM disana, karena batang sorgum bisa dimanfaatkan untuk biofuel.  Permasalahan utama  disana adalah BBM sangat langka dan harganya mahal tidak sama dengan di wilayah Bengkulu lainnya.  Pasokan BBM terutama premium ke Pulau Enggano sebesar 10 ribu liter per bulan dan masyarakat hanya mendapat jatah 10 liter per KK per bulan.  Meskipun kebutuhan nelayan saja selama melaut (mencari ikan) selama 10 hari memerlukan 100 liter sehingga membuat nelayan hanya bisa melaut sekali sebulan. 70% dari masyarakat Enggano mengandalkan profesi nelayan untuk membiayai kehidupan mereka sehingga mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap BBM. Belum lagi kebutuhan untuk anak sekolah yang rumahnya jauh dan harus menggunakan motor untuk pergi sekolah.  Dan masyarakat tidak bisa membeli sendiri ke kota Bengkulu untuk mencukupi kebutuhan akan premium, karena distribusi BBM ke Pulau Enggano dimonopoli oleh koperasi membuat harga premium bersubsidi yang seharusnya Rp. 4.500,- menjadi Rp. 10.000,- per liter.  Sepertinya subsidi BBM itu tidak berlaku bagi  masyarakat kecil dan masyarakat di daerah terpencil yang hidupnya pun telah susah.  Dan kegiatan bisa berjalan seperti harapan bila didukung oleh banyak pihak terutama masyarakat setempat.


Survey untuk Pembuatan Biogas
Selain itu biji sorgum bisa dikonsumsi langsung ataupun dipakai untuk pembuatan tepung sebagai bahan baku roti dan makanan lainnya.  Bunganya bisa dimanfaatkan untuk ternak lebah dan bisa diambil madu dan propolisnya punya nilai ekonomis sangat tinggi, selain itu sampah batangnya bisa dipakai untuk proses penyulingan bioetanol, dan daunnya untuk penggemukan ternak sapi. Tidak hanya sampai disitu saja, dengan penambahan jumlah ternak sapi di Pulau Enggano diharapkan akan menjadi alternatif sumber protein hewani lainnya sehingga masyarakat mengurangi kebiasaan turun-temurun berburu dan mengkonsumsi daging penyu untuk pesta pernikahan.  Kotoran ternak pun bisa dimanfaatkan untuk biogas dan limbahnya sebagai pupuk cair yang kualitasnya lebih bagus dari pupuk urea, dan kami juga akan membuat contoh biogas disana agar masyarakat lainnya mengikuti.  Mengingat di Pulau Enggano tidak ada fasilitas PLN (Perusahaan Listrik Negara), yang ada sekarang adalah bantuan solar cell itupun yang berkapasitas kecil.  Dan untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik bisa memanfaatkan kotoran sapi untuk biogas, selain itu juga bisa digunakan sebagai pengganti gas untuk memasak.  Selama ini penduduk yang memasak pakai tabung gas harus didatangkan dari Bengkulu dan itupun ada larangan dibawa bersamaan kapal penumpang, karena mungkin itu salah satu SOP untuk keselamatan pelayaran.


Our Team
Perjalanan ke Pulau Enggano
Semula kami dianggap orang gila oleh lingkungan kerja kami sendiri karena mempunyai ide muluk-muluk untuk pemberdayaan masyarakat di Pulau Enggano, tapi tak mengapa terkadang niat tulus untuk bisa membantu orang lain memang berawal dari niat dan pola pikir orang-orang yang kurang waras (gila).  Banyaknya rintangan  untuk mewujudkan impian itu sempat membuat kami patah semangat, bagaimanapun kami adalah anak-anak muda yang terkadang emosional menghadapi banyaknya cobaan dalam bekerja.  Kami tidak punya orientasi uang disana atau mengharapkan mendapatkan dana besar dari sebuah project pemerintah, tetapi yang ada hanya niat ingin membantu setulus hati saja entah bagaimana caranya nanti.  Dengan adanya dukungan dari kepala balai membuat kami bertahan dan bersemangat kembali, membuat kami menutup telinga dan menutup mata terhadap komentar orang-orang disekitar.  Terlebih setelah mendengar bahwa  rencana itu mendapat sambutan baik dari pimpinan tertinggi di Jakarta. Kemudian untuk memulai pekerjaan ini dicarilah relawan yang mau ikut bergabung untuk membantu yang diharapkan mau bekerja secara sukarela.    


Sosialisasi di Kec. Pulau Enggano
Tujuan utama perjalanan kami saat itu adalah untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang diwakili oleh unsur tripika yakni dari Polsek, Koramil dan Camat Pulau Enggano, juga dihadiri oleh kepala suku dan kepala desa serta Paabuki (koordinator Kepala Suku) tentang rencana pembuatan bioetanol dan biogas guna membantu mencarikan solusi bagi permasalahan disana dan diharapkan masyarakat juga akan tetap mendukung kegiatan yang berhubungan dengan konservasi di pulau itu.  Sosialisasi disampaikan oleh Polisi Kehutanan (kepala resort) yang bertugas di Resort KSDA Enggano dan Kepala Balai KSDA Bengkulu.  Inilah satu-satunya kepala balai yang pernah menginjakkan kaki ke Pulau Enggano.  Perjalanan yang sulit dan memakan waktu lama membuat orang juga pejabat enggan mengunjungi Pulau Enggano.  Selama ini Pulau Enggano dianggap sebagai tempat buangan orang-orang yang punya kinerja buruk dan pernah melakukan kesalahan besar, sehingga berkesan sebagai penjara bagi petugas ataupun pegawai pemerintah sehingga layak diasingkan ke pulau terpencil yang minim fasilitas.  Dan teman kami seorang polisi kehutanan ingin merubah anggapan itu dan menjadikan Enggano sebagai tempat kerja bagi orang-orang yang kreatif dan inovatif serta menyukai tantangan.  Selain itu juga dilakukan survey tentang pembuatan biogas, sebelumnya dilakukan survey ternak masyarakat dan mencari lokasi yang tepat untuk percontohan pembuatan biogas.  Kami juga melakukan survey lokasi yang tepat untuk pembuatan pabrik bioetanol.  Setelah semua kegiatan selesai kami menelusuri satu-satunya jalan poros antar desa yang ada di Pulau Enggano, yang akhirnya mengantarkan kami ke sisi ujung lainnya di Pulau Enggano yakni pantai di Desa Banjarsari.  Di kesempatan itu akhirnya kami bisa melihat semua desa-desa yang ada di Pulau Enggano serta mengunjungi Pelabuhan Malakoni untuk melihat sisa bangunan peninggalan penjajah Jepang.


Bird Watching
si Marni (Macaca nemestrina)
Akhirnya kegiatan utama sudah selesai, waktunya having fun (bersenang-senang)....... hooray !!!  Sambil menunggu kapal datang untuk bisa kembali ke Bengkulu, kami telah sepakat sore itu akan menyeberang ke Pulau Dua untuk camping, memancing, berenang di pantai dan survey lokasi snorkeling. Hanya satu orang yang akan tinggal menunggu kantor resort.  Selain membawa peralatan camping dan memancing, kami juga membawa peralatan snorkeling dan gitar.  Saat itu masih terasa adanya angin kencang karena badai angin barat. Sampai Pulau Dua kami berempat sudah tak sabar untuk turun ke pantai, uji coba snorkeling dan yang lainnya sibuk memancing dan berenang.  Sore itu saya menjalani ritual sebelum melakukan snorkeling yakni tiba-tiba seorang teman bercanda dengan memasukkan kepala saya ke dalam laut dan mengeluarkannya lagi berulang kali sampai banyak minum air laut.  Menurutku ini bukan bercanda tetapi benar-benar penyiksaan :)  Ternyata itu salah satu untuk menguji nyali apakah saya benar-benar ingin turun ke laut. Tak banyak yang bisa dilihat disana, hamparan pasir terlihat lebih mendominasi dasar laut dengan sedikit karang dan tak banyak menjumpai jenis ikan karang, hanya ikan kerapu yang sering terlihat itupun harus berenang menjauhi pantai. Sore itu saya berjalan sendirian menelusuri hutan di Pulau Dua sambil membawa kamera dan monokuler, berharap ada hewan menarik yang bisa diamati di hutan tersebut. Saya hanya menemukan burung cekakak dan kelelawar yang banyak bergelantungan di pohon dengan kepala dibawah.  Setelah puas mengambil dokumentasi akhirnya saya kembali ke camp.  Kebetulan saat kami meminjam pondok nelayan milik Paabuki, lokasinya sangat strategis karena berbatasan langsung dengan pantai dan menghadap matahari yang tenggelam.  Pondok itu rencanya untuk tempat istirahat kepala balai dan kepala seksi.  Karena kami lebih memilih tidur beralas pasir pantai dan beratap langit.  Di Pulau Dua ini juga terdapat sumur air tawar milik nelayan dan sumur peninggalan jaman dulu, sehingga kami pun tidak perlu khawatir untuk mencari tempat mandi dan mencari air bersih untuk memasak.  Selain kami ada beberapa nelayan dan keluarganya juga sedang menginap di Pulau Dua. Sepertinya mereka juga sedang memanen kelapa karena terlihat ada seekor Macaca nemestrina (beruk) disana yang biasa dipakai untuk memanen kelapa.  Kami akhirnya memanggil beruk itu si Marni (entah monyet itu punya nama atau tidak).  Hmm...kasian si Marni.


Camping at Dua Island
Sleeping on the beach
Malam itu cuaca sangat cerah, sayang untuk dilewatkan.  Kami membuat api unggun di tepi pantai, membakar ikan hasil mencari di laut, memetik gitar dan bernyanyi bersama diiringi ketipung dari galon air juga ecek-ecek yang terbuat dari botol, seperti hilang sejenak semua beban, menyenangkan sekali malam itu.  Bahkan nelayan pun ikut bergabung bersama kami.  Di pinggir pantai tampak kepala balai dan kepala seksi berdiskusi serius, mungkin karena hari itu adalah hari yang kami gunakan untuk menyampaikan segala uneg-uneg tentang permasalahan kerja yang perlu menjadi perhatian serius.  Baru hari itu saya melihat semua orang berbicara menggunakan hati dan perasaan, semua kata yang terucap penuh emosi, kesedihan, kekecewaan bercampur dengan kebahagiaan karena telah tersampaikan.  Paling tidak semua beban telah dikeluarkan, dan kini saatnya bersenang-senang.  Malam itu tampak sempurna karena cahaya bulan purnama dan tampak banyak bintang-bintang di langit yang cerah, indah sekali, rasanya malam itu tak ingin cepat berlalu.  Akhirnya saya dan beberapa teman memilih tidur di pantai dengan matras dan sleeping bag dengan mata bisa  melihat langsung bintang-bintang dilangit dan disinari oleh lampu alami yakni bulan purnama dengan diiringi nyanyian pengantar tidur suara ombak di pantai.


Snorkeling  di sekitar Pulau Dua
Fish
Photo : Erni Suyanti Musabine
Esok harinya kami punya agenda masing-masing.  Kepala Balai dan Kepala Seksi serta seorang teman terlihat sedang olahraga mengelilingi Pulau Dua.  Sedangkan saya bersama tiga orang teman laki-laki mencoba ber-snorkeling ke perairan antara Pulau Dua dan Pulau Merbau, meskipun masih terasa angin kencang karena badai, mungkin karena lokasi yang kami pilih berhadapan langsung dengan samudera hindia tanpa penghalang, bahkan pagi itu saat kami menuju ke lokasi tersebut air laut sedang pasang. Lokasi yang kami  pilih ini memang sangat ideal untuk snorkeling, tak perlu susah-susah untuk menemukan ikan nemo (Clown fish) disana, hampir tiap tempat yang kami lihat bisa menemukannya.  Hamparan coral-coral indah dan berbagai jenis ikan karang ada di sepanjang pantai tersebut.  Selain itu pasir pantainya juga putih bersih dan airnya jernih.  Membuat kami lupa waktu dan tak peduli lagi dengan terik matahari yang menyengat di siang hari. Disela-sela waktu snorkeling kami juga bermain pasir pantai sambil istirahat dan makan snack serta bercanda dengan teman-teman. Acara snorkeling hari itu diakhiri dengan berjalan-jalan menelusuri pantai Pulau Dua.  Pulau ini memang sangat ideal untuk berlibur, karena sunyi, masih alami dan indah.



Bermain pasir  pantai Pulau Dua


Mendayung perahu mendekati
kapal nelayan disana untuk mencari ikan
Dapat 3 ekor Ikan Tongkol
Makan siang di Pulau Dua juga sangat nikmat, dengan masakan ikan segar hasil pemberian nelayan.  Siang itu saya bersama tiga orang teman mendayung perahu mendekati perahu besar milik nelayan yang diparkir di tengah laut.  Aksi kami seperti bajak laut saja ya.  Begitu sampai saya langsung menyapa nelayan yang terlihat olehku sedang makan siang dan langsung menaiki dan berpindah ke perahu mereka, sambil memeriksa sekeliling.  Setelah berbicara sebentar akhirnya saya mendapatkan ikan tongkol dalam ukuran besar seperti yang saya harapkan sebelumnya.  Nelayan bilang sama saya untuk mengambil sesukanya, sebanyak yang saya mau, dan memilih sendiri ikannya tapi saya tidak ingin memilih ikan-ikan yang memenuhi lantai perahunya yang besar itu. Menurut pengakuan mereka, ikan-ikan tongkol sebanyak itu di dapat hanya dengan sambil lalu saja, maksudnya sepulang perjalanan mereka mencari ikan di Sawang Bugis (tempat yang pernah saya gunakan untuk camping beberapa bulan sebelumnya) menuju Kahyapu dan mendapatkan hasil sampingan sebanyak itu.  Saya mendengarnya dengan penuh keheranan.  Alangkah melimpahnya ikan di perairan Enggano ini.  Mereka adalah para nelayan dari kota Bengkulu yang sudah terlalu sulit mencari ikan di sekitar kota Bengkulu akhirnya mencari ikan di perairan sekitar Pulau Enggano. Mereka harus meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu bahkan lebih dari sebulan. Waktu itu saya tidak hanya minta ikan saja tetapi juga mendengarkan kisah hidup mereka dalam mencari nafkah bagi keluarganya.  Karena kebiasaan saya yang selalu tertarik untuk mendengarkan pengalaman banyak orang dari berbagai profesi.  Setelah selesai berbincang-bincang dengan semua nelayan di perahu itu, akhirnya kami pun meninggalkannya dengan membawa hanya tiga ekor ikan tongkol dengan panjang sekitar 30-40 cm, saya pikir itu sudah cukup untuk lauk makan siang kami semua.


Pantai Panjang Malakoni
Photo : Erni Suyanti Musabine
Menjelang sore hari kami menyeberang kembali ke Kahyapu dengan diantar perahu nelayan.  Dalam kondisi sedang badai dan banyak orang yang menaiki perahu, tampak perahu bocor, air laut masuk dengan derasnya dari bagian depan, tengah dan belakang.  Membuat kami sibuk mengeluarkan air kembali dari dalam perahu agar perahu tidak tenggelam.  Akhirnya kami mendarat di sela-sela mangrove dekat pos Lanal, karena perahu tidak memungkinkan memasuki muara sungai karena sedang surut. Turun dari perahu disambut lumpur setinggi lutut. Dan kami masih harus berjalan menuju kantor resort dengan membawa banyak barang. Badai angin barat membuat kapal menunda keberangkatan dari Bengkulu menuju Pulau Enggano dan membuat kami tidak bisa kembali ke kota Bengkulu sesuai dengan yang diharapkan.  Setiap hari kami hanya bisa menunggu, menunggu dan menunggu tetapi kapal belum datang juga.  Kami seperti orang yang terdampar di pulau itu dan tidak bisa kembali.  Hari itu kami memutuskan untuk mencari signal agar bisa komunikasi keluar via handphone.  Lokasi terdekat adalah Pantai Panjang Malakoni.  Dengan mobil patroli dan sepeda motor patroli kami bersama-sama menuju pantai tersebut.  Mendadak Pantai Panjang Malakoni seperti wartel, orang-orang berjajar berdiri di pinggir pantai untuk menelepon. Pemandangan yang lucu dan langka di daerah terpencil :)

BKSDA bersama warga
memadamkan kebakaran lahan
Sepulang dari menelepon seorang warga dengan cemas datang ke kantor resort untuk mengabarkan bahwa ada kebakaran lahan.  Akhirnya kami sibuk mempersiapkan peralatan dan telah diisi dengan air sungai depan resort dan dimasukkan ke mobil patroli, para pria dari tim kami kemudian menuju ke lokasi kebakaran untuk membantu masyarakat memadamkan api, hanya tinggal kami bertiga para wanita yang standby di kantor resort.  Mereka membersihkan lahan dengan cara membakar kemudian ditinggalkan begitu saja pergi melaut (mencari ikan) selama beberapa hari tanpa memastikan api telah padam apa belum, akhirnya membuat kebakaran itu terjadi dan semakin meluas.


Release Ular
Banyak kegiatan mendadak yang kami lakukan untuk mengisi waktu luang sambil berharap kapal datang segera.  Malam itu jam 12 dini hari kami mengadakan kompetisi memancing di sungai depan kantor resort, pesertanya sekitar 10 orang, hanya kepala balai saja yang tidak ikut bergabung, beliau lebih memilih untuk jadi pengamat dan hilir mudik memeriksa hasil memancing kami.  Dan kami buat aturan baru, bagi yang tidak dapat tidak akan mendapat jatah sarapan pagi.  Akhirnya kami pun berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil tanpa peduli waktu sudah larut malam dan banyak gigitan nyamuk, ada yang dapat ikan pelus, ular, belut listrik bahkan dapat tas kresek (sampah plastik).  Setelah dikumpulkan ternyata banyak sekali hasilnya, dan ular kami lepasliarkan kembali.


Burung di sekitar Pelabuhan Kahyapu


Seafood menu setiap hari
Kebun sayurku di Enggano 
Saya bersama beberapa teman untuk menghilangkan kebosanan menunggu kapal dengan menyibukkan diri berjalan-jalan sambil memotret, sebagai obyek photo adalah satwa liar yang dijumpai terutama burung. Menelusuri hutan mangrove antara kantor resort sampai ke Pelabuhan Kahyapu.  Dan beberapa orang dari kami juga berkesempatan untuk kembali ke Pulau Dua.  Saya pun ikut serta untuk snorkeling disana.  Badai angin barat sangat kuat sore itu, saat perahu kami keluar dari muara, setiap nelayan yang kami jumpai melarang kami pergi ke Pulau Dua karena sangat berbahaya, perahu kami bisa terbalik atau tenggelam karena terkena badai.  Karena skipper-nya yakni nelayan yang pernah kami ajak untuk keliling Pulau Enggano mengatakan bisa melewati badai itu, kamipun melanjutkan perjalanan meskipun pada awalnya ragu.  Ombak antara Kahyapu dan Pulau Dua biasanya sangat tenang dalam kondisi normal dan hanya butuh waktu 15 menit untuk bisa sampai ke seberang.  Tapi kali ini kami harus mencari rute memutar  menghindari menantang gelombang air laut yang tinggi.  Saya memilih duduk di depan di ujung perahu, karena bila melewati ombak tinggi akan terasa seperti naik kora-kora, dan saya sangat menyukainya, disaat orang lain ada yang cemas, saya malah tertawa gembira seperti anak kecil yang mencoba mainan baru :)  Dan kembalinya dari Pulau Dua kami mendapat makan siang yang lezat yakni kepiting saos padang. Bahkan kami pun berebut seperti anak kecil yang rebutan mainan...hehe :)  Saya penggemar seafood, selama di pulau Enggano setiap hari kami makan seafood yang masih segar dari laut, membuatku semakin betah berlama-lama disana.  Dan sayuran merupakan barang langka di pulau itu.  Untuk itu dikesempatan itu kami berkebun di sekitar kantor resort untuk menanam terong, tomat, sawi, cabe dan lain-lain, tetapi tidak bisa hidup lama karena dimakan kepiting.  Sedangkan tanaman kangkung yang telah saya tanam saat perjalanan sebelumnya kini berkembang dan tumbuh subur, yang akhirnya dijadikan kebun sayur milik bersama, setiap warga boleh mengambilnya :)


Snorkeling di sekitar CA Sungai Bahewo
Cagar Alam Sungai Bahewo
Photo : Erni Suyanti Musabine
Pagi itu disaat kami belum beranjak bangun dari tempat tidur terdengar suara truk, mobil dan sepeda motor melewati jalan.  Suara itu selalu ingin kami dengar setiap pagi, tapi di hari-hari sebelumnya tak pernah ada.  Bila terdengar suara truk, mobil dan sepeda motor melewati jalan di depan rumah Kepala Desa Kahyapu, itu pertanda ada kapal berlabuh.  Mereka menuju pelabuhan untuk mengangkut barang dan menjemput penumpang kapal.  Di hari-hari lainnya akan selalu tampak sepi.  Kami langsung tersenyum bahagia dan berpikir bahwa kami akhirnya bisa pulang kembali ke Bengkulu hari itu. Suasana pelabuhan tampak sibuk hari itu, bahkan suara jangkar dan besi-besi kapal yang berbenturan bisa terdengar dari kantor resort.  Pagi itu setelah sarapan saya dan tiga orang teman laki-laki ikut nelayan yang akan mencari ikan di sekitar Cagar Alam Sungai Bahewo yang tak jauh dari Pelabuhan Kahyapu.  Tak lupa kami membawa peralatan snorkeling.  Sebelum berangkat, saya sempat ijin terlebih dahulu kepada kepala balai dengan mengatakan akan melakukan patroli underwater....hehe :)  Saat perahu keluar dari muara masih terasa angin kencang karena badai. dan gelombang laut tampak tinggi.  Kami berencana menghabiskan waktu hari itu dengan snorkeling di perairan Cagar Alam Sungai Bahewo sebelum sore harinya kembali ke Kota Bengkulu.  Dan dua orang nelayan yang bersama kami akan mencari ikan dengan cara menyelam.  Setelah sampai di lokasi yang diinginkan, perahu ditambat dengan jangkar, satu persatu dari kami turun ke laut.  Arus yang kuat dan gelombang tinggi menyebabkan kami kesulitan untuk berenang dan snorkeling.  Seorang teman sudah kehabisan tenaga dan hampir tenggelam, akhirnya diselamatkan oleh nelayan dibawa untuk bisa berdiri diatas karang.  Saya pun juga hanyut terbawa arus meskipun sudah memakai kaki katak untuk berenang, akhirnya salah satu kaki saya diikat dengan perahu menggunakan tali panjang agar tidak jauh terbawa oleh arus laut yang kuat hari itu.  Snorkeling hari itu terasa tidak memuaskan karena kondisi cuaca yang tidak mendukung, ditambah lagi di sekitar kami juga terlihat ular laut Laticauda colubrina berenang tak jauh dari kami, bahkan seorang teman tanpa sengaja telah menginjak dua ekor ular laut di batu karang di dalam air.  Untunglah ular tersebut tidak menyerang, karena ular laut sangat berbisa dan bisa berakibat fatal bila tergigit dan terkena bisa/racunnya.  Tidak hanya ikan yang didapat dari hasil menyelam, tetapi juga siput dan kerang.  Siang itu kami berpesta di atas perahu yakni makan seafood dengan cara makan orang Enggano, dimakan mentah-mentah.  Saya pun ikut mencoba, rasanya tak begitu buruk dan tidak sampai membuatku muntah.


on the ship 'Pulo Telo' - Indian Ocean
Perjalanan kami pulang kembali ke Bengkulu sore itu sangatlah istimewa, bukan karena badai angin barat yang membuat kapal bergoyang-goyang ke kiri dan kekanan dengan cukup kuat dan kami pun tidak bisa berjalan tegak dibuatnya.  Berjalan diatas kapal seperti itu seperti jalannya orang yang sedang mabuk yang hilang keseimbangan.  Saya merasa  gembira telah melihat ada seekor lumba-lumba yang mengiringi kepergian kami, membuatku berteriak histeris dan mengundang penumpang lainnya untuk ikut melihat juga :)  Diatas kapal kami bertemu dengan Pak Camat Enggano, bila bertemu beliau kami suka bernyanyi bersama. Seolah tak peduli dengan badai, kami berdua pun duduk sambil bernyanyi-nyanyi kebetulan kami punya lagu kesukaan yang sama yakni Sio Mamae.  Lagu daerah asal Maluku itu sering kami nyanyikan bersama. Perjalananku ke Pulau Enggano saat itu sangat berkesan, hidup di pulau terpencil sangat bergantung pada kondisi cuaca.  Manusia hanya bisa berencana, tetapi tetap Tuhanlah yang menentukan.