Tampilkan postingan dengan label Panthera tigris sumatrae. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panthera tigris sumatrae. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Maret 2016

Harimau Sumatera 'Giring' Korban Konflik dengan Manusia di Bengkulu


Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) korban konflik dengan manusia di Bengkulu. Tanggal 22 Maret 2016

GIRING, biasa kami memanggilnya, yakni seekor harimau sumatera berjenis kelamin jantan berusia 14 tahun yang kini sedang kami rawat di dalam salah satu kawasan hutan konservasi di Provinsi Bengkulu. Pada bulan Pebruari 2015, kami dari BKSDA Bengkulu telah mengevakuasinya dari perkebunan karet milik warga desa di Kabupaten Seluma karena terlibat konflik dengan manusia yang menyebabkan korban jiwa, salah satu warga meninggal dalam konflik tersebut. Perkebunan karet itu hanya berjarak beberapa meter dari areal HGU Perusahaan Sawit yang sudah land clearing, dan juga berbatasan langsung dengan Kawasan Konservasi Taman Buru Semidang Bukit Kabu yang juga merupakan jalur jelajah dari harimau.

Human-Tiger Conflict di Bengkulu
Mencoba mengingat kembali cerita dari kepala desa disana tentang kronologis kejadian sehingga terjadi korban jiwa. Malam itu sepasang suami istri sedang menginap di sebuah pondok miliknya di kebun  karet saat terdengar suara raungan harimau di sekitar pondok mereka. Malam yang mencekam itu membuat mereka keluar dari pondok dan pindah mengungsi ke pondok milik warga lainnya. Istri korban sudah meminta untuk pulang kembali desa sementara waktu demi keamanan, namun suaminya meminta untuk tetap bertahan di lokasi tersebut. Esok paginya mereka kembali ke pondok miliknya karena merasa kondisi sudah aman dan harimau telah pergi menjauh. Seperti biasa mereka tetap bekerja untuk menyadap (mengambil getah) karet, dengan sang istri bekerja di depan pondok sedang suaminya bekerja di belakang pondok. Itu kegiatan rutin yang dilakukan sehari-hari bila sedang tinggal dan menginap di kebun. Pukul 10 pagi biasanya mereka akan bertemu kembali dan berkumpul di pondok usai kerja pagi itu, namun didapati sang suami tak kunjung pulang. Pagi itu istri korban mendengar suara binatang ternak (seperti suara kambing), dan mencoba keluar pondok dan mencari arah suara namun yang dilihat adalah seekor harimau sumatera yang sedang menghadang di depannya, dengan rasa takut dia kembali ke pondoknya. Suaminya yang ditunggu pun tak kunjung pulang, membuatnya nekat untuk mencari bantuan ke pondok-pondok lain di sekitar kebunnya. Ada sekitar 9 orang yang membantunya untuk mencari suaminya di kebun karet. Namun yang ditemui hanyalah helm yang sudah terlepas dan jaket suami yang sudah berlumuran darah serta peralatan penyadap getah karet, suaminya pun belum ditemukan. Mereka semua akhirnya kembali ke desa yang lumayan jauh lokasinya dari kebun karet tersebut, melaporkan kejadian itu kepada kepala desa dan pukul 3 sore beramai-ramai mencari korban, pada akhirnya bisa ditemukan namun sudah dalam kondisi mengenaskan dan meninggal. 

Rescue Harimau Korban Konflik dengan Manusia
Hanya perlu waktu kurang dari 10 menit saja untuk menangkap harimau itu di sekitar lokasi kejadian, yang tak jauh dari perbatasan HGU perkebunan sawit milik perusahaan yang berupa tanah terbuka dalam skala besar. Jejak-jejak harimau banyak terlihat berada tak jauh dari lokasi kejadian. Bahkan binatang buas itu belum menjauh dari lokasi saat tim rescue harimau dari BKSDA Bengkulu tiba disana, tidak seperti 5 ekor harimau lainnya yang setelah menerkam korban langsung menghilang dan masuk ke dalam hutan dan tak akan muncul kembali. Mungkin inilah jawabannya, dua minggu kemudian muncul 2 ekor harimau jantan lainnya yang sedang memperebutkan wilayah jelajah di sekitar lokasi tersebut. Kebun karet itu yang kondisinya penuh dengan semak belukar sepertinya merupakan jalur jelajah harimau sumatera, namun kondisinya sudah dirubah menjadi kebun karet dan lainnya sudah di-land clearing oleh perusahaan untuk disiapkan menjadi perkebunan sawit skala besar, sehingga tak dapat dihindarkan adanya tumpang tindih aktifitas di daerah yang sama antara harimau dengan manusia. Hasil pemeriksaan gigi harimau yang tertangkap menunjukkan bahwa usia harimau tersebut sudah tua. Saat tertangkap harimau diperkirakan berusia 13 tahun, jadi kini usianya sudah menginjak 14 tahun, padahal usia harimau liar diperkirakan hanya sampai 15 tahun. Kemungkinan dia tersingkir karena sudah tua dan digantikan oleh pejantan baru yang dominan yang saat itu sedang memperebutkan wilayah jalur jelajahnya. Harimau tua akan mencari mangsa yang lebih mudah untuk didapatkan. Sedangkan dari hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa harimau jantan ini mengidap penyakit parasit darah. Ini adalah harimau liar kedua yang  saya periksa dan terindikasi positif parasit darah. Tidak ada clinical signs yang spesifik untuk penyakit tersebut pada harimau liar, pada harimau betina yang menjadi korban konflik di wilayah Sumatera Barat dan terindikasi positif penyakit parasit darah hanya menunjukkan perilaku yang tidak aktif, perilaku lainnya tampak normal. Sedangkan harimau jantan yang menjadi korban konflik di wilayah Bengkulu tidak memperlihatkan gejala klinis, tampak sangat agresif dan perilaku lainnya terlihat normal. Hasil pemeriksaan darah secara mikroskopis saja yang bisa menunjukkan bahwa harimau-harimau tersebut menderita penyakit parasit darah. 

Perawatan Medis 
Harimau sumatera : sebelum pengobatan. Tanggal 20 Mei 2015.
Tidak hanya parasit darah yang ditemukan dalam pemeriksaan medis selama perawatan di kantor BKSDA Bengkulu, tetapi kami pun masih harus melakukan pemeriksaan dan operasi bedah mulut serta pengobatan kelainan yang ditemukan pada ronga mulut yakni pada gigi, gusi dan lidah. Setelah semua permasalahan itu bisa diatasi dengan baik dan bisa kembali sehat, akhirnya kami juga menemui masalah baru yakni penyakit kulit yang diduga disebabkan oleh jamur, menyebabkan rambut hampir di seluruh tubuh mengalami kerontokan. Saya berdiskusi dengan kolega dokter hewan di Eropa, dan saya selalu merasa puas bila berdiskusi dengannya tentang harimau dan permasalahannya. Kami memang tidak melakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan mikologi di laboratorium karena pengambilan sampel berarti harus mengulang melakukan pembiusan, pemeriksaan laboratorium berarti juga membutuhkan dana untuk transport specimen dan biaya pemeriksaan. Sedangkan perawatan harimau itu kami lakukan dengan dana dan fasilitas seadanya tanpa bantuan pihak lain. Dan saat itu kami juga dibebani untuk merawat dua ekor harimau sekaligus dengan segala keterbatasan fasilitas. Setelah menjalani pengobatan selama 4 (empat) bulan dan perbaikan ventilasi serta sanitasi akhirnya harimau bisa kembali sehat dan rambut tumbuh kembali. Sebagai dokter hewan kebahagiaan itu akan dirasakan saat berhasil mengobati satwa hingga sembuh kembali dan kondisinya menjadi lebih baik.

Meskipun dalam perjalanan tugas kerja kami terkadang juga mendapat banyak tekanan, intimidasi bahkan diskriminasi kepentingan, satwa korban konflik dan perburuan liar belum menjadi target fokus dari banyak pihak, jadi apapun yang terjadi padanya belum menjadi perhatian bersama. Sudah sembilan tahun saya merasakan hal ini, namun tak apa meski kenyataannya tidak seindah saat dalam rapat, workshop atau seminar atau diatas kertas bahwa ini adalah salah satu satwa prioritas yang harus diperhatikan. Saya memang bekerja secara mandiri, tidak punya lembaga besar yang bisa mempengaruhi kebijakan, dan institusi terkait pun masih sibuk menggunakan sebagian besar anggarannya untuk hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan satwa korban konflik dan perburuan. Ya, satwa memang belum menjadi prioritas, meski korban selalu ada setiap tahunnya.

Relokasi Harimau Sumatera
Relokasi harimau sumatera ke TWA Seblat. 
Tanggal 28 Oktober 2015.
Tanggal 28 Oktober 2015, saat pemuda pemudi Indonesia merayakan hari Sumpah Pemuda, kami disibukkan dengan merelokasi harimau korban konflik agar ditempatkan ke tempat perawatan yang lebih baik, dengan sekitarnya hutan agar mereka merasakan seperti berada di tempat alaminya, bukan berada di sekitar manusia. Meskipun sudah merawatnya begitu lama, namun sifat liarnya masih bisa dipertahankan dan belum berubah, ya karena selama ini kami bekerja untuk harimau liar dan bukan harimau captive, perawatan dengan cara mengisolasi dan sebisa mungkin membatasi kontak dengan manusia, serta membiarkannya lebih banyak kontak dan mendengar suara satwa liar yang ada disekitarnya seperti babi hutan, siamang, owa, monyet ekor panjang, simpai, burung dan suara-suara dari penghuni hutan lainnya. Relokasi itu bagi kami tidak ada sangkut-pautnya dengan desakan banyak pihak agar harimau sumatera tersebut dirawat dalam kondisi yang layak. Mungkin mereka perlu tahu bahwa kami pun sejak sembilan tahun yang lalu juga menginginkan hal yang demikian, dan terus-menerus berusaha agar hal itu bisa terwujud, meskipun setelah sembilan tahun berlalu impian itu belum ada tanda-tanda untuk terwujud, karena kami tahu diri dan menyadari bahwa Provinsi Bengkulu tidak masuk prioritas untuk mendapatkan fasilitas tersebut. Namun apakah dengan mendesak, mengintimidasi tanpa berbuat nyata hal itu bisa dilakukan, tentu tidak. Merawat harimau sumatera bukan seperti main sulap, yang bisa dirubah dalam waktu sekejab. Dan yang menjadi pertanyaan adalah kemana saja mereka yang ambisius dan lantang mengintimidasi, mengkritik, menekan kami dengan berbagai cara dengan mengatasnamakan peduli dengan harimau sumatera saat kami membutuhkan lokasi perawatan yang lebih layak, saat kami membutuhkan pakan harimau, saat kami membutuhkan obat-obatan, saya tidak pernah mendengar suaranya dengan lantang ingin membantu. Kemanakah mereka ???? Saya sendiri pun masih suka bersedih bila mengingat masa-masa sulit itu bahkan tidak ingin mengingatnya lagi, menyinggungnya saja bisa membuat air mata ini mengalir.  

Monitoring Perilaku selama Perawatan
Harimau jantan bernama Giring masih tampak liar, dan terlihat selalu tampak waspada. Setiap ada orang yang berjalan mendekati kandangnya membuatnya memberi suara peringatan meskipun orang tersebut belum terlihat. Bahkan saat diintip dari balik pintu melalui lubang kecil meski tanpa suara, dia akan selalu tahu dan matanya langsung tertuju ke arah pintu. Saat pintu dibuka reaksi pertama pasti menggertak dengan posisi menerkam dengan suara raungan yang keras dan menciutkan nyali, sorot matanya yang tajam tak akan pernah lepas mengawasi setiap gerakan orang di sekitarnya. Semakin banyak orang yang ada disekitar kandangnya semakin membuatnya merasa terancam dan ingin menerkam, namun bila hanya satu orang saja yang masuk di dalam lokasi kandangnya, harimau akan tampak lebih tenang, dan tidak merasa terganggu saat dibersihkan kandangnya, bahkan terlihat relax, dan matanya tidak akan memperhatikan gerak-gerik orang sepanjang waktu.

Itu mengapa dalam setiap kegiatan rescue/ upaya penyelamatan harimau terjerat atau harimau yang berkonflik dengan manusia, kami selalu mengisolasi lokasi agar tidak banyak orang yang mendekati harimau. Untuk pembiusan dan melepas jerat harimau biasanya hanya dokter hewan dan petugas yang bersenjata yang mengamankan dokter hewan saja yang mendekati harimau, sedangkan anggota tim lainnya berada jauh dari lokasi yang tidak terlihat oleh harimau, karena untuk meminimalkan stress dan membuat harimau agar tidak merasa terancam. Bila harimau terancam dan panik akibatnya jauh lebih fatal, yakni bisa menyerang karena ingin mempertahankan diri. Dan harimau yang sudah terlanjur stress akan sulit dibius, karena efek obat bius menjadi tidak maksimal. Begitu juga dalam penanganan konflik antara manusia dan harimau, harus diusahakan sebisa mungkin agar masyarakat banyak tidak mendekati/ mengepung bahkan mengintimidasi harimau, karena harimau bisa menyerang karena merasa terancam. Biarkan orang yang bertugas untuk menangani harimau bekerja dengan baik, dan petugas lainnya menangani masyarakat agar tidak mendekat. Harimau akan memilih untuk menghindar bila tidak didesak/ dikepung banyak orang.

Setelah selesai pembersihkan kandang, kemudian pemberian pakan berupa pakan alami/ satwa mangsa alami. Ketersediaan pakan alami yang melimpah membuat kami tak pernah kekurangan pakan untuk harimau. Dalam perawatan harimau dengan positif penyakit darah memang harus dihindari kondisi stress dan perlu nutrisi yang cukup. Untuk itu, kami mengisolasinya dengan lingkungan sekitarnya berhutan adalah untuk mengurangi stress, agar harimau merasa nyaman karena berada di tempat alami seperti tempat hidupnya yang dulu, ditambah dengan pemberian pakan/ nutrisi yang cukup sesuai kebutuhan. Kondisi stress dan asupan nutrisi merupakan faktor predisposisi bagi penyakit parasit darah ini, sehingga kedua hal tersebut harus dipenuhi, yakni menghindari stress dan memberikan nutrisi yang cukup. 

Kondisi harimau masih liar sehingga tidak mau makan saat masih ada orang disekitarnya. Begitu pintu pagar areal kandang ditutup, dan kami satu-persatu pergi menjauh, saya mengamati apa yang dia lakukan. Posisinya berubah duduk seperti anjing, sambil kepala mendongak mengawasi kearah luar dan sekeliling untuk memastikan bahwa semua orang sudah pergi. Baru bergerak dari belahan kayu tempatnya berada untuk turun mengambil makanan dan mulai memakannya. Di siang hari dia lebih banyak rebah tengkurap dan bersantai sambil meletakkan kepalanya di atas kayu menghadap tempat air. Malam hari berjalan-jalan mengelilingi kandang, dan membuat bekas cakaran di kayu yang telah disediakan di dalam kandang untuk enrichment. Semua itu dilakukan bila tidak ada orang berada disekitar areal kandangnya. Bila dia melihat orang ada disekitarnya maka membuatnya selalu waspada dan menjauh, mencari tempat disudut yang ada penutup untuk mengamankan diri.

Kamis, 01 Agustus 2013

Kejahatan yang Tak Pernah Terungkap


Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
Pratama, mati dibunuh pemburu
dan gadingnya hilang
Hari itu di tahun 2007, saya sedang mengobati gajah jinak di camp Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara. Gajah yang diberi nama Pratama kondisinya memang kurang sehat, tampak kurus dan nafsu makan kurang.  Pratama artinya yang pertama, karena gajah tersebut memang tangkapan pertama dan penghuni pertama saat PLG Seblat didirikan, yakni sekitar tahun 90an.  Menurut informasi dari mahout (pawang gajah), sejak pertama ditangkap kondisi tubuh gajah Pratama memang sudah kurus seperti itu dan makannya lambat serta pilih-pilih makanan, tidak seperti gajah lainnya.  Saat itu dia tampak lesu, sehingga therapy yang dilakukan juga untuk menambah nafsu makannya, selain dilakukan beberapa pemeriksaan medis termasuk pemeriksaan laboratorium guna mengetahui agen penyebabnya. 

Kemudian selama dua hari saya meninggalkannya pergi ke kota Bengkulu untuk mengambil obat-obatan yang telah saya pesan sebelumnya untuk mengobati gajah Pratama.  Saat itu perjalanan di dalam kota saya memilih naik angkutan umum.  Sekembalinya saya mengambil obat-obatan, sebuah short message masuk ke handphone saya dari koordinator PLG Seblat waktu itu dan mengabarkan bahwa gajah Pratama ditemukan mati pagi itu di dalam hutan.  Seketika itu juga saya tidak bisa menahan lagi air mata yang jatuh, tiba-tiba saya menangis dan tak peduli lagi bahwa saya sedang berada di tempat umum.  Rasanya begitu sedih dan sempat membuatku mengeluh pada diri-sendiri, "kenapa saya tidak diberi kesempatan untuk mengobatinya, kenapa Pratama mati pada saat saya meninggalkannya dan sedang mengambil obat untuknya, kenapa secepat ini", dan segudang pertanyaan lainnya yang memenuhi otakku.  Tak lama kemudian ada short message lagi ke handphone saya, tulisan itu mengatakan bahwa "gading dan gigi Pratama hilang." Seketika itu juga perasaanku jadi berubah marah, karena dari pesan yang kuterima itu menandakan bahwa Pratama mati bukan karena sakit tetapi karena dibunuh......dibunuh oleh pemburu.  Selain rasa marah, juga ada dorongan yang kuat dalam hati kecilku, "saya ingin tahu siapa pembunuhnya.  Pembunuh gajah kami, saya benar-benar ingin tahu siapa pembunuh itu.  Dia harus ditemukan."

Hari itu akhirnya saya berangkat ke camp PLG Seblat yang ditempuh selama 4-5 jam dengan perjalanan darat dari Kota Bengkulu.  Esok paginya kami berjalan menuju ke hutan dimana Pratama ditemukan mati oleh mahout-nya (pawang gajah) untuk melakukan otopsi.  Sesampainya di lokasi terlihat ada seekor gajah yang rebah dibalik semak-semak, bila dilihat dari belakang tidak tampak kalau gajah tersebut mati dibunuh, begitu melihat dari depan akan terlihat bagian kepala dari atas mata sampai mulut hancur bekas luka senjata tajam dan masih mengeluarkan darah segar.  Tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan kesedihan di hati kami melihat itu semua.  Hanya satu yang ada dibenak saya waktu itu, "sungguh biadab pelakunya, pelakunya harus diganjar hukuman setimpal".  Kami tidak hanya melakukan otopsi tetapi juga memeriksa lingkungan sekitarnya, ditemukan ada tas plastik sepertinya bekas bungkus makanan yang diberikan ke gajah tersebut (kemungkinan bungkus makanan yang dicampur dengan racun), ada bekas muntahan di sekitar bangkai, juga ditemukan beberapa jejak kaki kemungkinan kaki-kaki pemburu yang membunuhnya.  Mereka mengarah ke Sungai Seblat.

Sepulang dari melakukan otopsi, saya melihat-lihat lagi album photo saya, ada koleksi photo gajah Pratama yang saya ambil terakhir sebelum dia mati dibunuh.  Membuat saya sangat sedih mengingatnya. Gading Pratama yang panjang dan besar, dan paling bagus diantara gading gajah jantan PLG Seblat lainnya membuatnya menjadi incaran pemburu dan hidupnya pun berakhir dengan kematian karena dibunuh hanya untuk mengambil sepasang gading miliknya dan giginya.  Nyawa seekor gajah tidak ada nilainya dibandingkan dengan sepasang gading. Gading yang akan dijadikan souvenir untuk pipa rokok, perhiasan, tongkat, atau sekedar menjadi pajangan di rumah-rumah orang berduit dan bahkan ada yang menjadikannya sebagai souvenir untuk bekal mutasi ataupun promosi jabatan para aparat kepada atasannya dan lain-lain.

Setelah 6 tahun berlalu sejak kejadian itupun tak pernah terdengar adanya upaya untuk mengungkap kejadian pembunuhan gajah tersebut.  Kasus kejahatan itupun sirna begitu saja dan meninggalkan teka-teki yang tak terjawab, siapakah pembunuhnya dan siapakah yang terlibat dalam aksi tersebut.  Namun, bagi kami yang bekerja dengan gajah-gajah itu, kejadian itu tak mungkin terlupakan, dan masih membekas jelas di pikiran kami masing-masing.  Dan ternyata sebelum kasus itu terjadi di tahun-tahun sebelumnya telah beberapa kali terjadi pembunuhan gajah jantan untuk diambil gadingnya di PLG Seblat yang dilakukan oleh pemburu.  Dan pelakunya pun tidak diungkap sampai akhirnya pun tak pernah terungkap.


Paula dan Gia, mati tertembak
Di tahun 2009 telah terjadi pembunuhan gajah di empat provinsi yakni Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Riau dan di lima lokasi secara serentak yang dilakukan oleh pemburu, dan semuanya adalah gajah jinak. Semua yang dibunuh adalah gajah jantan untuk diambil gadingnya, kecuali di Bengkulu, keduanya adalah gajah betina.  Dua ekor gajah jinak yang dibunuh adalah gajah patroli kawasan yang sedang berpatroli bersama tim Conservation Response Unit untuk mengamankan kawasan habitat gajah liar dari aktivitas illegal. Namun naas, kedua gajah tersebut yakni Paula dan Gia setelah patroli dibiarkan disekitar tenda tim patroli untuk mencari makan bersama dua ekor gajah lainnya yakni Devi dan Nelson di dalam kawasan hutan TWA Seblat.  Malam itu terdengar suara tembakan di dalam kawasan, setelah diperiksa ternyata gajah bernama Paula dan Gia telah roboh dengan luka tembak tepat di kepala dan tembus ke otak.  Kedua gajah tersebut mati seketika.  Sedangkan gajah Nelson dan Devi selamat dari sasaran peluru. Setelah dilakukan otopsi (bedah bangkai) ditemukan serpihan peluru di dalam otak yang sudah hancur seperti bubur.  Barang bukti berupa peluru dikirim ke laboratorium forensik di Palembang untuk identifikasi jenis senjatanya.  Seperti dugaan semula bahwa jenis senjata dari peluru itu adalah milik aparat.  Setelah kejadian itu semua aparat yang bertugas di perkebunan kelapa sawit di sekitar kawasan TWA Seblat ditarik mundur oleh institusinya, dan sejak itu pula adanya ancaman melalui sms dari orang-orang yang tidak dikenal kepada tim patroli hutan.  Kami pun sudah bisa menduga dan bisa mengidentifikasi siapa sesungguhnya pelakunya, karena aparat yang ditugaskan di perusahaan perkebunan sawit bisa diidentifikasi dengan mudah apalagi yang keluar masuk hutan secara illegal. Namun sayangnya, untuk pemeriksaan lanjutan tidak bisa dilaksanakan dengan alasan tidak adanya dana untuk pemeriksaan itu menurut institusi tersebut, sehingga muncul dugaan apakah karena ini satu institusi dengan pelaku akhirnya untuk upaya penyelidikan lebih lanjut pun harus berakhir sampai disitu.  Suatu hari saya dipanggil pimpinan, yang berusaha meredam amarahku karena kasus ini tidak tuntas dengan mengatakan, "kita masih membutuhkan institusi itu untuk bekerjasama menangani kejahatan dibidang kehutanan lainnya, kalau kita menuntut kasus ini sampai tuntas hubungan antar institusi akan tidak baik."  Dan diharapkan saya bisa memaklumi itu, tapi kenyataannya rasa sakit hati dan kecewa yang mendalam yang muncul.  Mereka tidak pernah merasakan apa yang kami rasakan, kami setiap hari dekat dan bekerja dengan gajah-gajah itu, sudah terjalin ikatan emosional dengan mereka karena interaksi setiap hari dengan gajah-gajah terlebih lagi hubungan emosional antara mahout dan gajahnya, kehilangan mereka seperti kehilangan anggota keluarga kami. Dan saat itu kami harus menerima bila kasus itu tidak ditindaklanjuti.  Sakit rasanya mendengarnya.  Paula adalah gajah remaja yang pintar, dia sedang dalam program pelatihan pemeriksaan medis. Gia juga gajah yang baik.  Kami harus kehilangan mereka karena tingkah aparat yang masuk kawasan konservasi secara illegal dan menyalahgunakan senjata untuk membunuh satwa liar dilindungi. Dan sampai akhirnya untuk kesekian kalinya kami pun harus memaklumi perbuatannya untuk tidak ditindak secara hukum.

Wild Elephant
Pada tahun 2007, seekor gajah liar anakan ditemukan di dalam sungai kecil di areal perkebunan sawit milik perusahaan di Jambi.  Gajah ditemukan masih dalam kondisi hidup namun sudah tidak bertenaga lagi. Sesaat setelah mendapat informasi saya berangkat ke Jambi malam itu untuk membantu tim patroli yang sedang berada di lokasi untuk merescue gajah tersebut.  Sampai di kota Jambi pagi hari dan mendapat khabar bahwa gajah tersebut telah mati, satu jam kemudian kami berangkat menuju lokasi bersama polisi kehutanan, wartawan, dan kasat reskrim dari polres setempat serta kawan-kawan tim patroli dari LSM setempat. Karena jalan sangat buruk, berlumpur dalam, kami terjebak dalam lumpur dan mobil tidak bisa melanjutkan perjalanan. Setelah seharian dalam perjalanan, hari sudah gelap akhirnya kami memutuskan untuk menginap di jalan tersebut. Tidak ada rumah penduduk di sekitar sana dan tidak ada tempat yang nyaman untuk tidur di lokasi itu, saya memilih tidur di bak mobil bagian belakang yang terbuka daripada tidur di jalan yang berlumpur.  Karena hawa dingin akhirnya saya mencari lokasi lain untuk pindah tidur, dan menemukan sebuah gubug seperti post kampling di pinggir jalan.  Tempat yang nyaman untuk beristirahat dibandingkan di bak belakang mobil ataupun di atas tanah. Pagi-pagi sekali kami melanjutkan perjalanan dan berganti mobil hardtop agar bisa mencapai lokasi gajah.  Sore harinya kami baru sampai di lokasi dan langsung melakukan otopsi (bedah bangkai) sampai malam hari, setelah selesai langsung kembali lagi ke kota Jambi.  Hasil dari pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa gajah tersebut mati karena keracunan.  Dan menurut informasi yang saya dapatkan bahwa kasus tersebut tidak ditindak lanjuti untuk penyelidikan lebih lanjut.  Dan perusahaan telah memberi jaminan kepada aparat agar kasus tidak dilanjutkan.  Informasi yang mengecewakan buat saya dan teman-teman saya yang telah membantu untuk melakukan pemeriksaan nekropsi guna mengungkap penyebab kematian gajah itu.  Rasanya kerja yang telah dilakukan, jauhnya dan sulitnya perjalanan menuju lokasi tidak sebanding dengan niat untuk serius melakukan penegakan hukum.  Damai bersyarat antara aparat dan perusahaan yang lebih dipilih mereka dan menganggap kejahatan itu tak pernah ada.

Wild Elephant
Pada tahun 2011, ditemukan bangkai 7 ekor gajah liar di lokasi perkebunan sawit perusahaan yang statusnya masih kawasan Hutan Produksi Terbatas yang belum dialihfungsikan menjadi HGU dan juga ditemukan di dalam hutan konservasi TWA Seblat serta di hutan sekitarnya.  Saat itu saya menduga jumlah bangkai gajah liar yang mati lebih dari 10 ekor tetapi yang berhasil ditemukan dan dilakukan pemeriksaan nekropsi hanya 7 ekor, karena bau bangkai yang lain yang tercium di lokasi berbeda belum ditemukan.  Dari hasil pemeriksaan laboratorium diketahui bahwa gajah tersebut keracunan.  Gajah-gajah tersebut sepertinya mati diracun selain itu juga ditemukan adanya bekas gergaji dan bekas senjata tajam di tulang tengkorak.  Diduga ada unsur kejahatan dibalik kematian gajah-gajah tersebut.  Namun, seperti biasa tindakan yang dilakukan hanya sebatas pemeriksaan forensik tanpa ada penyelidikan lebih lanjut, sehingga wajar bila kejadian seperti ini selalu berulang karena tidak ada efek jera bagi pelaku.

Orangutan Sumatra (Pongo abelii)
Leuser - 3 November 2006
Leuser, dalam perawatan medis
Pada saat saya bersama tim sedang melakukan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Manggatal, yakni sebuah lokasi di dalam hutan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh Provinsi Jambi untuk melakukan pelepasliaran orangutan bernama Tesi, ditengah perjalanan seorang teknisi menyusul dan mengabarkan bahwa ada seekor orangutan ditemukan di sebuah desa dengan luka di kepala.  Membuat saya membatalkan niat untuk ikut pelepasliaran orangutan Tesi dan kembali ke Stasiun Re-Introduksi Orangutan di Sungai Pengian untuk mempersiapkan obat-obatan dan segera berangkat menuju lokasi yang dimaksud.  Bersama seorang polisi kehutanan, seorang keeper orangutan dan seorang driver kami menuju lokasi di Desa Mangupeh.  Suasananya sangat ramai, banyak masayarakat yang sedang berkumpul disana bahkan juga ada aparat desa dan kecamatan setempat.  Namun saya dan seorang keeper tidak peduli dengan kondisi sekitar, kami langsung memeriksa lokasi untuk menemukan orangutan tersebut yang ternyata diletakkan di belakang rumah dalam kandang papan berukuran 1m x 1m x 1m. Setelah diidentifikasi oleh keeper ternyata orangutan tersebut adalah Leuser. Driver kami standby di mobil dan mempersiapkan kandang angkut, sedangkan seorang polisi kehutanan melakukan negosiasi untuk mengambil orangutan tersebut.  Sedangkan kami berdua sibuk dibelakang rumah untuk memeriksa orangutan, ditemukan terdapat luka bacokan senjata tajam di kedua tangannya, beberapa luka memar di bagian tangan dan ada bekas luka tembakan di pelipis, jari dan bagian tubuh lainnya. Luka pada tangannya masih ada yang mengeluarkan darah segar dan ada yang telah busuk dan bernanah. Suhu badannya sangat tinggi (hyperthermia). Setelah selesai memberi pengobatan, membersihkan luka dan membalutnya, kemudian saya memberi informasi hasil temuan dari pemeriksaan tersebut kepada polisi kehutanan yang berada di dalam ruangan.  Saat semua orang sedang sibuk bernegosiasi di dalam ruangan, kami berencana membawa lari kabur orangutan tersebut secepat mungkin, karena masyarakat melarang orangutan dibawa pergi sebelum kami menggantinya dengan sejumlah uang sesuai dengan permintaan mereka. Akhirnya kami pun berhasil kabur dengan mengelabuhi mereka semua dan langsung menuju ke kota Jambi untuk memberi perawatan medis yang memadai.  Sesampai di kota Jambi saya berusaha memberinya buah-buahan tetapi Leuser tidak memberi respon, baru saya menyadari bahwa Leuser mengalami kebutaan. Sedih sekali rasanya waktu itu dan membuat saya seketika itu menangis di depannya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Leuser ?", pikirku. Dari hasil pemeriksaan radiologi (X-Ray) diketahui ada 62 peluru di sekujur tubuhnya dari kepala sampai kaki, dan ditemukan masing-masing ada 2 peluru bersarang di belakang matanya, inilah yang menyebabkan dia buta. Saya juga sempat bolak-balik konsultasi ke dokter spesialis mata dengan harapan salah satu matanya bisa diselamatkan dengan cara operasi. Padahal sebelumnya Leuser adalah orangutan yang sangat pintar dan liar, sekarang dia harus mengalami kebutaan dan tak berdaya seperti ini. Kemudian dilakukan operasi penjahitan luka dan pengeluaran peluru, berangsur-angsur kondisi Leuser semakin membaik.  Tapi hukum harus tetap dijalankan. Membuat saya juga harus hilir mudik Bengkulu-Jambi untuk membantu penyelidikan polisi setempat dan juga hadir di persidangan sebagai saksi ahli dan juga bertemu dengan para pelaku yang jumlahnya 6 orang, salah satunya siswa STM (SMK). Akhirnya mereka divonis 6 bulan penjara, dan yang memperberat hukumannya bahwa akibat perbuatan mereka menyebabkan cacat fisik seumur hidup bagi orangutan dengan bisa dibuktikan bahwa peluru yang terdapat dimata dapat menyebabkan orangutan buta, sehingga orangutan tersebut tidak bisa menjalankan fungsinya lagi di alam seperti semula. Tidak hanya itu, kamipun harus sosialisasi terlebih dulu tentang Undang-Undang yang berhubungan dengan perlindungan satwa liar di Indonesia kepada aparat penegak hukum. Dan inilah kasus pertama kalinya kejahatan terhadap satwa liar yang ditindaklanjuti sampai putusan pengadilan di Provinsi Jambi menurut mereka.


Macan Dahan (Neofelis diardi)
Neo, Macan Dahan
terjerat pemburu di bagian perut
Saya memberi nama seekor macan dahan yang saya rawat pada tahun 2007 'Neo', nama itu saya ambil dari nama latinnya Neofelis diardi.  Macan dahan berjenis kelamin jantan itu hasil penyitaan dari mobil aparat di Provinsi Bengkulu.  Ada bekas luka jerat di sekeliling perutnya.  Rencananya macan dahan itu sebagai hadiah buat sang penguasa di Provinsi Bengkulu.  Aksi penyitaan satwa liar dilindungi tersebut berjalan sangat alot, di perjalanan mobil aparat tersebut sudah dicurigai oleh polisi kehutanan sehingga dilakukan pengintaian di jalan, dan untuk mengehentikan mobil tersebut sampai terjadi aksi kejar-kejaran.  Akhirnya polisi kehutanan harus mengambil paksa satwa tersebut di markas aparat.  Dalam kondisi terluka parah, macan dahan itupun sempat sulit untuk disita. Setelah berhasil akhirnya mendapat perawatan medis di BKSDA Bengkulu dan Kantor Resort Balai Besar TNKS Seblat selama kurang lebih satu bulan.  Setelah sembuh dilakukan pelepasliaran kembali di hutan penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat.  Namun kasus perburuan (penjeratan) yang melibatkan aparat tersebut tak pernah tersentuh hukum, dan dilupakan begitu saja tanpa ada tindak lanjutnya sesuai dengan hukum yang berlaku.


Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
Putri Buana, kaki membusuk
karena jerat pemburu 
Seekor harimau sumatera yang kami beri nama Putri Buana, berjenis kelamin betina usia dewasa terjerat kurang lebih 4 hari di perkebunan karet dan kakao sebuah perusahaan.  Kakinya telah membusuk karena jerat dan harus diamputasi.  Ingin sekali rasanya membawa pemburu itu dan menunjukkan kondisi harimau yang dia jerat begitu mengenaskan, agar dia tahu atas perbuatan keji yang dia lakukan. Tapi yang kami khawatirkan, setelah itu kami akan memukulinya karena marah atas perbuatan yang dia lakukan terhadap harimau itu. Ini adalah harimau pertama yang saya tangani untuk dilepaskan dari jerat pemburu tanpa menggunakan peralatan medis yang memadai, hanya bermodalkan obat bius dan keberanian menyuntiknya secara langsung dengan menghadapi resiko buruk yang terjadi bila harimau memberontak dan menerkam.  Dan kami punya ikatan emosional dengan harimau ini setelah merawatnya selama 29 hari.  Namun pada akhirnya harimau inipun tidak bisa diselamatkan karena kondisinya memburuk. Sebelumnya telah direkomendasikan untuk dieuthanasia, tetapi dua jam sebelum pelaksanaan euthanasia, harimau tersebut mati dengan sendirinya. Membuat kami semua menangisi kepergiannya seperti tak rela dia pergi untuk selamanya.  Tanpa sadar saya pun menangis dan memeluknya erat-erat sesaat setelah dia menghembuskan nafasnya yang terakhir dan tak percaya bahwa dia telah mati dan berusaha membangunkannya kembali.

Meskipun barang bukti ditemukan dalam kondisi hidup, jerat yang dipakai diidentifikasi tim Perlindungan Harimau Sumatra sebagai jerat khusus  harimau dan bukan jenis jerat untuk satwa liar lainnya seperti babi dan lain-lain seperti yang di ungkapkan oleh pemburunya dan aparat setempat.  Juga adanya umpan darah dan daging babi menuju jerat yang diduga difungsikan untuk memancing harimau datang menuju jerat. Pemburunya jelas orangnya.  Namun, penegakan hukum untuk kejahatan yang dilakukannya tak pernah ada, bahkan aparat penegak hukum pun menyangkal bahwa pemburu tersebut bermaksud untuk memburu harimau.  Akhirnya bisa ditebak, kasus inipun menguap begitu saja.  Beberapa tahun kemudian kami pun mendengar bahwa aparat penegak hukum tersebut juga terlibat kasus kejahatan pada harimau di daerahnya.

Saat itu saya menerima kiriman bangkai seekor anakan harimau sumatera. Ditemukan mati di daerah bagian selatan dari Provinsi Bengkulu yang menurut informasi hanyut di sungai.  Saya sudah tidak ingat lagi tahun berapa kejadian itu, dikarenakan banyaknya kejadian kematian harimau dan macan dahan yang berasal dari daerah Bengkulu bagian selatan.  Dibantu dengan seorang mahasiswa kedokteran hewan yang magang, kami melakukan bedah bangkai (pemeriksaan nekropsi) untuk mengetahui penyebab kematiannya.  Anak harimau tersebut sudah kehilangan kedua alis mata, kulit dibagian dahi, kumis, dan seluruh kuku telah dicabut.  Dan ada jahitan dengan senar pancing pada luka sayatan tersebut.  Namun sayangnya, pemeriksaan forensik tersebut hanya formalitas saja, karena petugas setempat menyampaikan bahwa harimau tersebut mati dengan sendirinya berbeda dengan hasil forensik yang telah dilakukan yang menunjukkan adanya unsur kejahatan dibalik kematian harimau tersebut.  Bahkan saya pun bisa membuktikan dengan pemeriksaan forensik apakah harimau tersebut dibunuh terlebih dahulu baru dihanyutkan ke sungai atau harimau tersebut mati karena hanyut di sungai.  Namun, hasil forensik yang telah dilakukan tidak pernah dijadikan dasar untuk melakukan penyidikan lebih lanjut, sehingga penegakan hukum untuk kasus ini pun tak pernah ada dan pelakunya pun tak pernah terungkap.  Lagi-lagi membuat saya sangat kecewa, seperti sia-sia pemeriksaan yang dilakukan karena tidak ada tindak-lanjutnya.

Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu merupakan salah satu kabupaten yang seringkali terjadi human-tiger conflicts. Frekuensi terjadinya konflik urutan kedua setelah kabupaten Seluma di Bengkulu.  Seringkali terdengar harimau turun ke jalan raya di siang hari bahkan bisa dipotret langsung oleh pengguna jalan. Hari itu seorang kepala desa yang desanya menjadi tempat berkeliaran harimau mendatangi kantor BKSDA Bengkulu. Kebetulan saya juga bertemu dengan kepala desa tersebut dan mendengarkan informasi tentang harimau yang selama ini berkeliaran di desanya. Saya juga mendapatkan video hasil rekaman masyarakat yang menunjukkan saat harimau tersebut jalan-jalan di jalan lintas di desa tersebut. Tidak lama setelah itu tiba-tiba saya mendengar berita buruk bahwa harimau itu telah ditembak mati.  Berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa harimau tersebut ditembak mati oleh aparat di Polsek setempat dan harimau dibawa dengan mobil dinasnya. Kemudian SPORC dan Polisi Kehutanan menuju kesana untuk mencari barang bukti dan ternyata ditemukan.  Dan hukuman bagi seorang aparat penegak hukum menyalahgunakan senjata untuk membunuh harimau sumatera tidak setimpal dengan akibat dari perbuatannya yang menghilangkan nyawa seekor satwa liar yang masuk kategori critical endangered species dan melarikan/ menyembunyikan barang bukti, dan hanya mendapatkan sanksi dipindah tugaskan.  Menyedihkan sekali kenyataan yang terjadi.  Undang-Undang no 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya dirasa mandul karena tidak diaplikasikan.

Rajo, Mata Kirinya Buta
karena Tertembak
Pada tahun 2012, ditemukan seekor harimau terjerat oleh pemburu di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.  Tidak hanya itu, disekitar lokasi juga ditemukan 5 buah tombak.  Tidak hanya luka jerat yang membuat kaki harimau membusuk, tetapi ada 9 luka tusukan tombak di sekujur tubuhnya serta ditemukan banyak peluru di kepalanya dan membuat mata harimau buta karena luka tembak.  Harimau yang saya beri nama Rajo itu akhirnya hanya bertahan selama seminggu dalam perawatan medis di rumah sakit satwa liar karena lukanya yang cukup serius dan membuat kondisinya memburuk (kritis).  Bahkan beberapa dokter hewan menyarankan untuk dieuthanasia saja, namun kami masih ingin mengupayakan untuk pengobatan semaksimal mungkin.  Dengan kondisinya yang sangat buruk itu, bahkan saya menduga dia tidak akan bertahan saat dibius dan dilepaskan dari jerat pemburu, atau mungkin tidak akan bertahan saat perjalanan menuju kota Bengkulu atau saat perjalanan menuju rumah sakit satwa liar.  Dan ternyata Rajo pun masih bertahan. Bahkan kami pun sempat mengalami penolakan dari semua penerbangan karena tidak mau mengangkut harimau yang kritis karena tidak mau beresiko,  akhirnya setelah dua hari bernegosiasi mereka pun mengijinkan harimau Rajo diterbangkan untuk dirujuk ke rumah sakit satwa liar di Jawa untuk perawatan lebih lanjut guna menyelamatkannya.  Namun upaya terakhir pun tidak bisa menyelamatkannya, lagi-lagi membuat saya sangat bersedih harus kehilangan dia.  Dan yang membuat saya bersedih lagi karena pelaku tidak terkena jerat hukum apapun atas perbuatannya.  Upaya yang telah kami lakukan untuk menyelamatkannya tidak sebanding dengan hukuman yang seharusnya diberikan pada pelaku kejahatan tersebut. Mereka bebas tanpa sanksi apapun. Untuk kesekian kalinya, kejahatan inipun tak pernah terungkap.

Dara, dijerat Pemburu
Pada tahun 2012, sebulan setelah kejadian harimau terjerat di Kabupaten Lebong, saya mendapat informasi kembali ditemukan seekor harimau terjerat di dalam kawasan Hutan Produksi Air Rami, berjenis kelamin betina, usia dewasa.  Ini adalah satu-satunya lokasi tersulit yang dicapai untuk melepas jerat harimau dibanding kasus-kasus serupa yang terjadi sebelumnya.  Untuk mencapai lokasi harimau terjerat, kami naik mobil seharian melintas areal perkebunan sawit perusahaan untuk menuju perbatasan hutan.  Kemudian dilanjutnya jalan kaki selama dua hari, dengan menyeberangi sungai besar di bagian hulu dan turun naik bukit terjal.  Dan kamipun masih harus tinggal di dalam hutan selama kurang lebih seminggu untuk melakukan amputasi kaki harimau dan melakukan perawatan medis sambil menunggu bantuan kandang angkut datang.  Harimau yang saya beri nama Dara itu akhirnya harus kehilangan kedua kaki depannya karena jerat dan telah membusuk sehingga harus diamputasi.  Namun tak pernah ada upaya untuk mencari pelaku/ pemburunya.  Pelakunya adalah para pemburu profesional khusus harimau, karena banyak juga ditemukan jerat yang masih aktif di sekitar lokasi kejadian dan jerat-jerat yang telah dirusak oleh tim patroli.  Tapi, untuk menjerat hukum pelaku perburuan itu tidak mudah, kalaupun dijerat hukum, vonis hukumannya pun tidak setimpal dengan perbuatannya yang telah membuat harimau cacat seumur hidup dan tidak bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya, sehingga tidak bisa lagi menjalankan fungsinya di alam.  Dan yang terjadinya biasanya para pelaku tetap bebas berkeliaran dan berusaha untuk menjalankan aksi berikutnya, menjerat harimau kembali.

Dari sekitar 20 kasus yang pernah saya lakukan pemeriksaan forensik dan bisa membuktikan bahwa kematian satwa liar dilindungi tersebut akibat wildlife crimes, dan dari semua kasus tersebut hanya satu yang ditindak-lanjuti secara hukum, namun vonis hukumannya pun tidak setimpal dengan akibat yang telah ditimbulkan dari kejahatan yang dilakukan yakni membuat cacat seumur hidup satwa liar tersebut (buta) dan pelaku hanya diganjar hukuman selama 6 bulan penjara.  Sangat jauh dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, yang menyatakan bahwa :

Pasal 21

(2) Setiap orang dilarang untuk :
a. Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, 
mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;

b. Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, 
dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan mati;

c. Mengeluarkan satwa yang dilindungi 
dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

d. Memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, 
atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat 
dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat 
di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

e. Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyiman 
atau memiliki telur atau sarang satwa liar yang dilindungi.


Pasal 40

(2) Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)

Jumat, 26 April 2013

Harimau sumatera yang malang, Tesa....hanya 62 hari bertahan dalam perawatan

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) bernama TESA hanya mampu bertahan selama 62 hari saat menjalani perawatan medis di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu.  Akhirnya mati setelah mengalami kondisi kritis dan kesulitan bernafas selama dua hari.

Harimau sumatera 'Tesa' sesaat setelah sadar dari pembiusan
Tanggal 22 Pebruari 2013

Rescue (penyelamatan) harimau sumatera bernama Tesa
Hari itu tanggal 21 Pebruari 2013, saya sedang berada di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat di Bengkulu Utara untuk pengobatan gajah bernama Aswita dan Bona yang sedang sakit saat itu, kemudian mendapat informasi bahwa telah diselamatan seekor harimau sumatera dari konflik dengan manusia di Desa Talang Sebaris, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Bengkulu.  Hari itu saya langsung kembali menuju ke kota Bengkulu dengan menggunakan angkutan umum dengan menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam untuk bisa sampai ke kota Bengkulu.  Dari camp PKG Seblat saya masih harus menyeberangi Sungai Seblat dengan perahu dayung atau bisa juga menyeberang dengan bantuan gajah jinak, kemudian dilanjutkan dengan ojek motor selama kurang lebih satu jam melewati jalan buruk untuk mencapai jalan lintas antar  provinsi Bengkulu-Sumatera Barat/ Jambi, dari jalan lintas bisa menggunakan mobil travel menuju kota Bengkulu yang ditempuh selama 4 jam.  Kondisi jalan yang harus dilewati pun tidak cukup bagus, karena masih ditemukan beberapa tempat jalan rusak akibat mobil-mobil besar yang melintas dengan muatan melebihi batas beban jalan seperti truk batubara dan lainnya.

Harimau sumatera tersebut yang kemudian diberi nama Tesa, telah berhasil diselamatkan oleh tim rescue dari Seksi KSDA Wilayah II dengan menggunakan box trap dengan umpan seekor kambing, pada hari itu juga harimau tertangkap, selanjutnya dipindahkan ke kantor BKSDA Bengkulu untuk pemeriksaan dan mendapatkan perawatan medis. 


Pemeriksaan awal harimau Tesa
Harimau (Tesa) mengalami paresis pada kedua kaki belakang
Tanggal 22 Pebruari 2013 
Sore hari baru tiba di kota Bengkulu dan saya langsung melihat kondisi harimau tersebut, karena sebelumnya  tim rescue menginformasikan bahwa harimau dalam kondisi sakit, terluka, tidak bisa berjalan normal dan terjerat di leher.  Harimau diletakkan dalam kandang perawatan, yakni box trap yang dialihfungsikan untuk kandang perawatan dengan ukuran sekitar 2mx1mx1m tanpa ada kandang jepit dan lokasi kandang diisolasi agar tidak banyak orang yang melihat kecuali petugas pemberi pakan dan tenaga medis.  Karena satwa liar seperti harimau sumatera bila dipertontonkan ke banyak orang akan memicu stress dan perilakunya menjadi tidak normal. Perawatan harimau liar yang tepat adalah harus diisolasi untuk meminimalkan kontak langsung dengan manusia yang bisa menimbulkan stress pada satwa liar. Tampak tubuh bagian pinggul sampai ujung kedua kaki belakang tampak kusam dan rambut rontok serta terdapat luka gores kemungkinan karena kedua kaki tersebut saat berjalan diseret sehingga terluka.  Juga terdapat luka melingkar pada leher dengan masih terdapat jerat di leher yang belum lepas, luka tersebut kemungkinan terjadi saat harimau mencoba untuk melepaskan jerat sehingga membuat leher bagian atas terdapat luka yang dalam dan sudah terjadi myasis (berulat).  Harimau sangat lemah, saya pun masih bisa memasukkan tangan kedalam kandang untuk mengukur suhu tubuh guna mengetahui apakah harimau tersebut dalam kondisi demam atau tidak.  Serta melakukan palpasi pada tulang vertebrae dari ekor sampai dengan punggung untuk mengetahui apakah ada cidera tulang belakang atau tidak.  Harimau tampak tidak agresif sehingga saya lebih leluasa untuk melakukan pemeriksaan  fisik tanpa pembiusan.  Tapi harus tetap waspada sambil memeriksa dan terus mengamati gerakannya, bagaimanapun dia adalah tetap hewan buas :)

Pengobatan yang dilakukan pada sore itu adalah membersihkan luka terbuka yang terdapat pada leher dan kaki serta ekornya.  Dan harimau diberi minum terlebih dulu dan supplement sebelum dipuasakan untuk persiapan operasi esok harinya.

Luka pada leher karena jerat dan luka pada kaki belakang 
karena diseret saat berjalan, tanggal 21 Pebruari 2013
Saya selanjutnya menggali informasi dari tim rescue tentang kondisi harimau Tesa sebelum direscue.  Menurut informasi masyarakat setempat, bahwa harimau Tesa telah berkeliaran di Desa Talang Sebaris selama dua minggu, dan sudah dalam kondisi lumpuh pada kedua kaki belakangnya menurut warga yang pernah melihat secara langsung.  Berjalan hanya menggunakan kedua kaki depan dan menyeret tubuh bagian belakang dengan pinggul sebagai tumpuan. Harimau tersebut memangsa ternak ayam dan bebek mereka juga anjing kampung disana.  Harimau terkena jerat di leher, jerat tersebut  berupa tali nylon yang digunakan warga untuk menjerat babi hutan. Menurut pengakuan warga, harimau Tesa juga pernah jatuh kedalam jurang karena jalannya yang tidak normal itu dan akhirnya sanggup merangkak naik kembali dan berkeliaran di Desa Talang Sebaris untuk mencari makan.  


Pengobatan Harimau Tesa
Wildlife Rescue Unit - BKSDA Bengkulu
Operasi Harimau Tesa
Esok harinya, tanggal 22 Pebruari 2013 mulai pagi saya dan wildlife rescue unit BKSDA Begkulu  mempersiapkan segala perlengkapan untuk keperluan pembiusan, operasi penjahitan luka dan pengobatan harimau.  Karena peralatan dan obat serta anggota tim masih belum lengkap sehingga operasi ditunda siang harinya setelah shalat jumat. Setiap melakukan pembiusan setidaknya saya membutuhkan empat orang untuk membantu, yakni orang yang bertugas sebagai recorder untuk mencatat physiological data / vital signs selama pembiusan juga melakukan pencatatan tentang anesthesi dan pengobatan apa saja yang dilakukan serta kelainan apa saja yang ditemukan saat pemeriksaan.  Recorder ini juga sangat membantu untuk mengingatkan dokter hewan bila terjadi adverse side dari anesthesi seperti hypothermi/ hyperthermi, henti nafas, pulsus lemah/ hilang dan lain-lain sesuai dengan data yang didapat, sehingga bisa segera dilakukan perbaikan kondisi satwa oleh dokter hewan.  Selain itu juga dibutuhkan orang untuk pengukuran suhu tubuh, frekuensi pernafasan (respirasi) dan denyut jantung ataupun pulsus per 5-10 menit sekali.  Karena keterbatasan peralatan medis sehingga semua itu dilakukan secara manual. Juga memerlukan orang untuk melakukan dokumentasi dari setiap kegiatan yang dilakukan juga mendokumentasikan setiap hal yang ditemukan dalam pemeriksaan medis untuk bahan laporan tertulis, dan satu orang lagi sebagai runner yang sewaktu-waktu dibutuhkan oleh dokter hewan untuk membantu banyak hal sesuai kebutuhan. 

Dalam setiap penanganan harimau sumatera baik saat rescue dari jerat pemburu liar atau konflik dengan manusia, saat pengobatan maupun saat pemeriksaan nekropsi, dari anggota tim yang terlibat hanya saya sendiri yang berlatar belakang kedokteran hewan, sedangkan lainnya adalah mengkaryakan polisi kehutanan (Polhut), PEH (Pengendali Ekosistem Hutan), Penyuluh, Humas, Mahout (pawang gajah) dan lainnya sebagai Vet Nurses, namun mereka sedikit demi sedikit sudah terlatih secara langsung dilapangan dan tahu apa yang musti dikerjakan karena sering membantu saya dalam penanganan satwa liar.

Operasi penjahitan luka karena jerat leher
BKSDA Bengkulu, 22 Pebruari 2013
Pengobatan yang dilakukan setelah melepaskan jerat di leher harimau adalah pembersihan luka akibat jerat dan myasis, dan saya menemukan lebih dari 50 larva lalat (orang awam menyebutnya ulat) dalam otot (daging) yang terdapat didalam luka, kemudian dibuat luka baru sebelum penjahitan untuk penutupan luka, dilakukan juga pengobatan luka pada kedua kaki belakang.  Melakukan palpasi pada tulang vertebrae mulai dari leher sampai pangkal ekor, juga memeriksa seluruh persendian pada kaki terutama kaki belakang.  Dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap (hematologi) dan serologi juga sampel lainnya seperti rambut, urine, ektoparasit, serta pemeriksaan lainnya.  Selain itu juga pemberian fluid therapy karena harimau mengalami dehidrasi serta pemberian supplement, antibiotik, anti inflamasi, analgesik juga antiparasit injection.  Disamping pemeriksaan medis dan pengobatan juga dilakukan pengambilan data body measurement dan mendokumentasi corak loreng pada tubuh harimau untuk identifikasi individu.

Setelah harimau mulai sadar, kami kembalikan lagi ke dalam kandang perawatan.  Masih  dilakukan pemberan infuse/ fluid therapy, kemudian penyuntikan antidote agar harimau segera sadar kembali.  Proses sadar kembali dari efek pembiusan merupakan saat-saat yang kritis dan perlu dimonitoring terus kondisinya dan tidak boleh ditinggalkan, karena pada saat-saat seperti itu juga rawan terjadinya kematian.

Pada awalnya saya menduga bahwa pembiusan akan berefek buruk terhadap kondisinya karena sebelumnya harimau tersebut sangat lemah. Ternyata hasil pencatatan data vital signs selama terbius kondisinya sangat bagus dan tidak terjadi komplikasi selama terbius.  Semua berjalan baik, mulai dari saat proses pembiusan, selama terbius sampai saat penyadaran kembali.


Perawatan pasca operasi
Pengobatan luka, 20 April 2013 
Perawatan pasca operasi memang lebih sulit dibandingkan melakukan operasi itu sendiri, karena posisi luka di leher dan dikaki sehingga harimau bisa menggaruk lukanya dengan kaki depan yang kadangkala  menyebabkan luka menjadi terbuka kembali dan infeksi.  Setelah monitoring beberapa hari, ada beberapa jahitan yang terbuka/ jebol karena digaruk dengan kaki depannya tetapi tidak terjadi infeksi, karena luka tersebut dua kali sehari selalu dibersihkan dan disemprot antibiotik lokal pada bekas jahitan.  Akhirnya luka pada leher menutup dan tumbuh rambut kembali, seperti halnya luka di bagian kedua kaki belakang menjadi kering dan tumbuh rambut kembali sehingga tidak tampak kusam lagi.  Bahkan harimau terlihat sering berusaha untuk berdiri tetapi tidak sanggup dan akhirnya hanya berdiri bertumpu pada tulang pinggul. 


Pemberian obat per oral
Nafsu makan harimau cukup bagus sehingga tidak ada masalah dalam pemberian makanan, dan akhirnya pemberian obat (antibiotik, analgesik, supplement, anti inflamasi) secara per oral pun menjadi lancar, hanya terkadang harimau merasa bosan dengan makanan yang kurang bervariasi, sehingga perawat satwa perlu memberikan makanan yang berbeda pada saat harimau sudah mulai bosan dengan makanan yang sejenis dalam waktu lama.  Selain itu juga diperikan pengobatan antibiotik long acting injeksi. 

Sejak hari ketiga berada di BKSDA Bengkulu, tepatnya sehari setelah operasi untuk pengobatan, kondisi harimau semakin membaik, nafsu makan bagus, tidak tampak lemah dan lesu lagi sehingga tidak bisa lagi didekati bahkan dipegang karena dia sudah mulai menerkam dan berusaha mencakar setiap orang yang datang untuk merawatnya dan setiap ada pergerakan orang di dekat kandangnya. Ini terlihat normal seperti harimau-harimau sebelumnya yang pernah kami rawat.

Pada tanggal 19 April 2013, saya mendapatkan laporan dari perawat satwa bahwa harimau Tesa nafsu makannya turun, daging ayam yang diberikan tidak dihabiskan.  Saya meminta perawat satwa untuk mengganti dengan daging sapi, kemungkinan nafsu makannya turun karena sakit atau karena bosan terhadap daging ayam yang diberikan terus-menerus setiap hari. Ternyata semua daging sapi yang diberikan dimakan habis olehnya.  Esok harinya tanggal 20 April 2013, saya menemaninya makan sekalian membantu untuk membersihkan kandang dan mengobati luka decubitus yang telah sembuh menjadi luka kembali, dan terdapat luka baru dipunggung akibat bergesekan dengan jeruji kandang saat pindah posisi.  Saat itu perawat satwa membawa makanan berupa daging ayam, dan Tesa hanya makan beberapa potong saja, tidak semua dimakannya, sehingga saya memintanya untuk mengganti dengan daging lainnya. Semua makanan yang diberikan kepada harimau selalu dalam kondisi segar baru disembelih.  Seperti halnya harimau-harimau sebelumnya, bahkan bila diberi daging yang telah disimpan dalam kulkas (refrigerator) harimau tidak mau makan, untuk itu setiap pemberian pakan pada harimau, kami selalu membeli daging yang masih segar. 

Sebelum memasuki kandangnya, saya memperhatikan dari lubang pintu, harimau Tesa bersuara seperti sapi sehingga menarik perhatianku, beberapa kali dia bersuara seperti sapi.  Akhirnya berhenti bersuara saat dia mengetahui kehadiranku dan bangun menatap kearah pintu yang masih tertutup dengan penuh curiga.  Satwa liar yang satu ini memang sangat sensitif, meskipun saya datang mengendap-endap tanpa bersuara dan memperhatikannya dibalik pintu melalui lubang kecil di pintu, tetapi harimau tahu bahwa dibalik pintu ada orang yang memperhatikannya, mungkin dia tahu dari bau manusia yang sudah dia kenali.  Hari itu harimau masih tampak agresif dan terlihat selalu waspada sambil menghadap dan menyesuaikan dengan posisi orang yang ada di dekatnya, apalagi melihat saya yang sering bergerak di sekitar kandang untuk mengobatinya, membuat dia sangat terganggu dan marah.

Perilakunya mulai tampak tidak normal sejak tanggal 23 April 2013 siang itu harimau tersebut masih terlihat seperti biasa, namun sore harinya sekitar pukul 17.00 WIB saat perawat satwa akan memberi makan, harimau tidur dan tidak merubah posisinya, saat ada orang datang dan tidak tampak agresif. Kemudian pukul 19.00 - 20.00 WIB, saya datang kembali untuk melihat kondisinya sebelum memutuskan untuk pergi ke Pusat Konservasi Gajah Seblat besok paginya tanggal 24 April 2013 guna melakukan vaksinasi dan pemeriksaan gajah rutin serta pemberian obat cacing rutin pada semua gajah disana.  

Nafas harimau terlihat berat, lambat dan dalam, sepertinya ada gangguan dalam pernafasannya dan sesekali batuk seperti mau vomit (muntah).  Saya palpasi perutnya tampak kembung, sehingga malam itu saya melakukan pengobatan kembung terlebih dulu dan saya juga therapy supportive.  Malam itu saya meminta petugas penjaga kantor untuk memeriksanya setiap saat, dan saya meninggalkan kunci kandang untuknya.  Lokasi kandang harimau memang selalu terkunci untuk menghindari orang-orang keluar masuk lokasi tersebut, dan hanya saya dan petugas pemberi pakan dan yang membersihkan kandangnya yang membawa kuncinya.  Petugas penjaga kantor juga memberi penerangan di lokasi kandang agar kondisi harimau mudah dipantau dari luar kandang.  Saya juga berpesan untuk dihubungi sewaktu-waktu bila terlihat kondisi harimau semakin kritis.  Saya kembali pulang dan standby di rumah untuk mendapatkan informasi tentang kondisi harimau atau bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada harimau malam itu.  Saya melewati malam dengan penuh kecemasan, dan sudah berpikir apakah harimau Tesa masih bisa bertahan malam itu.  Paginya saya mendapat telepon bahwa Tesa kondisinya masih sulit bernafas dan sering membantingkan kepalanya ke jeruji kandang.  Seorang teman kantor menjemput saya pagi itu untuk segera ke kantor BKSDA Bengkulu, dengan membawa peralatan medis milik saya sendiri yang lebih lengkap.  Harimau tampak sering kejang, dan membantingkan kepala ke jeruji kandang, mungkin karena adanya rasa sakit yang luar biasa.  Dia hanya sanggup mengangkat kepala, dan menggerakan kaki belakang dan ekor, sedangkan posisi tubuh lainnya tetap seperti hari sebelumnya tanpa ada perubahan. Setelah memberikan obat-obatan injeksi untuk meredakan gejala klinis yang muncul kemudian mencoba memberi makanan hati sapi agar mudah dikunyah dengan cara disuapi, nafsu makan bagus dan sering mengangkat kepalanya untuk minta makanan lagi tapi sepertinya tidak sanggup mengunyah, makanan tersebut dikeluarkan lagi dari mulutnya.  Akhirnya pemberian makanan dicoba diganti dengan pemberian karbonhydrat dalam bentuk cairan yang bisa diberikan melalui infuse.  

BKSDA Bengkulu, tanggal 24 April 2013
Saya sudah merasa bahwa Harimau Tesa akan pergi bahkan sejak malam itu, karena kondisinya sangat lemah, sehingga untuk memegangnya pun bisa dilakukan, namun dia masih bisa angkat kepala, tidak hanya nafas bahkan denyut jantungnya juga sudah abnormal sangat pelan dan tidak teratur.  Meskipun begitu, apapun masih tetap diupayakan untuk memperbaiki kondisinya meskipun kemungkinannya sangat kecil.  Akhirnya tepat pukul 12.33 WIB harimau Tesa dinyatakan mati.  Kami semua yang selama ini merawatnya ada didekatnya dan menemaninya saat menjelang dia akan pergi.  Meskipun tak semua orang memperdulikannya disini, bahkan acuh dan tidak mau tahu, tetapi paling tidak Tesa akan merasakan bahwa masih ada orang-orang yang sudi memperhatikannya selama ini, dan berada disampingnya disaat dia akan menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Harimau sumatera yang malang, kondisinya membuat dia harus ditangkap, dan kondisinya juga yang membuat dia kehilangan nyawa.  Kematian Tesa meninggalkan misteri yang harus dicari jawabannya.  Untuk itu dilakukan pemeriksaan nekropsi (bedah bangkai) untuk mengetahui penyebab kematiannya dan pemeriksaan laboratorium baik histopatologi, bakteriologi dan virologi untuk penegakan diagnosa. Juga untuk mengetahui penyebab kedua kaki belakangnya yang mengalami paresis sehingga tidak bisa dipakai untuk berjalan secara normal, mengingat tidak ditemukan adanya cidera pada tulang belakang (spinal cord injury).  Ditemukan juga pneumonia purulenta karena hampir merata di seluruh permukaan paru-parunya terdapat benjolan/ nodule berisi pus (nanah) dan eksudat warna kehijauan.  Mungkin ini penyebab harimau mengalami kesulitan bernafas. Dan tidak ditemukan adanya endoparasit pada paru yang kadang juga menyebabkan adanya bentukan nodule pada paru yang berisi parasit.  Organ lainnya tampak normal kecuali saluran pencernaan.

Selama ini hanya bisa menduga-duga tentang apa yang dideritanya, tanpa adanya pemeriksaan lain yang mendukung, tanpa adanya peralatan medis yang memadai, dan terbatasnya dana untuk pemeriksaan tentunya bila diperiksa di tempat lain, oleh karena itu tidak banyak yang bisa diperbuat, dan tidak banyak hal yang bisa dideteksi secara dini, sehingga berpengaruhi terhadap therapy yang akan dilakukan. Memiliki peralatan medis yang memadai sudah menjadi kebutuhan mutlak mengingat konflik harimau di Sumatera khususnya di Provinsi Bengkulu makin lama makin meningkat akibat aktifitas manusia yang sudah mulai mempersempit  habitat-habitat harimau sumatera, dan tidak semua harimau yang direscue selalu dalam kondisi sehat tentunya, mengingat untuk meminjam peralatan dari tempat lain pun belum tentu bisa didapatkan dengan mudah, meskipun tujuannya mulia yakni untuk mendukung konservasi harimau sumatera yang sudah masuk kategori critically endangered species di negara ini menurut red list dari International Union for Conservation of Nature (IUCN).   Hanya dengan menunggu harimau sumatera mati dengan sendirinya tanpa bisa berbuat banyak karena keterbatasan fasilitas untuk penanganan, atau juga terlalu lama menunggu upaya untuk rujukan  ke tempat lain yang memiliki fasilitas yang lebih memadai, semua itu sungguh membuat perasaan tersiksa bagi perawatnya, karena tidak banyak yang bisa diperbuat secara maksimal dan akhirnya pun tidak bisa segera diambil keputusan yang tepat tanpa dasar yang kuat, apakah harimau tersebut harus dieuthanasia, ditranslokasi ke tempat lain untuk pengobatan lebih lanjut ataukah ada kemungkinan bisa pulih kembali dan mampu untuk dilepasliarkan kembali ???  Hal ini dipengaruhi karena selama ini dalam penanganan satwa liar terlebih satwa yang terancam punah, otoritas veteriner belum berlaku karena semua diputuskan oleh penentu kebijakan termasuk hal-hal yang berhubungan dengan medik konservasi, sangat berbeda dengan di negara lain dan tidak sesuai dengan yang tercantum dalam UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Bab VII tentang Otoritas Veteriner.  

Sabtu, 13 April 2013

Bersama Tiger Protection & Conservation Unit dan Taman Nasional Kerinci Seblat melakukan investigasi penyebab kematian harimau sumatera di Jambi

" Kedokteran forensik juga diperlukan dalam dunia medik konservasi.  Pemeriksaan nekropsi dan  pemeriksaan specimen  di laboratorium dari bangkai satwa liar yang mati digunakan untuk mengetahui penyebab kematiannya dan juga dapat membantu petugas dalam penegakan hukum terhadap wildlife crime "

Pemeriksaan Nekropsi Harimau Sumatera
Sungai Penuh, 11 April 2013
Pagi itu saya mendapat informasi tentang adanya kematian seekor harimau sumatera yang ditemukan di Desa Tiangko Panjang, Kecamatan Sungai Manau, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.  Saya langsung berkemas menyiapkan peralatan pribadi dan peralatan nekropsi dan peralatan untuk koleksi specimen.  Dan kemudian menghubungi beberapa mobil travel dari Bengkulu ke Sungai Penuh, Kerinci, Jambi.  Ternyata semua mobil travel telah berangkat pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB.  Perjalanan antara kota Bengkulu menuju Sungai Penuh membutuhkan waktu kurang lebih 10 jam dengan melewati jalan lintas yang berada di Taman Nasional Kerinci Seblat.  Dan dua jam lagi bangkai harimau sudah sampai di Sungai Penuh.  Kemudian disarankan untuk menyimpan bangkai harimau yang telah dibungkus plastik ke dalam cold box agar bangkai tidak basah dan tidak cepat busuk.  Saya mencari alternatif lainnya untuk bisa berangkat ke Sungai Penuh hari itu, akhirnya mendapat saran untuk menaiki mobil travel dari Kota Bengkulu ke Kota Padang, Sumatera Barat yang melewati Tapan.  Saya berangkat pukul 11.47 WIB dari kota Bengkulu dan akan turun di Tapan.  Sesampainya di Tapan, Sumatera Barat sekitar pukul 20.30 WIB. Rencananya dari Tapan-Sumatera Barat menuju Sungai Penuh, Kerinci, Jambi saya akan naik mobil travel lagi, tetapi sesampainya disana saya melihat mobil Ford Ranger milik Tiger Protection & Conservation Unit sedang diparkir di dekat persimpangan jalan yang menuju ke Kerinci - Bengkulu - Padang. Saya tidak asing lagi dengan mobil itu, yang biasa kami pakai untuk rescue harimau dan mitigasi human-tiger conflict di wilayah Bengkulu dan Jambi bersama tim TPCU, serta juga pernah untuk mobil operasional Tim Conservation Response Unit (CRU) PLG Seblat.  Mereka, Tim TPCU (saya menyebutnya tim tiger), karena mereka selama ini saya kenal sebagai para pejuang konservasi harimau di Sumatera. Mereka memang dari awal berencana menjemput saya di Tapan, Sumatera Barat.  Saya turun dari mobil travel dan dibantu sopir travel untuk menaruh dua ransel saya ke mobil Ford Ranger tersebut.  Tidak ada orang di mobil itu, kemudian saya menghubungi mereka untuk memberi tahu bahwa saya sudah sampai.  Tak lama kemudian saya bertemu dengan kawan-kawan dari tim tiger, yakni Bang M dan Bang Jay.  Malam itu kami bertiga langsung menuju mess tiger di Sungai Penuh dan sampai disana sekitar pukul 23.30 WIB.  Sudah larut malam,  beberapa orang sudah tidur dan ada dua orang teman belum tidur dan masih bicara di ruang tamu. Berada di tempat ini seperti pepatah 'perawan disarang penyamun' karena kawan kerja saya yang menginap disana memang laki-laki semua :)  

Malam itu saya tidak langsung tidur, tetapi masih ada pekerjaan yang harus dilakukan yakni mengetik dan mencetak worksheet untuk pemeriksaan nekropsi (makroskopis) ditemani seorang polisi kehutanan dari Taman Nasional Kerinci Seblat, Pukul 01.30 WIB baru selesai menyiapkan worksheet untuk pemeriksaan nekropsi dan langsung tidur.  

Pegunungan yang mengelilingi Kerinci - Jambi
Biasanya di daerah ini suhunya sangat dingin, karena dikelilingi oleh gugusan pegunungan dan Taman Nasional Kerinci Seblat, seperti saat saya menginap beberapa tahun yang lalu untuk pemeriksaan harimau sumatera.  Untuk itu sebelum berangkat ke Sungai Penuh, dalam peralatan pribadi saya tidak lupa mengemas jacket tebal, beberapa kaos kaki, syal leher dan juga sleeping bag.  Namun yang saya rasakan sekarang berbeda, temperatur lingkungan disini tidak lagi sedingin dahulu.  Mungkin ini juga salah satu efek dari adanya perubahan lingkungan.

Esok harinya saya bangun pagi-pagi, menyiapkan peralatan untuk koleksi sampel yang dibutuhkan, juga
Persiapan Nekropsi 
peralatan nekropsi.  Ada beberapa bahan media specimen yang belum ada, akhirnya pagi itu dengan kedua orang teman dari tim tiger berbelanja untuk melengkapi peralatan yang dibutuhkan.  Dan kami juga mencari bahan kimia seperti Formalin 10% untuk bahan media pemeriksaan histopatology dan Glyserin untuk media pemeriksaan bakteriology dan virology ke Dinas Peternakan Kabupaten Kerinci. Kami menuju bagian Keswan (Kesehatan Hewan), dan menemui dan berkenalan dengan dokter hewan yang ada disana.  Kemudian kami mendapatkan bantuan larutan Glyserin, Aquadest, Alkohol 70% serta ice pack secara cuma-cuma.  Mendapatkan larutan Formalin dari apotek sangat sulit karena tidak dijual bebas untuk menghindari disalahgunakan untuk pengawetan makanan.  Pagi itu saya membuat resep guna pembelian formalin di apotek untuk keperluan dokter. Dan ternyata sangat sulit mendapatkan Formalin di kota kecil seperti Sungai Penuh ini.  Alternatif lainnya adalah, dengan memaketkan formalin beserta peralatan medis dan obat-obatan dari  mess tiger di Bangko untuk dibawa ke mess tiger di Kabupaten Kerinci hari itu juga.

Setelah semua peralatan dan bahan-bahan media lengkap, kami melakukan otopsi (bedah bangkai) harimau
Pulmo (Paru)
salah satu organ yang  abnormal
sumatera bersama tim tiger.  Specimen dikoleksi dari seluruh organ baik yang abnormal maupun yang normal, guna pemeriksaan histopatologi, toxicologi, bakteriologi, parasitologi serta virologi.  Sedangkan media yang digunakan adalah formalin 10%, glyserin 50%, alkohol 70%.  Dan metode pengambilan sampel yakni dengan koleksi potongan organ 0,5-1cm per sampel yang direndam dengan media sesuai dengan tujuan pemeriksaan.  Sedangkan untuk pemeriksaan toxicologi (racun) yang diambil hanya sampel hepar (hati), ren (ginjal), isi lambung dan usus.  Selain itu juga mengambil sampel ektoparasit yang ditemukan di rambut harimau, swab rongga mulut, rongga hidung, anus dan rongga telinga. Serta koleksi sampel otak untuk investigasi penyakit infeksius yang disebabkan oleh penyakit viral.  

Sebelum dilakukan otopsi, terlebih dulu dilakukan pemeriksaan fisik / seluruh tubuh harimau untuk mengetahui kondisi harimau secara umum.  Juga dilakukan pengambilan sampel rambut untuk pemeriksaan DNA. Pengambilan sampel darah dari jantung sudah tidak bisa dilakukan karena darah telah beku dan lysis. 

Hari itu selain disibukkan oleh kegiatan otopsi, pengemasan sampel, kemudian disibukkan juga dengan pembuatan laporan tertulis untuk Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) di Sungai Penuh dan selanjutnya laporan tersebut akan diteruskan untuk Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA), Kementerian Kehutanan RI di Jakarta tentang hasil pemeriksaan nekropsi (makroskopis), setelah itu juga melayani wawancara wartawan yang ingin mengetahui hasil otopsi harimau tersebut.

Sebagai dokter hewan, saya belum pernah belajar khusus tentang kedokteran forensik, bahkan kesempatan untuk mengikuti training khusus tentang forensik satwa liar terlewatkan begitu saja karena tidak adanya rekomendasi dari pimpinan untuk mengikuti training yang sangat penting itu.  Sehingga saya musti belajar secara otodidak dengan membaca buku-buku kedokteran forensik untuk manusia kemudian saya aplikasikan pada satwa liar.  Terutama tentang penyebab kematian satwa liar dilindungi karena tertembak, keracunan, luka traumatik dan lain-lain dengan segala teknik pemeriksaannya. Mengingat selama kuliah kedokteran hewan lebih banyak mempelajari patologi dan histopatologi hewan -hewan yang mati karena penyakit dan bukan karena animal crime. Mengungkap penyebab kematian satwa liar dilindungi sangat penting untuk membantu penegakan  hukum terhadap kejahatan pada satwa liar dilindungi.  Selain itu juga berguna untuk mengetahui penyakit pada satwa liar yang selanjutnya dapat dilakukan strategi pembinaan species tertentu untuk mendukung konservasi satwa liar in-situ.

Sambil mengisi waktu, saya bersama teman dari tim tiger menginventarisasi obat-obatan dan peralatan medis yang digunakan rescue harimau, juga peralatan untuk pengambilan sampel.  Semua sudah saya kemas sesuai dengan fungsinya dalam box plastik, mulai dari obat bius dan peralatan pembiusan, peralatan medis, peralatan untuk pengambilan sampel, obat-obatan dan lain-lain untuk mempermudah pekerjaan.  Selain itu saya juga mengencerkan formalin dengan konsentrasi 10% dan pengenceran glyserin menjadi 50% sehingga bila digunakan sewaktu-waktu semua bahan kimia tersebut telah siap digunakan.

Esok harinya baru kami mengemas kembali specimen harimau tersebut untuk siap dikirim ke laboratorium Balai Besar Penelitian Veteriner (BBALITVET) di Bogor.  Juga menyiapkan surat pengantar specimen dari BBTNKS ke BBALITVET Bogor.  Pengiriman sampel organ hasil otopsi tidaklah mudah, ada beberapa prosedur yang harus diikuti mulai dari pemberian media yang tepat sampai ke pengemasan specimen yang benar dan aman serta mengikuti birokrasi yang ada.  Semua itu sudah biasa kami lakukan jadi tidak ada hambatan dalam proses itu.  Saat pengiriman melalui pos diluar dugaan timbul masalah, karena pihak kantor pos tidak memiliki jasa pengemasan dengan box kayu seperti untuk pengemasan barang pecah belah. Waktu itu menunjukkan  pukul 11.00 WIB, kami disarankan untuk pengemasan dengan box kayu dilakukan diluar kantor pos.  Kami mencari lokasi orang yang bisa mengemas sampel dengan box kayu, akhirnya menemukan seorang tukang kayu dan meminta bantuannya untuk  membuatkan box kayu tempat sampel yang akan kami kirim.  Kami hanya punya waktu satu jam. Dan si tukang kayu tampak kebingungan membuat kotak yang kami pesan jadi pekerjaannya terkesan begitu lambat. Lebih dari pukul 12.00 WIB baru bisa diselesaikan, tentunya membuat kami cemas.  Kemudian kami cepat-cepat kembali ke kantor pos berharap mereka masih menunggu kami sebelum semua barang paket dikirim, dan ternyata mereka masih menunggu.     

Pemeriksaan nekropsi (makroskopis) dan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium untuk penegakan diagnosa sangat berguna untuk mengetahui penyebab kematian satwa liar.  Bila kematian satwa liar disebabkan karena tindakan wildlife crime maka hasil pemeriksaan tersebut bisa membantu petugas untuk penegakan hukum.  Untuk itu peran dokter hewan dalam kedokteran forensik sangat penting dalam membantu penegakan hukum kejahatan pada satwa liar.  Selain itu kedokteran forensik juga sangat penting dalam investigasi dan inventarisasi penyakit pada satwa liar di habitatnya yang akhirnya hasilnya dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk pembinaan species satwa liar dilindungi untuk mendukung konservasi in-situ.