Selasa, 28 April 2020

Pengaruh Kerusakan Lingkungan terhadap Munculnya dan Munculnya Kembali Penyakit Menular Baru (Emerging & Re-emerging Infectious Diseases)


Erni Suyanti/ NPM. E2A019011


I. Pendahuluan

One Health adalah konsep yang muncul dalam ilmu kesehatan berkaitan dengan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan dari satu kerangka kerja. Pendekatan kebijakan ini didasarkan pada pengetahuan bahwa sekitar 70 persen penyakit yang muncul pada manusia berasal dari spesies lain dan bahwa transmisi silang spesies ini terjadi karena tekanan pada sistem lingkungan seperti perubahan habitat dan hilangnya keanekaragaman hayati (Malloy, S.S. et al, 2019). The World Health Organization (WHO) mendefinisikan Emerging Infectious Disease sebagai penyakit yang muncul dalam populasi untuk pertama kalinya atau yang mungkin sudah ada sebelumnya namun kejadiannya  meningkat dengan cepat / rentang geografis.

Pendekatan One Health untuk mengatasi penyakit zoonosis
Sumber gambar: Marco Gonzales Tous

Deforestasi adalah salah satu faktor paling potensial sebagai penyebab Emerging dan Re-Emerging Infectious Diseases. Deforestasi disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, yakni alih fungsi kawasan lahan/ hutan untuk berbagai keperluan seperti kebutuhan pengembangan lahan pertanian, logging, program transmigrasi, pembangunan jalan, pertambangan, dan pembangunan serta pengembangan tenaga air sebagai sumber energi dan lain-lain (Yasuoka, J and Levins, R., 2007)

Keadaan iklim sesungguhnya juga berkaitan erat dengan timbulnya gangguan kesehatan karena dapat memicu munculnya berbagai penyakit infeksi, terutama pada pemanasan yang berkepanjangan dan ketidakstabilan iklim seperti cuaca yang ekstrim. Keadaan iklim seperti ini dapat memicu munculnya (emerging) atau kemunculan kembali penyakit infeksius (re-emerging infectious disease) secara global (Nicholls, 1993; Epstein, 1999; 2001).


II. Tinjauan Pustaka

Perubahan lingkungan alami dan sistem pertanian sebagai dampak perkembangan ekonomi dan industri, termasuk dinamika populasi (pertumbuhan, urbanisasi, migrasi), adalah penyebab utama yang mengakibatkan persistensi, kemunculan penyakit menular baru (Emerging infectious diseases), dan kemunculan kembali penyakit menular (Re-emerging infectious diseases) di nergara berkembang (Yang et al., 2015).

Perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh penggundulan hutan menyebabkan penularan penyakit pada manusia, dan dari semua spesies yang berasal dari hutan, nyamuk merupakan hewan yang paling sensitif terhadap perubahan lingkungan, meskipun hanya terjadi perubahan kecil pada lingkungan seperti perubahan suhu, kelembaban, tempat berkembang biak yang sesuai, hal ini dapat mempengaruhi kelangsungan hidupnya, kepadatan dan distribusi secara dramatis. Perubahan ekologi nyamuk dan perilaku/ aktivitas manusia di kawasan hutan yang telah dialihfungsikan berpengaruh terhadap penularan penyakit terutama yang ditularkan oleh nyamuk, seperti Malaria, Japanese encephalitis dan Filariasis  (Yasuoka, J and Levins, R., 2007).    

Pada tahun 1985, Wilson menggambarkan konsep dasar dalam munculnya penyakit menular sebagai berikut: 
  1. Munculnya penyakit menular itu kompleks, 
  2. Penyakit menular bersifat dinamis, 
  3. Sebagian besar infeksi baru tidak disebabkan oleh patogen yang benar-benar baru, 
  4. Agen yang terlibat terjadinya infeksi baru dan yang muncul kembali berdasarkan taksonomi masuk kategori virus, bakteri, jamur, protozoa, dan cacing, 
  5. Konsep mikroba sebagai penyebab penyakit tidak memadai dan tidak lengkap, 
  6. Aktivitas manusia adalah faktor paling kuat yang mendorong munculnya penyakit, 
  7. Faktor sosial, ekonomi, politik, puncak kejadian, teknologi dan lingkungan membentuk pola penyakit dan berpengaruh terhadap kemunculannya, 
  8. Memahami dan merespons munculnya penyakit memerlukan perspektif global, secara konseptual dan geografis, 
  9. Situasi global saat ini mendukung munculnya penyakit.
Deforestasi dan alih fungsi lahan/ hutan mempengaruhi vektor anophelin, khususnya daya ketahanan larva maupun spesies dewasa, reproduksi dan kapasitas vektor, melalui perubahan kondisi lingkungan dan mikroklimatik seperti suhu (rata-rata, variabilitas), sinar matahari (jumlah, durasi), kelembaban, kondisi air (distribusi, suhu, kualitas, kekeruhan, arus), kondisi tanah, dan vegetasi. Hal ini yang menyebabkan munculnya atau munculnya kembali penyakit menular baru yang disebarkan melalui vektor. Di dataran tinggi Kenya barat, penggundulan hutan dan penanaman rawa alami meningkatkan ketahanan larva dan produktivitas spesies dewasa dari nyamuk An. gambiae yakni dipengaruhi oleh suhu air dan nutrisi.

Sebanyak lebih dari 17 % penyakit menular pada manusia yang ditularkan melalui vektor merupakan beban secara global. Ekspansi global yang cepat dari patogen yang sebelumnya tidak dikenal, seperti virus Zika dan chikungunya pada  beberapa tahun terakhir menandakan pentingnya memahami bagaimana perubahan antropogenik memengaruhi munculnya dan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor (Burkett, N.D dan Vittor, C.A.Y., 2018).  Deforestasi telah diidentifikasi sebagai satu perubahan antropogenik yang mempengaruhi prevalensi penyakit yang ditularkan melalui vektor, gambaran tentang dampak deforestasi pada penularan penyakit yang ditularkan melalui vektor telah dilaporkan (Burkett, N.D dan Vittor, C.A.Y., 2018).  Analisis data dari 87 spesies nyamuk yang berasal dari 12 negara dikumpulkan dari studi lapangan dan dipublikasikan,  mengungkapkan bahwa sekitar setengah dari spesies (52,9%) terkait dengan habitat yang terdeforestasi. Spesies nyamuk yang berfungsi sebagai vektor berbagai patogen pada manusia yang diakibatkan oleh  deforestasi/ penggundulan hutan, yakni Anopheles bancroftiiAnopheles darlingi, Anopheles farauti, Anopheles funia, sl, Anopheles gambiae sl, Anopheles subpictus, Aedes aegypti, Aedes vigilax, Culex annexstrac (Burkett, N.D dan Vittor, C.A.Y., 2018). 

Pemanasan global dan perubahan iklim juga berpengaruh terhadap paling tidak adanya 5 (lima) penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang perlu diwaspadai dapat muncul dan mewabah di Indonesia, yaitu bluetongue, Nipah, Japanese encephalitisWest Nile dan Rift Valley fever.  Hal ini dikarenakan tiga dari lima PHMS tersebut yakni bluetongueJapanese encephalitis dan Nipah, agen patogen, vektor dan hospesnya sudah terdapat di Indonesia, sehingga dikhawatirkan bahwa perubahan iklim dan perubahan ekologi yang terjadi akan memicu munculnya penyakit tersebut. Selain itu tiga penyakit lainnya yakni avian influenza H5N1, anthrax dan leptospirosis, yang memang sudah ada di Indonesia dapat diperkirakan sering muncul kembali seiring dengan terjadinya perubahan iklim terutama pada musim hujan yang berkepanjangan (Bahri, S., Syafriati, T, 2011).


III. Metodologi
Mengulas studi kepustakaan


IV. Emerging dan Re-emerging Infectious Diseases 

Ada banyak contoh pengaruh perubahan lingkungan dan pertanian terhadap munculnya penyakit menular, seperti SARS yang menginfeksi masyarakat China pada tahun 2003, Lyme disease yang terjadi di Eropa pada tahun 2000.  Adanya perubahan interaksi antara manusia dengan populasi satwa liar atau hewan peliharaan sebagai fasilitator yang paling mungkin bagi munculnya penyakit Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE), Avian influenza (Flu burung), Nipah virus, Human Immunodeficiency Virus (HIV) (Yang et al., 2015).  Mengingat bukti baru yang saling mempengaruhi antara perubahan lingkungan dan penyakit menular baru atau  penyakit menular yang kembali muncul (WHO, 2012, 2013). Ada konsensus yang berkembang di antara para ahli ekologi bahwa disfungsi ekologis, fragmentasi habitat, perubahan iklim, dan akumulasi racun lebih banyak dikaitkan dengan aktivitas manusia. Semua ini telah bekerja secara sinergis untuk mengurangi keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem yang telah mengakibatkan penyebaran penyakit menular pada satwa liar dan manusia .

Beberapa penyakit menular baru yang disebabakn oleh kerusakan lingkungan diantaranya sebagai berikut:
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Nyamuk Aedes aegyti. 
Photo: Alodokter, Kemenkes RI
Demam berdarah merupakan re-emerging infectious disease yang ditularkan oleh nyamuk, terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Terdapat dalam empat serotipe yang sedikit berbeda dan telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang muncul di Cina, serta di bagian lain di Asia Tenggara untuk beberapa waktu. Epidemi Demam Berdarah di China tercatat pertama kali pada tahun 1902, 1915, 1922 di Penghu Islet, Taiwan, diperkirakan tingkat infeksi sebanyak 80%. Berikutnya wabah kedua terjadi pada tahun 1931 dan 1942-1943 (Yang et al, 2015).

Demam berdarah di Sumatera dan Kalimantan sangat musiman dan berhubungan dengan faktor iklim dan deforestasi.  Memasukkan indikator iklim ke dalam surveillance berbasis resiko mungkin diperlukan untuk penyakit demam berdarah di Indonesia (Husnina, Z et al., 2019).  

2. Malaria
Penyakit malaria merupakan penyebab utama kematian dan morbiditas di negara-negara berkembang. Pada tahun 2008, ada sekitar 243 juta kasus malaria secara global dan ini mengakibatkan 863.000 kematian (WHO, 2009). Malaria sangat berbahaya untuk anak di bawah usia lima tahun; Perkiraan menunjukkan bahwa seorang anak meninggal setiap dua menit karena penyakit ini (WHO, 2016).

Terbukti ada hubungan positif antara deforestasi dan prevalensi malaria di Brasil (Olson et al, 2010; Terrazas et al, 2015), Paraguay (Wayant et al, 2010), Malaysia (Fornace et al, 2016) dan Nigeria (Berazneva dan Byker, 2017). Investigasi di beberapa negara endemis malaria juga menemukan hasil yang serupa (Austin et al, 2017). Di antara tahun 2000-2012 telah kehilangan hutan di dunia seluas 2,3 juta kilometer persegi (Hansen et al, 2013).  Salah satu konsekuensi dari perubahan besar yang terjadi akibat deforestasi adalah potensi peningkatan prevalensi malaria (Patz et al, 2000; Pattanayak dan Pfaff, 2009).  Merupakan salah satu penyakit dengan peringkat teratas sebagai penyebab kematian di seluruh dunia (Lozano et al, 2012).

Pada kasus wabah malaria, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian bayi menghadapi risiko kematian yang lebih tinggi dalam menghadapi hilangnya hutan di Indonesia, mungkin karena peningkatan bersamaan malaria. Diperlukan tindakan kebijakan yang terpadu dan cepat untuk mengatasi deforestasi yang cepat dan degradasi lingkungan yang terjadi di Indonesia, serta masalah kesehatan terkait (Pattanayak et al, 2010; Garg, 2017).

Kehilangan tutupan hutan dapat meningkatkan kejadian malaria melalui jalur yang berbeda. Deforestasi untuk lahan pertanian, dan saluran irigasi serta kanal yang dibuat untuk pertanian menciptakan kondisi baru bagi perkembangbiakan vektor nyamuk. Peningkatan suhu akibat deforsetasi juga membantu penularan malaria. Akumulasi air di lahan/ hutan yang ditebang cenderung memiliki pH netral, dan banyaknya paparan sinar matahari menguntungkan bagi perkembangan larva nyamuk. Selain itu akibat deforestasi juga menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, berkurangnya dan punahnya predator (seperti capung) menyebabkan proliferasi nyamuk (Patz et al, 2000; Pattanayak dan Pfaff, 2009).

3. Avian Influenza (Flu Burung)
Avian influenza (HPAI) yang sangat patogenetik pada unggas (strain H5 dan H7) memiliki tingkat kematian yang tinggi dan sering menyebabkan kematian mendadak. Flu burung menyebabkan kehancuran seluruh populasi, menyebabkan kerugian ekonomi yang serius. Strain pertama dari virus HPAI (H5N1) diisolasi dari angsa di Cina pada tahun 1996. Menurut Departemen Pertanian, Cina, telah mengalami 50 epidemi di 16 provinsi pada tahun 2004. Perlu digarisbawahi bahwa hal ini menunjukkan unggas domestik dan liar dapat mati karena infeksi ini (Yang et al, 2015).

Virus influenza A adalah virus RNA termasuk dalam family Orthomyxoviridae dan merupakan agen penyebab influenza, suatu penyakit virus pernapasan yang menular pada burung dan manusia. Pandemi pertama abad ke-20 terjadi pada tahun 1918 disebabkan oleh virus influenza novel (H1N1), kemudian terjadi pandemi kedua pada tahun 1957 disebabkan oleh A(H2N20), terjadi lagi pada tahun 1968 karena A(H3N2), dan tahun 2009 karena novel A(H1N1). Selain itu, kasus influenza A(H1N1) dilaporkan kembali pada tahun 1977, yang mungkin disebabkan keluaran dari laboratorium. Pada era sebelum 1977, hanya ada satu jenis influenza yang bersirkulasi yang menyebabkan influenza musiman pada manusia. Sejak 1977, beredarnya virus A(H1N1) dan A(H3N2) (Weber, D.J. et al, 2016).

Berdasarkan jumlah kasus yang dilaporkan dan durasi subtipe ini diisolasi, H5N1 dan H7N9 adalah virus yang paling mungkin menyebabkan pandemi di seluruh dunia. Sebagian besar kasus pada manusia yang terinfeksi oleh virus A(H5N1) dan A (H7N9) terjadi karena kontak langsung atau tidak langsung dengan unggas hidup atau mati yang terinfeksi. Subtipe virus A(H5N1), virus influenza A yang sangat patogen, kasus manusia yang pertama terinfeksi terjadi pada 1997 selama terjadi wabah pada unggas di Hong Kong. Sejak kemunculannya secara luas pada tahun 2003 dan 2004, A(H5N1) telah menyebar dari Asia ke Eropa dan Afrika dan telah menyerang unggas di beberapa negara. Sampai saat ini telah dilaporkan di 16 negara, orang yang terinfeksi sebanyak lebih dari 500 orang dengan kematian yang dilaporkan sekitar 60%. Sedangkan subtipe virus A(H7N9) merupakan virus influenza yang rendah patogenitasnya, pertama kali menginfeksi beberapa penduduk Shanghai pada bulan Maret 2013. Tidak ada kasus A (H7N9) yang dilaporkan di luar Cina (Weber, D.J. et al, 2016).

4. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)
SARS disebabkan oleh coronavirus baru, SARS-CoV secara filogenetik berbeda dari semua coronavirus pada manusia dan hewan yang sebelumnya dikenal. Seperti halnya coronavirus lainnya, SARS-CoV adalah virus RNA untai positif yang termasuk dalam keluarga Coronaviridae. Ini diklasifikasikan sebagai turunan dari 2B β CoV.  Virus mirip SARS-CoV terdeteksi di musang sawit Himalaya dan anjing rakun di pasar di Cina Selatan. Sebagai reservoir utama adalah  kelelawar Cina (Rhinolophus sinicus) (Weber, D.J et al, 2016).

SARS pertama kali muncul di Cina Selatan pada November 2002 dan diakui sebagai ancaman global pada Maret 2003 ketika menyebar ke 33 negara atau wilayah di 5 benua dan diatasi pada Juli 2013. SARS muncul kembali pada akhir tahun 2003 dan awal tahun 2004 di Cina Selatan setelah dimulainya kembali kegiatan perdagangan hewan liar di pasar. Tidak ada kasus yang dilaporkan sejak tahun 2004. Secara keseluruhan, 8.098 orang di seluruh dunia terjangkit SARS, dimana 774 orang meninggal (tingkat fatalitas kasus = 9,6%). Di Amerika Serikat, hanya 8 orang yang memiliki bukti laboratorium terinfeksi SARS-CoV (Weber, D.J et al, 2016).

5. MERS (Middle East Respiratory Syndrome)
MERS adalah penyakit virus baru yang menyerang pernapasan pada manusia, pertama kali dilaporkan pada tahun 2012 dan disebabkan oleh coronavirus baru, turunan dari 2C β CoV (Weber, D.J et al, 2016).  Hingga tanggal 25 September 2015, negara-negara di Timur Tengah melaporkan bahwa telah terjadi kasus penyakit MERS di Iran, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yaman. Negara-negara dengan kasus-kasus yang terkait dengan perjalanan termasuk Aljazair, Austria, Cina, Mesir, Perancis, Jerman, Yunani, Italia, Malaysia, Belanda, Filipina, Republik Korea, Thailand, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat (Weber, D.J et al, 2016).

MERS-CoV adalah penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Asal-usul virus tidak sepenuhnya diketahui, namun diyakini berasal dari kelelawar dan kemudian ditransmisikan ke unta. Saat ini, diyakini bahwa unta berpunuk tunggal adalah host reservoir utama untuk penyakit MERS-CoV dan sebagai sumber penularan dari hewan ke manusia (Weber, D.J et al, 2016).  MERS dapat ditularkan dari orang ke orang.  Pada umumnya tertular karena kontak langsung/ berdekatan serta memberikan perawatan tanpa pelindung kepada pasien yang terinfeksi. The World Health Organization (WHO) / Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa jumlah kasus MERS yang telah dikonfirmasi adalah 1.583 kasus, dengan jumlah kematian 566 kasus.  Pada musim panas 2015, wabah besar MERS dilaporkan terjadi di Republik Korea dan Cina. Pada 11 September 2015, WHO melaporkan telah terjadi 186 kasus yang dikonfirmasi (Republik Korea: n = 185; Cina: n = 1), dengan 36 kematian. Kasus terakhir infeksi MERS di Republik Korea yang dilaporkan ke WHO tanggal 4 Juli 2015 (Weber, D.J et al, 2016).

6. SARS-CoV-2 atau COVID-19
Menurut Gary Whittaker (2020), Profesor Virologi di College of Veterinary Medicine dan seorang pakar coronavirus, berpendapat bahwa semua virus corona pada manusia berasal dari kelelawar.  Hewan-hewan tersebut bertindak sebagai reservoir alami atau inang/host tempat virus tersebut bertahan. Diketahui ada tujuh virus corona manusia, termasuk diantaranya SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yakni infeksi saluran pernafasan akut yang parah, diidentifikasi pada tahun 2003. MERS (Middle East Respiratory Syndrome) pertama kali dilaporkan pada tahun 2012, dan sekarang muncul penyakit baru SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19. 

Menurut Alex Travis (2020) Direktur Kesehatan Masyarakat di Institut Baker untuk Kesehatan Hewan dan Profesor Biologi Reproduksi di Fakultas Kedokteran Hewan, mengatakan bahwa pentingnya One Health, sebuah filosofi yang menyatakan bahwa kesehatan manusia tergantung pada kesehatan lingkungan. Dalam kurun waktu 70 tahun terakhir dua dari tiga penyakit menular baru yang muncul berasal dari hewan dan menginfeksi populasi manusia.  Mengkonsumsi daging satwa liar dan perdagangan satwa liar hidup di seluruh dunia sangat meningkatkan resiko transmisi penyakit dari hewan ke populasi manusia. Kombinasi permasalahan dari ketidaksempurnaan sistem pangan, kondisi ekonomi yang sulit, kebijakan konservasi keanekaragaman hayati global yang buruk telah menciptakan badai besar munculnya COVID-19. 

Ilustrasi Satwa Harimau. Photo: Erni Suyanti
Merujuk pada WCS’s news release, 5 April 2020 menyatakan bahwa seekor Harimau Malaya (Panthera tigris tigris) berjenis kelamin betina di Kebun Binatang Bronx, New York, Amerika Serikat dinyatakan positif COVID-19. Hasil positif dari tes COVID-19 untuk harimau tersebut dikonfirmasi oleh USDA’s National Veterinary Services Laboratory.  Selain itu Harimau Malaya lainnya, dua ekor Harimau Amur dan tiga ekor Singa Afrika menunjukkan gejala klinis batuk kering. Diduga satwa-satwa tersebut terinfeksi dari perawat satwa yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi virus atau sebelum orang tersebut mengalami gejala klinis.  COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh coronavirus atau dikenal dengan SARS-CoV-2. Diyakini virus ini pertama kali ditularkan oleh orang-orang di pasar makanan yang berdagang satwa liar di Wuhan, Cina.  Namun belum ada bukti bahwa hewan punya peranan penting dalam transmisi COVID-19 kepada manusia selain kejadian awal di Pasar Wuhan, dan tidak ada bukti bahwa ada orang yang terinfeksi COVID-19 dari hewan di Amerika Serikat, termasuk dari hewan peliharaan seperti anjing atau  kucing.       

Anjing Pomeranian.
Sumber Photo: South China Morning Post
Antara News (2020) memberitakan bahwa seekor anjing di Hong Kong dilakukan pengujian virus corona dan mendapatkan hasil positif namun lemah, yang mengindentifikasi infeksi tingkat rendah, berdasarkan pernyataan Departemen Pertanian, Perikanan dan Konservasi (AFCD) Hong Kong.  Menurut Dale Fisher, Kepala Jaringan Global Peringatan dan Penanganan Wabah yang dikoordinasi oleh WHO di Singapura mengatakan, “sebagian hewan mempunyai reseptor yang sama untuk COVID-19 sehingga bisa saja mereka terinfeksi penyakitnya, tetapi hewan secara umum tidak menunjukkan gejala, dan cenderung tidak menyebarkan virus lebih lanjut”.  Pemilik anjing terlebih dulu dinyatakan posistif terinfeksi SARS-CoV-2.  Sampel dari anjing diperiksa pada tanggal 19 dan 20 Maret 2020 dan terdeteksi positif SARS-CoV-2, namun tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik.  Dikutib dari Ayo Jakarta.com bahwa anjing pertama yang diketahui terinfeksi virus COVID-19 jenis Pomeranian berusia 17 tahun telah mati di Hong Kong pada tanggal 16 Maret 2020 usai menjalani karantina dan setelah pulih dari penyakit tersebut dan dinyatakan telah negatif virus COVID-19. 

Dilaporkan Fakultas Kedokteran Hewan, University of Liège, Belgia bahwa pada tanggal 18 Maret 2020 hasil pemeriksaan sampel feces dan muntahan kucing dengan gejala klinis pernafasan dan pencernaan dinyatakan positif  SARS-CoV-2, dan pemilik kucing terlebih dulu dinyatakan terinfeksi SARS-CoV-2.  
   
Coronavirus (subfamili Orthocoronavirinae, famili Coronaviridae, order Nidovirales) diselimuti, single-strand, virus RNA indra-positif. Saat ini, ada empat genera yang berbeda, yaitu Alphacoronavirus, Betacoronavirus, Gammacoronavirus dan Deltacoronavirus, sebagai reservoir adalah kelelawar dan tikus untuk virus alfa dan betacoronaonae atau burung untuk gamma- dan deltacoronavirus. Dari reservoir alami mereka CoVs dapat ditransmisi ke hewan lain, termasuk manusia, dengan penularan ke manusia biasanya membutuhkan inang perantara (Lorusso et al., 2020).  

Dalam kurun waktu 18 tahun terakhir, dengan adanya dukungan teknologi pengurutan novel, sejumlah besar CoV novel ditemukan pada sejumlah besar hewan. Di antara hewan, terbukti bahwa kelelawar adalah kelompok mamalia yang memiliki jumlah CoV terbesar.  Bagaimana CoV berasal, berevolusi, berpindah, bermutasi, dan menginfeksi host mereka, tindakan untuk menghindari penyebaran virus berikutnya dari hewan ke manusia tentu menjadi prioritas (Decaro, N., Lorruso, A. 2020).

Sehubungan dengan COVID-19, virus yang terkait dengan Cov-2 masih memiliki sampel yang buruk pada mamalia (bahkan pada kelelawar) untuk mencapai kesimpulan. Identifikasi dua kelompok virus yang berbeda dalam trenggiling menunjukkan bahwa virus yang terkait dengan SARS-COV-2 pada mamalia dapat membantu untuk mengklarifikasi asal usul SARS-COV-2. Kemiripan yang tinggi antara CoVs trenggiling Guandong dan SARS-CoV-2 di RBD menimbulkan kekhawatiran bahwa virus mungkin siap ditularkan ke populasi manusia. Dibutuhkan lebih banyak pekerjaan untuk mengeksplorasi patogenisitas dan keanekaragaman CoV pada trenggiling. Namun demikian, karena statusnya terancam punah, dan risiko menyebabkan wabah COv di masa depan, perburuan, penanganan, perdagangan trenggiling harus dilarang keras (Han, G.Z. 2020).

Perubahan epidemiologis dalam infeksi COVID-19 harus digunakan untuk memperhitungkan rute potensi penularan dan infeksi subklinis, di samping adaptasi, evolusi, dan penyebaran virus di antara manusia dan kemungkinan hewan dan reservoir menengah (Rothan, H.A dan Byrareddy, S.N, 2020).

Menurut Li, J.Y et al (2020), mengingat bahwa munculnya pneumonia 2019-nCoV sebagai penyakit menular baru dengan penularan antarspesies dari hewan, kita harus merefleksikan asal usul patogen manusia dan belajar dari pengalaman. Dengan adanya perubahan ekologi dan aktivitas manusia, termasuk menginvasi tanpa batas habitat alami satwa liar, dan adanya pertanian modern, penyebaran virus dari inang alami ke manusia terus muncul dan bahkan mungkin meningkat. Meskipun telah dibangun peradaban manusia yang tak tertandingi dengan informasi yang sangat maju, virus tak kasat mata masih dapat memiliki dampak buruk pada manusia. Virus yang menyebabkan kematian tinggi seperti SARS-CoV, MERS-CoV, H5N1, H7N9, Ebola, dan Emerging 2019-nCoV seharusnya menjadi alarm bagi dunia. Kita harus berusaha untuk mengurangi kemungkinan terjadi wabah dan membahayakan manusia, diantaranya memperkuat penyelidikan etiologi hewan, mengurangi kontak langsung dengan satwa liar, tidak kontak antara reservoir alami dengan populasi manusia, serta perlu dilakukan pemberantasan perdagangan satwa liar sebagai upaya untuk mencapai tujuan tersebut.

7. Ebola Virus Disease
Ebola disebabkan oleh virus RNA dari family Filoviridae.  Ada 5 spesies virus Ebola yang teridentifikasi, 4 di antaranya diketahui menyebabkan penyakit pada manusia, yaitu Zaire, Sudan, Tai Forest (sebelumnya Coted'Ivoire), dan Bundibugy. Kelima, virus Reston, telah menyebabkan penyakit pada primata manusia (nonhuman primate), tetapi tidak pada manusia.  Host alami reservoir virus Ebola masih belum diketahui. Namun, deteksi antibodi terhadap Ebola dan fragmen virus Ebola pada kelelawar buah dan serangga menunjukkan bahwa hewan-hewan ini berfungsi sebagai reservoir. Wabah Ebola sebelumnya telah terjadi di Afrika Barat dan Tengah, termasuk Republik Demokratik Kongo, Uganda, Sudan, dan Gabon. Kasus tunggal yang disebabkan oleh kecelakaan laboratorium juga telah dilaporkan dari Rusia dan Inggris. Masa inkubasi Ebola umumnya 8-10 hari. Infeksi hanya ditularkan dari orang yang bergejala. Ebola ditularkan dari orang ke orang melalui kontak langsung dengan kulit, melalui kontak selaput lendir, dengan darah, cairan tubuh (misalnya, urin, air liur, keringat, tinja, muntah, ASI, air mani) dari orang yang sakit, benda (misalnya jarum, jarum suntik) yang telah terkontaminasi dengan cairan tubuh dari orang yang sakit, atau kelelawar buah yang terinfeksi atau primata. Dan yang terbaru penularan virus ini bisa melalui kontak seksual yang diakui terjadi di Liberia.  Wabah Ebola dilaporkan pertama kali terjadi di Afrika Barat pada tahun 1976, setelah 40 tahun kemudian terjadi wabah di Zaire dan Sudan sekitar 24 wabah telah terjadi. Wabah saat ini, yang dimulai pada tahun 2014 di Afrika Barat, telah melibatkan Guinea, Sierra Leone, dan Liberia. Kasus-kasus juga dilaporkan di Nigeria, Senegal, Spanyol, Mali, Inggris, Italia, dan Amerika Serikat. Per 24 September 2015, ada 28.355 total kasus (15.235 kasus yang dikonfirmasi laboratorium) dan 11.311 kematian (tingkat fatalitas kasus, sekitar 40%).

8. Novel Ebolavirus
Pada tahun 2007, penyakit novel Ebolavirus menyebabkan epidemi demam berdarah Ebola di distrik Bundibugyo Uganda (virus ini berbeda meskipun mirip dengan Ebolavirus dari kasus epidemi tahun 2014 di Afrika Barat). Meskipun kurang mematikan daripada Ebolavirus yang serupa, penyakit ini menyebabkan kerugian yang cukup besar, karena di antara 56 kasus yang terkena wabah ini, sekitar 40% mengakibatkan kematian. Peringatan dini tentang gangguan keanekaragaman hayati bisa menjadi prediktor penting peristiwa Emerging Infectious Disease/ munculnya penyakit menular baru (Malloy, S.S. et al, 2019).

9. Schistosomiasis
Schistosomiasis disebabkan oleh infeksi oleh cacing Schistosoma japonicum melalui kontak dengan air, karena hospes perantara adalah siput. Catatan sejarah menunjukkan korelasi yang tinggi antara intensitas transmisi schistosomiasis dengan faktor lingkungan dan ekologis, seperti suhu, vegetasi dan curah hujan (Yang et al, 2015).

10. Angiostrongyliasis
Disebabkan oleh cacing Nematoda jenis Angyostrongylus contonensis adalah penyakit yang disebabkan dari makanan, muncul pertama kali didapatkan pada tikus Rattus norvegicus dan tikus hitam (Rattus rattus) di Guangzhou, Cina pada tahun 1933. Penularan ke manusia terutama disebabkan mengkonsumsi siput mentah. Kasus pertama Angiostrongyliasis manusia terjadi di daratan Cina didiagnosis pada tahun 1984. Selama dekade terakhir, jumlah kasus telah meningkat tajam. Wabah terbesar terjadi di Beijing pada tahun 2006, puncaknya pada bulan Agustus dan telah terjadi 160 kasus yang dilaporkan, 100 di antaranya dirawat di rumah sakit dengan menyebakan empat orang meninggal dunia. Hasil investigasi wabah penyakit ini diketahui penyebabnya adalah 75,1% pasien telah makan siput apel mentah (Pomacea canaliculata) atau siput tanah raksasa Afrika mentah (Achatina fulica).

11. Lassa virus
Demam Lassa adalah endemik di Sub-Sahara Afrika Barat, termasuk Sierra Leone, Liberia, Guinea, dan Nigeria. Diperkirakan bahwa jumlah infeksi Lassavirus per tahun di Afrika Barat adalah 100.000 - 300.000, dengan menyebabkan sekitar 5.000 kematian (Weber, D.J., et al, 2016). Pada tahun 1969, dilaporkan tiga  perawat misionaris Amerika jatuh sakit di Lassa, Nigeria. Dua pekerja laboratorium Universitas Yale yang mempelajari penyakit ini juga menjadi sakit. Dua perawat dan satu pekerja laboratorium meninggal karena tertular penyakit ini. Sejak itu, beberapa kasus demam Lassa impor telah dilaporkan di Eropa. Beberapa kasus impor telah dilaporkan di Amerika Serikat. Kasus impor terbaru di Amerika Serikat terjadi pada Mei 2015 dan meninggal karena terinfeksi penyakit ini (Weber, D.J., et al, 2016).

12. Leptospirosis
Dalam hal ini tikus yang bertindak sebagai reservoar, bakteri Leptospira spp. akan tersebar ke pemukiman/daerah lain melalui urin tikus dan dapat menginfeksi manusia atau hewan lain sehingga terjadi wabah penyakit leptospirosis (Kusmiyati et al., 2005).

13. Japanese Encephalitis (JE)
Penyakit Japanese encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak dapat menyerang hewan maupun manusia yang disebabkan oleh virus JE dapat berakibat fatal pada penderita (Fenner et al., 1992; Weissenbock et al., 2010). Pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1871, karena itu disebut Japanese encephalitis, sedangkan virusnya sendiri baru berhasil diisolasi pada tahun 1933. Virus JE ini termasuk dalam kelompok virus Arbo dari genus Flaviviridae, mempunyai 5 genotipe didasarkan atas analisis phylogenetic dari gen E virus (Solomon et al., 2003; Williams et al., 2000). Bersifat zoonosis dan penularan kepada hewan maupun manusia tidak secara langsung tetapi melalui gigitan vektor nyamuk. Induk semang yang dapat terinfeksi adalah babi, ternak ruminansia, kuda, kelinci, unggas, kelelawar dan manusia. Aktivitas virus secara alami terpelihara melalui siklus hidup nyamuk dengan unggas dan babi adalah induk semang penting tempat perbanyakan dari virus tersebut (Weissenbock et al., 2010). Pada saat ini virus JE telah tersebar hampir di banyak negara, terutama di Asia termasuk Indonesia (Ompusunggu et al., 2008). Hewan yang berperan sebagai reservoar dari virus JE adalah ternak babi, sedangkan manusia dan kuda merupakan target akhir dari siklus penularan atau dikenal juga dengan istilah dead-end karena viraemia terjadi sangat singkat sehingga sulit untuk ditularkan dari manusia ke manusia.

14. Nipah
Merupakan penyakit viral yang disebabkan oleh virus Nipah dari genus Morbilivirus, Famili Paramyxoviridae yang menyerang ternak babi dan bersifat zoonosis (Chua et al., 2000b). Penyakit Nipah pertama kali dilaporkan di Desa Sungai Nipah Negeri Sembilan, Malaysia pada tahun 1998. Wabah penyakit ini dalam waktu kurang dari satu tahun (September 1998 – April 1999) telah menewaskan 105 orang dan sekitar 1,1 juta ekor babi dimusnahkan (Chua et al., 1999; 2000a). Penyakit Nipah ini merupakan penyakit baru yang sebelumnya belum pernah dilaporkan di dunia. Dua spesies hewan yang berperan penting adalah kalong sebagai reservoar dari virus Nipah, dan ternak babi sebagai pengganda virus yang mengamplifikasi virus Nipah sehingga siap untuk ditularkan ke babi atau hewan lain atau manusia (Daniels et al., 2001; Field, 2001). 

15. Rift Valley Fever (RVF)
Rift Valley Fever (RVF) adalah penyakit viral yang menyerang hewan maupun manusia yang disebabkan oleh virus dari genus Phlebovirus dari famili Bunyaviridae. Pertama kali diidentifikasi pada tahun 1931 saat kejadian epidemik di  peternakan di Rift Valley di Kenya (Daubney et al., 1931 yang dikutip Gould dan Higgs, 2009). Ditularkan kepada hewan dan manusia oleh nyamuk Aedes spp., dapat menyebabkan penyakit yang serius yang ditandai dengan tingginya kejadian keguguran dan bisa mengakibatkan kematian. Manusia bisa tertular apabila berada pada lokasi tersebut dan terkena gigitan nyamuk yang mengandung virus RVF. Penyakit RVF menyebar ke Afrika Utara sehingga pada akhir tahun 1977 di Mesir terjadi epizootik yang menyebabkan 600 orang meninggal dan lebih dari 60.000 orang memperlihatkan gejala klinis yang berat (Meegan, 1979; Meegan et al., 1979). Pada tahun 2000 terjadi kasus penyakit RVF di Saudi Arabia dan Yaman (Gould dan Higgs, 2009).

Deforestasi di Taman Buru Semidang Bukit Kabu. Photo: Erni Suyanti

V.  Kesimpulan

Aktivitas manusia dalam skala luas berpengaruh terhadap munculnya penyakit menular baru terutama penyakit zoonosis, seperti perilaku manusia yang menyebabkan deforestasi, alih fungsi lahan/ hutan,  tekanan terhadap populasi keanekaragaman hayati, intensifikasi pertanian, perdagangan global satwa liar, adanya limbah rumah tangga/industri dan lain-lain. Perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya tersebut menyebabkan interaksi antara manusia dengan hewan/ satwa liar semakin intens sehingga menyebabkan peningkatan sebesar 70% ancaman penyakit menular baru (Emerging Infectious Diseases/ EID)  yang bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia atau dari mansuia ke hewan).  One Health merupakan sebuah konsep untuk merespon ancaman penyakit zoonosis tersebut, bahwa kesehatan manusia/masyarakat sangat dipengaruhi oleh kesehatan hewan dan lingkungan yang sehat.

Penyakit menular baru yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan/ perubahan lingkungan  diantaranya disebabkan oleh virus seperti peyakit  Avian Influenza (Flu Burung), Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome (MERS), COVID-19 (SARS-CoV-2), Ebola, Novel Ebolavirus, Lassa virus, Japanese Encephalitis, Nipah, Rift Valley Fever (RVF) dan lain-lain, sedangkan yang disebabkan bakteri adalah Leptospirosis, serta yang disebabkan oleh parasit diantaranya Schistosomiasis dan Angiostrongyliasis. Kerusakan lingkungan akibat deforestasi dan alihfungsi lahan/ hutan juga menyebabkan penyebaran penyakit menular melalui vektor nyamuk, yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD), Malaria, virus Zika dan Chikungunya.


VI.  Daftar Pustaka 

Bahri, S., Syafriati, T. 2011. Mewaspadai munculnya beberapa penyakit hewan menular strategis di Indonesia terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan dan Balai Besar Penelitian Veteriner. Bogor.
Brook, B.W., Sodhi, N.S., Bradshaw, C.J.A., 2008. Synergies among extinction drivers under global change. Trends Ecol. Evol 25.
Burkett, N.D., Vittor, C.A.Y. (2018). Deforestation and vector-borne disease: Forest conversion favors important mosquito vectors of human pathogens. Basic and Applied Ecology. Vol 26, pp. 101-110.
Chakrabarti, A. (2018). Deforestation, Malaria and Infant Mortality in Indonseia. Harvard University, Department of Global Health and Population, pp. 2–7.
Han, G.Z. (2020). Pangolins Harbor SARS-CoV-2 Related Coronaviruses. Tren in Microbiology. TIMI 1818, P:3. 
Husnina, Z., Clements, A.C.A., Wangdi, K. (2019). Forest cover and Climate as potential drivers for dengue fever in Sumatra and Kalimantan 2006-2016: a spatiotemporal analysis. Tropical Medicine and International Health. Vol 24, Issue 7.
Li, J.Y., You, Z., Wang, Q., Zhou, Z.J., Qiu, Y., Luo, R., Ge, X.Y. (2020) The epidemic of 2019-novel-coronavirus (2019-nCoV) pneumonia and insights for emerging infectious diseases in teh future. Microbes and Infection. 22: 80-85.
Malloy, S.S., Horack, J.M., Lee, J., Newton, E.K. (2019). Earth observation for public health: Biodiversity change and emerging disease surveillance. Acta Astronautica 160: 433-441.
McMichael, A.J. et al, 2004. Comparative quantification of health risk: global and regional burden of disesase due to selected major risk factors. In: Ezzati, M., Lopez, A.D., Rodgers, A., Murray, C.J.L. (Eds.), Global Climate Change. World Health Organization. Geneva.   
Olson, J.G., C. Rupprecht, P.E. Rollin, S.A. Ung, M. Niezgoda, T. Clemmins, J. Waltston and T.G. Ksiazek. 2002. Antibodies to Nipah-like virus in bats (Pteropus lylei) Cambodia. Emer. Infect. Dis. 8: 987 –988.
Pattanayak, S. K., & Pfaff, A. (2009). Behavior, environment, and health in developing countries: evaluation and valuation. Annu. Rev. Resour. Econ., 1(1), 183-217
Ramanujan, K. (2020). Cornell exsperts discuss state of pandemic. Cornell Chroniclle.
Rothan, H.A., Byrareddy, S.N. (2020). The epidemiology and pathogenesis of coronavirus diseases (COVID-19) outbreak. Journal of Autoimmunity 109.    
Weber, D.J., Rutala, W.A., Fischer, W.A., Kanamori, H., Bennet, E.E.S. 2016. Emerging infectious diseases: Focus on infection control issues for novel coronaviruses (Severe Acute Respiratory Syndrome-CoV and Middle East Respiratory Syndrome-CoV), hemorrhagic fever viruses (Lassa and Ebola), and highly pathogenic avian influenza viruses, A(H5N1) and A(H7N9). American Journal of Infection Control 44, e91-e100.  
Yang, G.J., Utzinger, J., Zhou, X.N. 2015. Interplay between environment, agriculture and infectious diseases of poverty: Case Studies in China. Acta Tropica 141, 399-406.
Yasuoka, J., Levins, R. (2007). Impact of Deforestation And Agricultural Development on Anopheline Ecology and Malaria Epidemilogy. The American Society of Tropical Medicine and Hygiene. Am. J. Trop. Med. Hyg., 76(3), 2007, pp. 450–460.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar