Sabtu, 14 Maret 2015

Trekking di Daerah Jelajah Harimau Sumatera


Jumat, 13 Maret 2015

Tim Rescue Harimau sudah kembali ke Kota Bengkulu namun aku memutuskan untuk tetap tinggal di desa itu selama beberapa hari. Setiap kali bekerja seperti ini aku seperti melakukan wisata alam yang menyenangkan, selalu membuatku bersemangat apalagi bekerja untuk kucing besar yang satu ini.

Pagi itu aku merencanakan untuk trekking ke lokasi-lokasi dimana harimau berada dan mengikuti jalur jelajahnya, berharap akan menemukan tanda-tanda keberadaan satwa predator ini. Semalam aku memutuskan menginap di rumah Kepala Desa, dan paginya dijemput oleh Sekretaris Desa, yakni orang lokal yang akan menemaniku jalan-jalan ke hutan mencari tanda-tanda keberadaan harimau di sekitar desa itu.


Sehari sebelumnya aku bersama tim rescue telah melakukan pemeriksaan TKP (Tempat Kejadian Perkara) harimau yang terjerat perangkap pemburu liar, namun harimau telah hilang. Kepala Desa dan beberapa warga berkeyakinan bahwa harimau tersebut lepas dengan sendirinya, sedangkan kami 'Tim Rescue' berpendapat lain, hasil dari cek TKP menunjukkan bahwa kemungkinan besar harimau sudah dibunuh dan dibawa oleh pemburu. Kami menemukan 9 jerat harimau yang sudah tidak aktif dan bekas kayu pancang yang dipotong dengan senjata tajam dan semua tali sling sudah tidak ada, serta bau busuk dari lokasi-lokasi bekas satwa umpan. Setelah aku bertanya kepada warga desa apakah ada diantara mereka yang merusak jerat-jerat itu ? Mereka bilang, "Tidak ada". Ini artinya orang lain yang melakukannya. Tetapi untuk meyakinkan mereka maka aku harus melakukan pengecekan di daerah sekitarnya untuk menemukan tanda-tanda keberadaan harimau bila itu memang ada, karena menurut pengakuan beberapa warga desa selama tiga malam berturut-turut sejak ditemukan harimau terjerat oleh pencari ikan di Sungai Simpur terdengar suara raungan harimau di sekitar rumah warga dan kebun karet mereka, bahkan ada yang bertemu langsung di sekitar kandang sapi. 

Setelah mengumpulkan banyak informasi dimana warga melihat harimau melintas dan mendengar raungannya maka aku berniat untuk mendatangi tempat-tempat itu serta ingin memeriksa lokasi-lokasi yang selama ini menjadi jalur jelajah mereka. Pukul 09.00 WIB setelah sarapan pagi bersama Ibu Kades (Kepala Desa) dan Ibu Sekdes (Sekretaris Desa), aku bersiap-siap pergi bersama Pak Sekdes. Hari itu aku akan pindah tempat menginap, yakni di rumah seorang nenek yang hidup sendirian dan kebun sekitarnya merupakan tempat perlintasan harimau sumatera. Seorang wanita di desa itu mengatakan bahwa aku memilih tempat menginap yang strategis untuk bisa mendengar suara raungan harimau atau melihatnya melintas di malam hari bila dia sedang lewat di sekitar pemukiman itu seperti malam-malam sebelumnya.  Selain itu aku juga ada janji untuk bertemu teman-teman dari salah satu LSM international yang bekerja untuk konservasi harimau disana esok harinya. Sesampainya di rumah itu, aku letakkan rangselku di kamar bagian depan, kemudian berangkat untuk memeriksa jalur jelajah harimau dengan berjalan kaki. Orang lokal (Sekdes) yang mengantarku berjalan lebih dulu dan aku mengikuti dibelakangnya karena dia yang lebih tahu lokasi disana. Tempat yang pertama kali kami datangi adalah kebun karet warga, disitulah malam sebelumnya terdengar suara raungan harimau, namun kami tidak menemukan tanda-tanda apapun. Untuk memeriksa kebun karet tersebut kami berjalan seperti naik turun bukit, nafasku berat sehingga aku mulai berusaha untuk mengatur nafas agar tidak cepat capek, menarik nafas panjang, menahannya dan mengeluarkannya pelan-pelan, begitu seterusnya yang kulakukan, seperti olahraga Yoga saja. Namun itu juga yang selalu aku lakukan bila mendaki gunung mencegah aku bernafas tidak teratur (ngos-ngosan) karena bisa membuat cepat capek saat berjalan menanjak. Setelah lama mengatur nafas akhirnya aku bisa bernafas teratur dengan sendirinya. Bagiku itu penting untuk menjaga stamina agar tidak mudah kecapekan dengan mengatur pernafasan. 

Beberapa kebun karet yang kami periksa tidak ada tanda-tanda ada harimau yang baru melintas disana, yang banyak terlihat malah jejak babi hutan (celeng), dan kami juga bertemu dengan orang lokal yang sedang bekerja di kebun dan memberi informasi di jalan setapak mana saja harimau sering terlihat melewatinya, akhirnya kami mengikutinya. Entah berapa kali kami harus berjalan menanjak dan menurun, aku tak sanggup menghitungnya, aku hanya fokus dengan apa yang sedang kucari dan juga menjaga nafasku tetap teratur agar tidak mudah lelah. Saat berhenti sambil memeriksa jalan setapak dan sekitarnya, kuteguk air mineral dalam botol sedikit demi sedikit dan menahannya di dalam mulut untuk merasakan kesegarannya disaat hari sangat panas, kemudian baru menelannya. Keringatku sudah banyak mengucur sehingga aku perlu mengimbanginya dengan minum air putih.

Dari kebun karet kami menuju kebun sawit milik warga, saat ditengah perjalanan hidungku mencium bau yang tak asing lagi bagiku. Meski hidungku sedang pilek tetapi aku masih bisa mencium baunya. Kata-kataku membuat orang lokal yang menemaniku berhenti , "Aku mencium baunya di dekat sini, seperti bau kotorannya".  Kami kemudian menuju ke tempat yang kutunjuk dan memeriksa sekitarnya namun tidak menemukan apa-apa. Tentu sulit untuk menemukannya karena banyak semak belukar dan tumpukan daun sawit kering.

Kami berjalan melintasi jalan setapak yang sempit dengan kanan kiri semak belukar yang tingginya diatas kepalaku, aku seperti tenggelam berjalan ditengah-tengahnya. Teringat lagi saat di kabupaten lain, harimau berada di dalam semak belukar seperti itu dan tidak terlihat olehku dari jalan setapak padahal jaraknya kurang dari 2 meter dibelakangku, dan hanya seekor anjing yang mengetahui ada harimau di dalam semak sedang duduk santai dan berteduh sambil mengawasi kami yang berdiri membelakanginya. Orang lokal tersebut menghentikan lamunanku saat berkata, "Nggak apa-apa ya mbak kalau kita lewat kuburan ?" Ternyata jalan setapak yang kami lewati itu menuju areal pemakaman warga. Ternyata harimau suka lewat sini juga pikirku. "Lewat kuburan sih gak masalah pak, yang aku khawatirkan bukan itu tapi bau yang tadi aku cium, semoga dia tidak ada di dekat kita", jawabku.


Sumatran Tiger's Footprint
Keluar dari areal pemakaman, kami bertemu jalan setapak lagi yang masih basah dan becek, disekitarnya semak belukar, tak terlihat adanya kebun meskipun itu areal kebun masyarakat.  Di tengah perjalanan kami menemukan jejak harimau kemungkinan pra-dewasa dan kemungkinan dia baru lewat kemarin, arahnya berlawanan dengan arah kami berjalan, namun ada juga jejak lainnya yang searah dengan arah berjalan kami. Kami mengikuti jejaknya, di tengah perjalanan aku berhenti dan mengatakan, "pak, aku mencium baunya lagi". Orang lokal tersebut kembali bertanya, "Baunya seperti apa ?" "Ya, kayak gini nih", jawabku. Dia berusaha mengendus-ngendus seperti yang aku lakukan. Hidung kami jadi se-sensitive hidung anjing. Kami langsung memeriksa sekitar terutama kearah semak belukar dikanan dan kiri jalan setapak yang kami lalui. Rasa cemas bercampur rasa bahagia saat kami menemukan jejak kaki harimau lagi dengan ukuran berbeda, sepertinya masih kecil, masih anak-anak, berarti ada induknya juga pikirku, tapi kami belum menemukan jejak harimau yang dewasa. Jejak itu terlihat baru, sepertinya baru saja lewat jalan setapak yang kami lewati. Ada beberapa jejak kaki harimau dengan ukuran lebih besar dan terlihat baru, masih basah. Mungkin sekitar tiga kali kami mencium bau harimau lagi di tempat-tempat yang berbeda di sepanjang jalan setapak tersebut. Jalan itu menuju sungai bagian hulu, dan terlihat ada bekas pemasangan camera trap disana. Kami turun ke sungai, pemandangan sekitar sangat indah, kami beristirahat sejenak sambil menikmati hutan disekitar kami yang hijau dan sejuk, aku duduk diatas batu besar. Akhirnya kami ngobrol sejenak, "Dibelakang mbak Yanti itu harimau biasa berenang", katanya membuka percakapan. Aku langsung melihat kearah belakangku, sungai yang airnya jernih dan bersih, wajar bila harimau menyukai juga tempat ini, pikirku. Kemudian dia berkata lagi, "Hutan ini sudah ada ijin konsesi bagi perusahaan, sebentar lagi akan ditebang habis". Mendengar ceritanya membuatku berpikir bagaimana dengan nasib harimau-harimau penghuni hutan itu nantinya. Dan bagaimana nasib warga desa terdekat bila konflik dengan harimau semakin meningkat. Tentu perubahan itu akan membawa dampak yang merugikan bagi mereka. Lagi-lagi aku harus kecewa mendengar khabar buruk ini.

Kami masih harus menyeberangi sungai besar itu dengan arus deras sebelum masuk kembali kedalam hutan di seberang sungai. Aku membawa batang kayu sebagai tongkat untuk memeriksa kedalaman sungai sebelum aku melewatinya. Aku tidak membawa drybag sehingga harus berjalan hati-hati saat menyebrang agar tidak jatuh terpeleset, karena sedang membawa camera, tablet, handphone, headlamp dan lainnya yang tidak boleh terendam air. Ada 4 kali kami harus menyeberangi sungai besar di bagian hulu, dan lainnya menyeberangi sungai kecil (orang lokal menyebutnya anak sungai). Sesampainya di seberang sungai kami memasuki hutan kembali dengan melewati jalan setapak yang dibuat oleh orang logging. Kami menemukan banyak bekas orang menebang pohon disana. Bahkan di dekat sungai kami sempat bertemu dengan mereka yang juga warga desa setempat yang berjalan dari arah berlawanan sambil membawa kayu-kayu papan hasil logging di pundak mereka. Orang lokal itu mengatakan bahwa mereka mendapatkan ijin dari perusahaan pemegang konsesi untuk menebang kayu disana. "Cara teraman untuk menghabisi hutan memang dengan memanfaatkan masyarakat sekitar untuk logging, bila perusahaan yang melakukannya pasti akan banyak kritikan dari penggiat konservasi karena hutan ini merupakan tempat tinggal harimau yang masih tersisa dan satwa liar itu sudah masuk kategori Critically Endangered Species menurut IUCN, ini artinya sebentar lagi punah. Dan itu juga cara yang manjur untuk mengambil hati masyarakat sekitar karena mereka sedang ada bisnis sawit skala besar disana. Ternyata perusak hutan Indonesia yang terbesar adalah bukan orang penghuni daerah itu sendiri tetapi orang-orang dari luar daerah, orang-orang dari Jakarta yang menumpang hidup disana", pikirku. Dari mereka kami mendapat informasi bahwa ada harimau besar berjalan sambil menunjuk kearah hutan yang akan kami datangi. Mungkin itu induk harimau dari harimau anakan yang jejak kaki kecilnya kami lihat tadi, sepertinya mereka baru saja lewat. 

Eight leeches bite my foot
Hutannya sangat lembab dan basah, bisa diduga banyaknya pacet yang menggigit kaki kami. Di kaki kananku dekat tumit ada 8 pacet yang tampak kenyang menghisap darahku di tempat yang berdekatan, terlihat sangat menjijikan. Belum yang berada di dalam sepatuku, di betis, di lutut dan di paha. Namun aku tidak pedulikan, kecuali bila pacet daun yang menggigit akan terasa sakit dan gatal maka aku ingin cepat-cepat membuangnya dari kulitku. Ternyata tidak hanya pacet yang menempel di tubuhku, tetapi juga ulat bulu. Aku paling tidak menyukai hewan kecil yang satu ini karena sangat menjijikkan. Dan tidak hanya kepada pacet-pacet aku menyumbangkan darahku untuk dihisap, tetapi juga kepada nyamuk-nyamuk hutan yang begitu banyak, apalagi aku hanya memakai T-Shirt warna hitam berlengan pendek dan celana pendek.

Di dalam hutan itu lagi-lagi aku mencium bau harimau. Saat kami melintasi jalan setapak yang licin basah dan berlumut, sekitarnya semak belukar yang rimbun tiba-tiba hidungku mencium bau harimau sangat kuat, dan orang lokal yang bersamaku juga mencium bau yang sama. Dia berjalan di depanku tampak cemas, aku juga, dan menjadi semakin waspada, sepertinya baunya dekat sekali, membuatku tidak hanya memeriksa ke semak-semak di sebelah kiri dan kananku tetapi aku juga lebih sering melihat kearah belakang. Seringkali merawat harimau liar membuat hidungku menjadi terbiasa dengan bau harimau. Jalanku sudah pincang karena sebelumnya sudah terpeleset dan lutut kananku mengenai batu sehingga bengkak dan memar, tampak warna gelap lebar di lutut kananku. Disaat jalanku sedang tidak normal, aku malah mencium baunya lagi. "Pak, ada rokok ?", tanyaku. Sebelum dia menjawab aku sudah bicara lagi, "Bapak merokok saja, biar dia tahu kalau ada orang disini agar dia menghindari kita". Meski aku sangat tidak menyukai bau asap rokok atau orang merokok di dekatku tapi kali ini aku malah menyuruhnya merokok. Aku berharap bau asap rokok bisa membuat satwa predator ini menjauhi kami. Orang lokal itu menghisap rokoknya dalam-dalam dan cepat, mungkin untuk membuatnya tenang sesaat karena rasa cemas atau mungkin agar harimau itu bisa mencium baunya dan segera menghindari kami. Aku sempat memperhatikannya saat menghisap rokok, ekspresinya jelas menunjukkan rasa cemas. Dalam kondisi seperti itu untuk menyenangkan diri sendiri aku berkeyakinan bahwa harimau tidak akan melukai orang yang tidak pernah menyakitinya. Dan bagiku aku pernah membedah kepala dan mengamputasi kaki kawan-kawannya karena luka jerat yang membusuk bukan termasuk dari kategori menyakitinya tapi menolongnya, semoga mereka mengerti itu. Pikiranku ini juga mengekspresikan bahwa aku juga cemas dan sempat merinding.  Aku bertanya lagi,"Sebelah kanan kita ini jurang atau sungai dalam ?" Karena tertutup semak belukar yang rapat aku hanya bisa mengira-ngira, dan aku hanya ingin memastikan bahwa bila ada harimau tidak mungkin dari arah kanan kami, tapi mungkin kami hanya perlu mewaspadai sebelah kiri, belakang atau depan. Lama-lama kami sudah tidak mencium baunya lagi. Kami terus melanjutkan perjalanan dan masih saja baunya tercium lagi di lokasi berbeda. Dalam hati aku berkata, "Ini kami yang mengikuti harimau atau harimau yang mengikuti kami". Kami menduga bahwa harimau itu melewati jalan setapak yang kearah kanan menuju perkebunan sawit milik sebuah perusahaan yang baru ditanam, dan akhirnya kami memilih jalur jalan setapak lainnya yakni ke arah kiri menuju desa.


Entah berapa banyak bukit dan turunan yang curam yang telah kami lewati, aku tidak mempedulikannya. Badanku yang banyak keluar keringat karena perjalanan jauh dan naik turun itu sudah mulai protes kehausan sedangkan air mineral di botol minumku tinggal sedikit lagi. Dalam perjalanan orang lokal itu bertanya kepadaku,"Biasanya harimau melakukan apa bila siang-siang begini ?" Sepertinya dia masih cemas dengan bau tadi dan ingin memastikan bahwa jalan yang kami lalui aman karena kami sudah memutuskan untuk tidak mengikuti jejak harimau lagi dan kembali pulang. "Biasanya sih yang pernah kami lihat dia lebih suka berteduh dan bersantai di dalam semak belukar di hari yang panas bila tidak ada banyak pohon yang teduh disana seperti yang kami lihat di Ketahun, atau bersantai di bawah pohon atau di pinggir sungai apalagi setelah makan seperti yang pernah terlihat di Seblat, kalau harimau liar yang kami rawat dikandang perilakunya nggak jauh berbeda selesai makan, membersihkan kaki depan, mulut dan muka lalu dia tidur-tiduran mendekatkan kepalanya ke air mengalir, sepertinya dia mencari tempat yang sejuk di hari yang panas," jawabku. Saat berbicara begitu kami pun berjalan menurun menuju sungai, dalam hati berharap kata-kataku jangan sampai terbukti hari itu melihatnya bersantai di pinggir sungai yang teduh saat kami ingin pulang kembali ke desa, jangan sampai itu terjadi, melihat jejaknya yang masih baru saja sudah cukup membuat kami puas.

Akhirnya kami sampai juga di sungai besar, airnya tampak bersih dan jernih. Aku mencari tempat duduk yang nyaman di atas batu, membersihkan kaki dari pacet dan lumpur, mencuci muka dan yang pasti minum air sungai yang segar. Minum air sungai terasa tidak pernah merasa puas, meski sudah minum begitu banyak tapi aku masih ingin minum lagi dan lagi. Kami duduk lama disana sambil ngobrol, dan aku bertanya, "Adakah orang yang suka mencari ikan sungai disini ?" "Biasanya banyak mbak, mereka biasanya menginap di pinggir sungai dengan membuat pondok, tapi beberapa hari ini nggak ada yang cari ikan karena takut sejak mendengar ada harimau terjerat kemarin", jawabnya. Yang dimaksud pondok adalah tenda darurat yang terbuat dari terpal atau plastik. Aku jadi ingat lagi bahwa orang yang pertama kali menemukan harimau terjerat adalah orang pencari ikan di sungai, dan aku juga melihat bekas pondok mereka yang tinggal kayu pancang saja di seberang sungai dekat lokasi harimau terjerat. Warga desa yang mencari ikan di sungai biasanya penduduk asli dan bukan pendatang atau orang trans, sebutan untuk orang transmigrasi, karena mereka yang punya keahlian untuk itu. Saat kami melanjutkan perjalanan perutku mulai lapar dan kami tidak membawa makanan. Dari kejauhan aku melihat pemandangan menarik, warna merah menyala diantara dedaunan, setelah dekat baru aku tahu kalau itu buah jambu air. Kami berhenti sejenak dan memetiknya untuk dimakan sebelum mendapatkan makan siang yang sesungguhnya.

Seorang warga desa setempat malamnya menemuiku, dia bercerita bahwa hari itu dia juga masuk ke hutan untuk berburu burung. Namun selama di hutan kami tidak bertemu. Saat aku memutuskan pulang kembali ke desa dengan mengambil jalan kearah kiri menuju sungai, sedangkan orang desa tersebut memilih melewati jalan setapak yang ke arah kanan dimana harimau melewatinya, akhirnya disana tanpa sengaja dia menginjak perangkap/ jerat harimau yang dipasang oleh pemburu liar dan membuat kakinya tergantung di atas. Aku membayangkan bila kami tidak memutuskan kembali ke desa dan masih terus mengikuti jejak harimau itu mungkin salah satu dari kami yang akan terkena jerat pemburu. Tentu dengan kaki tergantung diatas bukanlah lelucon yang menarik. Lalu aku menanyakan, "Apakah jerat harimau itu sudah dirusak ?" Katanya, "Sudah". Jawabannya membuatku lega. Lalu aku bertanya lagi, "Apakah tali slingnya diambil ?", katanya, "Tidak". Duuh......seharusnya tali slingnya diambil juga agar tidak digunakan pemburu lagi. Sejak itu kami bersosialisasi dengan warga desa setempat saat kami berkumpul dan membahas harimau dan perburuan, berpesan untuk membersihkan jerat-jerat harimau bila menemukannya tidak hanya di hutan, di jalan setapak atau di kebun mereka untuk merusaknya dan mengambil slingnya. Tidak hanya jerat harimau tetapi juga jerat untuk satwa liar jenis lainnya. Lega sekali saat mendengar mereka akan membantu untuk itu, selama ini mereka juga telah membersihkan jerat-jerat yang dipasang oleh pemburu bila mereka menemukannya. Duh....jerat harimau ada dimana-mana dan ternyata menyebar di banyak tempat. Desa ini sudah menjadi target para pemburu liar.

Sepertinya juga ada kesalahpahaman dalam mengartikan solusi untuk harimau terjerat, hal ini sungguh membuatku sangat kecewa. Mereka tidak memahami bahwa harimau yang terjerat itu harus cepat diselamatkan dan tidak bisa menunggu waktu, karena upaya untuk menyelamatkannya beradu kecepatan dengan upaya pemburu untuk membunuh dan mengambilnya. Lebih-lebih lokasinya sangat dekat dengan sebuah desa dimana pemburu tinggal, dekat dengan jalan lintas antar desa dan ada akses jalan logging yang lebar menuju lokasi, tentu itu akan mempermudah pemburu untuk mendapatkannya. Terlambatnya laporan akan berpengaruh terhadap lambatnya petugas melepaskan harimau dari jerat pemburu. Hal yang sempat membuatku sangat marah saat ada yang mengatakan bahwa nanti kalau petugas datang harimau akan diambil. Dan dia lebih memilih akhirnya harimau diambil juga oleh pemburu, dibunuh dengan sadis dan dijual di pasar gelap daripada kami selamatkan dalam kondisi hidup dan diobati. Logikaku tentu tidak bisa menerima dan memahaminya. Kami punya prosedur dalam penanganan satwa liar korban konflik dan perburuan liar, bila harimau terkena jerat harus secepat mungkin dilepaskan untuk menghindari kematian juga menghindari kaki membusuk karena aliran darah tersumbat oleh jerat. Bila kondisi luka tidak parah tentu harimau bisa langsung dilepasliarkan kembali tanpa harus dievakuasi, namun bila luka sudah membusuk dan jaringan sudah nekrosis maka harus mendapatkan perawatan sementara untuk diamputasi jika tidak infeksinya juga akan menyebar dan meracuni tubuh sehingga menyebakan kematian pada harimau. Kejadian ini benar-benar membuatku sangat marah. Aku terdiam mendengar perkataan itu, rasa kesal dan sedih bercampur aduk, kami pun harus kehilangan dua ekor harimau yang dijerat dan dibunuh pemburu liar karena terlambat mengetahuinya.

Desa itu tampak sudah terbiasa hidup berdampingan dengan harimau karena kondisi lingkungan sekitarnya yang memaksa, semenjak hutan habitat harimau lambat-laun ditebang habis untuk memfasilitasi pengusaha pemegang ijin konsesi bagi perkebunan sawit skala besar. Dalam benakku selalu muncul pertanyaan, "Siapakah yang sebenarnya diuntungkan ? Masyarakat desa yang hidup di sekitar hutan itu? Pengusaha? Pejabat pemberi ijin konsesi? ataukah Harimau? Tidak adakah cara yang lebih bijaksana agar pembangunan ekonomi yang melibatkan pengusaha besar dari luar daerah tanpa merugikan lingkungan dan masyarakat lokal ? Apakah karena uang membutakan semuanya ? Dan mengorbankan hal lain yang seharusnya dijaga ?"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar