Jumat, 20 Januari 2017

Pembiusan Rusa Totol (Axis axis)


Rusa totol (Axis-axis) di Penangkaran Rusa Provinsi Bengkulu.
Photo : Erni Suyanti Musabine
Pembiusan rusa totol agak sedikit berbeda dengan pembiusan satwa liar jenis lainnya, karena resiko yang ditimbulkan akibat pembiusan lebih besar, seringkali terjadi efek samping yang buruk selama pembiusan dan handling. Diperlukan persiapan yang matang sebelum melakukannya, yakni persiapan obat-obatan, tidak hanya obat bius saja tetapi juga antidote dan obat-obatan emergency (untuk penanganan kondisi darurat).  Juga diperlukan peralatan medis yang memadai, seperti peralatan pembiusan, penangkapan, pemeriksaan medis serta penanganan efek samping yang merugikan selama pembiusan. Selain itu juga dibutuhkan persiapan tim yang solid, karena keberhasilan pembiusan tidak hanya tergantung cara penanganan satwa oleh dokter hewan saja tetapi juga tergantung anggota tim lainnya yang membantu handling saat penangkapan, mereka harus memahami cara penangkapan yang tidak membuat satwa makin stress. Chemical restraint saja tidak cukup untuk penangkapan rusa totol, perlu juga dikombinasikan dengan physical restraint, yakni dengan bantuan jaring (net) dan tali.

Salah satu rusa totol di penangkaran rusa Bengkulu
Photo : Erni Suyanti Musabine
Ini adalah rusa totol ke-32 s/d ke-36 yang kami bius untuk tujuan relokasi antar penangkaran dan pemeriksaan medis. Dalam pembiusan kali ini kami mencoba kombinasi dosis pembiusan yang baru, yang belum pernah kami gunakan. Sebelumnya saya sering menggunakan kombinasi antara Xylazine dan Ketamine dalam pembiusan rusa totol, dan efek samping yang merugikan akibat pembiusan sangat banyak, seperti hyperthermia, bloat, seizure, torticollis, shock, dan lain-lain, sehingga perlu kesigapan dalam penanganan efek buruk yang terjadi untuk menghindari kematian. Dosis yang saya gunakan sesuai dengan referensi di Handbook of Wildlife Chemical Immobilization ". Selain itu saya juga pernah menggunakan alternative drugs, yakni Tiletamine-Zolazepam untuk pembiusan rusa totol dengan efek samping yang lebih sedikit.  

Saat ini saya mencoba menggunakan pembiusan rusa totol dengan menggunakan kombinasi Tiletamine-Zolazepam plus Xylazine dengan dosis bervariasi untuk mencari tahu efek samping dari masing-masing dosis yang diberikan. Selama ini saya belum pernah menggunakan recommended drugs karena tidak memiliki persediaan obat bius tersebut, yakni kombinasi antara Ketamine + Medetomidine, sehingga selalu obat alternative yang saya gunakan.

Pembiusan rusa totol
Sehari sebelum pembiusan rusa totol saya berdiskusi dengan kolega dokter hewan di kebun binatang Eropa yang memiliki pengalaman dalam pembiusan rusa totol, hanya sekedar ingin tahu obat bius apa yang biasa digunakan dan efek sampingnya. Saya hanya ingin membandingkan mana yang lebih baik untuk digunakan dengan efek samping merugikan yang paling sedikit. Bagi saya referensi terbaik tentang penggunaan obat-obatan dan dosisnya adalah dari pengalaman banyak orang di lapangan, saya tidak mau terpaku dalam buku, dan untuk mengambil referensi dari buku pun saya masih mencari tahu dulu siapa pengarangnya dan bagaimana pengalamannya dalam pembiusan satwa liar selama ini.

Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan kombinasi obat Tiletamine-Zolazepam plus Xylazine untuk pembiusan rusa totol dengan dosis yang bervariasi sesuai dengan keperluan. Dosis pembiusan yang digunakan untuk keperluan pemeriksaan medis berbeda dengan yang digunakan hanya untuk penangkapan saja. Berbagai variasi dosis saya coba gunakan untuk mengetahui perbedaan efek samping yang ditimbulkan. Adapun hasil pembiusan yang sudah kami lakukan seperti dalam tabel dibawah ini :

Obat Bius Alternatif
Tujuan
Efek Pembiusan
Efek Samping Merugikan
2,5mg/kg
Tiletamine-Zolazepam
2,5mg/kg Xylazine
Pemeriksaan Medis & Pengobatan
Surgical anaesthesia
Bloat
Depresi nafas
Hyperthermia
1mg/kg
Tiletamine-Zolazepam
2mg/kg Xylazine
Penangkapan/ relokasi
Heavy sedation
Hypertermia
Bloat
1mg/kg Tiletamine-Zolazepam
1,5mg/kg Xylazine
Penangkapan/ relokasi
Heavy sedation
Hyperthermia
Bloat
1mg/kg
Tiletamine-Zolazepam
1mg/kg Xylazine
Penangkapan/ relokasi
Light or mild sedation
Hyperthermia
2,6mg/kg Tiletamine-Zolazepam

Penangkapan/ relokasi
Awake animal
-

Monitoring vital signs selama pembiusan rusa totol
Efek merugikan akibat pembiusan tidak hanya itu saja, beberapa rusa yang telah dibius juga menunjukkan penurunan tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah serta vomit. Dan efek samping selama pembiusan di daerah tropis tentu juga berbeda dengan di Eropa atau negara barat lainnya meski menggunakan pilihan obat yang sama dan dosis yang sama. Mereka biasa menghadapi kasus Hypoxemia dan Hypothermia dalam setiap pembiusan rusa totol, dan tidak mendapatkan kasus bloat dan hyperthermia, tentu suhu lingkungan sangat berpengaruh pada saat pembiusan.

Berbagai faktor berpengaruh dalam ringan beratnya efek pembiusan. Rusa totol merupakan satwa yang hidupnya berkelompok besar, pembiusan rusa totol dalam kelompok di dalam kandang yang sangat luas juga sangat berpengaruh terhadap hasil pembiusan. Rusa yang telah berhasil dibius dengan blowdart biasanya selalu dintimidasi oleh rusa-rusa lainnya bahkan hingga terluka, dan membuat rusa tidak tertidur karena terus berlari dikejar-kejar oleh rusa lainnya dan dibangunkan, sehingga efek obat bius berangsur-angsur hilang bila berlangsung dalam waktu beberapa jam tanpa bisa didekati. Pembiusan rusa yang tidak bisa dipisahkan dari kelompoknya atau dalam kelompok besar akan menjadi tantangan tersendiri bagi dokter hewan, dibandingkan membius rusa tanpa kelompok dalam kandang kecil tentu akan jauh lebih mudah.

Physical restraint setelah pembiusan untuk penangkapan rusa totol
Photo : Erni Suyanti Musabine
Rusa totol juga satwa yang sangat sensitive dengan lingkungan sekitarnya. Pergerakan kami di sekitarnya juga bisa menimbulkan rasa curiga dan stress pada rusa, sehingga dalam pembiusan hanya diperbolehkan sedikit mungkin orang yang mendekat ke kandangnya untuk menghindari satwa stress sebelum pembiusan. Stress pada satwa sebelum dibius sangat berpengaruh besar terhadap kesuksesan pembiusan, bahkan bisa gagal. Rusa totol yang dibius juga tidak tidur sempurna pada dosis tertentu, sehingga dalam penangkapannya pun musti berhati-hati untuk menghindari rusa terkejut, bangun dan berlari/ melompat lagi, atau perlu juga menghindari kelompok rusa lainnya berlari karena menghindari petugas physical restraint (penangkap dengan jaring), karena kelompok rusa yang lari menghindari orang juga memicu rusa totol yang telah dibius untuk bangun kembali dan ikut berlari menghindar karena merasa terancam.

Jadi keberhasilan suatu pembiusan satwa liar sangat tergantung dari persiapan petugas, kemampuan untuk memprediksi efek samping merugikan yang akan terjadi dan mampu mengatasinya, kekompakan tim yang memiliki kemampuan dalam handling satwa untuk memperkecil stress dan penggunaan obat-obatan pilihan dan dosis yang tepat sesuai dengan ketepatan perkiraan berat badan, selain itu kondisi lingkungan sekitarnya juga sangat berpengaruh.

Senin, 02 Januari 2017

Mengunjungi Pulau Kotok, Kepulauan Seribu di Liburan Tahun Baru 2017


Kepulauan Seribu adalah gugusan pulau - pulau di wilayah administratif Provinsi DKI Jakarta, sudah lama saya berkeinginan mengunjungi Kepulauan Seribu, namun baru punya kesempatan di akhir tahun 2016. Saat sedang berdiskusi melalui media sosial dengan teman-teman, akhirnya memutuskan liburan akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 kami akan mengunjungi Kepulauan Seribu. Salah seorang teman dari IAR (International Animal Rescue) yang mengurus keperluan dan berkomunikasi dengan teman lainnya di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat JAAN yang bekerja untuk konservasi elang di salah satu pulau yang ada di Kepulauan Seribu untuk persiapan kami mengunjungi tempat tersebut di akhir tahun. Kali ini Pulau Kotok yang akan menjadi tempat tujuan kami berlibur bersama teman dan keluarga serta sebagai ajang reuni bersama teman - teman yang dulunya merupakan aktivis konservasi satwa liar yang kini sudah bekerja di berbagai lembaga/ institusi yang berbeda-beda.

Pulau Kotok, Kepulauan Seribu

Pulau Kotok luasnya 20,75 hektar, merupakan pulau tak berpenghuni atau tidak ada pemukiman penduduk disana. Kotok barat digunakan untuk wisatawan, terdapat penginapan/ resort yang masih berfungsi, sedangkan Kotok timur dikelola oleh Lembaga Swadaya Masyarakat JAAN (Jakarta Animal Aid Network) untuk lokasi konservasi satwa, terdapat sanctuary dan fasilitas rehabilitasi elang laut perut putih dan elang bondol di sana, selain itu juga ada areal restorasi terumbu karang. 

Jumat, 30 Desember 2016
Saya berangkat dari Kota Bengkulu malam hari menggunakan pesawat terakhir, yakni Lion Air pukul 18.20 WIB., karena saya masih harus masuk kerja hingga sore hari, sehingga memilih penerbangan terakhir adalah yang paling tepat. Kondisi saya waktu itu memang sedang sakit Hyponatremia, sehingga fisik sangat lemah dan belum sanggup berdiri terlalu lama. Saat sedang menunggu dalam antrian untuk check-in pun saya sudah berkeringat dingin, membuat saya khawatir karena ini salah satu tanda-tanda bahwa saya bisa kehilangan kesadaran dan ambruk bila tidak cepat duduk atau berbaring, karena saya pernah mengalami kejadian seperti itu sebelumnya. Akhirnya saya meminta fasilitas kursi roda untuk diri - sendiri setelah cek kesehatan di klinik yang ada di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu. Saya mendapat fasilitas pertama masuk kedalam pesawat sebelum penumpang lainnya. Selama penerbangan tidak mengalami kendala apapun, sampai keluar dari pesawat menuju terminal kedatangan di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. 

Sabtu, 31 Desember 2016
Kami bersembilan, pagi - pagi pukul 04.30 WIB sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju Pelabuhan Muara Angke, Jakarta. Sampai lokasi air laut pasang sehingga beberapa bagian tergenang air. Kami pun untuk memasuki pelabuhan harus melewati lautan manusia yang juga mengantri, melewati tanggul sempit dan panjang dipinggir sungai. Semua orang punya tujuan sama yakni ingin berlibur menghabiskan waktu pergantian tahun ke Kepulauan Seribu. Sulitnya menuju dermaga, menunggu untuk mendapatkan tiket kapal laut serta penumpang perahu yang berdesak-desakan sudah membuat kami semua merasa putus asa dan tidak nyaman untuk pergi berlibur. 

Kapal laut yang kami naiki adalah kapal penumpang yang menampung ratusan orang dengan dua lantai. Lantai bawah terdapat kursi untuk penumpang namun jumlahnya sangat terbatas, sedangkan lantai atas sangat sempit dan kami harus berjalan membungkuk karena beratap rendah, tidak ada kursi disini, penumpang hanya duduk di tikar atau lantai kapal. Kebetulan saya dan teman-teman duduk diatas tumpukan pelampung di pojok kapal bagian depan. Saya sempat berpikir bila terjadi kecelakan kapal apakah semua penumpang bisa mendapatkan pelampung dengan mudah dan jumlahnya yang tidak mencukupi, karena kami melihat jumlah pelampung yang ada di dekat kami tersebut tak sebanding dengan jumlah penumpang, bahkan ada yang duduk di depan maupun di bagian belakang bagian kapal yang tentu bukan merupakan tempat untuk penumpang. Pada saat kapal belum berangkat saya juga merasa khawatir karena petugas Dinas Perhubungan sudah memperingatkan melalui pengeras suara bahwa kapal sudah overload penumpang, tapi masih juga menunggu dan menerima penumpang, dan saat itu kami ada di kapal tersebut.

Pulau Kotok - Sanctuary dan Rehabilitasi Elang

Berangkat dari Dermaga Muara Angke pagi, dan pukul 11.20 WIB baru sampai ke Pulau Pramuka. Kami hanya transit di Pulau Pramuka, dan masih melanjutkan perjalanan menuju Pulau Panggang menggunakan kapal yang sama. Sesampainya di Pulau Panggang, kami turun dari kapal dan masih harus melanjutkan perjalanan dengan menyewa perahu nelayan ukuran kecil untuk menuju Pulau Kotok, yakni lokasi yang kami rencanakan untuk berlibur. Sambil menunggu mendapat perahu nelayan kami makan siang dan belanja logistik di Pulau Panggang, salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang padat penduduk dan penuh bangunan pemukiman nelayan. Sekitar pukul dua siang kami baru sampai di Pulau Kotok. Saat perahu kami merapat di dermaga Pulau Kotok, terlihat dari kejauhan gonggongan anjing yang keluar dari pulau, dan salah satu staff JAAN keluar menyambut kedatangan kami dan membantu menurunkan barang-barang kami dari perahu. Keponakanku begitu turun dari perahu bertanya, "Aunty, ada suara anak kucing ?" Dia memang sangat menyukai hewan yang satu itu. "Itu bukan kucing sayang, itu suara elang bondol". Baru kali inilah mereka mengenal elang bondol dan suaranya. Kami pun berkenalan dan menemui staff JAAN lainnya, salah satu dari mereka sudah kami kenal dengan baik dan cukup lama, bahkan saya mengenalnya sudah belasan tahun yang lalu saat kami sama-sama bekerja di Pusat Penyelamatan Satwa di Jawa. Kebetulan setahun yang lalu saat liburan tahun baru sebelumnya kami juga bertemu di sebuah pulau di dalam Taman Nasional Ujung Kulon saat proses pelepasliaran monyet ekor panjang yang diselamatkan dari topeng monyet.

Salah satu anjing penghuni Pulau Kotok
Kami pun juga berkenalan dan cepat akrap dengan hewan - hewan penghuni Pulau Kotok, saat kami datang mereka sudah menyambut kedatangan kami, yakni Pepy seekor anjing berwarna putih yang ramah, berjalan pincang karena mengalami dislokasi pada persendian kaki depan. Jacky adalah seekor anjing berwarna coklat, badannya berotot karena dia merupakan perenang yang tangguh, sanggup berenang mengelilingi Pulau Kotok. Chika adalah seekor anjing berwarna hitam, agak pemalu untuk dekat dengan kami. Selain itu masih ada seekor anjing bernama Tesi, dia juga enggan dekat - dekat dengan kami dan tampak liar tak seperti lainnya, seekor kucing cantik berwarna putih bernama Putri, salah satu kaki depannya diamputasi, seekor kucing lainnya berwarna belang - belang, dialah yang paling akrap dengan kami, karena sering mengikuti kami di dermaga atau tempat lainnya, sepertinya dia juga sedang sakit, terlihat sering batuk dan mual, nafasnya pun bersuara. Dan masih ada lagi beberapa kucing lainnya.

Selanjutnya kami menuju penginapan yang sudah disediakan oleh mereka, lokasinya berada di pinggir pantai, biasanya penginapan tersebut dipakai oleh volunteer dan para peneliti. Terdapat dua kamar dengan masing-masing 3 tempat tidur, dilengkapi dengan kamar mandi dengan air payau, tersedia dapur dan teras untuk ruang tamu. Penginapan ini seperti cottage. Lingkungan sekitar sepi, yang terdengar hanya suara burung elang dan ombak laut, tidak ada penghuni lainnya disekitar tempat itu, sedangkan teman-teman JAAN tinggal di penginapan dalam hutan yang tidak berada di dekat pantai.

Pantai Timur Pulau Kotok
Selesai meletakkan ransel dan barang logistik di penginapan, saya mengajak anak-anak kecil ke pantai yang ada di depan kami, dan menanyakan kepada mereka apakah mereka ingin berenang dan bermain pasir di pantai tersebut, tanpa ragu mereka langsung menjawab, "Iya". Berjam-jam mereka asyik dan kegirangan bermain di pantai. Sore harinya kami menelusuri pulau untuk melihat pantai lainnya, terlihat banyak bangunan penginapan / resort yang telah rusak dan tak terpakai, dari luar tampak menyeramkan. Antara satu dan lainnya terhubung oleh jalan setapak dengan sekitarnya hutan.

Malam itu kami mempersiapkan BBQ fish, hasil mencari ikan di sekitar pulau lainnya. Menyambut tahun baru 2017 dengan bakar-bakar ikan untuk makan malam. Dan sisa malam kami manfaatkan untuk nongkrong bareng dengan teman-teman JAAN di dermaga. Suara dan gemerlap kembang api dari pulau - pulau lainnya tampak dari kejauhan.


Minggu, 1 Januari 2017
Sunrise di Pulau Kotok
Mengawali tahun 2017 berjalan menyusuri pantai untuk memotret sunrise. Pagi itu saya melihat seseorang sedang melakukan monitoring elang bondol di kandang rehabilitasi. Elang tersebut akan segera dilepasliarkan ke alam. Waktu monitoring dua jam sekali, satu ekor burung idealnya dimonitoring oleh dua orang. Sebelumnya saya hanya bisa mengira-ngira fungsi tempat yang tertutup dan ada lubang kecil mengarah ke kandang elang bondol, dan pagi itu saya baru mendapat jawabannya setelah melihat langsung seorang petugas sedang duduk di dalamnya dan melakukan monitoring perilaku elang. Saya juga memanfaatkan waktu untuk melihat konstruksi kandang elang dan mendokumentasikannya. Harus ada sesuatu yang bermanfaat yang saya dapatkan dari liburan ini, yakni belajar mengenai rehabilitasi elang laut dan elang bondol termasuk desain kandang.


Snorkeling di Pulau Kotok - Kepulauan Seribu
Mengajak anak-anak untuk melihat ikan - ikan karang warna - warni di pinggir pantai yang terlihat jelas dari atas dermaga, seperti akuarium alami dengan ukuran tanpa batas. Pagi hingga siang hari kami memanfaatkan waktu masing - masing untuk bersenang-senang, anak - anak kecil sibuk sendiri bermain dan berenang di pantai yang jernih dan berpasir putih, orang - orang dewasa menyibukkan diri untuk memancing dan memotret, sedangkan saya snorkeling untuk melihat keindahan pemandangan dibawah permukaan laut. Tampak beraneka ragam spesies ikan karang warna - warni, terlihat juga bintang laut berwarna biru di dasar laut seperti yang kulihat dulu di Pulau Panaitan. Ada lokasi restorasi terumbu karang. Saya juga menemukan ikan badut (clown fish) atau lebih dikenal dengan sebuta ikan nemo.

Kami menghentikan berenang dan snorkeling karena mulai ada badai dan angin kencang di pantai. Siang itu kami manfaatkan untuk bersantai di pinggir pantai, memasang hammock, membaca buku, membawa makanan ringan dan minuman. Keponakan saya duduk di dalam hammock, entah apa yang dilakukan, kalau tidak menulis catatan perjalanan mungkin sedang melukis, sesekali pandangannya jauh kedepan melihat pantai dan kemudian kembali menghadap kertas dan pensil yang dipegangnya. Saat itu mereka juga melihat ikan pari sedang berada di pinggir pantai. Sayang sekali saya tidak bisa melihatnya.

Menjelang sore kami manfaatkan untuk keliling pulau melihat keindahan pantai sisi lainnya dari Pulau Kotok dengan penunjuk jalan seorang teman dari JAAN. Jalan setapak yang kami lewati cukup bersih, terawat dan rapi. Sepanjang perjalanan saya banyak bertanya tentang satwa liar penghuni pulau tersebut, ternyata tidak hanya burung yang mendominasi sebagai penghuni Pulau Kotok tetapi juga berbagai jenis ular. Tapi pada kesempatan tersebut kami belum pernah bertemu dengan ular sekalipun, namun lebih sering menjumpai burung liar maupun burung elang hasil pelepasliaran JAAN disana. Ada keunikan yang kulihat disana, pada saat berjalan-jalan untuk memotret saya melihat elang laut perut putih bisa terbang beriringan dengan burung gagak, seperti mereka satu kelompok saja dan tidak mempermasalahkan bahwa mereka adalah spesies yang berbeda.

Pantai Barat Pulau Kotok
Pagi harinya saya perhatikan banyak pengunjung di pantai barat Pulau Kotok yang sedang berfoto di salah satu dermaga di pantai tersebut, saya mengamatinya dari kejauhan dengan menggunakan zoom camera, namun saat kami datang ke tempat itu, yang kami temui disekitar resort tampak sepi, hanya canda tawa kami yang memecah kesunyian di tempat tersebut. Beberapa resort sepertinya masih berfungsi dan terawat, namun tampak sepi tak berpenghuni.

Pantainya sangat bening, untuk melihat ikan warna - warni tak perlu snorkeling disana karena dapat terlihat jelas dari atas dermaga, meskipun banyak terumbu karang yang telah rusak. Di pantai ini saya melihat ikan pari sedang berenang masuk ke dalam rumput di dasar pantai. Kami cukup lama menikmati pemandangan disana.

Salah satu resort di pantai barat Pulau Kotok - Kepulauan Seribu
Kami terus berjalan menelusuri jalan setapak di hutan untuk melihat dermaga lainnya, sambil menunggu sunset. Sebelum hari gelap kami cepat-cepat kembali ke penginapan, karena tak satupun dari kami yang membawa headlamp.

Hari itu kami juga telah mendengar berita adanya kecelakaan kapal yang membawa penumpang dari Muara Angke menuju Pulau Tidung, kapal terbakar dan banyak korban jiwa. Malam itu kami juga melihat beritanya di salah satu TV swasta yang diputar disana. Berharap saat perjalanan kembali pulang kami selamat sampai tujuan, tentu mengerikan mendengar berita kecelakan kapal laut disaat kami pun harus menggunakan transportasi tersebut saat kembali pulang.

Burung pantai di Pulau Kotok - Kepulauan Seribu. Photo by Erni Suyanti Musabine

Senin, 2 Januari 2017
Pagi itu kami berencana pulang pukul 05.30 WIB, namun perahu sewaan tak kunjung menjemput. Kami memanfaatkan waktu untuk memancing di sekitar dermaga guna mencarikan pakan untuk burung elang dan memotret burung pantai sambil menunggu perahu datang. Akhirnya sekitar pukul tujuh pagi perahu nelayan yang kami sewa datang menjemput. Kami berpamitan dengan staff JAAN untuk kembali pulang.

Kami menyewa perahu untuk mengantarkan kami ke Pulau Pramuka, yang merupakan ibukota Kabupaten/ Kotamadya Kepulauan Seribu. Kami berpindah ke kapal disana untuk melanjutkan perjalanan menuju Muara Angke. Pukul 12.29 WIB kami tiba di dermaga Muara Angke, air laut sedang pasang, tampak genangan air dimana-mana, bahkan jalan yang kami lewati sudah mirip dengan sungai.  Malam itu juga saya kembali ke Bengkulu menggunakan penerbangan terakhir dari Jakarta ke Bengkulu, pukul 21.30 WIB saya baru mendarat di Kota Bengkulu.

Sanctuary dan Rehabilitasi Elang JAAN di Pulau Kotok

Liburan akhir dan awal tahun kali ini sangat mengesankan, tidak hanya bisa bersantai sejenak menikmati keindahan pantai Pulau Kotok dan keheningan hutan pantai, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga tentang proses rehabilitasi elang laut, selain itu juga memberi pelajaran bagi anak-anak tentang konservasi satwa liar, karena belajar tidak hanya dari bangku sekolah formal, alam dan lingkungan yang ada di sekitar kita juga merupakan pelajaran yang sangat berharga. Belajar konservasi satwa sejak usia dini akan membuat anak-anak lebih peduli dengan alam dan isinya terutama satwa liar terancam punah yang perlu perhatian serius untuk diselamatkan.