Kamis, 16 April 2015

Aku dan Tempat Baruku


Saat merawat bayi gajah yang mengalami traumatis, malnutrisi
karena hilang nafsu makan akibat stress kehilangan induk 

dan kelompoknya di Pusat Konservasi Gajah Seblat 
Tahun 2011 - 2012
14 April 2015, Pertama kalinya saya menempati kantor baru di Kabupaten Rejang Lebong setelah dimutasi dari Pusat Konservsai Gajah Seblat. Dari jabatan dokter hewan praktisi berganti menjadi petugas Pengolah Bahan Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar di salah satu kantor seksi, saya sendiri kurang paham apa arti dan tugas dari jabatan ini. Karena fokus dan pengalaman profesional saya selama sepuluh tahun lebih dalam hal yang perhubungan dengan medik konservasi, karena latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya selama ini adalah field practitioners di bidang medik konservasi. Di kantor baru saya yang sepi dan terkesan mati tanpa ada aktivitas yang berarti membuatku menjadi merasa tidak berguna karena memang tidak ada hal penting yang bisa dikerjakan disana kecuali mengobrol dan mengisi absensi atau menyibukkan diri sendiri di depan komputerku. Bekerja bagi saya tidak hanya cukup dengan hadir sepanjang hari tanpa aktivitas dan mengisi absensi lengkap dari awal bulan sampai akhir bulan, namun harus ada yang dihasilkan bagi konservasi satwa liar dan biodiversity lainnya sesuai dengan nama tempat saya bekerja dan juga merupakan amanah dalam pekerjaan yakni 'Konservasi Sumber Daya Alam', bagi saya itulah dasar pekerjaan yang harus dicapai. Dengan gaji yang diterima setiap bulan dengan absensi penuh belum tentu membuatku puas bila target pekerjaan tidak tercapai. Kedengarannya sok idealis, tapi faktanya bagi orang-orang praktisi lapangan hasil kerja sesuai bidangnya masing-masing yang menjadi indikator dan bukan selembar kertas yang penuh dengan tanda-tangan kita yang disebut absensi. Sedangkan di tempat saya bekerja, absensi adalah tolak ukur bahwa seseorang itu telah bekerja dengan baik atau tidak tanpa peduli kita bekerja atau tidak, juga tanpa peduli pekerjaan yang dilakukan itu ada hasilnya atau tidak. 

Operasi amputasi harimau sumatera 
yang terkena jerat pemburu liar
Ada untungnya menjadi orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru meski bertolak belakang sekalipun. Jadi positive thinking saja, mungkin mereka tahu saya hobby travelling sehingga untuk absensi saja saya harus menempuh perjalanan 3 jam ke kabupaten lainnya, dan meski orang telah menjauhkan saya dari profesi saya yang sebenarnya tentu panggilan hati untuk menolong satwa liar yang membutuhkan akan terus dilakukan, membuat saya harus hilir-mudik antara absensi dan merawat pasien di lokasi yang berbeda kabupaten dan tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk perjalanan itu. Lagi-lagi harus positive thinking, bukankah selama ini saya suka menjadi relawan untuk satwa liar dan hidup mandiri baik untuk kehidupan sehari-hari maupun mandiri dalam bekerja, artinya tanpa fasilitas apapun yang diberikan untuk menunjang pekerjaan, sungguh bertolak belakang dengan yang lainnya dengan mudahnya mendapatkan fasilitas ini itu, tapi saya tidak boleh iri. Ya, 'keterbatasan jangan sampai melemahkan semangat untuk bisa membantu satwa liar', itu prinsip yang musti selalu saya ingat.

Pusat Konservasi Gajah Seblat - Bengkulu
Kadangkala saya sering berkhayal, apakah saya telah salah dalam memilih pekerjaan ? Gaji yang tergolong sedikit namun pikiran dan waktu saya terkuras habis, profesi saya dipandang sebelah mata, tidak adanya penghargaan dan dukungan, sulitnya untuk mengembangkan diri dan mendapat kesempatan belajar secara berkelanjutan bahkan untuk belajar kadang harus sembunyi-sembunyi, konyol sekali memang, harus bekerja keras dan lebih keras lagi untuk dapat membuat satwa liar yang memerlukan pertolongan agar lebih sejahtera, sudah lama saya mengesampingkan hidup saya sendiri untuk totalitas bagi pekerjaan ini, membantu mereka mengurus satwa liarnya. Lagi-lagi saya berpikir, apakah saya telah melakukan kesalahan dalam menentukan hidup saya dengan memilih pekerjaan di tempat ini ? Sebagai manusia biasa kadang saya merasa sedih, lelah dengan semua itu dan hilang semangat apalagi bila tak ada dukungan untuk satwa liar dari pihak otoritas. Kadang ingin menyerah saja, dan meninggalkan tempat ini untuk membantu satwa liar lainnya di tempat lain yang membutuhkan tenaga saya seperti bergabung dengan Non-Government Organization yang bergerak di bidang konservasi satwa liar seperti dulu sebelum saya pindah ketempat ini. Tentu bekerja bersama orang-orang yang tak perlu diragukan lagi perhatiannya terhadap satwa liar dan habitatnya akan membuat lebih nyaman, dan saya pun tak perlu lagi dipusingkan untuk mencari dukungan  bagi kelangsungan hidup satwa serta kesejahteraannya selama perawatan. Karena semua itu sudah ada yang memikirkan, dan tinggal bekerja dengan nyaman dan tenang untuk urusan medis saja tanpa dibebani permasalahan lainnya. Tentu di tempat seperti itu saya juga tidak akan mengalami kecurangan - kecurangan lagi yang tidak bisa ditoleransi berhubungan dengan medik konservasi dan otoritas medis oleh pihak-pihak tertentu.     

Harimau sumatera bernama Dara setelah diselamatkan 
dari jerat pemburu liar di Provinsi Bengkulu
Namun, banyak pihak yang membuat saya bertahan, dan terus bertahan hingga kini. Para kolega senior di Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, teman-teman praktisi lapangan dan peneliti untuk konservasi harimau mengatakan, "Kamu jangan pergi dari sana", dan yang pasti pasien-pasien saya yang selama ini kami rawat, melihat kondisi mereka, raungannya dan tatapan matanya tentu sangat berat hati untuk meninggalkannya hanya demi keegoisan pribadi lari dari ketidaknyamanan. Mungkin ini sudah jalan Tuhan, satwa liar itu tak berdosa, mereka menderita karena ulah manusia, dan memang saya harus bisa bertahan di tempat ini untuk mereka, dan menikmati setiap hal yang terjadi tanpa pustus asa. Jabatan itu hanyalah tulisan diatas kertas, yang terpenting adalah tetap mengabdikan diri agar setiap waktu yang kita miliki bermanfaat bagi lingkungan sekitar sesuai dengan kemampuan serta latar belakang pengetahuan dan ketrampilan masing-masing.

2 komentar: