Minggu, 29 Juni 2014

Dokumentasi Perjalanan Wisata Sejarah - September 2011



Saat traveling ke Nusa Tenggara Timur, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Museum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di Kota Kupang.  Museum merupakan salah satu tempat dimana kita bisa mengenal keanekaragaman budaya Nusantara serta sejarah di berbagai daerah di Kepulauan Indonesia.

Inilah hasil dokumentasi yang didapatkan selama mengunjungi Museum Daerah Nusa Tenggara Timur :


Kerangka Ikan Paus

Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah Indonesia yang terkenal dengan tradisi turun-temurun tentang perburuan Paus. Seekor paus dewasa panjangnya bisa mencapai 20 meter (lebih dari 60 kaki), dan beratnya 40-50 ton. Memisahkan daging dari kerangka bisa menghabiskan waktu seharian penuh bila dikerjakan beramai-ramai dan untuk menyelesaikan ritual pemotongan paus bisa menghabiskan waktu selama dua hari. 

Atamola (pembuat perahu tradisional penangkap paus Paledang), istilah ini juga berarti Orang Pintar, yang bertugas membagikan daging paus secara merata. Atamola akan menggunakan Duri, yakni pisau yang dibuat khusus dan berukuran panjang untuk membelah paus pertama kali sebelum memotong kerangka paus. Goresan/ irisan ini akan menentukan pembagian daging paus secara merata bagi para penangkap, pemilik Paledang, tuan tanah dan penduduk yang membantu pembagian daging paus. 

   





Woga. Rumah ini milik Suku Lewuk di wilayah etnis Tana Ai

Woga, Prayer house and a place for keeping heirlooms and have historical value. The house can only be attended by men, while women are prohibited without permission from the ethnic group leader or the elders.
(Rumah ibadat dan tempat menyimpan benda-benda pusaka dan bernilai sejarah, dan hanya boleh dimasuki kaum pria, sedangkan kaum wanita tidak diperbolehkan memasuki rumah ini tanpa seijin Kepala Suku atau Tetua Adat).  




Rumah Adat Mbaru Gendang

Konstruksi rumah adat ataupun rumah penduduk Manggarai melambangkan empat alam, yaitu Ngaung (Kolong) melambangkan dunia kegelapan; Ruangan tempat manusia tinggal melambangkan dunia manusia; Lobo (loteng) dan Lempa Rae (loteng tempat menyimpan bahan makanan dan benih) melambangkan alam perantara dunia manusia dan kedewaan; Sanggar (Mezbah) melambangkan dunia dewa; Mangka (gasing) yang ditopang tanduk kerbau pada bubungan rumah merupakan lingga yang melambangkan alat kelamin pria; sedangkan tanduk kerbau melambangkan tangan manusia penyembah Sang Pencipta.


Tempat memasak yang terbuat dari daun lontar. 

Sempat heran melihat peralatan memasak yang terbuat dari daun lontar kering karena tidak terbakar dengan cara memasak seperti ini. Bisa digunakan untuk merebus air. 


Berbagai bentuk topi yang dipakai masyarakat Nusa Tenggara Timur
dan terbuat dari daun lontar


Pohon Lontar, penting artinya bagi kehidupan sehari-hari
masyarakat Nusa Tenggara Timur. 


Arca Batu. Simbol Fitor Raimanus, yang pernah berkuasa 
di Kerajaan Wehali, Belu Selatan.


Museum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur

Kamis, 26 Juni 2014

Bertemu dan Jalan-Jalan Bersama Kawan Lama



Seorang teman dari Jakarta meneleponku yang kebetulan sedang berada di Sumatera. Dia adalah kawan lama yang dulunya sama-sama bekerja di sebuah lembaga non-government dan non profit untuk konservasi satwa liar terancam punah di Indonesia. Setelah sekian tahun lamanya tidak pernah berkomunikasi akhirnya kami bertemu kembali di acara Centre for Orangutan Protection/ COP Batch # 4 di Yogyakarta awal bulan ini.  

Disela-sela kegiatannya survey lokasi untuk pembangunan Pusat Penyelamatan Satwa di Provinsi Sumatera Selatan bekerjasama dengan Balai KSDA Sumatera Selatan akhirnya menyempatakan diri untuk menemuiku di Bengkulu bersama seorang kawan lainnya yang memang orang Bengkulu dan sudah tidak asing lagi bagiku, karena dia juga kawan lama yang kukenal sejak saya tinggal di Bengkulu. 

Seblat Elephant Conservation Center. Photo by Erni Suyanti Musabine

Mereka berdua hanya ingin bertemu denganku dan berbincang-bincang karena memang sudah lama kami tidak pernah bertemu. Ini seperti reuni saja. Namun mereka tidak ingin bertemu denganku di kota, maunya di hutan saja. Dan mereka memberi ide bagaimana kalau kami pergi ke Pusat Konservasi Gajah Seblat dan bermalam disana. Bertemu dengan orang-orang yang tertarik dengan satwa liar, nongkrongnya pun minta di habitat satwa liar. Padahal untuk menuju kesana harus menempuh perjalanan kurang lebih 4-5 jam dari kota Bengkulu ke arah Sumatera Barat atau Kerinci-Jambi.

Esok harinya, tanggal 25 Juni 2014 mereka menjemputku di rumah. Dan siang itu pun kami langsung berangkat menuju camp gajah di Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara melintasi jalan di pesisir pantai barat Sumatera. Sesampainya di Air Muring, Kecamatan Putri Hijau kami berbelanja logistik bahan mentah untuk bekal makanan selama tinggal di camp gajah, dan membeli makanan siap santap untuk makan malam bertiga, juga air mineral dan snack sebagai teman ngobrol malam harinya. Kopi dan teh serta gula sudah tersedia sepanjang hari dan gratis di camp PKG Seblat jadi kami tidak perlu membelinya di mini market itu.

Prionailurus bengalensis
Dalam perjalanan kami juga menjumpai satwa liar korban tertabrak mobil yakni biawak dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dan sudah dalam kondisi mati. Banyak orang yang belum bisa menghargai nyawa binatang, dan lebih memilih menabraknya saat satwa liar itu sedang menyeberangi jalan daripada memberi kesempatan pada satwa itu agar menyeberangi jalan dengan aman. Bagi saya semua satwa liar mempunyai hak hidup tidak hanya manusia. Karena mereka diciptakan Tuhan tentu juga ada fungsinya bagi kehidupan di sekitarnya. Kami berhenti sejenak untuk melihat kondisi satwa tersebut, ternyata sudah mati dengan kondisi mengenaskan dan mengalami pendarahan dari rongga mulut. Seorang kawan menutupi tubuhnya dengan karung yang didapat di sekitar jalan.

Akhirnya kami sampai juga ke tujuan. Mobil kami titipkan ke rumah salah satu warga desa yang berdekatan dengan Sungai Seblat. Sore itu kami menyeberangi Sungai Seblat dengan perahu dayung. Dan masih harus berjalan kaki menanjak menuju camp PKG Seblat dengan pemandangan sepanjang jalan setapak adalah gajah-gajah binaan PKG Seblat dan babi hutan yang mencari makanan di lokasi pakan gajah. Sekitar pukul setengah tujuh sore kami baru sampai ke camp tempat menginap yang berada di pinggir hutan TWA Seblat.

Mereka berdua saya tempatkan di guest house (camp tamu), sedangkan saya tinggal di tempat tinggal saya sendiri di rumah panggung yang berlainan. Setelah membersihkan diri kami ngobrol bersama di ruang makan terbuka sambil makan malam. Obrolan kami tentu tak jauh-jauh dari satwa liar, peredaran dan perdagangan satwa liar illegal, perburuan liar dan semacamnya. 

Presbytis melalophos
Pagi harinya tanggal 26 Juni 2014, saya bersama seorang mahout memasak untuk makan pagi kami berempat. Sambil menunggu sarapan siap, kami melanjutkan ngobrol bersama bersama mahout. Terlihat ada simpai (Presbytis melalophos) yang sedang mencari makan di pohon yang tak jauh dari tempat kami nongkrong. Seperti biasa aku selalu ingin mengabadikan perilakunya dengan camera. Selesai sarapan, kami bertiga melanjutkan ngobrol bareng di shelter depan camp sambil menyaksikan gajah yang lalu lalang. Kesempatan pagi itu juga kami manfaatkan untuk melihat kandang perawatan harimau dilengkapi dengan kandang jepit yang berada di Pusat Konservasi Gajah Seblat. Kandang cukup besar, dan bisa juga dimanfaatkan untuk species satwa liar lainnya seperti primata sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Lokasinya tersembunyi dan dijauhkan dari camp dan dekat dengan hutan. Sudah lama kami berharap bahwa tempat tersebut bisa difungsikan untuk perawatan harimau sumatera korban perburuan atau konflik dengan manusia karena lokasinya terisolasi dan berada di kawasan habitat satwa liar, sehingga secara psikologi pun akan bagus bagi satwa itu sendiri kaena terhindar dari kemungkinan stress karena suara bising dan kehadiran manusia di sekitarnya. Pakan alami bagi harimau pun juga tersedia.

Panthera tigris sumatrae. Photo by Erni Suyanti Musabine

Siang itu kami bertiga siap-siap kembali ke kota Bengkulu. Setelah membersihkan diri kemudian packing dan kembali menyeberangi Sungai Seblat untuk pulang. Kami menyusuri pantai di Kota Bengkulu sampai akhirnya mereka mengantarkan saya untuk memeriksa kondisi kucing Leopad cat dan Harimau sumatera yang sedang mendapatkan perawatan pasca amputasi kaki depan. Kucing hutan bernama Rong rong tampak lincah di dalam kandang barunya yang berukuran lebih besar dan kondisinya jauh lebih baik daripada berada dalam kandang sempit, panas dan penuh kotoran selama bertahun-tahun tanpa keputusan yang jelas akan dikemanakan. Sedangkan kondisi harimau bernama Elsa hari itu tidak seperti biasanya, tampak lesu dan tidak agressive, dia lebih memilih tidur di pojok kandang, luka pada kaki depan bekas operasi amputasi pun sudah mulai membaik. Saat kami akan meninggalkannya, seorang teman kerja memberitahukan pada saya bahwa dana pakan untuk harimau telah habis dan mereka kesulitan memintanya pada pihak berwenang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap satwa ini, membuat saya hari itu harus berpikir kembali untuk mendapatkan dana dari pihak lain yang peduli. 

Menjadi dokter hewan satwa liar ternyata tidak mudah, bukan karena profesinya menuntut kita untuk memiliki skilll dalam mencegah, mendiagnosa dan mengobati satwa liar, namun juga dituntut untuk sanggup mendanai sendiri kebutuhan obat dan pakan bagi satwa yang dirawatnya tanpa tergantung pada dana pemerintah meskipun sebenarnya tanggung jawab ada di tangan mereka. Kuakui memang tak semudah menjadi dokter hewan saat saya bekerja di lembaga non-government dan non profit atau yayasan yang bergerak dalam bidang konservasi satwa liar terancam punah, karena semua yang kami butuhkan untuk keperluan medis sudah tersedia hanya kita tinggal melaksanakan tugas kita dengan baik dan profesional, dan tidak perlu lagi kebingungan untuk mencari dana pembelian obat-obatan serta pakan dan meminta-minta belas kasihan pihak lain yang peduli disaat tidak ada pilihan lain dan selalu mendapat jawaban yang sama bahwa dana untuk itu tidak tersedia dari pihak bewenang. Lalu...??? Apakah harimau itu akan kita biarkan saja mati kelaparan bila tidak ada dana untuk pakannya ?! Be wise for your wildlife management, Sir !!! 

Sabtu, 21 Juni 2014

Chemical immobilization and medical check up on Leopard cat (Prionailurus bengalensis)


Kucing kuwuk atau Leopard cat (Prionailurus bengalensis) dulu dalam bahasa latin disebut Felis bengalensis adalah salah satu satwa liar Indonesia yang dilindungi oleh UU nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya karena keberadaannya terancam punah. Telah banyak diburu dan diperjualbelikan secara illegal di pasar gelap sebagai pet animal.  Pada tanggal 29 Oktober 2012 Balai KSDA Bengkulu telah merescue seekor leopard cat dari dalam toilet di sebuah Pondok Pesantren di Bengkulu. Punggung kucing tersebut mengalami luka serius selebar 5 cm. Setelah menjalani operasi penjahitan luka dan perawatan pasca operasi dengan pengobatan antiseptik, antibiotik, anti inflamatory, analgesik, fluid therapy dan anti parasit dari tanggal 29 Oktober 2012 sampai dengan tanggal 5 November 2012, serta dibantu dengan pemakaian elizabeth colar akhirnya kucing tersebut telah sembuh kembali dengan baik.

Kandang lama untuk Leopard cat (Prionailurus bengalensis)
Setelah perawatan medis secara intensif, luka bekas operasi sudah menutup dan mengering tanpa infeksi, dan rambut telah tumbuh kembali menutup luka. Kucing terlihat sehat dan tidak kusam. Guna mencegah terjadinya perubahan perilaku karena terlalu lama dikandangkan maka direkomendasikan untuk segera dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya yang aman dan ada ketersediaan pakan alaminya. Namun apa yang terjadi, saat akan direlease kembali ke hutan Pusat Konservasi Gajah Seblat di wilayah Bengkulu Utara, tiba-tiba ada perintah untuk dikembalikan ke kandangnya kembali dan tidak diijinkan untuk dilepaslirakan kembali. Karena alasan itu akhirnya kucing tersebut tetap berada dalam kandang sempit dan kotor serta panas selama setahun lebih, yakni dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014.

Setiap waktu saat melihatnya, berangsur-angsur rambutnya terlihat kusam dan rambut terlihat rontok di beberapa bagian punggungnya,  tampak tidak sehat dan stress, perilakunya pun berubah, selalu diam di pojok kandang, panting karena kepanasan dan kehausan, salah satu penyebabnya adalah kandang sempit yang dipenuhi dengan bekas kotoran dan sisa pakan, beratap seng dengan cuaca panas serta air minum tidak disediakan sepanjang hari. Selalu membuat sedih bila melihat kondisinya, dan tak satupun orang yang tergerak hatinya untuk membantu memperbaiki keadaan. Banyak yang merasa prihatin namun tak berbuat. Ingin sekali melepasnya kembali ke hutan guna mengurangi penderitaannya namun apadaya tidak tersedia fasilitas transportasi dan tim relawan untuk itu dan tentu itu akan dianggap kegiatan yang melanggar perintah pengambil kebijakan.

Kandang baru untuk Leopard cat bernama Rong Rong

Beberapa bulan terakhir aku mengecek sekeliling kantor Balai KSDA, berharap ada sesuatu yang bisa ditemukan dan dimanfaatkan untuk mengganti kandangnya yang sempit dan panas sementara waktu sebelum dilepasliarkan kembali. Sebelumnya aku mengajak mahasiswa Kedokteran Hewan UGM untuk membantu pelepasliaran leopard cat tersebut, namun karena kucing dalam kondisi tidak sehat maka rencana itu dibatalkan dan perlu perawatan medis terlebih dulu untuk diobati sebelum direlease kembali. Rencana dirubah untuk pemindahan kandang yang lebih layak. Kebetulan saat ini ada empat buah kandang harimau yang baru datang terbuat dari jeruji besi dan belum terpakai serta ada dua buah kandang transportasi untuk rusa, kandang tertutup berdinding triplek tebal dan sedikit ventilasi udara. Aku memilih kandang harimau yang lebih besar dengan ukuran 2m x 1m x 1m, menurutku ini yang lebih layak sebagai tempat perawatan medis sementara untuk leopard cat sebelum dilepasliarkan kembali. Tinggal memberi environmental enrichment didalamnya. memberi atap yang menutup sepertiga kandang dan jaring/ waring untuk menutup dinding kandang. Memberi tempat minum dan tempat makanan yang mudah diambil dan dibersihkan. Di dalam kandang juga ditumbuhi rumput liar, akan terlihat lebih alami dan bisa dimanfaatkan kucing untuk tidur di hari yang panas serta dimakan untuk menghilangkan rasa mual.

Kesempatan pemindahan kandang bagi leopard cat tersebut dimanfaatkan juga untuk pemeriksaan kesehatan. Karena pemindahan kandang kami lakukan dengan cara pembiusan (chemical restraint) yang dikombinasi dengan physical restraint dengan menggunakan jaring. Sehingga selama terbius kami bisa melakukan pemeriksaan medis. Pemeriksaan medis yang dilakukan diantaranya sebagai berikut :

No
Medical Activities
Comments
1
Estimasi Body weight dan physical restraint 
Estimasi berat badan sekitar 2 kg. 
Restraint dengan menggunakan jaring
2
Persiapan obat bius dan emergencies drugs

Pembiusan (handinject/ handsyringe)
Menggunakan alternative drug Ketamine HCl 50mg/ml dengan Immobilizing dose : 22mg/kg BB IM dan Maintenance dose : 11mg/kg BB IM (Handbook of Wildlife Chemical Immobilization, Terry J. Kreeger, MS, DVM, PhD, 1996)
3
Pengamatan fase-fase pembiusan

4
Menutup mata dan telinga selama pembiusan

5
Monitoring vital signs
Monitoring frekuensi pernafasan per menit, frekuensi detak jantung per menit dan temperature tubuh selama pembiusan setiap 5 menit sekali
6
Sexing
Berjenis kelamin jantan
7
Physical examination
mata, mucosa, kulit & rambut, extremitas, rongga mulut, dll
8
Pengobatan
Antibiotik, anti inflamasi, anti parasit, fluid therapy, antiseptik, rectal untuk memasukan cairan, dll. 
9
Pemberian salep mata

10
Koleksi sampel
Sampel darah (serum) dan scrapping kulit
11
Pemasangan microchip
Di punggung bagian caudal dari scapula
12
Scanning microchip
Microchip code : 000647A2FD
13
Body measurement
Data yang dikoleksi adalah panjang tubuh, panjang ekor, panjang kepala dari pangkal telinga sampai hidung, tinggi badan, keliling leher, keliling  dada, keliling perut, keliling kepala, jarak antar mata, jarak antar telinga, panjang dan lebar telapak kaki depan dan belakang, panjang taring.
14
Recording
Mencatat semua hasil pemeriksaan, pembiusan dan pengobatan, mulai obat bius disuntikan sampai satwa sadar kembali
15
Pemindahan kandang
Ukuran kandang 2m x 1m x 1m lebih layak bagi seekor leopard cat dibanding kandang yang sempit tanpa enrichment. Pemindahan dilakukan setelah kucing dalam kondisi sadar kembali. 



Vet students come from Gajah Mada University got training about  chemical Immobilaztion
in Leoprad cat at BKSDA Bengkulu. 
Adi melakukan pencatatan data fisiologi (vital signs),  Raka Bayu melakukan penanganan hypertermia dan monitoring tempertaure tubuh per 5 menit, Ade melakukan monitoring denyut jantung dan nafas per menit, 
Dinda mempersiapkan fluid therapy dan Widiah membantu menjaga posisi kepala 
dan menjaga jalan nafas agar tidak terhambat.

Kegiatan pembiusan leopard cat ini juga sekaligus untuk training bagi calon dokter hewan dari Universitas Gajah Mada yang sedang magang di BKSDA Bengkulu tentang Wildlife Physical Restraint and Chemical Immobilization dan Medical Examination untuk satwa liar, terutama jenis kucing-kucingan. Dan memberi gambaran kepada mereka seperti itulah yang biasa kami lakukan untuk pemeriksaan harimau sumatera korban perburuan dan konflik dengan manusia, meskipun tidak semua kegiatan medis yang dilakukan untuk harimau bisa kami praktekan semua disitu, masih ada beberapa pemeriksaan medis yang tidak bisa kami lakukan. Namun, paling tidak mereka bisa memahami prinsip-prinsip dasar anesthesia pada satwa liar. Dan yang perlu terus ditekankan bahwa pembiusan satwa liar itu tidak mudah, perlu persiapan yang matang baik obat-obatan pilihan yang tepat disesuaikan dengan species satwa dan jumlahnya memadai, peralatan yang sesuai serta kerjasama tim yang baik, serta diperlukan strategi dalam menghadapi satwa liar target selain itu yang seringkali terlupakan perlu monitoring vital signs terus menerus pada satwa liar setelah pembiusan sampai sadar kembali. Kenapa, karena nyawa taruhannya, keselamatan tim juga keselamatan satwanya, terutama apabila yang kita hadapi adalah satwa liar jenis kucing besar atau satwa liar buas lainnya.

Persiapan pembiusan. Pemilihan obat bius yang tepat,
penghitungan dosis sesuai species satwa, persiapan alat,
persiapan emergencies drugs. 
Pembiusan bukan sekedar untuk mempermudah handling/ pekerjaan dalam menghadapi satwa liar yang buas, dan bukan sekedar mempermudah petugas untuk memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya dengan aman bagi manusia. Namun dalam setiap pembiusan satwa liar, kita sudah harus memahami resiko pembiusan, efek samping yang buruk dari setiap obat bius yang kita gunakan juga kondisi lingkungan sekitarnya yang juga berpengaruh terhadap kondisi satwa selama terbius. Untuk satwa liar dalam kandang lebih baik melakukan pembiusan pagi atau sore hari disaat cuaca tidak panas karena akan mengurangi resiko hyperthermia. Hypertermia yang tidak tertangani bisa menyebabkan kerusakan otak dan kematian.


Sedangkan untuk satwa liar di habitat kita tidak bisa berkompromi dengan waktu, karena perlu kecepatan dalam setiap tindakan rescue, jadi yang diperlukan adalah persiapan antisipasi tindakan apa yang musti dilakukan bila terjadi hypertermia atau efek samping yang buruk lainnya seperti hypotermia, depresi nafas/ gagal nafas, henti jantung, shock, dan lain-lain. Sebelum pembiusan hal itu sudah harus dipahami oleh dokter hewan dan anggota tim sehingga bisa bertindak cepat untuk menormalkan kembali bila itu terjadi.


Vet student Raka Bayu
sedang monitoring temperature tubuh Leopard cat
Pembiusan leopard cat berjalan lancar meskipun kondisi satwa sebelum dibius kurang sehat, hanya terjadi hypertermia selama 13 menit, yakni suhu tubuh mencapai 40°C - 40.2°C pada awal pembiusan. Hal ini kemungkinan disebabkan kucing aggressive dan over exercise sebelum dibius saat physical restraint dan detak jantung yang kencang (tachycardia). Namun kami sebelumnya sudah mempersiapkan air dingin untuk mengompresnya serta dilakukan flushing cairan melalui rectal dengan menggunakan slang kecil yang dilakukan oleh Vet Student, Raka Bayu. Inilah cara yang sangat efektif untuk menurunkan suhu yang hypertermia. Kami telah mencoba cara ini beberapa kali pada rusa dan harimau. Akhirnya suhu tubuh kucing normal kembali berkisar antara 37.7°C - 38.5°C sampai kucing sadar kembali. Sedangkan respirasi (frekuensi nafas) normal selama terbius.





Vet student Raka Bayu sedang melakukan flushing cairan per rectal untuk penanganan hypertermia. 


Vet student Adinda Medina and me are searching V. Femoralis for Fluid therapy and Blood sample collecting

Selain itu juga dilakukan pengambilan data Body measurement yang dilakukan oleh Wahyu staff PEH BKSDA Bengkulu. Pemberian salep mata, karena selama pembiusan mata akan terbuka lebar dan tidak bisa berkedip, untuk itu guna mencegah terjadinya infeksi mata maka mata ditutup dengan kain dan diberi salep mata. Juga dilakukan pemasangan microchip dan scanning microchip yang dilakukan oleh Vet student Ade Fitria Alfiani. Fluid therapy dan koleksi sampel darah dilakukan oleh Vet student Adinda Medina bersama saya sendiri sebagai dokter hewan yang memberikan pelatihan teknis pada mereka. 


Vet Student Ade Fitria Alfiani melakukan pemasangan microchip untuk penandanaan individu dan scanning microchip

Setelah satwa mulai sadar dari pembiusan dilakukan persiapan kandang baru yang lebih layak bagi kucing tersebut. Pemindahan/ transportasi dan pelepasan satwa liar direkomendasikan setelah satwa dalam kondisi sadar dari pengaruh obat bius dan sudah bisa mereposisi sendiri tubuhnya, bila tidak maka akan menyulitkan kita melakukan monitoring kondisinya terutama vital signs. Kondisi fisiologi yang tidak terkontrol selama pembiusan bisa berakibat buruk bagi satwa liar bahkan kematian.

Persiapan kandang untuk perawatan sementara leopard cat dilakukan oleh Wahyu staff PEH dan Pipiet staff Penyuluh BKSDA Bengkulu. Selama dalam kandang perawatan ini kucing akan mendapatkan pengobatan sampai kondisinya sehat kembali dan siap dilepasliarkan ke habitatnya.

Memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita untuk memberi tempat tinggal yang lebih welfare pada satwa liar bukanlah hal yang menyalahi aturan menurutku meskipun hal itu tidak selalu mendapat dukungan. Justru kebijakan/ keputusan untuk meletakkan satwa liar dalam kandang sempit yang sangat tidak layak tanpa ada kejelasan untuk tujuan apa selama bertahun-tahun itu yang patut dipertanyakan. Dan seharusnya kita malu bila bekerja di lembaga yang seharusnya melindungi satwa liar namun tidak peduli kondisi satwa liar yang sehari-hari ada di sekitar kita. Padahal sekecil apapun bisa kita lakukan. Dan tidak ada hukum apapun yang memperbolehkan kita menyiksa hewan atau satwa liar. Satwa liar yang dikurung dalam kandang hidupnya tergantung pada manusia, dan sebagai manusia seharusnya kita yang lebih bijak memperlakukannya. 

Kamis, 19 Juni 2014

Farewell Party at Elephant Camp with Vet Students


Rabu, 18 Juni 2014 adalah malam terakhir bagi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Universitas Gajah Mada (UGM) melakukan kegiatan PKL di Pusat Konsevasi Gajah Seblat, Bengkulu Utara. Malam itu kami berencana membuat acara pesta outdoor di halaman depan camp, yang merupakan tempat tinggal kami selama berada di hutan habitat gajah di Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara. Dari sore hari kami telah mempersiapkan untuk acara ini, yakni memasak makanan untuk pesta perpisahan malam harinya, pesta sederhana dengan memanfaatkan bahan makanan yang tersisa di camp gajah Seblat. Saya mempersiapkan nasi dan membuat omelet mie goreng, sedangkan Hayu seorang staff PEH BKSDA Bengkulu memasak sayur dan membuat sambal telur mata sapi, sedangkan mahasiswa FKH UGM yakni Adi memasak sambal terasi dan Ade membuat perkedel sukun. Sedangkan Raka Bayu membantu mempersiapkan meja kursi dan matras di halaman depan camp, serta Dinda membuatkan kami minuman teh hangat sebagai teman ngobrol.

Malam itu langit cerah dan dipenuhi oleh bintang-bintang bersinar. Menikmati indahnya langit, sambil berbincang-bincang dan bersenda gurau. Tiba-tiba anak gajah Bona datang dan ikut bergabung dengan kami menikmati pesta perpisahan malam itu. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan selalu menarik perhatian kami dan yang pasti dia juga sangat menikmati makanan yang kami berikan untuknya.

Dan inilah beberapa photo dari acara pesta perpisahan kami malam itu bersama mahasiswa FKH UGM, mahout dan gajah Bona :

Gajah Bona tiba-tiba datang dan ingin bergabung dengan kami



Elephant BONA with Vet Students



Gajah Bona sepertinya tertarik ingin ikut berpesta :)



Bercanda dan ngobrol rame-rame, kira-kira Bona ngerti nggak ya bahasa kita ?!






Bona and Ade and Dinda



Bona and Hayu



Bona and Yanti



Bersantai di depan camp bersama Bona



Bona pun ingin menyantap makanan



Bona tersenyum bahagia mendapat makanan











Pesta yang cukup berkesan, menikmati malam, dan indahnya kilauan bintang-bintang di langit, serta atraksi kembang api di seberang Sungai Seblat. Kehadiran anak gajah Bona di malam itu membuat pesta kami makin meriah. Ternyata, " Bahagia itu sederhana. Dan hidup akan terasa indah bila kita mampu menikmatinya dan mensyukurinya dalam kondisi apapun ".

Flora and Fauna at the Seblat Elephant Conservation Center


These photos was taken in June 2014 at the Seblat Elephant Conservation Center. I love biodiversity photography in the wild and I'm happy to share it to all of you. And please don't hesitate to share if you like it.

Flora 





























Fauna
a. Insect (Dragonfly, Butterfly, Spider)


































































b. Reptile


Monitor Lizard





Chameleon





Snake

c. Mammal


Squirrel


Mitred Leaf Monkey