Tampilkan postingan dengan label Anaesthesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anaesthesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2017

Pembiusan Rusa Totol (Axis axis)


Rusa totol (Axis-axis) di Penangkaran Rusa Provinsi Bengkulu.
Photo : Erni Suyanti Musabine
Pembiusan rusa totol agak sedikit berbeda dengan pembiusan satwa liar jenis lainnya, karena resiko yang ditimbulkan akibat pembiusan lebih besar, seringkali terjadi efek samping yang buruk selama pembiusan dan handling. Diperlukan persiapan yang matang sebelum melakukannya, yakni persiapan obat-obatan, tidak hanya obat bius saja tetapi juga antidote dan obat-obatan emergency (untuk penanganan kondisi darurat).  Juga diperlukan peralatan medis yang memadai, seperti peralatan pembiusan, penangkapan, pemeriksaan medis serta penanganan efek samping yang merugikan selama pembiusan. Selain itu juga dibutuhkan persiapan tim yang solid, karena keberhasilan pembiusan tidak hanya tergantung cara penanganan satwa oleh dokter hewan saja tetapi juga tergantung anggota tim lainnya yang membantu handling saat penangkapan, mereka harus memahami cara penangkapan yang tidak membuat satwa makin stress. Chemical restraint saja tidak cukup untuk penangkapan rusa totol, perlu juga dikombinasikan dengan physical restraint, yakni dengan bantuan jaring (net) dan tali.

Salah satu rusa totol di penangkaran rusa Bengkulu
Photo : Erni Suyanti Musabine
Ini adalah rusa totol ke-32 s/d ke-36 yang kami bius untuk tujuan relokasi antar penangkaran dan pemeriksaan medis. Dalam pembiusan kali ini kami mencoba kombinasi dosis pembiusan yang baru, yang belum pernah kami gunakan. Sebelumnya saya sering menggunakan kombinasi antara Xylazine dan Ketamine dalam pembiusan rusa totol, dan efek samping yang merugikan akibat pembiusan sangat banyak, seperti hyperthermia, bloat, seizure, torticollis, shock, dan lain-lain, sehingga perlu kesigapan dalam penanganan efek buruk yang terjadi untuk menghindari kematian. Dosis yang saya gunakan sesuai dengan referensi di "Handbook of Wildlife Chemical Immobilization". Selain itu saya juga pernah menggunakan alternative drugs, yakni Tiletamine-Zolazepam untuk pembiusan rusa totol dengan efek samping yang lebih sedikit.  

Saat ini saya mencoba menggunakan pembiusan rusa totol dengan menggunakan kombinasi Tiletamine-Zolazepam plus Xylazine dengan dosis bervariasi untuk mencari tahu efek samping dari masing-masing dosis yang diberikan. Selama ini saya belum pernah menggunakan recommended drugs karena tidak memiliki persediaan obat bius tersebut, yakni kombinasi antara Ketamine + Medetomidine, sehingga selalu obat alternative yang saya gunakan.

Pembiusan rusa totol
Sehari sebelum pembiusan rusa totol saya berdiskusi dengan kolega dokter hewan di kebun binatang Eropa yang memiliki pengalaman dalam pembiusan rusa totol, hanya sekedar ingin tahu obat bius apa yang biasa digunakan dan efek sampingnya. Saya hanya ingin membandingkan mana yang lebih baik untuk digunakan dengan efek samping merugikan yang paling sedikit. Bagi saya referensi terbaik tentang penggunaan obat-obatan dan dosisnya adalah dari pengalaman banyak orang di lapangan, saya tidak mau terpaku dalam buku, dan untuk mengambil referensi dari buku pun saya masih mencari tahu dulu siapa pengarangnya dan bagaimana pengalamannya dalam pembiusan satwa liar selama ini.

Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan kombinasi obat Tiletamine-Zolazepam plus Xylazine untuk pembiusan rusa totol dengan dosis yang bervariasi sesuai dengan keperluan. Dosis pembiusan yang digunakan untuk keperluan pemeriksaan medis berbeda dengan yang digunakan hanya untuk penangkapan saja. Berbagai variasi dosis saya coba gunakan untuk mengetahui perbedaan efek samping yang ditimbulkan. Adapun hasil pembiusan yang sudah kami lakukan seperti dalam tabel dibawah ini :

Obat Bius Alternatif
Tujuan
Efek Pembiusan
Efek Samping Merugikan
2,5mg/kg
Tiletamine-Zolazepam
2,5mg/kg Xylazine
Pemeriksaan Medis & Pengobatan
Surgical anaesthesia
Bloat
Depresi nafas
Hyperthermia
1mg/kg
Tiletamine-Zolazepam
2mg/kg Xylazine
Penangkapan/ relokasi
Heavy sedation
Hypertermia
Bloat
1mg/kg Tiletamine-Zolazepam
1,5mg/kg Xylazine
Penangkapan/ relokasi
Heavy sedation
Hyperthermia
Bloat
1mg/kg
Tiletamine-Zolazepam
1mg/kg Xylazine
Penangkapan/ relokasi
Light or mild sedation
Hyperthermia
2,6mg/kg Tiletamine-Zolazepam

Penangkapan/ relokasi
Awake animal
-

Monitoring vital signs selama pembiusan rusa totol
Efek merugikan akibat pembiusan tidak hanya itu saja, beberapa rusa yang telah dibius juga menunjukkan penurunan heart beat per menit dan kadar oksigen dalam darah serta vomit. Dan efek samping selama pembiusan di daerah tropis tentu juga berbeda dengan di Eropa atau negara barat lainnya meski menggunakan pilihan obat yang sama dan dosis yang sama. Mereka biasa menghadapi kasus Hypoxemia dan Hypothermia dalam setiap pembiusan rusa totol, dan tidak mendapatkan kasus bloat dan hyperthermia, tentu suhu lingkungan sangat berpengaruh pada saat pembiusan.

Berbagai faktor berpengaruh dalam ringan beratnya efek pembiusan. Rusa totol merupakan satwa yang hidupnya berkelompok besar, pembiusan rusa totol dalam kelompok di dalam kandang yang sangat luas juga sangat berpengaruh terhadap hasil pembiusan. Rusa yang telah berhasil dibius dengan blowdart biasanya selalu diintimidasi oleh rusa-rusa lainnya bahkan hingga terluka, dan membuat rusa tidak tertidur karena terus berlari dikejar-kejar oleh rusa lainnya dan dibangunkan, sehingga efek obat bius berangsur-angsur hilang bila berlangsung dalam waktu beberapa jam tanpa bisa didekati. Pembiusan rusa yang tidak bisa dipisahkan dari kelompoknya atau dalam kelompok besar akan menjadi tantangan tersendiri bagi dokter hewan, dibandingkan membius rusa tanpa kelompok dalam kandang kecil tentu akan jauh lebih mudah.

Physical restraint setelah pembiusan untuk penangkapan rusa totol
Photo : Erni Suyanti Musabine
Rusa totol juga satwa yang sangat sensitive dengan lingkungan sekitarnya. Pergerakan kami di sekitarnya juga bisa menimbulkan rasa curiga dan stress pada rusa, sehingga dalam pembiusan hanya diperbolehkan sedikit mungkin orang yang mendekat ke kandangnya untuk menghindari satwa stress sebelum pembiusan. Stress pada satwa sebelum dibius sangat berpengaruh besar terhadap kesuksesan pembiusan, bahkan bisa gagal. Rusa totol yang dibius juga tidak tidur sempurna pada dosis tertentu, sehingga dalam penangkapannya pun musti berhati-hati untuk menghindari rusa terkejut, bangun dan berlari/ melompat lagi, atau perlu juga menghindari kelompok rusa lainnya berlari karena menghindari petugas physical restraint (penangkap dengan jaring), karena kelompok rusa yang lari menghindari orang juga memicu rusa totol yang telah dibius untuk bangun kembali dan ikut berlari menghindar karena merasa terancam.

Jadi keberhasilan suatu pembiusan satwa liar sangat tergantung dari persiapan petugas, kemampuan untuk memprediksi efek samping merugikan yang akan terjadi dan mampu mengatasinya, kekompakan tim yang memiliki kemampuan dalam handling satwa untuk memperkecil stress dan penggunaan obat-obatan pilihan dan dosis yang tepat sesuai dengan ketepatan perkiraan berat badan, selain itu kondisi lingkungan sekitarnya juga sangat berpengaruh.

Selasa, 14 Januari 2014

Pemasangan Microchip pada Harimau Sumatera di Taman Satwa Taru Jurug


Taman Satwa Taru Jurug atau lebih dikenal dengan sebutan Kebun Binatang Jurug di Solo, Jawa Tengah merupakan tempat wisata di kota Solo, yang berlokasi di timur Kota Solo dekat perbatasan dengan Karanganyar. Kebun binatang ini terletak di tepian Sungai Bengawan Solo dan berbatasan dengan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). 


Lokasinya bisa anda lihat pada peta di bawah ini :

Taman Satwa Taru Jurug Solo (Solo Zoo) - Jawa Tengah. Sumber : Google Earth

Saya mengunjungi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) sejak tahun 2013 lalu bersama Tim Ape Warrior - Centre for Orangutan Protection (COP). Kebetulan COP telah banyak membantu untuk perbaikan kesejahteraan orangutan di TSTJ dengan pembuatan environmental enrichment  bagi orangutan dan primata lainnya serta membantu pembangunan klinik dan karantina disana. Pada kesempatan kunjungan pertama, saya bersama COP yang pada saat itu diwakili oleh Hardi Baktiantoro dan Daniek Hendarto, kami mendapat kesempatan berdiskusi langsung dengan pengelolanya dan menyampaikan kesediaan untuk membantu secara sukarela hal-hal yang berhubungan dengan captive wildlife management terutama manajemen kesehatan satwa liar, diantaranya tentang pembuatan laporan medis, pemeriksaan parasitologi, prosedur pemeriksaan kesehatan satwa, prosedur pembiusan satwa liar,  cara pengisian worksheet immobilization, morfometri untuk primata, harimau dan gajah, serta pelatihan dokter hewan setempat dalam pembiusan satwa liar untuk berbagai keperluan seperti pemeriksaan medis, pemasangan microchip dan pengobatan. Bisa membantu satwa liar untuk memperbaiki kesejahteraannya dan membantu orang-orang yang bekerja untuk satwa liar terutama yang berhubungan dengan penanganan medis satwa liar adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya meskipun semua dilakukan secara sukarela.  Bagi saya bekerja tidak selalu untuk mencari dan mendapatkan uang, karena uang bukanlah tolak ukur sumber kebahagiaan seseorang, tetapi bekerja juga untuk mencari kepuasan batin dengan berbuat sesuatu untuk satwa liar dimanapun berada sesuai dengan profesi kita.

Mungkin tidak semua orang menyukai kebun binatang, begitu juga dengan saya sendiri ikut membantu kebun binatang bukan berarti saya menyetujui satwa liar berada dalam kurungan.  Tapi bukan berarti kita menjadi tidak peduli terhadap mereka yang ada di kebun binatang dan tempat lain sejenisnya. Karena mereka semua ada disana bukan atas kemauan mereka sendiri tetapi karena manusia. Bila ada satwa liar penghuni kebun binatang kondisinya buruk, itupun juga bukan keinginan mereka tetapi perilaku manusialah yang membuat mereka menjadi korban karena hidup mereka tergantung pada manusia yang mengelolanya. Dan bagi saya sendiri saya tidak tertarik untuk ikut campur dalam mengkritik kebun binatang yang fasilitasnya buruk dalam merawat satwa liarnya, karena dengan hanya mengkritik saja tidak akan bisa membuat kondisi menjadi lebih baik, saya dan teman-teman lebih menyukai terjun langsung ke lapangan melihat permasalahan dan membantu sesuai dengan kemampuan untuk memperbaiki keadaan, semua dilakukan hanya demi satwa liar.

Sampai dengan awal tahun 2014 ini sudah lebih dari lima kali saya mengunjungi TSTJ Solo. Kebetulan TSTJ mempunyai program kerja untuk pemasangan microchip pada satwa koleksinya, dan dokter hewan disana meminta bantuan untuk pembiusan satwa terutama orangutan dan harimau sumatera guna keperluan pemeriksaan kesehatan dan pemasangan  microchip.  Akhir tahun lalu kami telah memberikan training untuk dokter hewan setempat dan relawan mahasiswa Kedokteran Hewan UGM tentang prosedur pembiusan orangutan, dan bulan Januari 2014 ini pada harimau sumatera. 

Harimau Sumatera bernama Septi di TSTJ Solo. Photo : Erni Suyanti Musabine

Kegiatan ini dibantu oleh Centre for Orangutan Protection (COP) yang menurunkan tiga timnya sekaligus yakni Ape Warrior, Ape Crusader dan Ape Defender serta melibatkan relawan COP. Pagi itu tanggal 14 Januari 2014 pukul 06.00 WIB kami telah bersiap-siap berangkat dari kantor Ape Warrior di Yogyakarta menuju TSTJ Solo, Jawa Tengah, saat itu saya ditemani oleh staff COP yakni Wawan, Ramadhani, Reza serta volunteer COP yakni Weti dan Elizabeth Laksmi. Sebelumnya saya masih menunggu peralatan medis dan obat-obatan milik saya pribadi untuk keperluan pembiusan satwa liar dikirimkan dari Bengkulu ke Yogyakarta.  Karena paket telah sampai kami pun siap beraksi.

Seperti biasa sebelum melakukan pembiusan satwa liar, saya melakukan check list obat-obatan baik obat bius yang akan digunakan maupun obat-obatan untuk keperluan emergency selama pembiusan, dan mengecek peratan pembiusan, masih berfungsi dengan baik atau tidak, tak lupa kami juga melakukan sterilisasi peralatan pembiusan terlebih dahulu.  Peralatan pembiusan yang tidak steril bisa berakibat buruk bagi satwa liar.  Juga menyarankan kepada dokter hewan setempat agar harimau tersebut dipuasakan terlebih dahulu.


Harimau Sumatera 'Septi'
Juga dilakukan pembagian tugas, ada yang bertugas melakukan sumpit bius, recorder, melakukan pengukuran tubuh harimau (morfometri) sesuai dengan panduan yang ada, melakukan monitoring vital signs selama pembiusan, koleksi sampel, pemasangan microchip, pemeriksaan fisik harimau, penyuntikan antidote dan obat-obatan lain yang diperlukan, petugas dokumentasi baik photo maupun video dan lainnya. Dengan pembagian tugas membuat orang yang bekerja sudah mengetahui tugasnya masing-masing dengan jelas, sehingga diharapkan semua bisa berjalan dengan lancar.


Dalam kegiatan ini kami juga tekankan agar setiap orang memahami prosedur pembiusan satwa liar, seperti harus dalam suasana tenang atau tidak ramai sehingga satwa tidak menjadi stress, gelisah, waspada, bahkan agresif sebelum dibius karena akan mempengaruhi respon obat bius terhadap satwa. Pemilihan waktu yang tepat untuk pembiusan. Menyiapkan peralatan dan obat-obatan emergency sebelum pembiusan dilakukan untuk penanganan efek samping yang buruk karena pembiusan bila itu terjadi. Kata-kata yang selalu saya ingat setiap saya akan melakukan pembiusan satwa liar adalah "The best way to handle anaesthetic emergencies is to predict the next problem and be ready before It happens !!!" Dan kata-kata itu seolah-olah sudah melekat erat di pikiranku.  Itu juga yang membuat saya lebih baik menunda pekerjaan bila peralatan dan obat-obatan yang dibutuhkan untuk pembiusan satwa liar belum lengkap sesuai dengan kebutuhan.

Pembiusan Harimau Sumatera bernama Septi di TSTJ Solo. 
Sumber Photo : Centre for Orangutan Protection

Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, dan kami harus mulai bekerja karena bila terlalu siang suhu lingkungan akan panas dan bisa berpengaruh terhadap suhu tubuh harimau menjadi hyperthermia selama terbius. Yang menjadi target hari itu adalah harimau sumatera bernama Septi, berusia 9 tahun, yang lahir di TSTJ Solo. Selesai menyiapkan obat-obatan bersama dokter hewan TSTJ, Drh. Tiara Debby Carinda, kami melakukan pembiusan. Pilihan obat yang digunakan adalah kombinasi antara Xylazine dan Ketamine. Pembiusan yang dilakukan hanya selama 1 jam 17 menit saja untuk keperluan pemasangan microchip, pemeriksaan fisik, pengukuran tubuh, photo gigi dan loreng serta pengambilan sampel darah.  Hasil monitoring vital signs, temperatur tubuh normal berkisar 36,8C; frekuensi detak jantung dan pulsus adalah 84-86X per menit; frekuensi pernafasan 7-40X per menit, selama 3 kali pemeriksaan terjadi penurunan frekuensi nafas yakni 7-8X per menit kemudian normal kembali. Monitoring vital signs dilakukan setiap 5-10 menit sekali selama pembiusan. Semua berjalan dengan baik sampai harimau dibangunkan kembali dengan penyuntikan antidote.

Observasi harimau tidak hanya dilakukan selama pembiusan tetapi juga pada saat satwa akan sadar kembali karena itu juga merupakan waktu rawan terjadinya efek samping yang buruk. Masih ada empat ekor lagi harimau sumatera di TSTJ Solo yang juga akan dilakukan pemasagan microchip. Berharap kegiatan hari itu akan bermanfaat bagi dokter hewan setempat dan keeper harimau bila akan melakukan pembiusan untuk keperluan apapun, tidak hanya pemasangan microchip tetapi juga untuk pemeriksaan kesehatan, pengambilan sampel dan pengobatan. Mengingat TSTJ Solo tidak memiliki kandang jepit untuk keperluan tindakan medis.

Selasa, 17 Desember 2013

Pemasangan Microchip pada Orangutan di Taman Satwa Taru Jurug



Program kegiatan pemasangan microchip untuk penandaan individu sedang dilakukan di Taman Satwa Taru Jurug, Solo, Jawa Tengah.  Pemberian microchip sangat penting bagi satwa liar di lembaga konservasi eksitu selain sebagai identitas individu juga sangat membantu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat sebagai lembaga yang mempunyai wewenang dalam mengawasi peredaran satwa liar, sehingga keluar masuknya satwa liar dari lembaga konservasi eksitu ke tempat lainnya akan terkontrol dengan baik, karena setiap individu memiliki identitas masing-masing yang bisa diperiksa sewaktu-waktu.

Microchip ini merupakan donasi dari Centre for Orangutan Protection (COP), yang ingin membantu program kegiatan pemasangan microchip pada satwa liar koleksi disana.  Tidak hanya itu, COP juga membantu memberikan training kepada petugas disana yakni dokter hewan setempat mengenai pembiusan satwa liar dan pemasangan microchip pada satwa liar.  

Sebelumnya telah dua kali dilakukan pemasangan microchip di TSTJ, yakni pemasangan microchip pada 3 ekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang dilakukan oleh tim khusus dari Kementerian Kehutanan (PHKA/ Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam), Taman Safari Indonesia dan Australia Zoo untuk kepentingan program pendataan gajah jinak di seluruh Indonesia.  

Pemasangan microchip kedua adalah pada orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Kirno. Kirno adalah orangutan hasil penyitaan dari kepemilikan illegal di Jawa Tengah yang dilakukan oleh BKSDA Jawa Tengah dengan dibantu oleh Centre for Orangutan Protection. Kondisinya saat itu sangat mengenaskan, dengan luka bernanah yang membusuk di bagian muka, dikurung dalam kandang sempit tanpa enrichment dan keterbatasan sinar matahari yang masuk serta ditemukan banyak kotoran sampah didalamnya. Orangutan adalah satwa liar yang memiliki perilaku dan perasaan mirip manusia, bisa dibayangkan bila kita tinggal di ruangan seperti itu dalam kurung waktu yang lama.  Setelah penyitaan pun orangutan Kirno mengalami nasib yang tidak jelas, dititipkan perawatannya di TSTJ oleh BKSDA Jawa Tengah dan diletakkan dalam kandang sempit berjeruji besi dengan ukuran 1 meter x 1 meter x 1,5 meter selama kurang lebih 9 bulan lamanya. Saya melihat kirno untuk pertama kalinya saat masih berada dalam kandang tersebut. Dari perilakunya terlihat bahwa dia tampak bosan. Sedih memang melihat kondisinya. Teman-teman di COP tergerak hati untuk membantu dengan melakukan pendekatan pada pengelola TSTJ dan BKSDA Jawa Tengah, dengan memberikan usulan untuk relokasi orangutan Kirno ke sebuah pulau yang lebih luas dan tidak termanfaatkan di areal taman satwa tersebut sampai ada keputusan dari pihak berwenang yakni BKSDA Jawa tengah orangutan tersebut mau dikemanakan.  Namun tidak hanya memberikan usulan saja tetapi juga membantu secara sukarela baik tenaga maupun pembiayaan untuk mewujudkan itu.  Pengelola TSTJ dan BKSDA hanya tinggal melihat hasilnya bahwa orangutan tersebut akan jauh lebih baik di tempat yang baru, baik secara fisik maupun psikis, karena tentu akan lebih mudah untuk orangutan mengekspresikan perilaku alaminya karena banyak pohon besar di pulau tersebut yang juga akan dilengkapi dengan environmental enrichment, dan yang pasti tidak lagi terkurung dalam kandang sempit tanpa enrichment.

Baby, Orangutan at Solo Zoo - Central Java
Pada tanggal 17 Desember 2013 dilakukan pemasangan microchip dan pemeriksaan karantina pada orangutan bernama Baby. Orangutan betina dewasa ini penghuni baru TSTJ dan belum diketahui status kesehatannya, yang juga merupakan korban dari perawatan yang sangat buruk di tempat sebelumnya. Pada saat saya sedang berada di Yogyakarta untuk presentasi tentang upaya konservasi gajah, harimau dan orangutan di Sumatera dalam acara Jambore OranguFriends bersama teman-teman dari berbagai lembaga yang bekerja untuk konservasi satwa liar, saya masih mempunyai sisa waktu sebelum kembali ke Bengkulu pada tanggal 18 Desember 2013 untuk kegiatan lainnya yakni relokasi beruang madu bernama Jony dan Siamang dari BKSDA Bengkulu menuju ke Sanctuary beruang madu dan siamang, owa dan ungko yang dikelola oleh Yayasan Kalaweit Sumatera di Solok, Sumatera Barat. Nasib beruang madu bernama Jony tak jauh berbeda dengan orangutan Kirno, yang terpaksa tinggal di kandang sempit dalam jangka waktu lama sekitar 4 tahun lamanya tanpa ada keputusan dan solusi yang jelas mengenai masa depannya dari pengambil kebijakan. 

Kebetulan saya diminta untuk membantu program kegiatan tersebut di TSTJ, yakni membantu dokter hewan setempat dalam pembiusan orangutan dan prosedur pemeriksaan kesehatan orangutan pada masa karantina. Membantu berarti saya diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dan pengalaman, dan ini hal yang sangat membahagiakan, berarti ilmu itu tidak akan pernah mati karena akan terus-menerus terpakai. Mengingat sebelumnya saya sudah pernah melakukan pembiusan orangutan bernama Kirno dan melakukan pemeriksaan kesehatan bersama mereka, dalam kesempatan ini saya akan memposisikan diri sebagai supervisor saja. Mereka sudah pernah terlibat dalam pembiusan orangutan dan itu saya anggap sebagai pelatihan bagi mereka, dan saatnya mereka yang melakukannya sendiri. Karena saya tidak ingin hanya datang kesana membantu melakukan pembiusan orangutan, pemasangan microchip dan pemeriksaan karantina sendiri dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan pengalaman bagi mereka, karena suatu saat mereka harus melakukannya sendiri tanpa supervisi.

Baby, Orangutan at Solo Zoo-Central Java
Sesuai dengan prosedur, orangutan dipuasakan terlebih dahulu sebelum dilakukan pembiusan. Beberapa obat-obatan saya rekomendasikan untuk disediakan oleh dokter hewan setempat sebelum kegiatan dilakukan. Yakni obat bius dan obat-obatan untuk penanganan kondisi darurat karena efek samping obat bius. Meskipun itu jarang sekali terjadi pada primata dan lebih sering terjadi pada pembiusan harimau dan rusa totol, tetapi harus tetap disediakan sebelum itu terjadi. Lagi-lagi motto saya dalam pembiusan satwa liar adalah "The best way to handle anaesthetic emergencies is to predict the next problem and be ready before It happens". Tahap berikutnya menentukan dosis obat yang akan digunakan, dan memberikannya kepada dokter hewan TSTJ untuk dihitung.  Kebiasaan saya bekerja di lapangan dalam rescue satwa liar bahwa saya selalu mempersiapkan dosis obat bius dan obat-obatan emergency dalam tabel di selembar kertas dengan berbagai estimasi berat badan. Itu akan sangat berguna bila kita bekerja dalam kondisi darurat dan harus bertindak cepat. Saya menyebutnya 'contekan'. Dosis yang telah saya tentukan akan dihitung oleh dokter hewan TSTJ dan volunteer mahasiswa kedokteran hewan dari UGM yang ikut serta. Bagi saya ini adalah salah satu cara memberikan pelatihan praktek secara praktis dan mudah dipahami, 'learning by doing'. Hasil penghitungan tersebut baru akan saya koreksi, karena ini menyangkut dosis obat jadi harus dipastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada kesalahan dalam penghitungan.

Juga ditekankan pada mereka bahwa harus tahu obat-obatan dan peralatan apa saja yang diperlukan dalam pembiusan satwa liar, dengan melibatkan mereka secara langsung dalam mempersiapkan itu semua. Karena peralatan pembiusan yang dipakai di klinik atau rumah sakit hewan akan sedikit berbeda dengan peralatan yang dipakai untuk satwa liar di lapangan dengan peralatan minimalis. Dan mereka pun harus tahu bagaimana cara penggunaannya. Bekerja di hutan dengan minimnya fasilitas medis membuat kami sering berimprovisasi sendiri dalam menciptakan alat baru dengan memanfaatkan yang ada disekitar kami untuk pembiusan dan pengobatan satwa liar di habitat. Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa bambu, pipa paralon dan senar pancing serta ranting-ranting pohon sangat bermanfaat untuk keperluan pembiusan dan pengobatan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di hutan. Kreativitas itu diperlukan :) 

Tim Centre for Orangutan Protection membantu pemasangan microchip 
dan pemeriksaan karantina pada orangutan
di Taman Satwa Taru Jurug Solo - Jawa Tengah

Pembagian tugas dilakukan. Dalam kegiatan ini dilakukan oleh delapan orang, yakni keeper orangutan TSTJ yang ikut mendampingi dokter hewan dalam melakukan pembiusan dan restraint orangutan, dokter hewan TSTJ yakni drh. Tiara Debby Carinda yang akan melakukan pembiusan, pengambilan sampel darah, rambut dan pemasangan microchip untuk penandaan individu, mahasiswa kedokteran hewan Universitas Gajah Mada (UGM) yang menjadi volunteer  (relawan) COP yakni Ade Fitri Alfiani, Adinda Medina dan Rezeki Muliani yang akan membantu monitoring vital signs yakni memeriksa frekuensi pernafasan, detak jantung serta pulsus dan pemeriksaan temperatur tubuh per 5 - 10 menit sekali, melakukan pencatatan di immobilization worksheet mengenai hasil pembiusan, dan physiology data selama pembiusan, body measurement, pengambilan sidik jari untuk identifikasi individu, dan photo gigi untuk estimasi umur. Dan dilanjutkan dengan beberapa perlakuan medis lainnya yakni pemberian obat-obatan untuk tindakan pencegahan. Saya sendiri sebagai supervisor dokter hewan dan pengambil tindakan untuk penanganan kondisi emergency bila terjadi efek samping obat bius yang merugikan dan melakukan supervisi semua aktivitas tersebut dan melakukan pemeriksaan fisik orangutan secara keseluruhan, serta Wawan yakni staff Ape Warrior - Centre for Orangutan Protection sebagai pengambil dokumentasi untuk kegiatan.  Dan masih ada relawan COP lainnya yakni Dimas Novrizal Agus yang juga membantu kegiatan ini.

Pilihan immobilization drugs yang digunakan adalah kombinasi antara 0,5-1 mg/kg Xylazine dengan 1-5 mg/kg Ketamine HCl.  Dan Emergency drugs yang perlu dipersiapkan dalam setiap pembiusan satwa liar adalah : Antidote, Doxaparam, Adrenalin (Epinephrine), Atropin sulfate, Dexamethasone, Diazepam, dan lain-lain. Karena handling satwa liar itu tidak seperti handling pet animal yang bisa dipegang sewaktu-waktu, biasanya dalam pembiusan juga dilakukan tindakan pencegahan lainnya seperti pemberian salep mata atau obat tetes mata untuk mencegah infeksi sekunder pada mata karena selama terbius mata akan selalu terbuka, pemberian antibiotik untuk pencegahan infeksi sekunder karena luka bekas suntik bius, dan pemberian anti parasit seperti Ivermectine.  Sedangkan peralatan pendukung yang seharusnya tersedia dalam pembiusan satwa liar adalah ambubag, pulse oxymeter, thermometer, stethoscope, penutup mata dan telinga, slang berdiameter < 0,5 cm dan peralatan lainnya yang diperlukan.

Pemasangan Microchip
Scanning Microchip

Kegiatan pembiusan untuk keperluan pemasangan microchip dan pemeriksaan karantina tersebut berjalan dengan lancar tanpa ada komplikasi selama pembiusan. Kondisi physiology orangutan selama pembiusan sangat baik. Semua itu karena adanya kerjasama tim yang baik selama kegiatan berlangsung, setiap orang yang bekerja telah memahami prosedur pembiusan yang aman dan tahu tugasnya masing-masing. Sehingga semua bisa bekerja dengan baik dalam kondisi yang tenang. Satwa liar yang akan dibius dan selama terbius serta saat dibangunkan kembali membutuhkan kondisi lingkungan yang tenang tanpa suara berisik di sekitarnya.  Karena itu akan berpengaruh terhadap satwa liar yang sedang kita tangani.

"Setiap penanganan satwa liar adalah pengalaman berharga dan pelajaran baru karena setiap individu satwa liar itu berbeda meskipun spesiesnya sama. Kita akan terus belajar dari setiap hal yang kita lakukan, dan di setiap satwa liar yang kita tangani itu terdapat pelajaran yang sangat berharga yang terkadang tidak kita temukan dalam ilmu pengetahuan di perkuliahan atau textbooks manapun".