Jumat, 01 Januari 2016

Release back 'Dancing Monkeys' to Its natural habitat in the Ujung Kulon National Park


Macaca fascicularis (monyet ekor panjang) hasil penyitaan dari sirkus Topeng Monyet

29 Desember 2015


Pagi itu aku dibangunkan suara telepon dari seorang teman lama yang bekerja di IAR (International Animal Rescue) untuk diajak ikut kegiatan pelepasliaran monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) hasil penyitaan dari sirkus keliling 'Topeng Monyet' di DKI Jakarta dan akan direlokasi ke Taman Nasional Ujung Kulon. Hari itu aku bangun kesiangan mungkin karena malamnya kami sekeluarga baru saja pulang liburan dari Puncak, Bogor, Jawa Barat. Sempat bimbang untuk pergi, dan aku harus memutuskan secepatnya karena dua jam lagi akan berangkat. Di hari itu aku kebetulan juga diminta untuk mengisi acara Live di TV One tentang profesiku sebagai dokter hewan yang menangani harimau sumatera korban konflik dan perburuan liar. Namun sepertinya aku lebih tertarik untuk pergi ke hutan menyaksikan para topeng monyet dilepasliarkan kembali. Aku menelepon kembali temanku dan mengatakan aku ikut berangkat dan kami sepakat untuk bertemu di terminal Labuhan, Banten. 

Selesai packing peralatan camping, aku mencoba untuk memesan Go-jek, namun setelah hampir satu jam sulit untuk masuk aplikasi Go-jek akhirnya aku berjalan keluar rumah mencari ojek. Tapi Satpam perumahanlah yang akhirnya mengantarku sampai lokasi bus berhenti mencari penumpang dan baru berangkat pukul 10.30 WIB padahal kami sudah sepakat akan berangkat jam 9 pagi, tentu sulit bila naik kendaraan umum karena waktu keberangkatan tergantung sopir bus. Perlu waktu 3,5 jam dari Kota Tangerang menuju terminal bus Labuhan Banten, jauh lebih singkat dari dugaan seluma yang lebih dari 6 jam perjalanan. Aku memilih duduk di kursi paling depan sehingga bisa dengan mudah bertanya pada sopir atau kondektur tentang tempat tujuan, maklum saja ini perjalananku pertama kalinya naik bus ke Labuhan, Banten dan aku belum mengenal daerah itu sebelumnya.

Desa nelayan di Sumur, Pandeglang, Banten
Ada 3 orang teman dari IAR yang menjemputku di terminal Labuhan siang itu, dan kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju kampung nelayan di Sumur, Pandeglang, Banten untuk mempersiapkan perjalanan esok harinya, yakni menyewa perahu, belanja logistik untuk tim dan untuk monyet yang akan dilepaskan serta persiapan lainnya. Malam itu kami menginap di penginapan 'Sarang Badak' di desa setempat. Penginapannya sederhana tapi unik. Kami sekaligus menunggu kehadiran anggota tim lainnya dari JAAN (Jakarta Animal Aid Network), PPSC (Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga) dan IAR yang akan datang malam itu bersama monyet-monyet yang direlokasi. Mereka datang menyusul karena masih harus melakukan perjalanan ke PPSC di Sukabumi, Jawa Barat untuk mengangkut monyet-monyet yang dirawat disana. Lebih dari 20 ekor monyet yang siap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat, sebagian besar dari Topeng Monyet (Dancing Monkeys) yang telah direhabilitasi di PPSC. Kegiatan ini dilakukan kolaborasi antara IAR, JAAN, PPSC dan TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon). Dan kulihat perwakilan dari masing-masing lembaga tersebut ikut serta dalam kegiatan ini.


30 Desember 2015

Sekitar pukul 08.40 WIB kami berangkat dengan menggunakan dua buah perahu nelayan sewaan. Perahunya cukup besar dapat menampung sekitar 20 orang dan barang-barang bawaan. Namun untuk mencapai perahu tersebut kami lebih dulu menaiki perahu cadik kecil karena perahu besar tidak bisa bersandar di dekat pantai. Tim dibagi dua, yang satu bersama monyet ekor panjang akan menuju Kantor Seksi Pengelolaan TN Wilayah I di Pulau Panaitan dan tim satunya lagi akan ke Pulau Peucang terlebih dulu untuk menurunkan penumpang, dan kami semua akan bertemu kembali di lokasi kandang habituasi dan tenda tim lapangan yang sudah ada di Pulau Panaitan terlebih dulu.

Babi hutan di Pulau Peucang, Taman Nasional Ujung Kulon
Aku lebih tertarik untuk mengikuti perahu yang akan menuju ke Pulau Peucang, karena sebelumnya adikku memberitahu kalau Pulau Peucang sangat indah dibanding pulau-pulau yang lain karena dia pernah mengunjungi pulau itu sebelumnya dan pulau lainnya di Taman Nasional Ujung Kulon. Pukul 11.10 WIB kami sampai di Pulau Peucang. Akhirnya tidak menurunkan penumpang saja bahkan kapten perahu bersedia menunggu bila aku dan kawan lainnya turun dan memotret di Pulau Peucang. Lumayan bisa menikmati sejenak keindahan Pulau Peucang sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Pulau Panaitan.

Satwa liar yang terlihat di Pulau Peucang ini hanya babi hutan dan monyet ekor panjang yang berkeliaran di sekitar camp penginapan, dan seekor rusa yang terlihat di pinggir pantai. Pantainya tampak bersih dengan pasir putih yang lembut dan air laut yang bening agak biru kehijauan. Ikan-ikan kecil tampak bergerombol berlarian di pantai, tampak jelas dari atas perahu, aku memperhatikannya dengan gembira seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru, terkadang juga tampak ikan besar sedang memburu gerombolan ikan - ikan kecil tersebut. Pukul 11.23 WIB kami meninggalkan Pulau Peucang. Meski hanya 13 menit berada di Pulau Peucang namun aku sudah mengkoleksi banyak photo di tempat itu. Tempat yang indah selalu membuatku boros memotret. 

Lokasi Menginap (Camping) di Pulau Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon

Pukul 12.48 WIB kami menyusuri pantai Pulau Panaitan, perahu satunya belum tampak ada di sekitar pantai. Kami mencari lokasi tenda tim yang sudah lebih dulu berada di lapangan, dan mencari lokasi kandang habituasi untuk monyet ekor panjang. Ternyata tidak mudah mencari alamat di hutan dan Pulau yang tidak berpenghuni ini dari pantai. Kami memelototi pinggir pantai untuk melihat tanda-tanda adanya manusia, yakni kawan-kawan yang ada di lapangan. Akhirnya kami pun dari jauh tampak warna biru dan kuning tertutupi hijaunya tumbuhan hutan, mungkin itu tenda, dan ternyata benar. Sekitar pukul 13.00 WIB perahu satunya baru muncul dari sisi kanan perahu kami menuju ke arah pantai. Disana teman-teman sudah menunggu di pantai.

JAAN dan IAR
Untuk merapat ke pantai diperlukan perahu cadik, beberapa orang turun dan pindah ke perahu cadik beserta beberapa kandang monyet untuk dilepaskan ke kandang habituasi disana. Kandang monyet sisanya diturunkan di lokasi kandang habituasi lainnya, dan aku ikut yang kedua ini. Kandang habituasi dibuat sangat sederhana dengan menggunakan jaring yang diikat mengelilingi pepohonan hutan, di tempat itu monyet-monyet akan di monitoring setiap hari, perilakunya harus sudah normal seperti monyet liar lainnya, bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru mengingat monyet-monyet ini sudah lama dipelihara manusia dan dirawat dengan cara manusia dan perilakunya pun dipaksa seperti aktivitas manusia saat menjalani sirkus keliling. Tentu butuh proses lama untuk bisa dilepasliarkan kembali, tidak hanya bebas penyakit dari hasil pemeriksaan medis, namun juga perilaku harus normal kembali dan bisa beradapatsi di alam liar agar mereka bisa bertahan hidup saat dilepasliarkan kembali. Proses rehabilitasi dan pelepasliaran satwa itu membutuhkan dana yang tidak sedikit dan waktu yang tidak sebentar, tidak sebanding dengan saat orang mengambilnya dari alam dan menjualnya untuk dijadikan topeng monyet. Maka dari itu kerja orang-orang di dunia konservasi satwa liar itu tanpa pamrih dan non-provit, dan imbalannya mereka sudah cukup bahagia bila melihat satwa liar itu bisa bebas kembali ke alam liar. Bagiku ini adalah saat-saat yang membahagiakan dan mengharukan bisa ikut menyaksikan monyet - monyet itu menuju kebebasan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar