Tampilkan postingan dengan label Pusat Konservasi Gajah Seblat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pusat Konservasi Gajah Seblat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2015

Wild Animal Watching

"Mengisi waktu luang untuk memotret dan mengamati perilaku satwa liar"


Selasa, 3 Pebruari 2015

Sore itu, begitu sampai di kawasan konservasi Taman Wisata Alam Seblat, tempat dimana Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat berada, saya disambut oleh sekelompok burung bondol haji (Lonchura maja) yang terbang rendah di rerumputan depan camp kami. Sudah lama sekali saya ingin bisa memotret burung ini dari jarak dekat karena kamera saya memang tidak mempunyai fasilitas untuk dapat memotret jarak lebih dari 30 meter dengan bagus, namun hingga kini belum terwujud. Saya hanya bisa mengamatinya makan bunga-bunga rumput dan terbang kesana kemari bila didekati tanpa bisa memotretnya. Saya yakin suatu saat saya akan bisa mendapatkan photonya, hanya perlu kesabaran dan kesempatan saja.

Tak ada mammalia besar yang tampak di sekitar camp sore itu, bahkan gajah dan babi hutan yang biasanya banyak berkeliaran pun tidak muncul. Hari itu mungkin waktu yang kurang tepat untuk menyalurkan hobbyku memotret. Saya hanya mendengar suara-suara binatang liar saja yang ada disekitarku tanpa melihat wujudnya, burung gagak bersaut-sautan, suara burung rangkong yang entah mereka sedang bertengger dimana, dan tengah malam terbangun mendengar suara terompet gajah liar yang ternyata memang berada tidak jauh dari tempatku tinggal. Sepertinya mereka sedang berpesta pora malam itu menikmati tanaman sawit di sekitar kawasan PKG Seblat.


Rabu, 4 Pebruari 2015

Pagi itu terdengar sangat keras teriakan siamang (Symphalangus syndactylus) dan owa (Hylobates spp) saling bersaut-sautan di dalam hutan di belakang kamarku, tapi pasti sulit untuk bisa melihatnya dengan jelas. Diiringi suara burung rangkong yang tak mau kalah kerasnya. 


Saat saya sedang berada di dapur sore itu, tiba-tiba saya mendengar suara burung rangkong mendekat, ternyata burung itu bertengger di pohon kenanga yang tak jauh dari tempatku berdiri. Tanpa pikir panjang saya langsung berlari menuju kamar untuk mengambil kamera, meski hanya beberapa detik saja namun saat saya kembali dia sudah terbang berpindah tempat ke pohon petai. Saya harus memotretnya karena kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Beberapa tahun yang lalu masih sangat mudah menjumpai burung rangkong yang berterbangan di depan ataupun di belakang camp kami dan jumlahnya lebih dari satu dari berbagai jenis. Namun sekarang sudah jarang bisa melihatnya dari dekat karena maraknya perburuan rangkong. Bahkan lokasi rangkong untuk mencari makan di hutan ini pun kawasannya sudah dialihfungsikan dan saat ini sudah mulai digunduli oleh para perambah hutan. 



Untuk mengisi waktu di sore hari saya berjalan-jalan di sekitar camp dan lebih tertarik untuk memotret gajah 'Nelson', seekor gajah jinak PKG Seblat. Tak pernah bosan untuk memotretnya. Dia seekor gajah yang photogenic :)  

Tak lama kemudian seorang mahout memanggil saya karena mendengar suara kijang (Muntiacus muntjak), saya pun langsung lari keluar camp sambil membawa kamera, karena suaranya sangat dekat. "Iya benar, saya juga mendengar suaranya, kataku". Tapi karena hujan turun akhirnya saya urungkan niat untuk mencari kijang itu daripada kamera saya rusak terkena hujan. 


Kamis, 5 Pebruari 2015


Pagi itu dikagetkan oleh kedatangan gajah Aswita ke camp saya, ternyata mahoutnya ingin menyerahkan sampel feces gajah untuk saya periksa di Klinik. Hari itu memang jadwalku untuk melakukan pemeriksaan parasitologi dari sampel feces gajah untuk diagnosis penyakit parasiter. Saya melihat sekitar untuk mencari gajah kecil kami 'Bona', karena bila ada Aswita pasti ada Bona di dekatnya, karena Aswita adalah induk angkat Bona setelah dia kehilangan keluarganya. Saya pun berhasil memotret gajah Bona yang saat itu sedang pergi ke hutan untuk mencari makanan alaminya.



Saya mendengar suara primata di hutan belakang tempat tinggalku, saya hafal betul dengan suara itu, meski tanpa melihat dulu binatangnya namun hanya dengan mendengar suaranya sudah bisa diidentifikasi, yakni Presbytis melalophos. Wajahnya yang cantik dan warna rambutnya coklat keemasan selalu menarik untuk difoto. Namun sayang, saya sangat malas beranjak dari tempat duduk untuk berpindah mencari posisi yang strategis, akhirnya tidak bisa mendapatkan foto yang bagus.



Sore harinya saya berjalan-jalan ke arah sungai untuk mencari jejak kijang dan berharap bisa menemukan kotorannya juga, karena saya akan memeriksanya sebagai pembanding dan untuk mengetahui apakah endparasit pada gajah jinak juga sama dengan endoparasit di mammalia liar jenis lainnya. Dalam perjalanan bertemu dengan seekor babi hutan, akhirnya saya mengambil beberapa photo sampai binatang tersebut masuk ke dalam hutan.



Seekor burung terbang melintas di depanku. Karena warnanya menarik, biru adalah warna favoritku membuatku segera memotretnya sebelum dia terbang kembali ke pohon lainnya. Sayang sekali gagal fokus. Sebenarnya masih banyak obyek photo lainya yang menarik disekitarku, seperti berbagai jenis burung berkicau, serangga, monyet ekor panjang, namun kali ini saya tidak tertarik memotretnya.


Jumat, 6 Pebruari 2015


Sungai Seblat terlihat sedang banjir karena hujan deras semalaman, membuat rencanaku gagal pulang ke Kota Bengkulu siang ini. Pagi harinya saya masih mempunyai kegiatan pemeriksaan sampel feces gajah jinak, disela-sela waktu menunggu solar cell siap digunakan maka memanfaatkan waktu di pagi hari untuk memancing ikan di rawa-rawa belakang camp mengingat logistik yang saya bawa habis hari ini. Ternyata saya lebih tertarik untuk memotret karena disekitar rawa-rawa banyak burung berterbangan beraneka warna. Seekor burung berwarna merah terbang melintas, membuatku penasaran untuk mendekat dan memotretnya. Gagang pancing kutinggalkan begitu saja tak peduli ikan akan menyambar umpannya atau tidak, demi mendapat photo burung tersebut. Mencari posisi duduk yang strategis dan berdiam diri lebih dari 15 menit hanya untuk memotret satu ekor burung saja. Dan saya pun tak peduli tanah yang saya duduki basah dan bertebaran kotoran gajah. Akhirnya dapat juga, meski hasilnya tidak maksimal. Duh, seandainya saya punya kamera bagus, pastilah tidak mengeluh dengan hasilnya. Kamera saya jangkauan terjauhnya hanya 15 meter namun saya paksakan untuk memotret jarak 30 meter.



Diwaktu yang bersamaan di pohon sebelah kiriku terlihat anak siamang sedang bergelantungan di atas sana, diikuti induk dibelakangnya. Mereka tidak bersuara, hanya pindah dari satu ranting pohon ke pohon lainnya. Spontan kameraku kuarahkan ke mereka, sedih rasanya tidak bisa mengikuti pergerakannya yang cepat kemudian menghilang dibalik dedaunan yang rimbun. Ada sekitar 10 menit saya menunggu daun-daun yang bergerak itu berharap siamang akan muncul kembali. Sia-sia, siamang tidak mau menampakkan diri dan hujan pun turun. Saya terpaksa harus kembali ke camp. Dan sebelum kembali saya sempat memotret burung ini yang bertengger di puncak pohon.



Setelah selesai melakukan pemeriksaan parasitologi dari sampel feces gajah binaan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat sebagai upaya kontrol penyakit parasiter, saya mendengar suara burung elang yang sedang terbang berputar-putar diatas hutan depan klinik. Kemudian saat burung predator tersebut hinggap di salah satu pohon yang berjarak sekitar 100 meter atau mungkin lebih, saya memotretnya. Hasilnya memamg tidak terlalu bagus karena keterbatasan jangkauan dari fasilitas kamera saya yang tidak mendukung.



Di depan klinik juga tampak burung berkicau suku Pynonotidae yang sedang hinggap di pohon makanan kijang. Saya pun tak melewatkan kesempatan ini untuk memotretnya sebelum kembali melanjutkan pekerjaan lainnya memberikan obat cacing pada gajah.

Selasa, 03 Februari 2015

Catatan Perjalanan : Kisah hari ini menuju Pusat Konservasi Gajah Seblat


Pagi-pagi sekali saya sudah berkemas, membawa barang seperlunya untuk dibawa ke hutan. Satu ransel besar di punggung dan daypack kecil di depan yang berisi barang - barang penting seperti HP, tablet, laptop, kamera, dompet, kacamata hitam dan air minum yang tidak boleh lepas dari badan saya kemanapun saya melangkah selama perjalanan, sedangkan barang lainnya ditaruh di ransel yang nantinya akan saya letakkan di bagasi mobil. Saya terbiasa membawa beban double dalam setiap perjalanan, dan memisahkan barang sesuai dengan fungsinya di perjalanan dalam tas yang berbeda. Itu salah satu manajemen perjalanan yang biasa saya lakukan. Pukul 08.00 WIB saya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Kabupaten Bengkulu Utara dengan menggunakan angkutan umum. Saya biasa menggunakan travel untuk menuju Kecamatan Putri Hijau, Kab. Bengkulu Utara dimana lokasi Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat berada. Travel baru berangkat pukul 10.00 WIB meskipun saya telah menunggu sejak pukul 8 pagi. Ya begitulah, angkutan umum di Bengkulu waktu keberangkatan tidak pasti dan itupun jumlahnya terbatas, kita tidak bisa naik kendaraan umum sewaktu-sewaktu dan tidak selalu tersedia sepanjang waktu seperti di Jawa.

West Coast of Sumatra

Perjalanan yang memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan melewati pantai barat Sumatera dari kota Bengkulu ke Air Muring, yakni sebuah desa yang berada di Kecamatan Putri Hijau, atau sekitar 17 km dari hutan PKG Seblat, merupakan pemberhentian terakhir sebelum memasuki lokasi PKG Seblat. Berbeda sekali dengan di Jawa yang membuat malas berpergian karena jalanan macet, namun di Sumatera jalan raya seperti milik sendiri karena sepi. Selama 2,5 jam tersebut kami terlibat pembicaraan tentang konflik satwa liar, setelah mereka yang berada didalam mobil tersebut mengetahui bahwa saya bekerja untuk satwa liar. Dimanapun berada selalu saja orang-orang tertarik dengan profesi saya, sehingga mendorong muncul banyak keingintahuan mereka dan banyak pertanyaan yang diajukan, sebelum akhirnya terlibat pembicaraan yang serius tentang satwa liar.

Kondisi seperti ini selalu memaksa saya secara informal untuk memberikan sosialisasi (penyuluhan) kepada orang-orang yang saya jumpai di tempat-tempat umum. Saya bukan seorang penyuluh kehutanan atau pun sebagai tenaga fungsional PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) atau sebagai Polisi Kehutanan, saya hanyalah seorang dokter hewan yang kebetulan sering bekerja untuk menangani konflik satwa liar. Saya tidak pernah belajar tentang hal ini di bangku kuliah atau mendapatkan bimbingan teknis (bimtek) atau pelatihan khusus dari institusi tentang itu, saya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman itu saat bekerja di lapangan. Dan saya melakukan sosialisasi itu juga tidak untuk mendapatkan angka kredit atau pun karena saya mendapatkan proyek kegiatan tersebut, semua dilakukan secara spontan karena rasa keprihatinan terhadap persepsi masyarakat pada satwa liar yang punya peran dalam konflik. Dan terus terang, hal ini malah yang paling sering saya lakukan sehari-hari untuk merubah persepsi masyarakat terhadap satwa liar yang seringkali negatif.

Dalam setiap awal pembicaraan selalu orang-orang berfikir bahwa satwa liar seperti gajah adalah hama bagi tanaman sawit, harimau adalah pembunuh dan selalu mengancam jiwa orang-orang yang beraktivitas dekat habitatnya. Begitu banyak kerugian yang dialami manusia, kenapa mereka harus dilindungi, untuk apa ? Itu pertanyaan yang seringkali saya dengar dan harus saya jawab dengan sebaik mungkin, karena ini berhubungan dengan pandangan negatif orang terhadap satwa liar. Dan mereka tak pernah menyebutkan bahwa manusialah akar dari permasalahan konflik itu.

Bagi saya adalah kepuasan tersendiri bila dalam setiap berbincang-bincang dengan banyak orang di perjalanan atau dimana pun berada, saya bisa meyakinkan mereka tentang akar permasalahan konflik antara manusia dengan satwa liar, dan saya bisa membuat mereka memahami bahwa satwa liar seperti gajah dan harimau itu perlu dilindungi. Saat mereka setuju dengan pendapat saya dan memahami apa yang sebenarnya terjadi dan akhirnya positif thinking terhadap satwa liar, itu sudah seperti saya mendapatkan kebahagiaan melebihi dari hanya sekedar mendapatkan angka kredit kegiatan atau honor proyek kegiatan penyuluhan, karena memang saya tidak mungkin mendapatkan itu semua dari kegiatan-kegiatan seperti itu karena saya bukan penyuluh kehutanan :)

Tak terasa setelah terlibat pembicaraan yang seru dengan orang-orang baru yang saya jumpai selama perjalanan, akhirnya saya sampai juga di Air Muring, dan saya pun turun untuk makan siang. Ojek yang sudah saya pesan sehari sebelumnya menjemput saya untuk mengantarkan ke PKG Seblat. Ojek saya kali ini bukanlah orang sembarangan, dia tidak hanya mengantarkan saya atau logistik patroli hutan dari Air Muring ke PKG Seblat saja yang berjarak 17 km, namun juga melayani ojek antar provinsi, seperti dari Bengkulu ke Medan, dari Bengkulu ke Lampung dan pernah juga mendapat tawaran untuk mengantarkan penumpang dari Bengkulu ke Dumai-Riau hanya dalam waktu tempuh dua hari satu malam tanpa istirahat. Gila yaaa....???  Entah yang gila ojeknya atau penumpangnya.....hehehe :D

Seblat Elephant Conservation Center
Sesampainya di seberang Sungai Seblat yang merupakan batas alam antara lahan masyarakat dengan kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Seblat dimana PKG Seblat berada, suasana tampak sepi. Tak terlihat ada motor mahout (elephant keeper) yang diparkir disana, ini artinya tidak ada orang yang akan membawa perahu dari seberang sana ke tempat saya menunggu, dan tak tampak gajah - gajah yang lalu lalang, padahal itu alternatif terakhir untuk menyeberangi sungai besar itu bila tidak ada perahu. Hujan mulai turun, saya sendirian menunggu di pinggir sungai, dan tidak bisa menyeberangi sungai. Di bagian hulu sungai, awan tampak gelap pertanda sungai sebentar lagi banjir. Saya harus bisa menyeberangi sungai itu sebelum kedahuluan banjir, tapi bagaimana caranya ????

Conservation Forest - Seblat Ecotourism Park - Elephant Conservation Center

Sudah dua jam saya menunggu namun tak tampak ada tanda-tanda gajah lewat atau perahu ada yang membawa ke seberang sini. Jauh disana tampak anak-anak kecil dari desa terdekat mandi di sungai. Selesai mandi mereka menghampiriku, ternyata mereka mengenaliku, dan akhirnya duduk bersamaku dan mengajakku ngobrol. Kemudian saya bertanya, "kamu nggak nyari batu?" Maksudnya mencari batu sungai dan dikumpulkan serta dijual ke truk-truk penampung untuk bahan bangunan, anak-anak desa itu sering melakukannya untuk mendapatkan uang dan kadang untuk membantu orangtuanya. Kata mereka, "Idak, yuk." Lalu mereka bertanya lagi padaku, "Ayuk, nak ke sebrang?" ('Ayuk' itu bahasa Bengkulu untuk panggilan 'mbak'). Saya menawarkan ke mereka, "Iya. Ada nggak yang bisa ngambilin perahu disana itu?" Saya bicara pada anak yang agak besar, namanya Doni dan Samlan. Dan saya bicara dengan Samlan dengan bahasa isyarat karena dia tuna wicara. Akhirnya mereka setuju, dan saya bersama dua anak kecil lainnya duduk dipinggir sungai menunggu perahu sambil memotret aksi mereka yang heroik menyeberangi sungai besar itu untuk mengambil perahu. Saya tahu mereka adalah anak-anak desa yang pemberani dan perenang yang hebat, sehari-hari mainan mereka berenang di sungai itu dan bahkan menyelam dari ujung ke ujung. Mereka sangat senang saya memotretnya, bahkan setelah lelah berenang di seberang sungai sana mereka masih sempat bergaya saat kamera saya membidiknya. 

Tampak Gajah Dino di seberang Sungai Seblat

Perahu tampak goyang saat mereka menaikinya seperti mau terbalik, membuat mereka membawa perahu dengan cara mendorong sambil berenang daripada mendayungnya. Mereka hanyut sekitar 500 meter dari tempatku duduk. Akhirnya perahu berhasil dibawanya keseberang. Saya mengucapkan terimakasih pada mereka, dan mereka bahagia sekali saat kuberi uang. Dasar anak-anak.....:) Sebenarnya saya ingin mengajak foto selfie anak-anak itu karena mereka suka sekali difoto sebagai bonus telah mengambilkan perahu, tetapi karena hari hujan saya urungkan niat untuk memotret dan lebih memilih menyelamatkan barang-barang saya dari ancaman hujan.

Anak-anak desa itu senang difoto
Doni bertanya kepadaku dengan cemas, "Ayuk, bisa bawa perahu?" Saya jawab, "bisalah. Kamu nggak usah nganterin aku ke sebrang, biar aku bawa perahu sendiri, kamu sudah kecapekan berenang tadi, ya kan?" Saya menyuruh mereka pulang karena hujan sudah turun. Saya mendorong perahu ke arah hulu agar tidak hanyut terlalu jauh bila melalui arus utama sungai. Kuperhatikan empat anak tadi cemas memperhatikanku dari kejauhan, mungkin mereka ingin memastikan apakah saya bisa membawa perahu dan selamat sampai seberang sungai. Dalam hati aku berkata, "Jangan cemas ya, meski cewek gini dulu pernah juara satu lomba dayung dan jadi atlit dayung lho".  Sungai belum banjir jadi tidak ada masalah membawa perahu sendirian, karena tidak perlu mengeluarkan banyak energi untuk melawan arus sungai, bila kondisi sungai sedang tidak banjir mendayung perahu dengan santai pun bisa sampai ke seberang. Namun, juga tidak bisa diremehkan karena Sungai Seblat sering menelan korban saat sungai sedang tidak banjir.

Seblat River
Setelah menambatkan perahu dan mengikatnya ke batang pohon untuk mencegah perahu hanyut saat banjir besar, saya mencari jalan setapak untuk naik tebing ternyata sudah tidak ada lagi, struktur tanah disini cepat sekali berubah, akhirnya harus merangkak untuk sampai keatas sambil menggendong dua ransel dan membawa logistik di tangan. Kedatanganku di camp gajah disambut oleh burung gagak. Saat masih kecil ibuku sering bilang bahwa bila ada suara burung gagak mitosnya ada kematian, maksudnya ada orang yang meninggal. Tapi sepertinya mitos itu tidak berlaku di hutan karena suara burung gagak bisa didengar setiap hari, bahkan sering terbang berombongan di depan camp kami. Sore itu akhirnya saya sampai juga ke PKG Seblat, akhirnya bisa menikmati suasana menyenangkan di hutan, mendengar suara simpai, suara burung rangkong, melihat gajah-gajah dan babi hutan yang berkeliaran di sekitar camp, dan tak henti-hentinya mendengarkan suara kicauan burung dan jeritan serangga. Bagiku, kenyamanan itu adalah berada di tempat yang alami dan dikelilingi oleh satwa liar di sekitar kita.

Minggu, 23 November 2014

Temukan berbagai jenis dan perilaku serangga hutan dengan bidikan camera !


Berjalan-jalan ke hutan adalah salah satu hal yang sangat aku sukai hingga kini. Apalagi sambil berburu photo binatang liar. Hutan merupakan tempat hidup berbagai jenis satwa liar dari yang berukuran kecil sampai besar. Bahkan dalam satu batang pohon saja terdapat puluhan makhluk hidup sebagai penghuninya, dari mulai serangga, reptil, burung bahkan primata. Bisa dibayangkan bila kita menebang satu pohon saja, sudah berapa banyak makhluk hidup yang kehilangan tempat tinggal ? Dan bila hutan ditebang habis ataupun dibakar ratusan hektar, berapa juta makhluk hidup yang akan hilang dan mati ? 

Bagi orang yang jeli mengamati sekitarnya pasti akan sering menemukan obyek-obyek menarik disekitarnya untuk dipotret. Dan seringkali menemukan binatang-binatang yang bentuknya aneh dengan berbagai macam warna, bahkan mungkin tidak pernah menjumpai itu sebelumnya. 

Wildlife Photography tidak hanya menunjukkan tentang seni memotret saja, namum lebih banyak berperan untuk edukasi, karena bisa mengungkap berbagai jenis binatang yang mungkin belum pernah dijumpai sebelumnya, terutama binatang kecil seperti serangga (insekta) yang jenisnya begitu banyak. Seseorang yang punya hobby memotret hidupan liar terus-menerus akan belajar dari obyek barunya. Tidak hanya untuk inventarisasi dan identifikasi, tapi juga dapat mengungkap perilaku alami binatang liar, perilaku makan, reproduksi dan lain-lain, yang terkadang kita sendiri tak pernah tahu tentang itu sebelumnya. 

Kegiatan seperti ini juga menarik bagi orang yang punya hobby petualangan di alam bebas. Berhasil memotret binatang yang belum pernah dijumpai adalah suatu kebanggaan, apalagi bila menemukan hal yang baru. Selain itu semakin sulit mendekati obyek, justru menjadi tantangan tersendiri. dan itu sangat menarik dan semakin membuat penasaran.

Beberapa hari ini aku menelusuri jalan setapak di hutan belakang camp kami. Dalam beberapa menit saja telah menemukan banyak jenis serangga. Setiap kali perjalanan selalu menemukan jenis binatang baru. Aku tidak tahu nama binatang ini karena baru pertama kali juga melihatnya. Apakah anda pernah melihatnya dan tahu nama jenisnya ?



























Kamis, 19 Juni 2014

Farewell Party at Elephant Camp with Vet Students


Rabu, 18 Juni 2014 adalah malam terakhir bagi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Universitas Gajah Mada (UGM) melakukan kegiatan PKL di Pusat Konsevasi Gajah Seblat, Bengkulu Utara. Malam itu kami berencana membuat acara pesta outdoor di halaman depan camp, yang merupakan tempat tinggal kami selama berada di hutan habitat gajah di Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara. Dari sore hari kami telah mempersiapkan untuk acara ini, yakni memasak makanan untuk pesta perpisahan malam harinya, pesta sederhana dengan memanfaatkan bahan makanan yang tersisa di camp gajah Seblat. Saya mempersiapkan nasi dan membuat omelet mie goreng, sedangkan Hayu seorang staff PEH BKSDA Bengkulu memasak sayur dan membuat sambal telur mata sapi, sedangkan mahasiswa FKH UGM yakni Adi memasak sambal terasi dan Ade membuat perkedel sukun. Sedangkan Raka Bayu membantu mempersiapkan meja kursi dan matras di halaman depan camp, serta Dinda membuatkan kami minuman teh hangat sebagai teman ngobrol.

Malam itu langit cerah dan dipenuhi oleh bintang-bintang bersinar. Menikmati indahnya langit, sambil berbincang-bincang dan bersenda gurau. Tiba-tiba anak gajah Bona datang dan ikut bergabung dengan kami menikmati pesta perpisahan malam itu. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan selalu menarik perhatian kami dan yang pasti dia juga sangat menikmati makanan yang kami berikan untuknya.

Dan inilah beberapa photo dari acara pesta perpisahan kami malam itu bersama mahasiswa FKH UGM, mahout dan gajah Bona :

Gajah Bona tiba-tiba datang dan ingin bergabung dengan kami



Elephant BONA with Vet Students



Gajah Bona sepertinya tertarik ingin ikut berpesta :)



Bercanda dan ngobrol rame-rame, kira-kira Bona ngerti nggak ya bahasa kita ?!






Bona and Ade and Dinda



Bona and Hayu



Bona and Yanti



Bersantai di depan camp bersama Bona



Bona pun ingin menyantap makanan



Bona tersenyum bahagia mendapat makanan











Pesta yang cukup berkesan, menikmati malam, dan indahnya kilauan bintang-bintang di langit, serta atraksi kembang api di seberang Sungai Seblat. Kehadiran anak gajah Bona di malam itu membuat pesta kami makin meriah. Ternyata, " Bahagia itu sederhana. Dan hidup akan terasa indah bila kita mampu menikmatinya dan mensyukurinya dalam kondisi apapun ".

Flora and Fauna at the Seblat Elephant Conservation Center


These photos was taken in June 2014 at the Seblat Elephant Conservation Center. I love biodiversity photography in the wild and I'm happy to share it to all of you. And please don't hesitate to share if you like it.

Flora 





























Fauna
a. Insect (Dragonfly, Butterfly, Spider)


































































b. Reptile


Monitor Lizard





Chameleon





Snake

c. Mammal


Squirrel


Mitred Leaf Monkey