Minggu, 31 Januari 2016

HiLo Green Conference & Talk Show 2016


Tanggal 7 Januari 2016 saya dihubungi reporter salah satu stasiun TV swasta di Jakarta, sebelumnya kami memang pernah bertemu saat sedang liputan untuk acara stasiun TV nasional tentang PLG Seblat di Bengkulu dan sejak itu kami masih berkomunikasi. Dia mengatakan bahwa ada seorang dokter di Jawa Timur yang ingin menghubungi dan mengundang saya untuk menjadi pembicara dalam seminar. 


Beberapa hari kemudian saya dihubungi oleh HiLo Green Community (HGC), saya belum pernah mendengar nama organisasi itu sebelumnya, yang mengatakan bahwa mereka akan mengadakan acara konferensi dan talk show dengan tema 'Save The Endangered Animals' pada akhir bulan ini dan ingin mengundang saya untuk jadi salah satu narasumber. Saya belum tahu apakah itu HGC, sebelumnya saya mengira bahwa itu komunitas yang berasal dari Mahasiswa Program Studi Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya, Malang. Karena di universitas tersebut seminar akan diselenggarakan, dan bahkan saya juga sempat berpikir atau mungkin itu komunitas pecinta satwa yang ada di Malang, Jawa Timur. Sebelum menyatakan bersedia menghadiri acara seminar, saya musti mencari tahu tentang organisasi itu, agar saya tidak menghadiri acara yang salah dan tidak ingin terjebak menghadiri acara organisasi yang mengeksploitasi satwa dengan mengatasnamakan penyelamatan satwa. Pada saat itu saya belum bisa memastikan untuk bisa datang atau tidak, selain mempertimbangkan hal itu juga karena masih harus melihat jadwal kerja saya lainnya apakah berbenturan atau tidak dan masih harus berkoordinasi dengan atasan. Ternyata perkiraan saya salah, setelah menemukan jawabannya maka saya bersedia menghadiri acara konferensi dan talk show tersebut. Dan langsung mengurus birokrasi administrasi dengan BKSDA Bengkulu untuk diberikan Surat Perintah Tugas (SPT). 

Sabtu, tanggal 30 Januari 2015, pukul 10.25 WIB saya berangkat ke Malang, Jawa Timur dengan penerbangan dari Kota Bengkulu menuju Surabaya, Jawa Timur. Sesampainya di Surabaya sudah dijemput oleh panitia yakni dari HiLo Green Ambassador yang membawaku ke Kota Malang. Kami berhenti sejenak untuk makan siang dan istirahat di rumah makan Padang. Dalam hati aku berkata, "selama di Sumatera saja aku sebisa mungkin menghindari rumah makan ini karena tidak cocok dengan masakannya dan lebih memilih mencari rumah makan Jawa yang lokasinya jauh sekalipun, biasanya terpaksa baru makan ini bila tidak ada pilihan lainnya".  Sambil menunggu menu makanan disajikan, saya bertanya,"Ada yang berasal dari Sumatera ? Biasanya orang Sumatera memang kurang doyan makanan Jawa".  Ternyata tidak ada yang berasal dari Sumatera, malah mereka yang mengira saya berasal dari Sumatera. Memang, anggapan mereka tidak salah dan juga tidak benar, karena saya adalah orang Jawa yang kebetulan sudah lama tinggal di Sumatera. Tapi tak apalah, toh masakan Padang yang dijual di Jawa rasanya juga jauh berbeda dengan masakan Padang yang dijual di Sumatera, rasanya masih menyesuaikan lidah orang Jawa. Selesai makan siang kami melanjutkan perjalanan, menjelang petang sampai juga di Kota Malang dengan disambut hujan badai sepanjang perjalanan. 

Menghadiri acara ini sama artinya meninggalkan acara penting lainnya, karena seminggu sebelumnya saya juga mendapat undangan untuk menghadiri acara The Regional Asian Elephant and Tiger Veterinary Workshop yang diselenggarakan di Kerala Veterinary and Animal Sciences University, India yang diadakan selama 6 hari di waktu yang bersamaan. Sebelumnya sempat bimbang, untuk membatalkan acara yang sudah dikonfirmasi akan hadir atau meninggalkan acara yang berhubungan dengan kegiatan medis, harimau dan gajah untuk peningkatan kapasitas diri dan berbagi informasi tentang permasalahan penyakit serta tentunya akan bertemu lagi dengan teman-teman lama yang bekerja untuk konservasi harimau dan gajah di beberapa negara, kebetulan sudah lama saya tidak bertemu mereka. Kebetulan beberapa orang yang hadir aku mengenalnya dengan baik tidak hanya yang berasal dari Asia saja tetapi juga kolega dari Amerika dan Eropa. Hari Sabtu tanggal 30 Januari 2016 sama-sama sudah harus berada di lokasi konferensi, baik di Malang ataupun di India Selatan. Tak lama kemudian saya juga dapat undangan dari Saka Wanabakti Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu untuk menghadiri acara pelantikan kepengurusan Saka Wanabakti Rejang Lebong pada tanggal 30 - 31 Januari 2016. Sebelumnya saya juga menyatakan bersedia saat diminta untuk menjadi pembina Saka Wanabakti Rejang Lebong, karena saya juga tidak asing lagi dengan organisasi pramuka itu, sewaktu masih menjadi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) saya juga aktif berkegiatan di Saka Wanabakti di Perhutani yang ada di Jawa Timur.

Di Kota Malang saya menginap di Hotel de' Beautique, narasumber lainnya yang sekaligus juga rekan kerja saya dari Copenhagen Zoo Research Project di Taman Nasional Baluran juga menginap di hotel yang sama.  Kami seperti reuni saja, sering bertemu di banyak kegiatan yang berhubungan dengan konservasi satwa liar. Malam itu saya menghabiskan waktu untuk menyelesaikan bahan presentasi esok hari, sebetulnya selama perjalanan saat menunggu penerbangan di Fatmawati Soekarno Airport dan saat transit di Soekarno Hatta Airport saya sudah menyibukkan diri untuk menyeselaikan presentasi, sampai di Malang tinggal menambah kekurangannya. 

Kesempatan bisa berkunjung kembali ke Malang membuat saya bahagia, karena sudah sepuluh tahun lebih saya tidak pernah mengunjungi kota itu. Dulu awal berkarier sebagai dokter hewan satwa liar bermula di kota Malang, dan saya pernah tinggal di Malang beberapa saat sebelum hijrah ke Sumatera. Tentu banyak teman di kota itu, dan mereka kukenal sebagai aktivis konservasi satwa liar. Kembali ke Kota Malang sama artinya saya bernostalgia kembali dengan teman-teman lama dan bernostalgia dengan kota yang merupakan cikal bakal aktivitas saya dan yang membesarkan saya menjadi relawan dan akhirnya berkarier di dunia konservasi satwa liar. Dan saya juga sangat antusias saat melihat bahwa yang menjadi narasumber dalam konferensi dan talk show 'Save The Endangered Animals' tersebut tidak hanya kami berdua tetapi juga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan LSM ProFauna Indonesia yang kebetulan berkantor juga di Kota Malang. Namun sayangnya malam itu kami dapat informasi dari panitia bahwa mereka tidak bisa datang padahal mereka sama-sama memiliki kantor di Malang.

HiLo Green Conference "Save the Endangered Animals" di Graha Medika
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Minggu, tanggal 31 Januari 2016, Jadwal kami presentasi jam 1 siang, saya mendapat urutan terakhir. Setelah presentasi baru diadakan talk show yang dipandu oleh kolega dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang kebetulan juga menjadi HiLo Green Ambassador. Dalam presentasi ada hal yang tidak terduga dan tak biasa saat saya menampilkan photo harimau kami Elsa, saya tiba-tiba menangis dan tidak bisa melanjutkan kata-kata dan orang-orang yang hadir pun terdiam. Saya tidak tahu kenapa berubah menjadi begitu rapuh dan cengeng, mungkin teringat lagi betapa sulitnya kami mengevakuasi harimau Elsa sebagai korban jerat pemburu liar disaat kondisi saya yang tak berdaya saat itu, saya pun harus melakukan operasi amputasi kakinya yang membusuk karena jerat disaat saya sendiri sedang dirawat di UGD salah satu rumah sakit di Bengkulu, bagaimana sulitnya perjuangan kami merawatnya agar tetap hidup dan mendapatkan perawatan terbaik yang kami bisa disaat pihak lain dan pihak berwenang tidak peduli dengannya, perjuangan yang sarat dengan emosi, rasa putus asa dan air mata, belum lagi kami yang merawatnya dengan suka duka dihujat habis-habisan oleh pihak-pihak lain yang nyatanya membantu harimau kami pun tidak, yang seolah-olah mereka mengatakan pada publik bahwa sangat peduli dengan harimau sumatera, bahkan sampai direlokasi di kawasan konservasi pun tak pernah melihat bantuan mereka secara nyata terhadap harimau itu agar kualitas hidupnya lebih baik. Bicara itu mudah, tapi bukan itu yang kami dan harimau butuhkan, kami hanya membutuhkan tindakan nyata. Akhirnya saya pun harus melewatkan untuk membahas penyelamatan harimau Elsa daripada saya tidak bisa melanjutkan presentasi saya. Dia sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata, seharusnya memang saya tidak menyinggungnya untuk saat-saat seperti ini. Dan saya sendiri pun masih sensitive bila orang lain bertanya soal itu, saya lebih memilih untuk tidak menjawabnya daripada mengingatkan saya kembali dengannya. Dua kali ditanya tentang harimau Elsa, dua kali juga membuatku menangis, sepertinya saya sungguh belum rela mendapati kenyataan telah kehilangan. 

Talk Show "Save the Endangered Animals" di Graha Medika
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Acara Talk Show kami dikejutkan dengan banyaknya orang yang antusias untuk bertanya, membuatku sedikit terhibur. Usai acara, banyak mahasiswa Kedokteran Hewan yang mendatangiku mengajak foto satu persatu dan foto bersama. "Apa menariknya berfoto denganku, karena aku bukanlah orang beken yang diidolakan banyak orang," pikirku. Dan mereka juga mengajakku berbincang-bincang, saya menyukai generasi muda yang sudah optimis dengan jurusan yang dipilihnya, apalagi ingin mengikuti jejak sebagai dokter hewan yang bekerja untuk konservasi satwa liar. Itu sungguh luar biasa, berharap saya bisa terus menginspirasi mereka dengan terus berkomitmen bekerja untuk konservasi satwa liar terutama harimau sumatera.

Bersama Mahasiswa Program Studi Kedokteran Hewan,
Universitas Brawijaya
Pulang dari acara saya dijemput oleh teman-teman dari Centre for Orangutan Protection (COP) yakni LSM yang bekerja untuk konservasi orangutan di Indonesia untuk diajak makan malam bersama. Bakso Presiden pilihan kami, belum dianggap pergi ke Malang bila belum merasakan Bakso Presiden yang terkenal itu. Malamnya masih dilanjutkan bertemu dengan teman-teman COP dan orangufriends atau alumni COP School yang juga merupakan mahasiswa kedokteran hewan, Universitas Brawijaya. 

Senin, tanggal 1 Pebruari 2016 jam 7 pagi saya dijemput teman dari COP untuk makan pagi bersama dilanjutkan mengisi waktu untuk pertemuan internal membahas organisasi dan project dengan teman-teman COP dan Animals Indonesia sampai jam 10 pagi, karena saya harus berangkat ke Bandara Abdul Rachman Saleh di Malang untuk kembali ke Jakarta hari itu juga. Sebenarnya masih banyak teman-teman lainnya yang ingin saya temui, teman dokter hewan, teman satu organisasi Pecinta Alam dan lainnya, namun waktu yang singkat selama berada di Malang sudah terisi penuh untuk acara dengan teman-teman kerja dan untuk hal-hal yang berhubungan dengan konservasi satwa liar. Waktuku tidak sia-sia dan menjadi sangat berarti meski hanya singkat berada di Kota Malang. Masih banyak teman lain yang belum bisa dijumpai selama disana, berharap suatu saat nanti ada kesempatan lainnya untuk bertemu mereka.

Sebelum kembali ke Bengkulu, Sumatera, saya masih mengadakan pertemuan dengan teman-teman di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manggala Wanabakti Jakarta untuk rencana pembuatan buku dan mengikuti pertemuan dengan anggota Forum HarimauKita di Bogor, Jawa Barat untuk rapat lainnya. Memanfaatkan waktu diluar kerja untuk hal-hal yang bermanfaat itu memang membahagiakan dan membuat hidup menjadi selalu bersemangat.

Jumat, 01 Januari 2016

Pengamatan Biota Laut dan Satwa Liar selama 3 Hari di Pulau Panaitan


Tiga hari di Pulau Panaitan dari tanggal 30 Desember 2015 sampai dengan 1 Januari 2016, yakni mengisi waktu di penghujung tahun dan di tahun baru dengan kegiatan yang bermanfaat. Selama ini pergantian tahun identik dengan mengadakan pesta kembang api, berkonvoi di jalan raya atau sekedar nongkrong bersama teman dan keluarga di pusat keramaian atau dengan mengadakan barbeque party, namun kami tidak ingin mengikuti ritual seperti itu, dan lebih memilih berada di pulau tak berpenghuni dan terpencil di ujung barat Pulau Jawa sekaligus mengikuti kegiatan pelepasliaran monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang dilakukan oleh IAR (International Animal Rescue), JAAN (Jakarta Animal Aid Network) , PPSC (Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga) bekerjasama dengan TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon).

Rabu, 30 Desember 2015
Ini adalah pengalaman pertamaku travelling ke Taman Nasional Ujung Kulon. Di keluargaku hanya adikku lah yang pernah mengunjungi tempat ini di awal kerjanya beberapa tahun yang lalu. Dan akhirnya aku pun mendapatkan kesempatan untuk mengadakan perjalanan ke pulau - pulau yang berada dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Berbicara tentang taman nasional ini yang terlintas dipikiran kita pastilah habitat terakhir dari badak jawa (Rhinoceros sondaicus), selain itu juga merupakan habitat bagi banteng (Bos javanicus) dan macan tutul (Panthera pardus). Namun tempat yang kukunjungi bukanlah daratan Pulau Jawa tapi pulau-pulau kecil yang ada di ujung barat Pulau Jawa sehingga tidak akan menemukan badak jawa, banteng dan macan tutul disana meski aku ingin sekali melihat mereka di alam.

Rusa (Cervus timorensis) di Pulau Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon

Sebelum berlabuh di Pulau Panaitan yang merupakan tujuan utama kami, aku diajak untuk singgah terlebih dulu di Pulau Peucang. Dari kejauhan terlihat ada sebuah perahu cepat dan perahu nelayan ukuran besar parkir di pantai pintu masuk Pulau Peucang. Pantai dengan pasir putih dan air laut yang berwarna hijau biru dengan batas kontras tampak bersih dan bening dari kejauhan sehingga ikan-ikan yang lalu lalang didalamnya tampak jelas dari atas perahu. Di pulau ini terdapat kantor dan penginapan wisatawan. 

Di pulau itu yang terlihat hanya babi hutan berkeliaran di sekitar kantor dan penginapan seolah-olah sudah tidak takut lagi dengan kehadiran manusia, begitu juga dengan monyet ekor panjang.  Di pinggir pantai aku melihat seekor rusa (Cervus timorensis) sedang mencari makanan, saat aku memotretnya dia pun melihatku. Aku sangat menyukai saat memotret satwa liar pandangannya melihat kearahku, gambar menjadi tampak hidup. Dan aku pun sangat menyukai memotret ekspresi hewan. Hanya sekitar 10 menit kami berada di Pulau Peucang, namun bagiku itu sudah cukup berkesan. 

Setiap kali aku mengunjungi kawasan konservasi yang sekaligus dimanfaatkan untuk ekowisata dengan melibatkan masyarakat sekitar selalu membuatku teringat tempatku bekerja. Di tempat lain mereka sudah sibuk untuk pengembangan diri dengan pemberdayaan masyarakat sekitar untuk ekowisata dan pada akhirnya bisa berkonstribusi meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) serta membantu perekonomian masyarakat sekitar kawasan, di tempatku sendiri malah masih disibukkan dengan perbaikan manajemen tanpa diimbangi dengan pengembangan dan pemanfaatan secara lestari kawasan konservasi yang berdampak langsung pada upaya konservasi dan menambah penghasilan masyarakat sekitar. Padahal masyarakat sekitar kawasan adalah benteng bagi pengamanan kawasan hutan. Bagiku perbaikan manajemen dan pengembangan kawasan konservasi harus berjalan beriringan. Dulu aku pun sudah pernah berusaha mengembangkan itu saat menjadi koordinator untuk mengelola sebuah kawasan konservasi yang merupakan habitat gajah di Bengkulu dengan mencoba menggandeng beberapa pihak terkait dan masyarakat serta mendorong mereka memiliki MoU dengan BKSDA Bengkulu, saat itu mulai tampak ada hasilnya namun bila selanjutnya tanpa didukung oleh pengambil kebijakan semua juga tidak akan berjalan, bahkan sekarang dihentikan. Sedih rasanya, disaat sudah bekerja keras dengan mengabdikan seluruh waktu dan pikiran untuk pekerjaan tanpa memikirkan kepentingan pribadi semua menjadi sia-sia. Kadangkala kita memang harus menyadari dan berbesar hati saat telah bekerja keras untuk tujuan yang baik belum tentu  mendapat dukungan, disaat yang bersamaan terkadang harus mendapati kenyataan saat orang lain bekerja dengan tujuan tidak baik malah mendapat dukungan. Ya begitulah hidup kadang terasa aneh dan tidak masuk logika :)  

Sedangkan di Pulau Panaitan satwa liar yang paling banyak dijumpai adalah burung dan rusa. Sebenarnya seorang teman mengajakku untuk berburu photo kancil, tentu aku tertarik karena belum pernah lihat kancil secara langsung di alam liar, aku membayangkan tubuhnya mirip dengan kijang namun ukurannya lebih kecil. Pulau Panaitan termasuk lokasi tempat hidup kancil, namun selama berada disana tak seekorpun yang terlihat olehku, mungkin aku belum beruntung ataukah ini tandanya aku harus kembali kesana lagi suatu hari nanti :) Saat pencarian kancil di sore itu dengan menyusuri hutan bersama seorang teman dari IAR, aku malah menemukan perangkap pemburu burung. Namun setiap pagi aku mendengar suara kijang yang berbunyi di sekitar tenda kami, aku suka mengintainya dan bersembunyi dibalik pohon sambil bersiap-siap memotret, namun lama menunggu dekat sumber air tawar, binatang itu tak kunjung menampakkan diri padahal suaranya terdengar begitu dekat. Memotret memang harus dengan penuh kesabaran, tidak boleh banyak bergerak dan mempunyai penglihatan yang jeli kearah hutan sekitar, bahkan saat memotret pun harus menahan nafas sejenak. Meskipun begitu yang jelas photography dengan obyek satwa liar adalah salah satu hobbyku.

video

Akhirnya sebagai alternatif mengisi waktu luang aku memilih untuk memotret biota laut yang ada di pantai dan batu karang. Selama berjalan kaki di hari pertama dari kandang habituasi monyet ekor panjang ke lokasi tenda untuk menginap waktu tempuh yang seharusnya satu jam atau sekitar 10 km untuk berjalan malah aku habiskan berjam-jam untuk mengamati batu karang berharap menemukan sesuatu yang baru dan memotretnya. Hal ini karena banyak binatang laut yang bentuknya unik dan belum pernah aku jumpai sebelumnya, membuatku sangat tertarik untuk tahu lebih banyak tentang jenis-jenisnya dan ingin mengabadikannya dengan kameraku. Kami berjalan pelan dan berhati-hati karena banyaknya landak laut atau bulu babi (Echinoidea) di sepanjang pantai agar kami tak tertusuk oleh binatang itu. Aku beserta dua orang teman dari IAR seperti anak kecil yang mendapat mainan baru saat melihat binatang laut, kami saling bertanya, "Yang ini apa sih ?" Dan kami pun sama -sama tidak tahu. Rasa ingin tahu yang tinggi membuat penasaran untuk menyentuhnya meski kami tidak tahu binatang tersebut beracun atau tidak, bahkan kami pun tidak tahu kalau itu binatang. Saat menemukan bentukan seperti bintang laut berwarna biru, salah seorang teman bertanya kepadaku, "Ini apa ?" "Mungkin mainan dari plastik yang terdampar di pantai", jawabku. Karena kami menganggap itu benda mati maka meletakkannya kembali ke pantai. Jadi kaget saat melihat benda itu mengeluarkan silia kemudian membalik tubuhnya dan berjalan pelan untuk bersembunyi dibalik batu karang. Kami berdua dokter hewan tapi tidak tahu kalau itu hewan....hahaha ! Ternyata itu memang bintang laut (Asteroidea), akhirnya aku memotret dan mengambil videonya. Selain itu aku juga memotret pemandangan sekitar yang sungguh indah. Pulau yang sepi tak berpenghuni serta terpencil bagiku memang indah dan tidak akan terlihat indah lagi bila sudah ada bangunan permanen yang berdiri di tempat seperti itu atau sudah banyak pengunjung bahkan orang berjualan, tentu sudah tidak menarik perhatianku lagi.


Kamis, 31 Desember 2015


Pemandangan pantai dilihat dari Bukit Teletabis - Pulau Panaitan, 
Taman Nasional Ujung Kulon

Di hari kedua pagi itu aku melewatkan ajakan seorang teman dari IAR untuk ikut berjalan-jalan masuk hutan berburu photo kancil, saat dia sudah berjalan-jalan aku masih meringkuk di dalam tenda enggan untuk bangun terlalu pagi.  Karena tidak ada kegiatan, aku memasak nasi goreng untuk sarapan pagi dan sambil nongkrong diatas pohon yang menjulur ke pantai sambil tidur-tiduran dan memperhatikan ombak yang datang dan pergi dari bibir pantai.  Berjam-jam aku betah di atas pohon sendirian. Kemudian aku berganti tempat pindah ke pohon lainnya dan sempat tidur siang disana, baru terbangun saat mendengar langkah kaki mendekat kearahku dan salah satu dari mereka bertanya, "Mau ikut nggak jalan-jalan ?"  Tentu aku langsung menyanggupi, kebetulan di dekatku tidur sudah siap kamera dan botol minum, berbekal itu saja sudah cukup bagiku. Kami menyusuri pantai dan terkadang masuk ke dalam hutan sejauh 10 km, tujuan kami adalah Bukit Teletabis, sampai di lokasi pukul 15. 29 WIB. Waktu yang kami tempuh sekitar 3 jam 39 menit, cukup lama untuk berjalan sejauh 10 km, karena kami banyak berhenti untuk memotret hal-hal menarik yang kami temukan, tidak hanya biota laut tetapi juga burung, mammalia dan pemandangan pantai yang indah.

Saat menyusuri pantai kami berjalan sangat hati-hati karena banyak dijumpai landak laut (bulu babi) dan kadang juga bisa menjumpai ikan pari yang sedang berlabuh di pantai. Banyak biota laut yang aneh dan unik kujumpai dalam perjalanan ini, lebih banyak diantaranya yang baru pertama kali aku melihatnya.

Inilah biota laut di Pulau Panaitan yang berhasil diambil gambarnya :




































































Selain binatang-binatang kecil dan unik yang ditemukan di batu karang, aku juga memotret beberapa burung pantai yang sedang menikmati ombak dan berburu mangsa, burung elang dan king fisher. Memotret rusa juga sulit karena binatang ini sangat sensitif dengan kehadiran manusia, meskipun aku banyak menjumpainya di pinggir pantai namun belum tentu dengan mudah memotretnya karena rusa selalu menghindar dan lari menjauh. Di hutan yang didominasi tanaman pandan aku menemukan banyak sekali kotoran rusa, dan saat perjalanan pulang aku melihat seekor induk rusa bersama anaknya terlihat dari pantai, namun rusa tersebut cepat berlari menjauh melihat kehadiranku. Dan aku pun hanya berhasil memotret seekor rusa dari sekian banyak kesempatan menjumpai rusa di Pulau Panaitan. 

Camping di Pulau Panaitan
Saat perjalanan kembali dari Bukit Teletabis ke tenda kami hanya memakan waktu selama 1 jam 49 menit sejauh 10 km, jauh lebih cepat dibanding saat berangkat pergi. Sesampainya di tenda sore itu masih kumanfaatkan untuk memotret sunset dan mencari cangkang kerang dan siput yang sudah tak terpakai lagi oleh penghuninya. Sehabis mandi di sumber air tawar tak jauh dari tenda, aku ngobrol hingga larut malam di depan tenda dengan teman lama dari JAAN yakni Femke dan Darno, kami larut dengan nostalgia di masa lalu saat masih sama-sama menjadi volunteer untuk konservasi satwa liar, dan obrolan kami lainnya tak pernah jauh dari issue-issue tentang satwa liar dan suka duka bekerja memperjuangkan nasib satwa liar di Indonesia. Ini seperti ajang reuni, karena di kesempatan ini aku tidak hanya bertemu mereka saja tapi juga seorang teman lama yang sekarang bekerja di IAR yakni Aris Hidayat, kami berdua juga dulunya sama-sama menjadi volunteer untuk konservasi satwa liar di Jawa Timur. Kesempatan yang jarang terjadi bisa berkumpul bersama di satu tempat seperti ini. Sedangkan teman-teman lainnya nongkrong di tempat yang berbeda. Kami semua mencoba untuk menghabiskan waktu menjelang pergantian tahun.

Malam itu kami briefing untuk rencana kegiatan selanjutnya. Saat malam telah larut hujan turun dengan derasnya, aku yang mencoba tidur lebih dulu tak merasakan bahwa air hujan masuk tenda kami. Sleeping bag di bagian kaki sudah basah, bahkan disampingku air menggenang sehingga kawanku satu tenda tak bisa tidur dibuatnya. Tenda itu sepertinya diperuntukan bagi para dokter hewan karena kebetulan yang menempati adalah aku sendiri dan seorang dokter hewan dari IAR serta satu lagi volunteer dokter hewan IAR dari India, tapi sepertinya dia tidak berminat untuk bermalam di tenda khusus untuk perempuan tersebut.


Jumat, 1 Januari 2016
"Selamat Tahun Baru"........ucapan yang kudengar pagi itu. Hmm.....rupanya kami sudah setahun camping disitu......hahaha :)  Hari itu kami akan kembali pulang, dan beberapa orang akan tetap tinggal di lokasi sampai pertengahan bulan Januari 2016 sambil monitoring proses habituasi monyet ekor panjang sebelum layak dilepasliarkan kembali ke alam. Mengembalikan satwa liar ke habitat alaminya jauh lebih sulit dibandingkan dengan orang yang tidak bertanggung jawab dengan mudahnya mengambil satwa liar dari alam.  Dan dalam proses pengembalian itu membutuhkan waktu yang panjang, tenaga dan pikiran yang terkuras dan biaya yang tidak sedikit agar satwa-satwa itu bisa menikmati kebebasan kembali dan menjalankan fungsinya dalam ekosistem. Sedangkan imbalan yang kita dapatkan adalah kepuasan batin yang tak terkira melihat satwa liar menikmati kebebasannya kembali, karena bagaimanapun tempat terbaik mereka adalah di hutan bukan di rumah orang dengan tubuh di rantai dan dijadikan obyek sebagai "Dancing Monkey" untuk menghasilkan uang bagi manusia.

Pantai di Kantor Seksi Pengelolaan TN Wilayah I, Pulau Panaitan, 
Taman Nasional Ujung Kulon

Pagi itu kami packing barang-barang, perahu cadik sudah menjemput dan kami harus bersiap untuk pergi menuju perhau yang lebih besar dan meninggalkan Pulau Panaitan. Di tengah perjalanan seorang kawan menawariku untuk turun dari perahu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, tawarannya menggodaku untuk mengikutinya karena tertarik dengan penjelasannya bahwa kami nantinya bisa menjumpai dan memotret satwa liar sepanjang perjalanan. Dengan membawa kamera dan botol minum sebagai teman perjalananan, kami mulai berjalan kaki dari Bajo sampai Kantor Seksi Pengelolaan TN Wilayah I yang ditempuh sekitar 1 jam perjalanan. Selama berjalan aku hanya dapat menjumpai burung saja dan pepohonan dengan diameter cukup besar, namun tak mengapa sesampainya di tujuan terlihat seekor rusa sedang berada di areal kantor seksi, akhirnya itulah yang jadi sasaran obyek memotret kami. Bagiku tidak itu saja yang menarik, namun keindahan pantainya juga cukup membuat terpesona, pasir putih yang halus dan lembut dikombinasi dengan air pantai yang bening kehijauan dan kebiruan. Tak sabar aku untuk segera turun dan menginjakkan kakiku di pantai indah itu tanpa peduli dengan teriknya matahari di siang hari yang panas. Bermain air sambil menunggu perahu besar menjemput kami dan akan membawa kami kembali ke Sumur, yakni kampung nelayan tempat kami berlabuh. Sepanjang perjalanan pulang aku habiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan para polisi kehutanan (polhut) Taman Nasional Ujung Kulon yang pulang bersama kami. Bagiku ini adalah pengalaman pertama mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon dan tentu tidak akan terlupakan, tiga hari terlewati dengan sungguh menyenangkan.

Release back 'Dancing Monkeys' to Its natural habitat in the Ujung Kulon National Park


Macaca fascicularis (monyet ekor panjang) hasil penyitaan dari sirkus Topeng Monyet

29 Desember 2015


Pagi itu aku dibangunkan suara telepon dari seorang teman lama yang bekerja di IAR (International Animal Rescue) untuk diajak ikut kegiatan pelepasliaran monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) hasil penyitaan dari sirkus keliling 'Topeng Monyet' di DKI Jakarta dan akan direlokasi ke Taman Nasional Ujung Kulon. Hari itu aku bangun kesiangan mungkin karena malamnya kami sekeluarga baru saja pulang liburan dari Puncak, Bogor, Jawa Barat. Sempat bimbang untuk pergi, dan aku harus memutuskan secepatnya karena dua jam lagi akan berangkat. Di hari itu aku kebetulan juga diminta untuk mengisi acara Live di TV One tentang profesiku sebagai dokter hewan yang menangani harimau sumatera korban konflik dan perburuan liar. Namun sepertinya aku lebih tertarik untuk pergi ke hutan menyaksikan para topeng monyet dilepasliarkan kembali. Aku menelepon kembali temanku dan mengatakan aku ikut berangkat dan kami sepakat untuk bertemu di terminal Labuhan, Banten. 

Selesai packing peralatan camping, aku mencoba untuk memesan Go-jek, namun setelah hampir satu jam sulit untuk masuk aplikasi Go-jek akhirnya aku berjalan keluar rumah mencari ojek. Tapi Satpam perumahanlah yang akhirnya mengantarku sampai lokasi bus berhenti mencari penumpang dan baru berangkat pukul 10.30 WIB padahal kami sudah sepakat akan berangkat jam 9 pagi, tentu sulit bila naik kendaraan umum karena waktu keberangkatan tergantung sopir bus. Perlu waktu 3,5 jam dari Kota Tangerang menuju terminal bus Labuhan Banten, jauh lebih singkat dari dugaan seluma yang lebih dari 6 jam perjalanan. Aku memilih duduk di kursi paling depan sehingga bisa dengan mudah bertanya pada sopir atau kondektur tentang tempat tujuan, maklum saja ini perjalananku pertama kalinya naik bus ke Labuhan, Banten dan aku belum mengenal daerah itu sebelumnya.

Desa nelayan di Sumur, Pandeglang, Banten
Ada 3 orang teman dari IAR yang menjemputku di terminal Labuhan siang itu, dan kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju kampung nelayan di Sumur, Pandeglang, Banten untuk mempersiapkan perjalanan esok harinya, yakni menyewa perahu, belanja logistik untuk tim dan untuk monyet yang akan dilepaskan serta persiapan lainnya. Malam itu kami menginap di penginapan 'Sarang Badak' di desa setempat. Penginapannya sederhana tapi unik. Kami sekaligus menunggu kehadiran anggota tim lainnya dari JAAN (Jakarta Animal Aid Network), PPSC (Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga) dan IAR yang akan datang malam itu bersama monyet-monyet yang direlokasi. Mereka datang menyusul karena masih harus melakukan perjalanan ke PPSC di Sukabumi, Jawa Barat untuk mengangkut monyet-monyet yang dirawat disana. Lebih dari 20 ekor monyet yang siap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat, sebagian besar dari Topeng Monyet (Dancing Monkeys) yang telah direhabilitasi di PPSC. Kegiatan ini dilakukan kolaborasi antara IAR, JAAN, PPSC dan TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon). Dan kulihat perwakilan dari masing-masing lembaga tersebut ikut serta dalam kegiatan ini.


30 Desember 2015

Sekitar pukul 08.40 WIB kami berangkat dengan menggunakan dua buah perahu nelayan sewaan. Perahunya cukup besar dapat menampung sekitar 20 orang dan barang-barang bawaan. Namun untuk mencapai perahu tersebut kami lebih dulu menaiki perahu cadik kecil karena perahu besar tidak bisa bersandar di dekat pantai. Tim dibagi dua, yang satu bersama monyet ekor panjang akan menuju Kantor Seksi Pengelolaan TN Wilayah I di Pulau Panaitan dan tim satunya lagi akan ke Pulau Peucang terlebih dulu untuk menurunkan penumpang, dan kami semua akan bertemu kembali di lokasi kandang habituasi dan tenda tim lapangan yang sudah ada di Pulau Panaitan terlebih dulu.

Babi hutan di Pulau Peucang, Taman Nasional Ujung Kulon
Aku lebih tertarik untuk mengikuti perahu yang akan menuju ke Pulau Peucang, karena sebelumnya adikku memberitahu kalau Pulau Peucang sangat indah dibanding pulau-pulau yang lain karena dia pernah mengunjungi pulau itu sebelumnya dan pulau lainnya di Taman Nasional Ujung Kulon. Pukul 11.10 WIB kami sampai di Pulau Peucang. Akhirnya tidak menurunkan penumpang saja bahkan kapten perahu bersedia menunggu bila aku dan kawan lainnya turun dan memotret di Pulau Peucang. Lumayan bisa menikmati sejenak keindahan Pulau Peucang sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Pulau Panaitan.

Satwa liar yang terlihat di Pulau Peucang ini hanya babi hutan dan monyet ekor panjang yang berkeliaran di sekitar camp penginapan, dan seekor rusa yang terlihat di pinggir pantai. Pantainya tampak bersih dengan pasir putih yang lembut dan air laut yang bening agak biru kehijauan. Ikan-ikan kecil tampak bergerombol berlarian di pantai, tampak jelas dari atas perahu, aku memperhatikannya dengan gembira seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru, terkadang juga tampak ikan besar sedang memburu gerombolan ikan - ikan kecil tersebut. Pukul 11.23 WIB kami meninggalkan Pulau Peucang. Meski hanya 13 menit berada di Pulau Peucang namun aku sudah mengkoleksi banyak photo di tempat itu. Tempat yang indah selalu membuatku boros memotret. 

Lokasi Menginap (Camping) di Pulau Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon

Pukul 12.48 WIB kami menyusuri pantai Pulau Panaitan, perahu satunya belum tampak ada di sekitar pantai. Kami mencari lokasi tenda tim yang sudah lebih dulu berada di lapangan, dan mencari lokasi kandang habituasi untuk monyet ekor panjang. Ternyata tidak mudah mencari alamat di hutan dan Pulau yang tidak berpenghuni ini dari pantai. Kami memelototi pinggir pantai untuk melihat tanda-tanda adanya manusia, yakni kawan-kawan yang ada di lapangan. Akhirnya kami pun dari jauh tampak warna biru dan kuning tertutupi hijaunya tumbuhan hutan, mungkin itu tenda, dan ternyata benar. Sekitar pukul 13.00 WIB perahu satunya baru muncul dari sisi kanan perahu kami menuju ke arah pantai. Disana teman-teman sudah menunggu di pantai.

JAAN dan IAR
Untuk merapat ke pantai diperlukan perahu cadik, beberapa orang turun dan pindah ke perahu cadik beserta beberapa kandang monyet untuk dilepaskan ke kandang habituasi disana. Kandang monyet sisanya diturunkan di lokasi kandang habituasi lainnya, dan aku ikut yang kedua ini. Kandang habituasi dibuat sangat sederhana dengan menggunakan jaring yang diikat mengelilingi pepohonan hutan, di tempat itu monyet-monyet akan di monitoring setiap hari, perilakunya harus sudah normal seperti monyet liar lainnya, bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru mengingat monyet-monyet ini sudah lama dipelihara manusia dan dirawat dengan cara manusia dan perilakunya pun dipaksa seperti aktivitas manusia saat menjalani sirkus keliling. Tentu butuh proses lama untuk bisa dilepasliarkan kembali, tidak hanya bebas penyakit dari hasil pemeriksaan medis, namun juga perilaku harus normal kembali dan bisa beradapatsi di alam liar agar mereka bisa bertahan hidup saat dilepasliarkan kembali. Proses rehabilitasi dan pelepasliaran satwa itu membutuhkan dana yang tidak sedikit dan waktu yang tidak sebentar, tidak sebanding dengan saat orang mengambilnya dari alam dan menjualnya untuk dijadikan topeng monyet. Maka dari itu kerja orang-orang di dunia konservasi satwa liar itu tanpa pamrih dan non-provit, dan imbalannya mereka sudah cukup bahagia bila melihat satwa liar itu bisa bebas kembali ke alam liar. Bagiku ini adalah saat-saat yang membahagiakan dan mengharukan bisa ikut menyaksikan monyet - monyet itu menuju kebebasan.