Tampilkan postingan dengan label Harimau Sumatera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harimau Sumatera. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2016

Beruang madu JONY dan Harimau sumatera GIRING - Strategi Translokasi Satwa yang Berbeda


Strategi dalam persiapan dan proses akan berpengaruh terhadap hasil yang diinginkan. Begitulah, saat kita berpikir tentang memperbaiki nasib satwa liar untuk menentukan masa depannya. Tanpa diimbangi strategi yang baik dan hanya berambisi ingin mewujudkan keinginan dengan menghalalkan segala cara akan sangat berpengaruh terhadap proses dan hasilnya.


Masih ingat Beruang madu bernama Jony ?

Beruang madu JONY di kantor BKSDA Bengkulu
Jony adalah seekor beruang madu, berjenis kelamin jantan yang dievakuasi dari pemeliharaan masyarakat secara illegal di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Beruang madu (Helarctos malayanus) adalah salah satu satwa liar terancam punah yang dilindungi Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya sehingga dilarang dipelihara oleh masyarakat. Jony merupakan beruang madu tangkapan dari alam. Sudah 4 (empat) tahun Jony dirawat di kantor BKSDA Bengkulu dalam kandang perangkap (box trap) ukuran 1m x 2m x 1m tanpa ada keputusan yang jelas tentang masa depannya dari para pengambil kebijakan. Meskipun makanan cukup terjamin dan diberi enrichment namun perawatan dalam kandang sempit seperti itu bukanlah tempat yang layak bagi seekor beruang dewasa.

Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yakni Centre for Orangutan Protection (COP) melihat kondisi tersebut merasa tergerak hati untuk membantu agar nasib beruang jauh lebih baik. Mereka mulai mengumpulkan informasi detail dan dokumentasi tentang beruang tersebut, melakukan komunikasi rutin dengan pihak-pihak terkait dalam hal ini BKSDA Bengkulu dan pihak ketiga yang memungkinkan untuk dijadikan tempat rehabilitasi beruang madu di Sumatera. Tujuan yang ingin dicapai adalah agar beruang tersebut bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya, dan bila hal itupun tidak memungkinkan maka beruang madu akan berada di sanctuary beruang yang berada di habitatnya di Sumatera dengan kondisi yang lebih layak.

Translokasi Beruang madu JONY dilakukan oleh Tim
gabungan dari COP, BKSDA Bengkulu, Kelaweit
Usaha yang dilakukan tidak cukup hanya sampai disitu, mereka juga melakukan fund-raising (penggalangan dana) guna membantu proses translokasi sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai, karena pihak ketiga tidak memiliki dana untuk membangun fasilitas tambahan untuk rehabilitasi beruang tersebut, tetapi mereka menyediakan hutan sebagai tempat rehabilitasi. Penggalangan dana dilakukan untuk membantu BKSDA Bengkulu dalam translokasi beruang dari Provinsi Bengkulu ke Provinsi Sumatera Barat, dan membantu pembangunan fasilitas untuk rehabilitasi beruang madu di lokasi tujuan. Perencanaan yang matang sangat berpengaruh terhadap proses pelaksanaan kegiatan, yang terdiri dari beberapa tahap, yakni tahap pertama mengumpulkan data tentang kondisi beruang saat berada di BKSDA Bengkulu yang akan menjadi alasan kuat kenapa beruang perlu ditranslokasi, hal ini COP melakukan komunikasi rutin dengan BKSDA Bengkulu; tahap kedua mengirimkan surat pemberitahuan bahwa COP siap membantu beruang madu di BKSDA Bengkulu untuk ditranslokasi guna pelepasliaran kembali ke habitatnya kepada Ditjen PHKA, Sekditjen PHKA, Direktur KKH serta BKSDA Bengkulu; setelah surat mendapat dukungan maka tahap ketiga COP aktif komunikasi dengan pihak ketiga sebagai calon tempat rehabilitasi, karena pihak ketiga tersebut baru dapat membantu untuk rehabilitasi beruang dengan syarat dibangunkan fasilitas, maka tahap keempat COP menghubungi pihak donor yang akan melakukan fund-raising guna mengumpulkan dana untuk membiayai translokasi dan pembangunan fasilitas rehabilitasi beuang. 

Sebelumnya telah ada tulisan juga yang membahas tentang beruang tersebut di media sosial yang dibuat oleh orang asing yang isinya hanya menekan pemerintah agar memberikan fasilitas yang layak, namun kenapa tidak direspon oleh pihak-pihak terkait karena strategi yang dilakukan kurang tepat. Hanya menekan saja tanpa ada komunikasi yang baik dengan pihak-pihak terkait akhirnya pun tidak ada hasilnya.

Beruang madu JONY tiba di lokasi rehabilitasi di Solok, Sumatera Barat
Tahap selanjutnya memprediksi waktu persiapan dan kegiatan, yakni berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk penggalangan dana, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas rehabilitasi dan setelah itu bisa menentukan kapan beruang harus ditranslokasi. Setelah semua dilakukan, COP melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk proses translokasi beruang yakni dengan BKSDA Bengkulu, pihak ketiga sebagai tempat rehabilitasi dan BKSDA Sumatera Barat sebagai otoritas setempat. Akhirnya translokasi beruang pun bisa dilakukan dengan baik tanpa kendala pada tanggal 15 Desember 2013 dengan melibatkan tim Ape Warrior dari Centre for Orangutan Protection (COP), tim BKSDA Bengkulu, tim BKSDA Sumatera Barat dan Tim Kalaweit. Dan semua pihak merasa happy dengan apa yang dilakukan tersebut demi masa depan beruang yang lebih baik, dan yang terpenting beruang bisa dikembalikan ke hutan sebagai rumah terbaik untuk satwa liar.


Dan bagaimana kisah dibalik translokasi Harimau sumatera bernama Giring ?

Harimau sumatera bernama Giring, yang sebelumnya saya beri nama Dang karena homerange-nya di kawasan konservasi Taman Buru Semidang Bukit Kabu, dan 'Dang' adalah nama panggilan khas Bengkulu untuk anak pertama. Ah...sudahlah, saat ini saya tidak ingin membahas nama harimau yang kami berikan tapi ingin membahas soal translokasi harimau.

TWA Seblat lokasi perawatan sementara harimau Giring
Harimau Giring ditranslokasi pada tanggal 5 - 6 Juni 2016, dari kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara ke Taman Safari Indonesia (TSI) di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Kenapa itu bisa terjadi ? Tahukah anda tentang Lembaga Swadaya Masyarakat Scorpion di Indonesia ? Saya sendiri setelah berkecimpung sebagai relawan untuk konservasi satwa liar di Indonesia sejak masih mahasiswa dan mengawali karir dengan bekerja untuk konservasi berbagai jenis satwa liar terancam punah sejak tahun 2002 belum pernah mendengar organisasi ini yang ternyata juga bekerja untuk konservasi satwa liar. Mungkin ini organisasi baru, atau mungkin saya saja yang kuper (kurang pergaulan) dan baru mengetahuinya meski di dunia konservasi sebenarnya kami memiliki link yang kuat antar lembaga yang bergerak di bidang yang sama, biasanya saling mengenali dan kadang bekerjasama satu sama lain di seluruh pelosok Indonesia, bahkan yang ada di negara lain sekalipun. Heran juga, mengapa saya tidak mengenalinya. 

Menuju lokasi perawatan harimau Giring di hutan TWA Seblat
Tahun 2015 saya baru tahu bila di Indonesia ada organisasi tersebut, dan mereka menunjukkan diri bahwa sangat peduli terhadap konservasi satwa liar. Itu pun tahunya bukan karena kami pernah berkomunikasi atau bekerjasama, tapi karena secara tidak sengaja, saat itu saya baru saja melakukan pemeriksaan dua ekor harimau sumatera, yang satu harus dioperasi karena ada pembengkakan di tubuh bagian belakang dan yang satu lagi pemeriksaan kesehatan ulang karena sebelumnya menderita luka infeksi pada rongga mulut dan dermatitis serta diperlukan pengambilan sampel darah untuk kontrol penyakit protozoa darah yang merupakan bawaan dari liar. Kebetulan ada Tim Peneliti Harimau Sumatera dari WWF dan Virginia Tech serta ada Dokter Hewan baru dari Universitas Airlangga yang ingin belajar pembiusan dan penanganan kucing besar maka waktunya saya buat bersamaan, disaat kami perlu memeriksa dan mengobati harimau, maka mereka bisa melihat dan belajar, sehingga harimau tidak diberi perlakukan dua kali untuk tujuan berbeda. Ini juga salah satu cara untuk meminimalkan stress karena handling untuk pengobatan. Bagaimana pun itu adalah harimau liar yang tidak biasa kontak dengan manusia, perlakuan yang diberikan pun harus menyesuaikan behaviornya.

Kandang perawatan harimau Giring selama di TWA Seblat
Beberapa hari kemudian saya mendapat email dari seseorang yakni warga negara asing yang membawa nama Scorpion, dan dalam satu hari saya bisa menerima email beberapa kali darinya yang isinya tentu menguji kesabaranku. Tidak perlu saya sebutkan disini isinya seperti apa. Email tersebut tidak hanya dikirimkan kepada saya tetapi juga dishare ke banyak lembaga di seluruh dunia, yang tentunya isi email tersebut adalah pendapat pribadi mengenai perlakuan terhadap harimau yang kami rawat hanya berdasarkan dugaan, karena mereka tidak mengetahui fakta yang sebenarnya, baik kondisi maupun permasalahannya. Hanya men-justifikasi berdasarkan dugaan dan menginterpretasikan berdasarkan asumsi pribadi tanpa cross check dengan pihak-pihak terkait yang berkompeten dan yang terlibat dalam perawatan satwa. Suatu hari KLHK mendapat surat dari Born Free USA, yang mengkritik tentang perawatan harimau Giring, karena mereka mendapat informasi dari orang yang sering mengirimiku email, mengintimidasiku dan membuat berita tanpa dasar. Born free pun ikut menekan kami. Saya pribadi tidak mau menanggapinya bukan karena diintimidasi setiap hari, tetapi karena berita yang disebarluaskan tersebut tidak berdasar, dan mereka tidak mencari tahu permasalahan yang sebenarnya. Kami sering bekerjasama dengan banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik yang ada di dalam maupun di luar negeri untuk memperbaiki kondisi satwa liar seperti beruang madu, siamang, kukang, gajah, harimau dan satwa liar lainnya di Provinsi Bengkulu dan berhasil sesuai tujuan semula, tetapi dengan cara yang baik dan beretika, bukan dengan cara tuduhan tanpa cross check untuk merealisasikan ambisius sekelompok orang yang menghalalkan segala cara agar dilihat publik telah peduli dengan satwa liar.  

Sebenarnya kami tidak ingin membanding-bandingkan cara kerja lembaga yang satu dengan lainnya dalam membantu translokasi satwa liar, namun saya pikir perlu juga diungkap agar kita mengetahui perbedaan hasilnya dari berbagai strategi yang digunakan. Sebagai contoh untuk mewujudkan translokasi beruang madu dan siamang maka strategi yang dipakai oleh LSM COP seperti yang telah saya sebutkan diatas, begitu juga strategi yang dipakai oleh organisasi Internasional yang membantu translokasi gajah sumatera, mereka (Asian Elephant Support) melakukan tahapan-tahapan seperti yang dilakukan oleh COP, dan akhirnya gajah berhasil dipindahkan ke lokasi/ hutan yang diinginkan ke Provinsi Bengkulu, begitu juga dengan kukang korban perdagangan illegal yang telah ditranslokasi ke Provinsi Bengkulu dan kini telah menikmati kebebasannya di alam liar dengan bantuan Animals Indonesia di kawasan konservasi TWA Bukit Kaba.

Tahun 2016 ada dua berita direlease oleh media online yang ada di Indonesia, lagi-lagi tentang harimau Giring. Disana disebutkan tanggal berapa melakukan investigasi ke lokasi berdasarkan pengakuan narasumber di berita tersebut. Membaca itu hanya membuatku tersenyum, karena pada kenyataannya tidak pernah ada orang dari lembaga tersebut (Scorpion) yang penah datang ke lokasi, melihat langsung lokasi perawatan harimau, mengetahui bagaimana perawatan harimau Giring, bahkan ukuran kandangnya pun tidak tahu, dan tidak pernah bertanya sekalipun tentang hal-hal detail yang berhubungan dengan harimau Giring kepada pihak-pihak terkait dan perawat satwa harimau. 

Dan yang paling aneh adalah mereka menyebutkan waktu investigasi di media disaat saya dan mahasiswa saya dari Fakultas Kedokteran Hewan atau pun tim saya sedang berada di lokasi/ di hutan tempat Giring dirawat sehingga kami tahu benar adakah orang yang datang kesana atau tidak atau siapa saja yang ada di hutan untuk melihat harimau Giring, kenyataannya tidak ada. Banyak pertanyaan menggelitik di benak saya saat itu, seperti :
  • Bagaimana bisa sebuah media me-release berita tanpa dasar yang akurat ? (Saya kebetulan mengenal banyak media lokal, nasional maupun internasional yang sering liputan tentang satwa liar di Bengkulu, tapi mereka semua melalui prosedur yang benar, dengan perijinan yang legal untuk memasuki kawasan konservasi dan menggunakan data yang akurat serta berkomunikasi dengan para narasumber yang bisa dipertanggungjawabkan)
  • Bagaimana bisa seseorang dari sebuah lembaga bisa menjadi narasumber meski pada kenyataannya tidak pernah tahu menahu soal apa yang disampaikan ?
  • Bagaimana seseorang bisa menjadi narasumber sedangkan dia sendiri tidak paham dengan apa yang dikatakan dan tidak pernah bersentuhan langsung dengan obyek ?
  • Bagaimana bisa tulisan yang tidak akurat itu dijadikan rekomendasi beberapa pihak untuk menyurati KLHK guna menentukan nasib harimau agar lebih baik sedangkan kondisi yang sebenarnya mereka tidak tahu dan rencana-rencana kami untuk harimau itu kedepan mereka juga tidak tahu ?     
  • Bagaimana bisa tujuan yang ingin dicapai terwujud bila strategi yang digunakan hanya menyerang, menekan, mengintimidasi pihak lain tapi tanpa mau berbuat dan mendukung secara langsung ? (kami menyebutnya ''Talk only no action" hanya agar dilihat publik seolah-olah peduli dengan satwa liar). Dan masih banyak hal lain yang sebenarnya ingin kupertanyakan.

Orang-orang yang telah membantu harimau kami secara langsung sejak evakuasi hingga perawatan baik yang individu maupun lembaga saja tidak pernah sibuk mempublikasikan diri-sendiri dan bicara kesana kemari untuk menunjukkan bahwa sudah berkonstribusi terhadap harimau sumatera seperti LSM Animals Indonesia, sekelompok Mahasiswa Universitas Udayana Bali, Yayasan Arsari, teman-teman dari ASTI, beberapa orang anggota Forum HarimauKita, PHS (Tiger Protection and Conservation Unit), serta teman dari GIZ dan lain-lain, karena mereka membantu dengan tulus untuk satwa liar tanpa ambisi dan tanpa ada kepentingan apapun. Nah, ini sebuah lembaga yang tiba-tiba muncul lalu sibuk membuat publikasi dirinya di media atau melalui media sosial dan mengirim email kesana kemari untuk memperlihatkan bahwa dia sangat peduli dan telah berkonstribusi untuk membantu memperjuangkan nasib harimau agar lebih baik namun tulisannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tapi tindakannya hanya sebatas itu, sangat berbeda dengan pihak lain bila sudah bersedia membantu maka akan membantu dengan sungguh-sungguh dari mulai perencanaan sampai tindakan dan sampai tujuan itu tercapai, apa yang tidak tersedia disediakan, apa yang menjadi kendala dicarikan solusi dengan menjalin komunikasi yang baik, semua demi kepentingan satwa liar yang akan dibantu.

Sehingga dalam menanggapi tekanan yang terus - menerus dari sebuah lembaga swadaya masyarakat yang cara kerjanya seperti itu untuk peduli dengan satwa, ya respon yang dilakukan beberapa pihak pun berbeda sesuai cara pandang masing-masing. Cara pandang kami sebagai dokter hewan bahwa merawat harimau yang perilakunya masih liar harus di habitat dengan lingkungan sekitarnya hutan agar tidak jauh berbeda dengan kondisi tempat hidup harimau itu sebelumnya, hal ini juga untuk meminimalkan stress, dibandingkan harus dirawat yang lingkungan sekitarnya bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia. Untuk itu kenapa rekomendasi medis sejak awal pasca evakuasi bulan Februari 2015 dalam laporan tertulisnya pada pengambil kebijakan adalah ditranslokasi ke TWA Seblat, sebuah kawasan konservasi yang memiliki fasilitas perawatan harimau dengan kondisi hutan masih bagus, namun tetap pelaksanaannya tergantung pengambil keputusan dan ternyata baru disetujui dan diperintahkan untuk ditranslokasi ke TWA Seblat tanggal 28 Oktober 2015, cukup lama hanya untuk menunggu sebuah keputusan penting tidak hanya bagi kami perawatnya tetapi juga bagi kebaikan harimau. Dan saat itu kami tidak menyetujui dipindahkan ke kebun binatang dengan alasan seperti diatas, lingkungan terbaik bagi harimau liar adalah di hutan bukan di lembaga konservasi eksitu, dan untuk apa dipindahkan kesana hanya bersifat sementara lalu baru dipindahkan ke lokasi rehabilitasi yang berada di provinsi yang berbeda. Dalam hal ini cara pandang kami sebagai dokter hewan dengan para conservasionist lainnya agak sedikit berbeda, transportasi yang berulang-ulang antar provinsi untuk harimau liar tentu akan menimbulkan stress berulang kali, bila dokter hewan diberi otoritas maka rekomendasi kami adalah dari TWA Seblat dipindahkan ke lokasi release, toh selama perawatan di TWA Seblat perilaku normalnya masih bisa dipertahankan. Harimau dirawat dengan diisolasi untuk menghindari terlalu sering kontak langsung dengan manusia dengan tujuan agar tidak terjadi perubahan perilaku, serta memang harus diisolasi karena penyakit zoonosis yang dibawanya dari alam liar. Perawatan di TWA Seblat dan kebun binatang juga tidak jauh berbeda, hanya lokasinya yang berbeda yakni satu di hutan satunya di kota, ketersediaan pakan alami juga bisa dipenuhi sesuai dengan kebutuhannya, ada kontrol kesehatan rutin, ada strerilisasi kandang rutin serta pencegahan dan pengobatan penyakit parasiter rutin, kandang pun dilengkapi dengan enrichment untuk mengekspresikan perilaku alaminya, serta memiliki tim perawat satwa yang tetap, karena perubahan orang juga akan berpengaruh terhadap harimau liar karena bila harus berhadapan dengan orang-orang baru yang terus berganti akan mempengaruhi perilakunya.

Cara pandang birokrat akan berbeda karena pada dasarnya mereka tidak ingin diberitakan buruk, dengan atau pun tanpa tahu kondisi yang sebenarnya keputusan yang dikeluarkan pun atas kepentingan untuk menghentikan tekanan pihak-pihak yang katanya peduli. Meski pada kenyataannya mereka tidak pernah terlibat langsung membantu satwa harimau yang katanya diperjuangkan, tidak pernah tahu apa permasalahannya dan tidak terlibat dalam mencarikan solusi, dan tidak pernah mau tahu bagaimana proses translokasinya karena mereka hanya mau tahu bahwa keinginan ambisiusnya tercapai tanpa mau peduli dengan permasalahnnya. 

Monitoring vital signs selama perjalanan/ translokasi
Tanggal 5 Juni 2016
Sedangkan cara pandang pengambil keputusan yang mendapat tekanan dari atasannya adalah bagaimana cara harimau itu segera dipindahkan untuk meredam tuntutan, tanpa perencanaan yang jelas dan tanpa tujuan yang jelas, yang terpenting sudah keluar dari lokasi sebelumnya untuk membuktikan bahwa harimau telah ditranslokasi sesuai keinginan pihak-pihak tertentu. Menentukan nasib seekor harimau sumatera dengan cara serba mendadak dan tanpa dana. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. LSM yang mendesak pun tidak pernah muncul untuk mendukung, misalnya mencarikan solusi soal pendanaan translokasi, atau misalnya mencarikan dana untuk membangun fasilitas rehabilitasi di habitat aslinya agar harimau tidak terus-menerus dipindahkan keluar Provinsi Bengkulu disaat populasi harimau liar di Bengkulu pun semakin terus berkurang, atau berbuat apapun yang lebih nyata untuk kepentingan harimau. Mereka tidak pernah muncul untuk itu, kemampuannya hanya sebatas berkoar-koar di media, dan berharap harimau bisa pindah dengan sendirinya seperti main sulap dengan mantra yang diucapkan di media dan disebarluaskan ke banyak pihak. Dan apa hasilnya ? Akhirnya harimau berada di lokasi pihak-pihak yang peduli mengulurkan dana untuk membantu translokasi, disaat lokasi tempat rehabilitasi yang diinginkan pun menolak untuk membantu, dan LSM yang dengan ambisius menginginkan translokasi harimau Giring pun tidak pernah mengulurkan bantuan dalam bentuk apapun. Hal-hal seperti ini yang membuatku bisa menilai kinerja seseorang atau sebuah lembaga, dari sejauh mana keterlibatan mereka dalam upaya ini, tidak ada komunikasi yang baik dengan berbagai pihak, tidak ada solusi untuk pencarian dana guna translokasi dan bisa kita lihat bagaimana hasil akhirnya bila bekerja hanya bermodal berkoar-koar saja dengan koordinasi seperlunya serta lepas tangan untuk prosesnya. Dan paling parah adalah, kalau bisa saya ibaratkan seperti peribahasa "lempar batu sembunyi tangan", ya seperti itulah kenyataannya. 

Koleksi sampel darah harimau Giring tanggal 2 April 2015
Dalam Undang-Undang dokter hewan memang memiliki otoritas medis, namun di dunia nyata itu tidak pernah ada. Otoritas tetap berada di pimpinan tertinggi dengan jabatan tertinggi. Jadi, masalah kesehatan harimau itu bukan hal yang cocok untuk dijadikan dasar translokasi, karena harimau telah mendapatkan perawatan medis dan pengobatan. Bila hanya sekedar kontrol kesehatan bisa menggunakan sampel darah yang bisa dikirimkan ke laboratorium untuk diketahui hasilnya dan tak perlu lagi membawa harimaunya sekaligus kesana-kemari. Apakah untuk mendeteksi suatu penyakit dengan pemeriksaan laboratorium kita perlu membawa satwanya, tidak kan ? Alangkah repotnya bila itu dilakukan dan tentu akan mengeluarkan banyak biaya, biaya pengangkutan satwa dan biaya pemeriksaan laboratorium dan biaya pakan selama perjalanan. Cukup sampel apa yang diperlukan untuk deteksi penyakit, hasilnya sudah bisa diketahui. Mungkin cara pandang dokter hewan dengan conservasionist serta para birokrat agak sedikit berbeda dalam hal ini maka keputusan yang diambil pun berbeda.

"Satwa liar itu mahkluk hidup, yang hidupnya pun tidak mau dipermainkan seperti halnya manusia. Seyogyanya kita sebagai manusia yang diberi moral dan akal yang baik memperlakukan mereka tidak sebagai obyek semata, setiap tindakan harus direncanakan dengan baik, untuk hasil yang lebih baik bila menyangkut memperjuangkan nasibnya. Jangan mengatasnamakan satwa liar hanya untuk dilihat kita peduli, tapi sungguh-sungguh berbuatlah untuk mereka dengan tulus tanpa menghalalkan segala cara dan tanpa ada kepentingan apapun, berbuatlah sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada dan saling mendukung untuk tujuan yang sama. Dan hargailah orang-orang yang bekerja untuk satwa liar karena anda tidak akan pernah tahu apa yang telah dilakukannya, dikorbankannya dan diperjuangkannya demi satwa-satwa yang diselamatkannya dan dirawatnya"

Kamis, 12 Maret 2015

Ditemukan lagi harimau sumatera terjerat, Seluma kini jadi target pemburu harimau


Malam itu pukul 20.29 WIB, hari Rabu tanggal 13 Maret 2015 saya mendapat informasi dari Mayor Usman Kasdim Seluma melalui chatting di WhatsApp bahwa masyarakat melaporkan ada harimau terjerat di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Esok harinya, saya ditelepon oleh BKSDA Bengkulu untuk bersiap-siap berangkat rescue harimau yang terjerat di Seluma. Saya pun langsung mempersiapkan peralatan rescue dan obat bius serta obat-obatan emergency. Lokasi harimau terjerat yang disampaikan kepada saya adalah di Ulu Talo. Ini bukan pertama kalinya harimau terjerat di Ulu Talo, beberapa tahun silam saya bersama tim dari BKSDA Bengkulu dan PHS-KS juga pernah ke HPT Ulu Talo untuk merescue harimau terjerat. Medan yang buruk harus menyeberangi sungai besar lebih dari sepuluh kali dibagian hulu dengan arus deras yang membuat wartawan yang ikut kegiatan tersebut dari salah satu stasiun televisi nasional hanyut terbawa arus namun selamat, dan naik turun bukit dengan trekking selama 6 jam untuk mencapai lokasi harimau terjerat, namun sesampainya disana harimau sudah hilang, hanya tinggal tonggak kayu pengikat jerat dan tali sling yang telah terpotong, serta tak jauh dari lokasi ada saluran pencernaan hewan yang telah berbau busuk.

Dengan pernah punya pengalaman melakukan perjalanan ke Ulu Talo maka saya memilih anggota Tim Rescue yang akan berangkat bersamaku, yang jelas orang-orang yang telah terbiasa melakukan perjalanan di medan yang sulit dan curam. Informasi awal yang kudapatkan bahwa jerat tersebut adalah jerat babi yang tidak sengaja kena harimau, dan harimau terjerat di bagian leher bukan kaki. Sepanjang perjalanan saya berdiskusi dengan teman-teman satu tim yang sama-sama punya pengalaman dalam penyelamatan harimau dari jerat pemburu liar. Saya  mencoba menganalisa dan mengatakan pada mereka, "Bila jeratnya berbentuk spiral seperti jerat yang dipasang pada ladang-ladang masyarakat untuk menjerat babi, bila harimau anakan kemungkinan kecil untuk bisa lolos dan bertahan hidup bila terjeratnya sudah lama, karena bisa tergulung. Tapi bila jeratnya berupa tali nylon atau sling untuk babi maka bila harimau anakan mungkin tidak bisa lepas sendiri tapi kalau harimau dewasa pasti sudah lepas, karena sudah banyak contohnya. Dan bila terjerat di leher diharapkan masih bertahan hidup, meskipun memberontak dia kan merasa kesakitan dan tidak bisa bernafas bila lehernya tercekik jadi akan berusaha untuk tidak tercekik, berbeda bila terjerat di bagian kaki." Namun kami tidak begitu saja bisa percaya dengan informasi dari orang lain bila belum melakukan pengecekan TKP (Tempat Kejadian Perkara) secara langsung. Kadang informasi yang mereka sampaikan tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat namun berdasarkan perkiraan mereka saja.

di Koramil Ulu Talo, Seluma
Sore itu pukul 3.37 WIB kami tiba di kantor Koramil Ulu Talo, untuk mencari informasi mengenai lokasi harimau terjerat, mengingat Koramil lah yang memberikan informasi adanya harimau terjerat ke BKSDA Bengkulu dan bukan dari warga atau aparat desa setempat yang melaporkan. Mereka menyarankan kami untuk tidak ke lokasi lagipula harimaunya sudah hilang dari lokasi. Justru karena mendapat informasi seperti itu, saya bilang ke tim bahwa kami harus tetap ke lokasi kejadian untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, meskipun hari sudah sore tentu itu akan sangat beresiko berada di jalur jelajah harimau, tapi karena kami jumlahnya banyak saya pikir tidak akan ada masalah asalkan kami berjalan beriringan dan tidak terpisah atau berpencar.

Ada dua desa yang harus kami kunjungi berhubungan dengan kasus ini, kami memilih desa terdekat dengan lokasi kejadian untuk mencari informasi dimana harimau terjerat, karena tidak mudah mencari harimau yang terjerat di dalam hutan. Sore itu kami menemui Kepala Desa setempat dan diantar ke lokasi kejadian bersama beberapa warganya.

Pukul 5.52 WIB sore itu kami sudah sampai di TKP. Kami memeriksa lokasi tersebut sampai pukul 6.42 WIB. Dari sekian banyak orang hanya saya saja yang membawa headlamp padahal kami memeriksa lokasi kejadian hingga menjelang gelap. Headlamp yang mereka bawa dari Bengkulu mereka tinggalkan di dalam mobil :D

Lokasi harimau terjerat dekat dengan sungai dan jalan desa penghubung antara desa yang satu dengan lainnya, dan akhirnya saya pun mengetahui bahwa di salah satu desa tersebut ada yang mencari nafkah dengan berburu harimau. Juga terdapat jalan logging, mobil pun bisa melewatinya karena jalannya lebar, yang menghubungkan antara jalan desa dengan lokasi harimau terjerat. Dan berdasarkan informasi masyarakat bahwa orang yang mencari ikan di sungai melihat harimau terjerat di bagian kaki dalam kondisi masih hidup sejak hari Senin malam tanggal 9 Maret 2015, dan kami baru mendapatkan informasi hari Rabu malam tanggal 11 Maret 2015. Bila melihat semua kondisi TKP yang seperti itu wajar bila harimau yang terjerat sudah hilang dari lokasi. Perkiraan saya sudah diambil pemburu yang memasang jerat. Meskipun aparat desa dan warga punya pendapat lain bahwa harimau tersebut lepas sendirinya dan bukan diambil orang, karena mereka mendengar suara raungan harimau di sekitar pemukiman mereka yang jauh dari lokasi kejadian pada malam hari berturut-turut dari tanggal 9-11 Maret 2015. 

Bekas cakaran harimau
Biasanya kalau harimau lepas sendiri dari jerat biasanya tak pernah jauh berjalan dari lokasinya terjerat karena dia terluka, dan kadang masih membawa sling yang mengikat kakinya dan kadang masih menyeret kayu pancang pengikat sling yang seringkali membuat harimau tersangkut dan tidak bisa berjalan lagi. Dan bila harimau melepaskan diri dari jerat pasti tali sling di jerat-jerat lainnya masih ada, namun kami tidak menemui satu pun sling di 9 perangkap yang telah dibuat pemburu di loaksi itu, hanya tinggal kayu pancang dan lubang-lubang perangkap serta bekas umpan yang telah membusuk dan berbau menyengat bahkan tinggal tengkorak saja. Jadi saya semakin yakin bahwa harimau hilang diambil pemburu setelah pemeriksaan TKP. Ada beberapa bekas cakaran kuku pada pohon dan gigitan pada batang pohon di lokasi jerat yang berbeda dan berjauhan, kemungkinan lebih dari satu yang terkena jerat. Selain mengambil dokumentasi, saya juga mengambil sampel rambut harimau yang tertinggal di lubang perangkap.

Malam itu tim rescue BKSDA kembali pulang ke Kota Bengkulu dan melaporkan temuan tersebut kepada Polsek setempat, namun saya memilih untuk tetap tinggal di desa itu selama beberapa hari, karena saya merasa penasaran terhadap siapa-siapa saja yang terlibat dalam jaringan perburuan harimau di daerah itu, serta ingin tahu tentang harimau yang meraung di malam hari selama tiga hari berturut-turut di desa itu, serta ingin mengetahui jalur jelajah harimau disana dan kondisi habitatnya. Dan saya tertarik untuk mengetahui itu semua, dan saya harus sudah mendapatkan jawabannya sebelum kembali pulang ke Bengkulu. Bagi saya bekerja untuk satwa liar tidak harus dengan sokongan dana kegiatan dari pemerintah, namun kita masih bisa bekerja secara mandiri yang penting adalah hasilnya dapat membantu untuk mendukung penegakan hukum terhadap kejahatan pada satwa liar.

Sabtu, 19 April 2014

Menjenguk Harimau sumatera 'ELSA' di akhir pekan


Aku memang lebih suka melihatnya disaat sepi, disaat orang-orang di kantor ini sedang tidak ada agar tidak menarik perhatian banyak orang yang ingin melihatnya, karena dia butuh ketenangan dan memang untuk membatasi dia bergaul dengan manusia. Karena dia bukan manusia tetapi seekor harimau liar dan juga bukan harimau jinak atau yang ada di lembaga konservasi eksitu seperti kebun binatang, taman satwa dan lain-lain yang dipertontonkan pada banyak orang sehingga terbiasa melihat kehadiran orang disekitarnya. Dia sedang menderita sakit fisik dan jangan sampai menderita juga jiwanya karena stress jadi obyek tontonan, baik bagi para pejabat atau pegawai dan keluarganya maupun khalayak umum.


Dalam setiap perawatan medis harimau sumatera yang masih liar, kami selalu mengisolasinya untuk membatasi kontak langsung dengan manusia, sehingga hanya petugas pemberi pakan yang sekaligus bertugas membersihkan kandangnya dari kotoran serta petugas yang mengobatinya yang punya akses untuk masuk tempat perawatan. Dan itu pun dibatasi waktunya, semua kegiatan tersebut dilakukan pada waktu yang bersamaan, yakni pada saat pemberian pakan. Diluar waktu tersebut harimau akan tenang tanpa gangguan manusia di sekitarnya.

Di malam hari harimau terlihat lebih aktif bergerak dan beberapa kali mengeluarkan suara seperti berkomunikasi, karena suara yang keluar bukanlah raungan kemungkinan suara itu punya arti berbeda. Aku pun belum bisa menerjemahkannya. Orang yang tinggal di sekitar lokasi perawatan harimau mengatakan bahwa suaranya mirip bayi menangis di malam hari (hehehe.....aneh-aneh aja ya, mentang-mentang dekat kuburan). Namun yang aku dengar sendiri di waktu yang berbeda malah lebih mirip dengan suara sapi. Saat aku intip dari lubang di pintu, suara tersebut dikeluarkan saat harimau sedang istirahat. Sepertinya mempelajari suara harimau sumatera akan sangat menarik apalagi bisa menerjemahkannya. Suatu saat aku harus merekamnya satu per satu dari suara yang berbeda-beda itu. Sudah ada seorang ilmuwan yang bisa menerjemahkan 33 bahasa gajah, sedangkan pada harimau liar sudah ada belum ya ??? Mungkin aku bisa memulainya untuk mencari tahu terjemahannya....hehehe :)

Harimau sumatera bernama Elsa sedang dalam perawatan post surgery

Setiap kali membuka pintu kandangnya, dia akan selalu tersenyum manis dengan menunjukan gigi taringnya padaku seperti ini dengan posisi siap menerkam, dan bila kakiku melangkah mendekatinya maka dia akan langsung meraung sambil menerkam. Setelah sekian menit duduk bersamanya dan saling bertatapan mata, dia akan berubah ekspresinya menjadi sangat santai dan manja. Namun itu hanya dilakukan disaat dia berhadapan dengan orang-orang yang sudah sering dilihatnya dan tidak dengan orang yang asing baginya. 


Seperti inilah dia kalau sudah merasa percaya bahwa kami bukan orang yang akan menyakitinya/ membahayakannya. Dia akan tidur dengan santai dan memejamkan mata meskipun ada kami didekatnya. Dengan orang yang tidak dikenal dengan baik, dia akan selalu waspada dengan ekspresi marah dan posisi tubuh siap menerkam serta sering meraung.

Harimau sumatera liar akan siap menerkam bila dia merasa terjepit dan tidak ada jalan untuk melarikan diri, perilaku itu adalah normal karena untuk mempertahankan diri. Itu sebabnya kenapa saat upaya penyelamatan satwa jenis kucing besar dalam kondisi terjepit dan terkepung, dia akan berusaha menerkam orang yang menurutnya membahayakan dirinya guna mempertahankan diri, karena dia tidak punya pilihan lain dan tidak ada jalan lain untuk menghindari intimidasi manusia. Dan itu sering terlihat juga pada harimau yang sedang dirawat dalam kandang sempit, karena jelas-jelas tidak ada jalan untuk melarikan diri. Saat melihat kehadiran orang maka akan meloncat dan menerkam dan dia akan berbenturan keras dengan jeruji kandang yang seringkali membuatnya terluka. Itu sebabnya mengapa harimau liar tidak boleh dijadikan obyek untuk dipertontonkan pada banyak orang, dan harus diisolasi untuk mengurangi kontak langsung dengan manusia. Selain itu juga bisa menyebabkan stress, harimau liar yang stress karena lingkungan sekitarnya ramai bisa menjadi agresif dengan menggigit-gigit jeruji kandang yang seringkali membuat gusi rusak dan gigi taringnya patah.  Stress yang terjadi berulang kali dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan perubahan perilaku. Berdasarkan pengalaman kami, harimau dewasa lebih sensitif dalam merespon kondisi lingkungan sekitarnya dibanding yang anak-anak dan pra dewasa. Dan karena itu juga mengapa kandang angkut harus ditutup agar harimau tidak bisa melihat orang ramai disekitarnya.

Hari ini, selain menjenguk harimau Elsa, aku juga memeriksa kondisinya, kondisi luka post operasi, kondisi fisik, nafsu makan dan minum serta memeriksa feces (kotorannya). Sejauh ini semua dalam kondisi baik, tidak ada infeksi pada bekas amputasi dan nafsu makan baik. Pengobatan post operasi akan tetap dilanjutkan serta akan dilakukan deworming (pencegahan penyakit helminthiasis/ cacing). Berharap kondisinya akan cepat normal kembali.

Senin, 07 April 2014

Akhirnya kaki depan seekor harimau sumatera bernama Elsa harus diamputasi



Seekor Harimau sumatera terjerat pemburu di Kabupaten Kaur, 
Bengkulu. Kamis, tanggal 3 April 2014
Saya bersama tim recsue baik dari BKSDA Bengkulu atau Tiger Protection and Conservation Unit - Kerinci Seblat atau Conservation Response Unit - PKG Seblat, telah menyelamatkan harimau sumatera yang terjerat tali sling pemburu liar sejak tahun 2007, dari semua harimau yang diselamatkan pada akhirnya harus kehilangan kakinya karena telah nekrosis (mengalami kematian jaringan). Begitu juga seekor harimau sumatera yang kami beri nama Elsa yang telah diselamatkan dari jerat pemburu pada tanggal 3 April 2014 di sekitar HGU perkebunan sawit PT. Dinamika Selaras Jaya Divisi 1 yang berlokasi di Desa Beriang Tinggi, Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Harimau yang ditemukan dalam kondisi terjerat pada tanggal 2 April 2014 oleh tim Tata Batas HGU dari Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. Kemudian tim rescue BKSDA Bengkulu diturunkan ke lokasi untuk menyelamatkan harimau tersebut.

Menyelamatkan harimau yang terjerat tali sling pemburu liar bukanlah hal yang mudah, kami bekerja seperti berlomba kecepatan dengan para pemburu. Bila kami telat datang maka pemburu liar yang lebih dulu membunuh dan membawa lari bangkainya. Seperti yang pernah kami alami di Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Untuk mencapai lokasi harimau terjerat yang berada di dalam kawasan hutan, kami harus berjalan kaki dari desa terdekat dari pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB tanpa istirahat, dengan melewati perbukitan dan belasan kali menyeberangi sungai besar bagian hulu. Tiba di lokasi tali sling telah terputus dan harimau sudah tidak ditemukan lagi. Tali sling yang diputus oleh harimau itu sendiri ataupun diputus oleh manusia sangat berbeda kondisinya. Begitu juga saat kami akan melepaskan harimau yang terjerat sling pemburu liar di dalam kawasan Hutan Produksi Air Rami di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Untuk mencapai lokasi kami berjalan kaki selama dua hari, melewati perbukitan dan sungai Tembulun bagian hulu. Pada saat kami berjalan masuk hutan, kami juga mendapat informasi bahwa pemburu harimau juga memasuki hutan yang sama. Seperti pepatah, "siapa cepat, siapa dapat". Untuk itu kami beradu cepat siapa yang akan mencapai lokasi terlebih dulu untuk mendapatkan harimau tersebut. Akhirnya kamipun masih bisa menyelamatkan harimau itu sebelum pemburu membunuhnya dan mengulitinya.

Namun dari setiap upaya penyelamatan harimau terjerat yang membuat saya sangat bersedih dan emosional adalah kondisi kaki yang terjerat selalu rusak karena tali sling. Tali sling yang mengikat ketat di kaki harimau membuat peredaran darah terhambat dan lama-kelamaan jaringannya mati dan akhirnya membusuk. Harimau yang spontan berontak karena terjerat juga memperparah kondisi, kaki yang terjerat menjadi mengelupas karena berusaha melepaskan diri dari sling dan seringkali terlihat luka terbuka dan hanya tinggal tulang jari menonjol keluar yang terikat tali sling.

Kaki depan kanan harimau sumatera telah membusuk 
karena jerat pemburu. Jumat, tanggal 4 April 2014
Begitu juga seekor harimau sumatera yang kami lepaskan dari jerat pemburu pada hari Kamis, tanggal 3 April 2014, kondisi kaki depan sebelah kanan telah membusuk begitu juga dengan telapak kakinya. Baunya pun menyengat seperti bau bangkai saat pertama kami temukan. Akhirnya sayapun harus membuat keputusan yang sangat berat, saya harus mengamputasi kakinya sesegera mungkin sebelum mengakibatkan infeksi sekunder yang lebih serius dan membahayakan nyawa harimau.

Banyak orang yang menyayangkan saya mengamputasi kaki harimau tersebut, karena mereka tidak tahu kondisi yang sebenarnya, dan mereka juga tidak paham bahaya yang akan terjadi bila kaki tersebut tidak segera diamputasi. Jaringan bila sudah nekrosis itu tidak bisa diselamatkan. Memang, kaki depan fungsinya sangat vital bagi harimau terutama dalam mencari mangsa untuk bertahan hidup. Namun, bila kaki telah nekrosis dan membusuk bila tidak cepat diamputasi, harimau pun juga tidak akan bertahan hidup karena bisa kehilangan nyawanya karena infeksi yang menyebabkan kerusakan lebih serius.


Jumat, 4 April 2014

Dari hasil pemeriksaan kondisi harimau sangat baik, sehingga hanya diperlukan waktu agar harimau bisa beristirahat dengan tenang setelah stress karena penangkapan dan transportasi. Namun upaya ini pun tidak berjalan dengan baik, pada saat harimau sedang istirahat masih juga ada orang-orang dengan berbagai kepentingan ingin melihatnya di kandang perawatan yang tentu saja sangat mengganggu dan membuat harimau berontak karena melihat kehadiran banyak orang. Menurut saya harimau perlu kondisi tenang  dan tidak boleh diganggu dengan kehadiran siapapun dan untuk keperluan apapun, karena akan menjalani operasi amputasi esok harinya. Namun tak semua orang mau memahami sesuai dengan yang saya harapkan.

Setelah selesai melakukan koordinasi dengan tim rescue, maka hari itu administrasi dan birokrasi dipersiapkan, yakni pembuatan Surat Perintah Tugas (SPT) untuk operasi amputasi kaki harimau bernama Elsa di BKSDA Bengkulu.


Sabtu, 5 April 2014

Persiapan operasi amputasi di BKSDA Bengkulu
Sabtu, tanggal 5 April 2014
Bekerja untuk satwa liar memang tidak mengenal hari libur. Karena kami bekerja sesuai dengan kondisi satwa dan bukan menyesuaikan dengan kalender. Akhir pekan itu akan menjadi hari yang sibuk bagi kami. Pagi itu pukul 08.00 WIB kami merencanakan akan memulai pekerjaan untuk melakukan pembiusan harimau untuk menghindari terjadinya hyperthermia bila dilakukan di siang hari yang panas. Namun terkadang rencana tidak sesuai dengan yang diharapkan, tiba-tiba pagi itu kondisi kesehatan saya memburuk, sebelumnya saya memang kurang sehat. Saya kehilangan tenaga dan merasa lemas. Saya menginformasikan kepada tim saya agar kegiatan ditunda satu jam karena saya perlu waktu untuk tidur sebentar sebelum bekerja. Pukul 09.00 WIB saya baru berangkat ke kantor BKSDA dengan kondisi masih lemah. Saya tidak bisa menunda lagi untuk operasi amputasi kaki harimau karena kondisinya sudah membusuk, karena bila diundur waktunya kondisinya akan semakin memburuk. Namun saya sendiri merasa khawatir tidak mampu melakukan operasi yang tentu membutuhkan waktu lama karena kondisi kesehatan saya sendiri yang menurun. Maka sebelum melakukan operasi harimau, sesampainya di kantor saya periksa dan berobat dulu ke rumah sakit Rafflesia yang berada di depan kantor BKSDA dengan diantar seorang teman. Saya disarankan untuk ke UGD (Unit Gawat Darurat).  Sudah dua kali saya masuk UGD di rumah sakit ini, yang pertama karena pingsan yang disebabkan tekanan darah terlalu rendah. Selesai periksa dan berobat akhirnya saya kembali ke kantor dan mulai bekerja. Saya tidak sanggup bekerja dengan berdiri lama akhirnya saya lebih memilih bekerja sambil duduk.

Operasi amputasi kaki depan kanan seekor harimau sumatera 
di Balai KSDA Bengkulu Sabtu, tanggal 5 April 2014
Harimau sumatera bernama Elsa menjalani puasa sebelum dilakukan pembiusan untuk operasi amputasi. Selama pembiusan tidak ada komplikasi, yang biasanya seringkali terjadi pada harimau yang diimmobilisasi dengan menggunakan obat anaesthesia Ketamine 10% dikombinasikan dengan sedativa Xylazine 10%. Kondisi frekuensi nafas, pulsus dan detak jantung, temperatur tubuh dan lain-lain selama terimmobilisasi cukup baik dan dimonitor secara rutin oleh teman-teman yang membantu saya, sehingga operasi amputasi bisa berjalan dengan lancar. Dalam setiap menjalankan penanganan medis pada satwa liar hanya saya yang punya latar belakang kedokteran hewan, teman-teman yang membantu saya semua staff BKSDA Bengkulu memiliki latar belakang jabatan yang beragam, ada polisi kehutanan (Polhut), PEH (Pengendali Ekosistem Hutan), Penyuluh Kehutanan, Humas dan lain-lain.  Saya tidak memiliki Vet Nurse atau Vet Tech atau paramedis (perawat). Mereka itu yang memiliki multi talent, disaat saya sedang membutuhkan asisten, mereka semua bisa menjadi Vet Nurses. Di BKSDA Bengkulu kami memiliki tim rescue satwa liar yang anggota timnya beragam latar belakang jabatan. Kebetulan mereka seringkali mendampingi saya dalam menangani satwa liar tidak hanya harimau tetapi juga rusa dan lain-lain, sehingga mereka terlatih dengan sendirinya.  Dalam setiap menangani satwa liar, saya sudah tidak perlu repot karena mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan sehingga saya bisa fokus dengan pengobatan. Seperti halnya dalam pembiusan harimau sumatera untuk operasi amputasi kaki, satu orang sudah mencukur rambut di kaki harimau dan membersihkan luka dengan antiseptic sebelum saya mengamputasinya, satu orang lagi mencukur rambut harimau di ekor atau paha untuk pemasangan infuse (terapi cairan), dan mereka juga melakukan monitoring pernafasan, pulsus dan suhu tubuh secara rutin tanpa diminta, dan ada juga yang bagian recording. Tanpa diinstruksi mereka juga melakukan koleksi sampel dan morfometri (body measurement), dan satu orang membantu saya untuk mengambilkan peralatan bedah yang saya butuhkan, ada juga yang bertugas membersihkan darah dengan tampon dan masih banyak lagi lainnya. Mereka juga sudah tahu tentang kondisi kritis saat pembiusan, bila hasil pemeriksaan mereka ada nilai yang tidak normal mereka langsung memberitahu saya untuk tindakan emergency. Memiliki teman kerja yang sudah terlatih dan terbiasa menangani satwa liar akan mempermudah pekerjaan, sehingga saya tinggal fokus pada operasi amputasi kaki depan harimau. Empat jari telah saya potong dan menyisakan jempol kaki depan karena kondisinya masih bagus dan jaringannya tidak nekrosis.

Setelah selesai operasi amputasi, tanggal 5 April 2014
Operasi amputasi kaki depan harimau berjalan selama 2 jam, karena harus membersihkan jaringan-jaringan yang telah nekrosis serta adanya pembuluh darah besar disela-sela jari yang mempersulit amputasi. Selain itu juga diberikan pengobatan antibiotik long acting, anti inflamasi, pain killer dan lain-lain. Pengambilan sampel rambut untuk pemeriksaan DNA, sampel darah untuk pemeriksaan hematologi dan serologi, sampel ektoparasit. Selama harimau masih terbius, sampel bisa dikoleksi dengan mudah karena bila sadar kembali kami tidak bisa melakukannya lagi.

Selama bertahun-tahun kami belum memiliki kandang perawatan harimau yang layak, yang dilengkapi dengan kandang jepit, serta tidak memiliki fasilitas untuk ruang bedah. Kami biasa melakukan operasi harimau dimana saja tanpa ada ruangan yang steril. Memang, sepertinya penanganan satwa liar belum menjadi prioritas, karena usulan-usulan tentang pemenuhan sarana prasana medis untuk itu tidak pernah ditanggapi meski kami selalu belajar dari pengalaman bahwa kasus seperti ini sudah berulang kali terjadi. Namun, untuk bisa berbuat untuk satwa liar tidak harus menunggu memiliki fasilitas yang memadai, karena tidak pernah tahu sampai kapan akan dipenuhi. Dengan fasilitas ataupun tanpa fasilitas kami harus tetap bisa bekerja.

Jumat, 04 April 2014

Penyelamatan Harimau Sumatera yang Terperangkap Jerat Pemburu di Kabupaten Kaur, Bengkulu


Catatan Perjalanan

Rabu, 2 April 2014

Sudah tiga hari kondisi saya lemah karena Hypotensi (tekanan darah rendah).  Kondisi seperti ini seringkali membuat saya khawatir untuk bepergian atau perjalanan jauh, karena tekanan darah yang terlalu rendah bisa membuat saya tiba-tiba terjatuh dan pingsan. Untuk kembali pulang ke Bengkulu saya memilih penerbangan pagi pukul 7.20 WIB.  Setelah check in di bandara Soekarno Hatta, tubuh saya terasa sangat lemah dan tak bertenaga serta telah berkeringat dingin, pucat dan gemetaran, saya berpikir untuk membatalkan perjalanan ke Bengkulu dan kembali pulang. Dalam keragu-raguan tersebut akhirnya saya tetap melanjutkan perjalanan dan berhasil sampai kedalam pesawat tanpa menghadapai masalah. Setelah landing di bandara Fatmawati Bengkulu, kembali muncul kekhawatiran apakah saya sanggup berjalan sampai pintu kedatangan. Setelah minta bantuan jasa porter dan sopir taxi akhirnya saya bisa pulang kembali ke rumah tanpa hambatan. Hari itu saya berniat untuk kembali istirahat tanpa memikirkan pekerjaan apapun sampai kondisi sehat kembali. Belum sempat beristirahat tiba-tiba handphone saya berdering, seseorang di BKSDA Bengkulu menghubungi saya dan mengabarkan bahwa ada harimau terjerat dan perlu cepat dievakuasi. Setelah itu beberapa teman kerja dan beberapa pejabat di BKSDA Bengkulu menghubungi saya untuk memberi informasi yang sama. Batal beristirahat, saya langsung menyiapkan peralatan dan obat-obatan untuk rescue harimau dan menunggu dijemput karena saya tidak sanggup pergi sendiri ke kantor BKSDA karena tubuh masih terasa lemah. 

Seekor Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terjerat pemburu 
di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Kamis, 3 April 2014.  
Photo : Erni Suyanti Musabine
Menunggu tim rescue berkumpul, akhirnya kami baru berangkat pukul 3 sore dari Bengkulu menuju lokasi kejadian. Saya berangkat bersama dua orang polisi kehutanan dan dua orang PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) dengan membawa dua buah kendaraan. Dua orang polisi kehutanan lainnya telah berada di lokasi untuk mengamankan harimau agar tidak hilang diambil pemburu. 

Sekitar pukul 10 malam kami baru sampai di perbatasan antara Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur. Sepanjang jalan diiringi hujan deras. Malam itu kami memutuskan untuk menumpang menginap di mess karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya yang berada di Sulau. Malam itu tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan karena hujan deras, kondisi jalan buruk, tanah merah berlumpur yang tepinya bukit dan jurang ciri khas jalan di pedalaman Sumatera.

Saya mencoba mencari informasi dari karyawan dan salah satu pimpinan perusahaan perkebunan sawit PT. Dinamika Selaras Jaya yang ada di mess tersebut untuk mengetahui kronologis harimau yang terjerat di sekitar lokasi mereka. Sebelumnya dalam perjalanan saya sudah mendapat informasi awal bahwa ada harimau lain yang menunggu harimau terjerat tersebut. Membuat saya sepanjang perjalanan berpikir keras bagaimana cara yang aman membius harimau terjerat bila ada harimau lain didekatnya. Lagi-lagi saya mendapatkan informasi terbaru yang mengejutkan bahwa kayu pengikat jerat harimau telah patah dan harimau telah berjalan-jalan dan berpindah tempat. Saya demam lagi dan batuk malam itu sehingga tidur lebih dulu sedangkan lainnya masih berbincang-bincang di teras rumah. Karena perempuan sendiri saya mendapat fasilitas untuk tidur di dalam kamar sedangkan lainnya tidur di ruang tamu. Saat memejamkan mata saya pun masih memikirkan bagaimana cara yang aman untuk membius harimau yang jeratnya sudah terlepas dari kayu pancang dan harimau lainnya ada di dekatnya, sedangkan saya tidak membawa senapan bius, yang kami bawa hanyalah sumpit bius.


Kamis, 3 April 2014

Pagi itu setelah selesai memeriksa peralatan dan obat-obatan serta membuat daftar dosis obat-obatan yang akan digunakan untuk rescue harimau, kami segera berangkat menuju mess karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya Divisi 1 yang ada di lokasi perkebunan sawit dan lokasinya terdekat dari lokasi harimau terjerat. Disana ada tim Tata Batas HGU dari Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu yang menemukan harimau terjerat tersebut serta polisi kehutanan Seksi Wilayah II KSDA Bengkulu yang ditugaskan untuk mengamankan lokasi harimau sebelum kami datang. Sejauh mata memandang terlihat perkebunan sawit masyarakat dan perusahaan, juga masih terlihat daerah yang masih berhutan. Menurut keterangan mereka bahwa masih sering terlihat juga harimau berkeliaran di areal HGU perusahaan sawit tersebut.  Saya sibuk mengamati sekitar di sepanjang perjalanan, tampak perbukitan terjal yang telah gundul dan telah diganti dengan tanaman sawit yang baru tanam. Juga tampak jurang yang dalam disisi lainnya dari jalan yang kami lalui yang berliku-liku dan naik turun. Akhirnya sekitar pukul 9 pagi kami sampai di mess karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya yang termasuk wilayah administratif Desa Beriang Tinggi, Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Saya pun berusaha mencari informasi dari orang-orang yang menemukan harimau terjerat itu serta mencari perkembangan informasi terkini tentang kondisi harimau. Dan saya mendapat informasi bahwa harimau sudah berpindah tempat dan masuk ke semak belukar dan tak terlihat lagi, sambil melihat photo dan video yang mereka rekam di handphone tentang kondisi sekitar harimau terjerat. Lokasinya telah berubah dengan sehari sebelumnya yang masih terjerat di pinggir jalan. Lagi-lagi membuat saya berpikir untuk kesekian kalinya bagaimana mencari harimau tersebut dengan aman dan bisa membiusnya bila dia berada di belukar yang lebat dan tak terlihat. Sejak harimau sudah berjalan-jalan karena kayu pengikat jeratnya patah, mereka belum berani memeriksa kondisi harimau, mereka memilih menunggu kami datang.

Tim rescue harimau dari BKSDA Bengkulu yang diturunkan ke lokasi hanya 5 orang termasuk saya sendiri, dua orang polhut dan dua orang PEH, dan ditambah dua orang polisi kehutanan (polhut) dari resort setempat untuk survey dan mengamankan lokasi harimau terjerat. PT. Dinamika Selaras Jaya juga menurunkan dua orang Brimob yang bekerja di perusahaan tersebut serta beberapa karyawannya untuk membantu rescue harimau. Selain itu tim Tata Batas Dinas Kehutanan juga turut serta ke lokasi, juga wartawan setempat. Dengan banyaknya orang yang ingin ikut serta dalam rescue harimau bagi saya pribadi ini justru bisa menimbulkan permasalahan baru saat rescue, maka saya mengajak mereka untuk briefing terlebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi kejadian, mengingat kami sebagai tim rescue tidak hanya punya tanggung jawab menjaga keselamatan harimau tetapi juga menjaga keselamatan tim. Saya sendiri yang memimpin briefing dan menentukan tugas masing-masing orang. Saya ambil alih koordinasi daripada saya nantinya kesulitan saat melakukan rescue karena banyaknya orang yang ikut serta. Saya tentukan bahwa yang bisa mendekat ke lokasi harimau hanyalah 5 orang, yakni saya sendiri sebagai petugas yang akan melakukan pembiusan dan seorang anggota tim rescue BKSDA yang membantu saya dan membantu dokumentasi kegiatan, seorang polisi kehutanan yang bersenjata yang akan bertugas mengamankan kami bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan dua orang karyawan PT. Dinamika Selaras Jaya sebagai sopir John Deere dan penunjuk lokasi harimau terakhir kali ditemukan. Sedangkan lainnya tidak diperbolehkan ikut ke lokasi selama proses pembiusan dan harus menunggu di tempat yang telah ditentukan, yang tak terlihat dari lokasi harimau dan baru bisa mendekat setelah saya menyatakan bahwa harimau telah benar-benar terbius dan aman untuk didekati. Sedangkan petugas bersenjata lainnya baik dari polisi kehutanan maupun Brimob diminta untuk mengamankan orang-orang yang ikut serta dalam rescue ini bila harimau lainnya masih di sekitar lokasi kejadian. Saya membutuhkan alat berat John Deere, tidak hanya sebagai alat untuk mengangkut kandang angkut tetapi juga bisa kami pakai untuk mengamankan diri, sebagai pelindung bila harimau meloncat ke arah kami saat akan melakukan pembiusan, mengingat tidak ada pohon besar untuk bersembunyi menurut keterangan orang-orang yang tahu kondisi lokasi kejadian.

Kami pun berangkat, ada yang naik John Deere dan ada yang mengendarai trail. Mendekati lokasi semua orang dilarang bicara dan berisik, suasana harus tetap tenang. Bahkan saya meminta orang-orang untuk mematikan HP. Sambil John Deere berjalan pelan, kami berlima memeriksa kiri kanan jalan yang kami lalui, semak belukar terlalu lebat sehingga kesulitan mencari keberadaan harimau. Dipinggir jalan akhirnya kami menemukan kayu bekas pengikat jerat yang telah patah dan tergeletak di pinggir jalan di tepi hutan, namun tak terlihat ada kawat sling disana, berarti sling masih terikat di kaki harimau tersebut dan dibawa berjalan-jalan. Kami meminta John Deere mendekati kayu tersebut dan berhenti di tempat itu, namun sepertinya sopirnya ketakutan dan bilang, "Bu, Bapak yang bersenjata tadi ada dimana ?" "Tenang aja, pak. Dia ada dibelakang kita", saya berusaha untuk menenangkannya. Kami mencium bau harimau di sekitar sana namun harimaunya tak terlihat. Penunjuk jalan kami akhirnya melihatnya dan bilang, "Itu bangkainya, dia sudah mati", sambil menunjuk semak-semak di sebelah kanan kami. Membuat saya dan polhut turun mendekat dan mengamati dibalik semak belukar, kami melihat loreng harimau pada tubuh bagian belakang dan ekornya, kepalanya tak terlihat, dia tidak bergerak serta tercium bau bangkai yang membusuk, juga terlihat sudah banyak lalat disana. Kami masih berpikir, harimau itu sudah mati atau sedang tidur karena diam dan tak ada bagian tubuhnya yang bergerak ?! Tiba-tiba merasa lega setelah melihat ekornya bergerak, tak lama kemudian diikuti suara raungan keras dan loncatan ke arah kami, membuat kami langsung spontan menghindar dan naik keatas John Deere, diikuti loncatan-loncatan harimau berikutnya karena melihat kehadiran kami. Dari situ kami mengetahui kemampuan dia menyerang sejauh mana, sepertinya jerat di kakinya tersangkut, karena bila tidak maka loncatannya akan mencapai lokasi kami berada. Beberapa kali meloncat ke arah kami membuat jerat sling di kakinya jangkauannya semakin pendek karena membelit disana sini. Itu waktu yang tepat untuk melakukan sumpit bius. Setelah mengamati kondisinya dan melakukan estimasi berat badan, saya segera menyiapkan obat bius di atas John Deere dan turun lagi guna melakukan pembiusan dengan seorang teman. Setiap akan melakukan pembiusan saya juga mempersiapkan bius cadangan yang akan digunakan bila pembiusan pertama tidak tepat sasaran. Lokasi yang rimbun dengan belukar dan harimau yang waspada dan terus melihat kearah kami jelas mempersulit pembiusan. Mencari alternatif untuk bisa melakukan pembiusan dari sisi belakang harimau tetapi sulit untuk dilakukan karena belakang harimau adalah jurang yang dalam dan tidak bisa dilewati, pembiusan hanya bisa dilakukan dari depan atau samping kiri harimau, namun terhalang belukar. Akhirnya memakai strategi lama, yakni satu orang dijadikan umpan untuk menarik perhatian harimau dan membuat harimau berpindah posisi yang bisa terlihat dengan jelas, dan akhirnya baru berhasil disumpit bius. Karena blowsyringe yang saya miliki hanya berkapasitas 3ml maka sumpit bius dilakukan dua kali. Sulit untuk bisa melihat apakah obat bius masuk dengan sempurna apa tidak. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit harimau sudah tidak meraung-raung lagi, dan mulai tenang, untuk mengamati pupil matanya saya menggunakan zoom camera saya, karena memang tidak membawa binocular/ teropong, terlihat harimau sudah mulai mengantuk dan menjatuhkan kepalanya.

Tiba-tiba orang-orang dari tim lainnya yang saya minta untuk menunggu malah datang ke lokasi untuk memotret harimau tersebut, tentu itu mengganggu pekerjaan saya karena saat harimau belum terbius sempurna mereka datang, akhirnya saya meminta polhut untuk mengarahkan mereka agar menjauh dan tidak berisik, namun masih ada juga yang bandel dan tidak mau diatur, hanya karena ingin memotret harimau dari dekat tapi tidak mau mengikuti prosedur. Ya begitulah tantangan bekerja di lapangan dengan menghadapi banyak orang. Suara berisik dan banyak orang di sekitarnya bisa membuat harimau stress dan sulit tertidur/ terbius. Untuk itu butuh suara tenang disekitarnya selama proses pembiusan dan saat membangunkannya kembali.

Rescue harimau sumatera dari jerat pemburu di Kaur, Bengkulu
Setelah memastikan bahwa harimau telah terbius akhirnya saya mendekati harimau, menutup telinga dan matanya, kepalanya masih bergerak saat itu. Saya periksa syringe bius satu persatu, ternyata hanya satu syringe yang masuk sempurna lainnya obat tidak masuk. Pada saat itu orang-orang mendekati harimau dan saya berteriak, "jangan mendekat dulu, obat bius belum masuk semua". Spontan orang-orang pada menjauh kembali. Dosis sisanya saya suntikan handinject. Setelah polhut memutus tali sling kemudian harimau diangkat dan diletakkan di tempat yang teduh untuk diberikan pengobatan sementara, yakni pembersihan luka bekas jerat, pemberian antiseptik dan salep antibiotik, terapi cairan, pengobatan berupa injeksi antibiotik, antiinflamasi dan analgesik serta pemberian anti parasit karena ektoparasitnya banyak sekali. Selain itu juga dilakukan monitoring vital sign, yakni monitoring temperatur tubuh, detak jantung dan pulsus serta frekuensi nafas per 5-10 menit secara rutin. Selain itu juga dilakukan morfometri dan pemeriksaan fisik. Baru setelah akan bangun kembali baru kami masukkan kedalam kandang angkut.


Setiap evakuasi harimau, saya lebih memilih memegang bagian kepala, karena bila orang lain yang mengangkatnya, saat harimau mengangkat kepalanya menjelang sadar kembali kadang membuat orang takut dan menjatuhkannya. Tidak hanya itu, dengan memegang bagian kepala saya juga bisa mengawasi bila ada orang-orang usil yang ingin mencabut kumis harimau. Seperti saat itu, ada orang yang ikut memegang bagian kepala tiba-tiba mencabut kumis harimau, tentu membuat saya marah dan membentaknya.

Setelah dimasukkan ke dalam kandang angkut yang ditutup dengan daun-daunan, kondisi harimau sudah harus stabil baik detak jantung, pernafasan maupun suhu tubuh. Dan setelah sadar kembali dan bisa pindah posisi baru direkomendasikan untuk ditranslokasi. Karena pengangkutan harimau dalam kondisi belum sadar dari pembiusan akan sangat berbahaya karena akan sulit dikontrol kondisinya dan bila terjadi efek samping yang buruk dari pembiusan akan sulit diketahui dengan cepat sehingga tidak bisa mendapatan penanganan yang cepat pula untuk menormalkan kembali.


Kandang angkut yang telah berisi harimau diangkut lagi oleh John Deere, kemudian kandang angkut dipindahkan ke dalam mobil BKSDA Bengkulu. Siang itu sangat panas, sehingga sepanjang perjalanan harimau diberi minum dan disemprot air. Saat perjalanan keluar dari lokasi harimau terjerat saya memilih duduk di papan kayu yang berada di depan John Deere ternyata mengasyikan berada di depan sendiri saat melalui jalan buruk naik turun.

Saat harimau akan dibawa ke BKSDA Bengkulu, diperjalanan sudah menunggu banyak orang. Pertama kali yang kami jumpai adalah Camat dan Kapolsek Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur beserta rombongannya. Yang lebih mengejutkan lagi, mendekati jalan raya telah berderet orang bersepeda motor, truk dan beberapa mobil berhenti dan menunggu hanya ingin melihat dan memomtret harimau yang telah kami evakuasi. Harimau sejak dulu selalu menarik perhatian orang untuk dilihat. Untuk itu dalam pengangkutan harimau sebaiknya kandang ditutup agar harimau tidak stress bila melihat banyak orang. Stress membuat harimau terluka karena menabrak kandang.

Tiba di kantor BKSDA Bengkulu sekitar pukul 22.30 malam. Harimau langsung dipindahkan ke dalam kandang perawatan yang telah dipersiapkan dan diletakkan di tempat yang terisolasi. Tempat ideal untuk perawatan harimau liar harus terisolasi untuk mengurangi kontak antara manusia dengan harimau yang memicu stress dan luka traumatis.  Harimau liar sering meloncat dan menabrak jeruji kandang bila melihat orang yang mendekati kandangnya.

Menunggu kondisi harimau tenang kembali setelah stress karena penangkapan dan transportasi untuk penanganan lebih lanjut. Selanjutnya akan dilakukan operasi amputasi empat jari pada kaki depan sebelah kanan yang terkena jerat pemburu, karena kondisinya sudah tidak ada vascularisasi dan sudah nekrosis (mengalami kematian jaringan) dan membusuk akibat jerat sling. Bila tidak cepat dilakukan amputasi dikhawatirkan terjadi infeksi sekunder yang lebih serius dan bisa membahayakan nyawa harimau itu sendiri.

Selasa, 14 Januari 2014

Pemasangan Microchip pada Harimau Sumatera di Taman Satwa Taru Jurug


Taman Satwa Taru Jurug atau lebih dikenal dengan sebutan Kebun Binatang Jurug di Solo, Jawa Tengah merupakan tempat wisata di kota Solo, yang berlokasi di timur Kota Solo dekat perbatasan dengan Karanganyar. Kebun binatang ini terletak di tepian Sungai Bengawan Solo dan berbatasan dengan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). 


Lokasinya bisa anda lihat pada peta di bawah ini :

Taman Satwa Taru Jurug Solo (Solo Zoo) - Jawa Tengah. Sumber : Google Earth

Saya mengunjungi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) sejak tahun 2013 lalu bersama Tim Ape Warrior - Centre for Orangutan Protection (COP). Kebetulan COP telah banyak membantu untuk perbaikan kesejahteraan orangutan di TSTJ dengan pembuatan environmental enrichment  bagi orangutan dan primata lainnya serta membantu pembangunan klinik dan karantina disana. Pada kesempatan kunjungan pertama, saya bersama COP yang pada saat itu diwakili oleh Hardi Baktiantoro dan Daniek Hendarto, kami mendapat kesempatan berdiskusi langsung dengan pengelolanya dan menyampaikan kesediaan untuk membantu secara sukarela hal-hal yang berhubungan dengan captive wildlife management terutama manajemen kesehatan satwa liar, diantaranya tentang pembuatan laporan medis, pemeriksaan parasitologi, prosedur pemeriksaan kesehatan satwa, prosedur pembiusan satwa liar,  cara pengisian worksheet immobilization, morfometri untuk primata, harimau dan gajah, serta pelatihan dokter hewan setempat dalam pembiusan satwa liar untuk berbagai keperluan seperti pemeriksaan medis, pemasangan microchip dan pengobatan. Bisa membantu satwa liar untuk memperbaiki kesejahteraannya dan membantu orang-orang yang bekerja untuk satwa liar terutama yang berhubungan dengan penanganan medis satwa liar adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya meskipun semua dilakukan secara sukarela.  Bagi saya bekerja tidak selalu untuk mencari dan mendapatkan uang, karena uang bukanlah tolak ukur sumber kebahagiaan seseorang, tetapi bekerja juga untuk mencari kepuasan batin dengan berbuat sesuatu untuk satwa liar dimanapun berada sesuai dengan profesi kita.

Mungkin tidak semua orang menyukai kebun binatang, begitu juga dengan saya sendiri ikut membantu kebun binatang bukan berarti saya menyetujui satwa liar berada dalam kurungan.  Tapi bukan berarti kita menjadi tidak peduli terhadap mereka yang ada di kebun binatang dan tempat lain sejenisnya. Karena mereka semua ada disana bukan atas kemauan mereka sendiri tetapi karena manusia. Bila ada satwa liar penghuni kebun binatang kondisinya buruk, itupun juga bukan keinginan mereka tetapi perilaku manusialah yang membuat mereka menjadi korban karena hidup mereka tergantung pada manusia yang mengelolanya. Dan bagi saya sendiri saya tidak tertarik untuk ikut campur dalam mengkritik kebun binatang yang fasilitasnya buruk dalam merawat satwa liarnya, karena dengan hanya mengkritik saja tidak akan bisa membuat kondisi menjadi lebih baik, saya dan teman-teman lebih menyukai terjun langsung ke lapangan melihat permasalahan dan membantu sesuai dengan kemampuan untuk memperbaiki keadaan, semua dilakukan hanya demi satwa liar.

Sampai dengan awal tahun 2014 ini sudah lebih dari lima kali saya mengunjungi TSTJ Solo. Kebetulan TSTJ mempunyai program kerja untuk pemasangan microchip pada satwa koleksinya, dan dokter hewan disana meminta bantuan untuk pembiusan satwa terutama orangutan dan harimau sumatera guna keperluan pemeriksaan kesehatan dan pemasangan  microchip.  Akhir tahun lalu kami telah memberikan training untuk dokter hewan setempat dan relawan mahasiswa Kedokteran Hewan UGM tentang prosedur pembiusan orangutan, dan bulan Januari 2014 ini pada harimau sumatera. 

Harimau Sumatera bernama Septi di TSTJ Solo. Photo : Erni Suyanti Musabine

Kegiatan ini dibantu oleh Centre for Orangutan Protection (COP) yang menurunkan tiga timnya sekaligus yakni Ape Warrior, Ape Crusader dan Ape Defender serta melibatkan relawan COP. Pagi itu tanggal 14 Januari 2014 pukul 06.00 WIB kami telah bersiap-siap berangkat dari kantor Ape Warrior di Yogyakarta menuju TSTJ Solo, Jawa Tengah, saat itu saya ditemani oleh staff COP yakni Wawan, Ramadhani, Reza serta volunteer COP yakni Weti dan Elizabeth Laksmi. Sebelumnya saya masih menunggu peralatan medis dan obat-obatan milik saya pribadi untuk keperluan pembiusan satwa liar dikirimkan dari Bengkulu ke Yogyakarta.  Karena paket telah sampai kami pun siap beraksi.

Seperti biasa sebelum melakukan pembiusan satwa liar, saya melakukan check list obat-obatan baik obat bius yang akan digunakan maupun obat-obatan untuk keperluan emergency selama pembiusan, dan mengecek peratan pembiusan, masih berfungsi dengan baik atau tidak, tak lupa kami juga melakukan sterilisasi peralatan pembiusan terlebih dahulu.  Peralatan pembiusan yang tidak steril bisa berakibat buruk bagi satwa liar.  Juga menyarankan kepada dokter hewan setempat agar harimau tersebut dipuasakan terlebih dahulu.


Harimau Sumatera 'Septi'
Juga dilakukan pembagian tugas, ada yang bertugas melakukan sumpit bius, recorder, melakukan pengukuran tubuh harimau (morfometri) sesuai dengan panduan yang ada, melakukan monitoring vital signs selama pembiusan, koleksi sampel, pemasangan microchip, pemeriksaan fisik harimau, penyuntikan antidote dan obat-obatan lain yang diperlukan, petugas dokumentasi baik photo maupun video dan lainnya. Dengan pembagian tugas membuat orang yang bekerja sudah mengetahui tugasnya masing-masing dengan jelas, sehingga diharapkan semua bisa berjalan dengan lancar.


Dalam kegiatan ini kami juga tekankan agar setiap orang memahami prosedur pembiusan satwa liar, seperti harus dalam suasana tenang atau tidak ramai sehingga satwa tidak menjadi stress, gelisah, waspada, bahkan agresif sebelum dibius karena akan mempengaruhi respon obat bius terhadap satwa. Pemilihan waktu yang tepat untuk pembiusan. Menyiapkan peralatan dan obat-obatan emergency sebelum pembiusan dilakukan untuk penanganan efek samping yang buruk karena pembiusan bila itu terjadi. Kata-kata yang selalu saya ingat setiap saya akan melakukan pembiusan satwa liar adalah "The best way to handle anaesthetic emergencies is to predict the next problem and be ready before It happens !!!" Dan kata-kata itu seolah-olah sudah melekat erat di pikiranku.  Itu juga yang membuat saya lebih baik menunda pekerjaan bila peralatan dan obat-obatan yang dibutuhkan untuk pembiusan satwa liar belum lengkap sesuai dengan kebutuhan.

Pembiusan Harimau Sumatera bernama Septi di TSTJ Solo. 
Sumber Photo : Centre for Orangutan Protection

Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, dan kami harus mulai bekerja karena bila terlalu siang suhu lingkungan akan panas dan bisa berpengaruh terhadap suhu tubuh harimau menjadi hyperthermia selama terbius. Yang menjadi target hari itu adalah harimau sumatera bernama Septi, berusia 9 tahun, yang lahir di TSTJ Solo. Selesai menyiapkan obat-obatan bersama dokter hewan TSTJ, Drh. Tiara Debby Carinda, kami melakukan pembiusan. Pilihan obat yang digunakan adalah kombinasi antara Xylazine dan Ketamine. Pembiusan yang dilakukan hanya selama 1 jam 17 menit saja untuk keperluan pemasangan microchip, pemeriksaan fisik, pengukuran tubuh, photo gigi dan loreng serta pengambilan sampel darah.  Hasil monitoring vital signs, temperatur tubuh normal berkisar 36,8C; frekuensi detak jantung dan pulsus adalah 84-86X per menit; frekuensi pernafasan 7-40X per menit, selama 3 kali pemeriksaan terjadi penurunan frekuensi nafas yakni 7-8X per menit kemudian normal kembali. Monitoring vital signs dilakukan setiap 5-10 menit sekali selama pembiusan. Semua berjalan dengan baik sampai harimau dibangunkan kembali dengan penyuntikan antidote.

Observasi harimau tidak hanya dilakukan selama pembiusan tetapi juga pada saat satwa akan sadar kembali karena itu juga merupakan waktu rawan terjadinya efek samping yang buruk. Masih ada empat ekor lagi harimau sumatera di TSTJ Solo yang juga akan dilakukan pemasagan microchip. Berharap kegiatan hari itu akan bermanfaat bagi dokter hewan setempat dan keeper harimau bila akan melakukan pembiusan untuk keperluan apapun, tidak hanya pemasangan microchip tetapi juga untuk pemeriksaan kesehatan, pengambilan sampel dan pengobatan. Mengingat TSTJ Solo tidak memiliki kandang jepit untuk keperluan tindakan medis.